Peningkatan Kualitas Keimanan melalui Thoriqot(3)

1.2. SQ (Emotional Quotient) dalam Perspektif Ajaran Tarekat
Sebelumnya telah di jelaskan bahwa kecerdasan spiritual memiliki indikasi dan unsur-unsur pembangunya yang nampak pada sifat dan karakteristik yang terdapat pada diri seseorang, seperti kejujuran, komunikatif, mengenal motif dirinya sendiri, berkesadaran yang tinggi, memanfaatkan serta mentransendenkan kesulitan.
Di lihat dari perspektif sufistik ataupun ajaran tarekat ciri-ciri kecerdasan spiritual itu juga terdapat dalam ajaran tarekat, antara lain motif yang dalam kesadaran yang tinggi dan sikap responsive terhadap diri menurut ajaran tarekat dapat di wujudkan dengan berbagai cara, seperti tafakkur dan uzlah.
Tafakkur berarti perenungan, yaitu merenungkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta kebesaranya di langit dan bumi. Tafakkur sebaiknya di lakukan setiap hari, terutama pada tengah malam. Karena tengah malam merupakan saat yang paling baik, lengang, jernih dan tepat untuk pensucian jiwa.
Ketika bertafakkur kita di anjurkan untuk merenungkan karunia, kemurahan dan nikmat yang telah di limpahkan oleh Allah SWT. Tafakkur mengenai nikmat Allah akan mendorong kita untuk selalu mensyukuri dan menyibukkan diri dengan ibadah dan amal sholeh sebagai wujud kecintaan kepada Allah SWT, sehingga nantinya kita akan mampu melakukan hubungan, baik secara vertikal maupun horiazontal (Sudirman Tebba, 2003: 123-24).
Kemudian ciri-ciri kecerdasan spiritual yang lain menurut ajaran tasawuf atau tarekat juga di kembangkan dengan cara uzlah. Abdul Qosim (2002: 135), mengatakan uzlah secara esensial berarti menghindarkan diri dari perilaku yang tercela, sedangkan urgensinyanya dapat di realisasikan untuk menggantikan berbagai sifat (tercela di ganti dengan sifat yang baik) bukan untuk menjauhkan diri dari tanah air (dunia). Dalam konteks seperti ini dapat di ajukan pertanyaan, siapakah orang yang makrifat itu? jawabanya adalah orang yang selalu ada tetapi jauh, yang berarti ia selalu bersama dengan orang lain tetapi hatinya jauh dari mereka.
Ciri kecerdasan spiritual tentang kemampuan mentransendenkan penderitaan menurut tasawuf ataupun ajaran tarekat dapat di lakukan misalnya dengan sikap tawakal dan ridho. Tawakal berarti berserah diri, maksudnya berserah diri kepada keputusan Allah terutama ketika melakukan suatu perbuatan atau ikhtiyar. Jadi tawakal harus di dahului oleh ikhtiyar untuk memenuhi suatu keperluan. Misalnya untuk hidup layak orang harus bekerja keras melakukan pekerjaan yang halal. Bagaimana hasilnya, sukses ataupun gagal, bahagia atupun sengsara, sepenuhnya di serahkan kepada Allah SWT (Sudirman Tebba, 2003: 25).
Ridho berarti senang, maksudnya senang menjadikan Allah sebagai Tuhanya, senang kepada ajaran dan takdirnya, bahagia atupun sengsara. Menurut Abdur Rahman Ad-Daram sebagaimana yang di kutip oleh Abdul Qosim (2002: 275), apabila hamba meninggalkan syahwat, maka dia adalah orang yang ridho. Lebih lanjut menurut Ibnu Atho’ nafsu akan di dahului oleh buruknya budi pakerti dan oleh karena itu seorang hamba di perintahkan agar terus-menerus berbudi pakerti yang baik.
Lalu ciri kecerdasan spiritual tentang kemampuan menentang atau berbeda dengan orang banyak dapat di kembangkan dengan sikap saja’ah. Sikap saja’ah berarti mempunyai sikap pemberani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar walaupun harus menanggung resiko yang berat. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan “ berani karena benar takut karena salah”, dan ucapan Rasulullah yang artinya “katakanlah yang haq (benar) walaupun pahit rasanya”.
Kemudian ciri kecerdasan spiritual tentang keengganan mengganggu dan menyakiti ada kesamaanya dengan sikap shidiq dalam tasawuf. Shidiq berarti benar dan jujur, maksudnya benar dan jujur dalam perkataan dan perbuatan. Membiasakan benar merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Tuhan, dan bersikap benar juga merupakan nilai hidup yang sangat penting dalam hubungan sesama manusia dan alam, sekaligus menjadi sendi kemajuan manusia sebagai pribadi dan kelompok.
Mengenai ciri kecerdasan spiritual tentang memperlakukan Agama secara cerdas hal ini sesuai dengan tasawuf, karena ajaranya mencakup dimensi esoteris atau batiniyah Agama, yaitu perbuatan hati seperti sabar, ikhlas, sederhana, adil dan semacamnya. Perbuatan hati bersifat universal melintasi batas-batas Agama.
Akhirnya, ciri kecerdasan spiritual tentang memperlakukan kematian secara cerdas ini juga sesuai dengan ajaran tasawuf. Dengan berdasarkan Al Qur’an tasawuf atau tarekat mengajarkan bahwa kematian harus di ingat dan bekal ibadah maupun amal sholeh haruslah di persiapkan ketika masih ada di dunia, karena kematian itu pasti di alami oleh semua orang dan pembalasan baik-burukpun pasti akan ada ketika di akherat kelak (Sudirman Tebba, 2003: 26-27). Semua penjelasan tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya pengamalan ajaran tarekat atau tasawuf, dapat meningkatkan potensi SQ (Spiritual-Quotient), karena keduanya memiliki perspektif dan pendekatan yang sama.

2. Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) Masyarakat Muslim di Era Modern
Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa amalan dari tarekat Qodiriyah secara khusus adalah dzikir jahr dengan lafadz laa ilaha illaah setiap selesai sholat wajib lima waktu sebanyak 165 secara istiqomah (terus menerus). Sedangkan amalan Tarekat Naqsabandiyah secara khusus adalah dzikir sirri dengan kalimat Allah secara istiqomah dan terus menerus, sehingga setiap nafasnya selalu terlewati oleh kalimah Allah tersebut.
Apabila kalimat tauhid, sebagaimana yang di ajarkan oleh tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah tersebut benar-benar di amalkan dan telah meresap ke dalam sanubari seseorang serta ia yakin sepenuhnya akan kebenaranya, maka secara otomatis potensi kecerdasan emosional maupun spiritualnya akan meningkat, karena ia akan mampu untuk melakukan hubungan, baik secara vertikal (antara manusia dengan Tuhanya) maupun horizontal (manusia terhadap dirinya sendiri, manusia dengan manusia yang lainya, dan manusia dengan alam sekitarnya).
Setiap orang pasti akan hidup dengan orang lain, melakukan hubungan dan kerjasama dengan mereka. Oleh karena itu mereka tidak akan pernah bisa dipisahkan, karena mereka saling membutuhkan dan mendukung untuk kesuksesan dalam mengarungi kehidupanya. Dalam hal ini haruslah di bangun kehidupan bermasyarakat yang baik, yang maasing-masing anggota masyarakatnya mempunyai kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual yang tinggi.
Organisasi masyarakat adalah suatu kemestian bagi jenis manusia (al ijtima’u dloririyyun li an-naw’i al insani). Tanpa itu wujud umat manusia tidaklah sempurna. Tanpa organisasi masyarakat keinginan Tuhan yang hendak memakmurkan dunia dengan makhluk manusia dan menjadikan mereka khalifah-khalifahnya di bumi ini tentulah tidak akan terbukti (Osman Raliby, 1978: 139).
Islam memandang masyarakat adalah suatu bentuk kumpulan manusia serta memiliki suatu tujuan. Tujuan dari masyarakat Islam adalah terbentuknya masyarakat yang adil, makmur yang berdasarkan asas ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan tersebut menjadi kunci bagi pelapisan manusia dalam system masyarakat dalam rangka mencapai masyarakat adil dan makmur. Dalam mencapai kerangka dasar ketaqwaan tersebut, Islam mempunyai metode penanaman mental yang harus di miliki oleh individu sebagai anggota masyarakat (Koentjoroningrat, 1990: 133).
Di dalam Islam secara tegas di nyatakan bahwa manusialah yang memegang peran menentukan kondisi dunianya. Apapun yang terjadi di masa depan amat bergantung kepada manusia yang oleh Allah telah di tetapkan sebagai pengelola bumi, sehingga akan menentukan kondisi masyarakat dan lingkunganya (Fuad Amsyari, 1993:26), oleh karena itu harus melaksanakan tuntunan (syariat) agama, selain itu sangat dibutuhkan masyarakat yang mempunyai akhlak yang baik.
Dengan memegang syari’at Agama secara kuat dan selalu berakhlak yang baik maka manusia akan mampu mencapai kehidupan yang bahagia, sejahtera, mendapatkan ampunan dan keridho’an dari Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakanya. Hal ini sebagaimana yang di katakan oleh Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, M.A. (2005: 262) bahwa:
Manusia dalam kehidupanya sehari-hari haruslah melakukan apa yang di suruh Allah SWT dan menjauhi perbuatan yang di larang Allah secara sadar dan taat, atas dasar keimanan dan ketakwaan adalah manusia yang telah menjalankan hukum Allah dan dengan sendirinya adalah manusia yang baik di mata Allah. Ia adalah manusia yang berakhlak baik dan mulia oleh karenanya mendapatkan ampunan dan keridhoaan Allah. Dengan demikian manusia yang baik itu merupakan tujuan akhir atau ultimate goal dari akhlak dan sekaligus menjadi target hukum syara’.

Tatanan kehidupan masyarakat yang begitulah yang sebenarnya sangat di butuhkan dan memang harus ada. Namun kondisi demikian sepertinya sulit di lakukan untuk zaman seperti saat ini yang semakin menglobal dan semakin memudarnya ajaran-ajaran keagamaan.
Saat ini masyarakat telah berada di zaman modern. Zaman yang telah mengalami perubahan-perubahan secara menyeluruh dan cepat. Masyarakat modern adalah masyarakat yang mengalami proses perombakan pola berfikir dan tata kerja lama yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja yang baru yang rasional dan ilmiyah serta bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.
Ketika dunia sudah masuk dalam sistem global dan masyarakat tidak menyadari akan sistem global tersebut, maka mereka harus siap menjadi tumbal modernitas. Karena memang kompetisi di dunia modern tidak banyak mengenal relasi-relasi persaudaraan. Masyarakat juga akan di katakan modern jika mereka sadar akan resiko-resiko globalisasi. Dan sebagai ciri masyarakat modern adalah membangun peradaban masyarakat rasional dengan bertingkah laku serta menggunakan kesadaran. Semua perbuatan di era ini beresiko, temasuk resiko globalisasi dan tatanan dunia yang akan menggilas manusia kapanpun (Amir Syarifuddin, 2005: 261).
Sebenarnya standard yang di gunakan dalam mengetahui sejauh mana suatu masyarakat di kategorikan sebagai masyarakat modern tidaklah pasti, tinggal bagaimana dan dari sisi apa pengertian tersebut di berikan. Indikator masyarakat modern menurut Nur Cholis Majid (1993: 171-173) adalah:
1. Terjadinya perubahan yang berstatus quo menjadi tidak berstatus quo.
2. Terjadinya perubahan sosial yang menyertai proses industrialisasi.
3. Terjadinya perubahan cara berfikir seseorang dalam melihat masalah.
4. Masyarakat bersifat terbuka terhadap perubahan, persoalan yang ada.
5. Terjadinya kemajuan dalam bidang tekhnologi, sains dan pengetahuan.
6. Seseorang sangat menghargai waktu dan beranggapan waktu adalah uang.
Kehidupan masyarakat modern, sangatlah berbeda dengan kehidupan sebelum era modern. Salah satu yang menandainya adalah perubahan yang terus menerus dan arus globalisasi yang semakin tidak terkendali. Walaupun berbagai perubahan tersebut banyak membawa manfaat namun tidaklah sedikit dari pengaruhnya justru mengarah kepada hal-hal yang negatif, bahkan akan menghancurkan umat manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah mungkin terjadi jika semua kemajuan tersebut tidak di iringi dengan kemajuan dalam bidang Agama dan pencerahan spiritual.
Sebagai umat yang memegang ajaran yang benar, seorang muslim haruslah mampu menyikapi globalisasi dan kemajuan zaman ini dengan sikap yang benar pula, yaitu: pertama, menghadapi globalisasi secara aktif dengan arti menempatkan dirinya sebagai subjek dalam globalisasi itu. Dalam bidang agama umpamanya ia mampu memperkenalkan ketinggian nilai agama keseluruh penjuru dunia, sehingga agama itu di terima dunia sebagai penyelesai kemelut yang melanda dunia. Demikian pula dalam bidang budaya, ia mampu menjadikan budaya negeri yang agamis ini menjadi budaya global.
Kedua, menghadapi globalisasi secara pasif, dalam arti ia menempatkan dirinya sebagai objek dari globalisassi dan dalam kedudukan itu ia berusaha untuk memperkecil atau menghilangkan dampak negatif yang mungkin timbul dari globalisasi itu. Dalam konteks ini berusaha memanfaatkan sebanyak mungkin dampak positif yang terdapat dalam arus globalisasi (Amir Syarifuddin, 2005: 11).
Yang pasti dan tetap harus di miliki oleh umat Islam di zaman modern ini adalah mereka harus melaksanakan tuntunan (syariat) Agama dengan sebenar-benarnya, selain itu sangat di butuhkan adanya masyarakat yang mempunyai akhlak yang baik (baik akhlak individu maupun akhlak sosial) yang salah satunya di bangun melalui suatu jalan yaitu tarekat. Dengan pengamalan tarekat inilah akidah mereka akan tetap kuat walaupun mereka berada pada zaman yang boleh di katakana rusak.
Pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah khususnya, menekankan pengajaran dzikir yang di lakukan secara istiqomah atau kontinyu dengan menggunakan lafadz-lafadz tertentu yaitu laa ilaaha illallah (di lakukan dengan suara keras) dan lafadz Allah (di lakukan dengan sirri atau dalam hati). Dengan dzikir inilah mereka akan mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan ilustrasi bahwa orang yang berdzikir ibarat orang yang hidup dan orang yang tidak berdzikir ibarat orang yang mati. Orang hidup adalah orang yang pekerja, produktif, proaktif, kreatif serta sensitife terhadap nilai-nilai hidup. Lain halnya dengan orang mati, selalu mengandalkan orang lain untuk di kasihi, dan tidak ada lagi upaya-upaya dalam kehidupan, tidak sensitif apalagi kreatif.
Begitulah, orang yang berdzikir adalah seseorang yang hidup hatinya, jernih fikiranya dan selalu beramal positif. Aktifitasnya selalu di warnai nilai kemaslahatan dan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain (Idris Abdul Shomad, 2005: 35).
Dalam hal ini berarti seseoarang yang mengamalkan dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah akan memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersamaan. Hal ini karena mereka akan mampu mewarnai segala sesuatu dengan nilai kemaslahatan dan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain.
Lebih lanjut DR. H. M. Idris Abdul Shomad, MA (2005: 29-39), menyebutkan bahwa fungsi dan fadhilah dzikir sangat besar sekali, baik bagi diri orang yang berdzikir sendiri, hubungan dirinya dengan orang lain dan lebih-lebih hubungan dirinya dengan Allah SWT. Di antara fungsi dan fadhilah dzikir adalah sebagai berikut:
1. Dzikir merupakan perintah Allah, sekaligus sebagai media taqarrub kepada Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Al Baqarah: 152” Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”.
2. Dzikir merupakan indikasi insan Ulul Albab (orang yang berakal), hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Ali Imran: 190-191:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

3. Dzikir sebagai penenang jiwa, hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS. Ar Ra’d: 28 yang artinya: “ yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.
4. Dzikir sebagai saran tazkiyah an-nafs (pensucian jiwa). Hati ibarat panglima, jika panglimanya baik maka prajuritnya akan menjadi baik. Sebaliknya bila panglima adalah orang yang busuk, maka prajuritnya akan menjadi busuk, sebusuk panglimanya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits “ketahuilah dalam diri kamu ada sekerat daging, jika ia baik maka akan baik seluruh anggota badan. Sebaliknya, jika rusak maka akan rusaklah seluruh anggota badanya, ketahuilah sekerat daging tersebut adalah hati”. Oleh karena itu hendaknya hati seseorang selalu di isi dengan dzikir dan ingat kepada Allah SWT, sehingga seluruh amal dan tingkah lakunya menjadi baik.
5. Dengan melakukan dzikrullah akan memperoleh ampunan Allah SWT, sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al Ahzab: 35: “Sesungguhnya orang-orang muslim laki-laki dan perempuan…………yang banyak berdzikir, Allah sediakan untuk mereka maghfirah (ampunan) dan pahala yang besar”.
6. Memperoleh segala kebajikan dari sisi Allah SWT.
7. Memudahkan pengamalan dan pelaksanaan ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya: “Ya Raasulullah, ajaran Islam melimpah banyak, beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat (memudahkanku) mengamalkan ajaran Islam tersebut. Nabi menjawab: basahilah selalu lidahmu dengan dzikrullah” (HR. Tirmidzi).
8. Memperoleh taufik, inayah dan kesertaan Allah SWT dalam setiap waktu-waktunya, sehingga ia akan senantiasa melakukan perbuatan yang baik dan terjaga dari semua perbuatan jelek.
9. Memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
Itulah berbagaimacam fungsi dan faedah dari dzikir. Yang pada intinya seseorang yang berdzikir dapat memberikan manfaat baik bagi diri orang yang berdzikir sendiri, hubungan dirinya dengan orang lain dan lebih-lebih hubungan dirinya dengan Allah SWT. Hal ini berarti orang yang mengamalkan dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, mereka mempunyai kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Selain pengajaran dzikir dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, dalam tarekat ini juga di ajarkan berbagai macam cara membangun akhlak individu dan akhlah sosial, antara lain melalui taubat, mujahadah, khalwah dan uzlah, taqwa, wara’, zuhud, diam, takut, raja’, itsar, qona’ah, syukur, tawakal, yakin, sabar, ridho, muroqobah, istiqomah, sidiq, dzikir, mahabah, dan lain-lain. Ajaran-ajaran inilah yang akan membuat seseorang memiliki ESQ atau kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi, karena sebenarnya ajaran yang ada dalam tarekat ini juga memberikan bimbingan untuk mengenal dan memahami perasaan kita sendiri, dan perasaan orang lain, memotifasi diri mengelola emosi dalam hubungannya dengan dirinya maupun dengan orang lain yang di landasi hubungan manusia dengan Tuhanya. Sehingga konsep dari pengamalan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah sebenarnya dapat menumbuhkan potensi ESQ seseorang.
Hal inilah yang antara lain akan menumbuhkan sifat dan sikap yang harus di miliki oleh setiap manusia dalam mencapai keberhasilan dan kebahagiaan yang hakiki. Sifat dan sikap itu antara lain:
1. Kekuatan Prinsip
Kekuatan prinsip ini telah di contohkan oleh sahabat Bilal r.a, ketika beliau di paksa untuk kembali kepada ajaran nenek moyangnya, namun beliau menolak dan tatap berpegang kepada kebenaran yaitu ajaran tauhid walaupun beliau harus di siksa. Kekuatan prinsipnya sangat besar dalam memegang kalimat “Ahad..Ahad”. Dalam kondisi bagaimanapun dia tetap percaya bahwa kebenaran akan selalu bersamanya untuk menang. Melalui kekuatan prinsipnya Bilal mampu mengeluarkan dan memisahkan antara (fisik) yang terbatas dan terbelenggu dan hatinya yang bebas, yang akhirnya bilal mendaptkan keberhasilan dan kebenaran yang hakiki. Dan inilah yang akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akherat (Ary Ginanjar Agstian, 2001: 6).
2. Bangga dan percaya diri.
Seseorang yang mantap imanya dan mengetauhui makna tauhid niscaya mereka akan sangat bangga dan percaya diri menjadikan Islam sebagai agamanya dan mengamalkan seluruh ajaranya. Kandungan pengertian kalimah toyyibah (laa ilaaha illallah) merupakan proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan yang nilainya jauh lebih dari Deklaration of human Right yang di agung-agungkan oleh Negeri Barat (Ary Ginanjar, 2001: 78-79).
3. Mempunyai ketangguhan pribadi.
Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan atau prinsip hidup yang kokoh dan kuat. Dengan ketangguhan pribadi yang kuat maka seseorang dapat mempunyai kemampuan dalam penetapan misi, pembangunan karakter, pengendalian diri. Ia mampu keluar dari dalam diri, untuk melihat dirinya sendiri dari luar, sehingga mampu bersikap adil dan terbuka pada dirinya dan orang lain. Itulah ketangguhan
pribadi yang di hasilkan apabila hanya berpegang kepada Allah, dan tidak ada Illah lain baginya yang menjadi gantungan hidupnya (Ary Ginanjar, 2001: 177).
4. Mempunyai ketangguhan sosial.
Apabila seseorang memegang ajaran agama Islam dengan kuat, maka dirinya akan terlatih untuk berperilaku dan memiliki ketangguhan sosial yang tinggi. Karena antara lain, dalam ajaran Islam di perintahkan untuk zakat, puasa, shodaqoh dan lain-lain. Semua ajaran tersebut merupakan pelatihan yang nyata dalam memelihara lingkungan sosial dengan prinsip memberi, merasakan yang di rasakan orang lain, sehingga tercipta suatu sinergi. Sinergi adalah kerjasama antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang lain atau dengan kelompok lainya dengan menghargai perbedaan yang ada (Ary Ginanjar, 2001: 239).
Konsep-konsep ajaran Islam inilah apabila di pegang kuat oleh umatnya, maka ia akan mempunyai kecerdasan dalam berbagai bidang kehidupan baik mencakup emosional maupun spiritual. Dan konsep-konsep ajaran yang ada dalam Islam ini sebenarnya lebih tinggi nilainya dan aplikatif pelaksanaanya di bandingkan dengan konsep yang di bangun oleh barat.(bersambung)

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment