Cerita Dari Seberang

Bab 1 :
Riwayat Singkat

Mengapa kami mendirikan sebuah resto? Bagaimana asalmulanya? Beberapa teman berdatangan di Paris karena tidak bisa pulang ke tanahair. Tidak mungkin pulang, karena kami dicap dan dituduh tersangkut dengan peristiwa-nasionala yang mereka (penguasa) sebut G30S/PKI. Banyak teman menyebutnya GulaTigapuluh Sekilo. Begitu berdatangan di Perancis, itu artinya bertambah lagi calon penganggur, bertambah lagi beban pemerintah. Padahal kaum penganggur selalu bertambah, angkanya menunjukkan kenaikan yang cukup pesat. Dari yang
tadinya hanya sekian ratusan ribu sampai jutaan, kini menjadi lebih dari
tiga juta kaum penganggur. Penyediaan tempat-kerja atau lowongan-kerja
sangat sedikit, sedangkan permintaan-kerja sangat banyak.
Di pihak lain, mencari pekerjaan di Perancis sangat sulit, penghalang yang
cukup penting yalah masalah bahasa. Bahkan masalah bahasa ini terkadang
terasa bukan saja sangat penting tetapi yang paling pokok. Orang-orang tentu
pernah mengalami kalau pernah datang ke Perancis, bahwa masalah bahasa ini
sangat sulit. Sebab di Perancis, bahasa asing lainnya sangat tidak
populer, bahasa Inggeris pada umumnya pemakaiannya tidak sepopuler di
Holland misalnya atau di Indonesia bahkan! Ada rasa kesombongan orang
Perancis dengan bahasanya ini. Orang lain harus mengerti bahasa
mereka, tetapi mereka terlalu banyak tidak mengerti bahasa lain.
Di Holland, orang atau pendatang atau turis, bisa saja menggunakan bahasa
Inggeris atau Perancis, dan kebanyakan orang Belanda akan menjawabnya dan
bisa berdialog dengan bahasa itu. Mungkin dan kata orang, inilah sebuah
negeri kecil yang begitu banyak didatangi orang, banyak mengerti bahasa
asing. Lain halnya dengan Perancis, orang yang tak tahu tak mengerti bahasa
Perancis, sangat sulit kalau datang di Perancis apalagi kalau hidup di
Perancis. Inilah salah satu alasan mengapa kami mendirikan resto. Agar
dapat mengurangi kesulitan berbahasa. Sedangkan kalau di resto
sendiri, persoalan bahasa dapat diatasi. Tetapi dalam pada itu, samasekali
tak dapat dihindarkan , setiap orang, setiap kami harus mengerti dan bisa
berdialog dan berkomunikasi dengan orang manapun dalam bahasa Perancis.
Bahasa adalah alat pergaulan umum dan bersifat internasional, alat mengenal
orang lain dan pengetahuan, sebuah jembatan buat berhubungan dengan orang
perorang, budaya, ilmu dan sosial.
Jauh sebelum kami mendirikan sebuah resto, kami sudah mencoba berbagai usaha
buat mencari pekerjaan. Melamar ke mana-mana dan di mana-mana. Tetapi
disamping lowongan-kerja yang sangat sulit didapat, kemampuan berbahasa
sangat diutamakan. Bagaimana mau melamar pekerjaan kantoran kalau bahasanya
saja tidak lancar dan tidak jalan! Karena itu lowongan-kerja bagi orang
manapun yang tidak menguasai bahasa Perancis, satu-satunya jalan hanyalah
memburu, merebut pekerjaan-kasar, pekerjaan yang tak banyak membutuhkan
kemampuan berbahasa. Dan pasaran untuk ini minta ampun banyaknya
persaingan, permintaan-kerja dari berbagai negara dan migrant, seperti dari
Portugal, Polandia, Turki, dan Eropa Timur lainnya. Ada keunggulan bekas
jajahan Perancis atau yang menggunakan bahasa Perancis seperti dari Afrika
dan Asia seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Tunisia, Marokko, Senegal, dll, karena
mereka kebanyakannya memahami bahasa Perancis.
Ada sebuah anekdote, kalau Perancis anti-orang-asing, maka akan hancurlah itu
perusahaan besar seperti pabrik mobil Renault, Pegeout, sebab lebih dari 60
persen bahkan ada yang lebih dari 70 persen pegawai dan buruhnya
berdatangan dari negara lain, buruh migrant. Dan Paris akan sangat kotor dan
jorok, sebab siapa yang akan membersihkan
jalanan, kantoran, gedung, pertokoan, siapa yang akan mengurus puluhan ribu ton
sampah yang tiap hari menggunung? Orang Perancis mana mau pekerjaan
begituan! Perancis rasanya dan mungkin nyatanya, tidak mungkin tanpa
orang-asing, pekerja-asing. Sudah berkali-kali pemerintah mengusiri
orang-asing, dipulangkan ke negerinya, tetapi bolak-balik tetap saja
membanjir dan berdatangan para migrant, para pencari-suaka, para
pelarian-politik. Bahkan orang-orang yang pernah diusir itupun, tidak jarang
dengan menyelundup datang lagi, datang lagi ke Perancis! Mana ada kata tobat
bagi orang yang sangat membutuhkan kehidupan, keamanan kehidupan.
Dalam kesulitan mencari-kerja inilah timbul ide buat mendirikan sebuah
resto tadi itu. Bahkan sebelum ide itu mantap buat dikerjakan, masih ada
beberapa gagasan lainnya. Seperti membuka toko-buku, toko
rempah-rempah, bahkan membuat sebuah kantor atau usaha pariwisata, tourisme.
Ada pikiran membuka sebuah warung sederhana, dan toko-kerajinan-tangan.
Tetapi dari berbagai diskusi, perdebatan, masukan dari banyak
teman, kebanyakan hanya sebuah restolah yang bisa agak banyak menampung
tenaga-kerja. Dan hanya sebuah restolah yang paling bisa diandalkan bagi
beberapa tenaga-pengangguran yang banyaknya belasan orang ini di antara
kami. Penghalang lainnya, karena kami ini bukanlah tenaga-muda dan
tenaga-kuat, maka kami harus pikir-pikir juga, harus mengukur
dirisendiri, harus tahu dirilah. Orang-orang sudah mulai memikirkan
hari-tua, pensiunan, kami justru baru mulai mencari kerja! Lalu mengapa
terjadi demikian? Kalau bukan keterpaksaan, bukan karena
tekanan, tindasan, dan ancaman pemerintah RI-Orba-Suharto-Abri, kehidupan kami
tidak akan begini! Karena itu sudah sangat umum dan luas diketahui bahwa
resto kami adalah "resto kaum pelarian politik" -, dan tuduhan dan tudingan
ini sudah tentu dilemparkan oleh pihak sana. Kami sendiri tidak
openen, tidak perduli dicap apapun dan bagaimanapun. Yang penting kami bisa
melanjutkan kehidupan dengan tenaga sendiri, tidak menggantungkan nasib
kepada orang lain, atau pihak lain. Kami hanya berhubungan dengan para
pelanggan kami, orang-orang yang datang makan ke resto kami. Secara
kasarnya, dari merekalah kami hidup. Kami hidup dari isi kantong mereka!

Karena itu kamipun tidak perduli akan datangnya
kesulitan, halangan, boikot, dari pihak pemerintah RI-Orba-Suharto-Abri. Kami
terus saja jalan, -berhati-hati, waspada tetapi tidak terprovokasi. Memang
pernah ada surat edaran atau semacam seruan, himbauan yang keras, agar
orang-orang Indonesia tidak datang ke resto Indonesia, tidak boleh makan di
sana. Surat edaran dan himbauan ini kalau tak salah datangnya dari KBRI
Paris ketika zaman Menlunya Mokhtar Kusumaatmaja. Tentu saja ada yang
menaatinya, tetapi tentu saja tidak sedikit yang tidak memperdulikannya.
Soal makan dan soal selera tidak bisa diinstruksikan dengan
ultimatum-moderat ataupun keras sekalipun. Dan selama ini hilir-mudik saja
orang berdatangan makan tanpa tanya bertanya dari golongan manakah kami, dan
dari golongan manakah mereka?
Dan yang makan di tempat kami itu pada umumnya tidak mengenal batas
negara, batas politik dan paham dan kulit. Semua dutabesar Asia atau pegawai
stafnya pernah makan di tempat kami, kecuali Indonesia!!
Ketika Presiden Miterrand masih aktif sebagai presiden, isterinya , Madame
Daniele Miterrand sudah 6 kali makan di resto kami. Dia selalu dengan
rombongannya France Liberte, sebuah organisasi sosial-kultural yang sangat
besar perhatiannya pada dunia ketiga, termasuk pada Indonesia. Termasuk
isteri Presiden Allende alm, dengan konggres wanita Amerika-Latinnya.
Paris kota metropolitan yang bersejarah, pernah menjadi pusat-peradaban
Eropa, begitu banyak kaum turis, pendatang dengan berbagai urusan, memang
memerlukan tempat-makan yang baik, yang bisa bersantai. Karena itu walaupun
ada beberapa buah lagi resto Indonesia, kami tak merasa bahwa keberadaannya
akan mengancam kami, samasekali tidak! Kita bersaing secara sehat, berlomba
dengan jujur, fair-play kata para olahragawan! Karena itu pada suatu waktu
pernah ada resto Indonesia sejumlah 5 buah. RESTO INDONESIA, JAKARTA BALI,
JAWA BALI, BOROBUDUR dan SURABAYA. Sayang sekali beberapa resto itu rontok
dan bangkrut serta tutup. Tinggal kami bersama JAKARTA BALI, sampai kini.
Dan pada tahun ini 1999, ada lagi sebuah resto kecil-mungil yang bernama
WARUNG INDONESIA, yang letaknya di Paris 16, sebuah daerah orang-orang kaya
di Paris. Kami merasa beruntung berada di daerah Paris 6, daerah
Quartier-Latin, daerah tempat makan, tempat nongkrong. Dengan demikian kini
ada tiga resto Indonesia di Paris. Dan kami tidak pernah merasa akan
terancam jalannya resto kami. Kalau para pelanggan bertanya, apakah ada
resto Indonesia lainnya, kami selalu menjawab dan memberikan alamat resto
Indonesia lainnya itu. Dengan senang hati, dengan senang hati!
Bagaimanapun keberadaan resto Indonesia itu tetap akan mempromosikan
ke-Indonesia-an kita, sosial-budaya kita, bangsa dan adat-istiadat kita, di
tengah kehidupan internasional ini.-
Bab 2 :
Meletakkan Dasar Satu
Ketika aku masih "menjabat sebagai Kepala Gedung" di asrama(foyer) di
Lure, Perancis Timur, tiba-tiba ada sebuah telegram dari Paris, agar aku
segera datang ke Paris. Sebenarnya kabar itu bisa saja dengan surat atau
tilpun. Tetapi aku atau kami sengaja berbuat demikian, agar dapat bebas dari
"jabatan" itu. Selama menjabat Kepala Gedung (lihat kumpulan cerpen RAZZIA
AGUSTUS dan Cerita-cerita lainnya), hidupku sangat tegang. Sebab penghuni
foyer yang kukepalai itu terdiri dari berbagai bangsa. Dari Asia
Tenggara, Vietnam, Laos, Kamboja dan Afrika, seperti Senegal, Ghana, Konggo dll.
Dan bukan hanya itu, hampir setiap hari ada-ada saja perkara yang
timbul, yang kecil-kecil dan sangat sepele, tetapi selalu mengarah ke
perkelahian. Dan orang-orang ini terutama yang dari Asia Tenggara ini
dikenal sebagai pembunuh kaum komunis, yang sangat anti-komunis. Sudah
sangat biasa bertempur, berperang dan berkelahi.
Dalam sebuah cerpen yang kutulis berdasarkan kenyataan yang kualami
sendiri, ketika tahun 1982 di mana ketika itu penghuni asrama yang banyaknya
ratusan itu sedang menonton pertandingan sepak-bola kejuaraan dunia, telah
saling meledek antara penonton dari Afrika dan Asia Tenggara.
Saling-meledek ini berkepanjangan. Dan pada akhirnya segera akan timbul
perkelahian besar. Masing-masing siap membawa pentungan
besi, pisau, golok, kampak. Dan aku sebagai kepala gedung sudah tentu harus
bertanggungjawab kalau terjadi apa-apa. Dan apa-apa itu sudah di depan
mata. Mereka orang-orang muda, dengan tenaga yang kuat, berangasan, saling
siap berkelahi menumpahkan darah, bisa-bisa sampai mati berkaparan. Dan
semua ini akulah yang harus bertanggungjawab sebagai kepala gedung. Apakah
aku berani? Berani mencegahnya? Sebenarnya sangat jauh dari berani, tetapi
karena harus bertanggungjawab sebagai kepala gedung, aku dengan perasaan
"biarlah kepalang sudah basah, biarlah berbasah-basah, kepalang sudah masuk
air, beranilah berenang dan menyelam", hanya inilah pedomanku.
Dan ada kiranya yang harus kucatat, mengapa mereka kaum peradang itu mau
menurutkan perintahku agar mereka mundur dan kembali ke barak
masing-masing. Padahal semua mereka tahu, bahwa aku ini sudah tua, dan semua
mereka memanggilku "papa", baik yang kecil, sepantaran denganku, bahkan sampai
nenek-kakek, semua mereka memanggilku papa. Mungkin karena kedua putriku
selalu memanggilku papa, dan mungkin pula mereka tahu bahwa aku setiap pagi
mulai jam 06.00 selalu olahraga taiciquan, silat-lemas Tiongkok. Taiciquan
ini pernah kulakukan dengan tahapan deret-ukur, dari 22 jurus, lalu 44 jurus
dan sampai 88 jurus. Dan banyak penghuni gedung itu menyaksikan dan
menonton gerak-gerikku. Padahal aku sangat tidak suka ditonton begitu.
Rasanya sangat kikuk. Dan setiap hari menjelang sore, aku praktek
tusuk-jarum, akupungtur. Mengobati penghuni asrama itu. Sudah tentu tidak
bayar, sebab kami semua penghuni terdiri dari orang-orang pelarian
politik, tidak punya uang. Walaupun tidak sedikit pasienku yang datang dari
berbagai kota sekitar Lure, yang bukan orang tak punya uang seperti kami.
Untuk minta dan meletakkan tarif sudah tentu tidak mungkin, sebab pekerjaan
ini bukanlah resmi dan dapat dianggap bekerja-gelap.
Mungkin dari "pekerjaanku" sehari-hari inilah yang menjadikan diriku
disegani dan dituruti "perintahku" dan memang ada unsur penuaan atau
dituakan, di"-orangtua-kan" oleh mereka. Dan juga mengapa aku yang ditunjuk
menjadi kepala gedung oleh direktris foyer Madame Barre, mungkin unsur semua
itu turut menentukan sehingga pihak foyer memutuskan sebaiknya si simon
inilah yang jadi kepalanya. Padahal aku sangat tidak mau, tidak punya
kesanggupan, tidak punya kemampuan. Tapi pihak foyer berkeras agar aku yang
menjadi kepala gedung. Dan agar tidak terlalu lama berlalai-lalai, diskusi
berkepanjangan, dan lagi pihak foyer akan sepenuhnya membantu dengan
perlengkapan pengamanan, seperti sirene-alarm, ambulance, dll, maka aku dengan
rasa sebenarnya sangat tidak mau, terpaksa menerima keputusan itu.
Dan hampir setiap hari hati ini dag-dig-dug, kuatir, cemas. Sebab bibit
perkelahian sangat mudah tumbuh, dan api serta darah sangat cepat terbit. Dan
aku tidak pernah tenang selama itu sepanjang hari. Sedikit saja anak-anak
berkelahi antara anak-anak Afrika dan anak-anak Asia Tenggara, lalu aku
segera saja turun-gedung dan mengawasi serta menengahinya. Dan kalau para
abang-abangnya yang lebih besar saling bercakap-cakap dengan suara besar
dan teriak-teriak saja, maka akulah yang mula-pertama cemas dan
kuatir. Apalagi kalau orang dewasanya! Barangkali lebih tepat kalau diriku
ketika itu dinamakan satpam gedung, penjaga-keamanan gedung. Bisa-bisa
gedung dan penghuninya memang aman, tetapi aku, diriku ini, penuh rasa
tidak-tenang, cemas dan kuatir.
Bagaimanakah dan betapakah rasanya hidup sehari-hari dalam keadaan selalu
cemas dan kuatir begitu? Terkadang kalau sore-sore ketika aku sendirian di
lapangan-bola di sekitar asrama kami, sambil memperhatikan anak-anak kecil
dan anak-anak muda bermain, sempat terpikir padaku, - kapankah aku terbebas
dari jabatan kepala gedung ini? Oh, Tuhan, janganlah sampai terjadi
perkelahian dan pertumpahan darah di antara kami penghuni gedung yang kini
menjadi tanggungjawabku. Tolonglah, ya Tuhan, tolonglah hambamu, sertailah aku
selalu, lindungilah kami sepenghuni gedung ini, agar selalu dalam perasaan
aman-damai, siramilah kami dengan air-sejuk pada setiap kepala yang selalu
panas, agar kami menerima kasih-sayangmu. Tuhanku, amankanlah dan
tenangkanlah kami semua ini. Demikianlah aku selalu berdoa setiap hari. Dan
anehnya walaupun aku ini tidak shalat-sembahyang, tapi aku sangat yakin
Tuhan akan mendengarkan dan menolong kami semua.
Rasa kuatir, cemas, kukabarkan pada temanku Markam di Paris, dan aku minta
padanya bagaimanalah agar mencari akal agar aku "terbebas" dari
ketakutan, kecemasan ini. Dan barangkali dengan jalan itulah Tuhan
menolongku. Sebuah telegram agar aku segera datang ke Paris buat
bersama-sama mengurus suatu pekerjaan yang bersifat besar dan penting buat
kami semua. Dan dengan surat-telegram itu, Madame Barre dapat dan ada alasan
kuat buat melepasku, melepaskan jabatan yang begitu membikin diriku sakit
syaraf selama berbulan-bulan belakangan ini.
Dan aku menjabat dan memeluk Madame Barre, direktris kami, penguasa foyer
itu. Semula dan tadinya memang dia agak segan melepasku, tetapi dia tak
punya hak buat menahanku "bertapa jadi berhala" di perkampungan itu.
Dan kami berdua, Markam dan aku, begitu sampai di Paris, hari itu juga sudah
menyusun rencana, jadwal-kerja, bahwa kami telah bulat dari permufakatan
selama ini dengan diskusi, surat-menyurat dan per tilpun dengan banyak
teman, bahwa kami akan mendirikan sebuah restoran. Kerja ini harus
cepat, tetapi juga harus teliti, dan harus hati-hati. Namun
demikian, bagaimanapun sulit dan susahnya, pastilah tidak seperti
"pekerjaan-gila" dulu itu, jadi kepala gedung yang penuh dengan rasa
waswas, cemas, dan kuatir. Perkelahian setiap waktu bisa meletus. Bunyi orang
bersuara besar dan keras saja, aku sudah dag-dig-dug. Orang berteriak keras
saja, aku sudah mulai pasang kuping bagaikan mata-kepiting, lebih tinggi
daripada kepala!
Alhamdulillah, besok kami akan mulai bekerja buat banyak teman-teman
kami, buat hari depan kami, buat kehidupan kami, agar kami tidak lagi selalu
antri berbaris buat menerima bantuan pemerintah Perancis. Rasanya ketika
berbaris panjang dengan berbagai bangsa buat menerima bantuan setiap bulan
itu, ada rasa malu yang sangat. Tetapi hal demikian hanyalah dapat kami
katakan apa boleh buat, kami sudah usaha mencari kerja, tetapi sampai kini
belum dapat. Melamar ke mana-mana, mencari pekerjaan ke mana-mana, pasang
advertensi-kecil, tetapi persaingan begitu berjibun. Nah, kini mulai besok
kami akan mencari dan menciptakan-kerja atas usaha sendiri, atas tenaga
sendiri. Semoga, lagi-lagi Tuhan menolong nasib kami, -
Paris 19 Maret 1999
Bab 3 :
Meletakkan Dasar Dua
Taraf pertama apa yang kami lakukan dalam usaha mendirikan resto ini?
Setiap hari kami membacai berbagai suratkabar besar, yang banyak
advertensinya, seperti Le Monde, Le Figaro dan yang lainnya. Dua suratkabar
besar ini sangat banyak memuat berbagai advertensi, termasuk jual-beli
gedung, perkantoran dan restaurant. Patut dicatat secara khusus, temanku
Markam ini sangat ulet, pandai melobby. Dulu dia sebagai wartawan suratkabar
khusus tentang perekonomian dan sangat aktif bergerak di kalangan wartawan
Asia-Afrika. Orangnya kecil, lincah, lebih tua dariku, tua umur, tua pengalaman
dan banyak pengalaman dan pengetahuannya. Kata orang, bila seseorang kecil
perawakannya, tapi ulet, militan, maka jenis orang ini bertipe pandai
memimpin, seperti Napoleon, Lenin dan Teng Siao-bing. Ketiga orang itu
termasuk kecil bila dibandingkan dengan orang lainnya di antara bangsanya.
Napoleon kecil perawakannya di antara orang Perancis, dan Lenin termasuk
kecil sebagai orang Russia, juga Teng Siao-bing termasuk kecil di kalangan
bangsanya, Tionghoa. Dan Markam, kecil sebagai orang Indonesia, tetapi bukan
kepalang dahsyatnya kalau dia sudah mau mencapai sesuatu.
Berdasarkan pengenalanku terhadap Pak Markam, -begitu aku menyebutnya, -aku
percaya sangat terhadapnya bahwa benar-benar dia dan kami ini mau
mendirikan sebuah resto. Padahal aku tahu benar
bahwa kami samasekali tak punya modal, tak ada uang, tak ada dana buat
keperluan mendirikan sebuah resto. Mendirikan sebuah resto di Paris, di
tengah keramaian orang yang banyak uang, kuat dana, kuat modal, samasekali tak
dapat dibayangkan! Tapi seperti peribahasa-lama Tionghoa yang tetap saja
berlaku, "tiga orang tukang-sepatu sama dengan Jenderal Chu
Kuo-liang". Jenderal Chu Kuo-liang itu adalah seorang jenderal yang sangat
akhli strateg-perang, tetapi berkat sekumpulan orang yang sangat kuat dan
baik kerja-kolektifnya, maka jenderal itu dapat disaingi oleh tiga orang
tukang-sepatu! Begitulah kebaikan dan manfaat sebuah kerja-kolektif, dan
kami mengamalkannya. Betul bahwa Pak Markam dapat dikatakan sebagai orang
pertama punya gagasan yang kami sebagai kolektifnya bergerak-bersama
mengikuti irama-cita-cita buat terwujudnya sebuah resto. Tanpa kerja-sama
yang baik dan kompak serta demokratris, mendengarkan berbagai pendapat
banyak teman, kerja-besar apapun takkan mungkin dapat dilaksanakan.
Begitulah kepercayaanku kepada orang-kecil-perawakannya ini, dan kami pada
tahap pertama ini, berdua setiap hari meneliti advertensi yang ada di
berbagai suratkabar. Dan mencari lokasi resto mengelilingi kota Paris
setiap hari. Kami mulai kerja dari jam 10.00 setiap hari, sampai pulang ke
rumah lagi menjelang dinihari sesudah jam 24.00. Kami naik-turun
metro, RER, bis, troli, kereta, berjalan kaki mengedari kota Paris, dan mencari
lokasi yang terdapat di advertensi suratkabar, bahwa di daerah Paris sekian
ada resto
yang mau dijual. Paris terbagi menjadi 20 daerah arrondisement, setiap
arrondisement itu merupakan satu daerah yang dikepalai oleh seorang
walikota, dan 20 arrondisement itu buat seluruh kota Paris, dikepalai oleh
seorang Walikota-Besar dapat dikatakan sebagai seorang Gubernur.
Kalau kami mendapatkan sebuah lokasi yang disebutkan dalam advertensi
itu, maka yang mula pertama kami pelajari yalah daerah
sekitar-sekelilingnya. Apakah daerah itu banyak orang lalu-lintasnya, apakah
daerah itu banyak perkantoran, pertokoan, pelajar-mahasiswa, apakah banyak
para pegawai, pekerjanya yang makan di daerah itu. Dan resto yang mau dijual
itu kami datangi dan kami turut makan sebagai pelanggan. Dan kami banyak
tanya ini itu kepada pegawai resto itu, dan kalau mungkin kami berusaha
mencari patronnya atau penangungjawab restonya, buat bertanya banyak hal.
Dalam pada itu kami catat dengan diam-diam, berapa pelanggannya yang
masuk, pada jam berapa orang-orang mulai ramai. Bahkan kami memperhatikan
dengan tajam, apa saja pesanan orang, masakan apa yang banyak dipesan orang.
Dan kami menganalisa mengapa resto itu mau dijual.
Biasanya kalau sebuah resto laku-laris, tidak akan mungkin pemiliknya mau
menjual. Dan pada biasanya apabila sebuah resto mau dijual, maka pastilah
ada soal. Misalnya pemiliknya mau pindah-kehidupan, atau
karena sudah terlalu capek mengurusi resto, atau karena resto itu sudah
tidak laku lagi, tak banyak lagi pelanggannya. Atau antara keluarga
pemiliknya berselisih, cekcok sehingga harus membagi harta dan inventarisasi
sesamanya.
Karena kami berpedoman pada makanan spesialite daerah dan
kebangsaan, Indonesia, maka sudah tentulah kami lebih banyak mempelajari
jalannya sebuah resto yang juga bersifat ke-Asia-an. Kami mempelajari dan
"mencari sasaran" resto Asia, seperti resto Tionghoa, Vietnam, Thailand dan
Filipina. Ketika itu tidak ada dan belum ada resto Malaysia dan Indonesia.
Paling banyak yalah resto Tionghoa, lalu Jepang. Sekarang ini malah ada
suatu mode(seperti busana saja layaknya!) atau dijadikan model resto
Jepang, praktis, murah dan cepat. Resto bertipe Jepang pada tahun ini
1999, menjamur, di mana-mana dan memang sangat laku. Tapi walaupun namanya
restoran Jepang, para pegawai dan pimpinannya tak satupun yang bisa
berbahasa Jepang, sebab semuanya Tionghoa atau keturunan Tionghoa, atau Laos
atau Kamboja. Sama dengan di kampung kita, resto Padang, rumahmakan Padang
atau Minang, tapi orangnya malah banyak orang Tegal atau orang Jawa lainnya!
Kini resto bertipe Jepang itu sudah mencapai limaratusan lebih buat seluruh
kota Paris, dan cukup laris!
Ketika taraf kami mencari dan mempelajari jalannya sebuah resto itu sudah
tentu kami banyak jalan, jalan kaki. Rasanya kalau sudah malam larut dan
merebahkan diri di tempat-tidur, badan bagaikan pernah dipukuli, tetapi
sangat nikmat, sebab lelah-letih dan lalu tertidur. Kerja kami memang banyak
jalan, dan kalau sudah waktunya, kami makan di resto yang menjadi sasaran
kami. Rasa selera makan tentulah tidak sama dengan kalau kita atau kami
sedang dengan santai makan sedang bersenang-senang. Sebab ketika itu
sebenarnya kami sedang bertugas. Sekarang ini dapat kukatakan, sebenarnya
dulu itu kami lebih banyak bekerja bersifat seperti intel, mata-mata
ekonomi. Kami mau banyak tahu, mencuri pengetahuan, dan sorry kalau
kukatakan, kami juga banyak mencuri daftar atau menu-makanan di beberapa
resto yang sangat laku, sebab kami mau tahu, apa sih yang membuat sebuah
resto begitu laku. Pegawai, pekerja dan pemilik restro tidak mungkin mau
memberikan daftar-makanan dari restonya. Kecuali kalau dirikita mau
mencatatnya sendiri di tengah-tengah orang banyak itu. Dan bukan sekali dua
kami ini dimarahi dan ditegur oleh pemilik resto karena terlalu banyak
tanya kepada pegawai dan pekerjanya, termasuk kokinya. Ini sebenarnya
dilarang walaupun tak ada undang-undang pelarangan itu. Tetapi kebiasaan
konvensional, tak seharusnya dan tak wajar seseorang pelanggan atau orang
yang mau makan tetapi lalu banyak tanya tentang keadaan jalannya sebuah
resto! Dan kami tahu benar, apa yang kami kerjakan memang untuk persiapan
berdirinya sebuah resto. Jadi juga adalah wajar kalau kamipun harus
berusaha mencari pengetahuan dan berbagai akal agar nantinya punya senjata
yang ampuh buat mendirikan sebuah resto. Untuk itu kami siap kalaupun
dimarahi, diperenguti, diomeli pemilik resto tertentu dan kami sudah
mengalaminya berdua Pak Markam.
Kalau kami sudah kelelahan karena terus jalan mengelilingi kota
Paris, sering nongkrong di sebuah cafe buat melepaskan lelah, lalu kami
berdua mendiskusikan hasil setengah hari "memata-matai" berbagai resto yang
sangat laku dan yang mau dijual itu. Sambil kami melirik ke sepatu
masing-masing, sebab sepatuku sudah menganga, sudah harus diganti, tetapi
masih bisa bertahan. Dan sepatu Pak Markam sudah sangat aus, tipis dan "agak
mengkhawatirkan", dan kami biasanya tertawa, mentertawakan diri sendiri.
Begini tampangnya orang mau punya resto itu, - kata kami dalam hati. Tapi
kami tetap berkemaun teguh buat mendirikan sebuah resto, tempat yang
nantinya bisa menghidupi diri kami sendiri. Lalu mengapa kami hanya berdua
setiap hari mengelilingi kota Paris buat mencari resto itu? Karena teman
lain sedang bertugas belajar bahasa Perancis, belum selesai dari
kewajibannya, dari asrama. Dan ada juga yang sedang mengikuti penataran
lanjutan dari bahasa-dasar yang diperolehnya. Tetapi setiap minggu satu
kali kami selalu mendiskusikan hasil "perjuangan" beberapa hari itu, dan
"pasang strategi" lanjutannya buat bagaimana kalau suatu hari resto itu
didapatkan tetapi uangnya belum ada. Sedangkan resto itu kalau tak
cepat-cepat dibeli, akan jatuh ke tangan orang lain. Masalah ini selalu
menjadi pendiskusian antara kami "beberapa tukang-sepatu" tadi itu, buat
menyaingi "kepandaian seorang Jenderal Chu Kuo-liang", beradu strategi dan
taktik-perang. Dan hari-hari selanjutnya pekerjaan akan jauh lebih rumit
dan sulit, sebab seandainyapun ada dan terdapat sedikit saja "kemenangan"
maka buat mempertahankan dan mencapai kemenangan yang lebih besar adalah
bukan main banyaknya minta tenaga dan pikiran.
Paris 20 Maret 1999
Bab 4 :
Berbagai Kendala - Satu

Kami mulai jalan mencari lokasi resto pada akhir Juli dan awal Agustus
1982. Setiap hari jalan dan jalan mengelilingi kota Paris. Mempelajari
banyak soal, tentang lokasi, strategis tempatnya, tempat kendaraan
lalulintas dan parkir mobil, dan ini kami anggap pelajaran-sekitar, lalu
pelajaran-dalam. Pelajaran-dalam yalah mengenai jalannya resto itu
sendiri.
Dan ini artinya harus masuk ke dalam resto itu sendiri, biasanya duduk
makan menjadi pelanggan. Dan mata kami harus jelalatan. Melihat
orang-orang ke luar-masuk dan menghitung berapa pelanggan yang
datang, dan pada jam-berapa merupakan jam-sibuk. Lalu mengamati apa
saja pesanan orang, dan makanan jenis yang mana yang sangat disukai
pelanggan. Dan seperti yang kutuliskan sebelumnya, kalau perlu kami
"curi" daftar-menunya buat kami pelajari baik-baik. Biasanya dari
sebuah resto yang sangat laku dan banyak pelanggannya yang datang.
Itulah yang kumaksud, sebenarnya pekerjaan kami ketika itu bagaikan
perilaku intel, mata-mata ekonomi.

Ada beberapa sasaran, resto yang mau dijual. Dan kami sudah
meniliknya, mempelajarinya. Tempatnya bagian dalam cukup baik.
Kategorinya resto sedang, berkapasitas 70 kursi. Lalu-lintas
ramai, banyak turis, banyak orang-orang yang memerlukan makan di daerah
itu. Biasanya kalau sasaran sudah diketemukan, lalu kami mengadakan
"rapat kecil" dengan teman-teman lainnya. Mendengarkan pendapat teman
lain sesudah kami melaporkan penemuan kami berdua Pak Markam itu. Dan
terjadi diskusi.

Mayoritas teman keberatan. Mengapa? Karena letak lokasi resto itu di
daerah Pigalle. Pigalle adalah tempat pusat pelacuran seperti
Keramat-Tunggak atau dulunya Gang Houber (Gang Sadar- di Jakarta.)
Tidak enak dan tidak pantas kita membuka resto di daerah
pemusatan-pelacuran, demikian pendapat banyak teman. Ya, cari uang sih
cari uang, tapi harus selalu memikirkan sebab-akibat dan berbagai motif
serta alasan lain. Bagaimana di mata orang-orang Indonesia sendiri?!
Harus dipikirkan kelanjutan resto itu nantinya. Kan sangat tidak enak
kalau menjadi ejekan, kok mendirikan resto di daerah pusat
pelacuran?! Alasan teman lain yang pro, mendirikan resto bukankah
dengan maksud agar banyak uang masuk, agar dari pekerjaan kita itu kita
bisa menghidupi dirisendiri. Mengapa harus "mengorbankan" perasaan
yang belum tentu semua orang setuju dengan adanya "ejekan" itu.

Diskusi cukup hangat, tapi penuh rasa sahabat, karena tujuan kami adalah
satu : berdikari dalam kehidupan, tidak tergantung pada orang lain.
Akhirnya kami putuskan, tidak jadi "nembak sasaran" itu. Dan kami
lepaskan harapan yang tadinya sedang timbul-tenggelam. Dan kami tetap
meneruskan perjalanan panjang ini, mengelilingi kota Paris. Tampaknya
ada beberapa mata yang memperhatikan kami. Dan orang itu mengajak
singgah di sebuah cafe-resto dan merangkap sejenis hotel-bar yang
berlantai empat. Tempatnya besar, tapi kelihatan kosong. Ternyata orang
ini, pemilik hotel-bar-resto merangkap disko. Kami diajaknya keliling
gedung itu. Tampaknya memang sudah tidak "online" lagi. Kami diajak
minum dan duduk bercakap-cakap. Dia bertiga dan kami berdua, ngobrol.
Dan kami nyatakan pekerjaan dan maksud kami. Dan mereka sangat
antusias. Ternyata tempat itu mau dijualnya. Dengan kapasitas
32 kamar hotel, bar-resto dan tempat disko, mau dijual seharga 36 juta
Francs. Mereka "membujuk" kami agar tertarik dan dengan harapan mau
membelinya. Dan kami ngakak tertawa. Kami katakan kekuatan kami belum
sampai begitu.

Mereka tampaknya sangat ramahtamah, adalah hal biasa bagi para
eksekutif komersial, maklumlah orang dagang. Dari pembicaraan dan
gurauan yang saling menggembirakan, dengan enteng kami memperlihatkan
sepatu kami yang menganga dan berlobang. Dan mereka tertawa, merasa lucu.
"Tuan, seseorang yang banyak uang, tidak jarang berlaku seperti
Anda, pakaian bisa sederhana, tetapi perkara uang hanya bank yang tahu.
Nah, bukan mustahil, Anda termasuk seperti yang saya katakan", katanya.
Dan kami tertawa semua.
Sudah tentu kami hanya memenuhi ajakannya buat duduk minum sambil
ngobrol dan bagi kami cukup santai melepaskan lelah setelah hampir
seharian jalan terus dengan mata jelalatan mencari resto yang mau
dijual. Hal begini tidak hanya sekali dua terjadi pada kami di Paris.
Ada yang baik, dan ada yang jelek. Ada yang mau bersahabat dan ada yang
mau mendekat, tapi juga pasti tidak sedikit yang mau berbuat jahat.
Tergantung seni-bergaul, seni-bermasarakat.

Di salah satu pusat yang cukup ramai dekat stasion Gare de Lyon, sebuah
stasion kereta yang cukup besar, yang lalulintasnya antara negara, ke
Spanyol, Portugal dan lain-lainnya, ada "sasaran-tembak" kami. Sebuah
resto yang kecil-mungil, tetapi berkategori edang-menengah, berkapasitas
50 kursi.
Kami masuk ke dalamnya dan ngobrol dengan pemiliknya. Seperti
biasa, pemiliknya itu sangat baik dan ramahtamah, biasalah orang dagang.
Kami diajak minum bahkan disuguhi kue. Kelihatannya pemiliknya ini
peranakan Perancis-Guadeloupe, francophone, daerah bekas jajahan
Perancis yang berbahasa Perancis. Katanya resto ini mau dijual karena
mereka mau pulang ke Guadeloupe.

Kami diajak masuk ke belakang dan meninjau daerah sekitarnya. Tempat
lalulintas, tempat parking mobil dan cukup ramai. Dalam hati
kami, sayang mereka mau pulang, sebab resto ini cukup baik letaknya dan
ramai kunjungan pelanggannya. Lagi-lagi kami keliling
sekitarnya, mungkin tak ada soal yang besar dan memang mereka mau
pulang. Sudah menjadi kebiasaan kami dalam kehidupan kami ketika
itu, bahwa apabila kami mau bertindak yang sifatnya
memutuskan, final, fiat dalam istilah percetakan, kami selalu akan
berkonsultasi dengan advokat, pengacara yang adalah teman kami orang
Perancis. Teman Perancis ini akan datang dan akan memberi nasehat atau
keputusan-pribadinya. Akan memeriksa segala sesuatunya agar pekerjaan
dan maksud kita itu bisa dilaksanakan, dilangsungkan.

Beberapa hari advokat kami bersama kami berdua mencari
keterangan, termasuk ke Balai Kota apakah lokasi itu memang layak-jual
dan sah dalam pengertian tak ada soal-soal dalam hubungan administrasi
setempat. Teman-teman kami di rumah sudah kami beritakan, dan beberapa
teman ini juga datang melihat "cikal-bakal restonya sendiri". Pada
umumnya mereka setuju dan bahkan berharap agar "cikal-bakal restonya"
itu dapat dimiliki. Pada hari ketiga dengan kesibukan agar memutuskan
jadi tidaknya resto itu dibeli, kami berubah wajah. Ada kemarahan, ada
kesedihan, ada kegemasan.

Ternyata resto yang mau dijual itu, dalam perencanaan di Balai Kota
termasuk daerah yang akan digusur buat melebarkan jalan-kereta-api.
Memang rencananya itu pada tahun depan pertengahan, artinya masih
sekitar 10 bulan lagi. Tetapi waktu 10 bulan, terlalu riskan buat
menjalankan sebuah resto yang dimulai dari nol lagi. Dan yang kami
sesalkan mengapa pemiliknya tidak memberitahukan tentang keadaan
sebenarnya bahwa resto itu termasuk daerah yang akan digusur. Tetapi
pendapat begini hanya sebentar dan tidak berkesan banyak. Sebab
sebenarnya dari pihak diri kitalah yang harus aktive menyelidiki dan
memeriksa dengan seksama. Inilah keuntungan kami berteman
dan punya advokat, pengacara Perancis itu. Dan kami benar-benar merasa
sangat berterimakasih atas penemuannya ini. Tanpa dia kami hanya akan
menjadi korban kelengahan dan kebodohan kami sendiri.

Sudah dua kali dengan peristiwa ini kami mengalami kegagalan. Yang
satu di Pigalle itu dan yang satu ini di daerah Gare de Lyon. Dan kami
lebih tegas dan mantap buat memperjuangkan nasib kami berdikari dalam
kehidupan : bahwa resto yang kami maksudkan harus berdiri dan eksis
pada waktunya. Modalnya hanya satu :
ulet, militansi, tak kenal lelah, dan terus mencari dan mencari. Orang
yang ulet mencari pastilah akan menemukan. Semakin sulit membajak dan
mengolah-tanah, memupuk, menyiangi, maka panen yang akan didapat akan
semakin cerah dan berhari-depan yang gemilang. Inilah pedoman kami, dan
memang hanya itulah yang harus kami kerjakan.

Paris 21 Maret 1999
Bab 5 :
Berbagai Kendala - Dua
Ada sebuah ruangan dari sebuah gedung yang tadinya bekas toko-tekstil.
Letaknya bagus, banyak lalulintas, gampang parkir mobil, banyak orang
bekerja, berkantor sekitar situ. Tapi gedung ini memang bukan bekas resto.
Hanya ruangannya besar dan kalau dipasang kursi-meja pasti paling sedikit
bisa memuat kapasitas 100 orang. Kami berdua Pak Markam setelah melihat
lokasinya dari sisi-kanan, sisi-kiri, dan muka-belakang, lalu tertarik.
Harganyapun tak mahal, masih bisa dicarikan dananya. Setelah menemui
pemiliknya dan bicara-bicara, terutama kami menanyakan harga dan perjanjian
yang harus dibuat, maka keesokan harinya kami menemui pengacara - advokat
kami.
Kami betul-betul buta pengalaman, dan belum punya pandangan yang menjangkau
luas. Baru punya semangat menggebu-gebu, tetapi belum secara sempurna
menghubungkan segala kaitannya dengan urusan yang akan didirikan. Pengacara
kami setelah menanyakan kepada kami semua detail yang kami tahu dan yang
kami lihat, lalu secara "gencar" mengocok kami. Apakah ada saluran
chemine, cerobong-asap buat mengalirkan asap-dapur? Apakah sudah dipikirkan
akan perubahan nama dan baliknama dari bekas toko tekstil menjadi sebuah
resto? Apakah sudah dipikirkan keuangan-dana untuk semua itu? Membuat
cerobong asap-dapur yang perkiraan kasarnya saja sekira hampir 50.000
francs, baliknama menjadi sebuah resto akan makan ongkos puluhan ribu francs
lagi. Dan kalau ditaksir dengan harga lokasinya saja hampir duakalilipat
harga dasar semula.
Mendengar semua keterangan advokat kami, bagaikan tersentak dan
terhenyak. Tak menyangka akan begitu besar semua pengeluaran yang harus
dihambur-hamburkan. Kata pengacara kami, jangan sedikitpun tertarik akan
ruangan besar;walaupun kelihatannya murah, dan sekitarnya baik dan
menguntungkan kalau sasaran-tembaknya bukan bekas sebuah resto! Karena kita
harus dari nol lagi membangun syarat-syarat dan kemudahan buat sebuah
resto. Apa itu? Sebuah resto harus ada cerobong asap-dapur, ini mutlak! Dan
lagi harus ada izin bangunan sebuah resto. Sedangkan kalau bekas sebuah
resto atau restonya yang mau dijual, syarat-syarat dan kemudahan itu sudah
ada dan tersedia. Tinggal mengganti, mengubah bagian lainnya. Dan sejak
itulah kami takkan ragu-ragu lagi mencari yang memang resto yang mau
dijual. Inilah pengalaman baru yang tadinya tak terpikirkan, terutama
mengenai akan mahal dan berkalilipatnya dana yang harus dikeluarkan.
Sudah dua bulan lebih kami jalan terus mengelilingi kota Paris. Sepatu
sudah tambah menganga, tetapi semangat pantang penyerah. Bagaimana akan
menyerah, sedangkan yang mau diperjuangkan ini menyangkut langsung nasib
kehidupan kami sendiri, teman-teman kami sendiri. Teman-teman lain tetap
teguh menyemangati kami, dan menyokong kuat maksud kami bersama.
Ada resto yang mau dijual, di Paris 7. Letaknya bagus, dan kapasitas kursinya
resto kategori sedang-menengah, ada 75 kursi. Resto ini kepunyaan orang
Magribi, Afrika bagian utara. Yang dijual kebanyakan makanan orang sana
juga, kuskus, sejenis makanan dari sereal yang kuahnya dengan ayam, sapi dan
kambing. Makanan ini enak sekali. Bumbunya panas dan sedap, mirip makanan
Aceh atau Minang. Kami menemui pemiliknya dan pemiliknya dengan ramahtamah
menyambut kami. Mereka karena mungkin melihat minat kami mau membeli
restonya, maka "kebaikan dan keramahtamahan"nya menjadi meningkat, dan
menjamu-makan cara mereka. Dan kami makan dengan lahapnya. Semua makanan
sudah tentu berlabel "halal" sebab pemiliknya beragama Islam seperti kami
juga.
Dalam pada itu kami melihat dan mengamati dengan seseksama mungkin, dari
berbagai posisi. Sekitar tempat itu, di belakang, depan, sekitarnya, tempat
lalulintas kendaraan buat parking mobil. Dan begaimana keadaan calon
pelanggan, apakah cukup banyak? Semua kami pelajari selama beberapa hari
itu. Harganya-pun akan terjangkau. Patokan kami dengan sebuah resto
sedang, sedang-menengah, jangan sampai lebih seharga 500.000 francs! Kalau
mungkin antara 250.000 sampai dengan 400.000 francs. Harap jangan ditanya
apakah kami punya uang sejumlah itu? Karena jawabannya, kini pada waktu
itu, kami tak punya uang sebegitu banyak. Lalu bagaimana? Nanti kalau memang
sudah kepunyaan kami, akan kami usahakan mencari uangnya. Nah, disinilah
peranan dahsyat dan hebatnya itu orang yang bernama Markam temanku yang
kecil-perawakannya itu. Dulu ketika konferensi wartawan Asia-Afrika di
Jakarta, adalah Markam sebagai sekjen keuangannya, yang memerlukan uang
ratusan juta sampai milyaran rupiah pada waktu itu, yang uang masih cukup
baik harganya.
Semua ini kami laporkan kepada advokat-pengacara kami. Dan pengacara kami
datang memeriksa dan menanyakan segala sesuatunya. Dia-pun tampaknya setuju
akan pilihan kami. Dan bukan main gembiranya hati kami. Teman-teman kami
sudah kami beritahukan. Hari itu juga beberapa teman pergi mengunjungi
lokasi resto Magribi itu. Dengan hati yang sangat gembira, beberapa teman
sudah merancangkan dalam hatinya, kelak akan menjadi apa. Menjadi
koki, pembantu-koki, server melayani atau belajar barman dulu, dan sebagainya.
Untuk mengikat perjanjian jual-beli ini, kami harus mengadakan kontrak
perjanjian jual-beli. Yaitu membayar sejumah uang sebagai uang-panjar.
Kalau terus, maka tinggal menggenapi harga tertera dalam perjanjian. Kalau
mundur, tak jadi, maka uang kita hangus, hilang begitu saja, artinya dirikita
telah merobek-robek perjanjian yang sudah sama-sama ditandatangani.
Artinya pekerjaan kami setelah menyerahkan uang-panjar itu, maka sudah
sekian persen pekerjaan menjadi kian mantap, dan pada akhirnya kami akan
punya sebuah resto. Apa yang kurang gembira? Sudah sewajarnyalah kalau kami
semua sudah memikirkan tahap selanjutnya buat mencari dana yang besar untuk
itu. Ketika itu kalau tak salah harga-jual resto tersebut lebih 400.000
francs. Semua teman sudah pada siap bekerja buat kelanjutan resto yang
segera akan kami ubah dengan nama dan cara Indonesia. Yah, mana kami akan
menyangka persoalannya akan berakibat merugikan kami sendiri. Sedangkan
pengacara kami sendiripun yang cukup jeli, masih juga ada kebocoran infonya.
Oleh pengacara, kami dikumpulkan pada sebuah pertemuan final, bagaimana jadi
atau tidak membeli resto itu. Sebab diketahui, pemilik yang sebenarnya kini
masih ada dalam penjara. Pemiliknya itu meringkuk dalam penjara karena
kejahatan kriminal, disamping pembunuhan juga karena masalah drug sejenis
candu , marijuana dan morphin. Sedangkan yang berhadapan dengan kami itu
adalah adiknya. Jadi resto ini adalah resto keluarga.

Sebenarnya menurut pengacara kami, kalaupun mau diteruskan bisa bisa
saja, tetapi akibat belakangannya tak dapat kita ketahui. Misalnya tiba-tiba
ada tuntutan yang secara langsung tak langsung akan mengenai diri
kami, berkenaan dengan resto yang sudah kami beli itu. Atau ada ancaman dari
para pesaing dan konkurensinya dulu. Maklumlah gerakan kejahatan kriminal
dan drug itu sangat sulit memperkirakannya, karena semua gerak-gerik mereka
adalah dalam orbit manipulasi, dan secara tiba-tiba dan mendadak.
Nah, terjadi lagi diskusi antara kami dan dengan pengacara kami. Kalaupun
kami teruskan tentulah nantinya bekerja dalam tidak-adanya rasa
ketenangan, waswas dan kuatir saja kalau-kalau terkena dampak kejahatannya
dulu. Dan kalau kami mundur, berarti kami kehilangan uang 15.000 francs yang
menjadi uang-panjar ketika perjanjian ditandatangani dulu itu.
Perkara ini sangat banyak makan-pikiran dan makan-tenaga dan waktu. Tetapi
harus segera diputuskan. Sampai larut malam selama dua hari itu, kami
tenggelam dalam pendiskusian. Akhirnya kata akhir dan final terdapat
kesatuan pendapat, biarlah kami kehilangan uang 15.000 francs daripada kami
bekerja dalam rasa tidak aman dan tidak tenteram. Daripada membeli resto
seorang penjahat yang sedang meringkuk dalam penjara, lebih baiklah tak usah
punya resto dululah! Dan kami, semua teman kami dalam
berduka dan sedih, sebab banyak hilang uang tetapi tak ada yang kami
dapatkan! Memang yang kami dapatkan yalah pengalaman pahit yang nantinya
harus kami ingat benar agar jangan terjadi hal-hal demikian merugikan kami
sendiri. Pengacara kami berulang-ulang minta maaf dan pengertian karena dia
merasa belum cukup jeli dengan kejadian ini. Tetapi kami
meyakinkannya, perkara ini bukanlah salahnya sendiri, melainkan kesalahan
kamilah yang pokok, sebab kurang periksa dengan cermat.
Dan untuk kesekian kalinya kami gagal. Apakah sudah ada rasa putus-asa?
Tidak! Kami tetap dengan Pak Markam sudah empat bulan ini jalan terus
mengelilingi kota Paris. Aku dengan caraku sendiri setiap malam berdoa
kepada Tuhan, agar Dia menolong dan membantu kami. Kalau pulang malam
menjelang pagi itu, aku selalu membenamkan diri dalam kesendirian, menjauhi
teman-teman dan berdoa dengan khusuknya. Biarlah aku berdialog dengan
Tuhanku, aku dan Dia. Pedomanku, begitu kita sangat luarbiasa meminta dan
mengharap, tentulah suatu waktu akan dikabulkan. Dan perkara ini bukan buat
dirisendiri saja, ini buat kepentingan banyak jiwa, banyak nyawa
teman-temanku lainnya. Dalam hatiku, masaksih Tuhan akan membiarkan kami
terus begini?!
Paris 22 Maret 1999
Bab 6 :
Yang Ke-7
Seperti biasa, kami beli beberapa suratkabar. Di antaranya Le Figaro. Ada
dimuat beberapa advertensi tentang sewa-beli rumah, toko, resto. Banyak
perusahaan atau perorangan yang menawarkannya dengan berbagai cara yang
menarik, pengumbaran janji yang tampaknya dari luar sangat menarik. Tetapi
berhati-hatilah, kalau tak pandai-pandai memeriksa dan meneliti, kita akan
terkecoh, tertipu. Kami sudah pengalaman, dan kami sudah merugi karena kurang
teliti, kurang periksa. Yang menawarkan jualan tak dapat dituntut karena tak
ada bukti mereka menipu. Dan untuk menuntut bukan hal gampang. Harus pakai
pengacara, advokat, itu berarti harus keluar uang, harus membayar lagi.
Sebuah advertensi penjualan resto di Rue de Vaugirard no 12 berada di Paris
6. Paris 6 adalah tempat makan, atau Quartier Latin. Di mana banyak
resto, banyak turis, banyak pegawai dan mahasiswa sebab dekat Universitas
Sorbonne. Lagipula di sana terletak Jardin Luxembourg, Taman yang terbesar
di seluruh Paris. Kami memeriksa lokasi resto yang akan dijual itu. Sangat
strategis, tempat kelaluan orang lalu-lintas. Letaknya di segitiga, Theatre
National ODEON, Universitas SORBONNE dan Jardin Luxembourg. Tiga tempat yang
terkenal ini tak mungkin dilupakan orang kalau sudah lama di Paris. Dari
segi letak, resto "sasaran-tembak" kami ini sudah okeylah!
Kami datang mengunjungi "wanita yang akan dilamar" ini. Sebuah resto yang
tampaknya tua, tak terpelihara, di sana-sini banyak tali-temali sarang
laba-laba. Nama resto ini MADRAS. Tetapi masakannya samasekali bukan
spesialite India walaupun nama restonya MADRAS. Lebih banyak masakan
Creole, campuran India-Hispanik-daerah Francophone Guadelope, Haiti dan
sekitarnya. Mungkin pemiliknya ada darah campuran India. Ketika kami
masuk, hanya ada tiga orang. Seorang wanita-tua yang katanya sudah berumur
72, dan anaknya yang berumur 30-an serta menantunyu wanita. Tiga orang
inilah pemiliknya, keluarga Morquet. Mereka semuanya sangat ramah-tamah
menerima kami dengan antusias. Hal begini tentulah sangat biasa, apalagi
diketahuinya kami punya minat buat memiliki resto itu. Ada sekilas bahkan
terkadang cukup lama bersarang dalam pikiran kami dengan Pak Markam. Selama
kami gila-gilaan mengelilingi kota Paris buat mencari resto ini, dengan
sepatu butut yang sudah menganga dan membahayakan serta mengkhawatirkan, tak
ada dan tak pernah kami diejek atau dihina. Mereka yang kami dekati dan
minati restonya, semua menaruh hormat secara wajar terhadap kami. Malah
kamilah yang dulu pernah kuceritakan, mengapa ada seseorang pemilik
hotel-bar-disko yang begitu percaya kepada kami, yang sepatupun robek
menganga dengan pakaian sangat sederhana, tetapi tak ada secuilpun mereka
merendahkan dan memandang sebelah mata kepada kami. Dan mereka percaya
kepada kami yang sungguh-sungguh berminat buat membeli sebuah resto. Dan
beginilah Paris!Tidak silau akan pakaian dan pakaian-luar.
Setelah kami memeriksa banyak bagian di dalam resto itu, dan mendapat
keterangan dari keluarga Morquet, ketertarikan kami semakin besar, dan sudah
tentu harapan keluarga inipun semakin besar pula agar kami menjadi
harapannya buat menjual resto itu. Dan karena dilihatnya kami menuju
kemantapan buat memiliki resto itu, banyak hal yang kami tanyakan semua
berjawab secara memuaskan. Inilah hukum jual-beli, apabila seseorang itu
sudah tampak sesuai-cocok dengan harapan kita, maka keterusterangan semakin
terbuka. Keluarga ini sudah tua dan lelah-letih dalam mengurus resto, suami
nyonya Morquet baru meninggal tahun lalu, dan mereka bermaksud menjaul resto
ini karena mau pulang ke Guadelope, bergabung dengan keluarga besarnya di
sana. Madame Morquet serta anak-mantunya sudah tak berminat lagi meneruskan
usaha ini, tetap sama juga mau ke negeri asalnya bersama ibunya yang sudah
tua itu.
Dapat dilihat di dalam resto itu, memang sudah tak terpelihara
lagi. Seandainya kami belipun, betapa banyak lagi bagian-bagian dalam resto
itu harus diganti dan diperbaiki.
Untuk memutuskan membeli seketika tentu tidaklah mungkin. Sekali ini kami
betul-betul harus berhati-hati, dan selalu harus berkonsultasi dengan
pengacara kami dan teman-teman kami. Adalah benar, pada pokoknya selama ini
hanyalah kami berdua Pak Markam yang benar-benar
pontang-panting, babak-belur menjalani kota Paris buat mencari lokasi, tetapi
bantuan semua teman sangatlah pentingnya. Karena kerja kami ini adalah
kerja-kolektif, sebagai sekumpulan "tukang-sepatu" buat menghadapi "seorang
Jenderal Chu Kuo-liang, akhli taktik-strategi perang" itu, maka "tali-rantai"
yang saling berhubungan jangan sampai putus dan terlepas.
Kami laporkan semua penemuan kami itu kepada pengacara kami. Dan ada
beberapa teman kami yang juga datang ke lokasi resto. Semua mereka disambut
oleh keluarga Morquet dengan baik. Bahkan ada teman kami yang diizinkan
masuk buat memeriksa bagian dalam resto. Dan pengacara kamipun sudah datang
dan banyak bertanya ini itu kepada pemiliknya. Dan kami bersama pengacara
kami berkeliling sekitar daerah itu, dengan radius ratusan meter dari pusat
"sasaran-tembak". Dan memang tempatnya sangat ideal, daerah turis, daerah
mahasiswa-pelajar, daerah pegawai, buruh , di mana banyak sekali
perkantoran, bank, universitas, sekolahan, pertokoan dan orang lalulintas. Dan
pengacara kami juga dengan teliti dan seksama banyak menanyakan tentang
surat-menyurat, pembukuan dan selukbeluk resto itu. Keluarga pemilik
tampaknya dengan senang hati menjawabnya, dan jawabannya tampak memuaskan
pengacara kami.
Setelah kami berpendapat memang sebaiknya "sasaran-tembak" inilah yang
tampaknya cocok-sesuai dengan keinginan kami. Dan "wanita inilah" yang
seharusnya kami lamar! Karena sudah sejumlah lebih 70 persen berkenan dalam
hati, lalu kami bertanya lagi harga-jualnya. Tetap saja keluarga pemilik
menetapkan harga 450.000 francs seperti yang dulupun pernah kami dengar.
Dan setelah tanya-jawab berunding secara lisan sebelum tertulis di atas
surat-kontrak, kami tawar-menawar dulu, agar pada tahap pertama
pembayaran, bisa sebagian dibayar kontan, sedangkan yang lainnya dengan
perjanjian selama tiga bulan harus lunas-lengkap seharga yang tertulis, dan
kalau tidak, kami harus membayar denda sekian persen. Dan nanti
surat-kontrak itu akan ditandatangani oleh kedua belah pihak pengacara, dari
pihak pemilik resto yang lama dengan pihak kami, sebagai pemilik baru.
Kami sudah memperkirakan, kalau harganya 450.000, - kami harus menyiapkan
paling sedikit 500.000, - Mengapa? Harus diperhitungkan membayar
notaris, pembaharuan balik-nama resto, membayar ongkos pengacara, dan modal
pertama dalam pembelian bahan makanan buat jualan makanan, sebagai layaknya
sebuah resto. Kami dan semua teman kami merasa gembira. Dan aku
"memperdalam, mengintensifkan" doaku dalam kesendirianku, semoga resto kali
ini, yang sudah enam kali gagal, Tuhanku, semoga yang ke 7 ini, diberkahi Tuhan
buat kami semua. Tuhanku, kataku dalam hati, dalam doa, Kau jadikanlah kami
sebagai pemilik resto ini. Kami sangat memerlukan kehidupan yang
mantap, berilah kami kesempatan untuk hidup bertahan di negeri orang.
Bukankah Kau tahu Tuhan, bahwa kami tidak mungkin pulang ke tanahair
kami, dan banyak keluarga kami yang menjadi korban pembunuhan dan
siksaan, penjara, yang sampai kini masih meringkuk di banyak penjara, dan ada
pula yang di Pulau Buru. Dalam doaku tak mungkin aku hanya membawa
kepentingan diriku sendiri, selalu kukaitkan dengan nasib kami
bersama, karena kami selalu diikat oleh kesamaan nasib, kesamaan kehidupan.
Ternyata dari banyak kelakar dan omongan, kami sama saja tujuan
doanya, mengharapkan yang ke 7 ini, jadi dan mantap dapat kami miliki, sebagai
sebuah resto yang dimiliki bersama, sebuah restaurant koperasi, yang
koperatif. Semoga pengalaman pahit 6 kali gagal, dan pernah merugi sekian
puluh ribu dulu itu, janganlah sampai terulang kembali. Setelah
berpahit-pahit, bersusah-payah, pontang-panting, rasanya ingin sekali dapat
menikmati "hasil tanaman dan panen"nya walaupun hanya alakadarnya saja!
Paris 23 Maret 1999
Bab 7 :
Kerja Gila-gilaan - Satu
Setelah kami secara defenitif mengambil keputusan untuk membeli resto
MADRAS tersebut, maka kini tibalah tahap kerja gila-gilaan. Betapa banyak
pekerjaan yang harus segera ditangani. Terutama dalam bidang keuangan.
Sebab kami benar-benar tak punya uang. Tapi kami punya banyak
teman, sahabat, dan orang-orang yang bersimpati kepada kami. Kami percaya
kalaupun seandainya kami benar-benar mengharapkan bantuan kepada
mereka, tentulah mereka-pun tidak akan membiarkan kami. Karena mereka juga
tahu bahwa kami bekerja untuk kepentingan banyak teman, banyak orang dan
sahabat. Karena itu nama Resto yang bersifat koperasi ini, kami namakan
FRATERNITÉ, ini sebagai Scop, artinya Société Coopérative Ouvrière de
Production, -kami namakan Persaudaraan dengan sifatnya yang koperatif.
Tetapi nama Restonya sendiri kami namakan RESTAURANT INDONESIA. Mengapa?
Karena kami pada umumnya setiap tahun ikut aktif mendirikan stand di Pekan
Raya menjelang Musimgugur yang selalu diadakan oleh Suratkabar L'HUMANITÉ
di Paris. Pekan Raya itu adalah Pekan Raya yang paling besar di Eropa yang
diadakan selalu pada bulan September.
Di Pekan Raya itu kami mendirikan stand yang pada pokoknya menjual makanan
tipik Indonesia, barang-barang kerajinan-tangan, buku-buku, dan banyak lagi
yang memperkenalkan Indonesia. Yang paling laku yalah makanan
Indonesia, sejenis resto. Dan nama stand kami memang Restaurant Indonesia.
Dari situlah kami anggap sebagai embrio RESTAURANT INDONESIA kini.
Rumah Pak Markam sudah bagaikan kantor yang sangat sibuk. Banyak teman
"bermarkas di sana". Seseorang yang mau masuk ke dalamnya akan melalui
sebuah lorong kecil yang penuh dengan sepatu, sandal, lebih lusinan pasang!
Menandakan orangnya sedang banyak dan sibuk bekerja di kamar masing-masing
yang bertugas. Kerja begini harus cepat. Uang tidak ada, sedangkan resto
sudah di tangan, dan kalau berlama-lama tak dilunaskan, resto yang sudah
ditanganpun akan hilang! Deringan tilpun setiap menit selalu berbunyi atau
ada orang yang sedang bicara. Apa dan kepada siapa? Kami menugaskan
beberapa teman untuk mencari hubungan dan menghubungi teman-teman di Eropa
lainnya, seperti di Holland, Jerman dan Swedia, bahkan ke dan dari Cina. Apa
perkaranya? Kami minta bantuan keuangan, seberapa adanya, atau kami mau
pinjam dulu, dengan perjanjian kedua-belah pihak.
Hubungan tilpun tidak hanya kepada teman-teman di Eropa lainnya dan Cina
saja, tetapi juga teman-teman di Perancis, dan teman-teman asing yang
berbangsa lain. Ada yang menjawab yang sifatnya meragukan, karena sama-sama
tidak punya uang. Tetapi yang terbanyak jawabannya yalah, akan segera
mengirimkan uangnya, dan akan segera datang sendiri ke Paris buat membantu.
Dari hubungan tilpun yang bagaikan kantor bursa-efek ini, begitu ramainya
deringan tilpun, beberapa teman ditugaskan mendatangi beberapa kantor dan
rumah teman-teman yang sudah menyanggupi bantuan keuangan. Agar mengambil
uang yang mereka janjikan.
Keadaan kerja gila-gilaan ini sungguh sangat mengharukan kami semua.
Mengapa? Banyak sekali teman-teman itu merelakan sumbangan uangnya buat
keperluan berdirinya sebuah resto. Ada yang meminjamkan uangnya tanpa
perjanjian, hanya secara lisan saja, dengan kata-kata, pakailah dulu, nanti
kalau kalian ada untungnya boleh kembalikan, kalau tidak ya tidak
apa-apa, karena saya juga tahu kalian benar-benar bekerja untuk kepentingan
bersama. Ada yang benar-benar menyumbangkan uangnya, sumbangsih, mendermakan
bulat-bulat. Ini yang sangat mengharukan kami. Seorang teman kami orang
Perancis yang dekat kami, selalu bergaul dengan kami, namanya Gerard yang
bekerja di kantor-pajak, menyumbangkan uangnya sejumlah 15.000
francs, bukanlah jumlah yang kecil! Kami peluk beramai-ramai si Gerard Pak
Kumis itu, dan dia sangat terharu, sambil berlinang airmata. Uang
sumbangannya benar-benar kilauan dan binaran persahabatan dan kepercayaan.
Dalam pada itu banyak teman dari Holland dan Jerman juga mengirimkan
uangnya, dan ada yang datang sendiri ingin menolong membenahi secara
kerja-badan di resto kami. Tuan Morquet telah menyerahkan daftar
inventarisnya kepada kami, semua benda dan barang keperluan
dapur, sal, bar, dan sebuah kantor kecil di lantai-satu, buat kantor kami. Dan
daftar ini harus kami periksa dan cocokkan. Lalu semua alat-alat itu harus
kami bersihkan, sikat, ganti mana yang rusak. Dan ini sungguh banyak minta
tenaga-kerja. Di samping teman-teman Indonesia yang ada di Paris dan yang
datang dari Eropa lainnya, teman-teman Perancis juga banyak secara bergilir
datang ke resto kami buat membantu. Pekerjaan begitu banyaknya. Dinding
harus dicat, sarang laba-laba, kotoran yang ada dekat plafond harus
dibersihkan, dan harus pakai tangga, harus cari tangga lagi. Semua barang
keperluan dapur harus dibersihakn, dicuci dengan alat-alat produit yang
keras, kalau lama di tangan, akan melepuh dan luka.
Karena resto MADRAS dulu itu sangat tidak dirawat, maka pemilik-baru(kami)
harus banyak kerja menanggulangi dan membikinnya bagaikan baru lagi. Dan
untuk itu pekerjaan bukan main banyaknya. Kami kerja tidak pakai
jam-kerja, karena sampai tak sanggup lagi berdiri lama! Dari pagi sampai
malam menjelang larut malam. Harus mengejar waktu. Ketika itu pada minggu
pertama Desember 1982, sedangkan kami merencanakannya akan buka pada tanggal
14 Desember 1982. Sedangkan banyak wartawan dan suratkabar sudah kami
undang, termasuk televisi TF 1 dan Antenne 2 serta France 3.
Teman-teman yang bekerja itu harus makan, dan sudah sewajarnya juga harus
ada minuman, misalnya kopi atau lainnya. Untuk ini ada teman yang khusus
bertugas bertanggungjawab atas pekerjaan konsumsi. Dengan sendirinya dapur
sebenarnya sudah jalan, tetapi baru bersifat partikeliran, belum bersifat
menjual makanan. Ini sengaja kami biasakan sebelum benar-benar pada hari
H-nya. Kepada pemilik lama sudah kami bayarkan sejumlah uang yang pada
akhirnya tiga bulan sesudah itu harus lunas-tuntas! Darimana uang kami
dapat buat membayar uang persekot tersebut? Dari sumbangan banyak teman dan
pijaman-longgar banyak teman. Dan kamipun punya uang sebagai pengganti
uang-bantuan dari pengangguran. Kami dapat uang-saku dari pemerintah karena
belum mendapat pekerjaan, dan ini harus dibuktikan bahwa kami memang
benar-benar mencari pekerjaan. Jadi setiap kami melamar di sebuah
perkantoran, pertokoan, perusahaan, harus ada cap bahwa memang benar kami
pernah datang untuk melamar di kantor, perusahaan, perokoan tersebut.
Karena kami sedang mencari pekerjaan, artinya dalam status pengangguran, maka
setiap penganggur dapat sokongan 45 sampai 60 francs sehari, dan ini
diterima pada setiap bulan. Bantuan ini sampai satu dan dua
tahun, tergantung situasi kongkritnya, ada badan yang akan
memeriksanya, apakah akan diteruskan atau dikurangi jumlah
bantuannya. Nah, karena kami sudah dapat menciptakan lowongan kerja ini dan
atas kerja-usaha sendiri, dengan bukti nyata, maka kami dapat 36.000 francs
perorangnya. Sedangkan kami kaum pengangguran berjumlah beberapa orang.
Tetapi begitu menerima uang tersebut maka pemerintah sudah
berelepastangan, sebab tokh sudah ada pekerjaan, -dan ini sangat wajar. Maka
sebenarnya modal kami ya hanya itulah. Lalu setiap kami yang mendirikan
resto itu harus menyerahkan modal-dasar, setiap orang 2500 francs.
Sebenarnya modal ini hanya syarat saja, mana cukup!
Dengan terkumpulnya modal sendiri dan modal banyak teman, maka dapatlah
memenuhi perjanjian-beli, dan lalu kepemilikan baru resto tersebut menjadi
sah pemilik koperasi FRATERNITE, RESTAURANT INDONESIA.
Ada keuntungan lain karena menciptakan kesempatan atau lowongan-kerja ini.
Kami mendapat keringanan dari pemerintah, dibebaskan membayar
pajak-perusahaan selama 6 bulan! Jadi kami bebas berusaha, membuka
jualan-resto tanpa bayar pajak selama setengah tahun. Dan ini bukan main
artinya dalam bantuan kongkrit. Kalau harus membayar pajak begitu resto
buka, takkan mungkin bisa kami laksanakan. Persoalan lain banyak timbul. Kami
tidak bisa mengatasnamai resto itu atas nama kami, karena ada undang-undang
yang menyatakan sebuah resto, termasuk spesialite, patronnya, direkturnya
haruslah orang Perancis, sudah warganegara Perancis. Sedangkan kami waktu
itu belum seorangpun yang sudah berwarganegara Perancis. Apa akal? Kami
berunding lagi, rapat-mufakat lagi.
Resto ini didirikan oleh 4 orang Perancis dan 4 orang Indonesia. Dan
gagasan ini bisa diterima oleh pihak notaris dan pemerintah. Maka
selesailah sudah salah satu persoalan yang begitu banyak. Tetapi yang
menjadi direktur haruslah orang Perancis. Kami punya teman Perancis yang
sejak lama sudah mengikuti kegiatan kami di berbagai kegiatan
sosial-kultural, termasuk di stand Pekan Raya setiap tahun itu, namanya
Pascal LUTZ. Pascal sangat bersimpati kepada kami, dan selalu dekat dan
membantu kami. Maka dialah kami jadikan direktur-utamanya, sejak berdirinya
resto sampai kini, 24 Maret 1999, -
Seorang direktur-utama kalau bergaji akan menguras begitu banyak uang
resto! Dan Pascal sejak-mula pertama adalah direktur-sukarela, artinya tidak
bergaji, tetapi penuh bertanggungjawab atas resto itu. Dan pada statut resmi
kepemilikan resto, disebutkan semua jabatan dan fungsi setiap orang, dan kami
4 orang Indonesia itu disebutkan sebagai pendiri, fondateur, sejajar dengan 4
orang Perancis yang di-direktur-i Pascal LUTZ. Masih ada soal lain!
Sebuah resto spesialite, tukangmasaknya haruslah punya diploma!Mana kami
punya! Kami hanya punya kemauan dan tekad kerja keras saja, soal
diploma, apalagi diploma perhotelan, mana ada! Tokh kami tadinya dan dulunya
tak seorangpun yang bercita-cita menjadi seorang restaurateur dan ini
karena sejarah lama saja adanya! Apa akal? Kami mendatangi pengacara dan
notaris, bagaimana ini. Dapat keputusan, dibebaskan selama belum bayar pajak
itu. Tetapi begitu sudah jalan-tetap dan sudah harus bayar
pajak-perusahaan, resto harus punya chef-dapur yang punya diploma. Ini
peraturan! Dan ada lagi peraturan-umum dari pemerintah. Seseorang yang
bekerja di Perancis ini harus bergaji minimum, artinya ada peraturan
gaji-minimum, namanya SMIC, Salaire Minimum Interprofesionel Conventinne.
Semua perusahaan, perkantoran, pertokoan, restaurant, harus menuruti peraturan
gaji ini. Termasuk kami harus mematuhi peraturan ini.
Tetapi lagi-lagi kami menanyakan dan minta keringanan agar buat kami ada
perkecualiaan. Mana bisa! Tidak ada undang-undang dalam
perkecualiaan, keistimewaan! Bisa selama bebas bayarpajak itu, tetapi begitu
dinyatakan resmi sudah harus bayar pajak, maka semua peraturan harus
dituruti. Dan selama 6 bulan itu samasekali tak ada sangkutpautnya dengan
soal perkecualian atau keistimewaan, tetapi juga karena memang ada
peraturannya! Kami benar-benar mulai dai nol-zero-besar! Terlalu banyak
peraturan yang kami tidak mengerti. Semua keterpaksaan ini membuat kami
harus banyak belajar, belajar memahami peraturan dan perundang-undangan
perburuhan, perusahaan, administrasi kenegaraan, perdagangan-umum, dan
lain-lain.
Masih tetap banyak soal! Lalu siapa yang akan jadi kokinya, semua kami juga
hanya bisa masak tetapi bukannya pandai apalagi akhli. Sedangkan dihadapan
kami ini sebuah resto yang boleh dikatakan mewakili nama besar
Indonesia, ini bukan main-main
Ada akal. Kami minta seorang ibu, istri bekas dutabesar RI di suatu negara
Afrika yang ketika itu ada di Holland, datang segera mengajari kami masak!
Dan beliau mau dan sedia. Dari beliaulah kami mulai belajar masak-memasak.
Dan memang masakannya sangat enak. Dan aku baru tahu bahwa ada nama masakan
yang bernama pesmol. Padahal sebelumnya aku tak tahu apa itu barangnya yang
bernama pesmol itu! Lalu ayam-bumbu-bali, oseng-oseng, bakwan, semua nama
makanan tersbut tadinya sangat asing bagiku. Kalau hanya nama
rendang, semur, sate, gulai, termasuk rica-rica sudah kukenal sejak di
Indonesia. Sungguh banyak pengenalan baru, dan ternyata begitu banyak
hal-hal yang tadinya kita tidak tahu, dan sampai sekarang betapa banyaknya
ilmu yang kita belum tahu dan belum tergali. Semua itu haruslah melalui
banyak praktek. Sesudah kita memasuki dunia-baru itu, barulah kita
tahu, sebenarnya terlalu banyak yang kita tidak tahu!
Paris 24 Maret 1999
Bab 8 :
Kerja Gila-gilaan - Dua
Beberapa hari menjelang pembukaan-resmi Resto, kami bersama beberapa teman
benar-benar bekerja secara gila-gilaan. Tidak mengenal waktu, tidak
memperhatikan kesehatan, karena mengejar dan berpacu waktu. Badan loyo-lemas
karena kurang tidur, terlalu letih-lelah. Tetapi diliputi rasa kegembiraan
dan kepuasan, karena kami sudah memegang-nasib di tangan sendiri, tidak
tergantung uluran-tangan pemerintah maupun orang lain.
Sebagian teman mengurus ruangan Resto, di lantai-dasar dan lantai-bawah, lalu
di kantor, lantai-satu. Mengganti dinding, mengecat, memasang dekor. Bagian
dapur, membersihkan alat-alat dapur seperti piring-mangkuk, kuali-wajan yang
beratnya sudah lebih 20 kg, dan ada beberapa buah. Lalu membersihkan
sendok-garpu-pisau, dan berjenis piring-mangkuk yang banyaknya ratusan. Ini
bagian dapur bagian perlengkapan. Bagian-masak-memasak, sibuk mempersiapkan
bahan, dan juga mulai persiapan masak buat jualan.
Hari pertama pembukaan untuk para undangan dan media-masa, cetak dan
elektronik. TF 1, Antenne 2, dan Francesoir 3, semua bagian televisi di Paris.
Dalam hal ini temanku Pak Markam memang luarbiasa. Dia disamping
"akhli-lobbying" sudah tentu lebih menguasai bahasa Perancis daripada
kami, karena termasuk faktor dia memang sudah lama di Paris. Hubungannya
sangat luas dan amat pandai bergaul. Sudah tentu pada hari-hari minggu
pertama pembukaan yang jatuhnya tanggal 14 Desember 1982, keadaan agak
kacau, agak semrawut. Orang yang datang melebihi kapasitas kursi. Kapasitas
kursi di resto kami sejumlah 66, tetapi yang datang lebih dari 100 orang.
Aku pada mula-pertama begitu resto dibuka ditempatkan di bagian
dapur, sebagai "barisan tukangmasak". Sudah kuceritakan, setelah belasan
tahun aku bekerja di resto kami ini, dan meliputi semua bagian, seperti
bagian service-pelayanan, bagian bar-man, bagian administrasi-keuangan, dan
bagian perlengkapan-ruangan, maka pekerjaan yang paling berat memang
pekerjaan di dapur. Masak-memasak, termasuk persiapannya. Inilah sebabnya
walaupun resto kami hanya buka 2 jam siang, dan 4 jam malam, tetapi kami
masuk mulai bekerja pada jam 0900 sampai jam 24.00 dengan diselingi
istirahat paling lama 2 jam. Hal ini karena kami belum
pengalaman, samasekali baru, bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Setelah kami dididik oleh Ibu mantan dubes yang sangat trampil masak
itu, hanya dalam sepuluh hari saja, kami harus bisa berdikari. Dan Ibu itu
harus kembali ke Holland. Kami sangat berterimakasih kepadanya. Dan sesudah
itu, mulailah kami harus bekerja tanpa pengawasan orang yang sudah mahir dan
akhli. Dan mulailah pekerjaan gila-gilaan pada puncaknya.
Suara-suara ramai antara bagian sal yang melayani dan bagian dapur yang
menciptakan makanan, sering ribut, karena berteriak , mungkin
kelelahan, tegang dan juga karena dongkol dan marah. Seorang teman
menanyakan dengan suara agak membentak, "mana yang semur, mana yang
rendang?! Kok sama saja warnanya!", kata seorang. Teman lainnya menjawab :
"alah, bilang saja salah satu itu semur! Masaksih tahu orang bule, mereka kan
asal makan saja!". Seorang menjawab "makanya harus selalu diperhatikan, beda
pokok yalah, rendang itu pakai serai, semur tidak! Rendang pakai
santan-kelapa, semur tidak, agak kehitaman karena pakai kecap-manis, rendang
agak coklat", kata seorang teman yang agaknya sedikit tahu akan masakan.
"Yah, tetapi bagaimana kita tahu kalau bendanya ada di piring dan di atas
tangan kita, kalian di dapur sih enak, tahu yang mana semur yang mana
rendang. Kita ini menghadapi client secara langsung, kalian kan
tersembunyi
di dapur", kata teman pelayan. Nada suara hampir agak
mayor, meninggi, ampernya naik!
Lalu cepat-cepat kusuruh berlalu, tak enak di dengar client berdebat-ramai
di depan mereka. Karena masalah begini, maka kami ketika itu mengambil
kebijaksanaan. Pada fich, kertas-menu yang di tempelkan
di dinding dapur selalu akan ada catatan khusus. Misalnya yang makan itu
orang Indonesia, akan kami tandai M, artinya melayu, termasuk orang Belanda
kami tandai dengan M. Artinya kita harus hati-hati, sebab yang makan ini
benar-benar mengerti masakan kita. Orang Belanda sangat mengenal masakan
Indonesia, karena itu tidak jarang mereka memberikan kritik kepada kami, dan
kritiknya kebanyakan benar dan tepat.
Dalam pada itu karena oleh peraturan dan undang-undang kami harus punya
chef-kok, kepala tukang-masak yang betul-betul berdiploma perhotelan dan
masak-memasak, maka resto menghubungi teman-teman yang ada hubungan atau
yang sedang membuka resto, mencarikan tukangmasak benaran. Oleh dampak-baik
siaran berbagai suratkabar, media-cetak dan elektonik, luarnegeri maupun
dalamnegeri maka gema resto kami sampai ke tanahair. Dan masukakal kalau
banyak surat-surat berdatangan kepada resto kami buat melamar pekerjaan.
Surat-surat berdatangan dari Bali, Jakarta, Balikpapan, Bandung, Surabaya dan
bagian lainnya di Indonesia. Termasuk dari Eropa, Holland, Jerman, Swedia.
Surat-surat itu sangat mengharukan kami, dan sangat sulit bagi kami
bagaimana cara menjawabnya. Kami mendirikan resto ini dengan maksud
menolong dan membantu teman-teman pengangguran yang ada di Paris saja dulu.
Selain ini belum sampai terpikirkan begitu jauh. Dan lagi tentu saja banyak
pengirim surat itu tidak mengerti atau belum mengerti status kami, kedudukan
kami.
Seandainya saja kami ya kan, atau katakan begitu - begini, yang sangat perlu
diketahui, kami ini adalah masih termasuk kaum-pelarian-politik. Mana
mungkin kami merekrut tenaga dari Indonesia! Untuk itu harus ada izin
pemerintah RI dan juga pemerintah Perancis sebagai
pendatang-pekerja-imigrant. Dan pekerjaan begini sangat sulit-rumit dan
banyak sangkut-pautnya denga berbagai persyaratan. Dapat dikatakan, tidak
mungkin kami kerjakan. Sayang. Dan kami dalam hati sangat menyatakan rasa
terimakasih atas kepercayaan demikian.
Karena kami tidak punya chef-kok yang betul-betul berpengalaman dan yang
berdilpoma, maka sementara itu aku ditetapkan sebagai tukang-masak utama.
Tetapi hal ini hanya untuk sementara kami dibebaskan dari pembayaran-pajak
selama 6 bulan itu. Bagaimanapun resto harus berusaha keras buat mencari
chef-kok yang sebenarnya. Dalam pada itu kami mengundang seorang yang
benar-benar chef-kok, dari Holland. Namanya Parmin, dia ini bekerja di Hotel
Mariyotte, hotel berbintang. Dan Parmin pernah mendapat kejuaraan nomor dua
dalam perlombaan-masak Internasional di Holland. Kami mengundang Parmin
selama satu bulan. Sebenarnya kami menghendakinya lebih lama lagi. Tetapi karena
Parmin ketika itu sedang berlibur, sedangkan dia dalam status bekerja, maka
kehendak memperlama Parmin tak mungkin. Lebih dari alasan itu, seorang
chef-kok seperti Parmin untuk sementara kami belum mampu menggajinya, sebab
seharusnya sangat mahal. Karena Parmin juga tahu, bahwa resto ini
baru, sedangkan semua pekerja dan pegawainya samasekali belum ada
pengalaman, maka Parmin sebenarnya banyak menyumbangkan, mendermakan
tenaganya, pikiran dan ajarannya.
Kami sangat berterimakasih kepada Parmin yang si kumis centil itu, yang bila
tersenyum menggoda, para cewek Perancis tak mau lekas-lekas pulang dari
resto kami. Dan kami "anak-anak buah" Parmin sering dibentak dengan
kata-kata, "sudah dikerjakan apa yang saya suruh tadi?! Harus selesai dan
persis seperti apa yang saya ajarkan ya, awas saya kontrol nanti". Kata-kata
ini sangat membekas pada kami hingga kini walaupun sudah hampir 17
tahun, yaitu "awas saya kontrol nanti ya!" Ini kami ucapkan sesama teman
kami dengan rasa gurauan. Dan bagaimanapun "kerasnya ajaran" Parmin kepada
kami, sangat kami sadari bahwa dia benar-benar mengajarkan ilmu masaknya
kepada kami. Dan kami sayang serta hormat kepada Parmin, dan kami kira dia
tahu semua itu.
Sebelum aku dipindahkan kepekerjaan di sal dan di
administrasi-keuangan, pernah terjadi musibah padaku. Begitu capeknya
bekerja di dapur, yang setiap hari harus memasak belasan macam jenis
masakan, di dapur yang panas, tegang dan sangat melelahkan itu, terasa badan
tak kuat lagi. Keringat dingin dan pucat, lalu terasa kepala pusing
berbintang-bintang, dan badan terasa ringan dan oleng dan lalu bluk - bluk
terjatuh. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi dan kurasakan. Tahu-tahu aku
sudah dibawa dengan ambulance ke hospital. Katanya darahku 210/130. Sebelum
itu aku memang mengidap darah-tinggi.
Aku jatuh pingsan, lalu di bawa teman-teman ke hospital. Dan aku mendapat
"tugas libur-sakit" selama dua minggu, arret-travailler. Hampir saja lewat
tanpa bekas, hilang dari peredaran dunia. Semua itu sebenarnya karena belum
menguasai pekerjaan, dan belum bisa menguasai cara-kerja. Tetapi ada
hikmahnya, bahwa dari kejadian itu agar dirikita selalu berhati-hati dan
harus selalu memperhatikan keadaan kongkrit badan dan kesehatan kita dengan
lingkungan pekerjaan kita. Hanya selalu saja kita terlupa kalau sudah
keasikan dengan kerja yang harus diselesaikan.
Paris 25 Maret 1999
Bab 9 :
Warna - warni Resto
Pada akhirnya sesudah dengan sedikit bersusah-payah dan makan-waktu, kami
mendapatkan seorang chef-kok yang mau dan bersedia bekerja di resto kami.
Namanya Cong, seorang pemuda. Dia dulunya memang pernah bekerja sebagai koki
di berbagai resto di Holland, lalu di Jerman di Restaurant Bali di
Köln, Cologne sebutan Perancisnya. Setelah melalui perundingan yang
bersahabat, kami diperkenankan merekrut Cong dan bekerja sebagai pekerja
salaire(yang bergaji-tetap) dengan pangkat chef-kok. Sudah tentu gaji Cong
paling besar dari semua kami, tetapi besarnya itu tetap masih bisa diterima
semua teman, dan masih wajar-wajar saja.
Cong adalah seorang muda yang berwatak keras, mudah terbakar, suka
maki-maki, agak kasar, tetapi selalu terusterang dan jujur. Sangat
bertanggungjawab atas pekerjaannya, dan cepat kerjanya. Tak seorangpun di
antara kami yang bisa disejajarkan dengan Cong kalau bekerja di
dapur. Sekali kerja, dia bisa menyelesaikan banyak masakan, dan dia seorang
pembersih. Dapur selalu bersih kalau ada Cong, dan ini sangat penting.
Kekuranga yang sangat menonjol pada Cong yalah karena dia suka marah-marah
dan maki-maki, dan agak kasar. Tadinya kami belum terbiasa dengan cara dan
watak Cong. Terasa ada dua dunia yang sangat berlainan, perwatakan kami pada
umumnya dan perwatakan Cong yang memang dari dunia yang samasekali berbeda
dengan kami. Semula memang sangat sukar menghadapi Cong ini. Sering
bentrokan, bertengkar, dan terkadang memanas. Bukan sekali dua, pernah hampir
terjadi hal-hal yang tak dikehendaki, seperti merencanakan perkelahian dan
lain sebagainya. Tetapi kami selalu memikirkan matang-matang sebelum
berbuat, dan pada akhirnya kami bisa meredam perasaan demi kelanjutan usaha
kami bersama ini. Dan lama-lama kami bisa menerima perwatakan Cong yang
sebenarnya sangat asing di
kalangan kami. Terkadang kami bisa bergaul rapat dengan Cong, dan terkadang
Cong cukup menyenangkan. Karena saling dekat secara wajar dan lama hidup
dan bekerjasama begini, antara kami bisa saling membuka
pikiran-hidup, terutama Cong bisa bercerita banyak mengenai hal-hal yang
agak pribadinya.
Masakan Cong cukup enak. Kecepatan kerjanya kami puji, dan kebersihannya tak
ada yang menandinginya di antara kami. Dan komunikasi, pergaulan Cong dengan
masarakat-luar sangat baik. Yang kumaksudkan sangat baik itu, dia amat
pandai bergaul, peregaulannya luas. Walaupun bahasa Perancisnya agak
tersendat-sendat, tetapi dia berani berbicara, berani ngomong, tak takut
salah, berusaha agar orang lain mengerti, sehingga lama-lama dia terlatih dan
pada akhirnya bisa mengikuti pergaulan luas. Ini modal yang sangat baik buat
seseorang yang mau bergaul luas dan mau cepat bisa berbahasa.
Cong sebenarnya masak jenis makanan apapun bisa. Tetapi lama kelamaan dia
mendapati dirinya dan menemukan dirinya setelah bertahun-tahun hidup di
Paris, bahwa dia sebenarnya sangat suka akan photographi. Semula memang
hanya hobbynya, tetapi lama kelamaan menjadi kegemaran yang menggebu-gebu.
Uang gajinya boleh dikatakan habis karena membeli kamera, dan kameranya ini
sangat canggih. Pernah dia punya tiga kamera yang baik, tetapi satu tercuri
karena kurang hati-hati. Dan selera membeli kameranya tetap menggebu. Orang
yang datang ke resto kami yang profesinya photographer
sangat ngiler melihat aparat kamera Cong.
Setiap hari sesudah kerja di dapur, Cong dengan kameranya menjalani Paris.
Mencari obyek sasaran kamera buat diabadikan. Beberapa fotonya pernah masuk
koran, dimuat di majalah di Paris. Dan bahkan pernah dimuat di beberapa
majalah di Jakarta. Kukatakan padanya bahwa simpan baik-baik itu hasil
jepretanmu, suatu kali malah bisa dijadikan bukti bahwa kau adalah seorang
photographer yang baik. Pernah Cong secara diam-diam dan mencuri beberapa
top-foto-model di Paris. Antaranya Claudia Shiffer dan Cindy
Crawfurd, wanita cantik fotomodel-top kelas dunia, ketika mereka
berpameran-model pakaian di Paris. Dua orang berkebangsaan Jerman dan AS
itu sangat mendapat sambutan di Paris, dan Cong punya hasil jepretannya
sendiri. Tentu saja Cong merasa bangga dan kamipun merasa senang dia dapat
mengembangkan hobbynya dan beruntung dapat sasaran kakapnya.
Kerja di resto sangat melelahkan. Kalau seorang anak muda yang masih
berumur duapuluhan, tigapuluhan
mengatakan capek kerja di resto, maka kami yang sudah berumur kepala lima
bahkan ada yang berkepala enam ini, sangat wajar kalau sering-sering
keletihan dan lelah yang amat sangat.
Suatu kali aku kebagian urusan mengangkat botol minuman dari lantai dasar
ke bawah, ke cave, gudang bawah-tanah. Banyaknya 32 kas. Setiap kasnya berisi
12 botol, ada yang 8 botol tetapi botol besar. Minuman ini ada yang
anggur, ada yang soft-drink, minuman ringan. Kalau hanya belasan kas, adalah
biasa, tidak terlalu banyak. Tetapi ini sekaligus datang sejumlah puluhan
kas. Kas-kas itu pada mulanya bisa diangkat karena tenaga kita masih ada.
Tetapi kalau sudah capek, lalu didorong saja pelan-pelan dan hati-hati.
Karena memburu jam-kerja, maka pekerjaan ini harus selesai dan cepat pada
waktunya. Sebab tak lama lagi akan datang jam-service, menerima
pelanggan, berarti sudah jualan.
Pengalaman mengajarkan, kalau mau memburu waktu tak begitu terasa capeknya.
Tetapi begitu selesai bekerja, lalu pinggang sakit dan tahu-tahu saja tak
bisa jalan. Jalannya bongkok, dan pinggang sakitnya kagak ketulungan kata
orang Jakarta. Untuk keduakalinya aku mengalami harus istirahat karena
sakit, arret travailler, selama 10 hari. Hanya yang kedua ini tidak
pingsan, tetapi tak bisa jalan. Pulangpun harus dengan taksi. Dan setiap hari
mendapat suntikan selama seminggu. Perawatnya datang ke rumahku setiap
pagi. Bukan main melelahkannya kerja di resto begini, tetapi lalu mau apa?!
Setelah resto kami berjalan lebih dari 6 bulan, di mana kami sudah dikenai
peraturan umum dan perundang-undangan umum, maka kami harus menyesuaikan
diri dengan segala peraturan tersebut. Ketika itu kami sudah memberikan gaji
secara SMIC, Salaire Minimum Interprofessionel Conventionne, gaji minimum
yang tak boleh kurang, dan kalau menyalahi peraturan itu akan
didenda, mendapat hukuman, dan bahkan bisa-bisa resto harus tutup-total.
Kalau tak salah ketika itu gaji Smic seharga 23 francs satu jam. Sejak
resto kami berdiri, sampai kini, kami tak pernah menggaji pegawai kami lebih
rendah dari Smic. Dan ini memang keharusan, undang-undang perburuhan yang
tidak boleh dilanggar. Ada saja resto lain yang melanggar atau berani
melanggarnya, tetapi kami berpendapat sebaiknya janganlah kami. Smic, gaji
minimum memang setiap tahun naik, tetapi hanya beberapaa persen saja, hanya
beberapa ketip, puluhan sen saja, atau paling banyak hanya satu dua francs
saja. Hingga tahun ini, 1999, smic sekitar 40 sampai dengan 41 francs satu
jam-kerja, dan itulah gaji kami setiap orangnya.
Sebenarnya smic, gaji minimum ini kalau kita bisa mengatur, dan hemat, hidup
tak berlebihan, pasti akan bisa hidup yang juga minimum. Buktinya kami yang
belasan tahun bekerja di resto ini, yang bergaji smic, sejak kami mendapatkan
paspor Perancis, setiap tahun bisa ke Indonesia, ini contoh konkritnya. Dan
lagi sejak kami hidup punya gaji seperti orang-orang normal itu, tidak
sedikit pegawai - pekerja kami yang punya mobil, kendaraan pribadi.
Dan agak aneh atau kebiasaan "para melayu" ini, kalau makanpun sangat
sederhana. Orang Perancis kalau makan didahului aperitifnya, lalu
antreenya, lalu plat-nya, lalu akan mengakhirinya dengan dessert, lalu bisa
kopi bisa digestif. Banyak cengkune-peraturan dan kebiasaannya. Tapi kami
"para melayu" ini yang juga kami sebut "para kurawa" ini, kalau makan ya
makan saja, abis perkara. Dan makanpun karena sudah bosan makan yang itu-itu
saja, lalu betapa enaknya kalau makan buntut, kaki, kepala, jeroan, yang buat
orang bule hanya sering diberikan kepada binatang peliharaannya. Dan akan
merasa bukan main mewahnya kalau kami dapat makanan goreng-tempe, ikan teri.
Seseorang teman begitu datang dari Holland, bukan menanyakan apa
kabar, bagaimana di sana, ketemu siapa, tetapi menanyakan bawa tempe nggak?!
Kami banyak mendapat kritikan dari mana-mana, teman kami sendiri yang hidup
di Eropa lainnya. Mereka mengatakan kami ini sudah merosot semangat
juangnya, hanya semata-mata cari hidup saja. Pikiran hanya ke soal-soal
hidup dan perut saja. Tidak memperhatikan kehidupan kolektif lainnya, tidak
turut aktif membantu teman-teman di tanahair. Kritikan begini tentu saja
kami perhatikan dan harus periksa diri juga. Tetapi juga berilah kami
kesempatan untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, yang mungkin
syarat-syaratnya lain dengan negara Eropa lainnya. Kami ketika itu belum
seorangpun yang berwarganegara Perancis. Artinya kami harus menuruti
peraturan dan perjanjian yang dulu pernah kami tandatangani ketika minta
perlindungan pada pemerintah Perancis menjadi orang asilan, perlindungan
politik. Bahwa tidak akan aktif berpolitik kongkrit, praktis. Seseorang
teman mau aktif berpolitik praktis, bisa-bisa saja tetapi jangan di
resto, harus di luar resto, itulah pedoman kami.
Dan rasanya dan kiranya tidak tepat kalau mengatakan kami hanya tenggelam
dalam kehidupan semata-mata cari makan, dan cari hidup saja. Bahwa apakah
kami turut membantu teman-teman yang sedang susah di tanahair, apakah kami
hanya berdiam-diri saja dengan hirukpikuknya perjuangan yang sedang
hangat-hangatnya, adalah tidak pada tempatnya kalau kami cerita ke mana-mana
bahwa kami sudah mengerjakan ini itu, dan itu adalah hasil kerja kami.
Rasanya tidak etis, dan ya nggak enaklah! Mungkin ada baiknya nanti
kuceritakan sekedar cerita biasa, yang manusiawi, yang sangat normal bukan
bersifat politik-tinggi. Mungkin akan lebih menarik.
Paris 26 Maret 1999
Bab 10 :
Warna - warni Resto
Sesuai dengan nama resto kami FRATERNITE, persaudaraan, maka kami telah
menerima dan mempekerjakan berbagai warganegara dan bangsa. Ada beberapa
societe yang mengirimkan calon atau pegawai-pekerjanya untuk stage - magang
-upgrading di resto kami. Dan kami menerimanya buat bekerja denga jangka
waktu sekian bulan. Kebanyakannya buat tiga sampai empat bulan. Mereka tidak
mendapatkan gaji dari kami, tetapi sesudah jangka waktu yang disepakati
bersama, kami memberikan surat-tanda sudah pernah bekerja di resto kami
sebagai serveur, pramulayan. Kami menanggung makan minum dan sekedar
uang-saku sesudah stage-nya selesai.
Mereka yang pernah kami terima bekerja untuk magang itu terdiri dari
beberapa bangsa dan warganegara-, misalnya dari
Spanyol, Madagaskar, Malaysia, Perancis, Vietnam, Singapura, Belanda, Jerman dan
beberapa lagi. Sudah tentu mereka secara bergiliran, bukannya serentak. Ada
juga beberapa teman yang jauh sebelumnya sudah "pesan tempat" mau bekerja
kalau sekiranya ada lowongan pada musimpanas nanti. Juga dari beberapa
negara dan bangsa, seperti dari Holland, Jerman, Swedia, Kuba. Kalau yang jenis
ini kami beri salaire resmi, artinya sama dengan kami berdasarkan
smic, salaire minimum. Kami sendiri berpegang pada pedoman, kalau memang ada
lowongan, ada peluang, tentu akan kami berikan kesempatan tersebut.
Ada permintaan dan harapan dari sementara teman, apakah kami bisa
membantunya untuk bekerja di resto kami barangkan sekian bulan. Sebab dia
ingin mendapatkan uang buat membeli tiket pesawat dari Jakarta ke Holland
pp, buat mendatangkan ibunya yang sudah tua dan sangat ingin bertemu
anaknya. Sesudah kami rundingkan antara kami yang sudah tentu dengan
memperhatikan dan mempertimbangkan keseluruhan, maka permintaan dan
harapannya kami penuhi. Teman itu bekerja sekian bulan. Dan seperti
harapannya, uang gajinya itu benar-benar ditabung sebaik-baiknya, dan diapun
membeli tiket pesawat dan dikirimkan kepada ibunya di Jakarta. Ibu dan anak
tersebut bertemulah di Holland. Mereka sangat merasa senang dan
bahagia, barangkali mereka tidak begitu mengira bahwa kami lebih-lebih
merasa bahagia karena dapat membantu mempertemukan kerinduan antara anak
dan ibu.
Seorang pemuda yang berwarganegara Rusia, keturunan Indonesia, ayahnya
Indonesia dan ibunya orang Rusia, masih bertalian keluarga dengan teman
kami, datang ke Paris dengan ibunya. Melihat keadaan kami di resto lalu
tertarik dan "berpesan" agar pada suatu waktu, musimpanas misalnya dia
sangat ingin bekerja di resto kami. Ingin mendapatkan sejumlah uang buat
rencana membuka usaha di Moskow. Kami tidak menjanjikan, tetapi kalau memang
ada lowongan dan peluang, sudah tentu akan kami perhatikan. Hal begini tidak
mudah menjawabnya dengan ya atau tidak. Sebab cukup banyak menyangkut
hal-hal yang sifatnya harus diperhatikan dari berbagai sudut, jangan sampai
seakan mendesak "hak-hak teman lain", atau seakan-akan menyabot, menyerobot
hak-hak orang lain. Semua perasaan yang ada dan bisa timbul sewaktu-waktu
harus benar-benar kami perhatikan.

Teman itu bernama Andre, seorang pemuda yang berwajah kecoklatan. Yang kalau
ada orang Indonesia seperti kami, tentulah tanpa basa-basi akan langsung
ngomong dalam bahasa Indonesia. Padahal Andre hanya mengerti bahasa Rusia
dan Inggris. Andre sangat cekatan dalam bekerja, tangkas, lincah. Sangat
mudah membantu teman dan orang lain. Dan dia banyak tahu dan mengerti
soal-soal teknis. Misalnya tahu soal-soal listrik, mesin mobil, bahkan
mesintik. Suatu waktu aku minta tolong perbaiki mesintik yang macet tak
dapat jalan, buntu. Andre datang ke rumah. Tapi aku merasa heran, kenapa dia
tidak membawa apa-apa, tidak alat apapun yang dibawanya, bagaimana dia mau
bekerja memperbaiki mesintikku. Mana mesintiknya, katanya. Belum tentu
rusak, Oom saja barangkali yang panikan, katanya seolah mengejekku. Dan
kubawalah mesintik itu kehadapannya. Lalu dia lihat, dia raba, dia
goncang, dia kutakkatik. Ambil obeng, katanya. Tak ada obeng, tolong bawakan
pisau-roti, katanya. Dan kuturuti "perintahnya". Tak sampai 10
menit, mesintikku jalan lagi, baik dan lancar. Itu kan, apa kata saya, Oom saja
yang ketakutan, baru segitu saja macetnya, katanya sambil senyum meledekku.
Andre banyak disukai teman-teman kami. Kalau dia sedang melayani tamu, tidak
sedikit cewek bule meli-
hat dan meliriknya. Dia banyak ditaksir pelanggan-muda kami dari berbagai
kantor dan perusahaan sekitar resto yang selalu makan-siang di resto kami.
Sesudah lebih 6 bulan Andre bekerja, dia menyatakan rencananya mau pulang ke
Moskow. Kami tanyakan, apakah pulang dengan pesawat atau dengan kereta-api.
Jawabannya benar-benar sangat mengagetkan kami. Tadinya kami samasekali tak
percaya. "Saya mau pulang dengan mobil. Saya sudah beli mobil Mecedes Benz
bekas, second-hand tapi sudah saya utak-atik, dan kuat buat jalan ke Moskow".
"Kamu jangan gila, Andre. Apa kau sudah perhitungkan benar antara Paris -
Moskow itu, begitu jauh dan kau hanya sendirian lagi".
"Percayalah Oom. Setiap hari saya akan menilpun ke Paris, di tempat mana saya
berada. Dan saya percaya bahwa saya akan sampai dengan selamat. Ibu di
Moskow sudah saya kasitahu, dan ibu sudah setuju".
Kami semua hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak muda-Indo ini benar-benar
bersemangat tinggi, mengemban cita-cita. Kami kira mobil merci-nya itu
pastilah akan dijualnya nanti di Moskow dan dia membuka suatu usaha dengan
modal sebuah merci itu. Kami renungkan sesudah Andre pulang ke Moskow dan
sesudah kami bekali secukupnya dengan dana alakadarnya, karena pastilah
gajinya selama berbulan-bulan itu dihabiskannya buat memiliki Mercedes Benz
S 300, bekas tapi masih 80 persen katanya.
Tak sampai 8 bulan, Andre telah mendapatkan dua bahasa. Dia sudah bisa
berbahasa Indonesia dan bahasa Perancis, lalu mendapatkan mobil dan yang
juga cukup penting, kenalan ceweknya di Paris! Setelah dua minggu dan
melalui beberapa negara, kami menerima tilpun dari Moskow, bahwa Andre sampai
dan selamat datang di Moskow. Dan kami mengurut dada, ada-ada saja pemuda
Indo satu itu.
Resto kami berusaha menegakkan peraturan dan disiplin terhadap kami
sendiri. Tetapi sering-sering juga kami gagal dalam menegakkannya. Kalau
gagal biasanya kami akan "berlindung" dengan kata-kata, "kita ini kan
bukannya orang dagang, tak ada bakat dagang pada kita". Pemaafan pada
dirisendiri ini sebenarnya harus kami kikis, disiplin ya disiplin, tak ada
maaf-memaafkan dalam menegakkan disiplin. Pada kenyataannya selalu ada saja
yang masih bisa bersifat tawar-menawar. Misalnya begini. Ada empat orang
tamu, memesan makanan, yang tiga orang punya hak mendapatkan semangkuk
sup, yang seorangnya lagi tak punya hak tersebut, karena pesanannya lain.
Kami akan tetap memberinya semangkuk sup juga, sehingga semuanya 4 mangkuk
sup. Kata kami "nggak enak masaksih yang satunya nganggur, biar mereka
berempat minum sup sama-sama saja, lagian apa sih harganya hanya semangkuk
sup".
Kalau kami makan di resto kami sendiri, tetapi sedang tidak dalam keadaan
dinas, sedang libur, kami harus bayar. Ketika itu harga sekali makan, makan
apa saja, seharga 15 francs, ini namanya harga-dalam. Kini sudah naik menjadi
25 francs. Sebenarnya harga begini masih tetap murah, sebab kalau di luar
tidak mungkin dapat demikian murahnya. Kalau kami membawa teman atau
mengundang teman, kami dapat potongan antara 10 sampai dengan 30 persen.
Peraturan begini tadinya, pada mulanya sangat sulit ditegakkan. Tetapi lama
kelamaan bisa juga walaupun adakalanya tetap saja tersendat-sendat.
Kami dan teman-teman kami pada umumnya bukan lagi orang muda, tak dapat
dikatakan muda lagi. Umur sudah berkepala empat, lima, bahkan enam. Tapi
kalau soal yang itu sih, tetap saja masih semarak. Misalnya saja kalau ada
pelanggan yang kami kenal, dan pelanggan itu ternyata begitu cantiknya, dan
janda-muda lagi, seorang janda ditinggal mati suaminya yang orang Indonesia.
Wanita ini katakan saja namanya Madame Purbo. Madame ini memang amat
cantiknya, bibirnya selalu basah, dan kalau ngomong sangat ramah, ke dekat
wajah kita.
Kalau Madame ini datang, dan teman yang berdinas di depan, di sal mengabarkan
bahwa Madame Purbo datang makan-malam, maka teman-teman didapur pada
melongok ke luar, membuka sedikit tabir atau gordin-dapur. Tak disadari, dari
jauh, dari ruangan sal depan, kelihatan beberapa pasang kaki teman-teman
dapur pada berbaris, berdesakan seperti orang antri, hanya untuk melihat
Madame Purbo yang bibirnya selalu merah-menyala dan basah itu. Teman-teman
yang berdinas di sal pada ketawa, dan sedikit membentak teman-teman dapur
agar jangan memalukan begitu rupa.
Yah, namanya juga manusia biasalah, seperti halnya siapa saja, tak terkecuali
diriku sendiri.
Paris 27 Maret 1999
Bab 11 :
Ujian Kecil
Hari itu aku dinas pagi atau siang. Seharusnya masuk pada jam 10.00 sampai
dengan sesudah service siang, biasanya sesudah jam 16.00. Tapi aku selalu
mengambil kebijaksanaan lebih baik masuk jauh lebih awal, agar bekerja tidak
diburu-buru. Biar pelan tapi mendekati baik, kalau bisa apik.
Kerja pertama haruslah menyapu ruangan sal, depan dan bawah, sesudah itu
barulah dipel. Walaupun kami hidup di Paris, jangan mengira pekerjaan kami
itu dilakukan serba mekanis, dengan mesin canggih, samasekali tidak. Malah
mungkin sangat kuno. Kami menyapu ya dengan sapu biasa, seperti rumah di
kampung di Jakarta itu. Kami mengepel ya dengan kain pel biasa itu, seperti
di kampung.
Sedang asik menyapu di bawah-bawah meja dan kursi, terlihat sebuah gundukan
membulat agak tebal dan besar. Kudekati. Ternyata sebuah dompet tebal besar.
Dompet uang, tapi tebal amat. Heran juga, kenapa client, pelanggan tidak
sekali ini selalu lupa. Mungkin terjatuh, lalu lupa dan dianggap hilang saja
entah di mana. Dulu lupa paspor, atau tas besar, atau mantel, atau syal, dan
yang paling sering, lupa payung.
Kubuka dompet itu. Penuh uang, setelah kuhitung lebih 2000 francs. Lalu
kartu kredit dari berbagai bank, tidak kurang dari 3 bank. Lalu
kertas-kertas lainnya. Nah, pikiranku mulai "main", kataku dalam hati, akh
sayang, kenapa tidak menemukan benda berharga seperti ini di jalanan
saja, bukannya di resto begini! Kalau di resto begini, harus
dikembalikan, harus diserahkan pada yang punya! Kalau di jalanan biasa, masih
bisa berulah curang, kalaupun mau dikembalikan ya yang lainnya saja, bukan
uangnya.

Lalu kuperiksa lagi dengan teliti. Nama pemilik adalah Tuan Smith, mungkin
orang Belanda. Bagaimanapun dompet yang begitu banyak uang dan kartu kredit
yang sangat berharga itu harus kembali pada yang punya. Tokh ada nomor
tilpunnya. Tapi walaupun samar-samar, rada-rada menyelinap, nyelempit dalam
kegelapan-hati, masih saja ada pikiran, ya, kok dapat beginian tergolek di
dalam resto kepunyaan sendiri pula! Kenapa tidak menemukan beginian di
tengah jalanan sepi, dan di tempat yang terbuka, misalnya di lapangan bekas
yang tadinya ada keramaian, perayaan, pesta besar. Dan, ini yang
penting, rupanya hati dan nuraniku ini belumlah bersih benar! Masih ada dan
masih punya kekotoran jiwa dan hati. Kenapa mesti bertanya pada diri
sendiri, bagaikan menyesalkan kejadian itu, kenapa kok nemu uang di dalam
resto sendiri. Lalu seandainya di jalanan, mau diambil? Mau dipunyai
sendiri, dengan dalih nemu?! Sampai ke
pertanyaan ini, aku belum tahu jawabnya. Yang bisa kujawab, yalah, ternyata aku
ini masih belum bersih, jauh daripada orang suci.
Ketika sedang asik berpikir begitu selama bekerja membersihkan
sal, terdengar deringan tilpun. Belum jam 10.00.
"Hallo, ya, ya, saya tadi malam dengan suami saya, makan di resto Anda dan
duduk di depan bar. Saya kehilangan dompet uang dan seberkas surat-surat
penting yang hanya berguna bagi saya. Apakah Anda
menemukannya?", kata suara seorang wanita di seberang sana.
"Maaf, siapa nama Anda?"
"Saya nyonya Smith, atas nama Smith".
"Ya, benar, saya menemukannya............"
Belum lagai selesai pembicaraan, dia sudah memotong.
"Akh, baguslah, bagaimana kalau saya datang mengambilnya dalam satu jam
lagi?"
"Baik, tidak ada masalah, saya sudah siapkan"; kataku.
Terdengar suaranya yang gembira dan puas. Dia menyatakan terimakasih
berkali-kali dan memuji, Anda sangat baik, sangat baik, resto Anda memang
bukan resto biasa, baik sekali, katanya. Kataku dalam hati, nah, lho, biar
nyahok, kok ada pikiran yang bukan-bukan sih! Kata-kata ini kutujukan pada
diri sendiri.
Di Perancis khususnya Paris, sangat jarang orang mengantongi uang demikian
banyaknya. Orang Paris biasanya selalu menggunakan kartu kredit, atau
cek, tapi sangat jarang yang membawa uang sampai ribuan francs. Transaksi
apapun bila melebihi ratusan francs, selalu menggunakan kk tadi, atau cek.
Kalau makan di resto, biasanya pakai TR, ticket-restaurant atau
sejenisnya, bukan dengan uang likid. Jadi Tuan Smith dengan ketinggalan uang
begitu banyak dalam dompet tebal itu, tentulah akan ada transaksi yang
membutuhkan uang yang banyak jumlahnya. Tetapi mungkin juga karena mereka
orang Belanda. Sebab di Holland, belum sepopuler Perancis dalam menggunakan
KK, cek dan TR. Di Holland penggunaan uang likid masih sangat luas bila
dibandingakn dengan Perancis.
Maka seperti yang dijanjikan Madame Smith, dia datang bersama suaminya buat
mengambil dompetnya yang kelupaan itu. Kukatakan agar diperiksa kembali dan
dikontrol lagi. Dibukanya satu persatu dan dihitungnya. Dia tertawa gembira
dan terus berkali-kali menyatakan rasa terimakasihnya. Dan dengan
menyerahkan 100 francs buatku dengan berkali-kali, terimalah rasa
terimakasih kami buat Anda dan resto Anda. Kulihat wajah suami-istri itu
yang dengan kegembiraannya karena telah menemukan benda berharga yang
mungkin saja dianggapnya benar-benar bisa hilang entah di mana.
Kemudian suami-istri Smith hampir setiap bulan datang makan di resto kami.
Ketika kami berikan daftar makanan, kartu menu, dia dengan senyum puas
mengatakan :
"Akh, sudah biasa. Kalau makan di sini, tidak lain, nasi goreng, sate
ayam, rendang dan telormatasapi", katanya.
Dan memang kami perhatikan, setiap datang, hanya itu itu saja kegemarannya.
Dan keluarga Smith yang orang Belanda ini selalu berbicara Bahasa Belanda
dengan kami, khususnya denganku. Padahal modalku berbahasa Belanda cuma
cepengen saja.
Dan ketika suatu kali keluarga Smith datang lagi seperti biasa dengan
pesanan biasanya, tiba-tiba saja mereka minta pesanan lain.
"Sekali ini kami minta gado-gado Jakarta", katanya.
"Masih ingat Anda, sepuluh tahun yang lalu, ketika kami kehilangan dompet
uang itu?", katanya.
"Sepuluh tahun yang lalu?", kataku hampir tak percaya.
"Ya, benar. Sepuluh tahun, pada bulan begini juga".
"Jadi sekeluarga Anda sudah sepuluh tahun menjadi pelanggan kami kalau
begitu", kataku.
"Persis", katanya lagi. Dan aku berpikir, apa baiknya buat "menyambut"
peringatan sepuluh tahun menjadi pelanggan kami ini.
"Anda suka atau bisa minum arak?".
"Saya tahu arak, itu alkohol dari beras biasanya, di Indonesia pernah saya
minum arak".
"Bagaimana kalau kita minum bersama?".
"Silahkan, silahkan dengan senang hati".
Dan kuambil tiga seloki arak, kubagikan kepada suami istri Smith. Kami minum
secara toast, saling mendentingkan gelas seloki. Dan kami bersalaman erat
sekali.
Ketika keluarga Smith minta diri, kuantarkan jauh sampai pintu ke luar dan
sampai menuju mobilnya. Dan aku kembali ke ruangan sal. Masih sempat aku
berpikir, alangkah setianya keluarga suami-istri itu. Sepuluh tahun menjadi
pelanggan kami, dan ternyata mereka menghitung lamanya jarak waktu, sedangkan
kami tidak. Apa artinya ini? Tetap pekerjaan kami belum sempurna! Dan yang
paling penting lagi, cobalah aku introspeksi, periksa diri, masihkah punya
pikiran seperti dulu itu?! Merasa sayang kalau menemukan barang berharga di
resto sendiri, dan seperti ada penyesalan mengapa tidak menemukan barang
atau uang di jalanan umum. Jangan-jangan, kata hatiku di dalam sana, karena
masih ada kejujuran itulah, makanya keluarga Smith bersedia dan mau bersetia
menjadi pelanggan yang baik. Cobalah kalau kami atau aku punya pikiran yang
jelek dan lalu dilaksanakan, jangan harap dan tidak mungkin keluarga Smith
mau dan bersedia menjadi pelanggan begitu setia. Kukira, dan
jangan-jangan, peristiwa dulu itu hanyalah cobaan dan ujian kecil saja dalam
kehidupan yang begitu luas ini, yang begitu banyak selukbeluknya.
Paris 8 Maret 1999
Bab 12 :
Beberapa Pengalaman Kecil

Mula-mula kerja mengelola resto, pekerjaanku sebagi tukang-masak, koki. Ini
hanya sementra belum ada koki yang betul-betul koki. Kata kearifan lama, tak
ada rotan akarpun berguna. Kira-kira aku itu dulunya sebagai akar buruklah.
Lalu lama-lama datanglah seorang teman yang benar-benar bisa masak, dan
punya ijazah perhotelan bagian masak-memasak. Dan aku lalu pindah ke bagian
sal, bagian service, melayani pelanggan, tetapi sambil memegang pekerjaan
bagian administrasi-keuangan. Lama-lama pekerjaan pokok lalu "menetap" ke
bagian ini. Karena tadinya kami itu bercita-cita setiap teman sebaiknya bisa
dan cukup menguasai bagian keseluruhan resto, maka pekerjaanku menjadi
semacam joker dalam permainan kartu. Kalau benar-benar tak ada tenaga di
bagian dapur, maka harus bisa digantikan. Atau pada bagian bar, melayani
minuman. Lalu pekerjaanku akhirnya di mana saja apabila dibutuhkan.
Bisa sebagai barman, koki, pelayanan-service, urusan kantor-mengantor-bank dan
lain-lain. Karena aku pernah mengalami semua pekerjaan itu, maka dapat
kusimpulkan. Di bagian manakah pekerjaan yang paling sulit dan berat?
Ketika kukatakan di bagian tertentu itu paling sulit, tentu saja ada teman
yang tidak terima. Sebab dia merasa di bagian pekerjaan dialah yang paling
sulit. Sayangnya teman itu tidak bekerja pada semua bagian.
Nah, pengalamanku, pekerjaan yang paling berat, sulit dan sangat melelahkan
yalah sebagai tukang-masak, koki. Karena itu adalah wajar kalau seorang
koki, kepala-koki atau koki yang betul-betul jempolan, maka gajinya paling
besar dari seluruh pegawai di resto itu. Juga kami mempraktekkan hal
ini. Dan tak seorangpun yang merasa iri atau cemburu melihat keadaan
ini, sebab memang demikianlah halnya. Koki, tukang-masak itu pekerjaannya
sangat berat. Dan jiwa sebuah resto, laris atau tidaknya sebuah resto, akan
berkembang atau akan bangkrutnya, terletak pada seni-masak, seni-rasa seorang
koki. Di Cina, seorang koki jempolan, dipilih dan diangkat menjadi anggota
MPR! Dan aku pernah menemui dan mewawancarai mereka itu.
Resto kami memang bukan termasuk resto besar, sedang-sedang saja. Juga
bukannya kecil. Sebab sebagai patokan umum, bila sebuah resto kurang dari
kapasitas 50 kursi (tempat-duduk), termasuk resto kecil. Bila kapasitas lebih
dari 50 sampai dengan seratus kursi, termasuk resto sedang. Dan bila lebih
dari seratus kursi, sudah termasuk resto besar. Dan ada resto yang
berkapasitas ratusan sampai ribuan kursi, dan sudah tentu resto itu sudah
meraksasa, bukannya hanya besar lagi.
Begitupun dalam masalah lisensi, izin-buka-resto. Ada beberapa
kategori, pada umumnya ada 4 kategori.
Bar, Bar-Resto, Resto-Bar, dan Resto. Kami termasuk Bar-Resto. Artinya, orang
tidak boleh hanya duduk minum di resto kami, harus makan lalu bisa saja
kalau mau minum berlama-lama. Ini peraturan. Kalau hanya mau minum tok, dan
berlama-lama ada bagiannya, yaitu di Bar yang khusus buat itu. Di Bar-Resto
bisa berlaku demikian. Pengalaman begini, banyak kami menolak kalau ada
orang hanya untuk minum saja, dan orang itu samasekali tidak marah atau
dongkol setelah kami jelaskan fungsi resto kami. Mereka lalu mengerti dan
memahaminya, karena pada umumnya semua orang dituntut atau seharusnya
mengerti peratutan yang ditetapkan pemerintah.
Karena resto kami berfungsi sebagai Resto-Bar, maka sudah tentu banyak jenis
minuman. Seorang bar-man harus mengerti dan menguasai cara
mencampur, membaurkan minuman, termasuk menciptakan jenis minuman, dan
melayani pelanggan yang banyak permintaannya yang macam-macam. Sehingga
terkadang kita tepekur, heran, karena tak pernah dan belum pernah mendengar
nama jenis minuman yang diucapkan pelanggan itu. Ada kalanya malah kita bisa
belajar dari seorang pelanggan tersebut, lalu kita dapat mengetahui satu
jenis minuman lagi.
Bar yang betul-betul bar, biasanya mereka mempunyai jenis minuman sejumah
300 lebih, termasuk semua minuman, termasuk semua jenis bir, termasuk
"bir-bintang" kita dari Indonesia! Sedangkan kami hanya punya semua jenis
minuman sejumah 80-an saja. Dapat dilihat, inilah perbandingan Resto-Bar
dan Bar tok!
Karena pekerjaan pokok di bagian adm-keuangan, maka aku diserahi tugas dan
bertanggungjawab atas keuangan likid, uang-kontan. Di Paris, umumnya di
Perancis, bila seseorang belanja lebih dari seratus francs, maka selalu akan
menggunakan kartu-kredit, atau cek. Kartu-kredit itu banyak sekali jenis dan
penerbitannya, misalnya visa, master-card, american-ekspres, diners-club, dan
lain-lain. Lalu berjenis TR, ticket-restaurant, cukup banyak. Ada dua kali
service setiap hari di resto kami. Dari jam 12.00 sampai dengan jam 14.30
dan dari Jam 19.00 sampai dengan jam 23.00.- Setiap akhir penutupan resto
hari itu, yang biasanya pada jam 23.30 dan terkadang sampai jam
01.00, keuangan resto harus dihitung buat seluruh hari itu, dua kali service
tadi, siang dan malam. Biasanya kalau seluruh pemasukannya katakanlah
sepuluh ribu francs, maka kalau ada 3000 francs saja uang likidnya, sudah
baik. Sebab lebih setengahnya bahkan sampai duapertiga harga(keuangan)
dibayar dengan kartu-kredit, TR dan lainnya, bukan dengan likid. Sedangkan
kami, aku, memerlukan uang likid ini. Mengapa? Karena harus menyiapkan
pembayaran gaji setiap bulannya kepada teman-teman pekerja di resto.
Pembayaran gaji ini biasanya adalah uang-gelap, artinya pembayaran karena
ada kelebihan jam-kerja karena overtime, operwerek dan karena memang kami
tidak men-deklare seluruh gaji pegawai. Kenapa? Karena harus
memperhitungkan pajak! Seharusnya semua di-deklare, diresmikan. Tetapi kalau
semua di-deklare, betapa mahalnya pajak yang kami harus bayar. Di pihak
lain, kerja-gelap dan pembayaran-gelap, sebenarnya dilarang! Tetapi Jawatan
Pajak dan Kementerian Perdagangan dengan aparatnya, semua juga tahu bahwa
setiap resto pastilah ada pekerja-gelap dan pembayan-gelapnya! Hanya tahu
sama tahulah, maksudnya sama-sama mengerti, tetapi jangan sampai
keterlaluanlah. Jangan salah sangka dengan tahu sama tahu tadi, samasekali
tidak ada jalan belakang, atau penyogokan!
Di mana berbahayanya? Bila sedang ada kontrol, inspeksi dari Jawatan Pajak
atau Bagian Kebersihan-Kota dan "horeca"(Hotel-Restaurant-Cafe) atau Bagian
Kesehatan Horeca ini, maka kalau ketahuan banyak
pekerja-gelapnya, pengumpulan uang-gelap, kita akan kena denda, dihadapkan ke
pengadilan, dan bahkan ada beberapa resto yang harus tutup-total!! Jangan
main-main dengan undang-undang dan peraturan! Kamipun pernah dihadapkan ke
pengadilan ini, tetapi masalahnya karena soal kebersihan. Karena ketika itu
kami belum punya lemari-khusus untuk pakaian-kerja, dan ada
kesalahan-kebersihan, semua barang makanan yang sudah dimasak tidak boleh
disatukan dengan yang masih mentah. Sebenarnya semua itu kami tahu. Tetapi
seperti yang kukatakan tadi, kami ketangkap basah!
Karena sang inspektur tiba-tiba saja nongol dan langsung masuk
resto, periksa semua bagian yang ada di resto. Dan memang beginilah
pekerjaannya, tidak akan mereka mengatakan bahwa pada tanggal sekian dan
hari sekian jam sekian mereka akan datang memeriksa.
Pemeriksaan-kontrol semacam ini selalu mendadak dan kita tidak tahu
ciri-cirinya dan hukumnya, bagaikan mereka itu kucing dan kita tikus. Mana
kucing akan buka rahasia kepada tikus bagaimana cara mereka menangkap tikus
dan kapan baiknya! Pekerjaan sang inspektur ini bila mereka "berhasil
menemukan banyak pelanggaran" maka tidak jarang resto itu akan
tutup-total, bangkrut karena kelalaian, kesalahannya sendiri. Maka
berhati-hatilah, selalulah menuruti peraturan dan undang-undang.
Sebuah contoh kecil saja. Karena kami merasa bosan mendengarkan lagu-lagu
yang itu-itu saja, karena tidak ada kaset lain yang bisa kami putar selain
dari lagu-lagu dan nyanyian Indonesia melulu, maka kami putar kaset yang
lagu Amerika Latin. Semua teman dan pendengar lain, sangat senang
mendengarnya. Irama riang-gembira. Rasanya kaki dan badan ini bergoyang
secara otomatis mengikuti lagu tersebut. Tiba-tiba seseorang datang kepada
kami, mengatakan apakah kalian tahu peraturan tentang restaurant specialite
seperti kalian punya ini? Restaurant specialite tidak boleh memutar dan
memperdengarkan lagu-lagu lain, selain lagu-lagu negeri itu, artinya harus
lagu Indonesia juga. Dan kami baru tahu bahwa memang dilarang memutar
lagu-lagu asing(selain lagu Indonsia) di sebuah resto specialite, artinya
resto-khusus, masakan Indonesia. Untung saja orang itu cukup baik, tidak
mengadukan kami ke pada yang berwewenang menangani masalah ini. Dan
pengalaman begini tidak hanya satu dua kali itu saja. Ternyata kami
betul-betul belajar dari nol-zero-tulen. Lama-kelamaan barulah kami tahu
dari praktek dan pengalamana kongkrit itu. Dan sepanjang perjalanan
kehidupan resto, jalin berjalin dengan pengalaman kehidupan kami.
Paris 9 Maret 1999
Bab 13 :
Kisah Sepucuk Pistol
Jarak resto - rumahku, kira-kira 15 km. Dua kali pindah metro(RER). Aku
tinggal di pinggiran kota Paris sebelah Timur. Perjalanan begitu turun dari
tangga rumah sampai tangga resto, kira-kira 45 sampai dengan 50 menit. Kalau
dinas malam, sampai di rumah menjelang jam 24.00 terkadang menjelang jam
01.00. Sebenarnya kalau soal pulang malam bukanlah persoalan benar. Tetapi
aku bepergian selalu dengan tas-sandang sejenis ransel. Dan isinya bermacam
keperluan pekerjaan, seperti clips, jepitan
surat, celotape, penghapus, karet, berjenis potlod, conte, gunting, buku dan
pembukuan resto dan, ini yang penting, uang! Uang ini adalah penghasilan
resto selama satu - dua atau tiga hari itu. Terkadang aku membawa uang
sampai 5000 francs. Uang ini buat disetorkan ke bank. Tetapi kalau tak
keburu waktu, karena bank sudah tutup, maka kubawa pulang. Kalau sudah lewat
pertengahan bulan, misalnya tanggal 17 setiap bulan, aku sudah mulai
mengumpulkannya buat keperluan membayar gaji teman-teman. Tidak boleh lagi
disetorkan ke bank, sebab uang buat keperluan itu paling sedikit harus
mencapai jumlah 30.000 francs, bahkan terkadang belum cukup. Sebab tergantung
berapa banyak jam-kerja seseorang pegawai dalam bulan itu. Setiap bulan
tidak selalu sama. Dan uang ini karena keperluan itu terpaksalah
mondar-mandir antara resto dan rumahku. Dan uang itu pada masa-masa
menjelang pembayaran gaji harus selalu dibawa, di dalam ranselku itu.

Kalau siang hari aku samasekali tidak merasa takut, tetapi tetap harus
waspada. Di Paris, pencopeten, rampok, jambret, dan tindak kekerasan tidak
kalah dengan Jakarta. Maka aku benar-benar harus waspada, harus selalu
berhati-hati. Kalau tasku ini dirampok, dijambret, dan aku ditodong, maka gaji
teman-teman tidak bisa dibayar. Dan aku tidak mungkin mampu
menggantinya. Jadi bagaimana? Isi dalam tas ini adalah jiwa kami bersama.
Jiwa bulan perbulan dari kehidupan kami. Dan pernah terjadi pada beberapa
teman kami yang kena rampok, kena jambret dan kena pukulan, dikeroyok ketika
pulang malam dari resto. Dan tasnya dirampas. "Untung" saja tak banyak
barang berharga, yang hilang berupa surat keterangan, KTP, atau
kartu-kredit. Tetapi tetap saja menyusahkan, karena harus berhubungan dengan
kantor-polisi buat melaporkannya dan mengurus penggantian yang baru. Ada
juga uang, tetapi tidak banyak. Sudah kuceritakan, mana ada kebiasaan orang
Paris membawa uang likid dalam jumlah banyak. Tetapi aku? Ini adalah uang
resto, dan uang kami bersama, uang gaji pendapatan hasil
kerjakeras, bantingtulang kami bersama. Dan kalau hilang, kalau
dijambret, dirampok? Mau apa aku?
Pertanyaan ini selalu bergalau dalam kepalaku. Dan hidupku ketika sedang
mondar-mandir membawa uang itu, selalu gelisah, tidak tenang, kuatir, dan
selalu harus hati-hati. Bila pulang malam hari, banyak menemui anak-anak
muda yang kelihatannya mencurigakan, selalu saja hati ini kuatir, gelisah dan
harus selalu siap. Sebenarnya siap itu sendiri akupun tak tahu, tak
jelas, akan bagaimana jadinya. Apakah aku akan melawan, akan
berteriak, membalas pukulan anak-anak muda yang kuat dan gagah itu? Inipun
belum jelas jawabannya. Tapi yang sudah pasti, orang jahat itu tentu saja
tidak akan begitu mudah merebut tas ini, dan aku tentu saja tidak akan
menyerahkan-diri dan menyerahkan tas itu. Artinya bagaimanapun tua dan
ringseknya tulang ini, ya, berlawanlah sedapatnya dulu.
Tetapi hal inipun bukannya gampang, dan mudah direka-reka. Orang jahat itu
tipu-daya dan gerak-tipunya tidak dapat diperhitungkan secara tepat.
Bukankah perkelahian dan peperangan itu adalah tumpuan gerak-pukul dalam
segala jurus tipuan demi melemahkan dan membasmi musuh?! Dan inipun masih
dalam teori di kertas. Sedangkan dalam kenyataannya samasekali tergantung
dari diri perorangan yang berperang dan bertempur, artinya juga dalam
perkelahian itu.
Selama aku menjabat penanggungjawab keuangan dan membawa uang ke mana-mana
itu, rasa kuatir, takut, cemas dan tidak tenang selalu membalut diriku. Kalau
kebetulan dalam tas memang sedang tidak membawa uang, ada rasa sedikit
tenang. Tetapi orang jahat tidak akan tahu apakah dalam tas itu sudah pasti
ada uang atau tidak ada uang. Jadi tetap saja harus berhati-hati, paling
tidak jangan sampai dipukul orang, jangan sampai dijambret orang, walaupun
jelas uangnya kebetulan tidak dibawa.
Setiap aku pulang malam, dan ada orang-orang yang patut dicurigai , apalagi
anak-anak muda yang tampangnya tampak beringasan, sangar, maka diri ini sudah
mulai curiga dan sudah pasang kuda-kuda. Kira-kira bagaimana cara
melawannya, cara mempertahankan tas ini, dan akhirnya sebuah perkelahian yang
tak seimbang, antara anak-anak muda yang kuat-gagah dengan orang tua yang
hampir pensiun.
Lama sekali aku berpikir tentang keamanan diri selama selalu membawa uang
ini. Ada beberapa teman yang sudah kena jambret, pukulan, dirampok. Dan
bukannya mustahil siapa tahu akan tiba juga giliranku
pada suatu kali. Akh, jangan sampailah! Sehingga tibalah pada satu keputusan
dalam hati. Aku harus menemui direktur kami, Pascal. Aku minta dipersenjatai
demi keamanan keuangan resto. Sungguh aku tidak merasa aman selalu membawa
uang begini. Aku minta dipersenjatai dengan sepucuk pistol demi menjaga
diri, dan demi menjaga keuangan resto.
Aku datang pada Pascal, dan kukemukakan pendapatku ini. Dia tertawa
terbahak-bahak mendengar penjelasanku ini.
"Akh kau ada saja Simon. Aku saja yang hidup di tengah ratusan kaum
imigrant di beberapa asrama itu, yang penghuninya selalu saja berkelahi, tokh
tidak memerlukan pistol".
"Ya, Anda masih muda dan kuat, dan banyak pembela dan pengawalnya. Saya?
Sudah tua, selalu sendiri dan selalu membawa uang. Dan uang ini uang semua
teman, uang resto. Sekali dirampok, habislah gaji satu bulan, darimana
mendapatkan penggantinya. Saya tidak sanggup mengganti, kan Anda tahu
sendiri, darimana sumber saya kalau tidak ada resto ini", kataku bertahan.
Dan banyak lagi kukemukakan pada Pascal, betapa aku memerlukan pistol itu
buat mempertahankan diri dan mempetahankan harta-benda resto yang selalu
kubawa-bawa.
Pascal tidak meng ya kan dan juga tidak membantah alasan-alasanku. Tetapi
kulihat dia juga banyak dan lama berpikir tentang alasan yang kukemukakan.
Dalam pada itu waktu terus saja berjalan, dan aku terus saja selalu gelisah
dan tidak tenang, terutama kalau menjelang pengumpulan uang buat persiapan
terima-gaji buat kami seluruh pegawai resto.
Suatu hari mendadak ada tilpun dari Pascal buatku. Dia minta aku datang ke
asrama orang-orang dari Afrika yang dia jadi direkturnya. Segera aku
memenuhi panggilannya.
"Jadi betul dan tetap saja kau berpendirian mau punya pistol itu?", kata
Pascal begitu aku duduk di hadapannya.
"Ya, dan tetap begitu pendapat saya", kataku.
"Apa kau bisa menggunakannya, pernah, dan tahu gunanya kapan harus
digunakan?!", agak keras dia mengatakan ini. Dan kuceritakan apa adanya yang
pernah aku tahu dan alami. Termasuk terpaksa aku menceritakan bahwa aku
sudah pernah dan lama menggunakan pistol ini. Dulu ketika kecil bahkan
ketika di SD, aku sudah tahu dan pernah menggunakan pistol kepunyaan ayahku.
Ayahku seorang mantri kehutanan, -boschwezan, di zaman Belanda. Dia punya
browning, lalu lee enfield, dan aku pernah belajar menembak, dan ayah yang
mengajarkan. Ayahku seorang pemburu, jelas suka berburu rusa, kijang bukannya
orang. Di rumah kami penuh dengan sangkutan pakaian dan baju yang terdiri
dari tanduk rusa dan kijang. Ayahku mencatat selama hidupnya dia sudah
menembak rusa sejumah 56 ekor, rusa besar-besar, dan puluhan kijang serta
ratusan kancil, pelanduk. Ayah punya senapang double-loup, senapang berlaras
dua, lalu beberapa senapang dan jenis pistol lainnya. Dan sesudah aku
dewasa, lagi-lagi aku bertemu dengan berjenis pistol dan senapang ini.
Sebenarnya aku sangat tertarik dengan berjenis senjata beginian. Tak
usahlah kuceritakan hal-hal yang bikin rumit orang lain!
Pokoknya Pascal dengan keras seperti mengadakan ujian kepada seseorang yang akan ditentukan lulus tidaknya."Untuk apa kau mau punya pistol?".
"Buat berjaga-diri, bertahan dan mempertahankan harta-benda resto dari
perampokan dan perampasan"."Kapan tepatnya kau akan menggunakan dan meletikkan pemicunya?""Ketika tidak ada lagi jalan lain, terpaksa dan dalam keadaan bertahan diridan membela diri, di mana harta dan nyawa kita sangat terancam dan sangat kritis". "Kau tahu apa arti harga sebuah peluru?!""Adalah jiwa seseorang", kataku mantap."Betul kau mengerti menggunakannya, dan kapan kau terpaksa menggunakannya?"."Saya akan menggunakannya kalau betul-betul terpaksa dan tak ada jalanlain, di mana harta-benda dan jiwa saya harus dilindungi dengan pistolitu", kataku lagi."Kau harus bertanggungjawab penuh dengan pistol itu. Kau tahu kalau terjadidi luar semua yang kau katakan, tidak hanya kamu yang masuk penjara tetapiaku juga masuk penjara akibat perbuatan kamu, mengerti kamu?!"."Ya saya mengerti sepenuhnya, dan saya akan menjaganya dengan memperhitungkan semua akibat yang Anda katakan tadi", kataku mantap.
Dalam hatiku, semoga saja pistol itu tidak akan sampai diletuskan. Sebab
kalau sebuah saja peluru ke luar, artinya ada sebuah jiwa yang
hilang, seseorang lain atau aku sendiri. Dan terasa dalam diri ini, sudah
lama benar aku ingin punya pistol begitu.
Paris 9 Maret 1999
Bab 14 :
Kisah Sepucuk Pistol
Benda baru, barang baru dan sudah lama diimpi-impikan, sepucuk pistol. Waktu
kecilku dulu bila melihat seorang polisi atau tentara, dengan pistol
dipinggang, bukan main gagahnya. Menurut penglihatanku ketika itu, hanya
apabila seseorang polisi atau tentara pakai pistol, barulah dia polisi dan
tetara tulen, dan hebat.
Yang lainnya yang tidak pakai pistol, walaupun dengan pedang, apalagi hanya
pentungan, bahkan dengan senapang sekalipun, juga termasuk mitralyur, senapang
mesin, akh, itu sih samasekali tidak hebat. Yang hebat itu yang pakai pistol!
Demikianlah pikirku ketika itu. Dan kini menjelang umurku tak lama lagi
pensiun, aku bisa memiliki sepucuk pistol. Dan atas nama resto dan direktur
kami, Pascal, lengkap dengan surat-surat resminya, dan perjanjian yang harus
ditaati dengan keras.

Tentu saja dalam hari-hari pertama, benda mengkilat kehitaman itu selalu
saja kugosok-gosok, kuciumi dan baunya yang terasa enak, bau mesin yang
halus, terus kuelus-elus. Kubungkus dengan saputangan merah, dan alat
pengelapnya agar terus mengkilat, kubelikan sebuah saputangan beledru dan
sutra berwarna kemerahan, warna merah mawar-muda. Barangkali kalau ada orang
melihatku bertingkah-laku demikian, dengan senyum dan rasa
bahagianya, tentulah akan berpikir, mungkin orang ini rada sinting atau
gendeng.
Tentu saja kalau malam-malam pulang dengan tas-ransel yang banyak uang
itu, aku merasa lebih aman dan ada rasa percaya-diri. Sedikit saja ada
gerak-gerik yang kira-kira mencurigakan, tanganku sudah masuk ke dalam
sela-sela tas-ransel dan memegang gagang pistolku. Walaupun banyak
gerak-gerik atau sedikit saja yang kuanggap pertanda, awas hati-hati, siapa
tahu orang-orang ini mau merampok, maka aku siap-siap mencari gagang
pistolku. Terkadang pistol itu kusimpan dalam kantong, terkadang kuselipkan
di pinggang antara ban dan celana pantalon, dan terkadang dalam tas-ransel
dekat amplop uang dan buku pembukuan resto.
Tetapi bila aku sedang tidak membawa uang, maka pistol itu terkadang
kutinggalkan di rumah saja. Untuk apa dibawa-bawa, kan keberadaannya hanya
karena untuk melindungi hartabenda dan uang resto. Sayangnya pikiran
pendapat begini tidak lama. Kupikir, orang jahat kan tidak tahu apa itu
isinya yang dalam tas-ransel, apa ada uang atau tidak. Tentu mereka akan
selalu menyangka pastilah ada benda berharga, uang atau katakanlah
perhiasan. Maka berkembanglah pikiran dan pendapatku yang saling
tumpangtindih. Dan lagi bukankah pada periode tertentu, aku pernah selalu
diikuti intel, informan dan siapa tahu mata-mata dari KBRI atau langsung
petugas dari Jakarta buat menculikku?! Dalam hatiku, siap-siap sajalah, orang
jahat itu bukannya sedikit, dan kapan akan melakukan kejahatan, dia kan tidak
akan mengatakannya. Karena "peperangan" pendapat dan pemikiran yang ada
dalam kepalaku ini, maka kuputuskan sajalah, selalu bawa pistol, dengan
tambahan alasan, demi keamanan diri sendiri.
Mungkin dan siapa tahu, semua gerak-gerik yang kuanggap
mencurigakan, jangan-jangan hanya perasaanku saja. Padahal siapa tahu
sebenarnya tidak ada apa-apa, biasa-biasa saja. Dan secara tanpa
sadar, lama-lama terasa, sebenarnya dengan adanya sepucuk pistol ini, apakah
aku merasa lebih aman atau ada rasa lain tertentu yang justru membuatku
lebih gelisah. Pertanyaan ini tidak pernah bisa terjawab, tetapi ketika aku
sedang tenang, jernih, sedang kosong, maka terasa dengan adanya sepucuk pistol
itu, watakku, tabiatku agak berubah. Berubah bagaimana? Rasanya malah
sebaliknya dari dulu itu, di mana ketika aku tidak punya senjata itu, malah
lebih bisa berpikir panjang dan agak jernih. Kini setelah punya
pistol, malah ada terasa lebih berani, bahkan lebih mau galak, mau lebih
beringas, dan sepertinya agak mudah terpancing dan terprovokasi. Lalu
terpikir padaku, pantas saja polisi dan tentara itu pada
galak-galak, sok-sokan, pada beringas dan beringas itu selalu saja kepada
orang lemah yang tidak punya daya apa-apa, tidak punya senjata, kongkritnya
kepada rakyat kecil.
Lama juga aku "berperang" dengan diriku sendiri ini. Menyelidik diri, periksa
diri. Dan terkadang jauh ke belakang, dan sampailah kepada titik-awal
kehidupan. Ketika sebelum peristiwa-besar-nasional tahun 1965, aku selalu
bekerja dan mendapat pekerjaan yang sejajar, paralel dengan kesukaan dan
kecintaanku pada bidang tersebut. Tetapi sesudah itu, keadaan menjadi
berubah dan sampai kini. Apakah perkaranya? Bahwa sekarang ini aku bekerja
karena keharusan, karena kewajiban, karena keterpaksaan dan harus begitu, dan
bukan karena kesukaan dan kecintaan. Tetapi aku menyadari dan memang
kujanlankan, bahwa sekali pekerjaan itu terpegang, haruslah berusaha
mencintainya, paling tidak harus bertanggungjawab penuh, sukur-sukur kalau
bisa mencintainya secara langgeng.
Pekerjaan resto dan selukbeluknya, walaupun lama-lama kami ini dengan
sedirinya terangkat menjadi profesional karena belasan tahun dalam kandang
pengalaman tersebut, tetapi bagaimanapun pekerjaan itu bukanlah pilihan
kami, bukan pilihanku, karena memang tidak ada yang lain dari itu! Setelah
jauh lagi melihat ke belakang dan jauh lagi ke depan, lama-lama
terasa, bagaimana kalau aku mengajukan pensiun-dini, pensiun lebih awal, agar
aku bisa "membayar hutang" atas cita-cita dan kecintaanku pada satu
pekerjaan yang sudah sangat lama terpendam. Aku sangat ingin mengerjakan
apa yang kusukai dan kucintai, dan yang sejak kecilkku lama sudah
kuidam-idamkan. Pekerjaan apakah itu? Terlalu lama aku telah
"menyia-nyiakan" cita-citaku, kecintaanku padanya. Kalau aku mengajukan
pensiun-dini, tentulah banyak waktu buat "membayar hutang" itu tadi. Aku
akan banyak waktu untuk belajar, untuk banyak membaca dan yang paling
penting tujuannya, untuk banyak menulis!
Bahwa akan ada kesulitan dan kesukaran baru, itu pasti! Mana ada uang, mana
ada gaji yang seperti dulu lagi, mana ada pemasukan, selain pensiun yang
sangat kecil itu. Bekerja sekarang ini memang terjamin pasti
kehidupan, tetapi adakah ketenteraman hati, adakah rasa aman tenteram? Setiap
hari bergulat dengan rasa waswas, kuatir, dan sepucuk pistol, yang kalau tak
berhati-hati akan makan jiwa orang lain atau bahkan jiwa sendiri, karena
pertempuran misalnya, perkelahian yang tak seimbang. Adanya dan sejak
kumiliki sepucuk pistol itu, telah banyak membikin diri ini "berperang"
dengan diri sendiri. Tabiat, perilaku hampir-hampir saja menjadi begitu mudah
beringas dan galak dan sok jagoan!! Pikiran ini lama dan lama kutimbang dan
aku banyak konsultasi dengan anak-anakku, bagaimana kalau papa pensiun-dini
karena semua masalah yang kukemukakan tadi. Dan mereka setuju, asal saja
benar-benar akan ada rasa bahagia dan tenang, ketenteraman hati dan
mengerjakan pekerjaan yang benar-benar disukai dan dicintai. Lalu akupun
mencari teman-teman yang di Holland, yang biasa kerjasama denganku dalam
bidang sosial-kultural, kegiatan seni-budaya. Mereka semua menyambut gagasan
ini. Dan aku sudah berketetapan hati buat semua itu, termasuk selukbeluk
kalau terjadi kesulitan, kesukaran dalam bidang kehidupan dan jaminan
sosial lainnya.
Maka okeylah. Kuajukan mula pertama kepada banyak teman di resto
sendiri, lalu kepada Pascal, sebagai direktur kami. Pascal tertawa
terpingkal-pingkal, "Baru saja punya pistol, tiba-tiba sudah mau mengajukan
pensiun-dini. Apa kau sudah nembak orang?", kata Pascal.
"Tidak, pelurunya masih utuh. Dan....."kataku dengan spontan saja.
"Justru adanya sepucuk pistol itulah yang siapa tahu menjadikan saya lebih
cepat mengajukan pensiun-dini ini". Mendengar semua ini Pascal lama
memandangiku, jangan-jangan dia curiga bahwa aku sudah menembak orang.
Kukatakan padanya, tidak, tidak karena itu, dan aku akan membuktikannya bahwa
peluru masih utuh dan dari pistol itu dapat diperiksa secara laboratoris
masih belum digunakan. Lalu ada sedikit kesombonganku, jangan-jangan aku
lebih mengerti tentang senjata daripada Pascal.
Aku mencari keterangan dan alamat Jawatan Pensiun, karena siapa saja yang
mau mengajukan pensiun, haruslah berinisiatif sendiri. Dan Jawatan Pensiun
itu memeriksa semua surat menyurat dan masa-kerja selama belasan tahun
itu. Aku mendapat jawaban, sebenarnya masa pensiunku barulah tahun
2000, -katanya. Dan aku merasa "terpukul" sejenak kalau tak segera
disambungnya.
"Memang Anda belum waktunya untuk pensiun. Tetapi kalau Anda merasa perlu
dan betul tidak bisa bekerja lagi, bisa atas petunjuk dokter dan dokter
Jawatan Pekerja Publik", katanya.
Keterangannya ini membuka sedikit sela harapan buatku. Dan kutanyakan lebih
lanjut apa saja yang diperlukan dan diwajibkan buat surat-menyurat
melengkapi dossier-nya. Orang Jawatan ini menuliskan syarat-syarat dan
surat-surat yang diperlukan untuk itu.
Setelah kulihat apa saja dan ke mana saja aku harus pergi buat mengurus
surat-surat itu, betapa banyaknya dan betapa rumitnya. Tapi seperti
kebiasaanku selama ini, semakin rumit, semakin menggila aku menantangnya. Kita
beradu dan berlaga adu-ulet, adu militan buat mengurusnya sampai
tuntas. Begitulah ceritanya bagaimana aku mendapatkan rumah-pemerintah yang
kuhuni sekarang ini, rumah-murah, tak mungkin diusir, dijamin untuk ditinggali
seumur hidup kalau mau. Tetapi buat mengurus segala urusan tetekbengeknya
makan-waktu selama 11 tahun! Nah, buat urusan ini bukankah demi kecintaanku
pada cita-cita lama yang terpendam selama ini?
Keesokan harinya aku mulai menggarap urusan surat-menyurat itu. Aku harus
ke dokter-umum, lalu ke dokter-spesialis-jantung, lalu ke dokter spesialis
prostat, lalu ke urologie, lalu spesialis diabet, sakitgula. Kurencanakan untuk
ini semua taroklah satu minggu penuh. Dalam pada itu aku ke mana-mana tidak
lagi membawa pistol. Celaka nanti kalau tiba-tiba pistol itu terlupa di
hospital atau institut kesehatan, atau tiba-tiba jatuh meluncur
tengah-tengah dokter sedang memeriksa dirikita.
Tahap pertama urusan dokter ini. Dan pekerjaan pribadiku, harus meyakinkan
para dokter itu agar mereka mau memberi suratketerangan yang kuperlukan.
Bahkan pernah aku datang pada dokter itu dengan permulaan kata-kata, saya
datang minta bantuan dan pertimbangan Anda, dan kuceritakan semua soal dan
selukbeluk diriku dan cita-citaku. Bagaimanapun kalau mereka mau memberikan
surat keterangan itu, karena memang penyakitku ada di urusan analisa
mereka. Dan aku bukankah menjadi pasien mereka di bidangnya? Lalu aku pergi
ke bagian Securite Social yang menjamin kehidupan bagian kesehatan, dokter
dan obat-obatan. Lalu banyak lagi entah apa, lalu bolakbalik lagi melengkapi
surat-menyurat dengan Jawatan Pajak itu.
Dan lebih satu bulan, setelah bolakbalik mengurus berjenis surat yang
diperlukan, "kemenangan" sudah terlihat-tampak. Dan pada akhirnya setelah
lebih tiga bulan ada surat-keputusan, bahwa begitu teng pada jam 1 tanggal 1
bulan 1 tahun 1998, aku resmi pensiun dengan lengkap mendapat sedikit
tunjangan karena memang dasar uang pensiunnya terlalu minim!
Betapa gembiranya aku. Barangkali lebih atau mungkin sama ketika dulu itu
aku mendapat peresmian bisa memiliki sepucuk pistol. Dan ketika diri ini
dalam keadaan tenang dan jernih, ada jawaban dalam hati, tidak, tidak
sama, malah lebih baik lebih gembira dan lebih senang dengan adanya surat
keputusan itu. Kalau dipikir dalam-dalam, tenang-tenang, jujur-jujur, justru
setelah memiliki pistol itulah dapat dikatakan sebagai pemicu atau pelatuk
terdekat untuk segera melepaskan pistol itu. Adanya pistol itu bisa
mengubah perwatakanku, menjadi beringas, galak, terlalu mudah terprovokasi. Dan
ingatlah, begitu terletus dan ke luar satu peluru, itu artinya sebuah jiwa
hilang. Dan itu artinya akan ada akibat sampingan dan buntutnya. Lalu
beruntun, rentetan urusannya! Sedang diri ini masih terlalu banyak urusan
lain yang menunggu dan antri untuk diselesaikan.
Kabar bahwa aku akan pensiun-dini mulai hari pertama tahun 98, sudah
tersebar di kalangan sendiri dan keluarga. Dan aku secara resmi datang
menghadap Pascal sambil menyerahkan sepucuk pistol itu lengkap dengan
surat-resmi dan jumah peluru yang dulu kuterima.
"Ternyata kau yang dulu begitu ingin memiliki pistol, pada akhirnya dan
kenyataannya mempercepatmu untuk pensiun-dini, apakah tidak begitu
pendapatku?!", kata Pascal.
"Besar kemungkinannya. Yang lebih menggembirakan, pistol ini saya kembalikan
dengan utuh sebagaimana saya terima dulu. Dan saya tetap bersih dalam
pengertian belum dan semoga tidak akan membunuh orang. Lebih dari itu
lagi, sekarang saya jadi orang bebas, bebas beban, bebas dari rasa
takut, curiga, dan semoga saya bisa menjalani kehidupan ini secara apa yang
saya maukan dan cita-citakan.", kataku. Sebelum aku meninggalkan
Pascal, lagi-lagi kupandangi benda hitam-mengkilat itu, yang dulu begitu
kudambakan, yang ternyata samasekali tidak menjadikanku bahagia dan
aman-tenteram.
Paris 10 Maret 1999
Bab 15 :
Makanya Jangan Sembarangan
Pada pokoknya pelanggan kami itu memang dari kalangan orang bule. Dari
kebanyakan orang bule itu adalah orang Perancis. Dan sebagian besar dari
mereka, biasanya sudah kenal dengan Indonesia, sudah pernah tinggal di
Indonesia atau sudah pernah datang ke Indonesia. Sebagai turis, sebagai
pelajar dan mahasiswa, sebagai pekerja-kontrakan dan bahkan dari
keluarga kedutaan Perancis di Jakarta atau kedutaan lainnya, yang mau
bernostalgia tentang Indonesia.
Ada rombongan turis yang ber-reuni dan berjanji akan makan-bersama di resto
kami. Dan mereka saling bercerita tentang Indonesia, dan hubungannya dengan
teman-teman di Indonesia. Dari kedatangannya selama di Indonesia dalam
sekian hari itu, ada di antara mereka yang sempat menjalin percintaan dengan
orang-orang di Bali, di Minang, bahkan di Tana Toraja, dan lain-lainnya.
Bahkan pernah terjadi sehabis mereka mengunjungi tempat-tempat di
Indonesia, dan sempat berkenalan, lalu terjadi lagi kunjungan kedua, sampai
ketiga dan lalu membawa wanita pujaannya dan menikah dan membawanya ke
Perancis.
Peristiwa begini juga bisa timbalbalik, artinya si wanita bule itu membawa
pria yang dari Indonesia, dengan janji-janji cinta yang saling
menenggelamkan, akhirnya mereka menikah atau bisa juga hidup-bersama
alias hanya kumpul-kebo saja.
Orang-orang yang ada hubungan dengan Indonesia, atau pernah ke
Indonesia, atau pernah terbiasa dengan adat-istiadat Indonesia, atau hanya
sangat tertarik saja dengan apa yang serba Indonesia, mereka biasanya akan
datang atau saling bertemu di resto kami. Dan kalau antara mereka sudah
saling cerita tentang pengalamannya atau kenang-kenangannya ketika masih
sama-sama di Indonesia, kami sendiri yang "penduduk dan orang asli
Indonesia" hanya terbengong-bengong saja mendengarkannya. Sebab tak ada di
antara kami yang sudah ke Mentawai, atau ke Pulau Nias, ke Kepulauan
Enggano, dan mereka lancar saja menceritakan tentang budaya dan kebiasaan
orang Nias! Dan kami merasa seakan ledekan ketika antara mereka sepatah dua
patah kata berkata-kata dalam bahasa Nias atau Mentawai atau bahasa
Toraja, misalnya. Pada akhirnya kamilah yang banyak tanya ini tanya itu
tentang pengalaman mereka di berbagai kepulauan dan tanah
Minang, Toraja, dan di Sumbawa atau Flores!
Terkadang terasa sedih juga bahwa kami para "melayu-asli" ini jauh kalah
dengan mereka. Mereka banyak sekali yang sudah mengedari tanahair kita.
"Yang punya tanahair sendiri" ada yang bahkan belum pernah melihat
Borobudur atau ke Bali misalnya. Teman kami "orang Jawa" sendiri cukup
banyak yang belum melihat-dekat dan menyaksikan keindahan Borobudur! Tapi
mereka kalau hanya soal Borobudur atau Bali, itu sih hal samasekali tak
aneh, karena hal-hal yang sangat biasa, tak usahlah diceritakan lagi, itu mah
pengalaman lama dan "sudah kuno"!, demikianlah dapat diibaratkan.
Tidak hanya satu dua orang yang pernah makan di resto kami yang
mencengang-herankan kami, sebab mereka minta disediakan kobokan! Mereka mau
makan pakai tangan, "nah begini asli Indonesia", kata mereka setelah kami
sediakan kobokan. Dan para pelanggan lainnya tetangga-duduk di kiri-kanan
mereka, hanya melihatkan dengan rasa agak heran, tetapi tampak sekali tak ada
rasa menghina atau mau mentertawakan mereka. Semua berjalan biasa, sangat
biasa saja! Dan beginilah Paris, satu sama lain tidak ada
urusan, masing-masing bebas asal tak saling mengganggu kemerdekaan pribadi
orang. Ada bahkan yang jadinya tertarik dan mau ikut-ikutan berbuat
begitu juga.
Satu kali ada pelanggan yang minta disediakan "sambal asli" dari ulekan
atau lumpang, sambal terasi dengan jeruk-purut yang wangi merangsang. Dan
pelanggan itu minta disediakan dengan lumpangnya sekaligus di letakkan di
atas meja-makannya! Dan pelanggan itu makan pakai-tangan dan sambal terasi
langsung dengan lumpangnya, lumpang-batu yang beratnya lebih dua kilo itu!
Cerita ini berkembang, karena kemudian pelanggan itu membawa lagi
teman-temannya, dan juga minta disediakan kobokan dan lumpang, sambal terasi
yang seperti dulu itu lho, demikian kata mereka. Dan kami sediakan dan
kebetulan kami punya tiga lumpang. Sebelum terjadi hal-hal yang tak
enak, kami katakan bahwa kami hanya punya tiga lumpang itu saja. Kami tak
biasa dan tak mungkin menyediakan lumpang pada setiap meja makan.
Bayangkanlah kalau ada 15 meja, harus ada 15 lumpang, berbaris bagaikan ada
upacara seremonial yang sangat eksotik! Merekapun mengerti dan tertawa
merasa lucu juga kalau terjadi hal-hal demikian.
Aku adalah seorang pekerja dan pelayan yang paling banyak dikritik
teman-teman, karena terlalu sembarangan dalam berkata-kata, terlalu mudah
menyatakan sesuatu, tanpa terpikirkan akibat sampingannya.
Jarak dapur kami dengan tempat duduk pelanggan yang paling dekat, hanya dua
meter saja jaraknya. Tetapi tak bisa saling melihat kalau sedang
service, hanya bisa saling mendengarkan suara ngomong, itupun seandainya
betul-betul pasang kuping untuk itu. Jarak begini dekat tapi tak bisa
saling melihat, karena "dipagar-batasi" dengan sehelai gorden besar, agar tak
tampak orang dapur mondar-mandir sedang masak. Jam-kerja service siang
sampai jam 14, 30. Biasanya pada jam 15, 30 pelanggan sudah sepi dan sudah
pada pulang. Tetapi adakalanya para tamu karena begitu santai dan asiknya
ngobrol, jam 16.00 lewat baru pulang. Kami tak boleh mengusir tamu, tak ada
resto yang mengusir tamu! Hidup kami tergantung dari isi kantong
tamu, tergantung pada isi dompet-uang para tamu! Jadi jangan main-main.
Ketika itulah terasa benar bahwa tamu, pelanggan adalah raja!
Dan kalau para tamu ini belum pulang-pulang juga, sudah tentu kamipun tak
bisa pulang, dan capek ya tinggal capek, rasakan saja. Ada sepasang
muda-mudi, biasa orang bule, sambil duduk berdekatan dan bercinta
tenggelam-tenggelam. Berciuman, berpelukan, merokok, makan lagi
sekedarnya, lalu ngobrol lagi, tertawa, pelukan, ciuman mesra. Dan mana mereka
mau perduli! Ini sudah kebiasaan di kota besar Paris ini, juga di banyak
resto lainnya. Sepasang tamu ini duduk dekat dapur lagi, walaupun dibatasi
"pagar gorden" tadi itu. Teman-teman dapur selalu menanyakan
kepadaku, apakah sudah habis tamunya, apakah sudah pulang semua?! Karena
kalau sudah pulang, kami akan membuka "tabir gorden" itu dan tandanya orang
dapur bebas akan ke luar-masuk, karena sudah tak ada tamu. Ketika itu
sebenarnya akupun sudah hampir mencapai puncak kedongkolan. Sudah sangat
capek, mau pulang mau lekas istirahat. Tetapi sepasang muda-mudi orang bule
itu tetap saja asik clap-clup dengan bibirnya ciuman, pegangan kepala dan
muka, lengket lagi, lepas sebentar, diulangi lagi, sedangkan jam terus jalan.
Sudah hampir jam 17.00.
Seorang teman dapur tanya lagi kepadaku. Apa tamu sudah pulang semua? Aku
sedang ada pada puncak dongkolnya, dan dengan agak keras dan agak
kasar, kusahuti teman itu.
"Apanya yang pulang. Malah lagi gila-gilanya asik
ngos-ngosan, clap-clup, muka sudah pada bonyok, diremas
dan diraup"!, kataku dengan setengah dongkol, dan dengan
suara keras.
"Mereka sih enak-enak, nah kita ini yang mau pulang, dari tadi tidak
jadi-jadi, nungguin orang yang sedang mabuk cintrong";kataku lagi. Aku tetap
ke luar-masuk antara dapur dan sal, dengan rasa marah, benci dan dongkol.
Rupanya tamu yang saling remas-meremas dan muka pada hampir bonyok
itu, mungkin sudah merasa terlalu lama di resto, akhirnya bangkit dan mau
pulang. Melihat begini, agak terasa akan mengurangi rasa kedongkolan
tadi, dan kami bisa pulang walaupun sudah sangat terlambat. Ketika mau
pulang si perempuannya berkata:
"Maaf Pak ya, kami terlambat pergi", katanya. Agak gemetar aku
mendengarkannya. Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Indonesia dengan baik!
Mimpikah aku? Betulkah dia tadi berbahasa Indonesia? Dan kujawab sambil
menahan malu.
"Bahasa Indonesianya baik sekali ya", kataku hampir kehilangan muka!
"Akh, sudah banyak lupa, Pak. Kalau mau ngomong agak sulit, tapi kalau
pasif, mendengarkan masih bisa dan masih bolehlah", katanya dengan cukup
genit. Terasa tertampar diriku ini. "Lama di Indonesianya?".
"Bagaimana ya, lama juga tidak, sebentar juga samasekali bukan. Karena
ayah-ibu saya dan kami semua pernah di Kalimantan, di Balikpapan. Karena
orangtua saya bekerja di pertambangan minyak. Di sana kami selama 4
tahun. Lalu pindah ke Jawa, dan saya sekolah di IKIP Malang selama 2
tahun, lalu pindah lagi ke Perancis. Dan kini kami tinggal di Paris
ini", katanya dengan bahasa yang bukan main bagus dan halusnya.
Hampir saja lututku terasa goyang. Dan pada akhir kisah, mereka
minta diri dengan cukup sopan, karena minta maaf sudah
terlalu lama duduk di resto kami.
Begitu pasangan itu keluar, maka keluarlah beberapa teman dapur sambil
menahan tertawanya memegangi perut masing-masing. Sambil menuding dan
memaki diriku.
"Makanya kamu sih nggak tobat-tobatnya! Mbok tahu dirilah, jangan suka
sembarangan kalau ngomong! Orang bule apalagi yang ke resto kita ini, selalu
banyak tahu tentang Indonesia, tahu bahasa kita!Kamu itu sejak dulu selalu
ketangkap basah, karena selalu suka sembarangan ngomong, ngatain muka
bonyoklah, clap-cluplah. Pastilah mereka mengerti semua apa yang kau katakan
tadi! Yah, itulah obatnya orang suka ngomong sembarangan, rasain
kamu!", kata teman-temanku.
Dan aku diam saja. Lalu aku mau apa?! Semua salahku, mengapa ngomong
sembarangan, dikira orang tak tahu bahasa kita, karena mereka orang
asing, orang bule! Dan kejadian ini sudah untuk kesekian kalinya untukku.
Kalau banyak teman marah dan mengkritikku, semua ada dasarnya.
Paris 11 Maret 1999
Bab 16 :
Berbagai Penemuan dan Pengalaman
Sesudah resto kami berjalan lebih dari tiga tahun, kami sudah dapat
menyisihkan uang buat membayar hutang kepada sementara teman yang dulu kami
tilpuni ketika mau mendirikan resto. Semua teman yang menghutangi
kami, maupun yang dengan sukarela memberikan sumbangannya, kami catat
baik-baik. Dan kami tidak akan melupakan kebaikan dan jasa-jasa teman itu.
Sebenarnya ditilik, diteliti dengan sungguh-sungguh, kami hanya bermodalkan
dengkul saja. Modal kami hanyalah kemauan keras saja, dengan bekerja-keras
dan sungguh-sungguh buat kepentingan bersama. Kesungguhan kerja-keras ini
membuahkan hasil lain, yaitu kepercayaan teman-teman kepada kami. Dan kami
benar-benar harus memegang dan memelihara kepercayaan ini. Kepercayaan itu
sangat mahal, dan buat memperolehnya juga sangat sulit dan tidak mudah
begitu saja.
Ada sementara teman yang kami bawakan uangnya buat pembayar hutang
itu, tidak mau menerima bunganya. Dia hanya mau menerima uang-dasar yang
diserahkannya dulu. Padahal ketika dulu kami menerima pinjaman semula, kami
menjanjikan untuk membayar sekaligus dengan bunganya, walaupun tidak
banyak, tidak seperti pinjaman bank-resmi. Ada seorang teman di Holland, dan
dengan gembira dan senang hati bukan karena kami membayar hutangnya plus
bunganya, tetapi dia sangat gembira karena resto kami berjalan cukup baik.
Dan dia merasa bantuannya turut berpartisipasi dalam mendirikan sebuah
resto buat kepentingan teman-teman di Paris. Dan alasan ini sangat wajar
dan normal. Kami undang agar dia datang menyaksikan sendiri resto yang dia
turut andil dalam mendirikannya.
Kelak pada waktunya teman itu datang dengan teman-intimnya. Kami undang
dengan sangat senang hati, tetapi mereka menolak keras untuk tidak membayar.
Tetapi kami katakan, ini sudah kebiasaan kami kepada siapa saja yang turut
ambil-bagian ketika kami mau mendirikan resto dulu. Akhirnya mereka
meninggalkan uang pourboire-tips yang jumlahnya sangat besar.
Rasanya hati ini benar-benar plong, karena kami sudah bisa mengangsur hutang
kepada sebagian teman. Dilihat "dari riwayat" dulunya, di mana kami harus
mengumpulkan uang hampir 600.000 francs buat keseluruhan sampai resto itu
berjalan, padahal modal kami samasekali tak ada, dan kini setelah lebih tiga
tahun resto berjalan baik, bisa membayar hutang. Bagaimanapun ini sebuah
hasil yang cukup baik, karena kerja-keras banyak teman di resto.
Gaji kami tetap saja kecil, sangat minimum. Tetapi kami merasakan semua itu
haruslah kami tempuh dan alami, karena biarlah bersusah-susah dulu sementara
ini. Kami ingin menyelesaikan hutang secara berangsur-angsur. Yang penting
menyelesaikan hutang kepada teman-teman tertentu, karena siapa tahu
merekapun sangat membutuhkan uang. Hutang kepada instansi atau badan yang
agak besar dan bonafide dapat kami tunda sementara.
Aku punya dua putri. Yang kedua, Ina, ingin menyewa sebuah aparteman di Paris
19. Karena umurnya di bawah 26 tahun ketika itu, maka dia harus punya
penangungjawab, orangtuanya sebagai saksi, atau penanggung untuk urusan
sewa-menyewa itu. Pada waktu yang dijanjikan ketika mau menandatangani
urusan sewa apartemen yang dimaksud, aku datang bersama Ina, ke kantor agen
aparteman itu. Ketika mereka memeriksa daftar atau buletine-salaire, gaji, -
mereka agak heran. Mengapa? Gaji Ina jauh lebih besar dari gajiku sendiri.
Ina bekerja di sebuah kios-besar yang menjual barang-barang souvenir di
Paris-kota. Mereka menanyakan dan berkata :
"Ini agak aneh, gaji bapaknya jauh lebih kecil dari gaji anaknya. Gaji yang
akan menanggung lebih kecil dari gaji yang akan ditanggung", kata mereka
kepadaku.
"Ya, itu benar. Gaji kami memang kecil untuk sementara ini". Belum lagi
selesai aku menjelaskan, -
"Maksud Anda dengan kecil untuk sementara itu...?!"
"Dari segi gaji memang kecil. Tetapi saya punya restaurant, saya salah
seorang pemilik restaurant", kataku dengan "berlindung sebagai salah seorang
pemilik resto", -
"O ya, begitu. Apa Anda membawa tanda-buktinya", katanya agak heran dan
setengah kurang percaya. Dan aku memang sudah siap untuk itu. Sebuah
kertas-tanda statut yang dikeluarkan notaris di Paris 6, yang menandai bahwa
kami berdelapan, 4 orang Indonesia dan 4 orang Perancis adalah pemilik resto
koperasi di nomor 12 Rue de Vaugirard Paris 6. Mereka mengamati dan
meneliti statut resto Indonesia. Dan pada akhirnya mereka mengerti dan
memahaminya. Dan Ina, putriku bisa menyewa aparteman itu. Yang sulit mereka
mengerti yalah : gaji Ina 7000 francs, gaji bapaknya, si penanggung hanyalah
3000 francs. Untunglah statut resto bisa menyelamatkan mukaku.
Karena kami memang tidak punya pengalaman sebelumnya bagaimana seharusnya
mengelola sebuah resto, maka ada beberapa pekerjaan kami yang agak
kebobolan. Terutama terlalu banyak pengeluaran belanja. Pengeluaran belanja
dapur, gaji, gaji-gelap, pembelian tanpa faktur, dan banyak pemborosan lainnya.
Banyak pengeluaran yang seharusnya belum perlu, atau tidak memperhatikan
penghematan. Terlalu boros dan kurang perhitungan. Akibat semua
itu, uang-masuk, uang-liqid ataupun cheque
resmi, tiket-resto, kartu-kredit, kurang banyak masuk ke bank. Dan bank kami
terlalu banyak mengeluarkan uang karena pembelian resto. Jadinya kami
tekor, defisit yang semula 20.000 francs, lalu terus membengkak, jadi 30.000
francs. Bank sudah mengingatkan beberapa kali, agar menyuntik dana ketekoran
itu. Tapi kami tak punya dana kelebihan. Ketika puncak defisit mencapai
kulminasi tertinggi dari peraturan-bank, maka bank memutuskan tidak akan
mengeluarkan cheque lagi kepada kami. Dan gilanya lagi bank mengadu ke bank
pusat, Banque de France tentang perkara kami ini.
Ini artinya kami tidak boleh dan tidak akan diberi carnet de chèques lagi! Ini
sebenarnya hukuman yang paling berat buat sebuah
perusahaan, pertokoan, perkantoran. Karena tidak mungkin kami belanja tanpa
chèque. Sudah tertutup pintu bagi kami buat menjalankan usaha resto. Semua
kami bingung, bersusah-hati, sangat sedih serta menyesali diri, mengapa
hal-hal begitu bisa terjadi. Tidak bisa lain kalau mau menghidupkan lagi
chèque agar bisa mengeluarkan uang, harus punya dana lagi, harus bayar hutang
ke bank. Lunasi dulu defisit di bank. Bukan main susahnya menjalankan resto
tanpa chèque. Boleh dikatakan tidak mungkin dalam waktu bulanan.
Pal Markam, kembali sandaran kami berikan tanggungjawab penuh kepada Pak
Markam yang kami anggap sesepuh kami yang jago lobbying. Pontang-panting
Pak Markam mencari hubungan kepada sementara kenalan dan orang-orang yang
berpengaruh di parleman dan pemerintahan. Kali ini Pak Markam
sendirian, tidak seperti dulu, ke manapun selalu kami berdua. Tetapi kini aku
harus selalu "di markas resto" sebagai penjaga-gawang.
Pak Markam bukanlah Markam kalau tak berhasil baik. Dan pada akhirnya kami
mendapat pinjaman suntikan dana dari badan Katolik. Baru saja kami bisa
mengangsur hutang, kini terbebani lagi. Betul-betul kerja gali-lobang-tutup
lobang kata orang! Dan kembali kami diizinkan mengeluarkan chèque lagi
setelah mendapat hukuman berjalan hampir selama tiga bulan. Sekali ini kami
harus benar-benar bertekad hemat, teliti dan hati-hati. Membatasi
pengeluaran yang tidak perlu atau yang masih dapat ditunda. Setelah
bernafas agak lega, kami para melayu yang suka gurau ini saling
mentertawakan diri-sendiri, yah biasalah orang dagang. Bagaikan sebuah
roda, sekali ke atas sekali ke bawah, ada untung ada rugi. Ya, tapi begitu
giliran ke bawah jangan lalu macet dong, sehingga nggak muncul-muncul. Itu
kan tenggelam namanya! Dan kami lagi-lagi bisa saling tersenyum lagi, yang
harus kami jaga benar agar tidak merengut dan berwajah bersegi delapan
seperti baru-baru ini!
Paris 28 Maret 1999
Bab 17 :
Di antara Tamu-tamu Kami
Ketika suatu pagi aku sedang bertugas di bar, satu jam menjelang service
siang, ada deringan tilpun. Dan kuangkat, mendengar suara dengan jelas.
Tetapi aku sendiri terkejut, dan minta diulangi, agar aku benar-benar paham
dan mengerti. Suara itu dari Kantor Istana Presiden Miterrand yang ketika
itu masih aktif. Dari Kantor tersebut ada berita dan permintaan apakah
resto kami bisa menerima rombongan kira-kira 20 orang untuk makan-siang
hari ini, satu dua jam lagi.
Berita inilah yang menjadikan aku terkejut dan sedikit bingung, begitu
mendadak, dan rombongan penting pula. Kalau di beberapa negara tertentu yang
akan datang makan-siang nanti adalah First-Lady, Madame Danièle Miterrand.
Madame Danièle Miterrand dengan teman-temannya begitu selesai rapat, lalu
berencana makan-siang di resto kami. Madame Danièle adalah tokoh sangat
aktif yang membawahi banyak organisasi kemanusiaan dan bekerja buat Dunia
Ketiga dan memajukan perkembangan usaha rakyat di negera tersebut. Beliau
memimpin LSM France Liberté. Aku berusaha menilpun beberapa teman untuk
datang membantu pekerjaan yang cukup mendadak ini. Juga kuminta agar Pak
Markam segera datang sebelum rombongan Kepresidenen tiba di resto.
Ini pekerjaan menyambut tamu terpenting selama kami punya resto, dan tanpa
direncanakan pula. Begitu hari itu tilpun begitu pesan tempat hanya dalam
waktu satu-dua jam, dan dengan rombongan cukup banyak pula. Artinya aku
harus memblokir tempat, sudah dalam keadaan reservation, setengah ruangan sal
bagian atas harus dianggap sudah penuh.
Dan memang seperti yang dijanjikan, rombongan itu tiba pada waktunya. Kami
sudah siap menyambut. Beberapa teman dan juga Pak Markam sudah siap dengan
pakaian agak rapi dan bersih. Pak Markam memang dikenal oleh beberapa orang
dalam rombongan itu, termasuk oleh Madame Danièle sendiri. Ketika masa-masa
kami mengurus buat mendirikan resto ini dan juga jauh sebelumnya, Pak Markam
sudah banyak berhubungan dengan banyak instansi pemerintah maupun badan
LSM. Termasuk Kantor Perdana Menteri dan Kantor Kepresidenan. Aku masih
ingat benar bagaimana kami mendatangi dan masuk Kantor Partai Sosialis. Dan
ketika itu kami diterima oleh Lionel Jospin, ini belasan tahun yang lalu, dan
kemudian kini orang tersebut sudah jadi Perdana Menteri. Ketika kami datang
dulu itu, dia adalah Sekjen Partai Sosialis.
Rombonga itu kami persilahkan duduk yang kursinya sudah kami atur
baik-baik. Tadinya kami tempatkan Mme Danièle di tengah. Tetapi rupanya
mereka mengatur sendiri dan Mme Danièle mengambil tempat secara
sembarangan, tidak ada peraturan harus begini begitu. Kami atur cara
makanannya dengan prasmanan, istilah lamanya seperti France-dinner. Makanan
di tempatkan di meja lain, tetapi bisa duduk dan makan di mana saja, sesudah
masing-masing mengambil makanan sendiri. Cara inipun sudah tentu kami
putuskan sesudah berkonsultasi dengan rombongan.
Ketika sudah siap-saji dan kami mempersilahkan Madame Danièle duluan, beliau
menolak dan mengusulkan secara ramah dan gurauan. "Seharusnya yang dekat
meja duluanlah, tampaknya akan lebih teratur, ya tidak?", katanya sambil
senyum. Dan teman rombongan itu setuju, sehingga Madame Danièle "terkena"
giliran antre biasa seperti orang kebanyakan. Dan mereka makan sambil
ngobrol tentang rapat barusan, dan tentang banyak hal, tetapi selalu tentang
Dunia Ketiga.
Madame Danièle sangat tampak kesederhanaannya. Seorang Ibu, seorang yang
trampil memimpin, selalu secara demokratis menanyakan ini itu, bagaimana
baiknya, bagaimana seharusnya menurut Anda. Sesudah makan, Madame Danièle
masuk ke dapur, dan menyalami teman-teman dapur, menyalami semua teman yang
bertugas di resto ketika itu. Mereka sangat puas merasakan masakan kami.
Makanan yang kami sajikan, pada pokoknya habis, dan kami lihat, cukup lahap
karena mungkin sesuai dengan selera rombongan itu. Itulah ketika pertama
Madame Daniele Miterrand makan di resto kami. Dan sampai kini, kami ingat
benar, sudah sebanyak 6 kali Madame Danièle dengan rombongannya makan di
resto kami. Rombongannya selalu berkisar sejumah belasan sampai 20 orang.
Biasanya sesudah mereka selesai rapat dengan France Liberté-nya.
Pengalaman kami selama ini, cukup banyak meleset dari dugaan semula. Tetapi
karena cukup banyak meleset itu, maka ada patokan kesimpulan, bahwa dugaan
semula dan sebelumnya agar jangan jadi pegangan! Ada beberapa tamu
kami, tampaknya agak sembarangan. Ada yang berkacamata hitam, padahal
malam-malam. Ada yang berpakaian agak seenaknya. Semula kami sudah
memperkirakan, wah, berabe ini, bagaimana kalau mereka ngacau dan nggak mau
bayar! Dan mereka memesan makanan yang cukup mahal, serta minuman botolan
yang lux, mahal. Mereka makan dan minum banyak sekali. Beberapa teman sudah
merasa kuatir. Tetapi dugaan kami semula ternyata tidak benar. Mereka
memang berpakaian, bertingkah agak sembarangan. Tetapi mereka cukup
sopan, tidak ada tindakan atau perilaku yang agak mengganggu. Mereka
ngobrol, tertawa, bergurau, terbahak-bahak. Resto memang tempatnya, bukannya
lalu makan dan berdiaman tenang, bukan! Dan mereka membayar sesuai dengan
harga yang ditetapkan. Dan inipun mereka lakukan, yaitu meninggalkan uang
pourboire-tips yang cukup membikin kami senyum-senyum senang!
Ada rombongan tiga-empat orang, gagah dan cakep. Berpakaian
lengkap, berjas-berdasi, pesan minuman yang mahal. Sudah tentu kami
berpikir, wah orang kaya ini. Banyak minum botolan yang mahal-mahal dan
digestif lagi, yang alkoholnya tinggi. Mereka ngobrol, bergurau, pada tertawa.
Ketika mereka minta addition, bon untuk membayar, karena sudah selesai dan
mau pulang, mereka pamitan dengan cukup sopan. Tetapi setelah mereka
pergi, dan kami periksa pembayarannya ternyata tidak cukup uangnya dan ada
cheque yang tidak ditandatangani. Mungkin lupa atau mungkin juga sengaja.
Mungkin juga ada kesalahan kami, tidak segera memeriksa ketika itu juga.
Tetapi hal begini agak kurang sopan, memeriksa
pembayaran di tengah kesibukan yang orangnya belum berdiri mau pulang.
Ada rombongan empat-lima orang, duduk mengambil tempat di ruangan sal
bawah(tanah). Mereka wanita dan pria. Mana kami mengira akan terjadi
kesalahan atau juga penipuan, tetapi ternyata mereka hanya membayar buat dua
orang, yang lainnya tidak membayar. Katakanlah agar jangan berburuk
sangka, mereka lupa. Tetapi tetap saja ada kemungkinan memang sengaja
menipu.
Ketika sedang sangat ramainya tamu, biasanya pada Jumat dan Sabtu malam, kami
sering menolak tamu, karena tak ada tempat, penuh. Umumnya ada satu
periode, hampir setiap Jumat dan Sabtu malam, kami selalu menolak tamu, karena
tak ada tempat. Ketika masa-masa begitulah, adakalanya kami "kebobolan".
Beberapa tamu, lalu meninggalkan ruangan tanpa bayar! Kami tak bisa
mengontrolnya satu demi satu, dan lagi kami bekerja berdasarkan saling
percaya, bukan dengan mata melotot atau melirik mengawasi dengan curiga.
Biarpun selalu harus teliti, dan waspada, tetapi sikap sopan dan ramah dan
baik, serta hangat, sangat menuntut kami bekerja secara demikian.
Jadi kalau memang ada niat-ingsun buat menipu kami, maka kamilah yang paling
empuk untuk ditipu! Namun demikian dapat kami katakan, selama belasan tahun
resto kami berjalan, penipuan demikian sangat sedikit. Dan menurut
penyelidikan kami, setiap restopun akan mengalami hal-hal begituan. Yang
paling harus diperhatikan, mengapa ada penipuan itu? Mungkin dirikita punya
kekurangan dan kesalahan, mungkin ada orang tidak suka akan kita, mungkin
orang benci akan kita.
Penipuan atau kelalaian orang lain maupun dirikita, pada umumnya sangat
sedikit, takkan sampai merugikan, takkan sampai sekian persen. Kelalain atau
penipuan itu umumnya, karena cheque kosong, atau tidak ditandatangani, atau
palsu, atau uangnya kurang atau "lari" meninggalkan tempat-duduk, tanpa
bayar.
Ada yang jujur dan mengharukan. Seseorang datang dan menyatakan secara
terusterang bahwa dirinya hanya punya uang sekian, dan ini, katanya sambil
memperlihatkan uangnya kepada kami yang sedang bertugas. Dengan uang
sejumah sekian, saya mau makan. Tolonglah atur dan sediakan makanan yang
seharga uang itu. Saya makan apa saja, asal tidak daging babi, katanya. Kami
katakan pada umumnya kami semua beragama Islam, dan kami tidak menjual
makanan itu. Setelah menanyakan apa saja yang kira-kira disukainya, maka
kami sediakan makanan seperti apa pesanannya semula. Menurut perhitungan
harga, sebenarnya yang kami sediakan jauh lebih mahal harganya dari uangnya
yang ada. Dan dia puas dan menyatakan sangat berterimakasih.
Ada juga seorang tamu. Kelihatannya sulit sekali menghitung uangnya, karena
mungkin recehan melulu. Dia memesan makanan. Tetapi hanya semangkuk sup
dengan sepiring nasi putih saja, lalu acar. Makanan begini sangat murah
lagipula apasih gizinya. Dan pemesanan begini sangat langka, bahkan boleh
dikatakan takkan dilakukan orang normal! Kami tanyakan mengapa memesan
dengan cara demikian. Dan pelanggan itu menjawab dengan sedikit mendekatkan
mulutnya ke telinga kami, agak pelan dan agak malu, bahwa dirinya tak punya
uang. Nah, beres kalau begitu, kata kami. Dan kepadanya kami sajikan makanan
yang ada dagingnya, yang harganya di atas uangnya yang ada. Dan pelanggan
itu sangat puas. Pelanggan ini rupanya ketika itu sedang jadi pengangguran.
Dan setelah dia mendapat pekerjaan tetap, ternyata dia tak lupa kembali
makan di resto kami. Dan dia dapat tersenyum, tertawa dan bergurau dengan
kami. Tidak lagi mendekatkan mulutnya ke telinga kami mengucapkan kata-kata
yang sangat pelan diucapkan dan agak malu-malu. Semoga pelanggan kami ini
akan terus aman tenteram dengan pekerjaan-tetapnya, jangan sampai jadi
pengangguran lagi.-

Paris 29 Maret 1999
Bab 18
Di antara Tamu-tamu Kami
Pada bagian belakang tulisan ini sudah kuceritakan, bahwa tamu-tamu kami
pada pokoknya adalah orang bule, orang Eropa, AS, Australia, dan yang
berkulitputih lainnya. Sudah itu barulah orang Asia, seperti
Jepang, India, Pakistan, Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dengan sendirinya
banyak bahasa yang terdengar dan mereka gunakan. Sampai kinipun kami tidak
bisa membedakan dengan segera, seseorang pelanggan sesamanya berbahasa apa.
Sangat sulit membedakan bahasa Finlandia, Norwegia, Swedia, walaupun ada
kesamaan tertentu pada bahasa itu. Termasuk juga sulit membedakan apakah
seseorang itu orang Swedia, Norwegia atau Austria misalnya. Kalau di kampung
kita, asal kulit putih ya orang Londo, sudah begitu saja! Jangankan orang
Eropa Utara yang sangat jarang kami bergaul, sesama Eropa daratan biasa saja
sangat sulit membedakan jenis bangsanya, kecuali kalau sudah terdengar
bahasa dan omongannya.
Cukup sulit membedakan mana orang Belgique, mana orang Luxembourg, atau
Belanda. Karena kita tahu bahasa Perancis, maka tidak begitu sulit
membedakan mana bahasa Perancis yang biasa dipakai orang Perancis. Akan
ketahuan kalau bahasa Perancis yang kita dengar bukan dari Perancisnya yang
berbahasa Perancis "asli". Bahasa Perancis yang digunakan oleh orang
Canada-Perancis akan berlainan dengan bahasa Perancisnya orang Swiss, atau
orang Belgique. Akh, jangankan itu saja, antara orang Perancis sendiri akan
terdengar kalau bahasa Perancisnya dari selatan, misalnya dari
Marseille, atau Pyrenne perbatasan Spanyol, dengan orang utara seperti di
Havre, Brest, padahal berapa kilo sih jaraknya!
Karena Eropa itu kecil dan cukup banyak ragam bahasanya, maka antara mereka
banyak yang menguasai bahasa tetangganya. Antara kami saja, rata-rata
paling sedikit akan mengerti tiga atau empat bahasa, paling tidak, bahasa
Perancis, bahasa Inggeris dan bahasa Belanda atau Jerman, bahkan dengan
tambahan bahasa Tionghoa-mandarin. Yang "termasuk kebangetan" bahkan dalam
keluargaku sendiri! Kalau kedua putriku sudah keasikan ngomong, tanpa sadar
mereka menggunakan bahasa Cina-mandarin. Tetapi putri keduaku, dengan
anak-anaknya berbahasa Perancis, dan dua anakku itu denganku berbahasa
Indonesia. Anak keduaku bila berbahasa dengan anaknya yang sulung berbahasa
Perancis, dengan yang bungsu berbahasa Belanda! Ketika anak keduaku belum
menguasai bahasa Belanda, dia berbicara dengan mertua-wanitanya dalam bahasa
Inggeris, karena mertuanya tidak bisa berbahasa Perancis, sedangkan anakku
ketika itu belum mulai berbahasa Belanda. Dan kalau kami berkumpul bersama
ketika Noel, atau menghadapi Hari Natal atau Tahun Baru di Holland ataupun
di Paris, maka silang-siur bunyi bahasa di rumah itu cukup ramai. Dalam satu
waktu dan satu ruangan akan terdengar bunyi bahasa
Perancis, Belanda, Tionghoa, Indonesia, terkadang Inggeris, sekaligus lima
bahasa! Ini samasekali bukannya mau tepukdada, tetapi begitulah
kompleksnya, begitulah rumit berjalin-jalinnya! Dan semua itu ada sejarah
yang melatar-belakanginya.
Di resto kami-, juga sudah kuceritakan-, kami sangat haus akan pergaulan
dengan orang Indonesia, terutama yang benar-benar dari Indonesia, bukannya
"sejenis kami" sama-sama Indonesia tetapi karena nggak bisa mudik! Rasanya
kalau ketemu, bukan main gembiranya, terlalu banyak yang mau
dikatakan, diomongkan. Terlalu banyak yang mau ditanyakan. Dan umumnya
mereka juga sangat gembira bertemu kami. Ternyata mereka baru tahu bahwa di
Paris ini ada resto Indonesia. Dan katanya dari omong-omong, mereka selama
menjadi turis di Eropa ini, sudah sangat kangen makan-nasi! Dan nasi serta
laukpauk yang dibikin orang Indonesia sendiri pula! Sayangnya seperti sudah
kutuliskan, terkadang tak satupun pelanggan Indonesia selama satu minggu!
Ini menandakan bahwa pelanggan kami itu pada umumnya memang orang bule atau
Asia lainnya atau Afrika-Arab.
Ada juga pelanggan dari Indonesia yang "menjadi kenangan yang tak begitu
sedap", tetapi kukira hanya sekedar luapan keadaan saja, ketika rezim
Orba-Suharto-Abri masih jaya-jayanya ketika itu, di mana kami sedang
terpuruk-puruknya. Begitu sampai dan baru saja duduk sudah "menyerang dan
cukup agresif" dengan banyak mengumbar kata-kata yang cukup
menyakitku, menyakitkan kami.
"Sudah lama, Pak, buka resto ini"?
"Ya, baru sekitar lima tahunan".
"Pernah pulang nggak"?
"Belum, habis belum cukup uang buat beli tiket pesawatnya".
"Resto begini laku, pelanggannya penuh, kok bilang belum cukup uang buat beli
tiket. Belum cukup uang atau memang belum berani pulang?!". Agak keras
ucapan itu dikeluarkan. Dan aku terhenyak sebentar, berusaha keras untuk
menguasai diri. Berani-beraninya berkata demikian, dan tidak sopan berkata
begitu, baru saja duduk meletakkan pantat di kursi, belum kenal. Pelanggan
itu empat orang, semuanya belum pernah kami kenal rupa dan wajahnya. Yang
menanyakan secara demikian ada dua orang. Rambutnya cepak, agak
pendek, perawakannya tegap dan bermuka agak bersegi, tampaknya keras dan
siapa tahu juga buas!
"Dari mana semua bumbu dan rempah-rempahnya dibeli, Pak"?
"Sebagian dari sini juga, di Paris. Tetapi ada juga kami harus belanja ke
Holland, karena hanya ada di Holland. Misalnya
kecap-manis, kemiri, daun-salam, kencur, tempe".
"Nah, itu, kalau ke lain negeri tentu lebih mahal, sebab sudah melalui tangan
kedua, ketiga dan seterusnya. Tapi kalau di tanahair sendiri, tentu akan lebih
murah. Soalnya berani apa nggak buat pulang. Itu soalnya!"
Aku sudah sangat sulit menahan diri. Tadi sudah kukabarkan kepada
teman-teman dapur, ada orang yang tampaknya mau provokasi. Kulirik ke arah
dapur, beberapa teman mengawasi pelanggan itu dengan mata
yang hanya aku lebih mengenal teman-temanku. Sekarang tugasku ada dua!
Menentramkan kemarahan teman-teman itu, dan menentramkan diriku sendiri agar
jangan sampai terprovokasi!
"Nah, bagaimana, Pak? Benar nggak kata saya itu. Sekarang ini di Indonesia
aman-aman saja, barang murah, harga stabil, kemakmuran meningkat dengan
nyata, tidak seperti zaman Sukarno yang mau komunis itu. Cobalah
sekali-sekali pulang, lihat sendiri dengan matakepala sendiri! Jangan
berprasangka dari jauh saja dong!"
Dan aku merasa memang harus dijawab, tapi benar-benar harus berkepala
dingin. Ucapkankah dengan tenang, masukakal dan beralasan, jawablah dengan
baik, tidak dengan marah-marah, kataku kepada diri sendiri.
"Pak, ada keberatan saya dengan ucapan Bapak tadi. Bapak mempersoalkan saya
atau mungkin kami, tentang soal berani atau tidak pulang ke Indonesia
sekarang ini. Dan saya sebenarnya sangat ingin berkata banyak soal ini.
Tetapi karena tempat ini sebuah resto, dan tugas kami di sini melayani
orang-orang datang makan, seperti Bapak dengan teman-teman Bapak ini, maka
sebaiknya kami tidak melayani sebuah diskusi politik apapun. Tugas kami
melayani dengan sebaik-baiknya sebagaimana layaknya sebuah restaurant. Jadi
maaf saja kalau saya tidak menjawab apa kemauan Bapak dengan pertanyaan dan
kata-kata itu tadi", kataku dengan usaha keras agar diucapkan dengan tenang.
Orang itu tampaknya tidak begitu puas dan terdiam agak lama. Teman-teman
dapur sudah pada gelisah, mau keluar mau melihat "tampang" orang itu. Aku
berusaha menentramkannya yang padahal aku sendiri juga mungkin sebenarnya
jauh lebih bergelora dari mereka.
Sukurlah hari itu tidak tejadi apa-apa. Maksudku, kami tetap seperti
biasa, dan samasekali tidak terprovokasi. Kejadian ini sudah lama
sekali, tetapi ada lagi kejadian seakan-akan sebuah interupsi. Ketika aku
sedang bertugas di bar, datang seorang muda tegap-gagah, berambut cepak
west-point. Dia datang mendekati diriku.
"Apa kabar Pak, baik?", katanya seakan ramah.
"Baik Pak, Bapak apa kabar? Dari mana saja ini?", kataku membuka percakapan.
"Ya, kalau saya, datang ke mana saja selalu ada tugas, mengemban tugas.
Seorang seperti saya, selalu saja ada tugas, dan tugas itu dari negara. Saya
dari kopassus, tahu kopassus?!". Kontan kujawab.
"Tahu benar, Pak. Saya kira tak ada orang Indonesia yang tak tahu itu
kopassus", kataku kontan.
Kelihatannya orang itu entah senang entah tersindir, tak tahulah aku! Tapi
nama kopassus kok berani-beraninya dia bawa sampai ke Eropa ini. Padahal
nama itu sudah begitu busuk dan jahatnya!
Sukurlah dialog yang saling tak ramah itu berakhir hanya sampai disitu
saja. Tapi padaku mengendap rasa penasaran yang tak selesai-selesai. Siapa
yang tak kenal kopassus yang tukang-culik dan spesialis pembunuh itu!
Tetapi juga siapa tahu orang itu hanya sok-sok saja mengaku kopassus. Hanya
dapat diambil kesimpulan, menggunakan penyebutan nama itu hanya sebagai
pamer kekuasaan dan kekuatan buat menakuti orang, atau sekedar gertak
saja, atau ada hal lainnya, tetapi bagaimanapun "mengolahnya" tetap saja
negatif!
Tamu-tamu kami yang berjenis demikian sangat sedikit, dan kalau secara
global dipukulratakan, hanyalah satu-dua persen saja, tak berarti bisa
mempengaruhi jalannya resto dan kehidupan kami secara keseluruhan. Dan kami
tetap saja bergembira menerima orang-orang Indonesia, yang kami rasakan
sedulur, yo sanak yo kadang juga adanya. Dan kami sudah tentu membedakan
mana yang baik dan mana yang kurang baik. Kalaupun hal ini kuceritakan
anggaplah hanya sebagai intermezzo dalam sebuah cerita
kehidupan panjang dalam rentetan kehidupan kami.
Pada ummnya teman-teman Indonesia yang datang ke resto kami itu, mungkin
juga mau tahu, yang seperti apa sih restauran Indonesia yang katanya resto
kaum-pelarian-politik itu! Dan ini memang bukan suatu rahasia lagi, sudah
terlalu banyak ditulis, baik yang mau mengangkat kami maupun yang mau
memperpurukkan kami lagi sedalam-dalamnya. Tapi bagaimanapun bukankah kami
harus survivale, harus bertahan hidup? Dan hidup itu haruslah
bermasarakat. Karena itu kami membutuhkan banyak teman, banyak sahabat, banyak
kerabat. Dan karena itu pula kami harus selalu tampak jernih terbuka dan
ramah, selalu senyum, jangan sampai tampak seperti mau cari gara-gara saja!
Pernah kami berpendapat, kalau tak bisa senyum, tak bisa ramah, tak bisa
berkomunikasi, lebih baik tidak usahlah jadi seorang restaurateur. Mungkin
benar pendapat ini, tetapi juga mungkin ada kekurangannya.
Paris 30 Maret 1999
Bab 19 :
Pendapat dari Luar
Setiap kami mengadakan peringatan atau perayaan ulangtahun resto pada
tanggal 14 Desember, kami selalu memperingatinya dan merayakannya bersama
banyak teman. Teman kami semua, termasuk mengundang
pelanggan-setia, client-fidele. Hari itu kami bebaskan, benar-benar
undangan, artinya tidak bayar. Biasanya kami adakan beberapa hari sesudah
tanggal tersebut atau sebelumnya. Kami sesuaikan dengan keadaan kongkrit
resto dan banyak teman kami. Adakalanya juga tepat pada tanggal 14
Desember.
Pada ulangtahun ke 10, - kami sudah membereskan hutang-hutang besar.
Hutang-hutang besar itu adalah yang kami bayarkan kepada badan-badan yang
meminjami kami uang dari puluhan ribu francs sampai ratusan ribu francs.
Boleh dikatakan setelah lebih 10 tahun resto jalan, pada pokoknya kami sudah
melunasi hutang. Termasuk kepada bank. Kami berusaha keras dan yang kami
dulukan yalah membayar kepada bank, daripada kepada badan lain. Tentu ini
ada maksudnya. Agar kami dapat kepercayaan dan pada waktu tertentu, bisa
lagi berhutang. Sudah tentu kami tetap saja masih punya hutang-kecil kepada
grosier barang-barang yang mendistribusi kebutuhan resto. Misalnya
minuman, atau daging-dagingan, atau sayuran. Dalam hukum perdagangan
sebenarnya kami baru tahu, adanya hutang tertentu itu, juga cukup penting
artinya! Tidak ada satu perusahaanpun yang samasekali tak punya hutang!
Selalu ada hutang, baik perusahaan kecil, apalagi perusahaan besar. Mengapa?
Itu artinya kepercayaan, orang masih mempercayainya, kepada si penghutang.
Hutang artinya credit, dalam bahasa Perancis artinya croire, croit, artinya
percaya, kepercayaan! Bayangkanlah, yang pengertian credit(kredit) itu adalah
kepercayaan!
Jadi ada baiknya punya hutang itu, artinya orang masih mempercayai dirikita.
Sudah tentu kalau sudah terlalu banyak, justru orang akan berbalik menjadi
tidak akan lagi mempercayainya, crois pas!
Selama resto kami berdiri, sudah dua kali kami tertimpa krisis dan sangat
kritis. Karena sangat kurang dana dan pernah defisit besar, sangat kurang
pemasukan keuangan, maka kami para pendiri resto dan anggota koperasi, dengan
rela berkorban untuk tidak menerima gaji dalam beberapa bulan. Tentu kami
melihat dan mempertimbangkan secara kongrit keadaan masing-masing teman.
Tidak boleh mengambil pukul-rata pada semua teman. Sedangkan kepada pekerja
dan pegawai yang bukan pendiri dan bukan anggota koperasi, kami bayarkan
sepenuhnya, utuh sesuai dengan haknya.
Ada patokan beberapa hal mengenai resto kami. Resto setiap hari harus
menerima pemasukan keuangan minimum 6000 francs. Satu bulan harus masuk
uang sekitar 180.000 francs. Kalau setiap hari kami hanya menerima 5000
francs, dan satu bulan hanya 150.000 francs, maka sudah pasti resto ini dalam
tiga bulan
pasti bangkrut! Sukurnya dan alhamdulillah, belum sampai terjadi begitu lama
krisisnya. Pelanggan makan-siang biasanya rata-rata mengeluarkan uang
antara 60 sampai dengan 90 francs. Kalau malam hari, makan-malam pada
umumnya antara 100 sampai dengan 140 francs.
Pelanggan makan-siang rata-rata belasan orang. Kurang dari 10 orang, kami
katakan jelek. Di atas 20 orang kami katakan bagus. Malam hari, makan-malam
rata-rata 30 orang. Kurang dari 20 orang, kami katakan jelek, di atas 40
orang kami katakan bagus. Tetapi kalau week-end, Jumat dan Sabtu malam lain
lagi ukurannya. Jumat dan Sabtu malam, bila kurang dari 40 orang kami
katakan jelek. Bila di atas 70 orang kami katakan bagus. Pernah sampai
lebih 100 orang, ini namanya excelent, hebat! Hampir setiap Sabtu malam kami
selalu menolak pelanggan karena tak ada tempat. Kini sejak tahun lalu
1998, selalu pada setiap Jumat kami adakan pertunjukan tari-bali. Dan pada
hari itu, karena ada pertunjukan maka harga makanan menjadi lain. Paling
murah seharga 99 francs dan yang termahal seharga 149 francs. Semua ini
harga rijsttafel, yang banyak jenisnya dan komplit. Walaupun harganya
dinaikkan, tokh pelanggan dengan senang hati membayarnya, dan memang karena
ada spectacle itu, pertunjukan tari-Bali.
Kami menyediakan buku-tamu, livre d'or. Kini sudah sebanyak 19 jilid yang
tebal-tebal. Pada pokoknya semua terisi bahkan sudah penuh, tak ada tempat
menulis lagi. Segala macam tulisan, segala macam bahasa ada. Ada bahasa Arab
dengan tulisan Arab, ada bahasa Tionghoa dengan tulisan Tionghoa. Bahkan ada
bahasa Jawa dengan tulisan Jawa yang aku sendiri tak mengerti sedikitpun.
Ada bahasa Hindi dengan tulisannya sekaligus. Sudah tentu yang terbanyak
adalah bahasa yang di Eropa, seperti bahasa
Perancis, Inggeris, Spanyol, Russia, Jerman, Italia dan Eropa Utara.
Isi tulisannya tentu saja banyak pujian. Juga ada tulisan yang nakal.
Misalnya pada kata pengantar dan sambutan Presiden Miterrand, ada yang
menulis tambahannya, katanya "Presiden Miterrand itu adalah Oomku, keluargaku
lho"! Ada tulisan mengenai makanan kami, "better than Amsterdam", katanya.
Tentu saja ucapan begini samasekali tidak menjadikan kami bangga dan lalu
puasdiri dan sombong. Sebab rasa dan selera makan itu juga banyak
tergantung pada perseorangan yang sangat relatif.
Ada beberapa tamu, pelanggan yang pernah menulis, lalu selama lebih 7 atau 8
tahun baru lagi kembali dan makan di resto kami. Nah, dia ini mau melihat
tulisannya dulu itu. Tentu saja sangat sulit mencarinya, sebab tidak tahu
ada di buku yang mana, dan tak ada petunjuk halamannya. Tetapi pelanggan ini
terus dengan tak kenal susah mencarinya, menelitinya sebanyak belasan
buku, dan dapat! Betapa gembiranya dia, dengan tertawa gembira ditunjukkannya
kepada temannya dan kepada kami semua. Yang begini ini tidak hanya dua-tiga
orang, tetapi banyak orang, dan sering. Mereka rupanya membuat
kenang-kenangannya sendiri. Dan ada pelanggan yang hanya mau tahu saja, apa
saja isi buku itu. Dan tahu-tahu mengenal orang yang menulis di suatu
buku, dan ternyata memang temannya sendiri. Maka mereka pada tertawa
senang-gembira.
Ada juga yang bernada menyindir. Pelanggan itu tahu bahwa kami mengadakan
usaha resto dengan bentuk koperasi bukan perorangan. Sedangkan koperasi
pada umumnya adalah "jalan sosialis, bukan kapitalis". Maka menulislah
pelanggan itu, "le socialisme est comme un rambutan, rouge en dehors, blanc à
l'intérieur", sosialisme kayak rambutan, di luarnya saja merah, di dalamnya
sih putih! Kami senyum-senyum ketika membaca sinisme ini. Semua pendapat
harus kami dengar dan terima dengan hati yang ikhlas dan rendah-hati.
Ada pelanggan dari Indonesia yang menulis, isinya menyatakan kita harus
seperti Ibu Tien, harus cinta Indonesia, cinta masakan Indonesia. Itupun
pendapat yang kami kira harus juga kami hargai, lepas dari siapa kata-kata
itu. Kami samasekali tidak boleh memperpolitikkan makanan. Biarlah mereka
yang berbuat begitu tapi jangan dirikita. Karena pihak mereka yang
menyerukan agar jangan makan di resto Indonesia, resto kami, karena kami ini
katanya orang-orang pelarian, mereka anggap orang buangan.
Tidak sedikit pelanggan atau orang-orang yang datang kepada kami hanya
bertanya banyak hal tentang Indonesia. Padahal sebenarnya tugas ini adalah
tugas KBRI-Ambassade. Dan sudah tentu kami jawab sebagaimana adanya dan
yang kami tahu. Selain itu kami anjurkan agar mendatangi perguruan-tinggi
atau universitas yang mengajarkan tentang Indonesia, di mana Ibu Farida
Sumargono dan Pak Labrousse mengajar. Di sana banyak akhli tentang
Indonesia. Atau bahkan kami anjurkan juga agar datang ke
KBRI-Ambassade, karena memang itu tugas pekerjaannya.
Paris 30 Maret 1999
Bab 20 :
Pendapat dari Luar
Ada kelainan antara resto kami dengan resto pada umumnya. Kelainan itu
menurut banyak pendapat dari luar dan setelah kami sendiri mengamatinya
dengan cermat, ada persamaan pendapat antara kami dengan pendapat
luar. Terutama tentu saja resto kami berbentuk koperasi. Resto dengan sistim
koperasi hanya ada tiga di seluruh Paris ketika itu. Koperasi artinya
kerjasama antara anggotanya, diatur bersama. Terbuka dan transparan antara
anggota. Tidak ada majikan, tidak taokenya. Pembagian tugas-kerja, ada yang
menjadi penanggungjawab-umum, ada yang menjadi penanggungjawab bagian, dan
ada tugas-tugas tertentu setiap teman. Sehingga semua teman mendapat tugas
yang saling berhubungan.
Ketika kami sangat capek, lelah-letih, loyo karena kebanyakan kerja, lalu mau
marah, mau maki. Tetapi marah kepada siapa, maki kepada siapa? Semua juga
adalah pekerjaan bersama. Tak ada majikan atau taoke yang harus kami maki
dan marahi. Semua juga sama tugasnya, hanyalah pembagian kerja saja. Mau
minta tambahan gaji, mau naik gaji, mau mengadakan pemogokan, lalu kepada
siapa ditujukan? Wong semua pekerjaan dan pendapatan dibagi adil, sama rata
dan sesuai dengan jam-kerja yang ada. Karena itu kami semua merasakan bahwa
pekerjaan ini adalah pekerjaan demi kepentingan bersama. Bukan buat si
A, bukan buat Pak Markam secara pribadi, bukan buat keluarganya. Tetapi demi
semua teman yang tergabung dalam kesatuan koperasi ini.
Karena itu ketika kami ditimpa krisis dan sangat kritis selama dan sebanyak
dua kali itu, semua teman dengan rela menyerahkan pinjaman uangnya demi
suntikan dana buat resto. Dan rela tak menerima gaji sekian bulan. Kami
sering berkata saling menghibur-diri, selagi kita punya resto ini, jangan
kuatir, minimum kita tidak akan mati kelaparan! Dan memang benar. Selama
kami tidak menerima gaji, adanya resto sangat membantu "pertahanan-dapur"
masing-masing, sehingga kami dapat makan kenyang walapun tak ada uang di
kantong. Pekerjaan resto selalu terbuka-transparan, ada rapat-rapat secara
demokratis, pemeriksaan bersama keuangan, perbelanjaan dan perhitungan
lainnya. Kami sebut hari "kemisan" karena selalu pada hari Kemis kami
adakan rapat. Memang pernah tak dapat memenuhi jadwal secara teratur
ketat, karena ada soal-soal dan kegiatan lain yang lebih mendesak. Tapi satu
hal, paling lambat, sebulan sekali harus ada rapat pegawai-pekerja.
Apa lagi lainnya kami ini dengan resto lain? Kami bukan dan tidak hanya
cari makan tok, cari uang dan nafkah ansich. Di resto kami selalu mengadakan
kegiatan kulutral. Misalnya selalu ada pameran
lukisan, foto, kerajinan-tangan, yang semuanya bersifat memperkenalkan
budaya-adat-istiadat ke-Indonesia-an. Pameran foto tentang budaya dan
adat-istiadat Toraja, Irian Barat dengan suku asmatnya sudah beberapa kali
kami adakan. Seorang fotographer Le Thomas banyak memperkenalkan tentang
jenis perahu sepanjang pantura, pantai utara - Jawa. Berjenis perahu
nelayan. Sebelum itu Thomas banyak mengabadikan kehidupan anak-anak di Jawa
dan Bali.
Setiap Jumat malam, kami adakan pertunjukan tari-bali. Kami serahkan kepada
mereka, para penari itu sendiri untuk mengatur dirinya, siapa yang akan
menari pada Jumat ini atau Jumat depannya, bergilir. Para seniman Bali ini
punya organisasi semacam "banjar"nya seperti di Bali, mungkin. Sehingga
mereka sangat teratur dalam memenuhi jadwal yang kami serahkan pada mereka.
Saling pengertian kerjasama demikian sangat membantu antara kami.
Para pelanggan selalu banyak bertanya yang sifatnya ke-Indonesia-an, berapa
luas Indonesia itu, berapa banyak pulau-pulaunya, sukubangsanya, dan bagaimana
adat-istiadat setempatnya, dan berbagai persoalan yang mereka mau tahu.
Selagi kami sendiri tahu dan mengerti persoalannya, selalu kami berikan
jawabannya. Dan mereka puas. Jadi antara mereka dan kami tidak semata-mata
hubungan makan dan minum saja, tetapi menyangkut urusan sosial-kultural.
Sudah tentu resto kami tidak mengadakan kegiatan politik apapun. Mau
berpolitik silahkan di luaran, jangan di resto! Resto adalah tempat
pertahanan kehidupan banyak teman, sedangkan teman-teman itu belum tentu
satu dalam pandangan politiknya! Karena itu biarkanlah resto dengan
tugasnya sendiri, dan tidak memasukkan kegiatan politik. Kegiatan
sosial-kultural-, yes! Kegiatan politik praktis -, no! Pada pokoknya
demikianlah isi resto kami.
Di mata banyak pelanggan kami yang benar-benar dekat dan mengenal
kami, mereka mengatakan dan berpendapat, seakan-akan kami ini juga bagaikan
misi kedutaan, misi persahabatan. Mereka tahu dan saling cerita
sesamanya, bahwa di resto Indonesia itu, bukan resto biasa. Kebanyakan
pendiri, pagawai dan pekerjanya adalah kaum intelektuil, kebanyakan sarjana.
Dan memang, kebanyakan teman-teman banyak yang sudah bergelar sarjana. Ada
sarjana, insinyur permesinan, pertanian, listrik-elektronik, dan bahkan
profesor-mahaguru bahasa dan sastra. Tetapi semua ini tidak mungkin
menuruti jelujur jalannya profesi dengan yang ada di Perancis. Perancis
tidak mengakui semua diploma yang berasal dari negeri sosialis! Ada teman
kami yang sudah lama praktek kedokteran di sebuah negeri sosialis, dan punya
tiga jenis diploma, juga sebagai akhli percangkokan. Tetapi sampai kini
sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah hospital dengan pangkat jururawat!
Padahal pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan dokter. Ini
menguntungkan pihak hospital, apanya? Gajinya! Dengan pangkat jururawat
artinya gajinya juga dengan pangkat sesuai jururawat. Pekerjaannya sebagai
dokter, tetapi pangkatnya jururawat, bukankah dapat juga dikatakan sebagai
bentuk penghisapan yang terselubung?
Lagipula ketika itu kebanyakan dari kami belum secara baik berbahasa
Perancis. Mana ada yang mau menerima teman-teman tersebut untuk dapat
bekerja di kantoran dan perusahaan. Dan ketika itu "pangkat" kami masih
sebagai refugee, kaum pengungsi politik. Mana ada jawatan Perancis yang mau
menerima kaum pelarian politik untuk bekerja! Takkan pernah ada. Dan kami
sudah mencobanya.
Ada lagi keistimewaan lain yang dilihat pandangan dari luar. Di resto kami
- secara kebetulan -, banyak sekali yang tahu bahasa asing. Yang sudah
pasti, kami banyak yang mengerti bahasa Inggeris, Perancis, Belanda, Tionghoa
dan Jerman. Lalu pernah ada pelanggan yang hanya bisa berbahasa Spanyol dan
ada yang hanya bisa bahasa Ceko(ketika itu) dan bahasa Hongaria. Dan
kebetulan, ketika itu sedang bertugas teman-teman yang dari negeri tersebut.
Kami katakan, nah ini ada teman kami yang bisa bahasa itu. Dan mereka
mulailah berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Juga kalau hanya bahasa
Russia, cukup banyak teman yang mengerti dan memahaminya. Perkara ini bagi
banyak pelanggan menjadi buahbibir untuk mereka saling bercerita bahwa
resto Indonesia itu benar-benar dikelola oleh banyak kaum intelektuil. Dan
pada kenyataannya kami banyak juga berdiskusi mengenai banyak hal yang
sifatnya penegetahuan-umum-dunia, sehingga banyak antara mereka yang merasa
"nyambung" kalau datang dan omong-omong dengan "teman-teman Indonesia" di
resto Indonesia.
Dari hal-hal kecil begini bertambah tersiarlah "keunikan" "ketipikalan"
resto kami. Dan buat kami, tentu saja suatu publisite gratisan! Ada suatu
periode kebanyakan pelanggan kami minta agar mereka diajarkan Bahasa
Indonesia. Ini pada tahun 1983 sampai dengan 1985. Karena banyak desakan
begini, kami membuka kursus Bahasa Indonesia di resto setiap hari Senen
malam, karena ketika itu hanya pada Senen malam resto kami tutup. Aku
ditugaskan mengajar Bahasa Indonesia. Murid-muridnya tentu saja orang
dewasa yang sudah bekerja dan mempunyai jabatan tertentu di instansinya.
Tetapi pada umumnya mereka punya hubungan dengan Indonesia. Ada yang
insinyur perminyakan di Total, dan ada yang bekerja di pertambangan
Cilegon, dan bahkan di perminyakan Balikpapan. Aku sangat menyukai semangat
mereka dalam belajar ini. Sangat giat, antusias, banyak pertanyaan, dan
benar-benar ingin tahu.
Aku mengajar dengan sistim yang dulu kami trapkan di Tiongkok. Selalu dalam
bahasa yang diajarkan, hantam dengan bahasa Indonesia terus, kecuali sudah
tak ada jalan lain barulah dengan bahasa Perancis. Begitu masuk
kelas, langsung berbahasa Indonesia. Seorang siswa kutanya, "berapa orang
siswa dalam kelas ini sekarang?" Lama tak berjawab. Seorang siswa lainnya
agak tidak sabaran, lalu nyeletuk dengan agak pelan agar tidak
menyolok, dalam bahasa Perancis "sebut saja ibukota Peru", katanya. Lalu
siswa itu segera menjawab, "lima" katanya. Dan kami berenam orang itu dengan
gurunya ini, aku, tertawa girang dan lucu.
Kejadian begini selalu meninggalkan kenangan indah. Pelanggan terkadang
menjadi teman dan siswa. Resto bagaikan tempat "rendez-vous" appointment
buat hal-hal yang sifatnya persahabatan antara bangsa dan rakyat. Dan
mereka merasakan akan kebutuhan untuk datang ke resto kami bukan
semata-mata mau makan dan minum, tetapi mau sekedar ngobrol dan bertanya
banyak hal. Mungkin semua perkara beginilah yang unik dan tipikalnya resto
kami dengan yang lainnya. Dalam keramahtamahan dan kehangatan banyak yang
ditulis dalam buku-tamu, livre d'or yang sudah 19 jilid, termasuk kritik dan
sindiran.
Paris 31 Maret 1999
Bab 21 :
Yang Miring - miring
Mayoritas pelanggan kami pada umumnya adalah orang-orang baik. Maksud baik
di sini bisa diajak kerjasama, jujur, saling tenggang-menenggang, punya rasa
persahabatan, ramah-tamah dan komunikatif. Misalnya ada pelanggan baru
datang sejumlah lima orang. Tetapi kurang satu kursi. Pelanggan yang sedang
duduk di sebelahnya, kami minta apakah bisa pindah ke sebelahnya lagi agar
yang lima orang rombongan-kecil ini bisa disatukan. Pelanggan ini selalu
akan dengan senang hati bersedia pindah ke sebelahnya atau ke tempat
lain, agar dapat memberi kesempatan kepada rombongan-kecil itu berkum-
pul bersama.
Ada pelanggan dua orang duduk di meja nomor 3 misalnnya, dan kebetulan punya
kenalan yang duduk di meja nomor 1 atau nomor 5. Mereka ngobrol, tetapi
sayangnya dibatasi oleh pelanggan yang duduk di meja nomor 2 atau nomor 4.
Melihat keadaan begini, pelanggan yang duduk di meja nomor tersebut akan
dengan rela mau bertukar-tempat agar tetangga di sebelahnya bisa bebas
ngobrol dengan pelanggan di meja nomor 3. Terkadang kami bantu dan kami
menjadi perantara buat menyampaikan maksud demikian. Tetapi adakalanya
antara mereka sendiri yang punya inisiatif buat saling pindah agar bisa be-
bas ngobrol.
Ada pelanggan yang dengan sukarela datang ke bar dan menyatakan bahwa kami
tidak memasukkan harga kopi, atau nasi-tambahan, karena terlupa. Ada yang
bahkan makan sekian porsi tetapi kami menghitungnya hanya satu porsi, lupa
menulisnya. Mereka akan datang sendiri, agar kami memperbai-
ki kesalahan kami dan menambahkan harganya. Kami menyatakan sangat
terimakasih akan kejujurannya dan maafkan akan kekeliruan dan kesalahan
kami. Dan ada yang datang ke bar lalu menyatakan bahwa kami salah dalam
mengembalikan uangnya, karena berlebih sekian francs, dan uang kelebihan itu
mereka kembalikan kepada kami. Lagi-lagi kami minta maaf akan kekeliruan kami
dan mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikannya.
Juga ada yang datang ke bar menyatakan bahwa kami salah dalam menghitung
karena dia tidak pernah memesan makanan itu. Dan ketika kami periksa, memang
benar, kamilah yang salah. Ini merugikan mere-ka, sebab kelebihan dalam
tagihan bayarannya. Dan kami sangat minta maaf atas kelalaian kami ini. Dan
kami juga berterimakasih karena dia mau menunjukkan kesalahan kami, artinya
kami bisa dan menemukan kesalahan kami dalam pekerjaan. Kejadian yang begini
cukup sering. Kapan selalu terjadi demikian?
Biasanya kalau terlalu banyak tamu, pekerjaan numpuk dan tegang. Atau ketika
kami yang bertugas sedang tidak dalam kondisi yang prima. Tetapi kerjasama
demikian selalu kami alami. Dan sangat menyenangkan.
Yang tidak jujur, yang mau berselingkuh, sudah tentu ada saja. Tetapi
sangatlah minoritas, belum dapat dikatakan berkecenderungan akan
merugikan resto. Angka statistiknya sangat rendah. Namun demikian
kalau itupun terjadi, tetap saja kamilah yang harus periksa-diri, bahwa
pekerjaan kami belum baik. Masih ada kekurangan di sana-sini, dan harus
meningkatkan kerapian, ketelitian dalam bekerja.
Seseoang pelanggan secara kebetulan bertemu dengan temannya di resto.
Temannya ini berdua dengan isterinya. Dan ketika isterinya perlu ke
belakang, teman tadi dengan ramah dan jenaka bertanya, "masih dengan dia juga
ya, yang dulu itu kan?", katanya. Dan yang ditanya menjawab "masih, saya masih
betah dan kebetulan dia juga masih tahan dengan saya", katanya. Rupanya
sepasangan suami isteri tadi "sudah lama" menjadi suami isteri, tapi kok
betah terus menerus begitu, kok nggak ganti! Ini percerminan masara-kat di
Paris atau Perancis mungkin, bahwa "saling-ganti pasangan" adalah biasa.
Orang suami isteri yang dilihatnya awet bertahun-tahun saja, kok diherankan,
ditanyakan, kenapa kok bisa awet, dan kenapa kok tahan amat, tidak ganti-ganti
dari dulu! Sudah tentu tidak semua terjadi demikian, tapi mungkin arus-besarnya
dan di kota besar begini, ada alasan buat berpikir demikian.
Ada anak mahasiswa di kalangan keluarga sendiri, wanita muda, cantik, dari
Jakarta. Selama di Paris beberapa bulan tinggal di rumahku. Dia memanggilku
kakek. Dia ini amat lincah, gesit dan suka membuat anak-anak muda lainnya jadi
gemas, karena cantik dan genitnya. Dari bar yang letaknya agak tinggi, akan
terlihat nyata setiap pelanggan yang datang. Fana, sebut saja begitu, wanita
muda itu selalu akan menilai setiap pelanggan masuk. Dari dialah ada istilah yang
aku baru tahu bagaimana cara menyebutkannya.
Misalnya seorang perempuan muda tetapi dadanya agak datar, dikatakan "lihat
kek, itu sih telor-dadar namanya", atau yang benar-benar datar, dikatakan "nah
itu yang namanya papan-sejahtera". Kalau kebetulan dada itu berisi, maka
akan dikatakan "lihat kek, yang begini ini namanya papaya-ranum" atau yang
lebih asik lagi akan dikatakan "nah, ini kek, yang dinamakan semangka-siam,
coba lihat, masaksih kakek nggak tergiur sedikitpun, jangan munafik kek!", kata
Fana menggoda. Gila dia! Cewek bisa ngomong begitu atas cewek juga!
Sudah tentu berbagai macam pelanggan datang ke resto kami, berbagai
tingkah, berbagai laku. Ketika mu-lai memasuki hawa hangat, menuju musimsemi
dan di ambang musim-panas, pakaian berbagai warna dan model. Paris kota mode
sedunia. Di samping "pamer" pakaian, juga pamer pakain-alam, tanpa terselimu-
ti alas apapun. Misalnya dengan punggung yang terbuka, dengan
dada-pualam-penuh yang bagaikan mau melongok dan meledek orang lain, dan
berbagai "pancingan" buat mata yang selalu nanar dan nakal. Mungkin
diam-diam termasuk sekalipun mata seorang kakek!
Pelanggan kami suka benar berlama-lama duduk sambil ngobrol di resto. Dulu
pada mula pertama kami buka resto ada perasaan dongkol, marah kepada orang-
orang begini. Tetapi kami segera mengadakan rapat dan berdiskusi, bagaimana
menghadapi keadaan demikian. Kami semua orang baru dalam usaha resto.
Kami datangkan teman sekerja kami yang juga punya resto berjenis koperasi
seperti kami, orang Perancis. Dia memberikan pengalamannya kepada kami.
Yang paling pokok, tamu tidak boleh dikasari, sekali-kali jangan sampai mengusir
tamu! Hidup kita secara kasarnya adalah tergantung pada isi kantong para tamu!
Tetap masik relevan kalau menganggap tamu dan pelanggan adalalah raja!
Dan kami berusaha keras menuruti cara-cara kerja yang baik.
Kalaupun kita minta dan mengharapkan sesuatu pada tamu, misalnya hari sudah
terlalu malam, sudah sangat larut sampai lewat jam 24.00, sedangkan kami
harus pulang dengan metro, kereta, bisalah kiranya kami menutup resto dalam
beberapa menit ini, mintalah dengan sopan dan hormat. Maka mereka akan
dengan sopan pula memenuhinya. Samasekali jangan marah-marah, merengut
dengan muka bersegi delapan!
Di ruangan bawah(tanah) pada pokoknya tamu sudah pulang, tinggal dua wanita
muda. Mereka sangat asik bicara. Ketika aku turun mendatangi mereka, sedang
asik cerita, bicara dan tampaknya sangat akrab.
Mungkin saling cerita perasaannya masing-masing. Kutanyakan apa boleh
sekiranya aku juga duduk bersama mereka dan kita minum kopi lagi. Ternyata
mereka tidak keberatan. Apakah aku terlalu kurang-ajar, aku juga tak
hiraukan sangat.
Yang satu bernama Maeva dan yang satunya lagi bernama Bebe. Maeva orang
peranakan Tahiti-Jepang, cantik, berkulit agak kekuningan, sangat halusnya.
Bebe orang Perancis, orangnya agak "kasar-buatannya". Kukira dia berlaku
sebagai pria-bayangannya. Maeva benar-benar halus, bicaranyapun se-
akan berbisik-bisik. Kami berkelakar tentang banyak hal. Tentang alam di
lautan-teduh, di Bali, dan lain lain. Bebe seorang perokok berat. Sudah
kehabisan rokok. Dia permisi ke luar buat beli rokok. Ada kios rokok dekat
plaza Sorbonne tak begitu jauh dari resto.
Dan kami berdua Maeva ngobrol ngalor-ngidul. Maeva berumur 24 tahun. Hari
semakin larut, hangat menjelang musimpanas membikin semua pada bangun.
Obrolan dari yang tadinya masih agak lurus lalu menjadi miring. Dan Maeva
cukup pandai meladeni obrolan yang agak miring ini. Ketika menurut
perasaanku sudah waktunya kukatakan baik-baik, dengan pelan dan agak sedikit
mengandung rayuan, kukatakan :
"Kenapa mesti terjadi begini, Maeva? Anda sangat cantik, sangat menarik, juga
brilyan. Mengapa tidak hidup secara normal saja. Saya kira sudah waktunya
Anda berbalik dan menjadi wanita normal". Maeva tidak menjawab dan dia diam
lama, terpekur, merenung jauh. Lalu bangkit mau menuju ke belakang. Aku
mengikutinya. Sampai dekat kaca di sebelah toilet, dia menyisir rambutnya
yang kusut. Dan aku tetap terus mendekatinya, merapat.
"Kau dengarkah saya ngomong tadi itu Maeva"?
"Saya dengar, tapi sekarang saya tak bisa. Bebe terus saja mendekat dan
merapat, dia amat keras pada saya".
"Maeva, sangat sayang, sangat sayang, kau begitu cantik dan menarik, hanya di
habis-habiskan begitu saja oleh perilaku yang sebenarnya sangat aneh dan
tidak normal", kataku sambil merapatinya dan mencium bau rambut yang wangi
itu.
Mungkin aku sedang dalam alam ketidaksadaran, sehingga berani dan
lancar-lancar saja mengucapkan kata-kata yang berbau biusan, rayuan yang
bisa menenggelamkan.
"Maeva, kau benar-benar sangat cantik. Kau jangan marah Maeva, dan maafkan
aku..........", kataku sambil memeluknya dan mencari bibirnya yang selalu
basah itu. Dan Maeva sangat rapat-erat dipelukanku, tidak memberontak, tidak
melawan tetapi menuruti. Aku semakin menggila. Tersedar diri, sebentar lagi
akan segera datang Bebe dari membeli rokok tadi.
"Lain, kau sangat lain", katanya setelah kami berlepasan dari pelukan.
"Sudah tentu lain dengan Bebe, kan?", kataku berpura-pura bodoh. Dan benarlah
tak lama datang Bebe dengan rokoknya di tangan. Bebe dengan mata elangnya
menatapku. Apakah dia curiga? Apakah terasa padanya bahwa kekasihnya sesama
jenis ini sudah mau berubah? Tak tahulah aku. Tapi benar-benar aku mau agar
Maeva menjadi wanita normal. Sangat sayang begitu cantik, begitu
menarik, pintar-cerdas tapi hanyalah kaum lesbian. Tidak hanya pasangan ini
saja pasangan lesbian yang datang ke resto kami. Juga terdapat pasangan
homo.
Ketika mau pulang, sekali lagi aku mencium Bebe dan Maeva pada pipi. Tampak
Bebe sangat memperhatikan diriku, karena itu dengan tangan nakalku, sambil
mencium Maeva kuremas lengannya
dengan agak keras. Kuantar mereka sampai tangga resto, karena pasangan
itulah tamu terakhir kami. Beberapa bulan sesudah itu, datang lagi
Maeva, tetapi sendirian. Aku benar-benar heran.
Maeva langsung mendatangiku, dan kami saling mencium, tapi secara
sopanan, tidak seperti dulu itu!
Setelah dia duduk baik-baik dan tenang-tenang, lalu berkata
"Sekarang saya agak lega, dan sedikit senang", katanya.
"Bebe sudah mulai marah-marah terus, dan saya lama-lama bisa memisahkan
diri. Dan ternyata Bebe-pun tidak terus-menerus mencari saya. Saya merasa
agak bebas. Tetapi kau jangan seperti malam itu dulu
akh", katanya dengan ramah pula dan terusterang.
"Artinya kau kan sudah punya pacar yang benaran, kan ", kataku bertanya.
"Semoga begitulah. Dan kita harus berteman biasa saja, apakah kau bisa
terima cara begini?", katanya padaku. Dan aku memeluknya dengan sayang,
mungkin dirasakannya sebagai bapaknya, samasekali tidak seperti malam dulu
itu. Aku sangat menyedari, janganlah seperti pungguk merindukan
bulan, tahu-tahu diri-lah. Sekedar dapat dan bisa menyedarkannya sudah
merasakan senang dan bahagia. Soal dulu itu biarlah nanti Tuhan
memperhitungkannya sebagai dosa tambahan dari dosa yang lain-lainnya yang
setiap hari numpuk.
Dan aku sukurlah bukan atau tidak termasuk seorang yang mengutamakan
emosional. Maeva kembali sadar dan balik normal sebagai wanita biasa, tentu
bukan karena aku. Tetapi memang benar aku berharap agar Maeva menjadi
wanita normal, dan Bebe kembali menjadi jenis aslinya. Dan resto kamipun
berjalan seperti biasa, tanpa banyak teman lain tahu bahwa ada seorang kakek
mengalami kejadian seperti ini.
Paris 2 April 1999
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment