KONSEP TASAWUF K.H. AHMAD RIFA’I

KONSEP TASAWUF K.H. AHMAD RIFA’I

A.  Biografi, pendidikan dan Karya-Karya Ilmiah K.H. Ahmad Rifa’i

1. Tempat dan Tanggal Lahir.

Menurut   informasi   yang   hingga   kini   masih   menjadi   keyakinan kalangan Rifa’iyah, KH. Ahmad Rifa’i dilahirkan pada tahun 1786, di Desa Tempuran  yang  terletak  di sebelah  selatan  Masjid  Besar  Kendal.  Ayahnya bernama  Muhammad  Marhum,  anak  seorang  penghulu  Landeraad  Kendal
bernama RKH. Abu Sujak alias Sutjowidjojo.1

Menurut   sumber   dari   kalangan   Rifai'yah,   sejak   kecil   ia   telah ditinggalkan  oleh ayahnya dan kemudian dipelihara oleh kakeknya bernama KH. Asy'ari, seorang ulama terkenal di wilayah Kaliwungu  yang kemudian membesarkannya dengan pendidikan agama.2
Dengan    demikian,    masa    remajanya    berada    dalam    lingkungan

kehidupan agama yang kuat karena Kaliwungu merupakan wilayah yang sejak dulu terkenal sebagai pusat perkembangan Islam di wilayah Kendal dan sekitarnya.3
Di lingkungan inilah ia diajarkan bermacam-macam ilmu pengetahuan agama  Islam  yang  lazim  dipelajari  dunia  pesantren  seperti  ilmu  Nahwu, Sharaf,  Fiqh,  Badi',  Bayn,  Ilmu  Hadits,  dan  Ilmu  Al-Qur'an.4   Saya  rasa beralasan  jika ia belajar  bermacam-macam  ilmu  yang  berhubungan  dengan bahasa   Arab   karena   sekembalinya   dari   Mekah,   ia   banyak   melakukan

1 Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH.Ahmad Rifa’i
Kalisalak, LKIS, Yogyakarta, 2001, hlm. 13.
2  Ahmad Syadzirin Amin, Mengenal Ajaran Tarajumah Shaikh H. Ahmad Rifa’i, R. H., Yayasan Al-Insap, Pekalongan, 1989, hlm. 9. Selanjutnya disebut "Mengenal".
3 Abdul Djamil, loc. cit
4 lbid., hlm. l0

penerjemahan   kitab-kitab   berbahasa   Arab   ke  dalam  bahasa   Jawa   yang kemudian disebut sebagai kitab Tarajumah.5
Pada tahun 1833, ia berangkat  ke Mekah  untuk menunaikan  ibadah haji  melalui  pelabuhan  Semarang  dan  kemudian  menetap  di  sana  selama delapan tahun. Selain belajar di Mekah, para. pengikutnya ada yang meyakini bahwa  ia  juga  belajar  di  Mesir  selama  12  tahun.  Akan  tetapi,  hal  ini bertentangan  dengan  informasi  lain  yang  menyatakan  bahwa  ia  pergi  ke Mekah dan setelah delapan tahun kembali ke Kendal dan selanjutnya pindah ke Kalisalak.
Pada  waktu  itu,  Mekah  memiliki  arti  tersendiri  sebagai  kota  yang menjadi penghubung jaringan ulama dari berbagai kawasan yang telah berlangsung  sejak abad-abad sebelumnya.  Azyumardi Azra menggambarkan bahwa pada abad ke-17 terdapat adanya hubungan saling silang para ulama yang menciptakan  komunitas  intelektual  internasional  yang saling berkaitan satu sama  lain.  Hubungan  di antara  mereka  pada umumnya  tercipta  dalam kaitan  dengan  upaya  pencarian  ilmu  melalui  lembaga-lembaga  pendidikan seperti masjid, madrasah, dan riba. Hal ini mengambil bentuk hubungan guru dengan murid (hubungan vertikal), guru dengan guru atau murid dengan murid (hubungan horizontal). Mobilitas guru-guru dan murid yang relatif tinggi memungkinkan  pertumbuhan  jaringan ulama sehingga mengatasi batas-batas wilayah,  perbedaan  asal  etnis,  dan  kecenderungan  keagamaan  dalam  hal
madzhab dan sebagainya.6



2.   Silsilah Nasab

Raden K.H Abu Sujak alias Soetjowidjojo  seorang bangsawan darah kraton,  bekerja  sebagai  penghulu  Landeraad  di  Kendal,  menikah  dengan seorang  gadis di Kendal.  Dari pernikahan  itu membuahkan  hasil keturunan

5 Kitab-kitab yang ditulis KH. Ahmad Rifa’i disebut orang dengan nama Tarajumah yang artinya terjemahan dari kitab-kitab berbahasa Arab. Sebutan ini kemudian diterapkan juga pada para santri yang mengaji kitab tersebut dengan sebutan "santri Tarajumah". Demikian menurut Abdul Djamil, op. cit, hlm. 13.
6 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII
dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994, hlm. 105. Selanjutnya disebut "Jaringan".

anak sebanyak lima orang, nyi Nakiyamah, Raden K.H Muhammad Marhum, Raden K.H. Bukhori, Raden K.H. Ahmad Hasan, Raden Kiai Abu Mustofa.7
Anak kedua hasil pernikahan Abu Sujak dengan gadis pilihannya itu bernama Muhammad Marhum. Setelah Muhammad mencapai usia dewasa menikah dengan Siti Rohmah  atau Umi Radjiyah  di Kendal. Kedua pasangan  suami istri  yang  hidup  harmonis  penuh  kasih  sayang  ini  kemudian  mendapatkan tujuh keturunan, yakni K.H Kamarun, KH Abdul Karim, Kiai Salamah, K.H Zakaria, Nyai Radjiyah ,Kiai Muhammad Arif dan Syaik Ahmad Rifa’i. Tujuh anak  keturunan  Muhammad  ini  kemudian  berkeluarga  dan  menyebar  di Kendal dan sekitarnya hingga sekarang. Sedang Ahmad Rifa’i anak bungsu Muhammad itu menjadi ulama besar yang penuh karisma kemudian menetap
di Kalisalak Batang.8

Sebagai  pemeluk  Islam yang taat tentu tidak  mengabaikan  perintah- perintah agamanya yang dianut. Untuk menjaga dirinya agar selamat dari perbuatan yang melanggar hukum, seperti yang dilakukan leluhurnya, Ahmad Rifa’i menikah dengan seorang gadis pilihan di Kendal. Dari pernikahan yang sakinah, terjalin kasih sayang itu kemudian membuahkan hasil keturunan sebanyak lima orang anak, masing-masing bernama: K.H Khabir, K.H Junaidi, Nyai Zaenab, Kiai Jauhari, Nyai Fatimah alias Umrah. Sedang pernikahannya dengan Sujainah  di Kalisalak  Batang  membuahkan  keturunan  seorang  anak
laki-laki.9



3.   Pendidikannya.

Sejak  lahir  hingga  usia  enam  tahun  Ahmad  Rifa’i  hidup  diasuh langsung oleh kedua orang tuanya. Sesuai dengan tradisi di kalangan santri, setiap anak dikenalkan huruf-huruf Arab, diajarkan tulis menulis dan diajarkan pula baca Fatihah, surat Al-Ikhlas, An-Naas hingga hafal. Dikenalkan  siapa pencipta dirinya dan alam semesta. Diajarkan kepadanya kromo inggil, bahasa

7Ahmad Syadzirin Amin, op. cit, hlm. 41.
8Ibid, hlm. 41.
9Ibid.

sopan santun kepada orang tua dan kawan yang lazim berlaku dikalangan bangsawan keturunan kraton. Dan juga belajar mengaji Al-Qur’an kepada seorang guru di desa Tempuran 10
Dalam  usia  enam  tahun  Ahmad  Rifa’i  ditinggal  wafat  ayahandanya pada tahun 1207 H atau 1792 M di Kendal. Ia kemudian diasuh oleh kakak iparnya yaitu Syaikh Asy’ary, Kaliwunggu Kendal. 11
Ahmad  Rifa’i sejak kecil telah dikaruniai  keistimewaan  oleh Tuhan berupa  kecerdasan  otak  yang  luar  biasa,  tinggi  kemauan  dan  kepribadian luhur, tekun dan cermat dalam memecahkan berbagai permasalahan, tegas dan teguh  dalam  mengatakan  dan  mempertahankan  pendapat,  ikhlas  dan  rajin beramal shaleh termasuk rela berkorban nusa dan bangsa.
Dibingkai dengan karakter yang demikian besar dan ditopang dengan pendidikan gurunya yang sangat memperhatikan perkembangannya maka berbagai   macam   pengetahuan   yang   diajarkan   kepadanya   selalu   dapat dipelajari   dan   dikuasai   dengan   baik.   Ia   terus   belajar   ilmu-ilmu   yang dibutuhkan  diri  pribadi  dan  orang  lain,  terutama  ilmu-ilmu  pokok  agama Islam. Di dalam mempelajari ilmu pokok-pokok agama, Ahmad Rifa’i memusatkan pikirannya untuk memahami dan mendalami ilmu ketuhanan (teologi), ilmu hokum syari’ah (fiqh) dan ilmu perpaduan antara syariat dan hakikat dalam praktek ibadah dan muamalah.
Dari   sebab   ketekunan   belajar   serta   pandai   memilih   ilmu-ilmu terpenting, ia kemudian tumbuh menjadi remaja yang mahir sekali dalam ilmu agama.  Untuk  memperluas  pemahaman  tentang  ilmu-ilmu  agama  Ahmad Rifa’i  kemudian  mempelajari  cabang-cabang  ilmu  yang  erat  sekali hubungannya dengan ketiga ilmu pokok diatas, yakni Ulumul Qur’an, Musthalahul Hadits, Lughatul Arabiah, Balaghah, Manatiq, Falak dan lain-
lain.12




10  H. Ahmad Syadirin Amin, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i dalam Menentang Kolonial
Belanda, Jama’ah Masjid Baiturrahman, Jakarta, 1996, hlm. 1996: 40.
11 Ibid, hlm. 41
12Ibid, hlm. 9.



Setelah sekian lama digodok dalam tempaan guru Asy’ari, maka pada tahun 1816 M, di usianya yang ke-30 tahun, dan setelah ia pulang dari penjara tahanan selama beberapa bulan karena difitnah, ia memutuskan sendiri untuk menunaikan  haji  dan  umroh  ke  Makah  al-Mukaromah.  Seperti  umumnya hujjaj (jamaah haji), terutama yang benar-benar mencintai ilmu pengetahuan, selalu berkeinginan untuk menetap (mukim) untuk beberapa lama di Jazirah Arab untuk mendalami ilmu pengetahuan agama Islam. Demikian juga halnya dengan Ahmad Rifa’i, ia selama delapan tahun menetap di Mekah dan Madinah.ia  berguru kepada sejumlah ulama terkenal di sana, seperti Syaikh Isa Al-Barowi (1235 H.), dan Syaikh Fakih Muhammad ibnu Abdul Aziz al-
Jaizi.13  Ahmad Rifa’i  berguru kepada kedua ulama tersebut tentang berbagai

macam  cabang  ilmu  pengetahuan  agama  Islam,  disamping  belajar  dengan ulama-ulama  besar  lainnya.  Sekalipun  demikian,  Ahmad  Rifa’i  tidak  lepas dari pengaruh perkembangan Islam yang terjadi di Jazirah Arab sekitar abad XVII yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab 14  yaitu penegasan kembali kepada otoritas fikih atau aspek-aspek lain dari kehidupan keagamaan Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Setelah menuntut ilmu agama selama delapan tahun di Mekah dan Madinah, Ahmad Rifa’i melanjutkan studinya ke negeri yang terkenal kental dengan pemikiran-pemikiran  mazhab Syafi’i yaitu Mesir, karena fatwa Imam Syafi’i Qoul Jadid yang terbanyak ada di sana. Koleksi kitab-kitab bermazhab Syafi’i sementara yang belum sempat terbitkan juga tersimpan di perpustakaan Darul Kutub di kota tersebut.  Kepindahan  Ahmad Rifa’i ke Mesir ini juga mempunyai maksud ingin memperluas ilmu agama kepada guru-guru yang berafiliasi kepada mazhab fikih Imam Syafi’i, karena dia juga sadar bahwa sebagian  besar  masayarakat  Islam  di  Indonesia,  terutama  di  Jawa  adalah penganut faham tersebut. Selama dua belas tahun bermukim di Mesir, Ahmad




13    Departemen  Agama  Republik  Indonesia,  Potensi  Lembaga  Sosial  Keagamaan,
Semarang Balai Latihan dan Pengembangan Agama, 1982, hlm. 7
14  Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, Dar al-Kalam, Kuwait, 1978, hlm. 1703-
1791


Rifa’i  berguru  kepada  ulama-ulama  kenamaan  di  sana.  Diantara  gurunya adalah Syaikh Ibrahim al-Bajuri.15
Sebenarnya  banyak  muslim  Indonesia  yang belajar di Mekah  waktu itu. Akan tetapi kemudian terkenal sebagai ulama besar, khususnya di Jawa tersebut  nama-nama  besar  seperti  Syaikh  Nawawi  al-Banteni  dan  Syaikh Kholil al-Maduri. Kedua orang ini menjadi teman akrab Ahmad Rifa’i hingga kepulangannya  ke Jawa kelak, selepas bermukim di Mesir selama dua belas
tahun.

Hingga  genap  dua  puluh  tahun  pengembaraannya  di  negeri  orang (Mekah  dan  Madinah  serta  Mesir  ),untuk  menuntut  ilmu  di sana,  maka  di usianya yang ke lima puluh satu tahun beliau kembali ke Indonesia bersama- sama teman karibnya ( Nawawi an Kholil), dengan naik kapal dagang yang akan ke Indonesia. Di dalam kapal mereka bertiga berkesempatan  membuat perjanjian yang akan mereka tunaikan setelah mereka bermukim di Jawa. Kesepakatan yang bermaksud adalah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab yang sebagai media dakwah, bertindak adil dalam mengusir penjajahan Belanda dan mendirikan  lembaga pendidikan.  Adapun  dalam  kesepakatan  tersebut  terdapat  pula  penugasan antara mereka bertiga dengan rincian sebagai berikut :
a.   Syaikh  Kholil  Bangkalan,  menyusun  kitab  terjemah  dengan  konsentrasi dan orientasi pada bahasa pokok masalah tasawuf
b.   Syaikh  Nawawi  al-Banteni,  menyusun  kitab  terjemah  dengan  orientasi pada masalah ushuluddin.
c.   Syaikh Ahmad Rifa’i, menyusun kitab terjemahan yang berorientasi pada pokok masalah fikih.
Demikian  panjang  perjalanan  pulang  ke  tanah  air,  Ahmad  Rifa’i sesampai di rumahnya  di Kalisalak  dan meneruskan  berbagai  misinya yang tertunda.





15Abdul Razak, Manaqib Syaikh H.Ahmad Rifa’i al-jawi, tp, tth, hlm. 5.

B.  Karya-karya K.H Ahmad Rifa’i


Salah satu unsur  terpenting yang di jadikan dasar pertimbangan dalam menilai  bobot  keilmuan  seseorang,  terutama  masa-masa  terakhir  ini,  ialah berapa banyak dan sejauh mana kualitas karya ilmiahnya yang telah di hasilkannya.   Di  lihat  dari  sisi  ini  Kiai  Ahmad  Rifa’i  termasuk   ulama pengarang yang produktif dalam menulis kitab berbahasa Jawa dengan nilai
sastra  tinggi.16

Kiai unik dari pesisir  Jawa Tengah  ini memang  melahirkan  banyak karya tulis, walupun ia sendiri kurang populer di banding dengan sahabat kentalnya yaitu Kiai Nawawi dari Banten. Namun demikian iapun banyak di kenal terutama di kalangan ilmuan sejarah dan sastra.  Hasil karyanya berupa kitab  “  Tarajumah”  itu  mengundang  nilai  sejarah  dan  sastra  yang  sangat tinggi.  Tercatat  sejarawan    Sartono  Kartodirdjo  menyatakan,  Kiai  Ahmad Rifa’i termasuk ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab berbahasa Jawa dengan nilai sastra  sangat tinggi.
Di kalangan ilmuwan pengikut jamaah Rifa’iyah belum ditemui kesepakatan  mengenai  berapa  jumlah  karya-karya  Kiai  Ahamad  Rifa’i  ini, baik  yang  di  karangnya  ketika     bermukim  di  Kalisalak  maupun  ketika diasingkan di Ambon. Kuntowijoyo  merinci karya-karya Kiai Ahmad Rifa’i
tersebut berjumlah 55 buah kitab.17

Ahmad Syadzirin Amin, salah seorang pemimpin jamaah Rifaiyah memberi rincian tentang jumlah kitab karangan Ahmad Rifa’i, baik yang sekarang   ada  dan  dapat   dijadikan   rujukan   maupun   yang   masih   dalam pencarian karena alasan hilang atau yang lainnya, tidak kurang dari 65 judul18
Perbedaan  di  atas  memang  wajar  jika  muncul  di  permukaan.  Hal  tersebut

dikarenakan  kitab-kitab  Kiai  Ahmad  Rifa’i  masih  banyak  tersimpan  dalam musium di Negeri Kincir Angin (Belanda),  karena dipandang  bahwa ajaran


16  Amin, Ahmad Syadirin, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i dalam Menentang Kolonial
Belanda, Jama’ah Masjid Baiturrahman, Jakarta, 1996, hlm. 10
17 Ibid, hlm. 18
18 Ibid.

Kiai  Ahmad  Rifa’i  meresahkan  masyarakat,  sehingga  kitab-kitab  karyanya ikut disita sebagai barang bukti.
Kitab-kitab tarajumah (nama kitab tarjumah karya Kiai Ahmad Rifa’i) mulai ditulis ketika ia menetap di Kalisalak, Batang yaitu mulai tahun 1254 H sampai tahun 1275 H.
Karya-karya  ilmiah  yang  dihasilkan  dari  kecerdasan  dan  kemahiran Kiai Ahmad Rifa’i di Kalisalak tersebut,19 adalah: Surat Undang-undang Biyawara(Maklumat), selesai tahun 1254 H.
1.   Nasihatul Awam (Nasehat Untuk Kaum Awam), selesai tahun1254 H.

2.   Syarihul Iman,(Penjelasan Tentang Iman), selesai tahun 1255 H.

3.   Taisir (Kemudahan), selesai tahun 1256 H.

4.   Bayan (Penjelasan), selesai tahun 1257 H.

5.   Targib (Kegemaran Beribadah),selesai tahun 1257 H.

6.   Thariqat (Jalan Kebenaran), selesai tahun 1257 H.

7.   Inayah (Pertolongan), selesai tahun 1256 H.

8.   Athlab (Menuntut), selesai tahun 1259 H.

9.   Husnul Mithalab (Kebaikan Ilmu yang dianut), selesai tahun 1259 H.

10. Thullah (Pencari kebenran), selesai tahun 1259 H.

11. Absyar (Mengupas), selesai tahun 1259 H.

12. Tatriqah (Pemisahan Hak dengan Batil), selesai tahun 1260 H.

13. Asnal Miqosad (Ketetapan yang Harus Dikerjakan), selesai tahun 1261 H.

14. Tatshilah (Perincian), selesai tahun 1261 H.

15. Imdad (Pertolongan),selesai tahun 1261 H.

16. Irsyad (Petunjuk), selesai tahun 1261 H.

17. Irfaq (Memberi Manfaat), selesai tahun 1261 H.

18. Nadzam Arja’ (Penghargaan), selesai tahun 1261 H.

19. Jam’ul Masail I (Kumpulan Masalah-masalah), selesai tahun 1261 H.

20. Jam’ul Masail II (Kumpulan Masalah-masalah), selesai tahun 1261 H.

21. Jam’ul Masail III (kumpulan Masalah-masalah), selesai tahun 1261 H.

22. Qowa’id (Pilar-pilar Agama),selesai tahun 1261 H.


19 Ibid., hlm. 119-127

23. Tahsin (Memperbaiki), selesai tahun 1261 H.

24. Shawalih (Perdamaian),selesai tahun 1262 H.

25. Miqashad (Tujuan), selesai tahun 1262 H.

26. As’ad (Membahagiakan), selesai tahun 1262 H.

27. Fauziyah (Keberuntungan), selesai tahun 1262 H.

28. Hasaniyah(Kebagusan), selesai tahun 1262 H.

29. Fadhiliyah (Keutamaan), selesai tahun 1263 H.

30. TabyinalIslah (Perbaikan Hubungan), selesai tahun 1264 H.

31. Abyān al-Hawaij (Penjelasan Beberapa Hajat Pokok), selesai tahun 1265.

Tasyrihatal Mubtaj (Penguraian Bagi Yang membutuhkan), selesai tahun

1265 H.

32. Takhyirah  Mukhtasyar  (Pilihan    Akidah  yng  Diringkas),  selesai  tahun

1265 H.

33. Kaifiyah (Metode atau Tata cara), selesai tahun 1265 H.

34. Mushbahah (Lampu Petunjuk), selesai tahun 1266 H.

35. Riayatul Himmah (Penjagaan Hendak Mengerjakan Ibadah), selesai tahun

1266 H.

36. Ma’uniyah (Bantuan atau Pertolongan), selesai tahun 1266 H.

37. Uluwiyah (Kemuliaan atau Ketinggian), selesai tahun 1266 H.

38. Rujumiyah (Pelemparan), selesai tahun 1266 H.

39. Muthamah (ditanamkan), selesai tahun 1266 H.

40. Basthiyah (Kekuasaan Dalam Ilmu), selesai tahun 1267 H.

41. Tahsinah (Memperbaiki bacaan), selesai tahun 1268 H.

42. Tazkiyah (Penyembelihan Binatang), selesai tahun 1269 H.

43. Fatawiyah (fatwa-fatwaAgama), selesai tahun 1269 H.

44. Samhiyah (kemurahan Hati), selesai tahun 1269 H.

45. Maslahah (Reformasi), selesai tahun 1270 H.

46. Wadlilah (Yang Tampak Jelas), selesai tahun 1272 H.

47. Munawirul Himmah (Lampu Penerang Cita-Cita), selesai tahun 1272 H.

48. Tasyrihatal (Penyiaran, Penyebaran Berita), selesai tahun 1273 H.

49. Mahabbatullah (Cinta Pada Allah), selesai tahun 1273 H.

50. Mirghabut  Tha’at  (Yang  Menimbulkan  Keinginan  Patuh),  selesai  tahun

1273 H.

51. Hujajiyah (Menyalahkan), selesai tahun 1273 H.

52. Tashfiyah (Penjernihan), selesai tahun 1273 H.

53. Sibhatun Nikah (Keabsahan Nikah).

54. Nadzam Wiqoyah (Pemeliharaan, Penjagaan), selesai tahun 1273 H.

55. Tanbih Rejeng

56. Kitab Tajwid

57. Sebanyak 700 B Nadzam Dan Jawabannya, selesai tahun 1273 H.

58. Sebanyak 500 Tanbih bahasa Jawa, selesai tahun 1273 H.

59. Surat-surat    berisi    fatwa-fatwa    yang    ditujukan    kepada    penghulu

Pekalongan dan daerah lainnya.

60. Puluhan lembar tulisan Syaik Ahmad Rifa’i dengan menggunakan bahasa

Krama Inggil.

61. Ada lagi kitab tanpa judul yang berisi fatwa-fatwa Agama.

Dari sekian banyak karya ilmiah K.H.Ahmad Rifa’i, maka kitab Abyan al-Hawāij     menjadi  fokus  kajian.  Karenanya  secara  global  ada  baiknya diberikan penjelasan, bahwa kitab Abyan al-Hawāij ini terdiri dari enam jilid yang masing-masing mencerminkan satu kesatuan yang tak terpisahkan, mengingat materi yang dimuat dalam kitab tersebut bersifat sambung menyambung. Membicarakan bidang ilmu ushuluddin (teologi), fikih dan tasawuf,  berbentuk  nadzam,  enam jilid besar,  82 koras,  35. 992 baris  atau
1636 halaman dengan 11x 2 baris, selesai tahun 1265 H atau 1848 M.  Dalam kitab yang berjumlah enam jilid itu, fikih dibahas secara lengkap mulai dari soal ibadah yang berhubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) sampai pada aspek hubungan horizontal antara sesama manusia (hablum minannas). Meskipun  uraiannya  tidak  mendalam  namun  secara  global  hampir menyangkut  semua  masalah  yang  bersangkut  paut  dengan  fikih.  Demikian pula   bidang   tasawuf.   Kajian   diawali   dengan   cara-cara   penyucian   diri (purifikasi)  dan  maqam-maqam  yang harus  ditermpuh  oleh  seseorang  guna

mendekatkan  diri kepada Allah SWT yang pada puncaknya dapat mencapai

tazali ( tersingkapnya tabir Tuhan).

Dari  karya-karyanya  dapat  dijelaskan  bahwa  pemikiran  K.H.Ahmad Rifai sangat menekankan  tiga pilar utama yaitu akidah, syari’ah dan akhlak agar dikaji dan diamalkan secara bersamaan. Ia menganggap keliru jika umat Islam hanya mengkaji dan mengamalkan salah satu saja dari ketiga pilar itu. Pendalaman  yang bersifat parsial hanya akan menghasilkan  pemikiran  yang sempit   dan   pincang.   Sebagai   buktinya   dalam   kitab   Abyānal   Hawāij (Penjelasan  Beberapa  Hajat  Pokok)  tampak  keinginannya  untuk merekonsiliasi  tasawuf,  fiqih dan tauhid  sebagai  bagian  mutlak  yang harus dikaji dan dimalkan oleh umat Islam. Menurut peneliti, pemikirannya  dapat dipahami karena ia melihat adanya sebagian ulama yang hanya mengkaji dan mengamalkan   fiqih  tanpa   taswuf   dan  sebaliknya   mengamalkan   tasawuf dengan meninggalkan fiqih.
Dipandang dari sudut historis, peneliti berpendapat bahwa adanya penyingkiran tasawuf dari fiqih dan sebaliknya adalah bermuara pada adanya dikhotomi kedua ilmu itu yang berlatar belakang politis dan sempitnya memandang   Islam   sebagai   suatu   sistem   dan   ajaran.   Itulah   sebabnya K.H.Ahmad Rifai ingin meletakkan kembali dinul Islam dalam kerangka yang utuh atau integral komprehensif. Namun sebagai kritik peneliti terhadap K.H.Ahmad Rifai bahwa dilain pihak ia pun menyempitkan fiqih hanya dalam perspektif mazhab Syafi’i, tauhid dalam perspektif ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan  demikian  secara  tidak  sadar  ia  pun  tampaknya   terjebak  dalam dikhotomi antara mazhab Maliki, Syafi’i. Hanafi dan Hambali; antara sunni, mu’tazilah    dan  sebagainya.  Namun  demikian,  pendikhotomian  seperti  itu sangat peneliti pahami karena K.H.Ahmad  Rifai meletakkan  mazhab syafi’i dan  aswaja  sebagai  hasil  seleksi  dari  kelebihan  dan  kekurangan  masing- masing aliran serta disesuaikan dengan  kondisi umat Islam di Indonesia.




C.  Tasawuf  K.H. Ahmad Rifa’i

Ahmad Rifa’i dalam kitabnya menyatakan:


Ilmu telung perkoro ushul figih
Tasawuf ikulah bab kawilang
Babbun ikulah bab nyata aken tinamune Ilmu tasawuf kang diwajib aken ngupoyone Ugo wajib di ngamal nuli sakuwasane Ingatase mukallaf  ngawaruhi ilmune Setengah sifat kang pinuji deneng sariat. Lan sifat kang cinelo ing ati maksiatnya Terjemahnya
Ilmu terbagi tiga perkara yaitu ushul fiqh, tasawuf inilah permulaannya.
Bab inilah tentang bab akan saya temukan,
ilmu tasawuf diwajibkan untuk diusahakan juga diwajibkan diamalkan semampunya oleh mukallaf y awam ilmunya,
49


juga syariah  menghindarkan hati dari maksiat yang tercela20

Selanjutnya Ahmad Rifa’i menegaskan:


Yoiku wolung perkoro ikilah wilangane Zuhud konaah sobar tawakkal ati Mujahadah ridho syukur ikhlas nejane Khouf mahabbah ma’rifah kanggo maknane


Terjemahnya
Ada delapan perkara yang disebutkan yaitu zuhud, qona’ah, shabar,
tawakkal hatinya, mujahadah, ridho, syukur, dan ihlas tujuannya, juga ditambahkan lagi khouf (takut)
muhibbah (cinta ), dan ma’rifat.21

Ahmad Rifa’i dalam kitab Abyan al-Hawaij, lebih lanjut menegaskan:

Yoiku wolung perkoro ikilah pertelo
Hubbud dunya thoma’ itba’ hawa nafsu ketula


20 Rifa’i, Ahmad, Abyan al-Hawaij, juz 4, tp., tt, 1264 H, Korasan, hlm. 57
21 Ibid.

U’jub riya takabbur hasud sum’ah ikulah bissu’ artine

Terjemahnya:
Delapan perkara yang merupakan sifat-sifat tercela yaitu mencintai dunia, tamak, mengikuti hawa nafsu, riya, ujub, takabbur, hasud, dan sum’ah 22

Sebagaimana syairnya dibawah ini :

Makna zuhud tapa mengo kadonyan
Iku ora nana ibarat kekarepan
Saking nyepeaken wongiku ning atine Saking arta balik yaiku tinemene Nyepeaken  wong iku ing atine
Saking gumantung kelawan artane

Terjemahnya :
Makna zuhud bertapa membelakangi dunia
Itu tidak ada gambaran keinginan
Dari mengosongkan orang itu di hatinya
Dari harta sebaliknya yaitu
Orang yang mengosongkan hatinya
Dari ketergantungan kepada harta 23



22 Ibid, hlm. 58
23 Ibid., hlm. 60

Utawi wong kang anteng nerima atine Ing peparinge Allah qadar rizkine anane Ikulan aran wong kang sugih tinemune Lan senadyan ana luwe kadang kalane24

Terjemahnya:
Adapun orang yang tenang hatinya ridha Pada pemberian Allah rizki sekedarnya Itulah yang disebut orang yang kaya jadinya Meskipun terkadang lapar.

24 Ibid., hlm. 61

Mongko sapa wonge dilaraaken ing atine
Dene wong liyane kelawan haram pemerihane Sebab ora kaduga dene karepe hawane Mongko ora patut sabar meneng ing atine Balik nuloko wong iku ing wong tan jujur
Sekira sakkuwasane wong iku milahur.25

Terjemah :
Maka barang siapa yang di sakiti hatinya
Oleh orang lain dengan tujuan kepada yang haram Sebab tidak sesuai dengan harapan hawa nafsunya Maka tidak patut sabar diam hatinya
Tetapi tidaklah orang yang jujur tersebut
Sekuat mungkin agar orang tersebut mengerti


Tan nana manakna tawakal iku tan ikhtiar Lan tinggal kasab ngupaya rizki sekadar Balik tan kena ora sakuwasane ngajar Memerangi sking hawane ngajak nasar Lan ora ilang tawakal wong hajat
Ngupaya tetamba nulak saking mudharat26

Terjemahnya:


25 Ibid., hlm. 62
26 Ibid., hlm. 63

Tidak ada arti tawakal itu tanpa ikhtiar
Dan meninggalkan usaha mencari rizki sekedarnya Sebaliknya tidak boleh tidak sekuat tenaga mencarinya Memerangi hawa nafsu yang mengajak sesaat
Dan tidak hilang tawakal seseorang yang bermaksud
Mencari obat untuk menolak kemudharatan

Perang sabil ing hawa wajib kinira Uga kang dadi gegeraken raja negara Tur iku perang sabil luwih gedhe ukara Kecukupan tan kanthi akeh bala kuncara Kerana apa alam fasik tan hajat
Memerangi hawane ngajak gedhe  maksiat Apa asih maring neraka badan madharat Dadiya tumiba kafir lan nejo tobat 27

Terjemahnya:

27 Ibid., hlm. 63
Perang sabil hawa nafsu wajib dikira
Juga yang jadi menggegerkan raja negara
Juga perang sabil itu lebih besar katanya
Sudah cukup dengan tidak banyak kawan yang kuat
Karena apa alim fasik tidak membutuhkan
Memerangi hawa nafsunya yang mengajak maksiat besar Karena senang kepada mereka dan badan sengsara Menjadi kafir dan tidak bermaksud taubat.

Ora ana makna ridha iku ing Allah Pangeran
Iku ridha ngelabui gedhe maksiatan Tuwin ridha tan mangan lara kateksiran Balik aran ridha iku netepi kewajiban Lan ngedohi saking penggawe maksiat
Dhahir batin kelawan sekadar kuat Ridha atine ing parentahe syariat Sukiah bungah ngenggoni laku tobat
Ridha ing Allah anane ing sekeh larangan
Sekeh hukum lan kufur kinaweruhan 28

Terjemahannya:
Tidak ada arti ridha itu kepada Allah
Itu rela mengelabui besar maksiat
Juga rela tidak makan sakit kebodohan
Tetapi yang namanya rela itu melakukan kewajiban
Dan menjauhi perbuatan maksiat
Lahir batin dengan sekuat tenaga
Rela hatinya kepada perintah syari’at
Senang bahagia melakukan taubat
Rela kepada Allah adanya semua larangan
Semua hukum haram dan kufur diketahui


Ora sah syukur sebab laku maksiatan Iku syukure wong sasar kekufuran Anut syaitan digugu pituturan


28 Ibid., hlm. 64

Apa patut syukur bungah ning manah
Kaduwe wong sasar maring neraka kapernah
Iku wong syukur anut syaitan fitnah
Nyana becik muhung anut adat lumrah.

Terjemah:
Tidak sah syukur sebab melakukan maksiat
Itu syukurnya orang sesat kufur Mengikuti setan diikuti pembicaraannya Apa pantas syukur bahagia di hati Kepada orang sesat ke neraka jelas
Itu orang syukur mengikuti setan fitnah
Menyangka baik hanya mengikuti kebiasaan umum
Lan padha ibadata sira kabeh temenan Ing Allah ikhlas ing dalem kebatinan Lan aja nyekutoaken sira sekabehan Ibadah ing Allah saitik aja kawuran
Dadi kafir uwong nyekutoaken ing Allah

Terjemahnya:
Dan beribadahlah kamu semua dengan sungguh-sungguh
Kepada Allah ikhlas di dalam hati/batin
Dan jangan menyekutukan kamu semua
Ibadah kepada Allah sedikit jangan sampai tercampur
Menjadi kafir orang yang menyekutukan Allah
Utawi aran dunya saben sawijine
Kang tan manfaat ning akhirat tinemune
Ikulah aran dunya haram anane
Atawa dadhi hala dadi fitnah akehe artane Wong asih dunya dadi sebab akeh salah Kerana dadi sebab akeh laline ing Allah 29

Terjemahnya;
Adapun yang disebut dunia segala sesuatunya Yang tidak bermanfaat bagi akhirat jadinya Itulah yang disebut dunia haram adanya
Atau jadi halal, jadi fitnah banyak hartanya
Orang cinta dunia menjadi sebab banyak salah
Karena menjadi sebab banyak lupa kepada Allah

Akeh alim kekel fasik tan wiring isin Sebab loba donya sejane ning batin Tan itungg nanggung dosa agung
Angger donyane kinasih dene tumenggung 30

Terjemahnya:
Banyak alam kekal fasik tidak malu-malu
Sebab rakus dunia hasratnya dalam batin
Tidak mempertimbangkan menanggung dosa besar
Asal di dunia dicintai oleh tumenggung

Akeh wong sasar sebab anut hawa salah Setengahe dadi kafir tinggal mujahadah Anut pangajake hawa kufur diarah


30 Ibid., hlm. 67

Lan ora nana wong kang luwih sasar kebanjur Tinimbang saking wong anut hawane pinilahur Pangajake hawa maring haram lan kufur
Tan anut ing Qur’an pituduh jujur 31

Terjemah:
Banyak orang sesat sebab mengikuti hawa nafsu yang salah
Sebagian menjadi kafir meninggalkan mujahadah
Mengikuti hawa kufur disengaja
Dan tidak ada orang yang sesat terlanjur
Daripada orang yang mengikuti hawa nafsu yang diperhatikan
Ajakan hawa nafsu yang haram dan yang kufur
Tidak mengikuti Al-Qur’an petunjuk jujur


Kaya sekehe wong kafir munafik
Padha Shodaqoh ing artane kerane kadunyan
Haram kerana manusa padaha riya’an

Terjemahnya:
Seperti semua orang kafir munafik
Sama shodaqoh pada hartanya karena dunia
Haram karena manusia yang sama berbuat riya’

Tan bihun alim fasik dadi qadli milahur Tuwin guru memuruk syarate kasingkur Tinggal wajibe amar naha maha tinutur Iku sarirane hina fasik rasa luhur Takabur dosa gedhe tan arep anutan Maring alim adil kul mae utusan
Ora anute sebab takabur keluhuran
Tan asih narima ing syar’ perintahan

Terjemahnya
Peringatan alim fasik menjadi qadli
Atau guru mengajar syaratnya disingkirkan Meninggalkan kewajiban perintah cegah tersebut Itu dirinya hina fasik merasa tinggi
Takabur dosa besar tidak maumengikut
Kepada alim adi kul ma utusan
Tidak mengikuti sebab somsong
Tidak senang menerima perintah syara’

Aja pisan wong Islam sanak seduluran
Iku pada gawe hassud derkinan
Maka nekanana sira ing sanak perekan Kahe wong duwee sanak becik rukunan Weweh-winewehan sanak seduluran
Aja hasud derkinan ning kebatinan

Terjemahannya:
Jangan sampai orang Islam sanak saudara
Itu sama berbuat dengki (hasud)
Haknya orang mempunyai sudara baik untuk rukun
Saling memberi kepada sanak saudara
Jangan ada dengki (hasud) di hati

Ikulah ing dalem atine fahamo
Wong kang laku dhahir syara’ agama
Iku arep nerusi ati bener sama
Dhahir batin neja ing allah upama

Terjemahannya:
Itulah di dalam hatinya difaham
Orang yang berlaku dalam lahiriah benar menurut syara’ agama
Itu akan meneruskan kepada hati benar juga
Dhahir dan batin hanya tertuju kepada Allah

Sedangkan untuk meninggalkan sifat tercela beliau menyatakan:
Tan ngistoaken ing syarat sahe sembahyang Pada shalat teksir batalan syarat kurang Ikulah wong sasar anut syaitomn kawilang Dhahir becik ning donyane kesawang
Iku wong pada kena rencanane syaiton
Asih anut maring syaiton neroko pinaringan

Terjemahannya:
Tidak memperhatikan syarat sahnya sembahyang
Sama melaksanakan shalat terksir rusak kurang syarat
Itulah orang sesat mengikuti syaitan terbilang
Lahirnya baik di dunia terlihat
Itulah orang yang terrkena rencananya syaitan
Cinta menggikuti kepada syaitan neraka didapat

Tasawuf merupakan  ungkapan pengalaman  keagamaan  bersifat subjektif  dari  seseorang  dalam  menanggapi  Allah  dengan  menitikberatkan pada aspek pemikiran dan perasaan. Oleh karena itulah dalam literatur akan dijumpai aneka ragam pembatasan pengertian sebagai indikasi adanya subjektifitas  dalam memberikan  pengertian.  Namun demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa tasawuf itu merupakan usaha akal manusia untuk memahami  realitas dan akan merasa senang manakala dapat sampai kepada
Allah.32 Karena adanya aspek pemahaman dan aspek usaha untuk sampai pada Allah  sedekat-dekatnya  (taqarrub),  maka  dalam  penekanannya  secara  garis besar dapat dibedakan menjadi tasawuf nadzari ta'ammuli dan kedua tasawuf amali.33  Dua titik berat inilah kemudian mengesankan adanya tasawuf falsafi yang  bertumpu  pada  pemikiran  mendalam  mengenai  realitas  dan  tasawuf amali  yang  menitikberatkan  pada  usaha  dan  latihan.  Tasawuf  falsafi  ini tercermin dalam pemikiran tokoh-tokohnya seperti al-Hallaj, Suhrawardi, dan Ibnu   Arabi.34     Sebagai   contoh   dari   corak   amali   adalah   tasawuf   yang dinisbahkan  kepada  tokoh-tokoh  yang  mengutamakan  amaliah  dan  latihan dalam  rangka  mencapai  kedekatan  batin  dengan  Allah.  Hal  ini  tercermin dalam pengalaman ruhani seperti Hasan al-Basri (21-110 H/642-731 M) ketika menyatakan bahwa dunia adalah tempat beramal, maka barang siapa merasa tidak senang menjalani hidup di dunia zuhud kepadanya, ia akan memperoleh kebahagiaan.  Sebaliknya  siapa  orang yang  hatinya  rindu  kepada  dunia dan terpaku kepadanya, maka ia akan sengsara.35
Pengalaman    ruhani    Husain    an-Nuri    (wafat    295)    memberikan

penegasan  lebih  lanjut  akan  pentingnya  aspek  amaliah  dalam  kehidupan tasawuf. la menyatakan bahwa tasawuf bukan merupakan gambaran atau ilmu tetapi ia adalah akhlak. Jika ia merupakan gambaran, maka akan dapat dicapai dengan kesungguhan dan bila ia merupakan ilmu dapat dicapai dengan belajar.
la hanya dapat dicapai dengan berakhlak sebagaimana akhlak Allah.36




32   Abdul Hakim Hasan, At-Tasawwuf fi Syi'ir al-'Arabi, Maktabah Anglo Misriyah, Cairo, 1954, hlm. 19.
33 Ibid
34   Tokoh  ini  lahir  di  Murda Spanyol pada  tahun  560H/1164M. Diantara pemikiran tasawufnya bertumpu pada pandangannya mengenai realitas. Menurutnya, realitas adalah tunggal
adanya yaitu Tuhan, sedangkan realitas selainnya adalah bayangan dari realitas yang satu ini. Lihat pemikirannya dalam tulisan Abu al-A'la Afifi, Mystical Philosophy of Muhyiddin Ibnu Arabi, Cambridge University Press, London, 1939, hlm. 10. Bandingkan dengan Harun Nasution dalam
Falsafat dan Misticisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, hlm. 92. Dikutif dari Abdul
Djamil, op. cit, hlm. 111
35  Arbery, A. J., Muslim Saint and Mystics, Routledge and Kegan Paul, 1966, hlm. 19. Harun Nasution berpendapat bahwa Hasan Basri ini dipandang sebagai salah satu di antara zahid-
zahid terkenal di Kota Basrah.
36   Ibrahim  Basuni,  Nasy'ah  at-Tasawwuf al-Islam,  Daar  al-Ma'arif, Mesir,  hlm.  24. Selanjutnya disebut Nasy'ah...


Junaid  al-Baghdadi  dan  al-Ghazali37    memberikan  penegasan  lebih lanjut akan pentingnya amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Junaid,38   tasawuf  adalah  pengabdian  kepada  Allah  dengan  penuh  kesucian. Oleh  karena  itu,  barang  siapa  yang  membersihkan  diri  dari  segala  sesuatu selain Allah, maka ia adalah sufi.39  Sejalan dengan pandangan ini, al-Ghazali menyatakan  bahwa tasawuf adalah mengosongkan  batin atau membersihkan hati  dari  kotoran  hawa  nafsu  dan  amarah  sehingga  hati  menjadi  suci  dan bersih.40 Sebagaimana Junaid, al-Ghazali juga sering dipandang sebagai tokoh yang cenderung kepada tasawuf bercorak ortodoks.
Karena penekanan pada aspek amaliah inilah maka tasawuf mereka ini terkesan berusaha menciptakan keseimbangan antara syari'at dan hakikat. Ini merupakan kecenderungan yang berbeda sama sekali dengan tasawuf yang berorientasi pada pemikiran atau falsafah sebagaimana dijelaskan di atas. Para penerus tradisi yang dikembangkan oleh al-Ghazali pada umumnya berusaha mempertahankan corak tasawuf ini sebagaimana terlihat dalam pandangan al-
Qusyairi41   ketika  menyatakan  bahwa  syari'at  yang  tidak  diperkuat  dengan

hakikat  akan  tertolak,  demikian  pula  hakikat  yang  tidak  diperkuat  dengan syari'at juga akan tertolak. Syari'at datang dengan taklif kepada makhluk sedangkan hakikat muncul dari pengembaraan kepada yang Haq (Allah).42  Ini


37 Kedua orang ini dijadikan sebagai rujukan bertasawuf oleh kalangan yang menamakan dirinya sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah. Lihat lebih lanjut Hasil keputusan Muktamar NU, No.
02/MNU-27/1984 tentang Khittah Nahdhatul Ulama dan penjelasan Kiai Ahmad Rifa'i dalam
kitab Ri'ayah al-Himmah atau Abyan al-Hawaij mengenai Junaid yang dijadikan sebagai imam dalam soal tasawuf. Abdul Djamil, op. cit, hlm. 112
38   Nama  lengkapnya  adalah  Abul  Qasim  al-Junaid  bin  Muhammad  al-Khassas  an-
Nahawand, meninggal tahun  297  dan  dianggap  sebagai  perintis  dari  tasawuf  yang  bercorak ortodoks. Lihat lebih lanjut A. J. Arbery, dalam Muslim Saint and Mystics, Routledge and Kegan
Paul, 1966, hlm. 199.
39 Ibrahim Basuni, Nasy'ah..., hlm. 22.
40 Al-Ghazali, Ihya' 1.... hlm. 123.
41   Nama  lengkapnya adalah  Abul  Qasim Abdul  Karim bin  Hawzan al-Qusyairi an- Naisabury asy-Syafi'i, lahir pada tahun 376 H. Menurut penuturan dari Imam Abul Ghafir, ia
adalah tokoh yang memiliki kemampuan dalam berbagai bidang seperti fiqh, kalam, tafsir, sastrawan, penyair, ilmu hakikat, dan terkenal sebagai orang yang menggabungkan antara syari'at dan hakikat. Dalam bidang ushul ia adalah pengikut asl-Asy'ari dan dalam bidang fiqh ia pengikut
asy-Syafi'i. Lihat lebih lanjut dalam Thabaqah asy-Syafi'iyah, juz II, tulisan Abdurrahim as- Asnawi, hlm. 157.
42 Al-Qusyairi, Ar-Risalati Al-Qusyairiyyah, Abdul Halim Mahmud, ed., Dar al-Kutub al- Haditsah, 1385 H, hlm. 240. Selanjutnya disebut Ar-Risalah...
berarti   kedekatan   kepada   Allah   dapat   dicapai   manakala   orang   telah melaksanakan  amaliah  lahiriah  berupa  syari'at  dan  kemudian  dilanjutkan dengan amaliah batiniah berupa hakikat.
Dalam konteks kehidupan tasawuf di Indonesia, gagasan tentang keseimbangan  antara syari'at dan hakikat ini juga diilhami oleh tulisan yang bermuara pada gagasan-gagasan al-Ghazali. Dalam salah satu pelayaran orang Belanda  ke  Indonesia  abad  ke-16  ditemukan  naskah  berbahasa  Jawa  yang antara lain berisi penolakan paham tasawuf Ibnu Arabi yang bercorak mistik. Penolakan  ini  memiliki  tendensi  untuk  mengemukakan  pentingnya  aspek
syari'at sebelum seseorang memasuki dunia hakikat.43 Gagasan yang bermuara

pada pandangan Ghazali terlihat pada awal naskah yang berbunyi:

Nan   punika   caritanira   Sekhul   Bari   tatkalanira   apitutur   daten mitranira kabeh; kan pituturaken wirasanin usul suluk wedalin carita saking kitab Ihya' Ulumuddin lan saking Tamhid.44

Artinya:   Inilah   ucapan   Seh  Bari   ketika   memberi   ajaran   kepada temannya  mengenai  ajaran  pokok  tasawuf  yang  diambil  dari  kitab Ihya' Ulum al-Din dan Tamhid.

Dalam lingkungan pesantren, gagasan ini dapat ditemukan pada kitab- kitab yang diajarkan kepada santri seperti Fath al-Mu'in tulisan Zainuddin al- Malibari dan Syarh Hikam tulisan Ibnu Atha'illah. Pada kitab pertama dikemukakan hubungan simbiotik antara syari'at, tarikat dan hakikat. Syari'at berisi ketaatan pada agama dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tarikat menghiasi diri dengan sifat wara' dan melaksanakan latihan ruhani (riyadzah),  sedangkan  hakikat  adalah  sampainya  hamba  pada Allah. Syari'at diumpamakan  sebagai perahu, tarikat diumpamakannya  sebagai laut yang tak bertepi, dan hakikat diumpamakan  mutiara yang ada di dasar laut yang  hanya  akan  dapat  ditemukan  kalau  telah  menaiki  perahu,  berlayar  di

43  Naskah tersebut dijadikan sebagai kajian disertasi oleh B. J. 0. Schrieke dengan judul Het Boek van Bonang di Universitas Leiden tahun 1916. Lihat juga penerbitan naskah yang sama oleh Drewes yang kemudian diberi judul The Admonition of Sell Ban, diterbitkan oleh KITLV. Abdul Djamil, op. cit, hlm. 113.
44 Abdul Djamil, ibid, hlm. 113
samudera, dan menyelam ke dasar laut. Seperti halnya mutiara di dasar laut, hakikat tidak akan dapat diperoleh tanpa melalui syari'at.45
Pemikiran tasawuf Kiai Ahmad Rifa'i pada dasarnya juga merupakan bagian dari gagasan untuk mempertahankan hubungan harmonis antara syari'at dan hakikat yang dirumuskan dengan istilah Ushul, Fiqh, dan Tasawuf.
Gagasan tasawuf Kiai Ahmad Rifa'i tidak membentuk komunitas yang disebut tarikat sebagaimana ditulis oleh Alwan Khairi46  tetapi hanya sebatas ajaran tentang pembinaan akhlak melalui pengisian diri dengan akhlak mahmudah   dan   peniadaan   diri   dari   akhlak   madzmumah   dalam   rangka mencapai kedekatan pada Allah yaitu Ma'rifat dan Taqarrub yang dapat dilakukan siapa saja tanpa harus melalui tata aturan sebagaimana lazim terjadi
dalam dunia tarikat. Jika hendak ditelusuri berdasarkan apa yang ditulis dan dialami sendiri oleh Kiai Ahmad Rifa'i, akan terlihat ia tidak pernah menyebut dirinva   baik   secara   langsung   ataupun   tidak   sebagai   penganut   tarikat Qodiriyah.  Lebih-lebih  hampir  dalam  setiap  kitab  yang ditulisnya  ia selalu menyatakan dirinya sebagai penganut tarikat Ahlussunni (ikilah kitab... saking Haji Ahmad Rifa’i bin Muhammad Marhum Syafi'iyah madzhabe Ahlussunni
torekote).47    Sekalipun  tidak  membentuk   tarikat  (komunitas  sufi),  namun

paling  tidak  pemikiran  tasawufnya  memberikan  elemen  moral  bagi  para muridnya dalam melaksanakan tasawuf.
Kenyataan di atas, semakin memberikan dukungan bahwa Kiai Ahmad Rifa'i  memang  berusaha  memberikan  kriteria  pengikut  Ahlussunnah  yang dalam bidang tasawuf mengikuti pandangan Junaid al-Baghdadi sebagaimana dikemukakan  dalam kitabnya  Ri'ayah  al-Himmah  yang  telah  disinggung  diatas.

Corak Tasawufnya

Sebagaimana   dijelaskan  di  muka  bahwa  untuk  mengetahui  corak tasawuf Kiai Ahmad Rifa'i digunakan kriteria berdasarkan pembagian tasawuf menjadi akhlaqi (amali) dan falsafi. Dalam hal ini, Rifa’i menyatakan dirinya

45Al-Malibari, Mu'..., hlm. 153.
46Abdul Djamil, op. cit, hlm. 114.
47Ibid, hlm. 115.
sebagai pengikut jalan Sunni48  dalam dunia tasawuf sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tempat pada kitab-kitabnya. Memang harus diakui bahwa pembagian ini mengandung unsur kekaburan mengingat tasawuf adalah pengalaman   batin   manusia   dalam   berhubungan   dengan   Tuhannya   yang memiliki  watak  subjektif.  Oleh  karena  itu,  kriteria  yang  biasanya  dipakai untuk mengidentifikasi tidak menghasilkan corak yang akurat dan tetap.
Dalam  hal ini, dapat  dikatakan  bahwa  pembagian  tersebut  biasanya didasarkan kecenderungan tokoh-tokoh sufi yang pada satu pihak menekankan aspek amaliah dan di lain pihak menekankan aspek pemikiran. Yang pertama, menghasilkan  rumusan-rumusan  tingkah  laku  yang  dipandang  dapat mendekatkan seseorang pada Tuhan, sementara yang kedua menghasilkan rumusan   pemikiran   tentang   kemungkinan   manusia   mengalami   kesatuan dengan Tuhannya. Inilah yang sering disebut dengan istilah tasawuf nadzari yang  banyak  mengambil  ide-ide  berasal  dari  kebudayaan  luar  Islam  (Ats-
Tsaqafah al-Ajnabiyyah).49

Pemaparan  mengenai  pemikiran  tasawuf  dari  delapan  tokoh  di  atas (enam  tokoh  masuk  dalam  kategori  amali  dan  dua  tokoh  masuk  dalam kategori nadzari atau falsafi) sebagaimana dikemukakan di atas, cukup memberikan  gambaran pengalaman  ruhani mereka yang memiliki titik berat pada dua kategori yang berbeda satu dengan lainnya, yaitu yang berorientasi kepada amal (akhlak) di satu pihak dan yang berorientasi kepada pemikiran (nadzari) di lain pihak.
Jika dilihat dalam kerangka pemikiran  berdasarkan  pengalaman  para sufi  yang  dikategorikan  menjadi  dua  di  atas,  yakni  'amali  (akhlaki)  dan nadzari (falsafi), maka corak pemikiran tasawuf KH. Ahmad Rifa’i termasuk dalam  kategori  'amali  (akhlaqi)  atas  dasar  pertimbangan  bahwa  isi  ajaran tasawuf Rifa’i berupa latihan ruhani dengan jalan (1) pengisian diri dengan


48  Tasawuf Sunni memiliki corak 'amali karena tokoh-tokohnya memberikan tekanan pada pelaksanaan syari'at terlebih dahulu baru kemudian menghiasinya dengan amaliah tasawuf. Corak ini berbeda dengan falsafi yang menekankan aspek pemikiran dan menitik beratkan pada aspek kesatuan dengan Allah. Abdul Djamil, Ibid, hlm. 122.
49 Ibid, hlm. 122-123.
68
sifat terpuji (tahalli), (2) pengosongan sifat tercela (takhalli) yang kemudian ditindaklanjuti dengan kedekatan kepada Allah (taqarrub), dan (3) pengenalan Allah dengan mata hati (makrifat).50
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment