Peran Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)

Peran Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dalam Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)
Sungguh sebuah fenomena yang sangat mengharukan ketika agama yang berkembang selama ini, hanya berkembang tanpa di isi ruh di dalamnya. Akibatnya banyak orang yang beragama, namun tidak mampu merasakan arti agama yang sebenarnya, banyak orang yang beragama namun akhlak dan tindakan-tindakanya tidaklah mencerminkan bahwa mereka orang yang beragama. Satu bukti nyata dari kondisi tersebut adalah keberadaan Negara kita Indonesia, yang terkenal sebagai Negara agamis bahkan merupakan Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, dalam realitanya Negara ini termasuk urutan lima besar Negara terkorupsi. Selain itu contoh lain yang saat ini sedang gencar-gencarnya di tangani pemerintah adalah masalah pornografi. Indonesia merupakan Negara yang tingkat pornografinya urutan kedua di dunia (sambutan KH. Baidhowi Muslich dalam acara Peringatan Muharam, tanggal 9 Januari 2006, di Pon-Pes Miftahul Huda).
Mengembalikan ruh agama itulah yang saat ini sangat di butuhkan. Ruh agama inilah yang di namakan dengan ajaran tasawuf dan secara lebih khusus dapat di tempuh dengan jalan mengamalkan ajaran tarekat. Tarekat yang di kembangkan di pondok pesantren Miftahul Huda Malang adalah tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Dengan pengamalan tarekat inilah di harapkan akan mampu membawa kehidupan masyarakat yang bahagia, sejahtera menuju tujuan yang hakiki.
Pada saat yang bersamaan kitapun sadar, bahwa Islam bukanlah sekedar perangkap konsep ideal, tatapi juga amal yang dapat di praktekkan yang akan tetap aktual. Islam bukan sekedar agama langit, tetapi sekaligus juga agama yang dapat membumi (workable).
Islam saat ini kurang mampu berkembang, sekaligus keberadaan Islam semakin jauh dari kemajuan negara-negara non Islam. Hal ini karena mungkin selama ini umat Islam hanya mengangap bahwa sebenarnya ajaran Islam hanya terfokus kepada masalah-masalah ritual dan bagaimana seseorang akan selamat di akherat. Mereka melupakan bahwa sesungguhnya Islam yang sebenarnya, sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW adalah bagaimana menjadikan Islam ini sebagai rahmatan lil alamin, yang seluruh ajaranya di jadikan sebagai pedoman dalam seluruh aktifitas hidup, serta bagaimana menjadikan Islam sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.
Islam bukanlah Agama yang memisahkan dunia dan akherat, tetapi bagaimana seseorang dapat menyeimbangkan keduanya. Untuk memperoleh kebahagiaan di akherat seseorang harus melalui dunia karena mereka memang hidup di dunia. Akhirnya bagaimana seseorang dapat menjadikan dunia sebagai kendaraan dalam mencapai kebahagiaan akherat (pengajian: KH. Abd Rahman Yahya, 4 Januari 2006).
Penyesuaian antara dunia-akherat inilah yang sebenarnya sangat di tekankan dalam pengajaran tasawuf atau tarekat. Ajaran tarekat secara umum adalah pengajaran aqidah yaitu dzikir kalimat istmu dzat Allah ataupun laa ilaaha illallah, yang di baca secara istiqomah setiap selesai sholat maktubah dan pengajaranya tentang bagaimana mempunyai akhlak yang baik dan menghilangkan akhlak yang jelek, serta ajaranya tentang bagaimana melalui akhlak tersebut mereka dapat melakukan hubungan yang baik bagi dirinya sendiri, diri sendiri dengan orang lain, maupun diri sendiri dengan Allah SWT. Ajaran inilah yang telah di letakkan oleh Rasulullah SAW sebagai ajaran kehidupan yang harus di amalkan oleh setiap orang Islam. Sehingga denganya umat islam akan maju dan jaya serta mempunyai generasi-generasi yang akan mampu mengubah dunia dari gelap gulita menjadi penuh bercahaya dan selalu mendapatkan ridho Allah SWT.
Untuk memperoleh keberhasilan dalam menjalani kehidupan, sebagaimana penelitian para ahli, bahwa seseorang haruslah mempunyai kecerdasan emosional sekaligus kecerdasan spiritual atau yang di kenal dengan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient). Dari penelitian yang penulis lakukan ternyata kedua kecerdasan tersebut dapat di kembangkan melalui pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, karena memang keduanya mempunyai perspektif yang sama.
Lebih lanjut, KH. Baidhowi Muslich mengatakan bahwa ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang di kembangkan di pondok pesantren Miftahul Huda Malang, bukan hanya sebuah ajaran ritual belaka, tetapi mempunyai makna yang maha penting dalam membangun kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual atau yang di kenal dengan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient), karena ternyata pokok pikiran yang ada di dalam ajaran ini, juga memberikan bimbingan untuk mengenal dan memahami perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, menjalani hubungan dengan orang lain sekaligus dengan Tuhanya, memotivasi diri, serta mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain, yang di latih melalui pengajaranya dalam menumbuhkan sifat takhalli, tahalli, dan tajalli.
Dari sejarahnya saja menunjukkan bahwa tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dapat di jadikan sebagai wahana dalam menumbuhkan ESQ. KH Abdur Rahman Yahya (wawancara, 17 Februari 2006) menceritakan bahwa, sejarah dari tarekat Qodiriyah adalah berasal dari sahabat Ali r.a yang mendapatkan bai’at langsung dari Rasulullah SAW. Kejadianya adalah ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi, kemudian dia mengatakan bahwa rukun Islam telah dia laksanakan, akan tetapi untuk rukun Islam yang berhubungan dengan membayar zakat dan jihad belum mampu dia lakukan. Hal tersebut karena sahabat tersebut hanya memegang agama secara syar’iahnya saja dan belum sampai kepada ruh agama atau maqom hakikat. Oleh karena itu, ketika itu juga yang sahabat Ali r.a berada di samping Nabi Muhammad SAW langsung di pegang tangannya dan di bai’at dengan kalimat Laa Ilaha Illallah dengan bersuara keras, agar dapat mencapai maqom hakikat, sehingga ajaran Islam apapun akan di laksanakan dengan penuh kesadaran dan penuh penyandaran diri kepada Allah SWT tanpa merasa berat sedikitpun. Pembaiatan dari Rasulullah SAW kepada sahabat Ali r.a inilah yang merupakan cikal bakal dari pengamalan tarekat Qodiriyah yang di anggap sebagai dasar dari suatu amalan yang datangnya langsung dari Rasulullah SAW, sehingga ajaranya bukanlah ajaran bid’ah dan tidak berdasar kepada sunah Rasulullah SAW.
Peristiwa tersebut secara garis besar dapat di jelaskan bahwa sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa rukun Islam yang berupa zakat dan jihad belum mampu dia lakukan, menunjukkan bahwa dirinya masih kurang mempunyai kepakaan social, sekaligus masih kurangnya keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Inilah yang menunjukkan bahwa dirinya masih belum mempunyai ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang tinggi. Dirinya masih mengerjakan amal dan aktifitas beragama secara dhohirnya saja. Amalnya masih belum sampai kepada kesadaran diri dan hakikat dari beragama itu sendiri. Oleh karena itu Rasulullah SAW saat itu juga membaiat sahabat Ali r.a, untuk meningkatkan amal ibadahnya sampai kepada hakikat keberagamaan yang sebenarnya. Sehingga pada akhirnya amalan Islam baik yang berupa zakat, jihad dan amal-amal yang lainnya dapat di laksanakan dengan penuh kesadaran diri dan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SAW. Inilah yang menunjukkan potensi ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) telah tumbuh dan berkembang secara baik.
Sedangkan untuk tarekat Naqsabandiyah di lihat dari sejarahnya, juga menunjukkan bahwa tarekat ini mempunyai hubungan dalam peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient). Tarekat Naqsabandiyah amalannya berasal dari Abu Bakar r.a, beliau menerima pelajaran spiritualnya pada malam hijrah, ketika ia dan Rasulullah SAW sedang bersembunyi di sebuah gua tak jauh dari Makkah. Ketika di kejar musuh dan bersembunyi di gua itu, kondisi emosi dan psikologi Abu Bakar r.a tidak tenang. Beliau merasa takut dan seluruh tubuhnya bergetar. Hal tersebut karena di sekeliling gua banyak terdapat musuh yang siap untuk membunuh mereka berdua. Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah SAW mengatakan “ janganlah engkau takut, karena sesungguhnya Allah bersama kita”. Dan saat itu juga Rasulullah SAW mengajarinya untuk berdzikir dalam hati dengan kalimat Allah. Dzikir diam dan sikap-sikap spiritual yang lainya inilah yang di percayainya kaum Naqsabandy telah di turunkan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar yang kemudian berlanjut kepada murid-muridnya, dan akhirnya di jadikan sebuah sistem oleh Syaikh Baha’ Al Din An Naqsabandy menjadi sebuah aliran tarekat yang di kenal dengan Naqsabandiyah.
Dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sebelum sahabat Abu Bakar r.a mendapat bai’at dan pengajaran spiritual dari Rasululah SAW, kondisi psikologi dan emosionalnya masih belum bisa terkendali secara baik, demikian juga penyandaran diri dan tawakal kepada Allah SWT masih kurang. Hal ini menunjukkan bahwa kecardasan emosi dan spiritual atau ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masih kurang. Sedangkan setelah beliau mendaptkan bai’at dan pengajaran spiritual dari Rasulullah SAW maka ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) beliau semakin meningkat dengan baik.
Setelah melihat dari sejarahnya, maka saat ini penulis mencoba mengkaji lebih dalam tentang pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah khususnya yang ada di pondok pesantren Miftahul Huda Malang dalam hubunganya dengan peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) bagi masyarakat muslim yang saat ini berada di era atau zaman modern.
Pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di pondok pesantren Miftahul Huda Malang yang akan menumbuhkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual antara lain dapat di lakukan dengan jalan:
1. Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) melalui pengamalan dzikir yang di lakukan secara kontinyu (istiqomah).
KH. Baidhowi Muslich (wawancara, 14 Februari 2006) mengatakan bahwa pengamalan dzikir dalam tarekat Qodiriyah dilakukan dengan keras (yakni bersuara keras). Dzikir utama dalam tarekat ini adalah La Ilaha illallah, yang di baca secara istiqomah setiap selesai sholat maktubah sebanyak 165 kali. Sedangkan amalan dzikir dalam tarekat Naqsabandiyyah merupakan dzikir tahap kedua setelah tarekat Qadiriyah. Dzikir ini di sebutkan sebagai dzikir itsmu dzat, yaitu dzikir dengan lafadz Allah di dalam hati (Dzikrul Qalbi) yang di baca secara berulang-ulang.
Setelah seseorang masuk tarekat, ternyata amaliyah tarekat tersebut membawa dampak terhadap perubahan tingkah laku (akhlaq), ini disebabkan oleh adanya pengaruh dzikir yang begitu kuat dan di lakukan secara istiqomah, yang mempengaruhi jiwa penganut tarekat. Secara singkat dapat di jelaskan bahwa dzikir yang di lakukan dalam ajaran tarekat ini di lakukan dengan cara sang dzakir (orang yang melantunkan dzikir) duduk seperti dalam shalat sambil menghadap kiblat dan harus menutup matanya sambil mengkonsentrasikan fikiranya kepada Allah. Kemudian mengucapkan kata La sembari menarik bunyi seperti dari pusar, mengangkatnya kebahunya, kemudian mengucapkan Ilaha sambil menarik bunyi dari otaknya. Sesudah itu, ia mestilah mengetukkannya, yakni mencamkan kata-kata Illa Allah dengan kuat dalam hatinya, seraya memikirkan bahwasanya Allah sajalah sang kekasih, dan bahwa nama Allah sajalah wujud hakiki dan tujuan hakiki dalam kehidupan. Pelafadan kalimat laa ilaha illallah tersebut melewati latifatus sab’ah yang merupakan tempat akhlak yang baik dan tempat akhlak yang jelek. Dengan selalu memasukkan lafadh laa ilaha illallah pada tempat-tempat latifatus sab’ah tersebut maka akan menimbulkan akhlak mahmudah (akhlak terpuji) dan menghilangkan akhlak madzmumah (akhlak tercela). Sehingga akhirnya mereka akan mempunyai kecerdasan akhlak baik secara pribadi maupun secara sosial.
Dengan adanya akhlak tersebut berarti potensi ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang dengan sendirinya akan semakin meningkat. Karena pada intinya ESQ merupakan suatu konsep dalam pembentukan kecerdasan akhlak pribadi dan akhlak sosial yang di sandarkan kepada nilai Ketuhanan.
KH. Abdur Rahman Yahya (wawancara, 17 Februari 2006), juga menjelaskan tentang pengaruh yang di dapatkan ketika seseorang mengamalkan dzikir secara istiqomah yaitu menjadikan orang tersebut khusyu’ dalam sholatnya. Karena kebiasaan dzikir yang mereka lakukan akan menghindarkan mereka dari perbuatan-parbuatan yang tercela, sekaligus dzikir juga dapat menghapuskan dosa-dosa mereka, sehingga menjadikan hati dan fikiran mereka bersih. Ketika hati dan fikiran mereka bersih maka akan menjadikan sholat mereka bisa lebih terkonsentrasi kepada Allah dan menjadikanya khusyu’. Dalam Al Qur’an di sebutkan“Dirikanlah sholat untuk mengingatku” Sholat merupakan ibadah pokok dalam islam, sebagaimana di sebutkan dalam hadist, yang artinya “Sholat adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikan sholat berarti dia mendirikan Agama. Barang siapa meninggalkan sholat berarti dia merobohkan Agama”.
Pencapaian khusyu’ dalam sholat sangatlah penting. Karena dengan khusyu’ tersebut mereka baru di katakan telah mendirikan dan melaksanakan sholat dengan sebenar-benarnya, di sini berarti mereka juga telah menegakkan Agama. Dan begitulah sebaliknya ketika seseorang tidak khusyu’ dalam sholatnya, berarti mereka tidaklah mendirikan sholat, dan barangkali merekalah yang bisa merusak Agama Islam itu sendiri.
Khusyu’ dalam sholat juga perlu di lakukan, karena dengan khusyu’ tersebut maka pengaruh dari sholat akan nampak pada orang tersebut. Sebagaimana yang di sebutkan dalam Al Qur’an, yang artinya “ Sesungguhnya sholat itu akan mencegah dari perbuatan yang keji (fakhsya’) dan tercela (mungkar)”. Di sinilah perlunya melakukan sholat dengan khusyu’. Saat ini banyak orang Islam yang walaupun mereka melakukan sholat namun aktifitas kehidupan mereka sangat jauh dari norma-norma kebaikan, mereka masih suka melakukan kejahatan, mereka masih suka mengganggu orang lain dan berbagai macam aktifitas kehidupan yang menggambarkan mereka bukanlah orang yang beradab dan bahkan seperti tidak beragama. Kondisi inilah yang mungkin terjadi karena walaupun orang tersebut melakukan aktifitas sholat namun sebenarnya mereka tidak melakukanya. Aktifitas sholat yang mereka lakukan hanya terlihat secara dzohir tanpa menembus batin mereka. Di sinilah perlunya melakukan sholat secara khusyu’ sehingga pengaruh dari sholat tersebut sampai kepada seluruh aktifitas kehidupan mereka yang menjadi baik.
Pengaruh dari sholat yang khusyu’ inilah yang menjadikan seseorang akan bisa di terima oleh lingkungan masyarakatnya, karena orang tersebut akan selalu berbuat baik dan mampu meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Hal ini berarti orang tersebut telah memiliki ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang tinggi.
Pengaruh dari dzikir dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang lainya yang dapat meningkatkan ESQ yaitu sebagaimana wawancara pada tanggal 11 Februari 2006 yang penulis lakukan dengan Bapak H Sucipto (salah satu pengamal tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah), beliau menceritakan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh pengamlan dzikir yang ada pada tarekat itu begitu besar dalam pencapaian keberhasilan kehidupan, antara lain: dengan sendirinya akan membentuk akhlak yang baik sehingga mampu melakukan hubungan baik dan di cintai oleh orang lain, oleh karena itu usaha dan pekerjaan yang di lakukan akan menjadi lancar dan selalu mendapatkan dukungan dari orang lain. Salah satu buktinya adalah usaha yang di lakukan beliau yang berupa percetakan dan sablon semakin maju dan meningkat, bahkan saat ini beliau sudah mempunyai 36 karyawan. Beliau juga menceritakan bahwa dzikir tidaklah menghalangi kesuksesan dalam melakukan suatu usaha. Dzikir yang selalu di ucapkan di manapun (dengan dzikir sirri) akan semakin meningkatkan kepercayaan diri, penyandaran diri kepada Allah yang berarti tidak takabur dan tidak bertingkah laku sekehendaknya, hati akan bisa lebih tenang sehingga pekerjaan akan berjalan dengan lancar, dan masih banyak lagi dampak yang timbul dari melakukan dzikir secara terus-menerus (dzikir sirri) itu, yang kesemuanya tersebut ternyata bisa menimbulkan dampak positif terhadap keberhasilan suatu usaha dan pekerjaan.
2. Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) melalui pencapaian tingkatan maqom lathifah sab’ah.
KH. Baidhowi Muslich (wawancara, 14 Februari 2006) mengatakan bahwa tingkatan lathifah sab’ah haruslah di lalui oleh seorang salik. Dengan tingkatan tersebut seorang salik akan semakin mampu mendekatkan diri dengan Allah SWT serta dengan sendirinya akan menimbulkan akhlaq mahmudah (akhlak terpuji) dan menghilangkan akhlak madzmumah (akhlak tercela), yang dengan kata lain berarti ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seorang salik dengan sendirinya juga akan semakin meningkat. Latifah Sab’ah tersebut adalah:
1) Lathifatul Qolbi
Merupakan kehalusan hati dengan terhapusnya nafsu lawwamah yang berjumlah sembilan, yaitu: suka mencela, mengumbar hawa nafsu, munafik, sombong, ghibah, riya’, namimah, bohong dan lupa ibadah. Sasaran dzikirnya adalah susu kiri kurang lebih dua jari agak ke kiri sedikit, sebab di situ ada lubang dan selaput putih atau ainul bashiroh sebagai tempat syaitan. Dengan terhapusnya nafsu lawwamah tersebut berarti ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang akan tumbuh.
2) Lathifatul Ruh
Merupakan kehalusan ruh yang akan memunculkan nafsu mulhimah yang berjumlah tujuh, yaitu: dermawan, qona’ah, rendah diri, senang taubat, sabar, berserah diri. Sasaran dzikirnya adalah di bawah susu kanan kurang lebih dua jari agak ke kanan sedikit. Dengan munculnya nafsu mulhimah tersebut berarti seseorang juga akan mempunyai kecerdasan emosional antara lain mempunyai ketrampilan sosial yang baik yang di gambarkan oleh sikap dermawannya, mempunyai kesadaran diri dan pengaturan diri yang di gambarkan oleh sikapnya yang qonaah, rendah diri, dan sabar. Mereka juga akan mempunyai kecerdasan spiritual yang di gambarkan oleh sikapnya yang senag bertaubat dan hanya berserah diri kepada Allah SWT.
3) Lathifatul Sirri
Merupakan kehalusan perasaan yang akan memunculkan nafsu mutmainnah, meliputi enam macam, yaitu: dermawan, pasrah atau berserah diri kepada Allah, ikhlas, istiqomah, syukur, ridho dan takut maksiat. Sasaran dzikirnya adalah di atas susu kiri kurang lebih dua jari agak ke kanan sedikit. Dengan munculnya nafsu mutmainnah tersebut berarti seseorang secara otomatis juga akan mempunyai ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang tinggi, hal ini karena mereka akan mampu berhubungan dengan baik.
4) Lathifatul Khofi
Merupakan kehalusan kepada sesuatu yang samar dengan bertambahnya nafsu mardiyah yang meliputi enam macam, yaitu: akhlak baik, gemar beribadah, mempunyai sifat belas kasihan kepada siapapun, suka mengajak beribadah kepada orang lain, pema’af dan pemberi nasihat. Sasaran dzikirnya adalah susu kanan kurang lebih dua jari agak ke kiri. Dengan munculnya nafsu mardiyah tersebut berarti seseorang akan mampuanyai kesalehan sosial dengan baik dan sikap tersebut senantiasa di sandarkan kepada nilai Ilahiyyah. Ini merupakan indikasi tumbuhnya ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) pada diri seseorang dengan baik.
5) Lathifatul Akhfa’
Merupakan kehalusan kepada sesuatu yang lebih samar yang tergolong nafsu kamilah, yang meliputi: pandai berfikir, yakin ketika membayangkan, dan yakin kepada sesuatu untuk mengamalkanya. Sasaran dzikir ini adalah pada tengah-tengah dada. Dengan munculnya nafsu kamilah ini, berarti IQ (Intelegency Quotient) seseorang akan semakin meningkat karena mereka akan semakin pandai berfikir dan cerdas. Selain itu mereka juga akan mempunyai EQ atau kecerdasan emosional yang tinggi yang di tunjukkan oleh tindakan keyakinan akan keberhasilan dan pengamalannya terhadap segala sesuatu. Penguasaan ruhiyyah vertikal atau kecerdasan sapiritual mereka di pastikan juga akan meningkat.
6) Lathifatul Nafsi
Merupakan kehalusan otak untuk berfikir dengan terangkatnya sifat amarah bissu’ yang meliputi: kikir, tamak, dengki, bodoh, sombong, pemarah, dan hanyut kepada hawa nafsu. Sasaran dzikirnya adalah: di antara kedua mata dan kedua kening (alis) sampai pada pokoknya otak. Ketika seseorang telah mencapai tingkat ini, berarti potensi IQ, EQ, maupun SQ secara bersamaan akan semakin meningkat, karena unsur-unsur pembangunnya juga terdapat dalam tingkatan latifatul nafsi ini.
7) Lathifatul Qolb
Merupakan kehalusan anggota badan dengan munculnya nafsu rodiyah yang meliputi: dermawan, pandai menyimpan harta untuk beribadah, ikhlas, giat beribadah, dan istiqomah terhadap hasil bai’at maupun ibadah-ibadah yang lainya. Sasaran dzikirnya adalah mulai dari ujung rambut kepala sampai pada ujung kaki. Pada tingkatan ini ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang akan semakin meningkat, karena mereka mengetahui bagimana harus melakukan hubungan baik dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya ataupun dengan Allah SWT sebagai penciptanya.
3. Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) melalui pembentukan Akhlak At Takhalliyah, At Tahalliyah, dan At Tajalliyah
Dalam tarekat apapun saja, salah satu dari pada persoalan yang terpenting di dalamnya ialah memperbaiki Akhlak dan menuntun murid mencapai maqam yang tertinggi, dengan kata lain memperbaiki akhlak dan budi pakerti. Dengan akhlak tersebut seseorang akan mampu melakukan menejemen dirinya dengan baik, mampu hidup dan berhubungan dengan orang lain secara baik, dan akhirnya juga mampu serta mempunyai hubungan secara vertikal Ilahiyyah dengan baik pula.
Dari akhlak inilah sebenarnya kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang akan muncul dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu pembentukan akhlak ini menjadi suatu hal yang sangat penting dan tidak bisa hanya di anggap sebagai sesuatu yang yang dapat di nomor duakan penangananya.
Kiranya benarlah sebagaimana yang di katakan oleh Rasulullah SAW “sesungguhnya aku di utus, untuk menyempurnakan akhlakul karimah”, karena ternyata cangkupan dan fungsi dari adanya kesempurnaan akhlak tersebut sangatlah besar. Salah satunya adalah dalam pembentukan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient).
Perlu diketahui dalam tarekat, perbaikan Akhlaq merupakan hal yang sangat penting dan utama. Perbaikan dan pembentukan akhlak tersebut menurut KH. Baidhowi Muslih (wawancara, 14 Februari 2006) antara lain:
1. At Takhalliyah
Istilah Takhalli mempunyai arti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Sebagaiman yang kita ketahui bahwa setiap orang pasti mempunyai potensi untuk berbuat kejelekan (sifat tercela), karena setiap orang mempunyai hawa nafsu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat melakukan manajemen terhadap hawa nafsunya tersebut serta mengganti sifat yang tercela menjadi sifat yang terpuji.
Apapun sifat-sifat tercela itu perlu di berantas atau dihilangkan dari jiwa manusia diantaranya adalah sifat tercela yang berasal dari batin, contohnya: hasad (iri hati), naqad (dengki atau benci), su’udzan (buruk sangka), kibir (sombong), ujub (merasa sempurna dari orang lain), riya’ (memamerkan kelebihan), sama’ (cari nama atau kemasyhuran), bakhil (kikir), hubbul mal (cinta harta yang berlebihan), namimah (berbicara dibelakang orang).
Adapun sifat yang tercela yang merupakan maksiat lahir, ialah segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merusak orang lain atau dirinya sendiri, sehingga membawa pengorbanan pada kerusakan harta benda, tingkah laku, pikiran dan perasaan, misalnya: merusak jalan raya, mencuri, merampok, membuat gaduh dan lain sebagainya.
Sifat-sifat dan tindakan yang tercela itulah yang akan mengakibatkan seseorang tidak mempunyai ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang tinggi, atau dengan kata lain tidak memiliki kecerdasan emosional, apalagi kecerdasan spiritual. Karena dengan sifat sifat tersebut seseorang di pastikan tidak akan mampu melakukan hubungan yang baik dengan dirinya sendiri, hubungan yang baik dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, lebih-lebih dalam hubungan dengan Tuhan-nya. Oleh karena itu menghilangkan sifat dan tindakan tercela, yang salah satunya di lakukan melalui pengajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah ini menjadi sangat penting.
2. At Tahalliyah
Tahalli mempunyai pengertian menghiasi atau mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji. Adapun sifat-sifat terpuji (mahmudah) sangat perlu ditanamkan betul-betul dalam jiwa seseorang sebagai pembersih sifat-sifat tercela (mazmumah). Sifat-sifat terpuji itu antara lain, ialah: taubat (menyesali diri dari perbuatan tercela), khauf (perasaan takut kepada Allah), takwa (penyandaran segala sesuatu hanya kepada Allah), ikhlas (niat amal yang tulus atau suci), sabar (tahan diri dari kesukaran), ridho ( bersenang diri menerima putusan Tuhan), mahabbah (perasaan cinta kepada Allah semata-mata), zikrul maut (selalu ingat akan mati), itsar (lebih mengutamakan kepentingan orang lain), dermawan (suka memberi) dan lain sebagainya.
Apabila seseorang telah mengisi hatinya dengan sifat terpuji setelah hatinya dibersihkan dari sifat tercela, hati mereka akan bercahaya dan mudah menerima kebenaran. Hati yang belum dibersihkan, tak akan dapat menerima cahaya Ilahiyyah dan sulit menerima suatu kebenaran.
Menurut Bapak Sucipto (wawancara: 11 Februari 2006), jika seseorang telah mampu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, maka mereka akan mudah melakukan hubungan dengan orang lain, mereka akan di cintai oleh orang lain, dan Allah-pun pasti akan meridhoinya. Dalam hal ini, mereka akan ihklas hati dan niatnya selalu tertuju untuk mencari ridho dan melakukan ibadah hanya kepada Allah. Mereka akan ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat, ikhlas bekerja untuk kepentingan agama, bangsa dan negara. Ikhlas memberikan pertolongan dan bantuan, kepada siapapun dan kapanpun waktunya. Sifat terpuji dan tindakan yang demikianlah, yang menunjukkan seseorang mempunyai ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang baik.
Dalam hal ini berarti seseorang yang mengamalkan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, yang salah satu ajaranya adalah pembangunan akhlak Tahalli (menghiasi diri dengan sifat dan tindakan yang terpuji), akan menjadikan orang tersebut mempunyai ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) yang tinggi.
3. At Tajalliyah
Tajalli merupakan usaha terakhir dalam perbaikan akhlaq, setelah kita menempuh dua jalan yakni Takhalli dan Tahalli. Dalam hal ini, KH. Baidhowi Muslih menggambarkan hubungan Takhalli, Tahalli dan Tajallai dengan adanya rumah. Hendaknya perawatan rumah tersebut pertama di lakukan dengan membersihkan terlebih dahulu kotoran-kotoran yang ada di dalamnya (Takhalli), setelah itu di lanjutkan dengan menghiasi rumah tersebut dengan berbagaimacam perhiasan (Tahalli), setelah rumah bersih dan penuh dengan hiasan yang menarik maka seseorang di pastikan akan tertarik untuk memasukinya (Tajalli). Dalam hal ini apabila ibarat tersebut di kaitkan dengan seseorang, maka setelah dia taubat dari seluruh dosanya kemudian menghiasi dirinya dengan sifat terpuji, maka selanjutnya Nur atau cahaya Ilahiyah akan masuk dalam dirinya. Jika seseorang telah memiliki akhlak Tajalli, maka Allah menjadi jelas dalam ilmu dan kehidupan jiwa, hijab tersingkap, atau pengaruh pancaran Illahi yang mengandung berkah akan memancar atas dirinya yang di berkati. Akhirnya dia akan menjadi orang yang dekat dengan Allah, di akan selalu mencintai dan di cintai Allah.
Lebih lanjut Bapak Sucipto (wawancara: 11 Februari 2006), menceritakan bahwa setelah beliau belajar mengenai sifat terpuji (tahalli) dan belajar menghilangkan sifat-sifat jelek (takhalli) melalui pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang ada di Pon-Pes Miftahul Huda ini, maka beliau dapat lebih berkembang dalam segala kehidupanya, beliau mampu melakukan manajemen terhadap dirinya, baik waktu, pekerjaan, maupun urusan yang lainya, walaupun beliau saat ini harus memimpin percetakanya dan membawahi 36 karyawan. Beliau juga mampu melakukan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar, bahkan saat ini beliau menjabat sebagai ketua BKM dan ketua Organisasi Kemasyarakatan untuk daerah kelurahan Gading Kasri. Selain itu yang lebih menarik menurut pandangan beliau adalah dalam melakukan hubungan dengan Allah semakin terjalin dengan baik, perasaan semakin dekat dan cinta dengan Allah semakin tinggi, karena menurut pengakuan beliau dalam keadaan bagaimanapun dirinya akan selalu mengingat Allah. Bahkan ketika penulis melakukan wawancara, menurut beliau saat itu juga sedang melakuakn dzikir sirri (dzikir dalam hati). Sehingga benarlah menurut pandangan penulis, sebagaimana yang di katakana oleh Syaik Abdul Qosim, bahwa yang di namakan dengan makrifat adalah orang yang selalu ada tetapi jauh, yang artinya ia selalu bersama dengan orang lain, tetap melakukan hubungan dengan orang lain tetapi hatinya jauh dari mereka dan selalu dekat dengan Allah SWT.
Dalam hal ini berarti orang yang mempunyai akhlak tajalli akan mempunyai derajat yang tinggi baik di mata manusia maupun di hadapan Allah SWT. Dengan munculnya sifat tajalli tersebut berarti seseorang telah menumbuhkan potensi ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dalam dirinya secara sempurna.
4. Peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) melalui ritul-ritual keagamaan yang lainya.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan Bapak H. Sucipto tanggal 11 Februari 2006, bahwa ritual-ritual yang di lakukan dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Pon-Pes Miftahul Huda Malang, antara lain: Khushusiyah, Istighatsah, dan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani. Kemudian beliau melanjutkan bahwa ternyata manfaat yang dapat di ambil dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak sekedar untuk pemenuhan kebutuhan rohani saja, namun banyak memberikan manfaat yang lain, misalnya: dengan adanya kegiatan tersebut akan menambah hubungan dan kedekatan antar jama’ah tarekat, sehingga apabila salah satu dari mereka ada yang mempunyai permasalahan hidup maka yang lain dapat membantunya, selain itu melalui kegiatan-kegiatan tersebut dapat di gunakan sebagai sarana dalam penggalian dana, yang nantinya akan di gunakan untuk membangun masjid, menyantuni anak yatim, membantu orang fakir miskin dan untuk kegiatan sosial yang lainya. Dalam hal ini berarti kegiatan-kegiatan seperti manaqib Syaikh Abdul Qodir Aljailani, Khususiyah, dan Istighotsah serta kegiatan yang lainya, tidaklah hanya terfokus untuk kegiatan ritual belaka, tetapi manfaat yang lebih dari itu sebenarnya juga mampu untuk menumbuhkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dengan baik. Karena dengan kegiatan tersebut mereka akan mampu melakukan hubungan dengan orang lain sekaligus hubungan dengan Allah SWT.
Selain itu yang menarik dari kegiatan ritual ini dalam hubunganya dengan peningkatan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) menurut KH. Abdur Rahman Yahya (wawancara, 15 Februari 2006) adalah adanya bacaan-bacaan asmaul husna maupun ayat-ayat Al Qur’an tertentu yang di baca ketika ritual ini di laksanakan. Menurut beliau, teryata amalan-amalan dzikir khusus tersebut mampu menumbuhkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang. Hal ini menurut penulis mirip dengan yang di katakan Ary Ginanjar Agustian bahwa asmaul husna merupakan sumber suara hati seseorang, yang di sandarkan kepada nama-nama Allah yang mulia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa asmaul husna merupakan nama dan sifat Allah yang maha agung yang terdapat dalam Al Qur’an. Ternyata asmaul husna merupakan sumber dari segala suara hati seseorang (God-Spot), yang mampu menumbuhkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) dari orang yang mampu meresapi dan mencari hakikat makna di dalamnya. Misalnya, dengan menggunakan acuan sifat Allah yang berupa Ar Rahman maka seseorang akan mampu menumbuhkan dorongan suara hati yang berupa sikap mau mengasihi dan bersikap kasih sayang terhadap orang lain, dengan acuan sifat Allah yang berupa Al Kholiq maka seseorang akan mampu menumbuhkan dorongan dalam hatinya yang berupa sikap kreatif dan ingin menciptakan hal-hal yang baru, dengan acauan sifat Allah yang berupa As Sami’ maka akan tumbuhlah sikap mau mendengarkan dan memahami orang lain (empati), dengan acuan sifat Allah yang berupa Al Qowiyyu maka akan tumbuhlah sikap untuk memiliki kekuatan dan semangat yang tinggi dalam melakukan berbagai macam aktifitas kehidupan serta tidak mudah menyerah. Demikian halnya dengan menggunakan acuan sifat-sifat Allah yang lainya yang berjumlah 99 (asmaul husna), maka seseorang akan mampu menumbuhkan dorongan dalam hatinya untuk berbuat dan beraktifitas sesuai dengan sifat Allah tersebut.
Dalam hal ini, berarti asmaul husna dan ayat Al Qur’an yang sering di baca dalam ritual tarekat Qodiriyah wa naqsabandiyah tidaklah hanya berorientasi pada kegiatan ritual semata, tetapi yang lebih hebat dari itu ternyata bacaan-bacaan yang ada di dalamnya mampu menumbuhkan dan meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) seseorang ketika mereka memang benar-benar mau meresapi arti yang sebenarnya serta mau mengaplikasikan dalam kehidupan mereka.
Dari penjelasan di atas tentang pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di pondok pesantren Miftahul Huda Malang dalam upaya meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) masyarakat muslim di era modern, penulis dapat mengambil benang merah bahwa ternyata pengamalan tarekat tersebut dapat di jadikan sebagai upaya dalam meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual masyarakat muslim yang hal tersebut memang sangat di butuhkan, karena mereka saat ini sedang berada di zaman modern yang penuh dengan kerusakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Bila di telusuri dari kondisi zaman ini, memang masyarakat modern identik dengan pemisahan dirinya dari kehidupan irrasional bahkan hal-hal yang di kategorikan sebagai non rasionalitas. Mereka hanya mengakui eksistensi dari hal-hal yang bersifat materiil dan yang dapat di raba, di rasa, di teliti dan ilmiyah. Oleh karena itu nilai-nilai, norma dan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat modern semakin memudar, dan diganti oleh pola hidup materialis dan menghambakan diri kepada kebendaan untuk mencapai kepuasan keduniaanya semata. Hal inilah yang akan mengakibatkan kerusakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Manusia modern yang seperti itu sebenarnya adalah manusia yang sudah kehilangan makna kehidupan yang sesungguhnya, ia pasti akan resah setiap kali akan mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang di inginkan, untuk apa langkah kehidupanya, bahkan iapun kadang tidak tahu siapa dirinya, bagaikan orang yang terkurung dalam kerangkeng. Manusia modern akhirnya banyak yang frustasi dan berada ke dalam ketidak berdayaan serta kegagalan dalam berbagai aktifitas kehidupanya.
Dari kondisi tersebut maka sangat di butuhkanlah adanya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual bagi seluruh masyarakat muslim yang saat ini sedang berada di zaman modern. Dari penelitian yang penulis lakukan ternyata pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah mampu di jadikan sarana dalam peningkatan dua kecerdasan tersebut, karena ternyata akibat atau dampak yang di timbulkan dari pengamalan tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah ini dapat di jadikan sebagai upaya dalam meningkatkan ESQ (Emotional-Spiritual Quotient). Dengan dua kecerdasan tersebut (EQ plus SQ) maka masyarakat muslim akan mampu menyesuaikan dan menyepadankan antara kebutuhan duniawi dan kebutuhan ukhrowi. Mereka tidaklah terjerumus dalam kehidupan yang semakin rusak, akan tetapi mereka akan mampu membawa dirinya tetap berada di jalan kebenaran. Sehingga nantinya mereka akan selamat di dunia dan akherat.

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

3 comments

  1. tolong postingkan silsilah tarekat kh.muslich baidlowi donk...!!!

  2. Terima kasih untuk Mas Abdur, permintaan Anda telah kami upayakan dengan mencari dan mencari beberapa sumber, semoga berkenan

  3. kira-kira bascamnya tarekat ini di daerah malang sebelah mana ya?

Post a Comment