Peningkatan Kualitas Keimanan melalui Thoriqot(2)

B. KAJIAN TEORITIS TENTANG ESQ (EMOTIONAL-SPIRITUAL QUOTIENT)

1. Pengertian ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)
Meminjam istilah Dr. Ali Syariati, yang di kutip oleh Ary Ginanjar Agustian (2001: XX), mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk dua-dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kebutuhan dunia dan akherat. Oleh karena itu manusia haruslah mempunyai konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelejensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ), sehingga melalui istilah dua-dimensial tersebut sebuah upaya penggabungan ketiga unsur tersebut haruslah di lakukan.
Dalam kajian kebangkitan postmodernpun di sebutkan bahwa ternyata manusia tidak hanya menginginkan terpenuhinya kebutuhan materiil sebagaimana yang ingin di capai oleh modernisasi, karena ketika manusia hanya oriented-materialistik maka hanya akan mengalami krisis dalam segala bidang, tercapainya kebahagiaan yang semu, dan tujuan yang hakiki manusia tidak akan pernah tercapai. Untuk keluar dari lingkungan krisis dan permasalahan tersebut, maka manusia harus kembali kepada hikmah Spiritual Ilahiyah yang terdapat dalam semua agama yang otentik (Syamsul Arifin, 1996: 34). Dalam hal ini berarti perlu adanya penyesuaian antara pencapaian kebutuhan materiil melalui pengembangan emosional seseorang (EQ), dan pencapaian kebutuhan Spiritual Ilahiyah, melalui pengembangan SQ (Spiritual Quotient). Dengan kesesuaian antara EQ dan SQ tersebut seseorang akan mampu bahagia di dunia dan akhirat.
Untuk itu perlulah kiranya di kaji secara lebih mendalam mengenai kecerdasan emotional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ) serta bagaimana langkah-langkah dalam mengembangkan potensi ESQ guna mencapai tujuan manusia yang sesungguhnya, yaitu insan kamil yang mampu melakukan hubungan vertikal-horizontal sehingga hidup bahagia di dunia dan akherat.

1.1. Pengertian EQ (Emotional Quotient)
Istilah kecerdasan emosional atau yang di kenal dengan EQ (Emotional Quotient) pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh Psikolog Peter Solovey dari Harvard University dan John Mayor dari University of New Hampshire, untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya sangatlah penting bagi keberhasilan (Laurence E. Shapiro, 1999: 5).
Para ahli telah banyak yang mengungkapkan pengertian EQ (Emotional Quotient) antara lain, menurut Salovey dan Mayer yang di kutip oleh Lawrence (1999: 8), mengatakan bahwa EQ (Emotional Quotient) merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Sedangkan menurut Daniel Goleman (2002: 512), EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut ia akan dapat memperoleh keberhasilan.
Setelah di ketahui beberapa pendapat dari para ahli dalam mendefinisikan pengertian EQ (Emotional Quotient), maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional melingkupi dua kategori kecakapan yang harus di miliki yaitu: pertama, kecakapan pribadi, yang melingkupi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi. Yang kedua, kecakapan sosial yang melingkupi empati dan ketrampilan sosial (bermasyarakat).

1.2. Pengertian SQ (Spiritual Quotient)
Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan temuan terkini yang secara ilmiyah pertama kali di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiyah tentang SQ (Spiritual Quotient) ini, pertama, riset ahli Psikologi atau syaraf, Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V. S. Ramachan dan timnya dari California University, yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia, ini sudah built-in sebagai pusat spiritual (Spiritual Center) yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Sedangkan bukti kedua, adalah riset ahli syaraf Austria Wolf Singer, pada era 1990-an atas the binding problem yang menunjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dan pengalaman hidup kita, suatu jaringan syaraf yang secara literal mengikat pengalaman kita bersama untuk hidup yang lebih bermakna. Pada God-Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yag terdalam (Ary Ginanjar, 2001: XXXiX).
Danah Zohar dan Ian Marshall sebagaimanaa yang di kutip Ary Ginanjar (2001: 57), mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, atau bisa juga di sebut sebagai kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna di bandingkan dengan orang lain.
Akan tetapi teori SQ dari barat ini belum atau bahkan tidak menjangkau masalah Ketuhanan. Pembahasanya baru sebatas Biologi dan Psikologi semata, tidak bersifat transendental. Akibatnya masih banyak di temukan kebuntuan. Kebenaran yang sejati sebenarnya teletak kepada suara hati yang bersumber pada God Spot yang merupakan fitrah manusia untuk mencari eksistensi dirinya sebagai mahluk Tuhan.
Berbeda dengan pengertian SQ (Spiritual Quotient) yang telah di berikan oleh para ilmuan barat, para ahli agama yang menganggap bahwa kecerdasan spiritual merupakan suatu potensi yang ada pada setiap diri manusia yang bersumber kepada fitrah Ketuhanan, tidaklah hanya sebatas kepada tataran Biologi dan Psikologi sebagaimana yang di katakan oleh para ilmuan barat.
Menurut Dr. H. M. Idris Abdul Shomad (2005: 22) mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu sifat, sikap, dan perilaku takwa kepada Allah SWT yang di buktikan dengan amal sholeh (kebaikan-kebaikan) yang di landaskan pada keimanan kepada Allah SWT.
Sedangkan menurut Ary Ginanjar Agustian (2001: 5), menjelaskan bahwa SQ (Spiritual Quotient) adalah kemampuan untuk memberikan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yag sesungguhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.
Dari beberapa definisi SQ (Spiritual Quotient) yang telah di kemukakan oleh beberapa ahli tersebut, penulis dapat menyimpuklkan bahwa pada intinya SQ (Spiritual Quotient) merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan makna kehidupan yang berlandaskan iman dan takwa kepada Allah SWT, dengan menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya baik dhohir maupun batin untuk selalu melakukan hubungan, baik secara vertikal (manusia dengan Tuhanya) maupun horizontal (manusia dengan sesama mahluk Tuhan), sehingga tujuan manusia yang hakiki untuk bahagia di dunia dan akherat dapat tercapai.

2. Unsur-Unsur ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)
Kecerdasan Emosional maupun Spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangun yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, unsur-unsur pembangun dari ESQ inilah yang harus di miliki oleh setiap orang sehingga ia akan menjadi orang yang sukses di dunia maupun di akherat.

2.1. Unsur-Unsur EQ (Emotional Quotient)
Sebelumnya perlu di ketahui bahwa, kemutlakan peran IQ (Intelegency Quotient) yang dulu begitu di agung-agungkan kini sedikit tergeser posisinya dengan keberadaan EQ yang begitu menghebohkan (Ary Ginanjar, 2001: XII). Senada dengan itu, Laurence E Shapiro (1999: 4) mengatakan bahwa penelitian-penelitian sekarang menemukan bahwa ketrampilan sosial dan emosional mungkin lebih penting bagi keberhasilan hidup katimbang kemampuan intelektual. Dengan kata lain memiliki EQ tinggi mungkin lebih penting dalam mencapai keberhasilan dari pada IQ tinggi yang hanya di di ukur berdasarkan uji standar tehadap kecerdasan kognitif verbal dan non verbal.
Sebenarnya ketrampilan EQ bukanlah lawan dari ketrampilan IQ. Namun keduanya bersinergi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Idealnya seseorang dapat menguasai ketrampilan kognitif sekaligus ketrampilan sosial dan emosional, sebagaimana di tunjukkan oleh negarawan-negarawan besar dunia (laurence, 1999: 9).
Alfred Binet bersama Theodore Simon, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensia mendefinisikan bahwa IQ terdiri atas tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah di laksanakan, dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticism (Saifuddin Azwar, 1996: 5).
Dari komponen yang di miliki IQ tesebut ternyata telah masuk dalam cakupan kajian EQ (Emotional Quotient). Sebagaimana Daniel Goleman (2003: 513-514) menyebutkan bahwa dasar kecakapan emosi dan sosial mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
a. Kesadaran diri, berarti mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakanya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
b. Pengaturan diri, berarti menangani emosi kita sedemikian sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi.
c. Motivasi, berarti menggunakan hasrat pada diri kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan serta flustrasi.
d. Empati, berarti merasakan sebagaimana yang di rasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
e. Ketrampilan sosial, berarti menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan-ketrampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, dan untuk bekerja sama dan bekerja dalam suatu tim.

2.2. Unsur-Unsur SQ (Spiritual Quotient)
Mimi Doe (2002: 19) menyebutkan bahwa cara untuk membangun SQ dengan menciptakan hubungan yang tepat dengan seluruh aspek dalam diri kita dan dunia kita, hal in berarti SQ mencakup seluruh aspek kajian yang di miliki oleh manusia. Lebih lanjut, Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagaimana yang ada dalam buku ESQ karangan Ary Ginanjar (2001: 57), juga menyebutkan bahwa SQ adalah landasan yang di perlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. Oleh karena itu dapatlah di katakana bahwa apabila seseorang lebih dahulu mengfungsikan dan mengembangkan potensi kecerdasan spiritualnya, maka kecerdasan yang lainya akan mengikuti sendiri.
Kecerdasan spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangunnya yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, seperti kejujuran, amanah, cerdas (berakal dan cerdas emosi) dan komunikatif.
a. Kejujuran merupakan sifat paling mendasar bagi SQ, karena kejujuran sangatlah erat hubunganya dengan niat dan motivasi seseorang dalam bertindak dan bertingkah laku. Sementara itu, niat dalam pandangan Islam memiliki posisi urgen dan signifikan bahkan penentu dan standard dari sebuah perbuatan.
b. Amanah adalah refleksi dari kejujuran. Seseorang akan memiliki amanah, menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggung jawab, jika amal perbuatannya itu di dasarkan pada prinsip kejujuran.
c. Cerdas atau fatonah merupakan bekal sekaligus faktor kesuksesan seseorang dalam mencerdaskan spiritual. Dengan kecerdasan yang di milikinya tersebut ia akan mampu menyesuaikan hubungan yang baik dengan siapapun. Ia akan selalu melakukan hubungan vertikal secara baik, sekaligus tidak akan melupakan kewajibanya untuk mampu bermasyarakat dan bersosial secara baik pula.
d. Komunikatif adalah karakteristik lain dari SQ, artinya seseorang yang memiliki SQ ia tidak cenderung menyendiri dan menjauh dari masyarakat, tetapi ia membaur dan berinteraksi. Bukan untuk mengikuti arus yang tidak baik, melainkan untuk memperbaiki sesuatu yang tidak baik dan mengikuti sesuatu yang baik. Sejalan dengan ajakan dan seruan kebaikan, serta menentang segala bentuk kemungkaran di masyarakat (M. Idris Abdul Shomad, 2005: 19-21).
Sedangkan menurut Jalaluddin Rahmat, sebagaimana yang di sebutkan oleh Sudirman Tebba (2003: 20-23), menyebutkan ciri-ciri atau karakteristik kecerdasan spiritual adalah:
a. Mengenal motif kita yang paling dalam, berarti pengenalan terhadap fitrah ketuhanan yang ada pada diri manusia itu sendiri.
b. Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi atau self awareness, berarti mengenal diri dengan baik dan selalu berusaha untuk mengenal dirinya lebih dalam.
c. Bersifat responsif pada diri yang paling dalam, berarti ia sering melakukan refleksi dan mau mendengarkan hati nuraninya.
d. Dapat memanfaatkan dan mentransendenkan kesulitan atau penderitaan. Orang yang cerdas secara spiritual sewaktu mengalami penderitaan tidak pernah mencari kambing hitam, tetapi mengambil hikmah dari penderitaan.
e. Sanggup berdiri dan menentang serta berbeda dengan orang banyak terhadap sesuatu yang di anggap tidak benar.
f. Enggan mengganggu atau menyakiti. Mampu merasa bahwa alam semesta ini adalah suatu kesatuan, sehingga apabila mengganggu alam atau manusia, maka gangguan itu akan menimpa dirinya sebagai ganjaran dari perbuatanya tersebut.
g. Memperlakukan Agama secara cerdas. Maksudnya, dia beragama, menganut suatu agama tetapi tidak mengganggu, menyerang orang yang beragama lain.
h. Memperlakukan kematian secara cerdas. Maksudnya, memandang kematian sebagai suatu peristiwa yang harus di alami oleh setiap orang, sehingga dirinya harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.

E. KAJIAN TEORITIS TENTANG PERAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DALAM PENINGKATAN ESQ (EMOTIONAL-SPIRITUAL QUOTIENT) MASYARAKAT MUSLIM DI ERA MODERN.
Sebagaimana telah di jelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa amalan maupun ajaran yang terdapat dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah sebenarnya tidak hanya terfokus pada pengamalan dzikir atau wirid tertentu saja, namun lebih dari itu sebenarnya mempunyai peran yang sangat besar dalam memberikan pengajaran para penganutnya untuk mampu melakukan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, melakukan hubungan antara dirinya dengan lingkungan sosial, dan lebih-lebih dalam melakukan hubungan antara dirinya dengan Tuhanya.
Hal ini berarti bahwa untuk mencapai tujuan, seorang sufi atau salik (penempuh jalan tarekat) selain memiliki akhlak individual juga harus memiliki akhlak sosial. Di samping mereka harus mengamalkan dzikir sebagaimana yang telah di ajarkan oleh mursyid mereka, selain itu mereka juga harus melalui maqomat tertentu. Maqomat-maqomat atau jalan pendakian para salik haruslah melalui pengalaman ajaran islam yang sebenarnya, yaitu melalui taubat, mujahadah, khalwah dan uzlah, taqwa, wara’, zuhud, diam, takut, raja’, itsar, qona’ah, syukur, tawakal, yakin, sabar, ridho, muroqobah, istiqomah, sidiq, dzikir, mahabah, dan lain-lain.
Ajaran yang ada dalam tarekat, sebagaimana yang telah di sebutkan mempunyai kesamaan dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ESQ (Emotional-Spiritual Quotient). Hal ini berarti pengamalan tarekat juga berperan sebagai sarana dalam menumbuhkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan inilah yang akan menyeimbangkan antara pencapaian kebutuhan di dunia dan kebutuhan akherat.
1. ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Pada intinya yang di bahas dalam kajian ESQ adalah bagaimana seseorang memanfaatkan potensi diri dan suara hati terdalam yang terdapat di dalam God Spot, sehingga dirinya akan bisa melakukan keseimbangan antara hubungan dirinya dengan lingkungan sosialnya, kesesuaian antara kebutuhan dunia dan akhheratnya. Dalam pengamalan tarekat tenyata juga juga di ajarkan hal-hal tersebut. Dalam hal ini ternyata antara pengamalan ajaran tarekat dan penumbuhan potensi ESQ mempunyai perspektif yang sama.

1.1. EQ (Emotional Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Telah di di jelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa menurut Daniel Goleman (2002: 512), EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Di lihat dari perspektif sufistik ataupun ajaran tarekat unsur-unsur kecerdasan emosional itu juga ada dalam ajaran tarekat. Antara lain kesadaran diri dalam ajaran tarekat atau tasawuf di sebut muhasabah. Muhasabah berarti melakukan perhitungan, yaitu perhitungan terhadap diri sendiri mengenai perbuatan baik dan buruk yang pernah di lakukan. Tujuanya adalah mengurangi atau kalau bisa menghilangkan perbuatan buruk dan meningkatkan perbuatan yang baik. Dengan muhasabah berarti dirinya akan mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana dia harus melakukan manajemen diri dengan baik, dan mengetahui konsep kesadaran diri yang lainya.
Konsep muhasabah sering di kaitkan dengan ucapan Ali bin Abi Tholib yang mengatakan bahwa orang harus menghitung dirinya sendiri sebelum di hitung amalnya oleh Allah SWT.
Selain itu sebagian pakar ajaran tarekat ada yang mengaitkan antara konsep muhasabah dengan Abu Abdullah Al Harits bin Asad Muhasibi (W. 243 H/ 857 M), seorang sufi dari Bagdad, yang sering menggunakan konsep muhasabah dalam ajaran tasawufnya. Menurut dia, motivasi manusia untuk melakukan perhitungan diri sendiri mengandung harapan dan kecemasan dan perhitungan itu merupakan landasan perilaku yang baik dan takwa (Sudirman Tebba, 2003: 13).
Kemudian pengaturan diri dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat banyak kesamaanya dengan sabar. Sabar menurut Dzun Nun Al Mishri, berarti menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersifat tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan penghidupan. Sedangkan menurut Ibnu Atha’, yang di maksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku baik (Abul Qosim,2002: 259).
Banyak Ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk selalu bersabar, antara lain, Ayat 200 Surat Ali ‘Imran: “ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”.
Kesabaran ada beberapa macam. Pertama adalah bersabar untuk menjauhi larangan Allah, seperti berzina, mabuk, berjudi, mencuri, dan korupsi. Kedua adalah sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, memeliharanya terus-menerus, menjaganya dengan ikhlas dan memperbaikinya dengan pengetahuan. Dalam Islam ada perintah menjalankan ibadah, seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Kemudiaan ada perintah berlaku jujur, membantu sesama yang lemah dan sebagainya. Ketiga adalah sabar ketika menghadapi musibah, seperti kematian kecelakaan, usaha bangkrut, di pecat dari pekerjaan, di fitnah, dan sebagainya. Orang harus bersabar dalam menghadapi musibah, karena musibah merupakaan cobaan dari Allah, apakah ia dapat menjalaninya dengan sabar atau berberkeluh kesah. Kemudian harus ingat bahwa nikmat yang telah di terima dari Allah selama ini masih lebih besar dari pada musibah yang menimpanya (Sudirman Tebba, 2003: 14 - 15).
Lalu motivasi dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat banyak kesamaanya dengan raja’ (optimisme). Sebab pengertian raja’ (harapan atau berharap), menurut Syaikh Abdul Qosim (2002: 178) adalah ketergantungan hati kepada sesuatu yang di cintainya yang akan terjadi di masa yang akan datang, sehingga raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang di cita-citakan di masa yang akan datang. Dengan raja’ maka hati akan bisa menjadi hidup dan merdeka.
Raja’ juga berarti sifat optimistis serta berharap untuk mendapatkan rahmat Allah SWT atau berharap mendapatkan kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akherat. Sikap raja’ atau optimisme dalam kehidupan dunia berarti berharap untuk mendapatkan kesejahteraan yang baik, seperti rizki yang banyak, kedudukan yang tinggi, menjadi orang yang berkuasa. Untuk mencapai hal ini orang harus bekerja keras dengan cara yang halal. Sedangkan sikap raja’ terhadap kehidupan akherat adalah dengan berharap mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, oleh karena itu ia harus selalu bertaubat dan selalu melakukan perbuatan yang baik ketika masih di dunia. Orang yang tidak mau berikhtiyar, tetapi mengharapkan taraf kehidupan yang baik, tidaklah di sebut raja’ tetapi tamanni (berangan-angan). Orang harus memiliki raja’ dan tidak boleh tamanni (Sudirman Tebba, 2003: 15-16).
Kemudian mengenai empati dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat bararti mempunyai sikap Itsar. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Juz Tiga, karangan Imam Al Ghozali (tanpa tahun: 251) di sebutkan bahwa itsar berarti sikap dermawan terhadap harta benda walaupun dia sendiri membutuhkan. Sikap dermawan merupakan sikap yang mau menyerahkan barang kepada orang yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan. Memberikan barang ketika dirinya sendiri lebih membutuhkan ini lebih berat dari pada ketika dirinya tidak sedang membutuhkanya. Dan inilah yang di sebut dengan itsar.
Itsar juga berarti lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Karena itu itsar sebenarnya lebih sekedar empati, yaitu lebih dari sekedar merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain (Sudirman Tebba, 2003: 16). Dengan sifat itsar maka kecerdasan sosial juga akan tumbuh, sehingga jika hal ini di miliki oleh setiap manusia maka kehidupan dalam masyarakat akan semakin membaik.
Lalu tentang ketrampilan sosial dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat ada kesamaan dengan konsep syaja’ah. Secara harfiyah syaja’ah berarti berani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar. Tetapi sikap berani haruslah di sertai pertimbangan yang matang dan pikiran yang tenang. Hal ini sesuai dengan ucapan Nabi Muhammad SAW: “ Bukanlah pemberani orang yang kuat berkelahi, sesungguhnya pemberani itu adalah orang yang sanggup menguasai hawa nafsunya di kala marah”(HR. Bukhori Muslim).
Sikap berani dapat di lihat pada stabilnya pikiran seseorang ketika menghadapi bahaya. Ia tetap melakukan pekerjaan dengan hati yang teguh dan akal yang sehat serta tidak gentar menghadapi ancaman dan celaan dari orang lain sebagai konsekwensi tindakanya. Hal ini sudah di praktekkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat beliau ketika menyebarkan Islam (Sudirman Tebba, 2003: 16).(bersambung)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment