AL-MAIDAH (HIDANGAN) "CERITA NABI ISA AS."

Add caption
QS.5. Al-Maidah (Hidangan)
Surah ke-5 Al-Quran dinamakan Al-Maidah atau hidangan. Menurut beberapa ahli tafsir dinamakan demikian karena dalam surah ini memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi Isa a.s. yang meminta kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

112. (Ingatlah), ketika sahabat-sahabat (Hawariyin) Nabi Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?." Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman."
113. Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu."
114. Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama."
115. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia."

Terkait dengan ayat ke 144, maka selanjutnya kejadian tersebut menjadi hari raya perayaan bagi pengikut Nabi Isa a.s. Kejadian tersebut dalam versi kristiani diabadikan sebagai perjamuan terakhir atau "The Last Supper" atau perjamuan kudus sebelum akhirnya Nabi Isa memutuskan untuk membuat benteng pertahanan di taman Getsamani (Sebuah bangunan di Kebun Zaitun), dan perayaan akan turunnya hidangan tersebut dikenal dengan nama "Hari Raya Paskah", kesaksian Ekaristi (ansich) walaupun tentu terdapat perbedaan versi mengenai perayaan ini.

Tentu saja ayat selanjutnya haruslah menjadi perhatian, Allah mengabulkan permintaan Nabi Isa a.s. dengan diiringi sebuah ancaman yang amat sangat serius. Ayat 115 menegaskan janji Allah yang niscaya, ancaman yang cukup menakutkan dan tidak ada ancaman serupa dengan ini di dalam ayat-ayat Al-Quran, "Maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Kita kembali ke ayat 113 dimana permintaan sahabat Nabi Isa a.s. (Hawariyin) juga bukan hanya sebuah permintaan kosong, namun sebuah permintaan yang merupakan tantangan keimanan. "...supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami.."

Disini sebenarnya kita sudah melihat adanya bibit-bibit kekurang percayaan orang-orang yang berada disekitar 'Isa al-Masih terhadap dirinya dan Allah. Sekian lama mereka menjalani kehidupan bersama, menyebarkan dakwah dibawah bimbingan Nabi 'Isa kepada masyarakat dan membuktikan sendiri mukjizat-mukjizat kenabian 'Isa al-Masih, namun mereka masih tetap merasa kurang yakin.

Kita lihat dalam pada ayat sebelumnya (ayat 112), 'Isa menegur kelakuan para sahabatnya ini yang seolah tidak beriman kepada Allah dan dirinya selaku Rasul; Ini bukan satu-satunya teguran Nabi Isa terhadap sikap para sahabatnya semacam ini, kita lihat didalam surah ali-Imran ayat 52 :

"Ketika 'Isa merasa akan kekufuran dari mereka, ia bertanya: Siapakah penolong-penolongku kejalan Allah ?; Maka para sahabatnya menjawab : Kami adalah pelayan-pelayan Allah, kami telah beriman kepada Allah dan lihatlah, bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang muslimin."
(Qs. ali Imran 3:52)

Atas jawaban para Hawariyin ini, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menjadi bukti atas kebenaran ucapan mereka ini didalam ayat selanjutnya :

"Dan mereka membuat tipu daya, namun Allah (juga dapat) membuat tipu daya; dan sesungguhnya Allah itu sepandai-pandainya menipudaya."
(Qs. ali Imran 3:54)

Pemahaman bahwa Allah membuat tipu daya harus dikaitkan dalam konteks membalikkan tipudaya sahabat-sahabat Nabi Isa, sehingga tiada lain bahwa tipudaya itu hanya merugikan diri mereka sendiri. Lihat ayat lainnya "Karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri". (Qs. Faathir 35:43)


Kembali kepada pembahasan kita. Dari ayat-ayat di atas, Al-Quran telah mengisyaratkan akan adanya tipudaya dari sahabat-sahabat Nabi Isa a.s. Dan juga tentang ancaman yang maha dahsyat kepada sahabat-sahabat Nabi Isa a.s. (115).

Di ayat itu, kita juga menemukan isyarat langsung dari Allah, bahwa akan ada yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya diantara kaum Hawariyin tersebut setelah usainya Hidangan dari langit diturunkan, yaitu sesudah terjadinya jamuan makan malam ketuhanan menurut teologi Nasrani.

Kita ketahui dari Bibel, bahwa dari 12 orang murid utama 'Isa, ada seorang yang telah berkhianat dengan jalan menjual informasi mengenai keberadaan 'Isa kepada para ahli Taurat dan orang-orang Romawi. Murid tersebut diyakini bernama Yahudza Iskharyuti atau Yudas Iskariot.

Dan Yudas digambarkan memiliki rencana yang jahat terhadap 'Isa al-Masih setelah acara jamuan makan malam al-Maidah selesai dengan membocorkan rahasia keberadaan sang Nabi kepada musuh-musuhnya dengan imbalan 30 batang perak, sehingga mereka melakukan penyerbuan terhadap persembunyian 'Isa al-Masih.

"... Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera." (Bibel - Yohanes 13: 27).

Namun sesuai dengan janji Allah, bahwa rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang sudah membuat rencana itu sendiri, begitu pula halnya dengan diri 'Isa al-Masih, beliau telah diselamatkan Allah dari tragedi penyaliban dengan menukarkan jasad jasmani 'Isa dengan Yahudza Iskharyuti yang merupakan otak dari semua rencana jahat itu.

An Nisa ayat 157. Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[]", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
[]. Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka (Yahudi dan Romawi) tidak mempercayai kerasulan Isa.

Demikianlah kiranya Allah telah menentukan keputusan-Nya untuk memberikan hukuman terhadap orang yang telah merencanakan hal yang keji atas diri Nabi-Nya dengan azab yang belum pernah terjadi pada seluruh makhluk-makhluk Allah.

Kita lihat, betapa Yahudza alias Yudas telah disiksa diatas kayu salib oleh Allah dengan perantaraan orang-orang Yahudi dan Romawi; kemudian ketersaliban Yudas diatas kayu ini diabadikan Allah untuk generasi selanjutnya, yaitu dengan cara menjadikan Yudas yang tersalib itu kedalam simbol keagamaan Kristiani.

Sepanjang sejarah kita tidak pernah menyaksikan adanya satu simbol berbentuk manusia terhukum dan menderita yang abadi sepanjang sejarah kemanusiaan; satu simbol kejahatan yang membimbing manusia kejalan syaitan, simbol yang dipergunakan oleh orang untuk membeli kebenaran dengan kesesatan.

Siapa yang tahu, nun jauh dialam kuburnya, Yudas merintih setiap kali ada orang yang memandangi dirinya dalam salib dan mempergunakan simbol dirinya tersebut didalam menjalankan satu ritual keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa a.s dan Allah SWT. Semuanya ini akan menambah panjang penderitaan Yudas sebagai satu azab dari Allah untuknya karena telah berbuat makar terhadap 'Isa al-Masih.

Kiranya dengan azab tersebut terpenuhilah ancaman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 115.

Hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Salam.

Cukuplah sabda Nabi Muhammad sebagai penutup kajian kita kali ini.

"Apabila ada ahli kitab berbicara kepadamu (terkait aqidah keagamaan), maka janganlah engkau mendustakannya dan janganlah kamu membenarkannya. Tetapi katakanlah : 'Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan sebelum kami.' ; Apabila yang dikatakan itu haq (benar), janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila itu batil, maka janganlah kamu membenarkan." (Riwayat Abu Daud, Turmudzi dan Muslim).
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment