Anjuran Berbuat Baik

Add caption
Allah swt. berfirman dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 148:
Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”.
Dalam realitas kehidupan saat ini, terdapat ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat banyak yang menganggap bahwa kaum laki-laki lebih kuat, sedangkan kaum perempuan dianggap lemah. Entah sejak kapan hal ini bermula, namun kenyataannya kaum perempuan sampai saat ini masih dipinggirkan dan dipandang sebagai makhluk Tuhan kelas dua yang nilainya separuh harga laki-laki. Seringnya perempuan juga diperlakukan dengan kasar, keras, bahkan tak jarang di antara mereka yang diperlakukan sebagai setengah budak. Padahal, dalam QS. Al Hujurat Allah swt. tak pernah membeda-bedakan manusia dan menilai mereka hanya dari sisi kadar ketakwaannya. Inna akramakum ’indallaahi atqaakum.
Sering kita dengar di radio, kita lihat di televisi dan kita baca di media-media massa betapa para TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia terutama di negara-negara Islam seperti Saudi Arabia dan juga Malaysia, sering diperlakukan semena-mena seperti gambaran hal di atas. Akhirnya, acapkali muncul pertanyaan: mengapa mereka yang mengaku beriman pada Tuhan tapi tidak melakukan kebaikan? Selain itu, banyak juga mereka yang berasal dari dunia pertama atau negara-negara maju mengksploitasi tenaga perempuan Indonesia untuk jadi sarana mendulang keuntungan yang besar, seperti mempekerjakan mereka di pabrik-pabrik sepatu dengan upah minim dan jam kerja yang tinggi. Mereka seolah tidak peduli dengan hak-hak pekerja perempuan untuk memenuhi target produksi mereka. Globalisasi yang berkembang benar-benar menimbulkan dampak bagi negara miskin dan berkembang karena jadi sasaran proyek negara-negara kapitalis, dan perempuanlah yang selalu jadi objek utama. Perempuan dibodohi, diperlakuan kasar, diperdagangkan dan dibebani. Kenaikan BBM adalah salah satu contohnya juga. Perempuan semakin terjepit dengan kenaikan BBM ini yang disusul kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
Melalui ayat di atas Allah menganjurkan supaya manusia memanfaatkan waktu ini sebagai kesempatan untuk beramal shaleh. Perintah ini ditujukan bagi orang-orang yang berfikir agar mereka yang merasa kuat membela yang lemah. Itu sebuah kebaikan. Membela yang tertindas, menghormati hak-hak perempuan, menghargai perempuan dan memuliakannya itu juga merupakan kebaikan. Perempuan memiliki banyak ladang kebaikan bila tidak dikekang,  ditekan dan dimarjinalkan. Suara-suara perempuan dan karyanya banyak memberi sumbangan untuk pembangunan dan mengisi kemerdekaan. Kita memiliki Cut Nyak Dien, RA. Kartini, Rd. Dewi Sartika, dan lain-lain. Islam juga mengenal jasa-jasa besar Khadijah isteri Rasul, A’isyah, Rabi’ah dan lainnya sebagai perempuan penebar kebaikan.
Perempuan telah banyak tampil untuk berjuang menegakkan dan mengembangkan syiar Islam, namun mengapa kini dipinggirkan, dianggap lemah, dibodohi, dieksploitasi? Padahal banyak ayat Alquran yang menjelaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan seperti dalam QS. Al-Hujurat: 13 ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Bila kita memahami ayat tersebut tentu tidak akan terjadi adanya ketimpangan seperti saat ini.

Berbuat kebaikan dapat kita lakukan di berbagai sektor kehidupan, berbagai tempat dan setiap waktu. Suami berbuat baik kepada istri dalam keluarga dan sebaliknya, ayah memenuhi hak anak-anaknya baik laki-laki atau perempuan secara adil itupun kebaikan. Masyarakat  yang mensedekahkan kekuatannya baik ekonomi, pendidikan maupun pengaruhnya untuk menolong sesama yang lemah itupun sebuah kebaikan. Saling menghormati dan menyayangi  antar individu itupun sebuah kebaikan.
Bersegeralah berbuat kebaikan. Dalam Hadis yang diriwayatkan Muslim: “Dari Abu Hurairah ra. ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Bersegeralah kalian untuk mengerjakan amal-amal shaleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada waktu pagi dia beriman tetapi pada waktu-waktu sore dia kafir, atau pada waktu sore dia beriman tetapi pada waktu paginya dia kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”. (HR. Muslim)
Hadis di atas sangatlah relevan untuk kondisi dan realitas saat ini. Kita perlu segera melakukan perubahan dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mengubah budaya-budaya patriarki yang banyak merugikan kaum perempuan dengan pengakuan akan pentingnya kesetaraan di antara laki-laki dan perempuan. Para suami dan ayah dapat menghindari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan berbuat baik kepada istri dan anak-anaknya. Pengusaha berbuat baik kepada bawahannya, para buruh dan karyawan mereka yang kebanyakan perempuan dengan tidak mengeksploitasi mereka serta mendengar dan menghargai suara mereka, serta mengakui keberadaannya sama seperti laki-laki. Pemerintah berbuat baik pada masyarakatnya dengan cara memperhatikan kaum lemah yang selama ini dianggap rendah dan tak berdaya. Penyelenggara negara memberdayakan perempuan sehingga berkualitas dan menghasilkan generasi yang berkualitas pula. Hak-hak perempuan harus diperhatikan baik dari perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan maupun ekonomi.
Marilah kita mulai melihat tetangga dan lingkungan sekitar kita, anak-anak yang sengaja dieksploitasi untuk mencari penghasilan tambahan orang tuanya. Perempuan yang diperdagangkan baik oleh individu atau kelompok. Betapa sadisnya hal itu. Oleh sebab itu berlomba-lombahlah berbuat baik dengan menolongnya, ikut membantu memperbaiki kehidupannya, menyayangi anak-anaknya, mengasihi istri dan keluarga, serta menebar kasih sayang pada sesama agar tak ada kekerasan dan kenistaan pada perempuan. Dengan demikian Islam benar-benar akan menjadi rahmat bagi alam. [Dra. Kokom Komariah – Jawa Barat]
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment