Peningkatan Kualitas Keimanan melalui Thoriqot

PENINGKATAN ESQ (Emotional Spiritual Quotien) MELALUI PENGAMALAN THORIQOH (Qodiriyah wa Naqsabandiyah)
 oleh Mohamad Yasin Yusuf 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak akan pernah dapat hidup dalam keadaan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, ia harus melakukan hubungan dengan orang lain, oleh karena itu secara naluri manusia akan selalu ingin membentuk kelompok-kelompok social, guna memenuhi kebutuhan hidup mereka tersebut. Yang hal ini pada akhirnya terbentuklah apa yang di sebut dengan masyarakat.
Masyarakat merupakan suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut system adat istiadat yang bersifat kontiniu dan yang terikat oleh satu rasa identitas bersama (Koentjoro Ningrat, 1990: 164). Kumpulan manusia tersebut bisa di sebut mayarakat, apabila memiliki syarat-syarat antara lain: kesatuan dalam hidup, adanya interaksi antara sesama warga komunitas tersebut, adanya keterikatan satu identitas bersama. Seiring dengan perkembangan pola pikir manusia dan kemajuan peradaban maka kondisi masyarakatpun juga selalu mengalami perubahan dan perkembangan menuju arah yang lebih baik.
Saat ini mayarakat telah berada di zaman modern, kehidupan, tingkah laku, dan segala aktivitas menunjukkan kearah modernitas. Zaman modern ini di tandai oleh beberapa indikasi, antara lain :

1. penggunaan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia.
2. perkembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud dari kemajuan intelektual umat manusia.
Masyarakat yang modern identik dengan pemisahan dirinya dari kehidupan irrasional bahkan hal-hal yang di kategorikan sebagai non rasionalitas. Mereka hanya mengakui eksistensi dari hal-hal yang bersifat materiil dan yang dapat di raba, di rasa, di teliti dan ilmiyah (Hikmat Budiman, 1996: 38). Oleh karena itu nilai-nilai, norma dan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat modern semakin memudar, dan diganti oleh pola hidup materialis yang menghambakan diri kepada kebendaan untuk mencapai kepuasan keduniaanya.
Manusia modern yang seperti itu sebenarnya adalah manusia yang sudah kehilangan makna kehidupan yang sesungguhnya, ia pasti akan resah setiap kali akan mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang di inginkan, untuk apa langkah kehidupanya, bahkan iapun kadang tidak tahu siapa dirinya, bagaikan orang yang terkurung dalam kerangkeng. Manusia modern akhirnya banyak yang frustasi dan berada ke dalam ketidak berdayaan, power lessness.
Sebagai akibat dari sikap hipokrit yang berkepanjangan maka masusia modern mengidap gangguan kejiwaan antara lain berupa: kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, psikosomatis. Secara alamiyah manusia menginginkan dan merindukan kehidupan yang bahagia dan tenang, baik jasmani maupun rohani.


Sebenarnya mengejar masalah keduniaan dan kebendaan bukanlah merupakan jalan yang salah, karena memang secara kodrati manusia membutuhkan hal tersebut untuk melangsungkan kehidupanya di muka bumi ini. Akan tetapi janganlah di lupakan bahwa manusia juga mempunyai potensi atau fitrah Ketuhanan. Sehingga hendaknya antara kedua kebutuhan tersebut harus mampu berjalan bersama-sama guna mencapai tujuan hidup yang hakiki bagi manusia.
Selama ini, masih ada dikotomi pemikiran. Sejarahpun banyak menunjukkan bahwa hampir seluruh lapisan peradaban manusia terbagi menjadi dua kelompok besar, cenderung ke akherat dan yang cenderung ke dunia saja. Sebut saja Aristokrsasi Cina kuno yang pada mulanya condong keduniaan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan yang lainya, kemudian datanglah Lao-Tse yang menjadi pelopor spiritual, sehingga banyak melahirkan para pendeta, kaum sufi dan gnostik yang selalu menentang dan menjauhi dunia, begitu juga di negara-negara yang lainya. Demikianlah terus menerus fenomena tersebut berubah silih berganti seperti nilai mata uang yang terus-menerus mengalami fluktuasi. Bayangkan jika hal ini terjadi dan berlanjut terus fenomena dikotomisassi antara akherat dan dunia. Bisa di pastikan erosi pada masyarakat akan terjadi, oleh karena itu perlu adanya singkronisasi dan berjalanya kebutuhan akan dunia dan akherat ini secara bersama-sama.
Meminjam istilah Dr. Ali Shariati, dalam buku ESQ karangan Ary ginanjar Agutian, bahwa manusia adalah mahluk dua dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akherat. Oleh karena itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik(EQ plus IQ), dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (Ary ginanjar Agustian, 2001: XX). Dalam buku yang lain, karangan Dr. H.M Idris Abu Shomad, MA (2005: 14), mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari dua unsure yaitu tanah dan ruh, sebagaimana yang terkandung dalam Al Qur'an Surah Al Hijr: 28-29. Kemahabijaksanaan Allah juga di buktikan dengan adanya keragaman fungsi pada setiap unsur tersebut. Jasad manusia yang merupakan unsur tanah yang terdiri dari tulang, daging, kulit, dan sebagainya berfungsi melaksanakan dan mengemban tugas-tugas hidup fisikal, pemenuhan kebutuhan keduniaan ada pada unsur ini. Selain itu unsur ruh yang ada pada diri manusia melingkupi unsur rohani, syu'ur (perasaan), dan potensi Ketuhanan, juga membutuhkan terpenuhinya kebutuhan dari ruh tersebut. Oleh karena itu manusia harus bisa menyepadankan antara kebutuhan jamani dan ruhani, kebutuhan duniawi dan ukhrowi.
Dalam kehidupan modern dan kondisi mayarakat yang semakin tertata inilah hendakya antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi bisa berjalan bersama-sama. Oleh karena itu dengan adanya konsep ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) atau kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, di harapkan antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi tidaklah bertentangan namun mampu untuk berjalan bersama-sama dalam menghantarkan tujuan daan haakikat manusia yang sesunggguhnya.
Dalam agama islam sebenarnya terdapat cara untuk menyepadankan dua kebutuhan tersebut, menumbuhkan keceerdasan emosional (EQ) dan tetap menjaga dan mengembangkan potensi ruhiyah Ketuhanan atau Spiritual Quetient (SQ), cara inilah yang di sebut dengan jalan tarekat atau biasa di sebut dengan pola hidup bertasawuf. Selama ini ada pandangan keliru, yang menganggap bahwa kehidupan tasawuf berarti meninggalkan kepentingan dan kehidupan duniawi guna menuju pada kehidupan akhirat semata. Pandangan ini sudah lama berkembang dalam dunia islam, sehingga banyak kalangan umat islam yang takut dan enggan masuk dalam ranah dunia tasawuf, hanya karena takut dengan rumor yang berkembang itu. Sebenarnya kehidupan tasawuf yang benar tidaklah meninggalkan kehidupan dunia demi akherat semata, naamun mampu menyepadankaan dan memenej antara keduanya, karena memang Allah menciptakan keduanya tidak lain juga untuk manusia.
Adanya anggapan bahwa tasawuf meninggalkan kehidupan duniawi sebenarnya karena faktor lahirnya tasawuf itu sendiri, yang tidak lepas dari perkembangan potitik pada awal sejarah islam. Setelah berakhirnya pemerintahan Khulafaurrasyidin, pemerintahan dalam islam jatuh menjadi otoriter, bergelimang dengan kemewahan harta benda dan kehidupan raja-raja muslim yang tidak islami. Sehingga mendorong sebagian orang untuk menjauhkan diri dari kehidupan duniawi para pemerintah dan raja-raja untuk menempuh jalan sufistik dengan hanya berdzikir dan beribadah dan semakin menjauh dari kehidupan pemerintahan yang di anggap dholim tersebut. Itulah sebabnya timbul kesan seolah-olah sufi meninggalkan kepentingan hidup duniawi. Padahal sebenarnya mereka hanya ingin menjauh dari pemerintahan yang korup, otoriter dan mengabaikan nilai-nilai islami itu.
Sebenarnya pemerintahan yang otoriter dan yang telah berbuat dholim janganlah di jauhi. Kalau semakin di jauhi, maka pemerintahan itu belum tentu menjadi baik, tetapi mungkin akan malah menjadi buruk karena tidak ada yang mengingatkan kesalahanya tersebut (Sudirman Tebba, 2003: 7-8). Oleh karena itu konsep kehidupan tasawuf yang benar adalah bagaimana dapat menyesuaikan antara kebutuhan dunia dan akherat, karena sebenarnya dunialah yang menjadi jembatan menuju akherat.
