Huquq al-Jar, Etika Bertetangga dalam Islam

Presentasi Agama Islam diajarkan oleh Drs. Djuanda yang dibawakan oleh Kelompok 8 yakni , Arsyena Archamah Kamaratih , Faridz Wazdi Warasta , dan Khairiyah di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta .

A. BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak pernah lepas dari kegiatan bertamu dan menerima tamu. Adakalanya kita mengunjungi sanak saudara, kerabat, kenalan kita dan adakalanya kita juga dikunjungi teman-teman kita. Supaya kegiatan tersebut tetap berdampak positif bagi kedua belah pihak, baik pihak yang mengunjungi maupun pihak yang dikunjungi, maka Islam memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya kegiatan bertamu dan menerima tamu dilakukan.

- Bertamu

Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada tuan rumah. Sebagaimana Firman Allah SWT (QS. An-Nur :27)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”

Meminta izin bisa dengan kata-kata, dan bisa pula dengan ketukan pintu atau tekan tombol bel atau cara-cara yang lebih dikenal dalam masyarakat setempat. Bahkan salam itu sendiri bisa juga dianggap sekaligus sebagai permohinan izin.

Menurut Rasulullah saw, meminta izin maksimal boleh dilakukan tiga kali. Apabila tidak ada jawaban, sebaiknya yang bertamu kembali pulang. Jangan sekali-kali masuk rumah orang lain tanpa izin, karena disamping tidak menyenangkan bahkan mengganggu tuan rumah, juga dapat berakibat negatif kepada tamu itu sendiri.

Mengapa meminta izin maksimal tiga kali? Karena ketukan pertama, sebagai pemberitahuan kepada tuan rumah akan kedatangan tamu, ketukan kedua, memberikan kesempatan tuan rumah untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, ketukan ketiga, diharapkan penghuni rumah sudah berjalan menuju pintu. Setelah ketukan ketiga tetap tidak ada yang membukakan pintu, ada kemungkinan tidak ada orang di rumah atau tuan rumah sedang tidak bersedia menerima tamu.

Tamu tidak boleh mendesakkan keinginannya untuk bertamu setelah ketukan ketiga, karena hal tersebut akan mengganggu tuan rumah. Sekalipun tuan rumah dianjurkan untuk menerima dan memuliakan tamu, tapi tetap berhak menolak kedatangan tamu kalau memang dia tidak berkenan.

Menurut QS. An-Nur:28, tidak memaksa masuk pada saat tidak ada orang di rumah, atau ditolak oleh tuan rumah, maka lebih bersih bagi tamu itu sendiri. Artinya lebih menjaga nama baik dan kehormatannya sendiri. Kalau dia mendesak untuk terus bertamu, dia akn dinilai kurang memiliki akhlaq, apabila dia masuk padahal tidak ada tuan rumahnya, bisa-bisa dia dituduh bermaksud mencuri.

Disamping meminta izin dan mengucapkan salam, masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak bertamu, diantaranya:

a. Jangan bertamu sembarang waktu. Bertamulah pada saat yang kiranya tuan rumah tidak akan terganggu.
b. Jangan terlalu lama bertamu sehingga merepotkan tuan rumah. Segeralah pulang jika urusan sudah selesai.
c. Jangan melakukan kegiatan yang menyebabkan tuan rumah terganggu. Diizinkan masuk rumah bukan berarti diizinkan segala-galanya.
d. Kalau disuguhi minuman atau makanan, hormatilah jamuan itu. Bahkan Rasulullah saw menganjurkan kepada orang yang berpuasa sunah sebaiknya membukai puasanya untuk jamuan (HR. Baihaqi).
e. Hendaklah pamit ketika akan pulang.

- Menerima tamu

Rasulullah saw mengaitkan sifat memuliakan tamu itu dengan keimanan terhadap Allah SWT dan Hari Akhir. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memuliakan tamu dilakukan antara lain dengan menyambut kedatangannya dengan muka manis dan tutur kata yang lemah lembut, mempersilakan duduk di tempat yang baik. Kalau perlu disediakan ruangan khusus menerima tamu yang dijaga kerapihannya.

Kalau tamu dating dari tempat yang jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam. Lebih dari itu terserah tuan rumah tetap menjamunya atau tidak. Menurut Rasulullah saw, menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah, bukan lagi kewajiban. Rasulullah saw bersabda:

“Menjamu tamu itu hanya tiga hari. Jaizahnya sehari semalam. Apa yang dibelanjakan untuk tamu diatas tiga hari adalah sedekah. Dan tidak boleh bagi tamu tetap menginap (lebih dari tiga hari) Karen ahal itu akan memberatkan tuan rumah.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Malik, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memuliakan dan menjamu tamu pada hari pertama dengan hidangan yang istimewa dari hidangan yang biasa dimakan tuan rumah sehari-hari. Sedangkan hari kedua dan ketiga dijamu dengan hidangan biasa sehari-hari.

Sedangkan menurut Ibn al-Atsir, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memberi bekal kepada tamu untuk perjalanan sehari-semalam. Namun bagaimanapun bentuknya, substansinya tetap sama yaitu anjuran untuk memuliakan tamu sedemikian rupa.

B. HUBUNGAN BAIK DENGAN TETANGGA

Sesudah anggota keluarga sendiri, orang yang paling dekat dengan kita adalah tetangga. Merekalah yang diharapkan paling dahulu memberikan bantuan jika kita membutuhkannya. Jika kita tiba-tiba ditimpa musibah kematian misalnya, tetanggalah yang paling dahulu datang takziah. Begitu juga apabila kita mengadakan suatu acara maka tetanggalah yang pertama datang membantu dibandingkan family kita yang rumahnya lebih jauh. Kepada tetangga pulalah kita menitipkan rumah kita disaat kita sedang bepergian jauh ke luar kota.
Rasulullah saw juga mengatakan bahwa tetangga yang baik adalah salah satu dari tiga hal yang membahagiakan hidup:

“Di antara yang membuat bahagia seorang Muslim adalah tetangga yang baik, rumah yang lapang, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Hakim)

Baik buruknya sikap tetangga kepada kita tentu tergantung juga bagaimana sikap kita terhadap mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nyadengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS An-Nisa’:36)

Dengan varian agama dan hubungan kekeluargaan, tetangga dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama, tetangga yang punya satu hak, yaitu hak sebagai tetangga. Mereka adalah tetangga yang bukan famili dan bukan pula seagama. Kedua, tetangga yang punya dua hak, yaitu hak tetangga dan hak seagama. Mereka adalah tetangga yang seagama. Ketiga, tetangga yang punya tiga hak, yaitu hak tetangga, seagama dan famili. Mereka adalah tetangga yang seagama dan punya hubungan kekeluargaan. Tetangga yang punya hak lebih banyak, lebih berhak mendapatkan kebaikan dari kita.

- Pentingnya hubungan baik dengan tetangga

Rasulullah saw menjadikan sikap baik dengan tetangga sebagai ukuran keimanan seseorang kepada Allah SWT dan Hari Akhir. Beliau bersabda:

“Demi Allah, dia tidak beriman!” “Demi Allah, dia tidak beriman!” “Demi Allah, dia tidak beriman!” Seorang sahabat bertanya: “Siapa dia (yang tidak beriman itu) ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (H. Mutafaqun ‘Alaih)

“Tidak masuk sorga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (HR. Muslim)
Semakin kuat iman seseorang, semakin baik dia dengan tetangganya, begitu pula sebaliknya.

- Bentuk-bentuk hubungan baik dengan tetangga

Minimal hubungan baik dengan tetangga diwujudkan dalam bentuk tidak mengganggu atau menyusahkan mereka. Yang lebih baik lagi tidak hanya sekedar menjaga jangan sampai tetangga terganggu, tapi secara aktif berbuat baik kepada mereka. Misalnya dapat dengan bertegur sapa, memberikan pertolongan disaat tetangga butuh pertolongan dan lain sebagainya.

Rasulullah saw bersabda:

“Hak tetangga itu ialah, apabila ia sakit kamu menjenguknya, apabila ia meninggal, kamu mengiringi jenazahnya, apabila ia membutuhkan sesuatu, kamu meminjaminya, apabila ia tidak memiliki pakaian kamu memberinya pakaian, apabila dia mendapat kebajikan kamu mengucapkan selamat kepadanya, apabila ia mendapat musibah, kamu bertakziah kepadanya, jangan engkau meninggikan rumahmu atas rumahnya sehingga angin terhalang masuk rumahnya, dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau periukmu kecuali kamu memberikan sebagian dari masakan itu.” (HR. Thabrani)

Seorang muslim harus peduli dan memperhatikan tetangganya. Jangan sampai terjadi seseorang dapat tidur nyenyak sementara tetangganya menangis kelaparan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits:

“Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.” (HR. Bazzar)

C. HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT

Selain dengan tamu dan tetangga, seorang Muslim harus dapat berhubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas, baik di lingkungan pendidikannya, lingkungan kerjanya, baik dengan sesama Muslim maupun dengan non-muslim.

Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan, karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula hidup bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling kenal.

- Kewajiban sosial sesama Muslim

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menyebutkan ada lima kewajiban seorang Muslim atas Muslim lainnya. Beliau bersabda:

“Kewajiban seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin.” (HR. Khamsah)

1. Menjawab salam

Mengucapkan dan menjawab salam hukumnya berbeda. Mengucapkannya sunnah, menjawabnya wajib, karena tidak menjawab salam yang diucapkan, tidak hanya dapat mengecewakan orang yang mengucapkannya tetapi juga dapat menimbulkan kesalahpahaman. Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisa’: 86)

2. Mengunjungi orang sakit

Menurut Rasulullah saw, orang-orang yang beriman itu ibarat satu batang tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit, yang lain ikut prihatin. Kunjungan teman, saudara, adalah ‘obat yang mujarab’ bagi si sakit. Dia merasa senang karena masih ada sahabat untuk berbagi duka.

3. Mengiringkan jenazah

Apabila seseorang meninggal dunia, masyarakat secara kifayah wajib memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya. Rasulullah saw sangat menganjurkan kepada masyarakat untuk dapat menyalatkan dan mengantarkan jenazah ke kuburan bersama-sama. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah lalu ikut menyalatkannya, baginya satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, baginya dua qirath.” Ditanyakan orang: “Apa itu dua qirath?” Beliau bersabda: “Seperti dua gunung yang besar (pahalanya).” (H. Mutafaqun ‘Alaih)
Mengantarkan jenazah sampai ke kuburan dapat mengurangi kedukaan keluarga yang ditinggalkan, juga dapat mengingatkan kita akan kematian yang pasti akan datang.


4. Mengabulkan undangan

Seorang muslim sangat dianjurkan memenuhi berbagai undangan yang diterimanya selama tidak ada halangan, dan acara tersebut tidak bertentangan dengan syariat islam.

5. Menyahuti orang bersin

Orang yang bersin disunatkan membaca Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, karena biasanya bersin merupakan pertanda badan ringan dari penyakit. Bagi yang mendengar seseorang bersin, diwajibkan menyahutinya dengan membaca yarhamukallah (mendo’akan semoga Allah mengasihinya). Orang yang tadi bersin menjawab pula, yahdikumullah wa yushlih balakum (semoga Allah menunjuki dan memperbaiki keadaanmu). Namun jika yang bersin tidak mengucapkan Alhamdulillah, kita tidak boleh menyahutinya.

Toleransi Agama

Islam tidak hanya menyuruh kita membina hubungan baik dengan sesama muslim saja, tapi juga dengan non-muslim. Namun demikian dalam hal-hal tertentu ada pembatasan hubungan dengan non-muslim, terutama yang menyangkut aspek ritual keagamaan.

Dalam berhubungan dengan masyarakat non muslim, Islam mengajarkan kepada kita untuk toleransi, tetap menghormati keyakinan umat lain tanpa berusaha memaksakan keyakinan kita kepada mereka. Toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Toleransi juga bukan berarti kompromi dalam keyakinan dan ibadah. Kita sama sekali tidak boleh mengikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun. Sikap kita sudah cukup jelas dan tegas sebagaimana terdapat dalam QS Al-Kafirun ayat 6: “La kum dii nukum waliyadiin” yang berarti “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

D. PERGAULAN MUDA-MUDI

Dalam pergaulan sehari-hari di tengah masyarakat, terutama antar muda-mudi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu tentang mengucapkan dan menjawab salam, berjabatan tangan, dan khalwah.

- Mengucapkan dan Menjawab salam

1. Islam mengajarkan kepada sesama Muslim untuk saling bertukar salam apabila bertemu atau bertamu. Rasulullah saw bersabda:
“Kamu tidak akan masuk sorga sebelum beriman, dan tidak akan beriman sebelum berkasih sayang. Maukah kamu aku tunjukkan suatu amalan yang akan dapat memupuk rasa kasih sayang sesamamu? Yaitu senantiasalah mengucapkan salam sesamamu.” (HR. Muslim)
2. Salam yang diucapkan minimal adalah “Assalamu’alaikum”. Namun akan lebih baik dan lebih besar pahalanya apabila diucapkan secara lebih lengkap.
3. Mengucapkan salam hukumnya sunat, tetapi menjawabnya wajib, minimal dengan salam yang seimbang.
4. Bila bertamu, yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah si tamu, tetapi apabila bertemu, yang terlebih dahulu mengucapkan salam adalah yang berada diatas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada ynag duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yanh lebih muda kepada yang lebih tua. Namun hal tersebut tidaklah berlaku mengikat, bahkan Rasulullah saw ,memberikan catatan bahwa yang paling utama adalah yang paling dahulu memberikan salam. Sebagaimana beliau bersabda:
“Seutama-utama manusia bagi Allah ialah yang mendahuluoi memberikan salam.” (HR. Abu Daud)
5. Salam tidak hanya diucapkan saat bertemu, tetapi juga tatkala mau berpisah.
6. Jika dalam rombongan, baik yang mengucapkan maupun yang menjawab salam boleh hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut.
7. Rasulullah saw melarang orang islam mengucapkan dan menjawab salam Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani).
“Jika Ahlul Kitab member salam kepadamu, jawablah dengan “Wa’alaikum”. (H. Mutafaqun ‘alaihi)
Namun bila Ahlul Kitab itu berada satu majelis dengan orang-orang Islam, kita boleh mengucapkan salam kepada majelis itu.
8. Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya.

Salam yang diajarkan Islam adalah salam yang bernilai tinggi, universal, dan tidak terikat dengan waktu. Disebut bernilai tinggi karena mengandung do’a untuk mendapatkan keselamatan, berkah dan rahmat dari Allah SWT. Universal karena berlaku untuk seluruh umat Islam dimanapun berada.

- Berjabatan tangan

Rasulullah saw mengajarkan bahwa untuk lebih menyempurnakan salam dan manguatkan tali ukhuwah islamiyah, sebaiknya ucapan salam diikuti dengan berjabatan tangan jika memungkinkan. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu bersalaman, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain)

Berjabatan tangan haruslah dilakukan dengan penuh keikhlasan. Rasulullah saw mengajarkan kalau menjabat tangan seseorang harus dengan penuh perhatian, keramahan, dan muka manis. Jangan bersalaman sambil memandang objek yang lain. Jangan juga menarik tangan dengan cepat dan tergesa yang mengesankan kita berjabatan tangan tidak dengan senang hati.

Anjuran untuk berjabatan tangan tidak berlaku antar pria dan wanita kecuali antara suami isteri atau seseorang dengan mahramnya. Lebih tegas lagi Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh, jika kepala seseorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik bagi dia daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Jelaslah bahwa seorang pria tidak boleh berjabatan tangan dengan wanita yang bukan isteri bukan juga mahramnya, begitu pula sebaliknya. Salah satu hikmah larangan tersebut adalah sebagai tindakan preventif dari perzinaan.

Mungkin timbul pertanyaan, apakah menolak berjabat tangan itu tidak menimbulkan kesan angkuh? Penilaian seseorang terhadap sesuatu tergantung nilai atau norma yang menjadi pegangannya. Kalau nilai yang menjadi pegangannya bukan nilai islam, bisa jadi kesan seperti itu akan muncul. Tapi secara umum seorang yang beragama akan menghormati orang lain yang teguh memegang norma agama dalam kehidupannya.

- Khalwah

Yang sangat penting diperhatikan dalam pergaulan pria dan wanita, terutama antar muda-mudi adalah masalah pertemuan diantara mereka, terutama pertemuan-pertemuan pribadi. Rasulullah saw melarang wanita berkhalwah, baik di tempat umum, apalagi di tempat sepi.

Yang dimaksud dengan khalwah adalah berdua-duan antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan suami isteri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga.

Mengapa Rasulullah saw melarang berkhalwah? Apa bahayanya? Apakah tetap dilarang apabila masing-masing saling mempercayai? Beliau bersabda:

“Jauhilah berkhalwah dengan wanita. Demi (Allah) yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah berkhalwah seorang laki-laki dengan seorang wanita kecuali syaitan akan masuk di antara keduanya.” (HR. Thabrani)

Syaitan akan selalu mencari peluang dan memanfaatkan segala kesempatan untuk menjerumuskan anak cucu Adam.

Dalam hadits lain Rasulullah menjelaskan bahwa zina akan masuk lewat bermacam-macam pintu. Beliau bersabda:

“Sudah menjadi suratan nasib manusia itu senantiasa dibayangi oleh zina dan diapun pasti menyadari hal yang demikian itu: Dua mata, zinanya adalah pandangan; dua telinga, zinanya adalah pendengaran; lidah zinanya adalah pembicaraan; tangan, zinanya adalah berpegangan; dan kaki, zinanya adalah melangkah. Dan hatipun mulai bergejolak dan berkhayal. Akhirnya naluri seksualnya pun terpengaruh untuk menerima atau menolak.” (H. Mutafaqun ‘alaih)

Dalam hadits diatas Rasulullah saw mengingatkan bahwa seseorang bisa terjatuh ke lembah perzinaan disebabkan oleh panca inderanya yang tidak terkendali.

E. UKHUWAH ISLAMIYAH

Ukhuwah islamiyah adalah istilah yang menunjukkan persaudaraan antar sesama Muslim di seluruh dunia tanpa melihat perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa, dan kewarganegaraan. Persaudaraan seiman itu ditegaskan Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antar dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)

- Menegakkan dan Membina Ukhuwah Islamiyah

Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan berdiri kokoh diperlukan empat tiang penyangga, yaitu ta’aruf, tafahum, ta’awun, dan tafakul.

1. Ta’aruf
Saling kenal mengenal, tidak hanya ta’aruf fisik atau identitas belaka, tapi lebih jauh lagi juga ta’aruf latar belakang, pendidikan, budaya, keagamaan; ta’aruf pemikiran, ide, cita-cita; dan ta’aruf problem kehidupan yang dihadapi.
2. Tafahum
Saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga segala macam bentuk kesalahfahaman dapat dihindari.
3. Ta’awun
Tolong menolong atau ta’awun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan membuktikan, bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain, pasti tidak akan dapat dilakukan sendirian oleh seseorang meski dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu. Ini menunjukkan, bahwa tolong-menolong dan saling membantu adalah keharusan dalam hidup manusia.Allah Ta’ala telah berfirman,”Dan tolong-menoolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah: 2)
4. Takaful
Saling memikul resiko diantara sesama muslim sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan dengan cara, setiap orang mengeluarkan dana kebajikan (baca ; tabarru’) yang ditujukan untuk menanggung resiko tersebut.

Silahkan cantumkan URL Link ini sebagai sumber referensi anda di daftar pustaka.
Sumber :http://www.gudangmateri.com
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment