Desa, Kunci Masa Depan Indonesia

Dr. Tri Budhi Sastrio
Dept. of Liberal Arts - University of Pelita Harapan

Setiap melakukan kunjungan kerja ke desa, bertatap langsung dengan masyarakat, saya melihat dinamika membangun  yang  begitu tinggi. Hasil pembangunan  yang dikerjakan   secara   swadaya misalnya,  ternyata tak cuma harus dilihat fisiknya,  namun juga mesti dikaji  bagaimana masyarakat menggarap  dan  menyelesaikan pekerjaan itu.
Orang-orang  desa itu sangat membanggakan apa  yang  mereka kerjakan.  Karena itulah mereka pasti  akan  menyampaikan  hasil swadaya itu kepada saya dengan suka cita, disertai rasa haru, dan sepenuh jiwa.
Saya membayangkan dua paragraf ini berasal dari tulisan para gubernur yang sudah habis masa jabatannya dan dua paragraf ini juga dipastikan akan dibaca oleh gubernur yang baru dilantik. Sayangnya, dari sejumlah tulisan yang ditinggalkan oleh para gubernur  di seluruh nusantara ini, hanya dari mantan gubernur propinsi Bali,  Prof. Dr. Ida Bagus  Oka namanya, yang menyampaikan kesan-kesan menyentuh seperti ini.
Dalam buku berjudul KABAR DARI  DESA, dua paragraf ini dikutip.   Dan memang inti dua paragrap ini adalah kabar dari desa, kabar bagaima­na orang-orang  desa dengan sukacita, haru, dan  sepenuh  jiwa menyampaikan apa-apa yang telah (dan mungkin juga sedang  serta akan) dikerjakan. Adakah kenyataan yang lebih penting  dan lebih indah dari ini? Orang-orang desa yang sederhana, lugu, dan tulus sedang menyampaikan isi hati mereka? Tidak ada, bukan?
Meskipun Prof. Oka, dan banyak gubernur lainnya, bukanlah gubernur yang meninggalkan masa jabatannya dengan nama yang harum, khususnya di mata pada mahasiswa, karena beberapa kasus seperti kasus BNR, Pecatu, dsb. tetapi tetap saja paragraf-paragraf dalam KABAR DARI DESA pantas diacungi jempol, karena isinya yang menyentuh dan memberi inspirasi.

Mengenal Jenis-jenis Desa di Indonesia
Desa  adalah  kesatuan wilayah yang  dihuni  oleh  sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri, begitu bunyi salah satu definisi desa. Sedangkan pedesaan diberi makna sebagai daerah  pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi  oleh  kondisi tanah,  iklim,  dan air sebagai syarat penting  bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu. Karenanya  tidak mengherankan kalau selama ini  dikenal ada banyak sekali jenis desa, khususnya di tanah Jawa. Ada desa  abdi, desa  kaputihan, desa mijen, desa pakuncen, desa  perdikan,  desa peristiwa, desa  praja, desa swadaya, desa  swakarya, dan desa swasembada. Sedangkan di Bali ada dua jenis  desa  yang  paling banyak disebut-sebut yaitu desa adat dan desa dinas.
Percaya  bahwa  peran penting desa bukan saja  terletak  di masa  lalu, tetapi juga di masa sekarang dan di  masa-masa  yang akan datang, tidak salahnya kalau untuk sejenak  dilirik penjelasan dan definisi masing-masing jenis desa yang telah disebut.
Desa  abdi adalah desa yang ditempati oleh  pegawai-pegawai bawahan  sultan. Desa jenis ini dulu banyak dijumpai  di  kawasan kerajaan Banten. Desa keputihan adalah desa yang banyak  ditemukan di tanah Jawa. Biasanya berlokasi di dekat mesjid atau pusat periba­datan  yang  didiami oleh orang-orang saleh.  Desa  mijen,  juga banyak ditemukan di Jawa, adalah desa yang diserahkan oleh raja kepada  keluarga-keluarga tertentu dan  mereka  dibebaskan  dari pajak  tanah. (Mungkin ketentuan tidak membajar pajak  ini sudah tidak  berlaku  lagi sekarang!). Desa pakuncen adalah  desa  yang penduduknya  dibebani  kewajiban menjadi  penjaga kuburan.  Desa perdikan  adalah desa yang tidak jauh berbeda  dari  desa mijen karena  penduduk desa ini pun dibebaskan dari kewajiban  membayar pajak  kepada pemerintah pusat. Desa peristiwa adalah  desa yang terbentuk karena adanya kegiatan transmigrasi.
Sedangkan  desa  praja bermakna kesatuan  masyarakat  hukum yang mempunyai batas-batas daerah tertentu, berhak mengurus rumah tangga sendiri,  memilih  penguasa, dan  mempunyai  harta  benda sendiri. Desa swadaya adalah desa yang masih terikat oleh tradisi karena  taraf pendidikan penduduknya  relatif  rendah,  produksi diarahkan untuk kebutuhan primer keluarga, dan komunikasi ke luar sangat terbatas. Desa swakarya adalah desa yang sudah agak  long­gar  adat  istiadatnya karena pengaruh luar, mengenal teknologi pertanian,  dan  taraf pendidikan warganya relatif  lebih tinggi dibandingkan dengan desa lainnya. Sementara itu, desa swasembada adalah  desa  yang lebih maju daripada desa  swakarya  dan  tidak terikat lagi oleh adat-istiadat yang ketat.

Desalah Kunci Masa Depan Indonesia
Semua orang memerlukan kesederhanaan berpikir dan kesetiaan pada tra­disi  agar terbebas dari desakan pengaruh asing.  Untuk  ini semua orang  diminta pintar-pintar memilih mana yang patut diikuti  untuk meningkatkan kesejahteraan, mana pula yang mesti  secara tekun terus menerus dilaksanakan agar tradisi tidak menguap dan lenyap, tulis Prof. Dr. Ida Bagus Oka. Pendapat ini tentu saja tidak tabu dikutip dan dilakukan bahkan oleh para gubernur yang paling modern dan paling anyar sekali pun. Untuk bisa melakukan ini, tidak ada  pilihan lain kecuali berpaling  ke  desa. Mengapa? Karena di desalah terdapat sumber ajaran nan mengagumkan ini!
Banyak falsafah orang desa yang bisa dijadikan panutan  dan kajian pertimbangan ketika bertindak. Dari orang desa orang  bisa belajar yang patut dan yang tidak patut. Di desa orang  bisa  mene­mukan  kejujuran dalam bekerja. Di desa kerja tak  semata  untuk kepuasan badan, tetapi juga untuk kenikmatan batin. Sedangkan kota? Tanpa bermaksud mengatakan bahwa di kota tidak adalagi orang jujur, tetap saja harus diakui bahwa semakin sulit menemukan kejujuran di kota. Yang banyak ditemukan di sana adalah kebalikannya.
Pertanyaannya  sekarang, apakah ide-ide mutakhir yang akhir-akhir ini banyak digulirkan oleh para gubernur yang baru terpilih tetap berpihak pada falsafah memerintah yang khas ala orang desa, lugu, jujur dan tidak berlebihan?
Dalam kasus Jawa Timur,  Bali dan Lombok, tiga propinsi yang saling bertetangga ini, khususnya jika masalahnya dikaitkan dengan pariwisata maka konsep wisatawan jangan  dihalangi  datang dapat diterapkan bersama. Tetapi   hendaknya juga tidak terlalu bersemangat menariknya untuk datang. Dollar, betapa pun banyaknya, tidak bisa  menggantikan  kehidupan desa yang asri, tenteram, menyenangkan, tulus dan  teduh tempat semua orang bisa menjernihkan pikiran.  Di  samping itu hendaknya terus menerus diingat bahwa potensi kebudayaan terdalam dan terindah suatu masyarakat terpendam  di  desa-desa. Baik yang di Lombok, Bali, atau Jawa Timur. Jangan  biarkan orang asing menggali, menikmati, dan memanfaatkannya lebih dulu, semen­tara banyak tuan rumah disibukkan oleh usaha-usaha lain yang justru disadari atau tidak  disadari, diakui atau tidak diakui,  cepat  atau lambat, akan merusak potensi budaya itu sendiri.
Pembangunan kepariwisataan memang harus terus dipacu tetapi janganlah berlebihan. Sudah banyak bukti dari tempat lain, betapa langkah perencanaan yang salah, seperti terlalu memacu dan  kemu­dian (katanya) berhasil,  menjadi sesuatu yang sulit untuk diper­baiki. Bisa  pun waktunya bertahun-tahun.  Masih  ingat  Hawaii, Samoa, Bora-Bora,  kepulauan Antilles, serta  banyak  lagi  yang lain, bukan? Mereka ingin mengembalikan lagi keadaan  masyarakat dan  potensi  budaya  mereka seperti dulu ketika  belum  berubah karena  pembangunan  kepariwisataan yang berlebihan,  tetapi  se­muanya terlambat. Lombok, Bali dan Jawa Timur tentunya tidak perlu meniru itu.
Biarkan propinsi-propinsi ini dengan jati dirinya  sendiri.  Biarkan bagian dari Indonesia yang kaya dengan desa ini berkembang seirama dengan kemampuannya sendiri.  Wisatawan  yang datang  dijadikan pelengkap bagi dinamika masyarakat dan bukan sebagai titik sentralnya. Mengapa? Karena kalau hal ini  dilaku­kan, seperti dapat dilihat pada kawasan-kawasan lain di negara-negara  lain, keuntungan jangka pendek yang dinikmati oleh  sege­lintir orang tidaklah sepadan dengan kerugian jangka panjang yang harus diderita oleh banyak orang, terutama masyarakat desa sumber tempat banyak hal dapat  dipetik dan dipelajari. Lestarikan desaku, lestarikan desamu, lestarikan desa kita semua!
Masa depan Indonesia dan juga masa depan desa di seluruh kawasan nuswantara ini tidak berada pada sirkuit balap, tidak pada cafe, tidak pada bangunan menjulang tinggi, tidak berada pada bandara dengan tiga landasan pacu paralel, tidak juga pada jutaan wisatawan yang datang membanjir, melainkan berada pada desa, berada pada orang-orang desa, berada pada anak-anak desa. Mengapa?  Karena merekalah pewaris dan sekaligus pemilik sah tanah dan negeri tercinta ini! Jadi marilah mereka dihargai dan dididik sebagai mana mestinya, sebagai mana seharusnya!
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment