Refleksi 103 Tahun Kebangkitan Nasional ; Membangkitkan Jiwa Kebangsaan

Refleksi 103 Tahun Kebangkitan Nasional ; Membangkitkan Jiwa Kebangsaan


Oleh : Drs. H. Done Ali Usman, M.AP
Hari ini 20 Mei 2011, 103 tahun refleksi Kebangkitan Nasional negeri ini yang disebut Hari Kebangkitan Nasional. Menjelang memasuki usia kemerdekaan yang ke-66, keduanya merupakan tragedi nasional yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.
Kebangkitan Nasional Tahun 1908 merupakan cikal bakal tumbuhnya kesadaran, kepedulian, dan komitmen kebang saan yang kemudian mendorong terbangunnya persatuan dan kesatuan dan ikrar kebangsaan tahun 2008, hingga terwujudnya Indonesia merdeka tahun 1945.
Realitas kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini masih menghadapi banyak tantangan yang harus diatasi baik dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan bidang pertahanan keamanan, antara lain memudarnya rasa kebangsaan dengan melupakan pilar dasar yang di rumuskan para "Founding Fathers" bangsa ini yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Hal ini terlihat masih gencarnya gerakan-gerakan separatis, sisa-sisa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), terakhir terungkapnya gerakan Negara Islam Indonesia dan sikap-sikap radikalisme ekstrim seperti Al Qaida dan lain-lain sebagainya.
Kenapa ini masih ada? Ini dampak dari pengaruh globalisasi yang menjadikan batas-batas Negara tanpa batas. Sebagai konsekwensi tanpa batas Negara (borderless), bukan hanya bisnis legal saja, tapi juga pada kejahatan internasional atau "barbarian gaya baru" yang disebut Terorisme Internasional.
Dalam membahas kejahatan transnasional sebagai dampak globalisasi, seperti Human Trafficking, Migrant Smuggling, Smunggling on Firearms, money laundering, pemerintah Indonesia tampaknya kurang peduli. Hal ini terlihat dari kebijakan politik dengan tidak meratifikasi UN Convention against Transnational Organization Crime (UNTOC) tahun 2000. Indonesia nantinya akan kesulitan melakukan penegakan hukum, karena tidak terikat pada konvensi internasional tersebut.
Untuk itu, kita perlu membangkitkan kembali rasa kebangsaan jilid II, setelah 103 tahun refleksi Hari Kebangkitan Nasional. Adapun yang menjadi alasan utama perlunya kebangkitan Nasional Jilid II, disamping pengaruh globalisasi adalah :
Mengutip pendapat Buddha pernah mengingatkan orang-orang untuk menghindari empat hal yang akan menyebabkan kemerosotan bangsa adalah :
Pertama : Kegagalan menemukan kembali apa yang hilang, kelalaian memperbaiki apa yang rusak, pemborosan karena konsumsi berlebihan, mengangkat pemimpin yang tidak bermoral.
Kedua: Ada yang rusak yaitu nilai-nilai moral dan politik yang dibiarkan memburuk.
Ketiga: perekonomian di urus secara ceroboh.
Keempat: kekuasaan dipe-gang oleh orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kebijaksanaan.
Pendapat Buddha tersebut memang sudah menjadi kenyataan di Indonesia.
Membangun Kembali Karakter Bangsa
Membangun karakter adalah pekerjaan yang tidak sederhana, bukan pekerjaan instan, hari ini dikerjakan esok hari sudah dapat dilihat hasilnya.
Membangun karakter adalah pekerjaan yang kontinyu, diselenggarakan secara strategis, sistematis, dan tidak boleh bosan.
Gaya-gaya pembangunan karakter :
1. Pembangunan karakter bangsa pada era pemerintahan Presiden Soekarno.
Pada masa itu berkembang program yang disebut "Nation and Character Building", yang selalu didengung-dengungkan oleh Presiden Soekarno. Pada masa itu bangsa Indonesia berani membusungkan dada, dengan lantang berkata: "Ini dadaku, mana dadamu". Bahkan pada suatu ketika, pihak Imperialis yang ingin membantu bangsa Indonesia disertai dengan sikap memaksakan kehendaknya kepada bangsa Indonesia, dijawab dengan berani : "Go to hell with your aid".
Cara bung Karno untuk membangun karakter bangsa adalah dengan cara berpidato di muka umum dalam setiap kesempatan. Memberikan ceramah dan kuliah di hadapan para pemuka partai politik, pemuka masyarakat dan agama. Dengan bermodalkan kemampuan birokrasi, dilandasi oleh pengetahuan yang luas dan pengalaman perjuangannya, maka apa yang disampaikan oleh Bung Karno dengan mudah difahami oleh rakyat, untuk selanjutnya diikuti semua petunjuk dan perintahnya. Gaya indoktrinisasi ini melahirkan "MANIPOL USDEK" pada zaman itu.
2. Pembangunan karakter gaya Presiden Soeharto pada masa Orde baru.
Dengan bergulir pemerintah Orde Baru, yang mengembangkan misi "melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen", maka pembinaan karakter bangsa pada era itu mengacu pula pada misi tersebut.
Setelah konsolidasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara telah dapat dibenahi, Sidang Umum MPR RI tahun 1978 menetapkan suatu pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, atau biasa disebut P-4, melalui penataran P4, oleh manggala sebagai penatar nasional.
Dengan menerapkan P-4 tersebut, diharapkan warga Negara Indonesia dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila serta mampu dan mau untuk melaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Upaya tersebut diselenggarakan secara sistemik dan strategik, maka didirikan sebuah badan yang disebut BP7.
3. Pembangunan Karakter yang di Era Reformasi
Dengan dicabutnya Tap MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4, sebagian besar elit politik mengabaikan bagaimana bertingkah laku sesuai Pancasila. Yang akhirnya masyarakat kehilangan pegangan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Mencermati perubahan UUD 1945, kehidupan bernegara semakin rancu, antara lain :
- Lembaga Legislatif tidak jelas bentuk dan strukturnya.
Perhatikan tugas DPR dan DPD yang sama-sama anggota MPR
- Sistem Pemerintahan Presidensiil, tapi presiden melaksanakan tugas-tugas yang disepakati oleh DPR.
- Terjadinya konflik antar lembaga Yudikatif Kejagung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.
- Perubahan UUD 1945 kurang atau tidak merupakan derivasi cita-cita hukum yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945.
Pada masa 11 tahun Reformasi, wajar kalau pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mendeklarasikan gerakan Pendidikan Karakter dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011 pada senin (2/5).
Gerakan ini bertujuan untuk membangun karakter diri dan bangsa yang bertumpu kepada kecintaan dan kebanggaan kepada bangsa dan Negara berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Karena itu, peringatan Hardiknas 2011 bertema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan subtema Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti.
Secara konkret, gerakan pendidikan karakter akan diitegrasikan dalam tahun ajaran 2011/2012 mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi (PT) termasuk pendidikan formal dan informal.
Karakter tidak hanya menyangkut kesantunan, tetapi menumbuhkan rasa kepenasaran intelektual sebagai modal untuk membangun kreativitas dan inovasi.***
Penulis adalah :Dosen pada Universitas Medan Area, dan Universitas Islam Sumatera Utara.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment