103 Tahun Setelah Kebangkitan Nasional

103 TAHUN lalu atau tepatnya 20 Mei 1908, sejumlah kaum muda terdidik yang peduli terhadap nasib bangsa antara lain, dr Soetomo, dr Wahidin Soedirohoesodo, dr Goenawan dan Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mendirikan sebuah organisasi yang bernama Boedi Oetomo.
Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi penggerak kebangkitan bangsa yang bertujuan untuk memerdekakan Indonesia. Berbeda dengan bentuk perjuangan sebelumnya yang menggunakan perlawanan dengan kekerasan, Boedi Oetomo lebih menekankan cara-cara politis melalui peningkatan pendidikan. Hari tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Melihat kondisi bangsa saat ini yang penuh dengan carut marut berbagai permasalahan, apakah Hari Kebangkitan Nasional masih relevan jika hanya diperingati secara seremonial belaka? Karena harus diakui bahwa sebagian besar dari peringatan-peringatan selama kurun waktu 103 tahun itu, hanya dilakukan sebatas sermoni belaka.
Melihat kondisi bangsa saat ini, Hari Kebangkitan Nasional tidak perlu diperingati jika tujuannya hanya seremonial belaka. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membangkitkan kembali semangat kebangsaan itu. Apakah itu namanya Kebangkitan Nasional Jilid II, Jilid III dan seterusnya.
Tapi yang jelas musuh yang dihadapi saat ini jauh lebih berat dibanding saat itu. Memang saat itu kita tidak punya apa-apa. Kita tidak memiliki senjata, kita tidak memiliki banyak sumber daya manusia (SDM) yang terdidik, dan kita tidak memiliki banyak dana. Tapi yang jelas saat itu kita memiliki semangat dan musuhnya jelas, kolonialisme!
Saat ini kondisinya berbeda. Dari sisi SDM dan sarana pendukung lainnya, jelas cukup memadai. Hanya saja musuh yang dihadapi tidak jelas. Dikatakan tidak jelas karena musuh itu adalah anak bangsa sendiri. Musuh kita jelas yaitu korupsi dan ketidakadilan. Sayangnya para pelakunya bukan orang lain. Yang lebih sedihnya mereka ini sebenarnya orang yang kita percayai yaitu para penyelenggara pemerintah (eksekutif) dan pengawas penyelenggara pemerintahan (yudikatif dan legislatif).
Beberapa masa pemerintahan berganti. Mulai dari yang dikatakan otoriter (orde lama dan orde baru) hingga yang dikatakan lebih demokratis (orde reformasi). Tapi kenyataan yang kita hadapi dewasa ini tidak jauh beda. Bahkan kalau mau jujur bisa dikatakan lebih sulit.
Harapan kita jelas hanya pada pemerintah. Sayangnya pemerintah terlalu asyik memupuk citra diri. Padahal dalam kondisi saat ini hal seperti itu tidak diinginkan lagi oleh rakyat. Harapan yang sama juga kita sandarkan kepada para anggota dewan di gedung parlemen. Sayangnya mereka juga terlalu asyik memenuhi hasrat dirinya sendiri dan partai politiknya.
Maka tidaklah heran kalau yang kita lihat dan dengar saat ini hanyalah persoalan mereka sendiri. Mulai dari pembangunan gedung baru, jalan-jalan ke luar negeri, korupsi berbagai proyek pembangunan, makelar dan sebagainya. Sementara persoalan yang lebih penting seperti masalah pendidikan, kesehatan dan pembagunan infrastruktur menjadi terabaikan.
Penjaga gawang terakhir (lembaga yudikatif) juga tidak bisa terlalu diharapkan. Karena mereka juga terkadang terlibat dalam persengkongkolan. Karena keterlibatan itu yang membuat hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Nek Minah yang hanya mengambil dua buah coklat harus dijatuhi hukuman sementara koruptor miliaran rupiah bisa bebas melenggang tanpa tersentuh.
Karena itu momen 103 tahun Kebangkitan Nasional diharapkan mampu membangkitkan kembali rasa kebangsaan itu. Sulit memang tapi harus kita mulai paling tidak dari diri sendiri, lingkungan dan seterusnya. Momen ini harus kita ambil sebab jika tidak maka keadaan yang lebih buruk sudah berada di depan mata.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment