Seni Memimpin Diri

Add caption
KETIKA baru pulang dari perang terhebat di zaman Rasulullah, yakni Perang Badar, maka nabi yang mulia memberikan nasihat-nasihatnya. Perang itu berlangsung di bulan Ramadan ketika nabi dan para sahabatnya tetap menjalankan ibadah puasa.
"Kita baru saja kembali dari perang kecil menuju ke perang yang lebih besar. Perang besar itu adalah menghadapi hawa nafsu," kata Rasulullah saw.
Frederick Agung, Raja Prusia yang terkenal itu, suatu hari berjalan-jalan di pinggiran Kota Berlin, Jerman. Ia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang berjalan ke arahnya, kemudian ia bertanya:
"Kau siapa?" tanya Frederick.
"Saya raja," jawab sang laki-laki tua.
"Raja?" Frederick tertawa. "Atas kerajaan mana kau memerintah?"
"Atas diri saya sendiri," jawab laki-laki tua itu dengan bangga.
Potongan kisah Nabi Muhammad dan pembicaraan Raja Frederick itu mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Apabila seseorang telah mampu memimpin dirinya, berarti dia telah berhasil menjelajahi diri dan mengenal secara mendalam siapa dirinya. Sebelum memimpin ke luar, ia telah mampu memimpin ke dalam.
Muhammad, sebelum menjadi nabi dan pemimpin besar, telah berhasil memimpin diri sendiri. Tak heran apabila pada usia belia telah mendapat gelar dalam hal integritas dan kejujuran yaitu "Al-Amin" dari masyarakat Quraisy yang kelak menjadi penentang utamanya. Sampai saat ini belum ada satu pun universitas di dunia yang memberikan gelar "Al-Amin" kepada lulusannya.
Pengenalan diri lebih intensif dilakukan Muhammad di Gua Hira, sebuah gua yang berada di puncak Bukit Cahaya (Jabal Nur) di pinggiran Kota Mekah. Perenungan tersebut yang selanjutnya mengantarkan pada pengenalan Sang Pencipta, Allah SWT.
Begitu pula dengan yang terjadi pada Nelson Mandela, pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis menjadi negara yang demokratis dan merdeka. Dalam sebuah wawancara, Nelson Mandela menceritakan selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya.
Ia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya sehingga menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri, memaafkan orang yang memusuhinya. Karena itulah, Mandela kemudian diakui sebagai pemimpin sejati.
Memimpin diri adalah pekerjaan yang amat berat. Tak mudah bagi seseorang untuk selalu mampu memimpin diri sendiri melawan penjajahan hawa nafsu. Hal ini berkaitan dengan kedisiplinan diri yaitu mencapai apa yang sungguh-sungguh diharapkan dan melakukan yang tidak diinginkan. Musuh yang paling berat untuk ditaklukkan adalah diri sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Kepemimpinan adalah transformasi internal dalam diri seseorang. Sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Karena itulah, ketika usai Perang Badar, Rasulullah mengatakan masih ada peperangan yang lebih besar, yaitu perang melawan diri sendiri. Itulah perang sepanjang hayat, yaitu mengendalikan dan memimpin diri ke jalan kebenaran. Wallahu-a'lam.***
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment