Ilmu Tasawuf

Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.

Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.

Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .

Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain

Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.

Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak

Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan

Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”

Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.

Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.

Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).

Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.

Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.

Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.

Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.

Ilmu Tasawuf itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.

Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”

Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).

Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.

Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.

Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.

Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.

Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.

Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)

Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)

Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).

Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.

Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Firman Allah yang artinya,
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47)

********

Catatan tentang tasawuf dari link lain.

Sumber:

http://ummatiummati.wordpress.com/2010/03/08/kisah-taubatnya-salafy-tobat/

Dalam Thareqat bukan hanya diajarkan wirid saja. Tapi diajar banyak sekali ilmu-ilmu utk mendekatkan diri kepada Allah.

Karena ilmu dan dzikir adalah dua perkara yang tak boleh dipisahkan, keduanya sama2 untuk mendekatkan diri kpd Allah.

Tharekat adalah untuk mengangkat ilmu2 islam (aqidah, fiqh, muamalat, mu’asyarat, ahlaq) dari teori kedalam amal perbuatan yang dilakukan secara istiqamah, ikhlas dan ikut sunnah nabi sehingga menjadi sifat hakikat dalam dirinya….

Harus pake ijazah/izin dari guru dalam thareqat ini…..untuk membimbing kita dan agar tidak tersesat…

Ini juga disebut bai’ah sufiyah (kita berbaiat kepad mursyid untuk memegang teguh ajaran islam yg diajarkan kepadanya).

ini sangat penting dlm belajar thareqat, selain utk menjaga sanad thareqat (jika sanad ilmu terputus berarti ia tidak sambung lagi)…..juga sunnah.

ingat Nabi memberikan macam2 ba’iah. dalam kitab asyari’ah wa thareqah syaikul hadits maulana zakariya alkhandahlawi rah berkata : Bai’ah thareqat bukanlah bai’ah untuk jihad tapi bai’ah untuk mengamalkan ajaran islam dengan sempurna.

Dengan ikut thareqat bukan berarti kita berhenti menuntut ilmu, justru dgn ikut thareqat kita tingkatkan belajar kita. Karena klo kita ikut thareqat hati akan menjadi bersih shg ilmu akan begitu mudah masuk kedalam hati.

ingat nasihat imam maliki dan imam syafei :

1. Nasihat imam syafei :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahabi dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahabi…..
2. . Nashihat IMAM MALIK RA:
و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
و من جمع بينهما فقد تخقق
“ dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .

***********************************

Definisi Tasawuf
by : Ust Wahfiudin

Pandangan paling monumental tentang Tasawuf muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa Tasawuf atau Sufi muncul dari akar-akar historis, bahasa, intelektual dan filsafat di luar Islam.

Dalam buku Ar-Risalatul Qusyairiyah ia menegaskan bahwa kesalahpahaman banyak orang terhadap tasawuf semata-mata karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah firman Allah swt:

* “Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)
* ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia mendzikirkan nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A’laa: 14-15)
* “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa” (QS. Al-A’raf: 205)
* “Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 282)

Sabda Nabi saw:

* “Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)
* Tasawuf pada prinsipnya bukanlah tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah implementasi dari sebuah kerangka agung Islam. Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:
1. Muhammad al-Jurairy:
“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela.”
2. Al-Junaid al-Baghdady:
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu dan menghidupkan dirimu bersama dengan-Nya.”
“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”
“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”
“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’ dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”
“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”
“ Jika engkau meliuhat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak.”
3. Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:
“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun.”
4. Abu Hamzah Al-Baghdady:
“Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem, bunyi.”
5. Amr bin Utsman Al-Makky:
“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.”
6. Mohammad bin Ali al-Qashshab:
“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.”
7. Samnun:
“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun.”
8. Ruwaim bin Ahmad:
“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendaki-Nya.”
“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra dan memilih.”
9. Ma’ruf Al-Karkhy:
“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”.
10. Hamdun al-Qashshsar:
“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu.”
11. Al-Kharraz:
“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat di hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami.”
12. Sahl bin Abdullah:
“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.”
13. Ahmad an-Nuury:
“Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala tidak punya dan peduli orang lain ketika ada.”
14. Muhammad bin Ali Kattany:
“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf.”
15. Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:
“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”
“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya.”
16. Abu Bakr asy-Syibly:
“Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt tanpa hasrat.”
“Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah swt sebagaimana difirmankan Allah swt, kepada Musa, ‘Dan Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku’ (Thoha: 41) dan memisahkanmu dari yang lain. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya, ‘Engkau tak akan bisa melihat-Ku’.”
“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”
“Tasawuf adalah kilat yang menyala dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”
“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”
17. Al-Jurairy:
“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab.”
18. Al-Muzayyin:
“Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”
19. Askar an-Nakhsyaby:
“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.”
20. Dzun Nuun Al-Mishry:
“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk yang ada.”
21. Muhammad al-Wasithy:
“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”
22. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:
“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, ‘siapakah, yang menurutmu Sufi itu?’ Lalu ia menjawab, ‘Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit’. Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan.”
23. Ahmad ibnul Jalla’:
“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali tidak memiliki sarana-sarana duniawi. Mereka bersama Allah swt tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Allah swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya disebut Sufi.”
24. Abu Ya’qub al-Madzabily:
“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”
25. Abul Hasan as-Sirwany:
“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang mehyertainya.”
26. Abu Ali Ad-Daqqaq:
“Yang terbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, ‘Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt, untuk menyapu kotoran binatang’.”
“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya.”
27. Abu Sahl ash-Sha’luki:
“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Allah.”

Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.

Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.

sumber = www.qalbu.net

Ditulis dalam Islam, Umum | Bertanda Fiqih, Ihsan, Iman, Islam, Tasawuf, Usuluddin | 92 Komentar
Like
Be the first to like this post.
92 Tanggapan - tanggapan

1.
di/pada 21 April 2010 pada 3:52 pm | Balas badar

Ass wr wb. mungkin kalau punya referensi kepada pembaca dimana bisa mencari guru untukmempelajari tasawuf yg tdk menyesatkan kita. saya sampai saat ini belum menemukan ulama salaf untuk berguru. Wass

*
di/pada 22 April 2010 pada 2:11 pm | Balas mutiarazuhud

Walaikumsalam Wr Wb
Langkah awal bisa saja melalui buku, menurut teman saya, untuk mengawali, bacalah karya-karya Ibnu Athoillah sebelum karya-karya ulama lain yang lebih “dalam”. Nanti kebutuhan guru, Allah lah yang lebih mengetahui.

Prinsipnya kita umat muslim hanya diminta beribadah/ mengabdi pada Allah sedangkan urusan lain Allahlah yang mengurusnya sebagaimana janji Allah dalam firmanNya yang artinya,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Marilah kita berserah diri (Islam) kepada keinginan Allah.
Firman Allah,
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan.”(QS Qasas :8)

Sebagai muslim kita harus selalu “berkomunikasi” dengan Alllah untuk mengetahui pilihanNya. Setelah tahu pilihanNya, berharaplah pertolonganNya untuk dapat melaksanakan/menjalankan pilihanNya secara profesional, istiqomah dan diakhiri dengan tawakal.

*
di/pada 3 Mei 2010 pada 2:06 pm | Balas igus

ada. mau?

2.
di/pada 26 April 2010 pada 11:16 pm | Balas fuadin

setuju dengan apa yg sohib tulis . tanpa tau cara menuju itu bisa jadi nyasar. salah satu contoh para nabi menempuh ridonya dengan cara pake pesawat terbang. para wali pake perahu / kapal laut. sedangkan kita pake kaki itu juga kalau ga bantung .

3.
di/pada 1 Mei 2010 pada 6:39 pm | Balas Alamsyah

saya mau tanya, bagaimana sufi menetapkan agama (Islam) itu? dan dari mana juga sufi mengambil sumber aqidah Islam?

*
di/pada 1 Mei 2010 pada 9:03 pm | Balas mutiarazuhud

Sama seperti saudara-saudara muslim lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

4.
di/pada 4 Mei 2010 pada 7:44 pm | Balas Alamsyah

kalau memang demikian, saya ingin tanya juga, apakah ada riwayat yg menyebutkan kalau Rasulullah pernah berdzikir sambil menari-nari, bernyanyi-nyanyi, memimpin para Sahabat berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”, “Hu….Hu….”, sampai ” Huwa…Huwa…..” -sambil manggut-manggut- (seperti beribadahnya orang-orang yahudi) dengan suara yg keras sebagaimana yg biasa dilakukan oleh orang-orang sufi?
pernahkah Rasulullah melakukan perbuatan demikian?

Begitu juga Imam SYafi’i, pernahkah beliau melakukan ritual-ritual orang-orang sufi semacam itu?

*
di/pada 4 Mei 2010 pada 10:23 pm | Balas mutiarazuhud

Kalau ada muslim yang menyatakan bahwa dia mengamalkan ilmu Tasawuf namun amalannya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits maka dia adalah keliru/salah. Bukan berarti ilmu Tasawuf yang salah namun individu / kelompoknya yang kemungkinan keliru/salah

Begitu juga jika ada muslim yang mengamalkan syariat Islam dan ternyata keliru/salah maka bukan berarti syariat Islam yang salah namun individu /kelompoknya yang keliru/salah.

o
di/pada 5 Mei 2010 pada 9:49 pm Alamsyah

apakah perkataan anda itu mengartikan bahwa menurut anda amaliah-amaliah seperti berdzikir sambil menari-nari (tarian sufi), bernyanyi-nyanyi (nyanyian sufi), berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”-sampai ribuan kali- yg biasa dilakukan oleh orang-orang sufi selama ini bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits? saya ingin ketegasan sikap anda terhadap amaliah semacam itu.

o
di/pada 5 Mei 2010 pada 11:53 pm mutiarazuhud

Saya tidak mendalami amaliah-amaliah lainnya.
Sekali lagi untuk ilmu Tasawuf saya awali dari pemahaman Syaikh Ibnu Athoillah Al Iskandary.
Metode Pemahaman Tasawuf yang Beliau sampaikan lebih mudah dicerna bagi orang awam atau orang yang baru memulai memahami ilmu Tasawuf.

o
di/pada 5 Mei 2010 pada 10:04 pm Alamsyah

O iya, di dalam tulisan anda, anda mengutip perkataan Abu Yazid al-Bustami (meninggal di Bistam, Iran, 261H/ 874M) yg merupakan pendiri tarekat Naqsyabandiyah.
Mengaku berguru pada Imam Ja’far padahal dia baru
lahir 40 tahun setelah Imam Ja’far meninggal dunia.

ada juga perkataan dia yg mungkin terlewat oleh anda atau mungkin anda sudah tau, yakni ;

Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat subuh Yazid al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya: Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa’budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku).” Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.

Menurut pandangan para sufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad (menyatunya sufi dengan Allah), suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawwuf.

Dalam keadaan ittihad, seorang sufi sering mengucapkan kata-kata yang aneh, seakan-akan ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang diucapkan al-Bustami di atas (Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku). Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata: Subhani subhani, ma a’dhama sya’ni (Maha Suci aku, Maha Suci aku, alangkah Maha Agungnya aku).

Al-Bustami juga berkata: Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada di dalam jubah ini kecuali Allah).

Kata-kata seperti itu disebut syathahat (perkataan –aneh-aneh– yang keluar dari mulut seorang sufi ketika ittihad, menyatu dengan Tuhan). Dalam pandangan sufi, kata-kata itu bukan keluar dari seorang sufi tetapi kata-kata Allah melalui lisan seorang sufi tetapi sedang dalam keadaan ittihad. Bukan Dzat Allah yang berbicara, tetapi aspek Allah SWT yang ada pada diri shufi itulah yang sedang berbicara. (lihat Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 286-287)

Abu Yazid Al Busthami juga pernah berkata: “Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?!” (Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 10/37).

Jadi, yang ingin saya tanyakan, orang seperti itukah yg dijadikan rujukan anda?
-Na’udzubillaahi min dzaalik-

o
di/pada 5 Mei 2010 pada 10:57 pm mutiarazuhud

Yang saya ambil hanya pernyataan beliau semata “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. Pendapat seperti ini ada juga diutarakan oleh ulama lain.

Sebagaimana saya sampaikan dalam blog ini, untuk Ilmu Tasawuf saya mengambil pelajaran dari Syaikh Ibnu Athoillah Al-Iskandary. Silahkan antum mendalami kitab-kitab Beliau, InsyaAllah beliau berpegang teguh pada Syariat Islam.

5.
di/pada 4 Mei 2010 pada 9:16 pm | Balas badar

dari pengalaman pribadi , zikir awalnya jelas kalimatnya, namun bila diteruskan cepat maka suaranya tidak jelas lagi, juga dengan suara yang keras. baru sadar setelah mendapat hidayah bahwa ALLAH SWT itu dekat dan tidak tuli serta menyukai kelembutan. maka yang benar zikirlah dengan kalimat yang jelas, perlahan dan lembut sehingga bisa khusyuk. pada orang tertentu orang yg zikir cepat, tdk jelas kalimatnya, cepat dan goyang berlebihan, bisa dimasuki setan yang mengaku wali, baik dalam keadaan sadar ataupun kesurupan. benar seperti yang dikatakan oleh mutiara zuhud, niatkanlah ibadah demi ALLAH SWT semata mata, maka kita akan diberi ilmu yang langsung maupun melalui seorang guru.

6.
di/pada 4 Mei 2010 pada 9:52 pm | Balas badar

InsyaALLAH sy yakin RASULALLAH SAW, Imam Syafi’i Ra serta Sufi yang asli tdk akan zikir seperti orang kemasukan setan. itu adalah perbuatan orang wahabi yang menyebarkan kesesatan. apalagi ngaku Sufi terus memberi benda seperti jimat, keris, batu dll untuk dikeramatkan, jadinya kita andalkan benda rersebut, lupa bahwa ALLAH SWT pemilik langit, bumi dan segala isinya, hanya kepadaNYA kita berlindung dan memohon pertolongan. banyak orang awam yg diberi benda yg memang memiliki kekuatan, tapi darimana kita tahu apa isi benda itu sesungguhnya, kalau ada makhluk gaibnya, makanannya apa, bagaimana mengontrolnya, disinilah setan bermain, kita jadikan benda teman dekat namun kita sekeluarga disesatkan dan diserang dengan kejam!!!

7.
di/pada 9 Mei 2010 pada 8:05 pm | Balas Alamsyah

saya hanya ingin ketegasan sikap anda tentang amaliah-amaliah seperti berdzikir sambil menari-nari (tarian sufi), bernyanyi-nyanyi (nyanyian sufi), berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”-sampai ribuan kali-

sekali lagi saya tanya, bagaimana sikap anda terhadap amaliah-amaliah tsb? apakah amaliah-amaliah tsb termasuk sunnah atau bid’ah?
hanya ada dua pilihan saja mas, saya rasa pilihan seperti itu tidaklah sulit bagi seorang mutiara zuhud yg bahkan sudah ‘mampu’ mengkritisi seorang ulama besar macam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah……

*
di/pada 10 Mei 2010 pada 9:54 pm | Balas mutiarazuhud

Kita harus melakukan “verifikasi” kepada mereka yang melakukan amaliah-amaliah tersebut. Untuk itu saya merasa bukan wewenang saya secara pribadi. Kegiatan “verifikasi” seperti iitu merupakan wewenang sebuah majelis ulama dan hasilnya merupakan sebuah kesepakatan ulama atau fatwa ulama.
Saya pribadi menghindari fatwa pribadi atau fatwa kelompok yang sepemahaman saja.
Saya tidak ingin seperti saudara-saudara ku Salafy yang membuat fatwa berdasarkan metode pemahaman mereka sendiri.

o
di/pada 11 Mei 2010 pada 6:13 pm Alamsyah

saya bukannya meminta anda untuk berfatwa, keliru anda…..yang ada, saya hanya meminta anda untuk mengungkapkan apa yang anda ketahui mengenai amaliah-amaliah seperti itu berdasarkan dengan apa yang sudah anda pelajari selama ini,
lagipula, mengapa anda tidak mempunyai wewenang? bukankah anda sudah mampu mengkritik seorang ulama besar seperti Ibnu Taimiyah? masa’ untuk menentukan sikap terhadap hukum amalan seperti itu saja anda tidak mempunyai wewenang? apakah anda tidak mengetahui hukum tentang amaliah-amaliah tersebut? tentu mustahil bagi orang yang telah mampu mengkritik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti anda. itu yang pertama,

yang kedua, kalau memang anda tidak mempunyai wewenang memverifikasi hukum suatu amalan, lalu apa wewenang anda mengkritik Ibnu Taimiyah di dalam blog anda ini? bahkan sampai menganjurkan umat muslim untuk meninggalkan beliau, seorang ulamakah anda? sebandingkah ilmu anda dengan beliau?

ketiga, kalau memang anda menghindari ‘fatwa pribadi’ atau ‘fatwa kelompok’, lalu apa artinya blog anda ini? untuk apa anda membuat blog ini? padahal di dalam blog ini, anda berkata : “Saya menyarankan kepada saudara-saudara muslim Salafy, sebaiknya untuk meninggalkan metode pemahaman Salafy (Salaf ala Syaikh Ibnu Taimiyah).”, apakah itu bukan ‘fatwa pribadi’?
ternyata ucapan dan perbuatan anda tidaklah sesuai.

keempat, salafi tidak pernah berfatwa berdasarkan pemahaman sendiri, melainkan berdasarkan Al-Quran dan Hadits menurut pemahaman Salafush Shalih yakni orang-orang terdahulu yang shalih-shalih tentunya.

kelima, mengapa jika untuk mengkritik seorang ulama, anda mempunyai wewenang, akan tetapi untuk menentukan sikap terhadap amaliah yang ada di dalam kelompok atau golongan anda, anda tidak mempunyai wewenang? kenapa? kenapa? kenapa? apakah didalam tasawuf memanglah seperti itu? yakni seorang sufi di beri wewenang seluas-luasnya untuk mengkritik ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Taimiyah walaupun keilmuan mereka masih terbatas?

saya harap pertanyaan-pertanyaan saya diatas di jawab satu persatu dan saya harap juga jawabannya tidaklah dalam berbentuk link atau kata-kata copy-paste.

-terima kasih-

o
di/pada 11 Mei 2010 pada 7:45 pm mutiarazuhud

Sekali lagi saya tidak akan menyatakan pendapat/penilaian tanpa saya melakukan verifikasi kepada mereka yang melakukan amaliah-amaliah tersebut. Saya tidak akan mengulang apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Taimiyah mengeluarkan pendapat atau menilai saudara muslim lain sebagai ahlul bid’ah secara sepihak berdasarkan pemahaman beliau dan kaumnya tentang bid’ah. Padahal dengan menyebut saudara muslim lain sebagai ahlul bid’ah dan menurut pemahaman mereka segala bid’ah tertolak maka dengan kata lain mereka menyatakan sesat kepada saudara muslim lainnya. Kita ketahui ada sebuah proses yang harus dilakukan untuk menyatakan seorang atau sekelompok muslim itu sesat atau bahkan kafir, agar pihak yang dinilai diberikan hak menjawab atau menguraikan pemahaman mereka. Sedangkan proses tersebut tidak dilakukan orang per orang namun dilakukan sebuah majelis atau lembaga yang berwenang.
Sekali lagi saya tidak melakukan kritik kepada Ibnu Taimiyah, saya sekedar menyampaikan perbedaan metode pemahaman Ibnu Taimiyah dengan metode pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah. Apalagi perbedaan tersebut ada pada masalah mendasar/pokok yakni i’tiqad. Sehingga hasil / upaya ijtihad Ibnu Taimiyah ditolak oleh jumhur ulama pada zamannya. Imam Mujtahid yang diakui adalah yang tidak ditolak oleh jumhur ulama. Lihatlah bantahan-bantahan ulama pada ijtihad Ibnu Taimiyah khususnya pada bidang pokok yakni i’tiqad di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/itiqad-salafi/

o
di/pada 11 Mei 2010 pada 11:05 pm Alamsyah

Perlu saya tekankan disini, saya tidak meminta anda untuk menilai orang per orangnya, akan tetapi saya meminta anda untuk menilai PERBUATAN dari amaliah-amaliah tersebut, terlepas dari orang yang melakukannya.

seperti contohnya zina, perbuatan zina itu hukumnya haram, terlepas dari apakah zina itu dilakukan atas dasar suka sama suka atau tidak, akan tetapi tetap bahwa hukum zina adalah haram, tanpa perlu kita selidiki terlebih dahulu orang yang melakukan perbuatan zina tersebut,
seperti itulah kira-kira analoginya.

dan satu lagi yang perlu anda pahami bahwa tidak semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah itu dikatakan ahlul bid’ah, karena bisa saja orang yang melakukan perbuatan bid’ah tersebut tidak tau kalau perbuatan tersebut adalah bid’ah. Lain halnya jika orang yang melakukan bid’ah itu telah mengetahui kalau perbuatan itu bid’ah, namun ia masih tetap melakukannya, barulah dia bisa dikatakan ahlul bid’ah. Sebagaimana kita juga tidak boleh menyebut orang sembarangan dengan sebutan ‘kafir’.
Seperti itulah akhlak dan keyakinan dari Salafush Shalih.
maka, perlu dibedakan antara ahlu bid’ah dengan orang yang melakukan bid’ah,

pertanyaan saya nomor dua dan tiga belum dijawab mas,

ulama mana yang menolak fatwa Ibnu Taimiyah? ulama Shufiyyah iya jelas, sampai kapanpun, sufi dengan tasawuf-nya akan menentang Ibnu Taimiyah sebagaimana para pendahulu mereka yang menentang dakwah sunnah-nya Ibnu Taimiyah dahulu karena sampai kapanpun antara dakwah sunnah dengan dakwah bid’ah akan terus terjadi pertentangan.
jadi, saya tidak heran jika ada seorang sufi dengan ilmu ala kadarnya menentang seorang Ulama Besar seperti Ibnu Taimyah, semoga Allah merahmati beliau.

Jika patokan dasar anda menolak Ibnu Taimiyah karena beliau ditolak oleh jumhur ulama (ulama sufi) pada zamannya. Tentu hal itu merupakan dasar pemikiran yang keliru.
Jika anda membaca sejarah, bukan hanya Ibnu Taimiyah saja mas yang ditolak bahkan dipenjara karena beliau mempertahankan Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga pernah mengalami hal yang serupa.
Beliau (Imam Ahmad) juga pernah dipenjara selama 28 bulan, ketika dipenjara beliau mengimami shalat para penghuni penjara dalam keadaan kedua kakinya diborgol, bahkan beliau juga pernah dicambuk hingga darah mengalir dari tubuh beliau.

8.
di/pada 13 Mei 2010 pada 5:37 pm | Balas salafi

Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.

Kalau ilmu tasawuf itu sebatas seperti di atas saja, maka dalam hal apa ketidak sepahaman syaikh ibnu taimiyah dengan ilmu tasawuf ?

9.
di/pada 13 Mei 2010 pada 6:38 pm | Balas badar

saya berani nyatakan bahwa zikir kesurupan bukan zikir Sufi asli dan ahlul sunah wal jama’ah. itu zikir sesat dan ditemani setan. apa kurang jelas yang saya terangkan diatas? kalau mau jelas jangan tanyakan sebelum menjalankan hal tersebut, nanti seperti orang buta masuk jurang. ibnu tai miyah kalau sama dengan LDII, salafiyah, dll yang merasa diri paling benar, nyatakan bid’ah sesuka hatinya terhadap hal seperti qunut, doa, orang mati tdk usah ditahlilkan, baca Yasindll. punya masjid sendiri, kalau orang shalat disana bukan golongannya, bekas tempat shalatnya disiram air. sesungguhnya merekalah manusia najis dan menjijikkan.

*
di/pada 14 Mei 2010 pada 6:02 pm | Balas Alamsyah

saya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal dzikir kesurupan mas, yg saya tanyakan itu adalah hukum dzikir sambil menari-nari, tolong kata-kata saya jangan dipelintir seperti itu, sejak kapan menari-nari itu disinonimkan dengan kesurupan? tolong juga jangan dialihkan permasalahannya ke dzikir kesurupan, soalnya dari makna kedua kata tsb aja sudah beda mas antara menari dengan kesurupan….

Ibnu Taimiyah koq disamain dengan LDII? Salafi koq disamain dengan LDII? koq anda bisa ya bicara seperti itu? dasarnya apa ya? kalo ternyata tidak terbukti kan namanya jadi fitnah mas….tolong dipelajari dulu, diteliti dulu sebelum bicara, siapa itu Salaf, siapa itu Salafi, dan siapa itu LDII….lucu sekali menurut saya, Salaf koq disamain dengan LDII…..?
kalo bahasa jawanya itu, anda itu ngomongnya udah ‘asal jeplak’ mas, kalo ‘asal jeplak’ seperti itu, anak kecilpun juga bisa melakukannya….

kalo soal merasa paling benar, itu sudah tabi’at, sifat, dan kodrat manusia mas, seperti halnya anda yg juga pastinya apa yg anda sampaikan adalah benar menurut keyakinan anda, bukankah begitu? akan tetapi merasa paling benar itu haruslah disertai dengan ilmu dan ada pembuktian ilmiahnya, tidak asal bicara saja…..

ini adalah kelucuan anda yg kedua, apakah benar yg membuat masjid sendiri itu adalah ikhwan salaf? benarkah yg bukan golongannya tidak boleh shalat disitu? bahkan bekas tempat shalatnya disiram dengan air, benarkah demikian? kalo tidak benar, hukumnya jadi fitnah mas…

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S An-Nisa’ : 112)

“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)

atau apakah anda cuma dengar dari orang-orang saja?
kalo cuma dengar dari orang lain saja, cukuplah Sabda Rasulullah yg menjelaskannya ;
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)

kalo LDII yg melakukannya, saya percaya mas karena mereka memang memiliki masjid sendiri dan orang-orang diluar kelompoknya kafir bahkan najis.

berdasarkan pengalaman, justru selama ini sebaliknya mas, ikhwan salaflah yg suka mendapat perlakukan tidak menyenangkan, bahkan saya pernah diinjak kaki saya hanya karena saya ingin menempelkan kaki saya demi merapatkan shaf shalat…..

kalo tuduhan-tuduhan bahwa Salafi membuat masjid sendiri (tidak mau bergabung dengan kaum muslimin), mengkafirkan seorang muslim bahkan menajiskan seorang muslim itu saya berani katakan kalo itu hanyalah tuduhan-tuduhan kosong tanpa bukti, karena selama ini banyak orang yg mengaku-aku Salaf mas, sebagaimana banyaknya ahlul bid’ah yg mengaku-aku Ahlus Sunnah,
seperti pengalaman saya dulu, saya pernah shalat di masjid yg nama masjidnya ‘As-Salafiyah’ di daerah Jakarta, ternyata masjid tsb ada kuburannya, padahal yang saya pelajari bahwa Aqidah Salaf yang berdasarkan Al-Quran, Hadits dan ijma para Sahabat tidak pernah mengajarkan mendirikan masjid di kuburan atau sebaliknya karena Rasulullah bersabda :

“Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (H.R Al-Bukhari (no.435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no.531(22)) dari ‘Aisyah)

‘badar’ berkata berdasarkan hawa nafsunya ;
“…..sesungguhnya merekalah manusia najis dan menjijikkan……”

Subhanallah….inikah ajaran tasawuf yg katanya beragama menurut ‘mata hati’ itu? beragama berdasarkan ‘mata hati’ koq bisa sampai keluar ucapan-ucapan ‘kotor’ seperti itu ya?

Jadi bisa terlihat sekarang, sebenarnya siapa disini yg menajiskan dan siapa yg dinajiskan? Salafi yg dinajiskan atau Salafi yg menajiskan? jawabannya bisa terlihat dari perkataan bung ‘badar’ diatas ini…

Sejauh yg saya pelajari selama ini, Salafi tidak pernah menajiskan Sufi bahkan LDII, ga tau juga kalo misalnya Sufi yg menajiskan Salafi…..
…..waallahu ‘alam……

o
di/pada 17 Mei 2010 pada 8:49 am mutiarazuhud

Bagi saya sebesar apapun karunia yang diperoleh dalam pemahaman Al-Qur’an dan Hadits, sebaiknya tidak menilai atau memvonis atau melabeli yang tidak baik atau menajiskan atau bahkan mengkafirkan terhadap saudara-saudara muslim kita lainnya. Termasuk pengakuan bahwa “pemahaman saya” yang paling benar , bisa merupakan sebuah kesombongan atau bahkan ujub karena besaran karunia Allah, dalam pemahaman Al-Qur’an dan hadits begitu luas dan dalam.

Firman Allah yang artinya,
“Maka jika Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Al Hijr (15):29)
“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Sesungguhnya ruhNya yang ditiup kepada manusia akan terrefleksi pada manusia. jika manusia itu mengikuti sifat-sifat Allah seperti contoh manusia yang pemurah dan penyayang. Sedangkan sebaliknya sebagai contoh manusia yang pemarah, kikir, pembohong adalah bentuk keterkukungan ruh dalam hawa nafsu belaka.

10.
di/pada 13 Mei 2010 pada 9:31 pm | Balas badar

saudara alamsyah terus menekankan bahwa zikir kesurupan adalah zikirnya sufi dan kaum ahlus sunah wal jama’ah, padahal itu adalah zikirnya orang yg mengaku sufi, aslinya cucu dajjal. anda sungguh berani menyamakan hukum zina dengan zikir. niat saudara adalah berharap mutiara zuhud akan mengatakan zikir kesurupan yang dilakukan sufi palsu itu bid’ah, maka semua zikir itu bid’ah, seperti zina dalam bentuk apapun tetap zina. ingatlah kaum Muslimin, hati hati dengan orang yang hanya pandai berbicara, tdk ada isinya. tujuannya hanya menyesatkan kita agar jangan berzikir. ALLAH SWT menyuruh kita untuk mengingatNYA(dalam bentuk zikir) dalam kondisi duduk, jalan, diam, sepanjang hari, tentunya semampu kita dengan penuh keikhlasan.

*
di/pada 14 Mei 2010 pada 6:39 pm | Balas Alamsyah

sekali lagi, saya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal dzikir kesurupan, saya hanya tanya hukum dzikir sambil menari-nari, apa kurang jelas kata-kata saya?

siapa juga yg menyamakan dzikir dengan zina? tolong cermati dulu kata-kata saya, orang Islam paling bodoh (dalam hal agamanya) juga tau kalo dzikir dan zina itu berbeda, tidak sama, dzikir itu perbuatan taat, sedangkan zina perbuatan maksiat,
jadi (maaf) tidak sedangkal itu anda memahami kalimat saya….

kalo seandainya saya bilang bahwa dzikir sambil menari-nari (bukan kesurupan sebagaimana yg anda katakan) itu adalah bid’ah yg sesat, maka bukan berarti perbuatan dzikir itu adalah sesat, adapun dzikirnya bukanlah bid’ah yg sesat, bahkan termasuk Sunnah, akan tetapi yg bid’ah itu adalah cara pelaksanaan dan sifat dzikirnya itu sendiri,….
seperti contohnya jika ada seseorang yg melarang shalat subuh 3 rakaat, lantas bukan berarti orang yg melarang tsb telah melarang orang lain untuk shalat shubuh, yg terlarang adalah cara pelaksanaan shalatnya tsb yg menyelisihi Sunnah Rasulullah…..

kalo anda bilang bahwa orang-orang seperti saya tujuannya hanya untuk menyesatkan kita (ummat muslim) agar jangan berzikir.
maka saya bilang itu namanya su’udzon mas, bahkan saya berani bilang itu fitnah…..
kalo memang tuduhan anda benar, coba anda tunjukan satu kalimat saja dari saya yg menggambarkan tuduhan anda tsb….

11.
di/pada 13 Mei 2010 pada 10:09 pm | Balas danie

Alamsayah, Ilmu tasawuf banyak digunakan walisongo dalam mengislamkan penduduk indonesia pada waktu itu.Intinya Kalo anda katakan ilmu tasawuf sesat,sama saja anda katakan bahwa banyak ulama2 yang mempelajari ilmu tasawuf sesat.Apa wahabi dan antek2nya bisa melakukan apa yang dilakukan oleh walisongo, faham anda itu hanya soal bid’ah2 melulu,ampe butek juga berputerputer dalam hal itu.Padahal sejarah mencatat,perkembangan wahabi diikuti oleh pertumpahan darah yang nyata,mungkin karena mereka tidak pernah mempelajari ilmu tasawuf dan menyatakan bahwa tasawuf sesat dan bid’ah. mereka hanya pintar berputar2 dalam soal makna harfiah,seperti gelas tanpa isi.

*
di/pada 14 Mei 2010 pada 7:13 pm | Balas Alamsyah

Apakah benar walisongo beraqidah tassawuf? atau hanya klaim semata?

Siapa bilang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak punya kontribusi pada negara ini?
kalo anda belajar tentu tau, anda tau Imam Bonjol? anda tau Tuanku Nan Receh, anda tau Tuanku Nan Gapuk? mereka adalah beberapa pahlawan nasional yg telah berani memerangi bid’ah, kurafat dan maksiat dari kalangan kaum adat di zamannya sehingga meletuslah perang Padri dan mereka semua ini adalah para pejuang Islam yg memerangi kolonialisme Belanda.
(Lihat Pustaka Indonesia Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air oleh Tamar Djaja, cet. VI, 1965, Penerbit Bulan-Bintang, Jakarta, hal.339 dst.)

kenapa dakwah tentang bid’ah itu sangat penting? karena iblis dan bala tentaranya lebih menyukai anak adam melakukan bid’ah daripada maksiat, karena perbuatan maksiat bisa membuat seseorang suatu saat bertobat, akan tetapi orang yg melakukan bid’ah akan sulit untuk bertobat karena merasa bahwa tindakannya itu benar…..
itulah bahayanya bid’ah selain syirik…..
karena lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari sunnah adalah bid’ah…..
maka sunnatullah-nya adalah
jika kita berdakwah tauhid, maka siap-siaplah akan mendapat pertentangan dari orang-orang musyirikn, begitu juga jika kita berdakwah sunnah, maka akan mendapat pertentangan dari ahlul bid’ah dan orang-orang yg melakukan bid’ah……

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 10:02 am | Balas salafi

Pertumpahan darah / peperangan demi kebenaran itu diajarkan oleh Rasulullah SAW. buktinya sekarang Masjid nabi bebas dari perbuatan orang2 sufi dan kesesatan serta penyimpangan-penyimpangan lainnya yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan.

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 10:08 am | Balas salafi

Walisongo tidak belajar tasawuf, makanya mereka langsung memenggal kepala syaikh siti jenar ahli sufi pada masa itu.

Apakah karena walisongo itu wahabi ?

12.
di/pada 15 Mei 2010 pada 9:47 am | Balas badar

ooo..rupanya antek wahabi yg bicara, pantas kita yang menjalankan sunah Nabi MOHAMMAD SAW dianggap syrik dan ahli bid’ah!!! pahlawan nasional bukan pahlawan Islam, juga akhlaknya yg asli belum diketahui. banyak pahlawan kesiangan yang ternyata cucu dajjal. sudah jelas alamsyah bin ibnu tai miyah bin aduh wahab tdk pernah mempelajari tasawuf, berani meremehkan pahlawan Islam seperti WALISONGO. kalau tidak ada WALISONGO, kita mungkin saat ini sedang menyembah sapi,tikus, monyet, pohon, berhala yang merupakan agama asli di Indonesia.kontribusi wahabi di Indonesia adalah merusak agama Islam dan menyebarkan kebencian kepada junjungan kita NABI BESAR MOHAMMAD SAW. kalau mau tahu, wahabi bilang orang tua RASULALLAH SAW masuk neraka, Ka’bah mau dipindahkan, kita semua juga masuk neraka kalau tdk ikut wahabi. saya hanya dapat berdoa semoga ALLAH SWT memberikan kekuatan iman kepada Ahlus sunah wal jama”ah, azablah dengan penuh kesengsaraan kepada orang yg merusak Islam didunia dan akherat, aminnn ya Robbal Alamin.

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 10:18 am | Balas salafi

Siapa bilang orang tua rasulullah SAW masuk Surga mana dalilnya. mereka berdua di dalam neraka ada dalilnya.
Rasulullah SAW aja ridho menerima takdirnya, kenapa kita tidak ?

Mana cerita kaum sufi mengikuti menjalankan sunnah Rasulullah SAW?

Kaum sufi menghormati wali/orang soleh dengan membuat bangunan di atas kuburnya. tapi rasulullah SAW bilang bahwa perbuatan itu adalah perbuatan SEJAHAT-JAHAT MAKHLUK supaya jangan diikuti.

Rasulullah SAW bilang jangan melakukan ibadah dan perayaan di kuburan, tapi mereka melanggarnya.

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 3:13 pm | Balas Alamsyah

Bagi orang-orang yg memiliki akal, tentu bisa melihat disini kadar keilmuan dari seorang manusia yg bernama ‘badar’ ini, si ‘badar’ ini berbicara tanpa ilmu, perkataannya tidak lain hanyalah luapan emosi belaka yg lebih mengedepankan hawa nafsunya, perkataannya tsb semakin menandakan ketidakmampuan si ‘badar’ ini dalam berargumen secara ilmiah, yg ‘badar’ bisa hanyalah menuduh (tanpa bukti), mencela, memfitnah, mencaci maki serta bersumpah serapah saja, seperti itulah akhlak dan adab seseorang yg tidak memiliki ilmu tapi ngomongnya besar…..saya maklumi……

si ‘badar’ berkata ;
“……berani meremehkan pahlawan Islam seperti WALISONGO…..”

komentar saya ;
Siapa yg meremehkan Walisongo? coba tunjukan bukti bahwa saya meremehkan walisongo, kalo tidak ada bukti, maka sama saja bahwa anda telah memfitnah saya…..
saya hanya bertanya, apakah benar walisongo itu beraqidah tasawuf? ataukah itu hanya klaim sepihak dari orang-orang sufi saja sebagaimana mereka (sufi) juga mengklaim bahwa Rasulullah adalah seorang sufi?

si ‘badar’ ini menganggap orang-orang yg bersebrangan dengannya (dalam hal ini yg dimaksud pastinya adalah Salafi) sebagai cucu dajjal (baca; kafir), bukankah itu artinya bahwa si ‘badar’ dengan kepandirannya ini secara tidak langsung telah mengkafirkan Salafi? jadi siapa disini yg suka mengkafirkan seorang muslim? Salafi yg suka mengkafirkan atau justru Salafi yg dikafirkan? jawablah dengan akalmu itu…..

Merupakan Sunnatullah bahwa akan banyak celaan, fitnah, dan tuduhan yang miring yang dilontarkan kepada orang-orang yang menyebarkan dakwah tauhid, memberantas syirik, bid’ah dan mengingatkan ummat atasnya.

Sebagaimana yg pernah menimpa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang dalam menyebarkan dakwahnya beliau dicela, difitnah, bahkan disakiti oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah tauhid beliau.

Maka barangsiapa yang mengaku mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam beragama dan berdakwah, pasti akan mengalami hal yang sama seperti Rasulullah dahulu yakni dicela, difitnah dan mendapat tuduhan-tuduhan yang jauh dari kebenaran untuk menjauhkan ummat kepada dakwah tauhid yang dibawanya.

13.
di/pada 15 Mei 2010 pada 11:44 am | Balas badar

logikanya saja, apa mungkin manusia yg paling mulia didunia lahir dari orang tua yg masuk neraka? darimana situ tahu, apa saudara salafi ini lurah di neraka sehingga bisa tahu pasti penghuninya siapa.

buta kali ya… tidak melihat kita yg menjalankan sunah Nabi seperti ziarah kubur, baca Yasin, tahlil tujuh hari untuk orang yg meninggal, doa sesudah shalat jama’ah, shalat Sunah sebelum dan sesudah shalat wajib, hajatan/syukuran dengan zikir dan doa bersama saudara/tetangga, baca doa qunut, zikir semampunya, memperingati maulid Nabi, shalat tidak bergerak berlebihan dll.

makam para wali aslinya sederhana, hanya ada nisan sebagai tanda, tapi pengurusnya kemudian membuatnya demikian, lalu bagaimana dengan dedengkot wahabi di arabsaudi yg sengaja membangun makam Nabi dengan semewah mewahnya? seolah olah NABI MOHAMMAD SAW itu orang yg cinta dunia?

ziarah kubur yg benar adalah berdoa memohon ampunan untuk ahli kubur dan kita kepada ALLAH SWT dengan zikir dan baca Yasin, yg bid’ah itu mintanya kepada selain ALLAH SWT, apanya yang salah? apa tidak sebaiknya ajarkan cara ziarah kubur yg benar daripada bisanya bilang bid’ah.

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 3:36 pm | Balas Alamsyah

si ‘badar’ berkata ;
“…….logikanya saja, apa mungkin manusia yg paling mulia didunia lahir dari orang tua yg masuk neraka?………”

komentar saya ;
mungkin saja hal tsb bisa terjadi, kenapa tidak bisa? buktinya Nabi Ibrahim memiliki ayah yg notabenenya adalah seorang pembuat sekaligus penyembah berhala….
Perkataan/logika anda itu lemah hukumnya dan layak untuk ditolak karena tidak didukung dengan dalil, hujjah atau referensi dan argumentasi yang jelas dan akurat, dan hanya berdasarkan kepada persangkaan dan dugaan saja, yang tentunya jauh dari ilmu.

itu bantahan saya secara akal, adapun berdasarkan dalil bahwa orang tua Rasulullah masuk neraka adalah ;

Hadits Pertama.

“Artinya : Dari Anas, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya, “Ya Rasulullah ! Di manakah tempat ayahku ?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Di Neraka!”
Maka tatkala orang itu berpaling hendak pergi, beliau
memanggilnya, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka” [Hadits shahih Riwayat Muslim juz I halaman 132 dan
133]

Hadits Kedua.

“Artinya : Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ziarah ke kubur ibunya, lalu ia menangis yang menyebabkan orang-orang disekelilingnya (para shahabat) turut menangis.
Lalu beliau bersabda, ‘Aku meminta izin kepada Tuhanku supaya aku dibolehkan untuk memohonkan ampun baginya, tapi tidak diizinkan bagiku. Lalu aku meminta izin
supaya aku dibolehkan menziarahi kuburnya, maka diizinkan bagiku. Oleh karena itu ziarahilah kubur-kubur itu, karena menziarahi kubur itu dapat
mengingat mati” [Hadits shahih Riwayat Muslim (3/65), Abu Daud (no 3234), Nasa'i (2/72), Ibnu Majah (no. 1572), Baihaqi (4/76), Ahmad dan Thahawi (3/189).

(Periksalah kitab : Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 393, 394 dan 395, Ahkamul Janaaiz halam 187, 188 masalah ke-121 oleh Muhaddits Syaikh Muhammadn Nashiruddin Al-Albani.)

Hadits Ketiga.

"Artinya : Dari Buraidah, ia berkata, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan/safar, lalu beliau turun bersama kami, sedangkan kami pada waktu itu mendekati seribu orang. Kemudian beliau shalat dua rakaat (mengimami kami), setelah selesai beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sedangkan kedua matanya mengalir air mata. Lalu
bangkitlah Umar bin Khaththab menghampirinya dan berkata. 'Ya Rasulullah, mengapakah engkau (menangis)?'
Beliau menjawab, 'Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku Azza wa Jalla untuk memohon ampunan bagi ibuku, akan tetapi Ia tidak memberiku izin kepadaku, maka dari itulah mengalir air mataku karena kasihan kepadanya yang ia termasuk (penghuni) neraka". [Hadits shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no.
791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]

“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam” (At-Taubah : 113)

Maka, bisa saya simpulkan bahwa logikanya si ‘badar’ ini bathil dan sangat layak untuk ditolak berdasarkan dalil diatas….

*
di/pada 16 Mei 2010 pada 10:53 am | Balas salafi wahabi

Telah jelas ada dalil bahwa kedua orang tua Rasulullah ada di neraka beliau sendiri yang menyebutkannya.

Kalo cuma pake logika wah gak berdasar …

Mas badar, saudi bukan wahabi, dari zaman dulu juga gak ada ulama yang setuju memasukkan kuburan ke dalam masjid biar jadi luas, Apakah mereka para ulama diam saja ketika itu sampai sekarang? jawabnya adalah ulama itu bukan pemberontak sampai saat ini tidak punya kekuatan untuk amar maruf nahi munkar.

Kalau saja sekarang saudi itu betul-betul wahabi salafi, maka insya Allah bakal direnovasi agar terpisahkan kuburan dengan masjid, BONGKAR SEKALIAN KUBAHNYA JUGA.

Shalat di dalam masjid nabi BOLEH KARENA ADA DALIL TENTANG KEUTAMAANNYA DAN SAMPAI KIAMAT PUN TETAP DALILNYA BERLAKU.

*
di/pada 16 Mei 2010 pada 11:00 am | Balas salafi wahabi

tahlilan dan maulidan disangka sunnah nabi, yang benar aja…..

14.
di/pada 15 Mei 2010 pada 12:47 pm | Balas badar

siapa bilang siti jenar sufi/Islam? pengikutnya sekarang adalah orang aliran kepercayaan/kejawen. bisa marah mereka kalau siti jenar dibilang orang Islam.

yang mengalahkan/menangkap siti jenar adalah SUNAN KALIJAGA yg notabene orang jawa asli. jangan coba coba adu domba ya , dasar manusia licik…

15.
di/pada 15 Mei 2010 pada 1:51 pm | Balas badar

siapa bilang siti jenar dipenggal kepalanya? emang ente lihat langsung kejadiannya? yg benar moksa {pindah kealam gaib}. tanya dulu sama pengikutnya sebelum membuat pernyataan memfitnah.

16.
di/pada 15 Mei 2010 pada 2:25 pm | Balas badar

siapa bilang LDII dan wahabi tdk sama? prinsip dasar mereka adalah: selain golongan mereka, semua masuk neraka!!! jadi bukannya mereka anggap kita semua itu najis dan pantas masuk neraka??? emang surga kepunyaan bapak moyangmu?????

*
di/pada 15 Mei 2010 pada 3:59 pm | Balas Alamsyah

gosip aja nih, anda ini kata siapa? laki-laki koq suka ngegosip sih?

Aqidah Salaf yang berdasarkan Al-Quran, Hadits dan ijma para Sahabat itu tidak pernah bilang bahwa si fulan masuk surga, si fulan masuk neraka, si A masuk neraka, si B masuk surga…tidak pernah….
adapun Salaf berkeyakinan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa kecuali syirik dan akan kekal ia di neraka jika sampai ajal menjemputnya ia tidak bertaubat dari dosa syiriknya itu.
tertibnya adalah sebagai berikut ;

Pertama, Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 48 dan 116)

Kedua, Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Ketiga, seorang musyrik akan kekal berada di dalam siksa neraka. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah: 6)

Keempat, dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Kelima, syirik adalah kezhaliman yang paling zalim. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Maka dari itu, dakwah para Nabi dan Rasul dari zaman ke zaman adalah dakwah tauhid karena tauhid adalah lawan dari syirik.

*
di/pada 16 Mei 2010 pada 10:56 am | Balas salafi wahabi

Terus prinsip beragama sodara Badar ini bagaimana saya pengen tau ? apakah golongan lain benar semuanya artinya tidak ada yang sesat ?

17.
di/pada 16 Mei 2010 pada 8:15 am | Balas badar

marah nih ye… ha ha ha….., saya ingatkan Muslimin yg beriman, ciri khas mereka memang seperti itu, mengeluarkan argumen yg bagi orang yg tidak mengetahui hadist secara mendalam akan tertipu. yang untuk jelasnya bacalah fileheboh: DINASTI SAUD SATU TRAH DENGAN YAHUDI di blog ini. baru tahu siapa mereka itu.bacalah juga halaman ini dari awal sampai akhir, perhatikan bagaimana manusia munafik seperti mereka membalik kata.

*
di/pada 16 Mei 2010 pada 10:57 am | Balas salafi wahabi

wah… kita dibilangin munafik…hmmm

*
di/pada 16 Mei 2010 pada 6:21 pm | Balas Alamsyah

Oo…saya tau, ternyata cara dan adab anda dalam berdiskusi adalah sengaja memancing orang lain untuk marah toh….
lagipula, tidak ada yg marah-marah disini, bukankah malah anda sendiri yg marah-marah? meledak-ledak, mencaci-maki, menghina, memfitnah, bahkan bersumpah serapah…..seolah-olah anda lebih membenci Salafi daripada yahudi dan nasrani, atau bahkan secara tidak langsung menyamakan Salafi dengan yahudi dan nasrani…..

memang seperti itulah adab dan akhlak ahlul bid’ah dan para pengikutnya, dikarenakan minimnya ilmu yg mereka miliki, jadi yg mereka bisa hanyalah melontarkan tuduhan demi tuduhan, caci maki, bahkan tidak segan-segan memfitnah…..

menuduh orang lain suka mengkafirkan seorang muslim, akan tetapi dia sendiri justru tanpa disadari telah mengkafirkan seorang muslim dengan menyamakan seorang muslim dengan cucu dajjal, bahkan me-yahudi-kan seorang muslim…
Na’udzubillah min dzalik……semoga saya tidak termasuk orang-orang yg seperti itu…..

Bacalah juga halaman ini dari awal sampai akhir, perhatikan bagaimana seorang anak manusia yg bernama ‘badar’ ini berargumen, tidak ada satupun dalil dari ayat Al-Quran dan Hadits yg dia bawakan, tidak ada sedikitpun ilmu yg bisa dipetik dari perkataannya, semakin memperlihatkan kadar keilmuan dia yg sesungguhnya…..ibarat tong kosong nyaring bunyinya….
Padahal yg saya harapkan adalah diskusi ilmiah, bukan ‘perang mulut’ seperti yg diharapkan si ‘badar’ ini…..

mengenai fileheboh: DINASTI SAUD SATU TRAH DENGAN YAHUDI, benarkah demikian? bukankah itu pelu diteliti lebih jauh lagi? siapa penulisnya? kapabilitas penulisnya seperti apa? jangan main ‘telan’ mentah-mentah begitu saja, karena hal ini menyangkut kehormatan dan ke-islaman seorang muslim dan berita tsb sama saja secara tidak langsung telah mengkafirkan pemerintahan Saudi yg notabenenya mereka adalah seorang muslim….

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. “ (Q.S Al-Hujarat : 6)

“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)

Kalau seandainya benar bahwa dinasti Saudi masih keturunan yahudi, maka sudah tidak akan ada lagi umat Islam yg bisa menunaikan ibadah Haji, karena sampai kapanpun yang namanya yahudi tidak akan ridho umat Islam melakukan ibadahnya, sebagaimana firman Allah ;

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…..”
(Al-Baqarah : 120)

Dan seandainya benar kalau dinasti Saudi itu masih keturunan yahudi, tentu masjid-masjid disana akan penuh dengan kuburan-kuburan orang-orang shalih pastinya, karena Rasulullah bersabda ;

“Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (H.R Al-Bukhari (no.435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no.531(22)) dari ‘Aisyah)

“Mereka itu adalah suatu kaum, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal diantara mereka, mereka bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan mereka buat di didalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah pada hari Kiamat.”
(H.R Al-Bukhari (no.427, 434, 1341) dan Muslim (no.528) bab an-Nahyu’an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzish Shuwari Fiiha wa Nahyu’an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Memasang di Dalamnya Gambar-Gamabar Serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid) dan Abu ‘Awanah (I/401))

kalau juga seandainya benar bahwa dinsati Saudi itu masih keturunan yahudi, bagaimana bisa kota suci dikuasai oleh orang yahudi? dikuasai disini maksudnya adalah dikuasai dalam hal pemerintahan……
Bahkan dajjal saja tidak bisa memasuki kota suci (Mekkah dan Madinah),

Dari Anas bin Maalik, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda :

”Tidak ada satu negeri/kota pun nanti yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Setiap jalan masuk kedua kota tersebut dijaga oleh para Malaikat yang berbaris-baris, kemudian Madinah akan mengguncang penghuninya tiga kali guncangan, sehingga semua orang kafir dan munafik keluar dari tempat itu”
(HR. Al-Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943)

jawablah wahai orang-orang yg berakal…….

18.
di/pada 16 Mei 2010 pada 11:40 am | Balas salafi wahabi

Kembali ke masalah tasawuf.

Para wali Allah/sufi/kiyai/ulama/habaib memang punya karamah yang tidak masuk akal…….. SEPERTI BERJALAN DI ATAS AIR, MENGHIDUPKAN ORANG MATI, DAN LAIN-LAIN,

Bahkan seorang wali Allah bisa saja keluar atau menentang syariat Islam seperti membunuh seorang yang haram untuk dibunuh, dll, karena dia mempunyai asalan untuk itu…..

TAPI ITU SEMUA MENURUT BUKU KARANGAN HABAIB MUNZIR YANG BERJUDUL “MENITI KESEMPURNAAN IMAN” baca halaman 100 sampai selesai.

kalau mau baca e-book onlinenya :

http://read.kitabklasik.co.cc/2009/09/meniti-kesempurnaan-iman-habib-munzir.html

19.
di/pada 16 Mei 2010 pada 6:17 pm | Balas badar

siapa nih yang datang bertamu tanpa diundang? pakai peci hitam dan muka hitam. terima kasih atas kirimannya, semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang setimpal. saya memang manusia biasa yang lemah , bodoh dan penuh kesalahan, namun hanya kepada ALLAH SWT kami berlindung dan memohon pertolongan. bila ALLAH SWT menghendaki, kalian dengan mudah dan sekejab dijadikan debu yang beterbangan. kalian dibiarkan merajalela hanya sebagai cobaan bagi hambaNYA yang beriman. tidak kami mulai selain membela diri.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 8:54 pm | Balas salafi wahabi

sdr. badar udah pernah bedah bukunya bagaimana? tolong jelaskan.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 9:59 pm | Balas salafi wahabi

Kenapa gak sekalian bilang Abu Lahab itu muslim mukmin, karena dia saking cintanya kepada nabi sampai-sampai membebaskan seorang budak untuk menyusui nabi shalallahu alayhi wasallam ?

20.
di/pada 16 Mei 2010 pada 11:15 pm | Balas joko sutikno

hebat semuanya….saya disini hanya ingin menimba ilmu.Yang bila hati saya menerima akan saya pakai insaallah,jika tidak ya tidak kucela.Karena aku yakin semua telah diatur,sebab hak prerogatif ada ditangan allah swt.Sauaraku yang salafy hebat dengan hafalan hadisnya dan alquran.Sungguh maha benar Allah dengan segala firmanNya.sebenarnya berdebat tidak saya sukai.makanya saya menghimbau pada saudara2ku kembalilah kekomunitas masing2.yang salafi ya jangan senggol lainnya,begitu pula yang lain.
Kalau masalah tasawuf/sufi atau apalah itu perlu pemahaman yang dalam.Perbanyaklah istigfar.mulailah dari dalam hati ikuti dengan lisan.hilangkan semua yang menghalangimu dalam menghadap ilahi.terpejam misalnya..atau tunduk.bacaan dzikir yang disari’atkan bukanlah bid’ah,diamalkan dengan istikomah ribuan kalipun takada larangan.membatasipun bukan sesuatu yang salah.Jika ada perubahan yang tanpa kita kehendakipun takmasalah.karena semua itu lilahita’ala…..

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 9:02 pm | Balas salafi wahabi

Tarikat-tarikat sufi itu banyak bid’ahnya, apalagi keyakinan-keyakinannya yang menyimpang dari tarikat muhammad shalallahu a’laiyhi wasallam dan para sahabatnya yang mengikuti beliau.

Kalau soal disenggol, mestinya golongan yang katanya banyak dzikir, sabar, dan zuhud itu kan mestinya gak mesti marah-marah ITU BUKTI KETIDAK BERHASILAN METODA MEREKA DALAM TAZKIYATUN NAFS.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 11:31 pm | Balas Alamsyah

Pada hakikatnya, kita sebagai umat muslim haruslah beragama berdasarkan dalil, bukan beragama berdasarkan logika, akal atau perasaan semata….

Ini bukan masalah soal senggol menyenggol pak, ini hanyalah sebatas kewajiban sesama muslim aja untuk saling mengingatkan, bukankah Rasulullah pernah bersabda yg isinya menjelaskan bahwa sampaikanlah walaupun hanya satu ayat?

kalo soal nantinya penjelasan saya dkk malah hanya mendapatkan celaan, hinaan, makian, fitnah, atau bahkan disumpah-sumpahi, yaa itu biar masyarakat aja yg menilai, siapa sebenarnya yg mewakili Islam dalam hal adab-adab berbicara…..
seandainya diskusi disini lebih banyak mudharat-nya daripada manfaat-nya, maka saya hanya bisa meminta ampun kepada Allah……

lagipula seandainya penjelasan saya ditolak, itu hak anda dan yg lainnya, karena tidak ada paksaan dalam Islam, saya disini hanya menyampaikan sebatas yg saya tau aja, tidak lebih !
tidak ada maksud saya disini untuk menggurui, saya berbicara panjang lebar begini bukan berarti anda semua yg ada disini harus ikut saya….tidak seperti itu…..
adapun saya disini hanya ingin membahas ilmu…..
itu aja…..!

21.
di/pada 17 Mei 2010 pada 8:18 am | Balas badar

untuk orang awam yg membaca halaman ini, perlu saya beritahukan bahwa saya tahu lebih banyak hadist daripada mereka, bahkan punya satu lemari. saya berbicara dengan bahasa rakyat agar mudah dipahami,
yang penting adalah pahami ini:

1 .bila kita punya orang tua, anak,saudara yang sudah meninggal dan sangat kita hormati dan cintai, lalu kita datang berziarah menghadiahkan AL FATEHAH dan zikir dan berdoa agar dosa mereka diampuni ALLAH SWT, tiba tiba datang orang wahabi mengusir kita karena itu perbuatan sirik kata mereka. kalau kita melawan, pasti dibunuh. itu akan terjadi kalau mereka dibiarkan berkuasa seperti di arabsaudi.

2. bila kita bukan orang wahabi, maka kita semua masuk neraka.

3. tidak boleh kita tahlilkan dan doakan orang/saudara kita tercinta yg baru meninggal, cukup gali lobang. lempar kedalamnya dan tutup dengan tanah.

4. dilarang kita berdoa sesudah shalat jama’ah, baca Yasin, baca doa qunut, pakai tasbeh,pakai sajadah.

5. mereka terus menanamkan kebencian kepada Junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW, dengan cara menjelekkan keluarga dan orang tua Beliau. mereka ingin berkata kasarnya sbb: orang tua dan pamannya masuk neraka, bagaimana anaknya? harapan mereka kecintaan kita kepada RASULALLAH SAW hilang bahkan membencinya. ingatlah!!! siapa yang akan menolong kita ketika kiamat terjadi, kita dibangkitkan dan harus mempertanggungjawabkan dosa kita dihadapan ALLAH SWT? Hanya NABI MOHAMMAD SAW yg sungguh sungguh mencintai dan mati matian membela umatnya dihadapan ALLAH SWT. soal siapa masuk surga/neraka, hanya ALLAH SWT yg berkuasa menentukannya. tapi apakah ALLAH SWT tega menolak pembelaan dari RASULALLAH SAW? jika kita membenci Beliau, bagaimana nasib kita?

6. ikatan persaudaraan dalam iman berusaha mereka hancurkan dengan melarang hajatan/syukuran yang didalamnya diisi dengan zikir, baca Yasin dan doa.

bayangkan orang semacam ini , apa bukan dajjal?

cara mereka merekrut anggotanya adalah mendatangi orang yang tertarik dengan ceramah yg penuh dengan ayat QUR’AN yg dipelintir, dirayu beramai ramai, bila tertarik akan di bai’at dengan cara diberi air minum dan dimandikan. yang berbahaya adalah air minum telah di isi dengan mantera yg akan mengikat dan menutup batin sehingga sulit untuk mengembalikan orang tersebut ke jalan yg lurus.

semua yg saya katakan adalah berdasarkan apa yang saya lihat dan alami. sebenarnya harapan kita pemerintah dan ulama turun tangan mengharamkan ajaran wahabi , tapi belum terjadi sampai sekarang.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 9:32 pm | Balas salafi wahabi

Ayah nabi Ibrahim adalah musuh Allah padahal nabi ibrahim adalah kekasih Allah.

anak dan istrinya nabi nuh, istrinya nabi luth, mereka juga kafir.

Jadi jangan pake perasaan kalau menghukumi orang itu, mesti pakai dalil.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 10:03 pm | Balas salafi wahabi

Sodara badar mengatakan bahwa dia lebih tau banyak hadits daripada orang2 wahabi maksudnya ibnu taimiyah? ya udah jangan sombong dong …. sifat yang gak baik buat orang tasawwuf,

Kalau saya cuma punya fotokopian sahih bukhari tok.

*
di/pada 18 Mei 2010 pada 12:10 am | Balas Alamsyah

si ‘badar’ ini, tolonglah, jadilah orang yg amanat dalam mengabarkan suatu berita, jangan sepotong-sepotong dalam mengabarkan kepada khlayak ramai karena pengertiannya akan jadi berbeda, malah akhirnya cenderung fitnah….

Salafi tidak pernah melarang orang untuk mendoakan kerabat atau orang lain yg telah wafat, tidak pernah melarang orang berdzikir setelah shalat berjamaah, tidak pernah melarang orang membaca Yasiin, tidak pernah melarang orang berziarah kubur, kesemuanya itu kalo sepotong-sepotong menyampaikannya, akhirnya jadi fitnah….

Perlu diketahui bahwa yg terlarang itu adalah sifat, cara dan ketentuan pelaksanaan amaliah-amaliah tsb yg menyelisihi Sunnah, sebagaimana jika ada orang yg melarang shalat shubuh 3 rakaat, lantas bukan berarti orang tsb telah melarang orang itu shalat shubuh bukan?

si ‘badar’ berkata ;
“mereka terus menanamkan kebencian kepada Junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW……..”

komentar saya ;
Bagaimana bisa, Salafi yg berdalil dengan sabda Rasulullah dibilang membenci Rasulullah?

si ‘badar’ berkata dengan hawa nafsunya ;
“……tiba tiba datang orang wahabi mengusir kita karena itu perbuatan sirik kata mereka. kalau kita melawan, pasti dibunuh……”

komentar saya ;
bisa terlihat koq, siapa sebenarnya yg suka memvonis sembarangan, sampai-sampai berani bilang PASTI DIBUNUH ! Na’udzubillah…….
ini adalah fitnah yg keji menurut saya, aqidah Salafush Shalih tidak membenarkan membunuh orang kafir tanpa haq, coba perhatikan ! membunuh orang kafir ! apalagi membunuh seorang muslim? karena Rasulullah besabda ;

” Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad (kafir yg terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin), ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun ” . [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3166)]

si ‘badar’ berkata ;
“….itu akan terjadi kalau mereka dibiarkan berkuasa…”

komentar saya ;
tenang aja, dakwah Salafi orientasinya bukanlah kekuasaan atau massa, melainkan tegaknya kebenaran, tegaknya sunnah dan tegaknya tauhid, itu yg lebih penting ketimbang kekuasaan di dunia yg fana ini….

si ‘badar berkata ;
“bayangkan orang semacam ini , apa bukan dajjal?”

komentar saya ;
Jadi, siapa sebenarnya disini yg suka mengkafirkan seorang muslim? Salafi yg suka mengkafirkan atau justru malah Salafi yg dikafir-kafirkan? bahkan tidak segan-segan didajal-dajalkan……Subhanallah……

Ingat ! kajian-kajian ilmiah Salaf itu terbuka untuk umum, dilaksanakan dimasjid-masjid umum, siapa saja boleh ikut, tanpa harus memakai ‘code dress’, tidak dilakukan dirumah-rumah kontrakan, tidak tertutup, diumumkan di media-media informasi seperti internet dan radio….

Jadi, ga ada itu pembaiatan dengan cara diberi air minum dan dimandikan, bahkan diberi air minum telah di isi dengan mantera…..
lucu sekali menurut saya, Salaf tidak mengenal mantra-mantra, jampe-jampe dsb, itu hanyalah cerita-cerita kurafat yg sengaja dikarang…sangking tidak punya hujjah dan alasan lagi untuk menolak dakwah Salaf, jadinya dbuatlah cerita-cerita karangan seperti itu…..

o
di/pada 18 Mei 2010 pada 9:25 am mutiarazuhud

Akh, Alamsyah, semoga dirahmati Allah
Dilematis memang kaum Salafi, karena mereka “menolak” penamaan / identitas kaum. Sehingga sebagian yang sekedar “mengaku” manhaj salaf namun berkelakukan tidak sebagaimana manhaj Salaf seperti kerap menuduh saudara muslim lain dari mereka sebagai sesat atau bahkan kafir. Padahal mereka menuduh saudara muslim lain berbekal atau sebatas pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Padahal kita ketahui bahwa merupakan kehendak Allah kepada siapa, Allah karuniakan pemahaman yang dalam sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Untuk itu dalam blog ini saya batasi yang dimaksud Salafy adalah yang mengikuti metode pemahaman Ibnu Taimiyah dan ulama yang sepemahaman dengan beliau.
Soalnya ada pula saudara-saudara muslimku yang ber manhaj Salaf, secara visual mereka yang pria, berpakaian mengikuti sunnah dengan celana ngantung dan baju/kemeja yang disesuaikan, menghafal Al-Qur’an dan banyak hafal hadits, mengutamakan sholat wajib berjamaah dan diwaktu awal, menjalankan sholat sunnah, puasa senin-kamis, namun mereka tidak mengikuti metode pemahaman Ibnu Taimiyah dan ulama yang sepemahaman dengan beliau.
Salah satu yang tampak perbedaan secara kasat mata adalah mereka ketika mengimami sholat yang dijaharkan, mereka menjaharkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” baik ketika membaca Al-Fatihah maupun awal pembacaan surah.

o
di/pada 18 Mei 2010 pada 6:58 pm Alamsyah

Orang-orang yg tidak suka dengan dakwah Salaf selalu menuduh dengan hawa nafsunya bahwa Salafi suka mengkafirkan kaum muslimin, akan tetapi tanpa disadari justru mereka yg menuduh itulah yg mengkafir-kafirkan Salafi seperti yg bisa terlihat disini…..
Bagi anda yg masih memiliki akal sehat, tentu bisa menilai dan melihat, Salafi yg suka mengkafirkan atau justru Salafi yg dikafir-kafirkan? sampai-sampai disamakan dengan yahudi bahkan dajjal…..

Renungkanlah wahai orang-orang yg berakal !

Mengenai al-Hikmah (kefahaman tentang Al Quran dan As Sunnah) yg terdapat di dalam surat al-Baqarah : 269 tsb, apakah di ayat itu disebutkan bahwa al-Hikmah HANYA diberikan kepada orang-orang sufi? tidak untuk orang lain? seolah-olah HANYA orang sufi sajalah yg mendapatkan al-Hikmah dari Allah, jika ada orang lain yg tidak sepaham dengan mereka (sufi), itu artinya dia tidak (belum) diberikan al-Hikmah dari Allah….pemahaman macam apa ini?
Jadi, siapa sebenarnya disini yg merasa dirinya paling pintar? merasa dirinya paling paham terhadap Al-Quran dan Hadits, merasa hanya dirinya dan kelompoknyalah yg mendapatkann al-Hikmah dari Allah, sedangkan orang lain tidak !

Saya meyakini bahwa sesungguhnya al-Hikmah (kefahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah) tidak ‘turun’ begitu saja seperti turunnya air hujan ke bumi, tidak ‘turun’ hanya lewat mimpi semata atau tidak ‘turun’ hanya lewat pertapaan saja, akan tetapi saya percaya kalo ilmu dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu bisa ‘turun’ melalui proses belajar (menuntut ilmu) dengan dibimbing oleh seorang guru pastinya, sebagaimana dahulu juga para Sahabat berguru kepada Rasulullah, Imam Syafi’i yg berguru kepada Imam Malik, dan juga Ibnu Qayyim al-Jauzy, Ibnu Katsir, serta Ibnu Hajar yg berguru kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah……

Dari Abu Hurairah, dia berkata :” Telah bersabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam : “Hanyasanya aku ini kepada kamu, berkedudukan sebagai bapak yang mengajarkan kepada kamu…..”
(H.R Abu Dawud (no.8))

Berkata Abu Musa al Asy’ariy : “Sesungguhnya Rasulullah pernah berkhotbah kepada kami. Lalu beliau menjelaskan kepada kami Sunnah kami dan mengajarkan kepada kami (cara) shalat kami….”
(H.R Muslim juz II hal. 14-15. Abu Dawud (no.972), Nasaa-i juz II hal.241, Ibnu Majah (no.601), Ahmad juz IV hal.394, 401 & 405, ad-Daarimi juz I hal.300-301 dan Baihaqiy juz II hal.140-141)

22.
di/pada 17 Mei 2010 pada 8:48 am | Balas badar

Ass Wr Wb.

saudaraku Joko Sutikno benar, semua yang terjadi adalah kehendak ALLAH SWT. hanya saja kita diperintahkan menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. tidak setitikpun ria yang saya niatkan, sesungguhnya ALLAH SWT menciptakan segalanya berpasangan dan seimbang. kesombongan , merekalah yg mulai. mohon maaf kepada pembaca dan ampun kepada ALLAH SWT bila ada kesombongan dari diri saya baik yang disengaja maupun tidak disengaja. mohon pamit, cukup sampai disini tulisan saya.

23.
di/pada 17 Mei 2010 pada 11:29 am | Balas badar

Ass Wr Wb.

Mas Mutiara Zuhud, sebagai tamu saya lupa pamit dan minta maaf bila ada kesalahan, semoga ALLAH SWT membalas dengan pahala yang sebesar besarnya atas usaha Mas untuk menegakkan kebenaran. semoga juga dikuatkan hati dan iman serta diberikan kesabaran. Mudah mudahan kita ada jodoh untuk menjalin persaudaraan.

Wass

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 4:34 pm | Balas mutiarazuhud

Walaikumsalam Wr. Wb.

Akh Badar, semoga Allah merahmati akhi.
Terima kasih atas komentar-komentar yang diberikan khususnya pada tulisan tentang ilmu Tasawuf dan secara umum pada blog mutiara zuhud ini.

Saya pribadi dapat memahami “semangat” yang tampak pada komentar-komentar yang akhi tuliskan namun pada ujungnya akhi menuliskan kata “pamit” ?

Sebaiknya tidak perlu “pamit”, cukuplah “istirahat” sejenak atau menurut kaum Tasawuf, “mati”lah sejenak untuk merasakan dan mengalami bersama Allah. Kemudian dengan “bersama” Allah tulislah komentar-komentar yang perlu disampaikan dengan begitu akhi akan membebaskan tulisan Akhi dari hawa nafsu. Pesan untuk saya, akhi dan pembaca pada umumnya, lakukanlah apa yang Allah kehendaki. Kesadaran inilah yang InsyaAllah mengendalikan hawa nafsu kita.

Dalam blog ini ada beberapa tulisan-tulisan saya dan tulisan-tulisan yang saya sebutkan sumbernya dalam rangka untuk mengingatkan saudara-saudaraku Salafy (khusus untuk pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman). Kelemahan mereka saya telah tuangkan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/
salah satu kelemahan mereka adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat).

Andaikan saja saudara-saudaraku salafy mau meluangkan waktu dan membaca kitab/buku, sebagai contoh “Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta. InsyaAllah dengan buku/kitab tersebut, saudara-saudara ku Salafy dan pembaca pada umumnya dapat memahami tentang dasar-dasar Ma’rifatullah sehingga dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Allah “di atas langit”.

Syaikh Al-Qusyairy adalah seorang imam dalam majelis tadzkir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap kedalam sanubari para jama’ahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H/ 1070M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa. Beliau mengatakan, “seandainya sebuah batu cadas diketuk dengan “tongkat peringatan”-nya niscaya akan meleleh menangis, dan seumpama iblis tetap aktif mengikuti majelis tadzkirnya, niscaya dia akan tobat. Subhanallah.

*
di/pada 17 Mei 2010 pada 10:14 pm | Balas salafi wahabi

Pamit mau kemana, memangnya sudah cukup puas menuduh dan memfitnah wahabi ?

Wahabi tidak merekrut orang untuk menjadi anggota, tapi mendakwahkan dengan terang-terangan….

tuh lihat Toko Buku Gramedia penuh dengan kitab2 dakwah ulama wahabi.

24.
di/pada 18 Mei 2010 pada 4:21 pm | Balas sowa

Pengalaman dari orang Awam

Dulunya saya seminggu sekali ikut pengajian umum habib

Yang namanya pengajian untuk umum baik dari salafy maupun biasa awalnya mmg belum kelihatan beda,
saya belum menyadarinya

pernah saya beberapa kali, awalnya belum diketahui kalau itu pengajian dari salafy, setelah beberapa lama barulah kelihatan perbedaanya, yang aneh masalah pembacaan sholawat perayaan maulid yang katanya itu dari ajaran syiah

oo ternyata anggapannya begitu, pantas saja, kalau tidak dicegah dari sekarang, bisa-bisa orang yang tidak bersalah jadi sasaran pengkafiran, sejarah hitam jangan sampai terjadi di Indonesia.

dari pengikut mashab 4 ilmunya jelas bisa dipertanggungjawabkan

*
di/pada 18 Mei 2010 pada 9:40 pm | Balas SALAFI WAHABI

Maksudnya apa ya ?

25.
di/pada 18 Mei 2010 pada 4:54 pm | Balas joko sutikno

Ya Allah…ma’afkanlah kami semua yang mengaku umat Mohammad swa,dan mengaku hambaMu.karena yang ada pada kami hanyalah pengakuan.Diakui atau tidak kami tidak tau.qusnul kotimah atau su’ul kotimah,sahid atau tidak diakhir hidup kamipun kami tak tau.ya Allah ampuni kami semua…..Amin.
untuk saudaraku yang banyak hafal hadis dan qur’an aku sangat senang bisa banyak tau dan menimba ilmu.untuk yang bertasaufpun aku bangga.tapi ingat….mengingat allah tidak perlu hitungan (tasbih,tahmid,takbir,tahlil dan lainnya).Allah tak ada hitungan pada kita,alangkah nistanya kita kalau berhitung kepadaNya.yang penting istikomah dan mencari,mengingat kesalahan2 diri untuk dimohonkan ampun dan menggantinya dengan kebaikan2.bukankah islam mengajarkan hari ini harus lebih baik dari kemarin,dan besuk harus lebih baik dari pada hari ini.jika terbalik maka termasuk orang yang merugi.Begitu indah islam.tapi sayang,perang madhab membuat islam terpuruk.dan itu terjadi diseluruh negara mayoritas islam.contoh nyata ibnu sina dinas sebagai zindik (ilmuwan yang lambangnya masih dipakai sampai sekarang,yaitu gelas dan ular dikedokteran)Dengan gampangnya orang menganggap bid’ah sesuatu,ironisnya pukul rata hingga islam tidak berkembang.Padahal ayat pertama turun “ikhro’” bacalah.Semua kemajuan dunia sekarang ini non muslim penemunya.pertanyaannya dimanakah ikro’nya orang islam?Mari kita renungkan semua itu.Tinggalkan perdebatan yang tiada guna.Kalau kita mengingatkan cukup sebatas gugur kewajiban.karenakita harus ingat semua itu tergantung dalangnya…………yang salafy teruskan….Yang tasawuf teruskan(hati-hati licin)….. wassalam…..

*
di/pada 18 Mei 2010 pada 9:09 pm | Balas Alamsyah

kalo soal perdebatan, perpecahan, dan perselisihan antar umat Islam, itu semua sudah merupakan sunatullah pak dan itu semua pasti terjadi, karena Rasulullah jauh sebelumnya telah mengabarkan kepada kita (umat muslim) dalam sabdanya, sekaligus memberikan solusi dalam mengatasi perselisihan tsb ;

“Barangsiapa yang hidup diantara kamu sesudahku (yakni sepeninggalku), niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyyin. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu ! Dan jauhilah olehmu segala urusan yang baru/muhdats ! karena sesungguhnya, setiap urusan yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
(H.R Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Daarimi, Hakim, dan lain-lain dari hadits Irbadl bin Sariyah)

Dari Auf bin Malik ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya : “Ya Rasulullah, Siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab ; “Al-Jama’ah”.
(H.R Ibnu Majjah : Kitabul Fitan, bab Iftiraaqil Umam II:1322 nomor 3992, Ibnu Abi ‘Ashim 1:32 nomor 63, Al-Laaikaaiy Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1:101)

Pada riwayat lain, Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam kitabul Iman, bab Maaja’ Fiftiraaqi Hadzihi Ummah No. 2779 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash dan Imam Al-Lalikaiy juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I:99 No. 147 dari shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu : Siapakah golongan yang selamat itu?. Beliau menjawab :

“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para shahabatku”.

*
di/pada 18 Mei 2010 pada 10:46 pm | Balas SALAFI WAHABI

kalo soal dzikir itu ada itungannnya, tapi Allah yang menentukan jumlah dan pahalanya, misalnya ucapan subhanallah 100 x, banyak dalilnya, yang gak boleh itu menentukan sendiri jumlahnya lalu mengajak orang untuk mengikuti anjurannya itu.

Islam mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik dari sekarang dan besok harus lebih baik dari hari ini??????

Tidak mungkin Nabi Muhammad bisa melakukannya.
Saya rasa cuma malaikat yang bisa melakukannya.

Yang salah bukannya imam madzhab, tapi yang salah mengikuti ijtihad madzhab yang menyelisihi hadits shahih tapi pengikutnya tetap taqlid.

Memangnya perkembangan Islam dilihat dari ipteknya??

Nabi muhammad menyuruh para sahabatnya dakwah untuk mengajak kepada Islam dan melaksanakan sunnahnya bukan menciptakan Iptek.

26.
di/pada 19 Mei 2010 pada 12:16 am | Balas badar

Ass Wr Wb.

maafkan saya Mas Mutiara Zuhud soal pamit, sebenarnya sewaktu membaca surat Mas tertanggal 17 Mei , hati saya tergetar tidak karuan karena takut kepada ALLAH SWT.

Saat shalat tanpa terasa saya menangis tak tertahan dan dengan segala kerendahan hati hambanya mohon ampun dan minta diberikan ketentraman hati.

Alhamdulillah dengan segera saya dibukakan banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, sungguh ALLAH SWT Maha Pemurah.

semoga ilmu bermanfaat menyertaimu hingga akhir hidup duhai saudaraku Mutiara Zuhud.

ALLAHHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MOHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MOHAMMAD.

Wass

*
di/pada 19 Mei 2010 pada 4:50 am | Balas mutiarazuhud

Wassalammualaikum Wr. Wb
Subhanaallah.
Segala sesuatu yang antum alami atas kehendak Allah.

Sesungguhnya, kita sejak bayi dalam kandungan Ibu, dalam keadaan bersih dan suci, telah bersaksi “sebenar-benarnya” bersaksi sebagaimana firman Allah yang artinya
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Setelah anak manusia terlahir ke dunia, keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.

Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama. Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak.

Untuk itu bagi kita yang telah menjadi orang tua, dalam mendidik anak, sebaiknya selalu berharap atau memohon pertolonganNya karena segala sesuatu atas kehendakNya. Kita hanya menjalankan keinginanNya. Janganlah dengan hawa nafsu kita, memberikan “coretan” pada “kertas putih” anak kita. Kesadaran dan selalu mengingat Allah setiap saat dalam kehidupan kita dunia mutlak kita hadirkan agar segala perbuatan kita sesuai dengan kehendakNya.

Setelah kita mencapai akil balik dengan segenap ilmu yang telah kita pelajari dan pahami, baik dari pengajaran orang tua, guru dan lingkungan beserta karunia Allah akan pemahaman Al-Qur’an dan Hadits, kita “memulai” mengarungi kehidupan dunia. Kemanakah tujuan arungan kehidupan kita ?

Sebagaimana keinginan Allah yang disampaikan dalam firmanNya yang artinya,
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)

Arungan kehidupan kita di dunia sesungguhnya adalah menuju kepada Allah, selalu sadar dan yakin akan keberadaan Allah, selalu mengingat Allah, sepanjang kehidupan kita di dunia sampai kematian menjemput kita.

Sehingga kita bisa bersaksi kepada Allah yang Maha Esa dalam sebenar-benarnya “bersaksi” sebagaimana kita dalam kandungan Ibu dahulu. Sayangnya setelah bayi dan kita tumbuh dewasa, kita tidak dapat mengingat perjalanan ketika berada dalam kandungan rahim ibu. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah.
“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada aat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Dengan segenap ilmu dan pemahaman yang kita peroleh, kembalilah kepada Allah.
Sekali-lagi saya mengingatkan saya pribadi dan pembaca sekalian. sebaiknya kita tidak bergantung pada ilmu dan pemahaman, semua itu hanyalah sarana, bergantunglah hanya pada Allah. Semakin dalam ilmu dan pemahaman yang kita peroleh maka semakin tertunduk kita kepada Allah dan pada satu titik nanti, InsyaAllah kita akan “lebur” karena kita akan syahid yakni sebenar-benar bersaksi kepada Allah yang Maha Esa.

Sesungguhnya karunia Allah akan pemahaman tentang ma’rifatullah bisa kita lalui jika mendalami ilmu Tasawuf.
Merugilah mereka yang menolak memahami ilmu Tasawuf.

Untuk itulah, Insyaallah, saya hadirkan blog ini untuk mengingatkan diri saya pribadi dan saudara-saudaraku Salafy (pengikut pemahaman Ibnu Taimiyah dan yang sepemahaman), teruntuk saudara-saudara muslimku yang anti tasawuf, teruntuk para pembaca pada umumnya serta juga teruntuk saudara-saudaraku yang terbiasa mengikuti “motivator-motivator” kehidupan yang cenderung mengikuti atau menginginkan materi semata atau memperturutkan hawa nafsu dan menjurus mencintai dunia. Semoga Allah melindungi kita semua.

Wassalammualaikum Wr. Wb

*
di/pada 19 Mei 2010 pada 9:11 pm | Balas SALAFI WAHABI

kamu yang pernah bilang syaikh islam Ibnu Taimiyah itu sakit jiwa ya …..

o
di/pada 19 Mei 2010 pada 9:13 pm SALAFI WAHABI

maksud saya Sdr Badar.

27.
di/pada 21 Mei 2010 pada 9:36 pm | Balas badar

Assalammualaikum Wr Wb.

Mas, boleh saya minta ijin untuk berbagi cerita yang mudah mudahan bermanfaat bagi saudara kita yg baru berniat untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT melalui jalan Tasawuf namun belum bertemu guru Ulama Mursyid?

Harapan saya ada manfaatnya bagi kita semua.

Wassalammualaikum Wr Wb.

*
di/pada 22 Mei 2010 pada 5:01 pm | Balas mutiarazuhud

Walaikumsalam Wr. Wb
Silahkan akhi, jika ingin berbagi cerita.

Belum bertemu guru Ulama Mursyid bukanlah halangan karena sesungguhnya sebagaimana firman Allah yang artinya “….hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah:5).
Sungguh Allah yang tahu persis akan kebutuhan / keperluan kita dan akan “mengirimkan” guru Ulama Mursyid sesuai dengan kebutuhan.

Namun inti tharekat (jalan) utama adalah apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Guru Ulama Mursyid, atas kehendak Allah, “membantu” kita “menapaki” atau “melalui” perjalanan ruhani (suluk) masing-masing, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Persiapan kita sebagai murid, jadilah “orang yang berakal”. Semua manusia mempunyai akal namun yang dimaksud “orang yang berakal” adalah sebagaimana firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran (3): 191). Selalulah “mengingat Allah” dan ini sesuai dengan keinginan Allah sebagaimana firman Allah yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)

Tujuan menjadi “orang yang berakal” adalah untuk mepersiapkan diri menerima karunia hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Ibnu ‘Atha’illah menganjurkan kepada salik (murid dalam perjalanan ruhani) yang ingin mencapai ma’rifat agar menempuh tujuh langkah dan senantiasa bersungguh-sungguh (al-Juhd), merendahkan diri kepada Allah (al-taddharu), membakar hawa nafsu (ahrtiraq al-nafs), kembali dan taubat kepada Allah (al-inabah), senantiasa sabar (al-sabr), selalu bersyukur pada nikmat Allah (al-sykr), dan senantisa rela atas takdir dan ketentuan Allah (al-ridha), Allah akan tetap menjalankan takdir-Nya kepada hamba-Nya baik diminta ataupun tidak, maka cukuplah bagi seorang hamba untuk berserah diri kepada Allah dan Dia akan mencukupi hamba-Nya yang senantisa tawakal.

Ibnu ‘Atha’illah juga mengatakan “janganlah engkau tinggalkan dzikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Allah dalam dzikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadap-Nya dengan tidak ada dzikir kepada-Nya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap-Nya dengan adanya dzikir kepada-Nya”. Dzikir adalah sebaik-baiknya jalan menju Allah Swt. Jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun tidak sedang konsentrasi penuh. Dzikir sebaiknya adalah dengan menghadirkan Tuhan dalam hati, sehingga mampu melupakan segalanya selain Allah Swt.

Jadi klo ketemu orang yang mengaku guru ulama mursyid namun tidak menjalankan syariat Islam sebagai contoh sederhana adalah sholat 5 waktu, maka jauhilah segera.

28.
di/pada 22 Mei 2010 pada 2:11 pm | Balas salafi wahabi

Kenapa gk ada yang mau bedah buku habaib munzir al musawwa ya yang berjudul “MENITI KESEMPURNAAN IMAN”..

29.
di/pada 23 Mei 2010 pada 12:00 am | Balas badar

A’uudzu billaahi minasysyaithannirrajiim.
Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillahhirobbilaalamiin.

Assalammualaikum Wr Wb.

dengan segala kerendahan hati saya tuliskan kisah ini untuk saudaraku yg belum mendalami Hadist, namun ingin mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.

Suatu hari Ada sebuah majelis dzikir yg merupakan kumpulan saudara dan sahabat melakukan shalat malam.
dalam dzikir didapat sebuah berita gaib sbb:

mereka melakukan perjalanan yg lurus dan jauh, sampai suatu saat mereka berdiri dibawah sebuah pohon yang sangat besar dan rimbun. tidak berapa jauh mereka memandang sebuah pagoda yang sangat besar, indah dan mempesona. dibawah pagoda ada sebuah pintu yang sifatnya menghisap, dan diatas pintu ada tertulis surat “AL ASR” yg artinya ” DEMI MASA, SESUNGGUHNYA MANUSIA BERADA DALAM KERUGIAN, KECUALI ORANG ORANG YANG BERIMAN DAN MENGERJAKAN KEBAJIKAN SERTA SALING MENASEHATI UNTUK KEBENARAN DAN SALING MENASEHATI UNTUK KESABARAN”

Berita ini meninggalkan kesan yg sangat mendalam, namun tidak seorangpun memahami arti yang sesungguhnya.

Bertahun berlalu barulah ALLAH SWT singkap arti yg sesungguhnya. maknanya sbb:

Majelis dzikir ini telah melakukan ibadah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT selama bertahun tahun dijalan yg lurus, sampai suatu titik ALLAH SWT telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan iman, ketenangan, perlindungan, kesejukan yg dilambangkan berdiri dibawah pohon yg besar dan rindang , namun pada saat itu pula ALLAH SWT menguji keimanan mereka untuk memandang kepada segala kesenangan dunia berupa kekayaan, ketenaran dan kedudukan yg dilambangkan sebagai pagoda yg mempesona. tertarikkah mereka? terbuaikah? bila ada yg tertarik dan mendekat, diwajibkan bagi saudara/sahabatnya untuk mengingatkan akan peringatan yg tertulis dalam surat ” AL ASR “, bila tidak dihiraukan dan terus mendekat maka dia akan terhisap kedalam pagoda yg ternyata didalamnya adalah sebuah lubang hitam yg tidak diketahui kedalamannya dan yg dapat menolongnya hanya ALLAH SWT.

Inti dari kisah tersebut adalah pertanyaan kepada diri kita sendiri, apa tujuan ibadah kita yg sesungguhnya? bila kita ibadah bukan demi ALLAH SWT semata mata, maka iman kita tidak akan kuat menghadapi cobaan berupa kesenangan dunia,namun bila ikhlas, kita insyaALLAh akan berpaling dari pagoda dan melanjutkan perjalanan untuk mendapatkan lebih banyak lagi anugerah dan ridhoNYA hingga maut menjemput kita.

niat ibadah kita, itulah yg kita dapatkan. diantara anggota majelis tersebut ada yang berniat:

== mendapat ilmu sakti yg bisa digunakan setiap saat untuk berpraktek sebagai “orang pintar”demi mendapatkan materi. jelas orang ini akan kecewa, sebab ilmu ALLAH SWT bukan untuk diperjual belikan dengan harga yg murah. kecewa, lalu menuntut ilmu yg bisa dipraktekkan langsung(ilmu hitam yg dibantu jin kafir) sehingga dia berpraktek sebagai dukun segala macam masalah.

==mendapat rejeki yg banyak dan mudah, tentu orang ini juga akan kecewa, sebab tanpa usaha dan kerja keras bagaimana bisa menjadi kaya? kecewa, marah dan putus asa sampai punya niat minta kekayaan ke sebuah bukit.

untuk mereka ternyata ibadah bertahun tahun sia sia, malah terjerumus kedalam kenistaan.

untuk orang awam yg oleh suatu sebab ingin beribadah semata mata demi ALLAH SWT,ada beberapa saran dari saya:

1 . hancurkan semua patung , gambar berbentuk mahluk hidup yg dipajang dirumah. turunkan foto dan masukkan dalam lemari. boleh pajang foto separuh dada.

2 . jangan kenakan perhiasan dari emas, walaupun sepuhan.(untuk laki laki)

3 . jangan menerima barang berupa keris, jimat yg dibungkus kain, sorban dijahit rajah, tombak, trisula, pisau, badik, uang soekarno, andarun, gigi petir, batu cincin dll yg katanya memiliki kekuatan. bila benda benda tersebut ada dirumah, segera kembalikan kepemiliknya dengan alasan tidak sanggup merawatnya, atau dibuang kesungai yg dalam. modal kita kalau punya hanya baju gamis,tasbih dan sajadah. cukup itu saja.

4 . membaca Qur’an dan hadist agar tidak tertipu.

5 . Bacalah sejarah hidup junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW, Resapilah akan kisah tentang akhlak Beliau yg begitu mulia, sehingga timbul kecintaan kita yg tak terlukiskan terhadap Beliau, keluarga dan sahabatnya.

6 . pelajari tata cara dzikir bertawasul kepada para Nabi dan wali ketika shalat malam dan ziarah ke makam.

7. bila tidak sanggup shalat malam, mulailah dengan yg mudah dan ringan asal terus menerus.

8 . jangan menerima wirid/bacaan dari siapapun yg bukan berasal dari Al Qur’an untuk diamalkan.

9. jangan pernah puasa , shalat malam sambil wiridkan sesuatu walaupun dari Al Qur’an, hal ini harus diawasi oleh seorang guru yg mursyid agar melindungi kita dari serangan setan, bila tidak kuat , bisa gila.

10. biasakanlah hidup sederhana walau kita kaya, keluarkan zakat dan beramal saleh.

Shalawat Nabi adalah ibarat fondasi sebuah rumah dan wadah untuk menampung ilmu lainnya. cobalah wiridkan ” ALLAHHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MOHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MOHAMMAD ” 500 x dalam sehari. lakukan terus menerus dengan penuh keikhlasan, insyaALLAH akan terasa:

1. hidup lebih tenang, semua masalah bisa dihadapi .

2. wajah lebih cerah dan bercahaya.

3. sehat, bila biasa masuk angin, insyaALLAH hilang. dll

jalankanlah ibadah dengan istiqomah, selanjutnya kita akan dituntun untuk menemukan guru ulama mursyid atau ALLAH SWT akan turunkan langsung ilmu kepada kita.

selalu bersyukur atas pemberian ALLAH SWT walau sedikit, insyaALLAh hati kita akan dibuat lembut, tunduk dan hanya takut kepada ALLAH SWT.

demikianlah yg dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Wassalammualaikum Wr Wb

30.
di/pada 27 Mei 2010 pada 1:11 pm | Balas salafi wahabi

Persoalan tawassul itu ada tawassul istighosah yaitu tawassul yang menyeru sesuatu yang gaib (punya kekuatan) di samping Allah.. ini adalah tawassul PEMBATAL KEISLAMAN KEIMANAN.

Point no.9 juga praktek2 yang gak ada dalilnya gak mesti ada mursyid, kalau ingin puasa sunah ingin shalat sunnah tingal cari kitab2 nya di GRAMEDIA asalkan shahih.. tak perlu ada mursyid.

*
di/pada 27 Mei 2010 pada 1:49 pm | Balas mutiarazuhud

Saya sependapat untuk masalah puasa sunnah dan sholat sunnah sudah ada syariat dan ketentuannya. Kita dapat dengan mudah mengetahui melalui buku ataupun ulama agama.

Sedangkan mengenai wirid atau dzikir boleh mengikuti saran atau bimbingan mursyid / pembimbing dengan memahami maknanya agar mengetahui kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Mursyid / pembimbing atau ulama Sufi sudah saya tuliskan di
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/kaum-sufi/

Perlu atau tidak perlu mursyid tergantung kebutuhan dan Allah Maha Mengetahui.

31.
di/pada 29 Mei 2010 pada 7:53 am | Balas badar

poin no.9 yg saya maksud adalah:

besok misalnya niat puasa khusus, malamnya shalat sunah,wiridkan suatu surat di Al QUR’An dalam jumlah tertentu, doa tertentu, tawasul tertentu, jumlah hari puasa tertentu. puasa ini yg harus dijaga oleh seorang guru Mursyid karena setan akan menyerang sekuatnya agar tidak berhasil dijalankan.

kalau puasa sunah misal senen kamis, tengah bulan, dll tidak perlu guru mursyid.

saya pernah ikut suatu majelis zikir sesat yg melakukan shalat taubat dan hajat berjama’ah, ada satu hadiah AL FATIHAH terakhir yg bertawasul sengaja tidak disuarakan jelas untuk siapa, ternyata yg diundang (dihadiahkan AL FATIHAH) adalah serombongan besar jin kafir yg memiliki tugas khusus untuk mengikat anggota majelis agar tertutup mata batinnya. majelis semacam ini dipimpin oleh seseorang yg memiliki ilmu dari AL QUR’AN yg dibalik balik isinya. tawasul semacam ini yg sesat.

32.
di/pada 29 Mei 2010 pada 7:58 am | Balas badar

hati hati beli buku agama, banyak yg menyesatkan, terutama dari group “komando pastur”, sementara ini yg lebih aman di toko buku Gunung Agung.

33.
di/pada 16 Juli 2010 pada 11:07 am | Balas Si Adul

Ini ada nukilan dari Ust. Hartono Ahmad Zaid penulis buku Tasawuf Belitan Iblis..

Garis-garis Besar Aqidah Sufisme

1. Aqidah sufisme mengenai Allah:

Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/ penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan ia memaklumkan dirinya sebagai “kebenaran” dengan ucapan “anal Haq” = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: “Akulah Tuhan.” )

Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara Tuhan dengan diriNya.

Dialog yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, dan

bentuk (copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memulia­kannya di syurga dan sebagai khalif di bumiNya. (Drs Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sienttarama Jakarta, cetakan kedua, 1988, hal 122-123).

Kemudian akibat pendapatnya yang mengandung kemusyrikan itu maka Al-Hallaj yang lahir di Fars, Parsi (Iran) 244H/ 858M ini dihukum bunuh pada tanggal 24 Zulqa’dah tahun 309H/ 26 Maret 922M, di Baghdad di bawah kekhalifahan Abbasiyah, khalifah ke-18 dari 37 khalifah, Al-Muqtadir bi ‘l-lah (Ja’far Abu ‘l-Fadhl, yang berkuasa pada tahun 295-320H/ 908-932M. Selain Al-Hallaj dituduh membawa paham yang menyesatkan (paham hulul), ia juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syi’ah Qaramitah, suatu kelom­pok Syi’ah garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang pemerintahan Dinasti Abbasiyah sejak abad ke-10 sampai abad ke-11. (lihat Ensiklopedi Islam, Kafrawi Ridwan dkk ed, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet V, 1999, huruf H, hal 74-75).

Sumber lain menyebutkan, Abu Mughits Al-Husein bin Mansur Al-Hallaj (244-309H) dilahirkan di Persia, seorang cucu dari penganut Zoroaster, dibesarkan di Irak. Tokoh inilah yang terkenal dengan “Hululiyin” (para penganut faham panteisme) dan “Ittihadiyyin” (para penganut faham manunggaling kawula gusti). Ia ditu­duh kafir, dibunuh dan disalib karena 4 perkara yang dituduhkan kepadanya:

1. Karena berhubungan dengan orang-orang Qaramithah (Syi’ah ekstrim).
2. Karena ucapannya: “Aku adalah Tuhan Yang Haq.”
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.

2. Aqidah Shufi Mengenai Rasulullah SAW

Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang shufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: “Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.”

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu Al-Jazairi berkomentar: Kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub (wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) shufi itu menurut pendapat mereka lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari’atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan. Bukankah (kepercayaan) ini merupakan kekafiran wahai hamba-hamba Allah? komentar Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Khatib Masjid Nabawi Madinah. (Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah, Jam’iyyah Ihyait Turats Al-Islami, halaman 40).

3. Aqidah Shufi Mengenai Wali-wali.

Sufisme dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan keper­cayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada umumnya orang shufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam.

Orang shufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Nujaba’, yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka berkumpul yaitu di Gua Hira’, setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya (pendek kata), dunia perwalian (shufi) itu adalah dunia khurafat (kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.

Ini otomatis berbeda dengan kewalian dalam Islam yang ditegak­kan di atas agama dan taqwa, amal shaleh dan ibadah yang sempurna kepada Allah, dan membutuhkan (pertolongan) Allah. Sebenarnya wali itu tidak bisa menguasai urusan dirinya sendiri (untuk mendatangkan manfaat dan madharat) sedikitpun, lebih-lebih untuk menguasai orang lain.

*
di/pada 16 Juli 2010 pada 11:36 am | Balas mutiarazuhud

Pokok ajaran Islam ada tiga yakni, Islam (rukun Islam, Fikih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin atau i’tiqad) dan Ihsan (seolah-olah melihatNya, tasawuf )

Apa yang disampaikan oleh Ust. Hartono Ahmad Zaid, mungkin saja adalah yang mendalami tasawuf namun terbelit setan.

Sedangkan pokok ajaran islam tentang Ihsan wajib kita imani , sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril dan Rasululllah di depan para Sahabat.

34.
di/pada 15 Agustus 2010 pada 11:11 pm | Balas nya.woeng

Seorang sufi sejati tdk pernah mengatakan”saya ini seorang sufi”,apalagi berdebat dengan orang2 yg mengaku tlh memahami ilmu tasawuf. Pahamilah bhw sekalipun seseorang itu tlh menela’ah berjuta kitab tasawuf bukanlah berarti orang tsb tlh memahami jalannya kaum sufi. Wahai akhi2 ku sekalian janganlah berdebat hal2 yg menyangkut dengan ilmu tasawuf,krn kalian bukanlah ahlinya.Dan jangan memvonis dlm bentuk hukum apapun terhadap ulama baik yg akhi anggap sufi maupun yg bukan.krn sekali lagi saya tekankan bhw kalian bukanlah ahlinya.

*
di/pada 16 Agustus 2010 pada 8:08 am | Balas mutiarazuhud

Kita sebaiknya tidak mengatakan saya seorang sufi, saya muslim yang ihsan atau muhsin, karena ini adalah hak Allah semata untuk memutuskan tingkatan seorang muslim atau menentukan panggilan kepada seorang muslim. Bahkan sebagian ulama juga menganjurkan untuk tidak mengatakan “saya seorang mukmin”, yang diperbolehkan mengatakan “saya seorang muslim”. Sedangkan jika kita memanggil muslim yang lain dengan “kamu seorang sufi” atau mukmin atu muhsin adalah tidak mengapa sebagai penghormatan atau panggilan yang baik.

*
di/pada 30 Agustus 2010 pada 1:06 pm | Balas izhank

nya.woeng…
sy sangat setuju dengan perkataan an

o
di/pada 30 Agustus 2010 pada 1:08 pm izhank

maaf ….

saya sangat se

35.
di/pada 29 Agustus 2010 pada 11:21 pm | Balas badar

kalau membaca kitab karangan SYECH ABDUL QODIR AL JAELANI R.A , beliau yang diakui sebagai Sultan para wali, tidak satu kalimatpun yg pernah beliau katakan bahwa para wali ALLAH bisa berbuat semaunya, tidak membutuhkan pertolongan ALLAH, itu adalah fitnah yg keji!!!. beliau selalu menasehatkan agar kita jangan berbuat apapun selain kehendak ALLAH SWT dan kalimat ini hanya dipahami oleh orang yg mengerti bahwa ALLAH SWT yang maha kuasa, pemilik langit bumi dan segala isinya, tiada daya upaya yg dapat dilakukan selain dengan pertolongan ALLAH SWT.

bila ada sufi palsu yg melebihkan Wali daripada Nabi SAW, maka itu adalah sufi yg otaknya kena stroke dan diduduki setan, ujung ujungnya buka semua pakaian dan berkeliaran dijalanan.

saya lebih percaya kalau busthami (yg mana orangnya?) berkata ” kami telah masuk lautan, lalu tenggelam dan mati, sedangkan para Nabi berdiri ditepian”

36.
di/pada 30 Agustus 2010 pada 1:14 pm | Balas izhank

maksud perkataanku..
sy sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh nya.woeng..
berdebat seperti itu tidak akan ada endingnya.untuk itu jalani apa yang menjadi keyakinan anda, yang menurut anda itu benar..
satu lagi hati-hati mengucapkan kata dari hati karena smua itu hrus dipertanggung jawabkan kelak..subehanallah.

37.
di/pada 31 Agustus 2010 pada 11:04 am | Balas si bodoh ahli siksa

hai semua umat islam yg sya hrmati sesungghnya kalian di dalam tipu daya setan krna ilmu yg klian dpt hnya untk brdbat dan merasa benar maka ,kajilah kitab imam gozali ,(bidayatul hidayah) mka smua akan terbuka inti kesempurnaan ibadah dgan mnjaga hati dan mjlnkan hkum syara dri ulama salaf solihin dan jnganlah kau masuk kedalam partai2 politik yg hanya akan membwa mu ke dlam neraka.

38.
di/pada 31 Agustus 2010 pada 11:10 am | Balas si bodoh ahli siksa

ilmu yg klian pkai hya kalian dptkan dr buku2 cetakan bda kalau kalian benar2 tholabul ilmi kpd ulama2 haq itu bru berkah jd kpd alamsyah dan bandr mendingan kalian pesantren dulu’ jngn ngapalin dri buku2 anak kecil’ juga bisa

39.
di/pada 31 Agustus 2010 pada 11:31 am | Balas si bodoh ahli siksa

Islam akan terpecah menjdi
73 golongan hanya satu golongan yg akan slamat!? Dan menurut imam syasfi,i adalah ahlushunah waljamaah yg benar2 menjalan kan sunnah dan jnganlah kalian menyepelekan sunnah kalau kalian mengaku umat nabi s.a.w mkanya klau sholat pk peci dan srung ya dn belajarlah ilmu fiqih dn tasawuf
Agar kamu tidak tersesat

40.
di/pada 3 September 2010 pada 3:51 pm | Balas badar

sudah ngaku bodoh dan menyiksa diri kok ngajarin orang? tambah bodoh dong yg dengerin…ck..ck..ck

41.
di/pada 4 September 2010 pada 11:08 am | Balas Ardhanto

Saudara seiman dalam wadah bikalimati syahadat
Saya merasa kl saya adalah manusia yang masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam diri saya..
Tapi saya akan sangat merasa tersiksa dan sedih hati saya bila melihat sesama muslim saling merasa benar, saling mengumpat….apakah tujuan dari ISLAM…sebenarnya..
..apakah makna kata yang tersirat dari kata agama rohmatan lil’alamin…
tolong pahami kalimat syahadat yang tersirat..setiap bacaan sholat yang kita lakukan…
Saya hanya bisa mengingatkan bukan membenarkan atau menyalahkan…setidaknya kita harus berpegang pada AL-Quran dan Hadist rosullullah
Kita tidak untuk merasa benar tp mencari kebenaran …bukan dg jalan saling merasa benar, dan menyalahkan…
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment