Peningkatan Kualitas Keimanan melalui Thoriqot (1)

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. KAJIAN TEORITIS TENTANG TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYAH

1. Pengertian Tarekat
Istilah Tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu kalimat Thariq atau Thariqah (الطريقة ) atau (الطريق) dan jamaknya Thara’iq ( طرائق) yang berarti jalan, tempat lalu lintas, aliran mazhab, metode atau sistem. Dalam terminologi, tarekat adalah jalan atau metode khusus untuk mencapi tujuan spiritual. Hal tersebut sebagaimana di katakan oleh J.S Trimingham, bahwa tarekat adalah suatu metode praktis (bentuk-bentuk lainya mazhab dan suluk) untuk membimbing murid dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan tindakan melalui tingkatan-tingkatan (maqomat-maqomat, kesatuan yang utuh dari pengalaman jiwa yang di sebut states, ahwal) secara beruntun untuk merasakan dan mencapai hakikat (Ajid Thohir, 2002: 48).
Lebih lanjut Martin Van Bruinessen (1992: 15) mengatakan bahwa kata tarekat (secara harfiyah berarti "jalan") mengacu baik kepada sistem latihan meditasi maupun amalan (muroqobah, dzikir dan sebagainya) yang di hubungkan dengan sederet guru sufi dan organisasi yang tumbuh dalam metode tasawuf yang khas itu.


Boleh juga di katakan bahwa tarekat itu sebenarnya mensistematiskan ajaran metode-metode tasawuf.
Sedangkan ahli tasawuf, yang memberikan pengertian tarekat adalah Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Mustofa al Fathoni (1990:13) dalam bukunya sufi dan wali Allah mengatakan bahwa :
“Thariqah adalah mengarahkan maksud (tujuan) kepada Allah SWT dengan ilmu dan amal dan Thariqah merupakan perbuatan nafsiyah yang tergantung pada sir (rahasia) dan ruh dengan melakukan taubat, wara’, muhasabah, muroqobah, tawakal, ridlo, tahsin, serta memperbaiki akhlaq , menyadari akan kekurangan dan celah yang ada pada dirinya dan sebagainya.

Dari beberapa pengertian yang penulis sebutkan diatas pada prinsipnya mempunyai pengertian yang sama. Oleh karena itu penulis akan menyimpulkan definisi-definisi tersebut secara keseluruhan. Menurut pendapat penulis, Tarekat merupakan suatu jalan atau cara yang dilakukan oleh orang-orang Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi melalui sederetan amalan-amalan tertentu yang di bimbing oleh seorang guru atau mursyid sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT agar tercapai Ma’rifat billah.

2. Dasar dan Tujuan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
2.1. Dasar Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Islam merupakan agama yang membimbing dan mengajarkan berbagai prinsip kehidupan agar manusia bahagia secara jiwa dan raga, selamat di dunia dan akherat. Oleh karena itu ajaranya bersifat menyeluruh, baik yang bersifat ruhaniyah seperti yang di kaji oleh tasawuf maupun yang bersifat dhohiriyah sebagaimana yang di kaji oleh ilmu fiqih (syari’ah).
Mustofa Zahri (1996:29) mengatakan hidup kerohanian dalam Islam adalah dimulai dari kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang utama serta hal ini telah di lakukan dan terdapat pula dalam kehidupan Nabi yang terdahulu. Sebelum Nabi menyatakan dirinya sebagai Rosul Allah beliau bertahun-tahun pergi memisahkan diri, semedi atau berkhalwat, beliau duduk bertafakkur, berdzikir terus menerus mengingat kepada Allah, dengan ikhlas dan sempurna sehingga menjadikan Alloh sebagai satu tujuan, tidak ada yang lain selain Dia.
Kitapun tahu bagaimana cara beliau hidup dengan sederhananya, pakaiannya, makanannya, dengan sepotong roti, sebiji tamar, seteguk air, sebaliknya lidahnya banyak melantunkan kalimat Allah di malam hari, dan kadang-kadang menangis dalam melakukan sholat. Semua itu adalah kehidupan yang digambarkan oleh para ahli tasawuf yang meniru perbuatan Rasulullah SAW.
Setelah Nabi Muhammad SAW menjadi Rosul beliau sering mengasingkan diri di gua Hiro’. Ia sering melakukan latihan (riyadoh) dan berjuang (mujahaddah). Kemudian dengan usaha yang sungguh-sungguh beliau berlatih dzikir, syukur, riyadoh, ridhlo, qona’ah, dan zuhud, berlapang dada dalam menghadapi segala percobaan dan rintangan sewaktu menjalankan da’wah ke jalan Allah.
Perbuatan Rosullullah yang yang telah beliau contohkan tersebut pada hakekatnya adalah gambaran dari Al Qur’an itu yang membuat para ahli sufi dan ahli tarekat menggali rahasia dalamnya dan akhirnya menjadi sebuah tindakan dalam berkehidupan Tasawuf. Hal seperti itu tidaklah bertentangan dengan ajaran Agama Islam, karena telah terlihat jelas dalam Al Qur’an dan Sunah Nabi. sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat As Syura’ ayat 52:
وَكًٌَََََُدلِكَ اَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ اَمْرِناَ مَا كُنْتَ تَدْرِى مَاالْكِتَبَ وَلاَ اْلاِئيْمَانَ وَلَكِنْ جَعَلْنَهُ نُوْرًا نَهْدِى بِهِ َمنْ َنشَاءِ مِنْ عِباَدِناَ وَإِنَّكَ لَتَهْدِى إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم )سورة السورة)
Artinya : Dan demikian kami lakukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kami tidak mengetahui apakah itu al kitab dan tidak pula kamu mengetahui apakah iman itu tetapi kami menjadikan al Qur’an itu sebagai cahaya, yang kami tunjuki dengan siapa yang kami kehendaki diantara hamba hamba kami. Dan sesungguhnya kami sangat benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Surat Asyura: 52) ( Depag RI 78: 191).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hidup kerohanian Nabi Muhammad SAW, baik sebelum maupun sesudah beliau menjadi rasul adalah sumber utama kerohanian Islam, selain sumber utama yang dijelaskan dalam Al Qur’an diatas juga ada dasar -dasar pijakan yang utama baik dari firman Allah maupun hadits nabi, mengenai tarekat.
1. Sebuah Hadist Qudsi yang berbunyi:
كُنْتُ خَزِيْنَةًُ خَاَفِيَةًٌٌ أَحْبَبْتُ اَنْ أَعْرِفَ وَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فََََتعََرِفُتِ إِلَيْهِمْ فَعَرِفُوْنِى (حديث قد س(
Artinya: Adalah aku satu perbendaharaan yang tersembunyi, maka inginlah aku supaya diketahui siapa aku jadikan makhlukku maka dengan Allah mereka mengenal aku (Ajid Thohir, 2002: 11).
Menurut aliran tarekat ini, bahwa Allah itu adalah permulaan kejadian awalnya tidak ada permulaan. Allah saja telah ada dan tidak ada yang lain sertanya. Dan ingin supaya dzatnya dilihat pada sesuatu yang bukan dzatnya. Sebab itulah dijadikan segenap kejadian (alkhaliq). Maka adanya alam ini laksana kaca, yang terang benderang yang disana dapat dilihat zat Allah.
Inilah Dasar Wahdatul Wujud yang menjadi paham ahli-ahli tarekat. Selanjutnya mereka berpendapat; bahwa kehidupan dan alam penuh dengan rahasia-rahasia tersembunyi dan rahasia-rahasia itu tertutup oleh dinding. Diantara dinding-dinding itu adalah hawa nafsu sendiri. Tetapi rahasia itu akan terbuka dan dinding (hijab) akan tersimbah dan kita dapat melihat atau merasakan atau berhubungan langsung dengan rahasia itu, asal kuat dan sudi menempuh jalannya. Jalan itulah yang disebut tarekat.

2. Firman Allah dalam Alquran:
وَأَلَّوِسْتَقَمُوْاعَلىَ الطُّرِيْقَةِ ِلأَسْقَيْنَهُمْ مَاءً غَذَقَا )سورة الجن)
Artinya: Dan bahwasanya, jikalau mereka jalan lurus di atas jalan itu (agama islam) benar-benar kami akan memberi minuman kepada mereka air yang segar ( rizki yang banyak). (Qs.Jin: 85). (Depag RI.1978:329)
Jelaslah sudah tidak ada keraguan bahwa tasawuf atau tarekat itu bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Al-Qur'an menjadi sumber pokok dan sunnah atau hadist merupakan penjelasan yang penting, kemudian dari sana di galilah ajaran yang sebenarnya sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dan pelaksanaan ajaran-ajaran itu ialah tasawuf atau tarekat.
Ajid Thohir (2002: 68) mengatakan bahwa Al Qur'an dan As Sunah seperti yang telah di jelaskan sebelumnya merupakan sumber dalam tradisi keagamaan di lingkungan tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah. Keduanya di olah untuk di jadikan nilai syariat dan tarekat ini berjalan di atas nilai-nilai tadi, keduanya saling menguatkan. Sebagaimana Syaikh Al Jailani selalu berpesan kepada murid-muridnya untuk selalu mentaati Allah dan berpegang teguh kepada syariat serta aturan-aturanya.
As Sya'roni, sebagaimana yang juga di kutip oleh Ajid Thohir (2002: 69) juga mengatakan bahwa hanya atas dasar Al Qur'an dan As Sunah perjalanan seorang salik bisa mencapai hakikat Ketuhanan, karena keduanya merupakan petunjuk jalan yang paling tepat dalam menuju Allah SWT.

2.2. Tujuan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Setiap Tarekat memiliki perbedaan dalam menentukan metode dan prinsip-prisip pembinaanya, meskipun demikian tujuan utama setiap tarekat akan tetap sama, yakni mengharapkan Hakikat yang mutlak yaitu Allah SWT (Ajid Thohir, 2002: 55).
Adapun tujuan tarekat sebagaimana dirumuskan para ahli tasawuf adalah:
1. Menurut Amin Kurdi, sebagaimana yang di kutip oleh Ajid Thohir (2002: 55), mengatakan bahwa minimal ada tiga tujuan bagi seseorang yang memasuki dunia tarekat untuk menyempurnakan ibadahnya. Pertama, supaya terbuka terhadap sesuatu yang di imaninya yakni Allah. Kedua, untuk membersihkan jiwa dari sifat dan ahlak yang tercela, kemuadian menghiasinya dengan ahlak yang terpuji. Ketiga, untuk menyempurnakan amal-amal syariat, yaitu memudahkan beramal sholeh dan berbuat kebajikan tanpa menentukan kesulitan dan kesusahan dalam melaksanakanya.
2. KH Muhammad Yahya (1970:12), dalam sebuah risalahnya kitab Miftahul Jannah mengatakan bahwa tujuan menjalani tarekat adalah untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencari Ridho Allah.
Sebenarnya tujuan yang telah digariskan tadi sesuai dengan doa yang selalu di baca sesudah melakukan dzikir. Artinya “ Ya Allah! Engkau yang aku tuju dan ridhomu, Ya Allah yang aku cari, semoga engkau beri kepadaku kecintaan dan kema’rifatan kepadamu ya Allah".
Perlu ditambahkan disini bahwa pelaksanaan agama Islam tidak sempurna jika tidak mengerjakan syariat, tarekat, hakikat, ma’rifat. Karena keempat-empatnya merupakan sesuatu yang tunggal bagi Islam. Makna kebersatuan dari keempat hal tersebut diterangkan oleh Imam Malik, yang mengatakan bahwa orang yang mempelajari syariat tetapi menolak hakikat, maka ia termasuk orang yang fasik. Begitupula bila seseorang mempelajari hakikat tetapi menolak syariat maka ia termasuk orang yang mungkar (zindiq) dan orang yang mempelajari kedua-duanya maka pasti akan mendaptkan kebenaran (Moh. Shohibul Kahfi, 2003: 82).

3. Sejarah Berdirinya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

3.1. Sejarah Berdirinya Tarekat Qadiriyah
Istilah Qadiriyah diambil dari nama orang yang mengajarkan amalan yang ada pada tarekat itu sendiri, yaitu Syaikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Sholeh Zangi Dost Al Jilani (wafat 1166 M) yang mengacu kepada tradisi mazhab Iraqi yang di kembangkan oleh Al Junaid serta lebih mengutamakan penggunaan cara-cara dzikir keras dan jelas (dzikir jahr) dalam menyebutkan kalimat nafyi wa al itsbat, yakni kalimat laa ilaaha illallah (Ajid Thohir, 2002: 50).
Pada ajaran tarekat Qodiriyah bacaanya di suarakan keras. Hal ini sebenarnya adalah karena amalan tarekat Qodiriyah ini nasab atau silsilahnya dari sahabat Ali bin Abi Tholib, Di lihat dari psikologinya beliau adalah seorang yang periang, terbuka, serta suka menantang orang-orang kafir dengan mengucapkan syahadat dengan ucapan keras, sehingga Rasulullah SAW mengijazahkan amalan dengan suara yang keras kepada beliau (Martin Van Bruinessen, 1996:48).
Amalan dzikir yang berasal dari sahabat Ali r.a tersebut di turunkan kepada generasi setelah beliau, dan akhirnya sampailah ajaran itu kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani. Kemudian ajaran ini oleh beliau semakin di sistematiskan dan di organisasikan, sehingga ajaran ini selanjutnya lebih popular di sebut sebagai ajaran tarekat Qodiriyah.
Sebagai Mujahid pemeliharaan ruh Islam yang bertanggung jawab. Beliau merasa berkewajiban dan terpanggil untuk merombak kebiasaan masyarakat Islam yang kian merosot dari nilai-nilai keimanannya. Beliau merayu umatnya agar tidak ceroboh dalam menghadapi setiap tantangan perjalanan hidup. Beliau bangkitkan orang yang berjiwa kerdil, beliau menganjurkan agar mereka kembali kejalan Allah dengan ikhlas, tanpa dikendalikan oleh hawa nafsunya, dan sombong atau ujub. Syaikh Abdul Qadir Jaelani dikenal sebagai seorang sufi yang telah mencapai derajat waliyullah di samping beliau juga seorang fuqaha’.
Ajaran tarekat yang di sebarkan Syaikh Abdul Qadir Jaelani berkembang pesat. Hal tersebut karena selain beliau sendiri sangat kuat dalam melakukan da’wahnya, sejak semasa hidupnya juga sudah ada orang membantu dalam menyiarkan ajarannya itu kepada orang lain. Orang tersebut adalah Ali bin Al-Hadah yang kemudian dikenal di Yaman dengan gerakan tarekatnya. Seorang lagi yang bernama Muhammad Bitha’ yang bertempat tinggal di Balbek, kemudian beliau mengembangkan tarekat di Syiria. Dari murid-murid itu, kemudian menyebarlah aliran tarekat yang di dirikan oleh Syaikh Abdul Qodir Jailani ini, dengan cepat ke seluruh penjuru negeri Islam karena selain ajaranya memang benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW juga terorganisasi secara rapi. Hal inilah yang menyebabkan aliran tarekat ini tetap eksis dan berkembang sampai saat ini.

3.2. Sejarah Berdirinya Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat yang mu'tabaroh (sudah diakui keabsahannya dan di hormati di kalangan penganut tarekat yang lainya). Di dirikan oleh Syaikh Muhammad ibn Muhammad Baha’udin al Luwaisi al Bukhari an Naqsabandi (wafat 1389) yang di dasarkan atas tradisi Al Khurasani yang di pelopori oleh Al Bisthami, yang dzikir dengan cara yang lembut dan samar (dzikir Khafiy) pada pelafalan ism adz-Dzat, yakni Allah, Allah, Allah (Ajid Thohir, 2002: 50).
Sering timbul pertanyaan dari para pengikut tarekat ini, bahwa dari manakah istilah Naqsyabandiyah ini berasal, yang selama ini mereka ikuti, padahal pada riwayat penciptanya tidak disebutkan tentang nama tersebut. Abu bakar Aceh menyebutkan bahwa tarekat ini disebut Naqsyabandiyah diambil dari kata Naqsaband yang artinya “lukisan” menurut riwayat Syaikh Baha’uddin adalah seorang ahli pelukis kehidupan.
Sebenarnya amalan tarekat yang di dirikan oleh Syaikh Baha’uddin ini adalah amalan yang berasal dari Abu Bakar r.a, beliau menerima pelajaran spiritualnya pada malam hijrah, ketika ia dan Rasulullah SAW sedang bersembunyi di sebuah gua tak jauh dari Makkah. Karena di seputar tempat itu banyak musuh, mereka tidak dapat berbicara keras-keras, maka Rasulullah SAW mengajarinya untuk berdzikir dalam hati. Dzikir diam inilah dan sikap-sikap spiritual yang lainya, di percayainya kaum Naqsabandy telah di turunkan oleh Abu Bakar kepada murid-muridnya, dan akhirnya di jadikan sebuah sistem oleh Syaikh Baha’ Al Din An Naqsabandy. Hal itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Syaikh Baha’ Al Din An Naqsobandy dan beberapa orang lainya melakukan inovasi dalam tarekat itu dan memperkenalkan tekhnik-tekhnik baru. Orang-orang Naqsabandiyah yakin bahwa inovasi tersebut semua berdasarkan dari apa yang di ajarkan oleh Abu Bakar Al Shiddiq, dan oleh karena itu tidak terjadi perubahan yang mendasar (Martin Van Bruinessen, 1996:48).

5. Sejarah Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia
Sebenarnya aliran tarekat yang ada di Indonesia telah berkembang sejak berlangsungnya penyiaran Islam pertama kali oleh pedagang Gujarat. Namum baru pada abat ke 13 organisasi-organisasi tarekat mulai dikenal masyarakat bersamaan dikenalnya kelompok-kelompok Islam.
Demikian pula tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang berkembang di Indonesia. Sebenarnya istilah Qodiriyah wa Naqsabandiyah mengacu kepada sebuah nama tarekat yang merupakan hasil rumusan atau formulasi Syeikh Ahmad Khatib Sambasi dari dua sistem tarekat yang berbeda (Qodiriyah dan Naqsabandiyah) menjadi satu metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual. Beliau adalah putra bangsa Indonesia asli yang pernah menuntut ilmu di berbagi Negara Arab. Sehingga tidak aneh kalau kegiatan dakwahnya ini pertama kali di lakukannya sekitar abad ke-19 di Makkah.
Seharusnya tarekat yang beliau dirikan ini di namai "Tarekat Sambasiyah", karena sebagaimana kebiasaan pendiri tarekat yang lainya, selalu menamakan tarekat yang di dirikanya dengan namanya sendiri. Namun Syaikh Ahmad Khotib Sambasi tampaknya tidak tertarik dengan hal itu, tetapi lebih suka menamai tarekatnya dengan sebutan Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Akhirnya istilah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah oleh pengikutnya dijadikan semacam aliran yang sekarang kita kenal dengan nama “Tarekat Qadiriyah wa Nasyabandiyah”.
Syaikh Ahamad Khotib Sambasi tidak mengajarkan Tarekat Qodiriyah dan Naqsabandiyah secara terpisah, tetapi dalam satu kesatuan yang harus di amalkan secara utuh. Sekalipun masing-masing tarekat tersebut memiliki metode sendiri-sendiri yang sangat berbeda, baik dalam aturan-aturan kegiatan, prinsip-prinsip maupun cara-cara pembinaanya. Sehingga bentuk tarekat ini adalah tarekat baru yang memiliki perbedaan dengan kedua tarekat dasar itu (Ajid Thohir, 2002: 48-49).
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang ada di Indonesia, selanjutnya di kembangkan secara lebih intens di pondok pesantren, karena pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan keagamaan yang bercirikan Islam pertama yang ada di Indonesia. Melalui pondok pesantren inilah ajaran-ajaran Agama Islam dapat di ajarkan secara lebih mendalam, baik kajian Aqidah, Fiqih, Ilmu Nahwu, maupun Ajaran Tasawuf yang termasuk tarekat ada di dalamnya.
Menurut Departemen Agama RI (2003: 10-11), pondok pesantren berdasarkan sejarah akar berdirinya di Indonesia ditemukan dua versi pendapat:
Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pondok pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai dengan terbentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat disebut Mursyid atau Kyai, yang mewajibkan pengikutnya melaksanakan suluk selama 40 hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama sesama anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah di bawah bimbingan kyai atu mursyid. Untuk keperluan suluk ini, para kyai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terdapat di kiri-kanan masjid. Di samping mengajarkan amalan tarekat para pengikut itu juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pondok pesantren.
Kedua, pondok pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pondok pesantren yang diadakan orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pondok pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pondok pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu. Fakta yang lain menunjukkan bahwa pondok pesantren bukan berasal dari tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pondok pesantren di negara-negara Islam lainnya.
Sebagaimana yang di sebutkan dalam versi pertama, bahwa pondok pesantren pada awal munculnya mempunyai keterkaitan yang erat dengan pengajaran tarekat. Dalam lingkungan pesantren yang ada di Indonesia, istilah tarekat diberi makna sebagai suatu kepatuhan-kepatuhan kepada peraturan-peraturan Syari’at Islam dan pengamalannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun yang bersifat sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek wira’i, mengerjakan amalan-amalan yang sunnah baik sebelum sholat maupun sesudah sholat wajib dan memperaktekkan riyadhah. Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa istilah tarekat merupakan ajaran yang menyatu dalam teradisi pesantren tanpa harus di bentuk organisasi tarekat tersebut.

6. Ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Pengajaran mengenai amalan dzikir dalam tarekat Qodiriyah dilakukan dengan keras (yakni bersuarakeras). Dzikir utama dalam tarekat ini adalah La Ilaha illallah, yang di baca secara istiqomah setiap selesai sholat maktubah sebanyak 165 kali. Sedangkan amalan dzikir dalam tarekat Naqsabandiyyah merupakan dzikir tahap kedua setelah tarekat Qadiriyah. Dzikir ini di sebutkan sebagai dzikir itsmu dzat, yaitu lafad Allah di dalam hati atau di sebut dzikrul qalbi ( Shohibul kahfi, 2002:83).
Selain amalan dzikir sebagaimana yang di sebutkan di atas dalam tarekat ini dan tarekat manapun juga, salah satu dari pada persoalan yang terpenting dalam mencapai tujuan ma’rifat billah bagi seorang salik ialah pengajaranya dalam memperbaiki akhlak dan dalam menuntunnya mencapai maqam yang tertinggi. Dengan kata lain dalam tarekat ini di ajarkan bagaimana memperbaiki akhlak dan budi pakerti, selain terus-menerus melakukan dzikir.
Dan perlu diketahui dalam tarekat, perbaikan akhlak merupakan hal yang sangat penting dan utama guna mencapai tujuan akhir yaitu ma’rifat billah. Ahlak- akhlak yang harus di miliki oleh seorang salik tersebut antara lain:
1. Takhalli ( تخلئ)
Istilah Takhalli mempunyai arti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat As Sam ayat 9-10:
قدافلح من ذكاها وقد خاب من دساها ) الشمس)
Artinya Sesungguhnya bahagialah orangyang mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah orang-orang yang mengaotori jiwanya (Depag RI, 1978:1064).
Adapun sifat yang tercela yang harus di hilangkan adalah riya (memamerkan kelebihan), sama’ (cari nama atau kemasyhuran), bakhil (kikir), hubbul mal (cinta harta yang berlebihan), namimah (berbicara dibelakang orang) dan lain sebagainya. Sedangkan yang merupakan maksiat lahir, ialah segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merusak orang lain atau diri sendiri, sehingga membawa pengorbanan benda, pikiran perasaan. Maksiat lahir, melahirkan kejahatan-kejahatan yang merusak dan mengacaukan masyarakat. (Musthofa Zahri, 1996:74-75)
2. Tahalli (تحلئ )
Tahalli mempunyai pengertian, menghiasi atau mengisi diri dengan sipat-sifat terpuji. Dalam hal ini, apabila manusia dapat menghiasi dirinya dengan sifat terpuji, maka mereka akan menjelma menjadi manuasia yang suci dan mampu melakukan hubungan baik dengan siapapun. Senang hati dalam mengabdi kepada masyarakat, senang bekerja untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara, senang memberikan pertolongan dan bantuan, senag memelihara anak, istri, yang kesemuanya tersebut selalu di sandarkan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam An Nahl 90:
ان الله يأمر بالعدل والاحسان وإيتائ القرب وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون (النحل)
Artinya “Bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, berbuat kebajikan, hidup kekeluargaan. Dan melarang kekejian, kemungkaran dan permusuhan. Bahkan Tuhan mengajarkan kepada kanu sekalian (pokok-pokok akhlaq) agar kamu sekalian menjadi perhatian. (Surat An Nahl 90). (Depag RI 1978:414)
3. Tajalli (تجلئ)
Usaha terakhir dalam perbaikan akhlak ini ialah Tajalli, setelah kita menempuh dua jalan yakni Takhalli dan Tahalli. Memang sudah menjadi cita-cita utama para penganut tarekat dapat melepaskan diri dari sifat-sifat yang tercela dan dapat mengisi diri dalam jiwanya dengan sifat-sifat yang terpuji. Kata orang-orang sufi sifat-sifat terpuji adalah tingkah laku yang membawa manusia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan, yang pada gilirannya kalau sifat-sifat semacam itu tetap bekerja dalam diri manusia, maka tidak mustahil tingkatan terakhir ini (Tajalli) dapat digapai, yakni: ilmu mukasyafah, ma’rifat dan hakekat. Dan inilah tujuan yang sebenarnya dari pada penganut tarekat dalam menanamkan nilai-nilai luhur ajarannya melalui pendidikan akhlak terhadap para murid atau pengikutnya.

6.1. Ajaran Tarekat Qodiriyah
Secara khusus dan pandangan umum masyarakat menganggap bahwa yang menjadi orientasi dalam ajaran tarekat Qodiriyah adalah dzikir lafadz laa ilaaha illallah secara istiqomah setiap selesai sholat sebanyak 165 kali. Namun sebenarnya ajaran yang sesungguhnya lebih dari itu. Alwi shihab (2004: 210), mengatakan bahwa dimensi tasawuf lebih luas dari sekedar bahasa dan kosa kata yang tersedia untuk menyampaikan baik yang tersurat maupun yang tersirat (amalan lafadznya). Dengan demikian mungkin kurang tepat apabila bidang tasawuf hanya di kategorikan sebagai teori atau dogma, melainkan lebih tepat jika di kategorikan sebagai jalan hidup sikap dan perilaku, bahkan terkadang juga di gunakan sebagai sarana menciptakan kedamaian dalam memahami realitas dunia.
Dalam kitab Risalah Qusyairiyah karangan Syaikh Abdul Qosim (2002: Viii), menyebutkan bahwa maqomat-maqomat atau jalan pendakian para salik haruslah melalui pengalaman ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu melalui taubat, mujahadah, khalwah dan uzlah, taqwa, wara’, zuhud, diam, takut, raja’, itsar, qonaah, syukur, tawakal, yakin, sabar, ridho, muroqobah, istiqomah, sidiq, dzikir, mahabah, dan lain-lain. Ini berarti ajaran yang sesungguhnya dari pengamalan ajaran tarekat atau kehidupan sufi tidak hanya terbatas pada pengajaran dan pengamalan dzikir saja.
Sedangkan secara lebih khusus pengajaran mengenai dzikir dalam tarekat Qodiriyah ini dilakukan dengan keras (yakni bersuara). Dzikir utama dalam tarekat adalah La Ilaha illallah. Cara melakukan ialah sebagai berikut:
Sang Dzakir (orang yang melantunkan dzikir) meski duduk seperti dalam shalat sambil menghadap kiblat dan harus menutup matanya. Meski mengucapkan kata La sembari menarik bunyi seperti dari pusar, mengangkatnya kebahunya, kemudian mengucapkan Ilaha sambil menarik bunyi dari otaknya. Sesudah itu, ia mestilah mengetukkannya, yakni mencamkan kata-kata Illa Allah dengan kuat dalam hatinya, seraya memikirkan bahwasanya Allah sajalah Sang kekasih, dan bahwa nama Allah sajalah wujud hakiki dan tujuan hakiki dalam kehidupan (Mir Valiuddin, 1979:122)

Lafad dzikir Tarekat Qadiriyah adalah kalimat toyyibah “Laa ilaaha illallah”, di baca 165 kali. Jumlah tersebut didasarkan pada keterangan sebagian ulama, barang siapa berwirid sejumlah bilangan hurufnya maka wiridnya mustajab.
Adapun jumlah kalimat Laa Ilaaha Illallah menurut abjadnya berjumlah 165. Dzikir ini adalah dzikir lisan yang merupakan dzikir nafyul itsbat, artinya menafikan selain Allah sambil menghadirkan makna dzikir itu di dalam hati (Shohibul Kahfi, 2002: 82-83).
Selain dzikir menggunakan lafadz Laa Ilaha lllalah dalam tarekat Qadiriyah juga menggunakan dzikir dengan ismu zat Allah, yakni Allah, juga diucapkan dengan keras dengan salah satu cara yang dikemukakan Mir Valiuddin (1979:123-124) sebagai berikut ini:
1. Dzikir dengan satu dharb (satu ketukan): sang dzakir mestinya mengucapkan nama maha pengasih Allah dengan kekuatan hati dan tenggorokan dengan menggunakan cara keras, tegas, serta memanjangkannya. Kemudian ia boleh berhenti untuk mengambil nafas, dan kemudian melanjutkan dzikir selama mungkin. inilah dzikir yang sangat sederhana, tetapi efektif dan indah.
2. Dzikir dengan dua dharb: yang dzikir duduk dalam posisi shalat (Vajrasan dalam istilah yoga), menghadap kiblat, sambil mengucapkan nama Allah, sambil menoleh kekiri sekali, dan kedua kalinya mencamkannya pada hatinya. Ia mesti terus menerus mengulanginya tanpa henti. Ketukan mestilah dilakukan dengan sekuat-kuatnya agar hati terkena pengauhnya dan kemudian menjadi tenang serta agar bisikan-bisikan jahat di hilangkan.
3. Dzikir dengan tiga dharb: sang dzakir meski duduk bersila. Ia mengenakan ketukan ini pada lutut kaki kanannya, lalu pada lutut kaki kirinya dan terahir pada hatinya. Ketukan ini harus lebih keras dan lebih kuat.
4. Dzikir dengan empat dhrab: sang dzakir meski duduk bersila. Ia mengenakan ketukan pertama pada lutut kaki kanannya, kemudian pada lutut kaki kirinya, lalu pada hatinya, dan terakhir pada yang di depanya. Dharh terakhir ini mestilah dilakukan dengan suara kuat dan di panjangkan

Perlu di sebutkan disini bahwa berbagai posisi dan metode dzikir yang bebeda, yang digunakan oleh para Syaikh tarekat, berpijak pada implementasi-implementasi mereka. Melalui berbagai implementasi ini, mereka ingin mengembangkan dalam diri sang dzakir perasaan untuk tidak mementingkan diri sendiri, kerendah-hatian, ketundukan, kedamaian jiwa, dan kebahagiaan.
Selanjutnya mereka memperhatikan kebenaran psikologis juga bahwa manusia secara tidak sengaja memperhatikan berbagai arah yang berbeda dan juga suara-suara yang di hasilkan dari arah-arah yang berbeda pula. Dengan demikian, dengan berbagai posisi yang berbeda, mereka bermaksud mencegah sang dzakir memperhatikan sesuatu selain Allah. Metode-metode pengajaran dalam tarekat Qodiriyah inilah yang harus di lakukan seorang salik guna mendapatkan tujuan akhir yang ingin di capainya yaitu Allah SWT.
6.2. Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah
Sebagaimana ajaran dalam tarekat yang lainya, dalam Naqsabandiyahpun selain pengajaran untuk selalu berdzikir dengan kalimat Allah secara terus menerus juga yang tidak kalah pentingnya adalah pengajaran akhlak dan berbagai ajaran sendi kehidupan yang akan mendukung para salik dalam mencapai makrifat billah.
Al Junaid Al Bagdadi mengatakan bahwa tasawuf tidak dapat di capai dengan memperbanyak ritual sholat dan puasa belaka, melainkan harus di barengi dengan kemantapan hati dan kemurahan jiwa (Alwi Shihab, 2004: 212). Lebih lanjut Haidar Bagir (2002: XXiii), mengatakan bahwa bukan hanya akhlak individual yang menjadi sasaran tasawuf, yang tidak kalah penting adalah amal sholeh. Seorang sufi sepenuhnya juga harus mengontrol nafsunya sehingga ia akan menjadi orang yang sabar, tawakal dan takwa yang terbebas dari hasad, dengki, iri hati, marah, bisa mengontrol dirinya untuk ingin populer (riya’), mendapatkan kejayaan dunia belaka, dan sebagainya.
Sedangkan secara lebih khusus dzikir tarekat Naqsabandiyyah merupakan dzikir tahap kedua setelah tarekat Qadiriyah. Dzikir ini di sebutkan sebagai dzikir itsmu dzat, yaitu dzikir dengan lafad Allah di dalam hati (Dzikrul Qalbi).( Shohibul kahfi, 2002:83).
Dalam tarekat ini, diyakini bahwa waktu luang seseorang itu sangat penting dan berharga serta tidak boleh di biarkan berlalu begitu saja. waktu ini mesti digunakan untuk melantunkan dzikir La ilaha illallah.
Pertama, seseorang meski menyingkirkan bebagai macam gangguan dari dari hatinya seperti, mendengarkan omongan iseng orang lain atau terjun dalam hal-hal duniawi. Sang dzakir mesti juga membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya kebingungan batin, seperti marah, lapar, keserakahan, atau kepedihan macam apapun. Mestinya ia mengingat kematiannya dan senantiasa mencamkannya. Ia harus memohon ampun kepada Allah dengan kerendahan hati atas berbagai perbuatan dosa dan kekhilafannya.
Kedua, ia menempelkan lidahnya kelagit-langit mulutnya, dengan menutup bibir matanya, ia harus menahan nafasnya di dalam perut. Ia meski mengucapkan kata La dengan cara mengangkatnya dari pusar kedalam hatinya, dalam kemudian membawa kedalam otak.
Ketiga, mengucapkan kata Ilaha, menggerakkan kebahu kirinya dan disitu menghentakkannya, yakni mematerikan kata-kata llallah dengan kuat pada hatinya sedemikian rupa sehingga efek ketukan itu tampak dalam seluruh anggota tubuhnya
Sang dzikir mestilah menafikan egonya sendiri dan sebaliknya meng-Esa-kan wujud Allah, serta mengucapkan dengan ketulusan dan keikhlasan: Ya Allah, Engkalah tujuan akhirku dan keridhaan-Mu sajalah yang kucari (Shohibul Kahfi, 2003: 80).
Badan harus diam dan tidak boleh bergerak. Ia meski harus mengingat bilangan ganjil setiap kali menahan nafas. Ia meski mengucapkan, ”Muhammad adalah utusan Allah” ketiga ia menghembuskan nafas ini pertama kali, kemudian tiga kali (demikian seterusnya sembari memperhatikan bilangan ganjil) (Mir Valiuddin, 1979:137).
Menurut Moch. Baidowi Muslich (10) dalam kitabnya Idaratul Sungbiyah mengatakan Bentuk Dzikir semacan ini adalah lafad La di panjangkan disertai tarikan dari pusar sampai kepala (otak). Terus dibaca kalimat Ilaha ditarik kearah kanan, terus membaca Ilallah kearah kiri diarahkan kehati sanubari dengan pukulan kuat (Moch. Baidowi Muslich:10)
Salah satu dzikir para Syair Naqsabandiyah adalah dzikir al-Issbat al-Mujarrah atau dzikir berupa penegasan saja, yakni dzikir nama Allah, tanpa penegasan atau penafikan. Konon para teolog Naqsyabandiyah awal tidak mengamalkan dzikir ini. Ini adalah amalan Kwaja Baqi-billah, atau para Syaikh agung sebelumnya. Disepakati bahwa dzikir penegasan dan penafikan sangat baik untuk penghambaan, suluk, dan bahwa dzikir penegasan saja lebih kondusif pada keterserapan diri kepada Allah
Prosedur dzikir Ism Adz-Dzat (nama Dzat Allah) ialah seseorang mesti menyentuh langit mulut dengan lidahnya, dan mencamkan makna nama Allah yang diberkahi (yang tidak menyerupai entitas apa pun dan tidak ada satu entitas yang menyerupainya; yang tidak menyerupai sesuatu dan tak ada sesuatu pun menyerupai-Nya; yang tidak bisa diukur dan dibatasi, yang tidak diliput arah; yang tidak menyerupai badan; yang tunggal tanpa ada tandingan; yang terpisah tanpa ada keserupaan) dan mestilah mengarahkan hatinya kepada Allah yang Maha Kuasa serta tenggelam dalam dzikir Ismu Adl-Dzat.
Dengan metode inilah seorang salik dalam tarekat Naqsabandiyah akan mampu mencapai tujuan akhir yaitu ma’rifatullah. Pencapaian maqom ma’rifatullah inilah yang selalu di cita-citakan para pencari kebenaran Ilahiyyah (salik). Dengan pencapaian maqom tersebut ia akan selalu mencintai, di cintai dan ridho Allah akan selalu bersamanya, sehingga ia akan bahagia dan selamat di dunia-akhirat.
B. KAJIAN TEORITIS TENTANG ESQ (EMOTIONAL-SPIRITUAL QUOTIENT)

1. Pengertian ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)
Meminjam istilah Dr. Ali Syariati, yang di kutip oleh Ary Ginanjar Agustian (2001: XX), mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk dua-dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kebutuhan dunia dan akherat. Oleh karena itu manusia haruslah mempunyai konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelejensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ), sehingga melalui istilah dua-dimensial tersebut sebuah upaya penggabungan ketiga unsur tersebut haruslah di lakukan.
Dalam kajian kebangkitan postmodernpun di sebutkan bahwa ternyata manusia tidak hanya menginginkan terpenuhinya kebutuhan materiil sebagaimana yang ingin di capai oleh modernisasi, karena ketika manusia hanya oriented-materialistik maka hanya akan mengalami krisis dalam segala bidang, tercapainya kebahagiaan yang semu, dan tujuan yang hakiki manusia tidak akan pernah tercapai. Untuk keluar dari lingkungan krisis dan permasalahan tersebut, maka manusia harus kembali kepada hikmah Spiritual Ilahiyah yang terdapat dalam semua agama yang otentik (Syamsul Arifin, 1996: 34). Dalam hal ini berarti perlu adanya penyesuaian antara pencapaian kebutuhan materiil melalui pengembangan emosional seseorang (EQ), dan pencapaian kebutuhan Spiritual Ilahiyah, melalui pengembangan SQ (Spiritual Quotient). Dengan kesesuaian antara EQ dan SQ tersebut seseorang akan mampu bahagia di dunia dan akhirat.
Untuk itu perlulah kiranya di kaji secara lebih mendalam mengenai kecerdasan emotional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ) serta bagaimana langkah-langkah dalam mengembangkan potensi ESQ guna mencapai tujuan manusia yang sesungguhnya, yaitu insan kamil yang mampu melakukan hubungan vertikal-horizontal sehingga hidup bahagia di dunia dan akherat.

1.1. Pengertian EQ (Emotional Quotient)
Istilah kecerdasan emosional atau yang di kenal dengan EQ (Emotional Quotient) pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh Psikolog Peter Solovey dari Harvard University dan John Mayor dari University of New Hampshire, untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya sangatlah penting bagi keberhasilan (Laurence E. Shapiro, 1999: 5).
Para ahli telah banyak yang mengungkapkan pengertian EQ (Emotional Quotient) antara lain, menurut Salovey dan Mayer yang di kutip oleh Lawrence (1999: 8), mengatakan bahwa EQ (Emotional Quotient) merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Sedangkan menurut Daniel Goleman (2002: 512), EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut ia akan dapat memperoleh keberhasilan.
Setelah di ketahui beberapa pendapat dari para ahli dalam mendefinisikan pengertian EQ (Emotional Quotient), maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional melingkupi dua kategori kecakapan yang harus di miliki yaitu: pertama, kecakapan pribadi, yang melingkupi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi. Yang kedua, kecakapan sosial yang melingkupi empati dan ketrampilan sosial (bermasyarakat).

1.2. Pengertian SQ (Spiritual Quotient)
Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan temuan terkini yang secara ilmiyah pertama kali di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiyah tentang SQ (Spiritual Quotient) ini, pertama, riset ahli Psikologi atau syaraf, Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V. S. Ramachan dan timnya dari California University, yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia, ini sudah built-in sebagai pusat spiritual (Spiritual Center) yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Sedangkan bukti kedua, adalah riset ahli syaraf Austria Wolf Singer, pada era 1990-an atas the binding problem yang menunjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dan pengalaman hidup kita, suatu jaringan syaraf yang secara literal mengikat pengalaman kita bersama untuk hidup yang lebih bermakna. Pada God-Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yag terdalam (Ary Ginanjar, 2001: XXXiX).
Danah Zohar dan Ian Marshall sebagaimanaa yang di kutip Ary Ginanjar (2001: 57), mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, atau bisa juga di sebut sebagai kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna di bandingkan dengan orang lain.
Akan tetapi teori SQ dari barat ini belum atau bahkan tidak menjangkau masalah Ketuhanan. Pembahasanya baru sebatas Biologi dan Psikologi semata, tidak bersifat transendental. Akibatnya masih banyak di temukan kebuntuan. Kebenaran yang sejati sebenarnya teletak kepada suara hati yang bersumber pada God Spot yang merupakan fitrah manusia untuk mencari eksistensi dirinya sebagai mahluk Tuhan.
Berbeda dengan pengertian SQ (Spiritual Quotient) yang telah di berikan oleh para ilmuan barat, para ahli agama yang menganggap bahwa kecerdasan spiritual merupakan suatu potensi yang ada pada setiap diri manusia yang bersumber kepada fitrah Ketuhanan, tidaklah hanya sebatas kepada tataran Biologi dan Psikologi sebagaimana yang di katakan oleh para ilmuan barat.
Menurut Dr. H. M. Idris Abdul Shomad (2005: 22) mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu sifat, sikap, dan perilaku takwa kepada Allah SWT yang di buktikan dengan amal sholeh (kebaikan-kebaikan) yang di landaskan pada keimanan kepada Allah SWT.
Sedangkan menurut Ary Ginanjar Agustian (2001: 5), menjelaskan bahwa SQ (Spiritual Quotient) adalah kemampuan untuk memberikan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yag sesungguhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.
Dari beberapa definisi SQ (Spiritual Quotient) yang telah di kemukakan oleh beberapa ahli tersebut, penulis dapat menyimpuklkan bahwa pada intinya SQ (Spiritual Quotient) merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan makna kehidupan yang berlandaskan iman dan takwa kepada Allah SWT, dengan menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya baik dhohir maupun batin untuk selalu melakukan hubungan, baik secara vertikal (manusia dengan Tuhanya) maupun horizontal (manusia dengan sesama mahluk Tuhan), sehingga tujuan manusia yang hakiki untuk bahagia di dunia dan akherat dapat tercapai.

2. Unsur-Unsur ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)
Kecerdasan Emosional maupun Spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangun yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, unsur-unsur pembangun dari ESQ inilah yang harus di miliki oleh setiap orang sehingga ia akan menjadi orang yang sukses di dunia maupun di akherat.

2.1. Unsur-Unsur EQ (Emotional Quotient)
Sebelumnya perlu di ketahui bahwa, kemutlakan peran IQ (Intelegency Quotient) yang dulu begitu di agung-agungkan kini sedikit tergeser posisinya dengan keberadaan EQ yang begitu menghebohkan (Ary Ginanjar, 2001: XII). Senada dengan itu, Laurence E Shapiro (1999: 4) mengatakan bahwa penelitian-penelitian sekarang menemukan bahwa ketrampilan sosial dan emosional mungkin lebih penting bagi keberhasilan hidup katimbang kemampuan intelektual. Dengan kata lain memiliki EQ tinggi mungkin lebih penting dalam mencapai keberhasilan dari pada IQ tinggi yang hanya di di ukur berdasarkan uji standar tehadap kecerdasan kognitif verbal dan non verbal.
Sebenarnya ketrampilan EQ bukanlah lawan dari ketrampilan IQ. Namun keduanya bersinergi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Idealnya seseorang dapat menguasai ketrampilan kognitif sekaligus ketrampilan sosial dan emosional, sebagaimana di tunjukkan oleh negarawan-negarawan besar dunia (laurence, 1999: 9).
Alfred Binet bersama Theodore Simon, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensia mendefinisikan bahwa IQ terdiri atas tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah di laksanakan, dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticism (Saifuddin Azwar, 1996: 5).
Dari komponen yang di miliki IQ tesebut ternyata telah masuk dalam cakupan kajian EQ (Emotional Quotient). Sebagaimana Daniel Goleman (2003: 513-514) menyebutkan bahwa dasar kecakapan emosi dan sosial mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
a. Kesadaran diri, berarti mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakanya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
b. Pengaturan diri, berarti menangani emosi kita sedemikian sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi.
c. Motivasi, berarti menggunakan hasrat pada diri kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan serta flustrasi.
d. Empati, berarti merasakan sebagaimana yang di rasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
e. Ketrampilan sosial, berarti menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan-ketrampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, dan untuk bekerja sama dan bekerja dalam suatu tim.

2.2. Unsur-Unsur SQ (Spiritual Quotient)
Mimi Doe (2002: 19) menyebutkan bahwa cara untuk membangun SQ dengan menciptakan hubungan yang tepat dengan seluruh aspek dalam diri kita dan dunia kita, hal in berarti SQ mencakup seluruh aspek kajian yang di miliki oleh manusia. Lebih lanjut, Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagaimana yang ada dalam buku ESQ karangan Ary Ginanjar (2001: 57), juga menyebutkan bahwa SQ adalah landasan yang di perlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. Oleh karena itu dapatlah di katakana bahwa apabila seseorang lebih dahulu mengfungsikan dan mengembangkan potensi kecerdasan spiritualnya, maka kecerdasan yang lainya akan mengikuti sendiri.
Kecerdasan spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangunnya yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, seperti kejujuran, amanah, cerdas (berakal dan cerdas emosi) dan komunikatif.
a. Kejujuran merupakan sifat paling mendasar bagi SQ, karena kejujuran sangatlah erat hubunganya dengan niat dan motivasi seseorang dalam bertindak dan bertingkah laku. Sementara itu, niat dalam pandangan Islam memiliki posisi urgen dan signifikan bahkan penentu dan standard dari sebuah perbuatan.
b. Amanah adalah refleksi dari kejujuran. Seseorang akan memiliki amanah, menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggung jawab, jika amal perbuatannya itu di dasarkan pada prinsip kejujuran.
c. Cerdas atau fatonah merupakan bekal sekaligus faktor kesuksesan seseorang dalam mencerdaskan spiritual. Dengan kecerdasan yang di milikinya tersebut ia akan mampu menyesuaikan hubungan yang baik dengan siapapun. Ia akan selalu melakukan hubungan vertikal secara baik, sekaligus tidak akan melupakan kewajibanya untuk mampu bermasyarakat dan bersosial secara baik pula.
d. Komunikatif adalah karakteristik lain dari SQ, artinya seseorang yang memiliki SQ ia tidak cenderung menyendiri dan menjauh dari masyarakat, tetapi ia membaur dan berinteraksi. Bukan untuk mengikuti arus yang tidak baik, melainkan untuk memperbaiki sesuatu yang tidak baik dan mengikuti sesuatu yang baik. Sejalan dengan ajakan dan seruan kebaikan, serta menentang segala bentuk kemungkaran di masyarakat (M. Idris Abdul Shomad, 2005: 19-21).
Sedangkan menurut Jalaluddin Rahmat, sebagaimana yang di sebutkan oleh Sudirman Tebba (2003: 20-23), menyebutkan ciri-ciri atau karakteristik kecerdasan spiritual adalah:
a. Mengenal motif kita yang paling dalam, berarti pengenalan terhadap fitrah ketuhanan yang ada pada diri manusia itu sendiri.
b. Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi atau self awareness, berarti mengenal diri dengan baik dan selalu berusaha untuk mengenal dirinya lebih dalam.
c. Bersifat responsif pada diri yang paling dalam, berarti ia sering melakukan refleksi dan mau mendengarkan hati nuraninya.
d. Dapat memanfaatkan dan mentransendenkan kesulitan atau penderitaan. Orang yang cerdas secara spiritual sewaktu mengalami penderitaan tidak pernah mencari kambing hitam, tetapi mengambil hikmah dari penderitaan.
e. Sanggup berdiri dan menentang serta berbeda dengan orang banyak terhadap sesuatu yang di anggap tidak benar.
f. Enggan mengganggu atau menyakiti. Mampu merasa bahwa alam semesta ini adalah suatu kesatuan, sehingga apabila mengganggu alam atau manusia, maka gangguan itu akan menimpa dirinya sebagai ganjaran dari perbuatanya tersebut.
g. Memperlakukan Agama secara cerdas. Maksudnya, dia beragama, menganut suatu agama tetapi tidak mengganggu, menyerang orang yang beragama lain.
h. Memperlakukan kematian secara cerdas. Maksudnya, memandang kematian sebagai suatu peristiwa yang harus di alami oleh setiap orang, sehingga dirinya harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.

E. KAJIAN TEORITIS TENTANG PERAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DALAM PENINGKATAN ESQ (EMOTIONAL-SPIRITUAL QUOTIENT) MASYARAKAT MUSLIM DI ERA MODERN.
Sebagaimana telah di jelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa amalan maupun ajaran yang terdapat dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah sebenarnya tidak hanya terfokus pada pengamalan dzikir atau wirid tertentu saja, namun lebih dari itu sebenarnya mempunyai peran yang sangat besar dalam memberikan pengajaran para penganutnya untuk mampu melakukan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, melakukan hubungan antara dirinya dengan lingkungan sosial, dan lebih-lebih dalam melakukan hubungan antara dirinya dengan Tuhanya.
Hal ini berarti bahwa untuk mencapai tujuan, seorang sufi atau salik (penempuh jalan tarekat) selain memiliki akhlak individual juga harus memiliki akhlak sosial. Di samping mereka harus mengamalkan dzikir sebagaimana yang telah di ajarkan oleh mursyid mereka, selain itu mereka juga harus melalui maqomat tertentu. Maqomat-maqomat atau jalan pendakian para salik haruslah melalui pengalaman ajaran islam yang sebenarnya, yaitu melalui taubat, mujahadah, khalwah dan uzlah, taqwa, wara’, zuhud, diam, takut, raja’, itsar, qona’ah, syukur, tawakal, yakin, sabar, ridho, muroqobah, istiqomah, sidiq, dzikir, mahabah, dan lain-lain.
Ajaran yang ada dalam tarekat, sebagaimana yang telah di sebutkan mempunyai kesamaan dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ESQ (Emotional-Spiritual Quotient). Hal ini berarti pengamalan tarekat juga berperan sebagai sarana dalam menumbuhkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan inilah yang akan menyeimbangkan antara pencapaian kebutuhan di dunia dan kebutuhan akherat.
1. ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Pada intinya yang di bahas dalam kajian ESQ adalah bagaimana seseorang memanfaatkan potensi diri dan suara hati terdalam yang terdapat di dalam God Spot, sehingga dirinya akan bisa melakukan keseimbangan antara hubungan dirinya dengan lingkungan sosialnya, kesesuaian antara kebutuhan dunia dan akhheratnya. Dalam pengamalan tarekat tenyata juga juga di ajarkan hal-hal tersebut. Dalam hal ini ternyata antara pengamalan ajaran tarekat dan penumbuhan potensi ESQ mempunyai perspektif yang sama.

1.1. EQ (Emotional Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Telah di di jelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa menurut Daniel Goleman (2002: 512), EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Di lihat dari perspektif sufistik ataupun ajaran tarekat unsur-unsur kecerdasan emosional itu juga ada dalam ajaran tarekat. Antara lain kesadaran diri dalam ajaran tarekat atau tasawuf di sebut muhasabah. Muhasabah berarti melakukan perhitungan, yaitu perhitungan terhadap diri sendiri mengenai perbuatan baik dan buruk yang pernah di lakukan. Tujuanya adalah mengurangi atau kalau bisa menghilangkan perbuatan buruk dan meningkatkan perbuatan yang baik. Dengan muhasabah berarti dirinya akan mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana dia harus melakukan manajemen diri dengan baik, dan mengetahui konsep kesadaran diri yang lainya.
Konsep muhasabah sering di kaitkan dengan ucapan Ali bin Abi Tholib yang mengatakan bahwa orang harus menghitung dirinya sendiri sebelum di hitung amalnya oleh Allah SWT.
Selain itu sebagian pakar ajaran tarekat ada yang mengaitkan antara konsep muhasabah dengan Abu Abdullah Al Harits bin Asad Muhasibi (W. 243 H/ 857 M), seorang sufi dari Bagdad, yang sering menggunakan konsep muhasabah dalam ajaran tasawufnya. Menurut dia, motivasi manusia untuk melakukan perhitungan diri sendiri mengandung harapan dan kecemasan dan perhitungan itu merupakan landasan perilaku yang baik dan takwa (Sudirman Tebba, 2003: 13).
Kemudian pengaturan diri dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat banyak kesamaanya dengan sabar. Sabar menurut Dzun Nun Al Mishri, berarti menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersifat tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan penghidupan. Sedangkan menurut Ibnu Atha’, yang di maksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku baik (Abul Qosim,2002: 259).
Banyak Ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk selalu bersabar, antara lain, Ayat 200 Surat Ali ‘Imran: “ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”.
Kesabaran ada beberapa macam. Pertama adalah bersabar untuk menjauhi larangan Allah, seperti berzina, mabuk, berjudi, mencuri, dan korupsi. Kedua adalah sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, memeliharanya terus-menerus, menjaganya dengan ikhlas dan memperbaikinya dengan pengetahuan. Dalam Islam ada perintah menjalankan ibadah, seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Kemudiaan ada perintah berlaku jujur, membantu sesama yang lemah dan sebagainya. Ketiga adalah sabar ketika menghadapi musibah, seperti kematian kecelakaan, usaha bangkrut, di pecat dari pekerjaan, di fitnah, dan sebagainya. Orang harus bersabar dalam menghadapi musibah, karena musibah merupakaan cobaan dari Allah, apakah ia dapat menjalaninya dengan sabar atau berberkeluh kesah. Kemudian harus ingat bahwa nikmat yang telah di terima dari Allah selama ini masih lebih besar dari pada musibah yang menimpanya (Sudirman Tebba, 2003: 14 - 15).
Lalu motivasi dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat banyak kesamaanya dengan raja’ (optimisme). Sebab pengertian raja’ (harapan atau berharap), menurut Syaikh Abdul Qosim (2002: 178) adalah ketergantungan hati kepada sesuatu yang di cintainya yang akan terjadi di masa yang akan datang, sehingga raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang di cita-citakan di masa yang akan datang. Dengan raja’ maka hati akan bisa menjadi hidup dan merdeka.
Raja’ juga berarti sifat optimistis serta berharap untuk mendapatkan rahmat Allah SWT atau berharap mendapatkan kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akherat. Sikap raja’ atau optimisme dalam kehidupan dunia berarti berharap untuk mendapatkan kesejahteraan yang baik, seperti rizki yang banyak, kedudukan yang tinggi, menjadi orang yang berkuasa. Untuk mencapai hal ini orang harus bekerja keras dengan cara yang halal. Sedangkan sikap raja’ terhadap kehidupan akherat adalah dengan berharap mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, oleh karena itu ia harus selalu bertaubat dan selalu melakukan perbuatan yang baik ketika masih di dunia. Orang yang tidak mau berikhtiyar, tetapi mengharapkan taraf kehidupan yang baik, tidaklah di sebut raja’ tetapi tamanni (berangan-angan). Orang harus memiliki raja’ dan tidak boleh tamanni (Sudirman Tebba, 2003: 15-16).
Kemudian mengenai empati dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat bararti mempunyai sikap Itsar. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Juz Tiga, karangan Imam Al Ghozali (tanpa tahun: 251) di sebutkan bahwa itsar berarti sikap dermawan terhadap harta benda walaupun dia sendiri membutuhkan. Sikap dermawan merupakan sikap yang mau menyerahkan barang kepada orang yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan. Memberikan barang ketika dirinya sendiri lebih membutuhkan ini lebih berat dari pada ketika dirinya tidak sedang membutuhkanya. Dan inilah yang di sebut dengan itsar.
Itsar juga berarti lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Karena itu itsar sebenarnya lebih sekedar empati, yaitu lebih dari sekedar merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain (Sudirman Tebba, 2003: 16). Dengan sifat itsar maka kecerdasan sosial juga akan tumbuh, sehingga jika hal ini di miliki oleh setiap manusia maka kehidupan dalam masyarakat akan semakin membaik.
Lalu tentang ketrampilan sosial dalam perspektif sufistik atau ajaran tarekat ada kesamaan dengan konsep syaja’ah. Secara harfiyah syaja’ah berarti berani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar. Tetapi sikap berani haruslah di sertai pertimbangan yang matang dan pikiran yang tenang. Hal ini sesuai dengan ucapan Nabi Muhammad SAW: “ Bukanlah pemberani orang yang kuat berkelahi, sesungguhnya pemberani itu adalah orang yang sanggup menguasai hawa nafsunya di kala marah”(HR. Bukhori Muslim).
Sikap berani dapat di lihat pada stabilnya pikiran seseorang ketika menghadapi bahaya. Ia tetap melakukan pekerjaan dengan hati yang teguh dan akal yang sehat serta tidak gentar menghadapi ancaman dan celaan dari orang lain sebagai konsekwensi tindakanya. Hal ini sudah di praktekkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat beliau ketika menyebarkan Islam (Sudirman Tebba, 2003: 16).

1.2. SQ (Emotional Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Sebelumnya telah di jelaskan bahwa kecerdasan spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangunya yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, seperti kejujuran, komunikatif, mengenal motif dirinya sendiri, berkesadaran yang tinggi, memanfaatkan serta mentransendenkan kesulitan.
Di lihat dari perspektif sufistik ataupun ajaran tarekat ciri-ciri kecerdasan spiritual itu juga terdapat dalam ajaran tarekat, antara lain motif yang dalam kesadaran yang tinggi dan sikap responsive terhadap diri menurut ajaran tarekat dapat di wujudkan dengan berbagai cara, seperti tafakkur dan uzlah.
Tafakkur berarti perenungan, yaitu merenungkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta kebesaranya di langit dan bumi. Tafakkur sebaiknya di lakukan setiap hari, terutama pada tengah malam. Karena tengah malam merupakan saat yang paling baik, lengang, jernih dan tepat untuk pensucian jiwa.
Ketika bertafakkur kita di anjurkan untuk merenungkan karunia, kemurahan dan nikmat yang telah di limpahkan oleh Allah SWT. Tafakkur mengenai nikmat Allah akan mendorong kita untuk selalu mensyukuri dan menyibukkan diri dengan ibadah dan amal sholeh sebagai wujud kecintaan kepada Allah SWT, sehingga nantinya kita akan mampu melakukan hubungan, baik secara vertikal maupun horiazontal (Sudirman Tebba, 2003: 123-24).
Kemudian ciri-ciri kecerdasan spiritual yang lain menurut ajaran tasawuf atau tarekat juga di kembangkan dengan cara uzlah. Abdul Qosim (2002: 135), mengatakan uzlah secara esensial berarti menghindarkan diri dari perilaku yang tercela, sedangkan urgensinyanya dapat di realisasikan untuk menggantikan berbagai sifat (tercela di ganti dengan sifat yang baik) bukan untuk menjauhkan diri dari tanah air (dunia). Dalam konteks seperti ini dapat di ajukan pertanyaan, siapakah orang yang makrifat itu? jawabanya adalah orang yang selalu ada tetapi jauh, yang berarti ia selalu bersama dengan orang lain tetapi hatinya jauh dari mereka.
Ciri kecerdasan spiritual tentang kemampuan mentransendenkan penderitaan menurut tasawuf ataupun ajaran tarekat dapat di lakukan misalnya dengan sikap tawakal dan ridho. Tawakal berarti berserah diri, maksudnya berserah diri kepada keputusan Allah terutama ketika melakukan suatu perbuatan atau ikhtiyar. Jadi tawakal harus di dahului oleh ikhtiyar untuk memenuhi suatu keperluan. Misalnya untuk hidup layak orang harus bekerja keras melakukan pekerjaan yang halal. Bagaimana hasilnya, sukses ataupun gagal, bahagia atupun sengsara, sepenuhnya di serahkan kepada Allah SWT (Sudirman Tebba, 2003: 25).
Ridho berarti senang, maksudnya senang menjadikan Allah sebagai Tuhanya, senang kepada ajaran dan takdirnya, bahagia atupun sengsara. Menurut Abdur Rahman Ad-Daram sebagaimana yang di kutip oleh Abdul Qosim (2002: 275), apabila hamba meninggalkan syahwat, maka dia adalah orang yang ridho. Lebih lanjut menurut Ibnu Atho’ nafsu akan di dahului oleh buruknya budi pakerti dan oleh karena itu seorang hamba di perintahkan agar terus-menerus berbudi pakerti yang baik.
Lalu ciri kecerdasan spiritual tentang kemampuan menentang atau berbeda dengan orang banyak dapat di kembangkan dengan sikap saja’ah. Sikap saja’ah berarti mempunyai sikap pemberani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar walaupun harus menanggung resiko yang berat. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan “ berani karena benar takut karena salah”, dan ucapan Rasulullah yang artinya “katakanlah yang haq (benar) walaupun pahit rasanya”.
Kemudian ciri kecerdasan spiritual tentang keengganan mengganggu dan menyakiti ada kesamaanya dengan sikap shidiq dalam tasawuf. Shidiq berarti benar dan jujur, maksudnya benar dan jujur dalam perkataan dan perbuatan. Membiasakan benar merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Tuhan, dan bersikap benar juga merupakan nilai hidup yang sangat penting dalam hubungan sesama manusia dan alam, sekaligus menjadi sendi kemajuan manusia sebagai pribadi dan kelompok.
Mengenai ciri kecerdasan spiritual tentang memperlakukan Agama secara cerdas hal ini sesuai dengan tasawuf, karena ajaranya mencakup dimensi esoteris atau batiniyah Agama, yaitu perbuatan hati seperti sabar, ikhlas, sederhana, adil dan semacamnya. Perbuatan hati bersifat universal melintasi batas-batas Agama.
Akhirnya, ciri kecerdasan spiritual tentang memperlakukan kematian secara cerdas ini juga sesuai dengan ajaran tasawuf. Dengan berdasarkan Al Qur’an tasawuf atau tarekat mengajarkan bahwa kematian harus di ingat dan bekal ibadah maupun amal sholeh haruslah di persiapkan ketika masih ada di dunia, karena kematian itu pasti di alami oleh semua orang dan pembalasan baik-burukpun pasti akan ada ketika di akherat kelak (Sudirman Tebba, 2003: 26-27). Semua penjelasan tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya pengamalan ajaran tarekat atau tasawuf, dapat meningkatkan potensi SQ (Spiritual-Quotient), karena keduanya memiliki perspektif dan pendekatan yang sama.

2. Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern
Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa amalan dari tarekat Qodiriyah secara khusus adalah dzikir jahr dengan lafadz laa ilaha illaah setiap selesai sholat wajib lima waktu sebanyak 165 secara istiqomah (terus menerus). Sedangkan amalan Tarekat Naqsabandiyah secara khusus adalah dzikir sirri dengan kalimat Allah secara istiqomah dan terus menerus, sehingga setiap nafasnya selalu terlewati oleh kalimah Allah tersebut.
Apabila kalimat tauhid, sebagaimana yang di ajarkan oleh tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah tersebut benar-benar di amalkan dan telah meresap ke dalam sanubari seseorang serta ia yakin sepenuhnya akan kebenaranya, maka secara otomatis potensi kecerdasan emosional maupun spiritualnya akan meningkat, karena ia akan mampu untuk melakukan hubungan, baik secara vertikal (antara manusia dengan Tuhanya) maupun horizontal (manusia terhadap dirinya sendiri, manusia dengan manusia yang lainya, dan manusia dengan alam sekitarnya).
Setiap orang pasti akan hidup dengan orang lain, melakukan hubungan dan kerjasama dengan mereka. Oleh karena itu mereka tidak akan pernah bisa dipisahkan, karena mereka saling membutuhkan dan mendukung untuk kesuksesan dalam mengarungi kehidupanya. Dalam hal ini haruslah di bangun kehidupan bermasyarakat yang baik, yang maasing-masing anggota masyarakatnya mempunyai kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual yang tinggi.
Organisasi masyarakat adalah suatu kemestian bagi jenis manusia (al ijtima’u dloririyyun li an-naw’i al insani). Tanpa itu wujud umat manusia tidaklah sempurna. Tanpa organisasi masyarakat keinginan Tuhan yang hendak memakmurkan dunia dengan makhluk manusia dan menjadikan mereka khalifah-khalifahnya di bumi ini tentulah tidak akan terbukti (Osman Raliby, 1978: 139).
Islam memandang masyarakat adalah suatu bentuk kumpulan manusia serta memiliki suatu tujuan. Tujuan dari masyarakat Islam adalah terbentuknya masyarakat yang adil, makmur yang berdasarkan asas ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan tersebut menjadi kunci bagi pelapisan manusia dalam system masyarakat dalam rangka mencapai masyarakat adil dan makmur. Dalam mencapai kerangka dasar ketaqwaan tersebut, Islam mempunyai metode penanaman mental yang harus di miliki oleh individu sebagai anggota masyarakat (Koentjoroningrat, 1990: 133).
Di dalam Islam secara tegas di nyatakan bahwa manusialah yang memegang peran menentukan kondisi dunianya. Apapun yang terjadi di masa depan amat bergantung kepada manusia yang oleh Allah telah di tetapkan sebagai pengelola bumi, sehingga akan menentukan kondisi masyarakat dan lingkunganya (Fuad Amsyari, 1993:26), oleh karena itu harus melaksanakan tuntunan (syariat) agama, selain itu sangat dibutuhkan masyarakat yang mempunyai akhlak yang baik.
Dengan memegang syari’at Agama secara kuat dan selalu berakhlak yang baik maka manusia akan mampu mencapai kehidupan yang bahagia, sejahtera, mendapatkan ampunan dan keridho’an dari Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakanya. Hal ini sebagaimana yang di katakan oleh Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, M.A. (2005: 262) bahwa:
Manusia dalam kehidupanya sehari-hari haruslah melakukan apa yang di suruh Allah SWT dan menjauhi perbuatan yang di larang Allah secara sadar dan taat, atas dasar keimanan dan ketakwaan adalah manusia yang telah menjalankan hukum Allah dan dengan sendirinya adalah manusia yang baik di mata Allah. Ia adalah manusia yang berakhlak baik dan mulia oleh karenanya mendapatkan ampunan dan keridhoaan Allah. Dengan demikian manusia yang baik itu merupakan tujuan akhir atau ultimate goal dari akhlak dan sekaligus menjadi target hukum syara’.

Tatanan kehidupan masyarakat yang begitulah yang sebenarnya sangat di butuhkan dan memang harus ada. Namun kondisi demikian sepertinya sulit di lakukan untuk zaman seperti saat ini yang semakin menglobal dan semakin memudarnya ajaran-ajaran keagamaan.
Saat ini masyarakat telah berada di zaman modern. Zaman yang telah mengalami perubahan-perubahan secara menyeluruh dan cepat. Masyarakat modern adalah masyarakat yang mengalami proses perombakan pola berfikir dan tata kerja lama yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja yang baru yang rasional dan ilmiyah serta bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.
Ketika dunia sudah masuk dalam sistem global dan masyarakat tidak menyadari akan sistem global tersebut, maka mereka harus siap menjadi tumbal modernitas. Karena memang kompetisi di dunia modern tidak banyak mengenal relasi-relasi persaudaraan. Masyarakat juga akan di katakan modern jika mereka sadar akan resiko-resiko globalisasi. Dan sebagai ciri masyarakat modern adalah membangun peradaban masyarakat rasional dengan bertingkah laku serta menggunakan kesadaran. Semua perbuatan di era ini beresiko, temasuk resiko globalisasi dan tatanan dunia yang akan menggilas manusia kapanpun (Amir Syarifuddin, 2005: 261).
Sebenarnya standard yang di gunakan dalam mengetahui sejauh mana suatu masyarakat di kategorikan sebagai masyarakat modern tidaklah pasti, tinggal bagaimana dan dari sisi apa pengertian tersebut di berikan. Indikator masyarakat modern menurut Nur Cholis Majid (1993: 171-173) adalah:
1. Terjadinya perubahan yang berstatus quo menjadi tidak berstatus quo.
2. Terjadinya perubahan sosial yang menyertai proses industrialisasi.
3. Terjadinya perubahan cara berfikir seseorang dalam melihat masalah.
4. Masyarakat bersifat terbuka terhadap perubahan, persoalan yang ada.
5. Terjadinya kemajuan dalam bidang tekhnologi, sains dan pengetahuan.
6. Seseorang sangat menghargai waktu dan beranggapan waktu adalah uang.
Kehidupan masyarakat modern, sangatlah berbeda dengan kehidupan sebelum era modern. Salah satu yang menandainya adalah perubahan yang terus menerus dan arus globalisasi yang semakin tidak terkendali. Walaupun berbagai perubahan tersebut banyak membawa manfaat namun tidaklah sedikit dari pengaruhnya justru mengarah kepada hal-hal yang negatif, bahkan akan menghancurkan umat manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah mungkin terjadi jika semua kemajuan tersebut tidak di iringi dengan kemajuan dalam bidang Agama dan pencerahan spiritual.
Sebagai umat yang memegang ajaran yang benar, seorang muslim haruslah mampu menyikapi globalisasi dan kemajuan zaman ini dengan sikap yang benar pula, yaitu: pertama, menghadapi globalisasi secara aktif dengan arti menempatkan dirinya sebagai subjek dalam globalisasi itu. Dalam bidang agama umpamanya ia mampu memperkenalkan ketinggian nilai agama keseluruh penjuru dunia, sehingga agama itu di terima dunia sebagai penyelesai kemelut yang melanda dunia. Demikian pula dalam bidang budaya, ia mampu menjadikan budaya negeri yang agamis ini menjadi budaya global.
Kedua, menghadapi globalisasi secara pasif, dalam arti ia menempatkan dirinya sebagai objek dari globalisassi dan dalam kedudukan itu ia berusaha untuk memperkecil atau menghilangkan dampak negatif yang mungkin timbul dari globalisasi itu. Dalam konteks ini berusaha memanfaatkan sebanyak mungkin dampak positif yang terdapat dalam arus globalisasi (Amir Syarifuddin, 2005: 11).
Yang pasti dan tetap harus di miliki oleh umat Islam di zaman modern ini adalah mereka harus melaksanakan tuntunan (syariat) Agama dengan sebenar-benarnya, selain itu sangat di butuhkan adanya masyarakat yang mempunyai akhlak yang baik (baik akhlak individu maupun akhlak sosial) yang salah satunya di bangun melalui suatu jalan yaitu tarekat. Dengan pengamalan tarekat inilah akidah mereka akan tetap kuat walaupun mereka berada pada zaman yang boleh di katakana rusak.
Pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah khususnya, menekankan pengajaran dzikir yang di lakukan secara istiqomah atau kontinyu dengan menggunakan lafadz-lafadz tertentu yaitu laa ilaaha illallah (di lakukan dengan suara keras) dan lafadz Allah (di lakukan dengan sirri atau dalam hati). Dengan dzikir inilah mereka akan mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan ilustrasi bahwa orang yang berdzikir ibarat orang yang hidup dan orang yang tidak berdzikir ibarat orang yang mati. Orang hidup adalah orang yang pekerja, produktif, proaktif, kreatif serta sensitife terhadap nilai-nilai hidup. Lain halnya dengan orang mati, selalu mengandalkan orang lain untuk di kasihi, dan tidak ada lagi upaya-upaya dalam kehidupan, tidak sensitif apalagi kreatif.
Begitulah, orang yang berdzikir adalah seseorang yang hidup hatinya, jernih fikiranya dan selalu beramal positif. Aktifitasnya selalu di warnai nilai kemaslahatan dan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain (Idris Abdul Shomad, 2005: 35).
Dalam hal ini berarti seseoarang yang mengamalkan dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah akan memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersamaan. Hal ini karena mereka akan mampu mewarnai segala sesuatu dengan nilai kemaslahatan dan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain.
Lebih lanjut DR. H. M. Idris Abdul Shomad, MA (2005: 29-39), menyebutkan bahwa fungsi dan fadhilah dzikir sangat besar sekali, baik bagi diri orang yang berdzikir sendiri, hubungan dirinya dengan orang lain dan lebih-lebih hubungan dirinya dengan Allah SWT. Di antara fungsi dan fadhilah dzikir adalah sebagai berikut:
1. Dzikir merupakan perintah Allah, sekaligus sebagai media taqarrub kepada Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Al Baqarah: 152” Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”.
2. Dzikir merupakan indikasi insan Ulul Albab (orang yang berakal), hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Ali Imran: 190-191:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

3. Dzikir sebagai penenang jiwa, hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS. Ar Ra’d: 28 yang artinya: “ yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.
4. Dzikir sebagai saran tazkiyah an-nafs (pensucian jiwa). Hati ibarat panglima, jika panglimanya baik maka prajuritnya akan menjadi baik. Sebaliknya bila panglima adalah orang yang busuk, maka prajuritnya akan menjadi busuk, sebusuk panglimanya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits “ketahuilah dalam diri kamu ada sekerat daging, jika ia baik maka akan baik seluruh anggota badan. Sebaliknya, jika rusak maka akan rusaklah seluruh anggota badanya, ketahuilah sekerat daging tersebut adalah hati”. Oleh karena itu hendaknya hati seseorang selalu di isi dengan dzikir dan ingat kepada Allah SWT, sehingga seluruh amal dan tingkah lakunya menjadi baik.
5. Dengan melakukan dzikrullah akan memperoleh ampunan Allah SWT, sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al Ahzab: 35: “Sesungguhnya orang-orang muslim laki-laki dan perempuan…………yang banyak berdzikir, Allah sediakan untuk mereka maghfirah (ampunan) dan pahala yang besar”.
6. Memperoleh segala kebajikan dari sisi Allah SWT.
7. Memudahkan pengamalan dan pelaksanaan ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya: “Ya Raasulullah, ajaran Islam melimpah banyak, beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat (memudahkanku) mengamalkan ajaran Islam tersebut. Nabi menjawab: basahilah selalu lidahmu dengan dzikrullah” (HR. Tirmidzi).
8. Memperoleh taufik, inayah dan kesertaan Allah SWT dalam setiap waktu-waktunya, sehingga ia akan senantiasa melakukan perbuatan yang baik dan terjaga dari semua perbuatan jelek.
9. Memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Itulah berbagaimacam fungsi dan faedah dari dzikir. Yang pada intinya seseorang yang berdzikir dapat memberikan manfaat baik bagi diri orang yang berdzikir sendiri, hubungan dirinya dengan orang lain dan lebih-lebih hubungan dirinya dengan Allah SWT. Hal ini berarti orang yang mengamalkan dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, mereka mempunyai kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Selain pengajaran dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, dalam tarekat ini juga di ajarkan berbagai macam cara membangun akhlak individu dan akhlah sosial, antara lain melalui taubat, mujahadah, khalwah dan uzlah, taqwa, wara’, zuhud, diam, takut, raja’, itsar, qona’ah, syukur, tawakal, yakin, sabar, ridho, muroqobah, istiqomah, sidiq, dzikir, mahabah, dan lain-lain. Ajaran-ajaran inilah yang akan membuat seseorang memiliki ESQ atau kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi, karena sebenarnya ajaran yang ada dalam tarekat ini juga memberikan bimbingan untuk mengenal dan memahami perasaan kita sendiri, dan perasaan orang lain, memotifasi diri mengelola emosi dalam hubungannya dengan dirinya maupun dengan orang lain yang di landasi hubungan manusia dengan Tuhanya. Sehingga konsep dari pengamalan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah sebenarnya dapat menumbuhkan potensi ESQ seseorang.
Hal inilah yang antara lain akan menumbuhkan sifat dan sikap yang harus di miliki oleh setiap manusia dalam mencapai keberhasilan dan kebahagiaan yang hakiki. Sifat dan sikap itu antara lain:
1. Kekuatan Prinsip
Kekuatan prinsip ini telah di contohkan oleh sahabat Bilal r.a, ketika beliau di paksa untuk kembali kepada ajaran nenek moyangnya, namun beliau menolak dan tatap berpegang kepada kebenaran yaitu ajaran tauhid walaupun beliau harus di siksa. Kekuatan prinsipnya sangat besar dalam memegang kalimat “Ahad..Ahad”. Dalam kondisi bagaimanapun dia tetap percaya bahwa kebenaran akan selalu bersamanya untuk menang. Melalui kekuatan prinsipnya Bilal mampu mengeluarkan dan memisahkan antara (fisik) yang terbatas dan terbelenggu dan hatinya yang bebas, yang akhirnya bilal mendaptkan keberhasilan dan kebenaran yang hakiki. Dan inilah yang akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akherat (Ary Ginanjar Agstian, 2001: 6).
2. Bangga dan percaya diri.
Seseorang yang mantap imanya dan mengetauhui makna tauhid niscaya mereka akan sangat bangga dan percaya diri menjadikan Islam sebagai agamanya dan mengamalkan seluruh ajaranya. Kandungan pengertian kalimah toyyibah (laa ilaaha illallah) merupakan proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan yang nilainya jauh lebih dari Deklaration of human Right yang di agung-agungkan oleh Negeri Barat (Ary Ginanjar, 2001: 78-79).
3. Mempunyai ketangguhan pribadi.
Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan atau prinsip hidup yang kokoh dan kuat. Dengan ketangguhan pribadi yang kuat maka seseorang dapat mempunyai kemampuan dalam penetapan misi, pembangunan karakter, pengendalian diri. Ia mampu keluar dari dalam diri, untuk melihat dirinya sendiri dari luar, sehingga mampu bersikap adil dan terbuka pada dirinya dan orang lain. Itulah ketangguhan
pribadi yang di hasilkan apabila hanya berpegang kepada Allah, dan tidak ada Illah lain baginya yang menjadi gantungan hidupnya (Ary Ginanjar, 2001: 177).
4. Mempunyai ketangguhan sosial.
Apabila seseorang memegang ajaran agama Islam dengan kuat, maka dirinya akan terlatih untuk berperilaku dan memiliki ketangguhan sosial yang tinggi. Karena antara lain, dalam ajaran Islam di perintahkan untuk zakat, puasa, shodaqoh dan lain-lain. Semua ajaran tersebut merupakan pelatihan yang nyata dalam memelihara lingkungan sosial dengan prinsip memberi, merasakan yang di rasakan orang lain, sehingga tercipta suatu sinergi. Sinergi adalah kerjasama antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang lain atau dengan kelompok lainya dengan menghargai perbedaan yang ada (Ary Ginanjar, 2001: 239).
Konsep-konsep ajaran Islam inilah apabila di pegang kuat oleh umatnya, maka ia akan mempunyai kecerdasan dalam berbagai bidang kehidupan baik mencakup emosional maupun spiritual. Dan konsep-konsep ajaran yang ada dalam Islam ini sebenarnya lebih tinggi nilainya dan aplikatif pelaksanaanya di bandingkan dengan konsep yang di bangun oleh barat.


BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment