Mistisisme Dalam Islam

Oleh e_dhiem@z

Makna Tasawuf
Tentang tasawuf Syaikh Ahmad Rifa'i menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang akhlak manusia yang terpuji dan yang tercela untuk memperoleh keridlaan Allah. Syaikh Ahmad Rifa'i menuturkan sebagian bait-baitnya dalam kitab Riayatal Himmat At-Tho'at:

“Sesungguhnya ilmu tasawuf itu adalah mengetahui sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan madzmumah (tercela) yang ada dalam hati untuk menanamkan keikhlasan kepada Allah” (Ri'ayatal Himmah: 1/7).

Tentang tasawuf Syaikh Ahmad Rifa'i menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang akhlak manusia yang terpuji dan yang tercela untuk memperoleh keridlaan Allah. Syaikh Ahmad Rifa'i menuturkan sebagian bait-baitnya dalam kitab Riayatal Himmat At-Tho'at:

“Sesungguhnya ilmu tasawuf itu adalah mengetahui sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan madzmumah (tercela) yang ada dalam hati untuk menanamkan keikhlasan kepada Allah” (Ri'ayatal Himmah: 1/7).

Tujuan ilmu tasawuf adalah mensucikan hati dan memurnikannya untuk bisa menghadap kepada Allah. Syaikh Ahmad Rifa'i menyatakan dalam kitab Ri'ayatal Himmat:

Adapun ilmu tasawuf tersebut adalah perkara yang menyucikan amalan hati untuk menghadap Allah Yang Maha pengasih, Maha Agung dan selain Allah adalah batil dan munkar” (Ri'ayatal Himmat: 1/8)

Kuatnya Madzhab Ahlussunnah menjadikan pembahasan Syaikh Ahmad Rifa'i tentang tasawuf tidak ada bedanya dengan ajaran syara'. Syari'at dan Tasawuf adalah dua ilmu yang mengikat satu sama lainnya. Syari'at adalah sisi luar iman dan tasawuf adalah sisi batin dari iman.

SIFAT-SIFAT TERPUJI DAN TERCELA

Sifat-Sifat yang mulia dan terpuji yaitu: Zuhud, Qana'at, Sabar, Tawakkal, Mujahadah, Ridla, Syukur dan Ikhlas.

Syaikh Ahmad Rifa'i Ra. menyatakan dalam kitabnya Asnal Maqashid :

“Di antarasifat-sifat terpuji menurut syara' itu ada delapan yaitu: Zuhud, Qana'ah, Sabar, Tawakal, Mujahadah, Ridla, Syukur dan Ikhlas, yang semuanya mengandung makna khau (takut), mahabbah (rasa cinta), dan Ma'rifat (perenungan kepada Allah)” Asnal Miqashad: Ii/407)

Akhlaq yang termasuk sifat tercela adalah Hubuddunya, Thamak, itiba'il hawa ‘ujub, Riya, Takabur, Hasud, dan Sum'ah. Nadzam berikut ini menjelaskan tenrang sifat tercela:

“Keterangan sifat-sifat yang merusak hati menurut syara' yaitu 8 perkara yang akan diterangkan, Hubbuddunya, Thamak, Itba'il Hawa, ‘Ujub, Riya, takabur, Hasud, dan Sum'ah. Maka hati akan mengeahuinya nanti, insya Allah berkat pertolongan Allah da barokah Nabi Muhammad saw. “ (Asnal Miqashad: Ii/408).

MAKRIFAT

Makrifat menurut pemikiran Syaikh Ahmad Rifa'i yaitu berfikir akan kekuasaan Allah atau suasana hati yang menggambarkan menuju kedekatan hamba dengan Tuhannya. Makrifat menurut makna dhahirnya adalah seseorang menunaikan kewajiban-kewajiban agama yang sesuai dengan syara' serta keikhlasan hati karena Allah. Orang yang makrifat ketika dipuji oleh orang mukmin karena kebaikannya, maka bertambah imannya dan bersyukur kepada Allah.

MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DAN MELIHAT ALLAH

Orang mukmin sejati wajib memberikan apa yang dia mampu untuk jalan mendekatkan dirinya kepada Allah. Barang siapa yang berjalan untuk medekatkan diri kepada Allah, maka dia wajib menambah jalan makrifat. Orang yang zuhud dianggap dekat kepada Allah ketika perbuatannya menjadi sangat baik dan hatinya tidak henti-hentinya berfikir tentang sifat Allah yang mejadikan rasa takut sebagai cambuk untruk tingkah lakunya dan rasa cinta sebagai kendali dalam keimanannya, sebagai petunjuk kepda Allah dalam mencari keridlaannya.

Bagaimana pun juga seorang hamba sampai kepada derajat tertinggi makrifat dan mendekatkan diri kepada Allah tidak akan mungkin dia melihat zatnya Allah. Hamba yang melihatAllah di dunia ini adalah satu-satunya yaitu Nabi Muhammad Saw. Orang selain Muhammad tidak bisa melihat dengan penglihatan mata kepala dan tidaka akan dapat melihat kecuali bagi golongan dari para nabi dan rosul yang mempunyai sifat-sifat istimewa.

WALIULLAH AZZA WA JALLA

Kekasih Allah (Waliullah) adalah orang yang menurut perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan yang telah ditetapkan Allah dan utusan-Nya kemudian segera bertaubat ketika berbuat dosa. Para wali mempunyai tiga tingkatan: Wali Awam, Wali Khusus, Dan Wali Sangat Khusus . Yang pertama adalah orang mukmin yang jujur dalam keimanannya dan fasiq dalam perbuatanya dan akan masuk surga setelah disiksa(kaarena dosanya). Kedua, adalah orang mukmin adil yang menampakkan keadilannya dalam melanggengkan ibadah yang benar, meninggalkan dosa-dosa besar da tidak melakukan dosa-dosa kecil serta melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Adapun tingkatan yang ketiga adalah manusia sempurna, yakni orang-orang yang adil dan berpengetahuan yang menuruti perintah-perintah dan meniggalkan larangan-laranganNya

Dengan segala macam bentuk dan kesulitannya. Dialah yang mampu meniggalkan dosa-dosa besar dan dosa kecil, baik lahir maupun batin. Tidak disertai cinta kepada kenikmatan dunia, tetapi dia benar-benar berusaha dalam jalan makrifat kepada Allah SWT. Yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran, dan yang demikian itu adalah termasuk orang yang menghidupkan ilmu-ilmunya di tengah-tengah umat. Dia selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya dan bersyukur atas segala karunia-Nya.
Tingkatan yang terendah atau yang terlemah dari para waliyullah adalah mereka menyingkir sekiranya karena tidak ada kekuatan untuk dakwah agama dan mengajarkan ilmu-ilmunya. Wali seperti ini tidak tergolong berpengetahuan (luas) tetapi adil dalam menuruti perintah-perintah Allah dan meniggalkan larangan-laranganNya. Dan karena kelemahannya dia dianggap sebagai wali yang dimaafkan.

Syeikh Nawawi Diarak Keliling Ka`Bah

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Tidak kurang dari 100 judul kitab berhasil digubah oleh Ulama Nusantara yang satu ini kesemuanya ditulisnya dalam bahasa Arab. Selain itu, Kiai Nawawi juga dikenal sebagai seorang yang sangat dicintai baik oleh para murid maupun sesama ulama di kota Mekkah. Kiai Hasyim Asy`ari yang juga merupakan salah seorang ulama yang sempat berguru kepada Syeikh Nawawi, seringkali meneteskan air mata jika mengenang keluhuran pribadi dan kedalaman ilmu gurunya itu.

Sementara para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya.

Ketika kitab tafsir karya Kiai Nawawi diterbitkan, para ulama yang mengajar di Masjidil Haram berkumpul. Mereka sepakat bahwa menafsirkan 30 Juz Al-Qur'an bukan sekedar buah dari kemampuan seseorang, akan tetapi juga karunia yang diberikan oleh Allah. Oleh sebab itu pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Keberhasilan Sang Kiai menyelesaikan Tafsir Marah Labid ternyata bukan saja memberikan nuansa baru di kota Mekkah namun juga diyakini turut memantik perubahan kurikulum pesantren-pesantren Indonesia pada tahun 1888. Perubahan yang dimaksud adalah maraknya pengajian yang membacakan kitab-kitab tafsir, sebuah fenomena yang disinyalir tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Selain di Indonesia, pengaruh Syeikh Nawawi juga mewarnai beberapa negara di sejumlah kawasan. Kitab-kitab beliau diajarkan di pondok-pondok pesantren terkemuka yang ada di Malaysia, Filipina dan Thailand. Bahkan di sejumlah negara Timur Tengah, kitab-kitabnya selalu dijadikan sebagai rujukan.(Rifki)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment