Liqo’ Nggak Wajib

Temen-temen dari Gerakan Tarbiyah punya cara unik dalam pengkaderan. Mereka menyebutnya halaqah (yang berarti lingkaran) atau liqo’ (pertemuan). Cara ini mirip dengan sistem sel, yang katanya dipake sama organisasi-organisasi teroris. Sekelompok kader berjumlah lima sampai enam orang berkumpul di hadapan seorang pemandu. Kemudian, pemandu memulai liqo’ dengan bacaan Al-Quran, disusul dengan tausiyah dan pemberian materi pembinaan. Kadang-kadang, dalam liqo’ ini, diberikan tugas-tugas oleh pemandu, yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas kadernya. Karena metode ini merupakan metode utama dalam proses pembinaan dan pendidikan mereka, sering mereka menyebut secara sempit metode ini dengan nama Tarbiyah (dan itulah asalnya mereka menyebut dirinya Gerakan Tarbiyah, kurasa).
Pernah suatu saat saya bertemu dengan salah seorang kadernya. Waktu kami sedang berbincang-bincang, suatu saat dia bilang, “Liqo’ itu wajib lho.”. Terus terang saya agak tersentak ketika dia bilang begitu. Memang sih, saya melihat bahwa metode ini bisa dibilang adalah andalan utama proses pembinaan mereka. Tapi, saya tidak menyangka ada di antara kadernya yang bersikap seekstrem itu dengan mengubah statusnya menjadi sebuah kewajiban. Dan ternyata dia bukan satu-satunya. Pernah saya memancing orang lain dengan mengatakan, “Nggak usah liqo’ nggak papa. Yang penting kita sholih saja”. Dia bilang, “Masya Allah. Liqo’ itu khan sebagai basis yang paling dasar …”. Dia nggak meneruskan lagi.
Sebenarnya, bukannya saya tanpa dasar ketika mengatakan demikian. Gerakan ini mempunyai sebuah underbouw sebuah organisasi mahasiswa. (keliatannya begitu. Soalnya yang di dalam hampir 100% orang-orang mereka sih). Saya pernah denger, salah seorang mantan pengurusnya bilang, bahwa rekannya sesama pengurus bilang, “Nggak usah liqo’ nggak papa. Yang penting kita sholih saja”. Saya fikir, metode ini opsional bagi mereka. Ternyata mereka menganggapnya wajib toh. Yang bikin saya kurang sreg, mereka telah menaikkan status amal sholih yang bentuknya khusus ini, menjadi wajib. Kalo begitu, benar kata-kata orang Wahabi. Liqo’ ini bid’ah. Soalnya, mereka sudah menganggapnya wajib. Padahal, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengatakan wajibnya hal ini. Kalo hal seperti ini ini dianggap sebagai hal yang wajib, tentu saja hal ini menyalahi pendapat seorang ulama besar mereka, yaitu Yusuf Qardhawi. Yusuf Qardhawi kalo nggak salah berkata, “Yang dinamakan ekstrem itu bukannya memakai cadar, mengangkat celana di atas mata kaki, ato memakai fiqh yang keras. Salah satu ciri-ciri orang yang ekstrem adalah, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya”.
Sebenarnya, secara umum, saya menganggap metode ini baik sebagai salah satu upaya pembinaan. Kalo difikir-fikir, metode cukup efektif dan efisien. Bagaimana tidak. Dibandingkan dengan kajian umum mingguan misalnya. Kajian umum/rutin biasanya butuh orang banyak. Itu berarti, butuh lebih banyak tenaga untuk mengumpulkan mereka. Kemudian, dalam kajian umum/rutin, komunikasi berjalan tidak seimbang, dan kontrol ustadz terhadap mustami’nya sangat rendah. Nggak kaya’ liqo’ ini. Komunikasi bisa berjalan full dua arah, bahkan nggak hanya itu, hal-hal yang dibahas pun bisa sangat fleksibel, sesuai kebutuhan pesertanya. Bahkan, katanya ada sesi curhat segala lho. Seringkali terjadi para kader curhat macem-macem, dari masalah kuliah sampe orang tua. Kayaknya, pemandu udah jadi orang tua kedua (atau bahkan ke-0?). Bagi pesertanya sendiri, metode ini bisa sangat menyenangkan. Sampai-sampai, ada yang kecanduan liqo’ segala. Kalo nggak liqo’, rasanya lungkrah, lesu, lemes, bete, begitu katanya.
Bagi para pengikut Gerakan Tarbiyah, liqo’ ini memang sangat diistimewakan, termasuk juga kedudukan pemandu. Sampai-sampai, nikah pun harus melalui pemandu. Sebenarnya nggak harus sih, tapi bagi mereka kayaknya sunnah mu’akkad ya. Suatu saat temen saya bercerita, ada seorang kader gerakan tarbiyah pingin nikah dengan seorang akhwat. Karena pemandunya adalah ustadz senior di Jogja, dan dia sangat sibuk, pemuda tadi disuruhnya melamar sendiri. Ketika pemuda tadi menyatakan keinginannya pada pemandu yang akhwat, pemandu tersebut marah-marah. Dia meminta pemuda tadi untuk melamar lewat “jalur” yang benar. Nah, gantian ustadz senior tadi yang marah-marah pada pemandu akhwat tersebut. Akhirnya, jadi juga mereka dinikahkan.
Ada lagi cerita menarik. Beberapa orang teman saya yang saya nilai cukup kritis, mengetes pemandu barunya, karena pemandu mereka yang lama keluar kota. Mereka mengujinya dengan pertanyaan, “Apa yang dimiliki manusia tapi Allah tidak punya?” dan “Apa yang bisa dilakukan manusia tapi Allah tidak bisa?”. Beberapa orang menganggap hal tersebut kurang sopan. Tapi, menurut saya hal tersebut sah-sah saja. Beberapa orang kader memang mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu dari liqo’ tersebut, sehingga tidak ada salahnya mereka berusaha untuk memilih yang sesuai harapan. Karena, kata mereka, tarbiyah itu madal hayah atau seumur hidup. (kayak mau nikah aja). Jadi, kita kalo bisa harus tepat milihnya kalo nggak, bisa-bisa potensi kita tidak termanfaatkan dengan baik, atau kita tidak diarahkan dengan baik oleh pemandu kita.
Saya sendiri bukannya anti liqo’. Saya pernah liqo’ waktu SMA. Dan usaha yang dilakukan pemandu saya cukup memuaskan (Jangan tanya hasilnya. Hasilnya ya saya ini). Untungnya dia adalah seorang yang mempunyai pemahaman fiqh cukup bagus, dan dia cukup cerdas. Walopun saat ini saya sedang nggak liqo’, saya kadang merasa kasihan pada kawan-kawan saya di Gerakan Tarbiyah. Banyak di antara mereka harus melalui fase membosankan pada awalnya, yang artinya, sang pemandu menyampaikan hal-hal yang tidak menarik bagi pesertanya. Sesudah fase membosankan itu berlalu, baru deh mereka merasakan mereka butuh liqo’ dan berpendapat bahwa liqo’ itu wajib. Saya jadi berprasangka buruk, jangan-jangan mereka itu didoktrin sama pemandunya, sampai-sampai harus merasa wajib liqo’ segala. Padahal suasananya khan nggak terlalu menyenangkan. Jangan-jangan, sampai saat ini mereka merasa nggak nyaman juga, tapi hanya sekedar merasa harus.
Apa yang dialami oleh kawan-kawan saya tadi harusnya jadi pelajaran berharga bagi para penyelenggara liqo’. Kayaknya, sebelum seseorang jadi pemandu, harus distandarisasi dulu. Jangan sampe, hanya gara-gara umur ngajinya udah lama, atau karena teman-teman yang lain udah punya liqo’ semua, dia dipaksa harus pegang liqo’. Bukan dia yang kasihan. Tapi, yang akan dipandu yang kasihan nantinya. Mengalami nasib buruk dipandu oleh orang yang nggak mampu. Yah, walopun saya yakin dia pasti akan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tapi, kalo amanah disampaikan pada orang yang nggak bisa memikulnya, bisa berabe.
Balik lagi ke masalah wajib tidaknya liqo’. Saya punya fikiran, jangan-jangan mereka itu salah sangka masalah wajibnya liqo’ ini. Jangan-jangan, yang dimaksud pemandu mereka wajib itu wajib dalam kerangka harokah, bukan dalam kerangka syari’ah. Tapi, orang yang saya tanya memang menganggapnya wajib kok. Buktinya, waktu saya bilang, “Rasulullah nggak pernah mewajibkan kok”, dia bilangnya, ” O iya ya”. Yah, mudah-mudahan dia hanya salah sangka saja. Soalnya, kalo yang dimaksud adalah wajib dalam kerangka harokah, saya nggak bisa bilang itu bid’ah.
Analoginya begini. Karena saya masuk dalam institusi Universitas Gajah Mada, maka saya wajib mematuhi aturan 70% kedatangan dalam suatu mata kuliah. Karena saya punya perjanjian dengan universitas ini. Kalo nggak, saya nggak akan bisa dapat hak saya, yaitu nilai. Sama juga dengan liqo’. Kalo saya masuk harokah ini, maka saya wajib ikut liqo’. Itu khan masalah ‘aqad kita kepada mereka aja. Kalo nggak dipenuhi, ya nggak papa sih. Cuman mereka nggak bisa dapat haknya. Salah satunya, ya jadi pengurusnya (emang iya ya?).
Saya fikir, apa yang dilakukan suatu harokah/jama’ah untuk mewajibkan atau tidak mewajibkan sesuatu itu hak mereka, selama itu nggak bertentangan dengan syari’ah. Metode ini memang cukup bagus untuk mengontrol para kadernya, karena itu mereka memakainya sebagai standar. Tapi, kalo difikir-fikir, kayaknya nggak wajib-wajib amat tuh. Beberapa orang yang saya amati sebagai kader ternyata nggak liqo’. Padahal dia sangat aktif lho. Dan dia memiliki komitmen dan pemahaman yang sangat bagus terhadap Islam. Memang sih, saya nggak pernah melihat mereka memegang posisi penting. Kalo saya berpendapat, liqo’ itu wajib sebagai jaminan komitmen mereka terhadap harokah tarbiyah ini. Sebenarnya bagi kader sendiri, itu opsional. Apalagi jika mereka mendapatkan lingkungan yang cukup Islami. Bapaknya ulama, ibunya perempuan yang sholihah. Masjidnya makmur, dan dia lama tinggal di pesantren yang bagus. Di kampus dia selalu ikut kegiatan-kegiatan keislaman, dan buku-buku Islam sangat banyak di rumahnya. Kalo yang kayak gitu, mereka nggak perlu liqo’ kali ya. Yah, masing-masing harokah/jama’ah khan punya metode sendiri-sendiri. Liqo’ juga salah satu metode. Memang sih, nggak semua orang cocok dengan metode ini. Jadi, kalo menurut saya, memilih jama’ah itu personal preference, sesuai dengan kecocokan masing-masing orang. Selama jama’ah itu selalu beramal sholih, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menghindarkan diri dari mencela jama’ah-jama’ah yang lain, saya rasa OK-OK aja, apapun metodenya.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

1 comments

  1. Ini blog masih aktif nggak ya? saya baru baca tulisannya sekarang. Maaf mbak, kalau boleh tau, njenengan pilih jama'ah apa jadinya? apa kelebihan dan kekurangan jama'ah yang njenengan ikuti?

Post a Comment