Saat ini ada istilah Tasawuf Modern atau Tasawuf positif yang menghendaki manusia taat beribadah kepada Allah, tetapi aktif pula dalam berbagai kegiatan duniawi, seperti bisnis, pemerintahan, sosial dan lain-lain. Ini berarti bahwa kehidupan tasawuf tetap mementingkan kehidupan ukhrowi, tetapi tidak menolak kehidupan duniawi (Sudirman Tebba, 2003: 1-2).
Tarekat sebenarnya merupakan satu jalan dalam pola hidup tasawuf. Ada banyak macam tarekat yang telah berkembang antara lain Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, Tarekat Sadziliyah, Tarekat Rifa'iyah, Tarekat Tijaniyah dan lain-lain. Secara umum tarekat merupakan suatu jalan untuk mengenal Allah atau Ma'rifatullah melalui dzikir dan amalan-amalan yang lainya, sesuai dengan cara-cara yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW yang kemudian di amalkan oleh generasi setelah beliau sampai sekarang.
Dalam ajaran tarekat ternyata ada kesamaan dengan konsep yang baru-baru ini berkembang yaitu cara menumbuhkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ternyata tarekat bisa di gunakan sebagai cara menumbuhkan emosional dan spiritual, sehingga aspek yang ada dalam tarekat tidak hanya mengurusi masalah kehidupan ukhrawi tetapi juga mampu menumbuhkan emosional seseorang untuk mau berusaha mencapai kehidupan duniawi yanglebih baik.
Kecerdasan emosional atau yang sering di sebut dengan istilah Emotional Quotient (SQ), menurut Daniel Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan memotivi diri sendiri, dan kemampuaan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orag lain. Kesadaran diri berarti mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakanya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Pengaturan diri berarti menangani emosi sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi. Motivasi berarti menggunakan hasrat yang paling dalam untuk dapat manggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif. Empeti adalah mampu merasakan sebagaimana yang di rasakan oleh orang lain, menyesuaikan dan mampu bersadaptasi dengan mereka. Kemudian ketrampilan sosial adalah menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca situasi dan jaringan sosial, bekerjasama dan mampu hidup dalam lingkunganya dengan baik (Sudirman Tebba, 2003: 11-12).
Di lihat dari perspektif sufistik, unsur-unsur kecerdasan emosional itu juga ada dalam ajaran tarekat. Hal ini berarti tarekat juga mampu mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) seseorang. Hal ini berarti dalam ajaran tarekat tidak hanya terfokus masalah ibadah untuk mengejar akherat, namun juga di ajarkan bagaimana melakukan hubungan yang baik dengan orang lain, memotifasi dirinya, mencari duniawi dengan jalan yang benar, dan lain-lain. Misalnya ajaran dalam tarekat yang sesuai dengan konsep peningkatan EQ yaitu muhasabah (melakukan perhitungan atau intropeksi diri), sabar dalam pengaturan diri dan hubungan dengan orang lain, raja' (optimisme), itsar (mendahulukan kepentingan orang lain), syaja'ah ( ketrampilan sosial dan beraninya dalam menjalani kehidupan untuk berjuang bersama orang lain), dermawan berarti ada konsep untuk mempunyai harta terlebih dahulu. Dari sini berarti ajaran tarekat sebenarnya juga mengajarkan tentang bagaimana membangun kecerdasan emosional atau Emotional Quetient (EQ).
Pada pihak yang lain muncullah konsep Kecerdasan Spiritual (SQ), yang merupakan temuan terkini secara ilmiyah, yang pertama kali di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University, melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiyah tentang kecerdasan spiritual yang di paparkan oleh kedua ahli ini antara lain adalah: pertama, riset ahli psikologi/syaraf, Michel Persinger pada awal tahun 1990-an, dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V.S. Ramachandran yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia, ini sebagai pusat spiritual yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak (Ary Ginanjar Agustian, 2001: xxxix).
Hal ini menunjukkan bahwa secara kodrati alamiyah manusia telah memiliki potensi spiritual atau Ketuhanan, namun karena kadang-kadang manusia suka lalai dan terjerumus pada pemenuhan kebutuhan dari hawanafsu keduniaan, maka potensi ketuhanan tersebut tertutupi. Ketika mereka sudah dalam keadaan yang sangat membutuhkan dan berada pada jurang kehancuran dirinya maka potensi ketuhanan itu akan muncul kembali (Abdurrahman As Sanjari, 2004: 63).
Oleh karena itu tidak heran jika saat ini ada kebutuhan yang besar akan spiritualisme dan tumbuhnya kembali nilai religi dari masyarakat yang semakin memudar tersebut, baik di dunia secara umum maupun di kalangan para muslimin. Hal tersebut mungkin karena kebosanan manusia terhadap kehidupannya yang malah semakin menghitam dan ketidak mampuan manusia dalam menjawab permasalahan mereka yang semakin kompleks.
Kebutuhan spiritualisme di Negara-negara maju sudah lama terasa di bandingkan dengan di Negara-Negara berkembang. Di Amerika Serikat misalnya kebutuhan akan spiritualisme itu sudah kuat terasa sejak tahun 1960-an. Menurut laporan dari TV CNN, 10 Mei 2000, bahwa mulai tahun itu mulai tumbuh kembali spiritualitas masyarakat, para pelancong spiritual (the year of the spiritual traveler) mulai memenuhi panggilan mistik dan mistis.
Kejenuhan masyarakat modern terhadap kehidupanya, inilah yang menimbulkan tumbuhnya kembali spiritualitas pada dirinya. Sehingga memang benar jika solusi yang di tawarkan untuk mengatasi problem kehidupan dan masalah kejiwaan pada masyarakat modern cenderung lebih bersifat spiritual religius.
Oleh karena itu kecerdasan spiritual (SQ) perlu di bimbing dan di tingkatkan. Menurut Marsha Sinetar, SQ adalah pikiran yang mendapat inspirasi , dorongan, dan efektifitas yang terinspirasi, the is-ness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian (Sudirman Tebba, 2003: 19). Sedangkan dalam pandangan islam SQ sebenarnya adalah sifat, sikap, dan perilaku takwa kepada Allah SWT, yang di buktikan dengan amal sholeh, yang di landaskan pada iman kepada Allah SWT (M. Idris Abdul Shomad, 2005: 22).
Dalam agama islam di tawarkan suatu jalan yang dapat di lakukan untuk menumbuh kembangkan kembali kecerdasan spiritual yang semakin memudar dalam linngkungan kehidupan masyarakat muslim modern,cara tersebut, yaitu tarekat. Maka saat ini banyak masyarakat modern yang melarikan diri pada ajaran thariqoh. Hal ini sesuai dengan pendapat Abu Bakar Aceh (1992:65) bahwa:
"Thariqah itu biasanya timbul dalam situasi di suatu zaman dikala dalam kehidupan manusia terdapat banyak kerusakan yang mengayomi kehidupan jasmani ataupun kehidupan rohani yang biasanya pada masa-masa tersebut kurang kesesuaian pada agama dan pada Tuhan yang biasanya diiringi oleh kerusakan moral dan akhlak".
Tarekat pada dasarnya merupakan suatu jalan yang ditempuh oleh ulama sufi untuk mencapai tujuan dari tasawuf yaitu, mencapai ma’rifat pada Allah dan mengungkap rahasia-rahasia alam, karena menurut kaum sufi kehidupan di alam ini penuh dengan rahasia yang tertutup oleh dinding, diantara dinding ada hawa nafsu kita sendiri dan kehidupan duniawi yang mewah-mewah serta kenikmatannya, sedangkan kenikmatan yang tidak dapat disusupi dari segala kenikmatan adalah kesenangan dan kegembiraan hati dalam mendekatkan diri pada Allah, tidak diragukan lagi kesenangan ini membangkitkan jiwa untuk senantiasa melanggengkan perjalanan menuju kepada-Nya.
Barang siapa yang belum mendapatkan kenikmatan ini, maka ia mengarahkan tuduhannya pada qolbun dan amalnya sebagai penyebab, yang keduanya (qolbun dan amal) merupakan manifestasi dan nilai keimanan. Oleh karena itu hendaknya mengevaluasi kembali dan mengambil cahayanya untuk memperoleh rahasia-rahasia alam. Jika mendekatkan diri pada Sang Pemberi kenikmatan, yaitu Allah Robbul ‘Alamin, dan jika ia memulai jalan yang menuju ke arah itu maka akan selamatlah jiwanya, dan jalan itu tidak lain adalah Thariqah. Dengan peningkatan nilai dan kecerdasan spiritualitas religius umat islam dengan jalan pengamalan tarekat ini, maka kehidupan akan semakin tertata, bahagia, tenang dan sejahtera, walaupun mereka berada dalam lingkungan modernitas yang semakin rusak.
Melalui pengajaran tarekat maka kecerdasan spiritual mayarakat modern khususnya umat islam akan semakin meningkat, sehingga bisa melindungi mereka dari bahaya kemajuan zaman yang semakin membabi buta ini, serta mereka akan semakin menemukan hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
Beberapa faktor yang mendorong penulis skripsi ini, untuk mengkaji masalah Thariqah bagi masyarakat modern guna meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ), dan yang dijadikan basis-nya adalah Thariqah Qadiriyah dan Naqsyabandiyah yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda, di karenakan:
Pertama, judul skripsi tersebut terkait erat dengan tempat penulis. Dimana penulis sekarang masuk salah satu santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, dengan begitu penelitian mengenai objek skripsi ini dapat di lakukan secara cermat dan teliti serta datanya lebih valid sebab penulis telah lama bergelut dan hidup bersama obyek penelitian tersebut.
Kedua, nilai keilmuan secara ilmiah ataupun moral mendorong penulis untuk mendalami dengan mengangkat pendidikan Thariqah Qadiriyah dan Naqsyabandiyah dalam menigkatkan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) bagi masyarakat muslim di era modern, sehingga di harapkan nantinya tulisan dan penelitian ini akan bisa memberikan manfaat.
Ketiga, sesuai yang dikatakan Thobroni dan Syamsul Arifin (1985: 72).
Pendidikan hendaknya tidak dijadikan acuan untuk mendapatkan kenikmatan dunia semata untuk memperoleh peluang kerja, melainkan sistem pendidikan itu harus sesuai dan bernuansa pada peningkatan iman, sehingga proses pendidikan tidak sekedar mengembangkan kecerdasan dan ketrampilan melalui pengajaran ilmu pengetahuan dan tekhnologi melainkan juga membentuk pribadi melalui hati.
Keempat, pemahaman bahwa materialistik sebagai anak kandung modernisme ternyata telah menyeret manusia jatuh ke lubang nestapa yang amat kedalam. karena seluruh referensi kebenaran telah di sahkan dalam ukuran materialistik, seolah-olah manusia dianggap bahagia hanya dengan sepotong roti, padahal hidup manusia sesungguhnya kemulnyaan manusia di tentukan oleh iman dan bagus akhlaqnya, oleh karena itu kondisi inilah yang harus di rubah, yaitu dengan mengembalikan nilai spiritual religi masyarakat muslim sehingga mereka dapat kembali kepada jalan yang benar.
Kelima, turut serta berbagai peran dalam menyelamatkan manusia dari kondisi kerapuhan jati diri disebabkan hilangnya nilai-nilai keagamaan. Sebab menurut Harun Nasution sebagaimana pemikir kontemporer islam, dalam menghadapi materialisme yang melanda dunia sekarang perlu dihidupkan kembali spiritualisme (Thariqah).
Keenam, ajaran Tarekat merupakan dimensi kedalam dari kerohanian dalam islam, sebagai masyarakat yang berakal pada Al-qur’an dan sunnah. Ini menjadi risalah islam seperti hati dalam tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar. Beberapa ketetapan merupakan jalan kehidupan yang paling dalam yang mengatur organisasi keyakinan dalam islam.
Ketujuh, pondok pesantren merupakan pendidikan tertua di indonesia rupanya sangat tergerak dengan fenomena tersebut dengan tradisi kehidupan sufistik dalam aktifitas pendidikannya tetap di perhatikan.
Kesembilan, Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang adalah diantara Pondok Pesantren yang agresif terdapat pendidikan tasawuf lewat tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Upaya ini untuk membangun kembali nilai moral dan spiritual (SQ) masyarakat modern, namun selain itu juga tidak melupakan masalah kebutuha kehidupan manusia, sehingga dalam penerapan tarekat sebenarnya juga menumbuhkan adanya kecerdasan emosional (EQ).
Dari beberapa hal di atas yang menarik penulis untuk dijadikan pertimbangan, guna menyelesaikan skripsi ini. Penelitian ini diharapkan memberikan nilai tambah terhadap khasanah keilmuan islam khususnya yang menyangkut masalah pendidikan emosional dan spiritual bagi masyarakat modern yang telah kehilangan jati dirinya, mengingat masalah kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang sangat penting bagi umat manusia. Dengan demikian penulis sangat berkeinginan untuk mengangkat judul TAREKAT BAGI MASYARAKAT MUSLIM DI ERA MODERN ( Study Kasus Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang ).

B. Rumusan masalah
Walaupun nampaknya masalah sudah di tuangkan dalam bentuk judul, namun kadang pembaca dapat menafsirkan dengan arti yang berbeda dengan maksud peneliti (Suharsimi Arikunto, 1998:43). Oleh karena itu perlu di rumuskan lagi permasalahan yang akan di teliti dengan kalimat pertanyaan yaitu yang menyangkut tentang pengamalan Ttarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengamalan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang?
2. Bagaimanakah Keberadaan masyarakat yang mengamalkan Tarekat Qodoriyah Wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang?
3. Bagaimanakah upaya peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masyarakat muslim era modern melalui pengamalan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang?

C. Tujuan penelitian
Agar hasil penelitian tidak keluar dari peraturan yang telah ditentukan dan tidak keluar dari pembahasan maka, maka perlu adanya tujuan penelitian:
1. Untuk mendiskripsikan dan mengetahui secara lebih mendalam tentang pengamalan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang.
2. Untuk mengetahui keberadaan masyarakat yang mengamalkan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang.
3. Untuk mengetahui bagaimanakah pengamalan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masyarakat muslim di era modern, sehingga nantinya dapat di jadikan sebagai referensi bagi pesantren maupun lembaga pendidikan yang lainya, serta masyarakat muslim dalam menyikapi kemajuan zaman.

D. Manfaat Penelitian
1. Agar kita mengetahui hakekat dari pengamalan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah, dasar pengajaranya, tujuan yang ingin di capai dan amalan serta ajaran yang ada di dalamnya.
2. Untuk mengetahui secara dalam keberadaan masyarakat yang mengamalkan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, guna memberikan masukan apa yang sebaiknya di lakukan oleh masyarakat muslim di era modern ini, sehingga hal ini akan bisa memberikan manfaat kepada mereka.
3. Untuk menambah khasanah keilmuan kita khususnya menyangkut peningkatkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masyarakat muslim di era modern melalui pengamalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah khususnya yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang .
E. Batasan Masalah
Agar pembahasan dalam skripsi ini tidak terlalu meluas dan bisa menimbulkan kekeliruan, maka perlu adanya pembatasan masalah. Dalam hal ini penulis membatasi masalah yang akan dibahas, yaitu :
pengamalan Tarikat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah khususnya yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang .
1. Pengamalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah khususnya yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang .
2. Masyarakat yang mengamalkan Tarekat Qodoriyah Wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang.
3. Pendidikan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masyarakat muslim di era modern khususnya yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang.

F. Metodologi Penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kwalitatif naturalistic, yaitu menyajikan data secara alamiyah tanpa melakukan suatu manipulasi atau penipuan ( Bogdan dan Taylor, 1975: 13). Desain penelitian adalah study kasus yaitu peneliti akan berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subyek yang di teliti, sesuai dengan pengertian study kasusu itu sendiri, yaitu uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai macam aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi, suatu program atau situasi social (Deddy Mulyana, 2000: 201). Sifat study kasus penelitian ini bertujuan untuk memahami secara menyeluruh mengenai Pendidikan Tarikat Qodoriyah Wa Naqsabandiyah di Pon Pes Miftahul Huda Malang dalam dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern . Adapun rincian metodologi penelitian yang akan di gunakan peneliti akan di paparkan di bawah ini.

1. Kehadiran Peneliti
Peneliti bertindak sebagai intrumen. Dalam metode penelitian ini, peneliti merupakan alat pada waktu menggunakan suatu metode yang dibutuhkan untuk penelitian sehingga diperoleh suatu gambaran utuh tentang obyek penelitian. Oleh karena itu peneliti harus benar-benar meluangkan waktu yang banyak dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini yang menjadi sasaran obyek adalah Pendidikan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern.
2. Lokasi Penelitian
Sebagai lokasi penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang (PPMH Malang) yang tepatnya terletak di jalan Gading Pesantren no:38 Klojen Malang.
3. Tehnik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang telah ditentukan, maka data yang diambil adalah meliputi data primer dan data sekunder. Dalam pengumpulan data-data digunakan beberapa metode yang antara lain sebagai berikut :
3.1. Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan melalui pengamatan terhadap obyek penelitian, mencatat dengan sistematis hasil dari pengamatan tersebut dan sesuai dengan penelitian. Mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam skala bertingkat (Suharsimi Arikunto, 1998: 234). Dengan metode ini, peneliti akan terjun langsung ke wilayah penelitian. Sutrisno Hadi mengatakan ;“Sebagai metode ilmiyah, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti luas observasi sebenarnya tidak terbatas pada pengamatan yang dilakukan dan baik secara langsung maupun tidak langsung” (Sutrisno Hadi, tanpa tahun :136).
3.2. Metode Interview / Wawancara
Wawancara merupakan suatu tehnik pengumpulan data dengan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Metode interview adalah metode pengambilan data dengan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian (Sutrisno Hadi, 139).
3.3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh -data data yang bersumberkan pada dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang
Suharsini Arikunto (1989 :188). dalam buku “Prosedur penelitian suatu penelitian praktis” mengatakan : Mencari data-data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku-buku, majalah, prasasti, notulen rapat, order dan sebagainya” Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data tentang sejarah berdirinya PPMH, Pengamalan Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang
4. Tehnik Analis Data
Adapun tehnik analisa data dalam penelitian sekripsi ini, oleh penulis gunakan analisis deskriptif kualitatif tanpa prosentase, yaitu analisa data dengan cara memberikan predikat kepada variabel-variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Predikat yang diberikan tersebut dalam bentuk peringkat yang sebanding dengan atau atas dasar kondisi yang diingini oleh peneliti (Suharsini, 1989 :196).

G. Sistematika Pembahasan.
Dalam penulisan skripsi yang berjudul “TAREKAT BAGI MASYARAKAT MUSLIM DI ERA MODERN ( Study Kasus Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang ), penulis membagi skripsi ini dalam lima bab, dimana lima bab tersebut menjadi kerangka pembahasan dari keseluruhan skripsi ini berdasarkan sistematika sebagai berikut:
Bab pertama (I) PENDAHULUAN, merupakan pendahuluan skripsi yang mengemukakan: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Batasan Masalah, Manfaat Penelitian, dan dirangkai dengan Sistematika Pembahasan.
Bab kedua (II) KAJIAN TEORITIS, pada bab dua ini berisikan tentang kajian teoritis yang mengkaji empat hal yang sangat penting sebagai acuan pada bab berikutnya, yaitu:
2. Kajian Teoritis Tentang Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, yang terdiri dari sub pokok bahasan: Pengertian Tarekat, Dasar dan Tujuan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, Sejarah Berdirinya Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, Sejarah berkembangnya Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Indonesia, Amalan dan Ajaran dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah.
3. Kajian Teoritis tentang ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang meliputi sub bab antara lain: Pengertian ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dan Unsur-Unsur ESQ (Emotional-Spiritual Quotient).
3. Pembahasan tentang Pengamalan Terekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah dalam Meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern yang meliputi sub bab: ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat, dan Pengamalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern.
Bab ketiga (III) METODE PENELITIAN, yang mencakup: Pendekatannya dan Jenis Penelitian, Kehadiran Peneliti, Lokasi Penelitian, Sumber Data, Metode Pengumpulan Data, Analisis Data, dan Pengecekan Validitas Data.
Bab kempat (IV) HASIL PENELITIAN, merupakan hasil penelitian yang meliputi: Sejarah Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, Masyarakat yang mengamalkan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, Metode Pengajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, dan Upaya Meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern melalui mengamalkan Tarekat Qodoriyah wa Naqsabandiyah yang ada di Pon-Pes Miftahul Huda Malang.
Bab kelima (V) PENUTUP yang berisikan Kesimpulan dan Saran .(bersambung)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment