Jama’ah ‘Id rahimakumullah, pada pagi hari ini, umat Islam di seluruh belahan dunia merayakan kemenangan, merasa gembira dan damai.. Mereka keluar dari rumah masing-masing menuju tempat pelaksanaan salat ‘Id dengan perasaan suka cita, riang dan gembira setelah selama satu bulan melatih dan menempa diri mengendalikan hawa nafsunya dengan melaksanakan ibadah puasa sebagai latihan jasmani dan rohani dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.. Umat Islam menyambut dan merayakan kemenangan hari Raya Idul Fitri dengan meneriakkan kalimah-¯ayyibah, takbir, tahmid dan tahlil. Setelah sebulan penuh hidup dalam suasana Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan magfirah, umat Islam akhirnya pada hari ini kembali kepada fitrahnya, bersih dan suci dari segala noda dan dosa, laksana seorang bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Nabi bersabda:        ••                                         185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Marilah kita membuka mata, telinga dan hati kita, menyaksikan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sekaligus satu perumpamaan yang sangat besar. Marilah kita melihat bagaimana umat Islam yang telah kembali kepada fitrahnya menuju ke tempat dilaksanakannya Salat ‘Id seraya mengingat akan suatu hari di mana semua manusia sejak Nabi Adam as. hingga manusia yang terakhir diciptakan Allah akan dikumpulkan pada suatu hari yang oleh Allah di dalam al-Qur’ân disebut. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Jama’ah ‘Id rahimakumullah, Ibadah puasa yang telah kita laksanakan merupakan suatu upaya pendidikan dan pelatihan jiwa untuk senantiasa bersifat jujur dan sabar. kedua sifat ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun dalam hidup bermasyarakat. Mata dan telinga kita setiap saat melihat adanya penyimpangan dalam kehidupan yang semuanya dilakukan oleh pribadi-pribadi yang tidak jujur, aparat yang tidak jujur, bahkan oleh pejabat negara yang tidak jujur; selama kita hidup dalam ketidakjujuran, maka kita jangan berharap akan terciptanya suatu kehidupan masyarakat yang adil. Kejujuran adalah musuh kita, musuh manusia, musuh kemanusiaan; tidak ada seorang pun yang menyukai ketidakjujuran, bahkan oleh seorang yang tidak jujur sekalipun. Nabi berpesan: Peliharalah sifat jujur itu, sebab kejujuran akan mengantarkan pelakunya ke surga. Dalam hadis lain disebutkan : Bukan umatku orang yang sering melakukan ketidakjujuran Lebih jauh, puasa merupakan sarana untuk mengendalikan hawa nafsu, bukan melawan hawa nafsu atau menghilangkan sama sekali hawa nafsu itu dari dalam diri kita, sebab selama hayat masih di kandung badan, selama itu hawa nafsu berada dalam diri kita. Pengendalian hawa nafsu merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab apabila kita yang dikendalikan hawa nafsu maka pada saat itu kita berada pada posisi yang inferior, lebih rendah derajat kita daripada binatang. Hanya orang-orang mampu mengendalikan hawa nafsunya yang akan memperoleh kenikmatan surgawi yang telah dijanjikan oleh Tuhan. Pengendalian hawa nafsu bisa juga diartikan sebagai upaya menaikkan derajat nafsu yang menguasai diri kita, dari tingkatan nafsu yang paling rendah kepada tingkat nafsu yang paling tinggi. Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Qur’ân, maka dikemukakan bahwa setidaknya pada setiap diri manusia terdapat empat tingkatan nafsu. Baik-jahatnya seseorang, saleh-salahnya seseorang, atau sesat dan suksesnya seseorang tergantung pada kecenderungannya pada tingkatan nafsu mana yang ia mampu kendalikan. Khutbah Idul Fitri Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.. Jama’ah ‘Id rahimakumullah, nafsu yang pertama disebutkan oleh al-Qur’ân yang terdapat pada setiap diri manusia al-nafs al-zakîyah, nafsu yang suci bersih). Nafsu jenis ini terdapat pada diri setiap manusia yang baru lahir. Setiap manusia yang baru lahir memiliki kecenderungan jiwa yang bersih, memiliki kecenderungan pada hal-hal yang bersifat baik. Dalam al-Qur’ân di sebutkan : Pemilik jiwa yang bersih inilah yang akan memperoleh keberuntungan, sebaliknya org yang memiliki jiwa yang kotor akan memperoleh kesengsaraan. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.. Nafsu yang kedua ialah al-nafs al-ammârah bi al-sûi, nafsu yang cenderung pada perbuatan dosa dan penyimpangan, yang identik dengan nafsu binatang. Nafsu ini selalu menganjurkan untuk berbuat kejahatan. Dalam al-Qur’ân disebutkan : (Yusuf: 53)      • • •       •     53. dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Nafsu ammârah akan menggiring manusia kepada kehinaan, mendorong manusia melakukan maksiat, dan selalu merasa mudah untuk berbuat dosa. Ketika seseorang melakukan suatu kemaksiatan, maka al-nafsu al-ammârah akan kembali mendorongnya untuk terus melakukannya. Selanjutnya al-nafsu al-ammârah akan menjadikan perbuatan maksiat tersebut sebagai suatu yang dicintai oleh pelakunya, sehingga pelakunya memandangnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Pada saat itulah perbuatan maksiat akan menjadi wataknya. Nafsu ammârah apabila mengendalikan seorang manusia, maka manusia tersebut tidak akan pernah merasa puas; seorang laki-laki yang dikuasai oleh nafsu seksualnya tidak akan pernah merasa puas hanya dengan seorang wanita; seorang pengusaha yang dikuasai oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan merasa puas meskipun semua isi dunia telah menjadi miliknya; seorang penguasa atau pejabat yang dikuasai oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan puas meskipun ia telah menguasai seluruh permukaan bumi. Kecenderungan manusia terhadap al-nafsu al-ammârah tersebut adalah suatu hal yang manusiawi. Sebab hal ini sudah merupakan potensi dasar manusia yang disebutkan Allah swt. dalam QS. ²li ‘Imrân (3):14 :  ••                          14. dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Hanya saja potensi manusia yang cenderung pada lawan jenis, dan kemewahan duniawi tersebut harus dikendalikan dan diarahkan sesuai hukum dan ketentuan Allah. Sebab al-nafsu ammârah dalam diri seseorang tidak akan berhenti pada satu batas. Seorang yang dikuasai jiwanya oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan berhenti pada batas-batas yang halal, tetapi kecenderungannya pada cara-cara yang tidak halal, bukan pada yang halal. Manakala al-nafsu al-ammârah telah menguasai diri seseorang, ia tidak akan melepaskannya kecuali orang tersebut masuk ke dalam neraka jahannam, ke dasar neraka yang paling bawa. Na’u§ubillah min §âlik. Khutbah idul fitri Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.. Jama’ah ‘Id rahimakumullah, tingkatan nafsu ketiga yang disebutkan dalam al-Qur’ân ialah al-Nafs al-Lawwâmah, yaitu nafsu yang memiliki kecenderungan menyalahkan dirinya, selalu merasa menyesal, mengeluh, dan kecewa. Orang yang memiliki tingkat nafsu ini akan menyesali dirinya atas hilangnya peluang beramal saleh. Dalam al-Qur’ân disebutkan : Jama’ah ‘Id rahimakumullah, tingkatan nafsu keempat yang disebut dalam al-Qur’ân ialah al-nafs al-mu¯mainnah, yaitu jiwa yang tenang. Dalam al-Qur’ân disebutkan : al-Nafs al-Mutmainnah ditandai dengan adanya ketenangan karena sealu ingat kepada Allah, firman Allah QS. Al-Ra’ad: 28)              28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Ketenangan jiwa dapat diperoleh dengan zikir (ingat) kepada Allah; Zikir memiliki dua aspek: - Zikir dalam arti menyebut - Zikir dalam arti mengingat (self control) . . . Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.. Dewasa ini, masyarakat kita sedang digelisahkan oleh timbulnya berbagai macam masalah-masalah sosial yang tidak lain adalah pelanggaran terhadap larangan-larangan agama Allah.berbagai jenis kemaksiatan berupa semakin merajelalanya minuman keras dengan berbagai merek, maraknya judi dengan berbagai bentuk. Kekerasan bahkan pembunuhan sudah menjadi hal yang biasa bagi orang tertentu. Bukan tidak mungkin sebagian di antara kemaksiatan tersebut telah melanda masyarakat kita, atau bahkan mungkin telah masuk ke dalam rumah kita. Kemaksiatan yang dilarang agama bukanlah untuk membatasi ruang gerak manusia, akan tetapi lebih ditekankan untuk menjaga kepentingan manusia itu sendiri. 1/ Khamar dengan berbagai bentuknya, termasuk jenis-jeis narkotika dan zat aditif lainnya diharamkan untuk melindungi akal manusia. Sebab Allah sejak awal mengetahui bahwa khamar dan narkotika merusak akal manusia, sedangkan salah satu tujuan agama ialah hifz al-‘aql, melindungi akal manusia. Tentang khamar ini, disebutkan dalam hadis : 2/ Kekerasan dan pembunuhan dilarang oleh Islam, sebab kita sebagaimana manusia memiliki hak yang sama untuk hidup aman dan tenteram, bebas dari gangguan kekerasan dan pembunuhan. Kekerasan yang berakibat pada terjadinya pembunuhan ini antara lain disebutkan dalam hadis Nabi : ‘Barang siapa yang membunuh sesamanya manusia, maka ia kan dikutuk oleh Allah, malaikat-Nya dan semua manusia’. ‘Orang yang membunuh dan yang dibunuh tempatnya di neraka’. ‘Demi Tuhan yang hidupku berada di tangan-Nya, akan tiba suatu masa di mana umat manusia akan saling membunuh; yang dibunuh tidak tahu kenapa saya harus membunuh, dan dibunuhpun apa sebab hingga ia harus dibunuh’. ‘Siapa yang membunuh seseorang dengan sengaja, maka ia tidak akan mencium bau surga, sedangkan bau surga itu sendiri sudah tercium dari jarak 40 tahun perjalanan’. Islam mengharamkan berbagai jenis makanan, baik karena hukum asalnya yang haram maupun makanan yang pada dasarnya haram namun cara memperolehnya yang tidak sesuai dengan ketentuan agama, misalnya hasil curian, penipuan dan sejenisnya, yang menyebabkan makanan tersebut haram. Sehubungan dengan perolehan makanan yang haram karena cara memperoelhnya yang tidak baik disebutkan dalam hadis: “Tidak akan masuk surga tubuh yang ada serat dagingnya tumbuh dari sumber makanan yang haram” Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.. Jama’ah ‘Id rahimakumullah, Akhirnya, di hari fitrah ini, marilah kita kembali menyadari kehadiran diri kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah. Marilah kita kembali kepada kesucian diri kita lahir dan batin. Membersihkan diri kita dari segala noda dan dosa yang telah kita lakukan, baik dosa kita kepada Allah maupun dosa terhadap sesama manusia. Apabila ibadah-ibadah yang kita lakukan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan didasari oleh niat keikhlasan semata-mata untuk dan atas nama Allah, maka selama itu pula ada jaminan bahwa dosa antara kita dengan Allah bersih sama sekali. Namun, ikhwân al-muslimîn rahimakumullah, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memberi jaminan bahwa dosa antara kita dengan sesama manusia akan diampuni. Persoalan dosa dengan sesama manusia adalah persoalan antara masing-masing pribadi untuk saling memaafkan. Apabila kita merasa telah melakukan kesalahan dan dosa terhadap sesama kita, marilah kita memohon maaf atas kesalahan dan dosa kita. Sebaliknya apabila saudara kita meminta maaf atas dosa dan kesalahannya terhadap diri kita sudilah kiranya kita membuka pintu maaf kita, memaafkan saudara kita yang sudah mengakui kesalahannya. Allah swt. Maha Pengampun atas segala dosa dan Maha Pemberi maaf atas semua kesalahan hambanya. Sebagai hamba, seharusnya kita menerapkan sifat kemahapemaafan Allah dalam diri kita. Persoalan memberi maaf adalah persoalan yang sangat besart. Semua orang mampu untuk meminta maaf sesaat setelah melakukan kesalahan, namun hanya orang tertentu saja yang yang bisa memberi maaf. Makanya Al-Qur’ân al-Karîm sebagai wahyu ilahi, yang menyebutkan persoalan maaf sebanyak 34 kali, tidak pernah sekalipun memerintahkan umat manusia untuk meminta maaf, karena persoalan meminta maaf adalah persoalan yang kecil dan mudah, memberi maaflah yang berat. Marilah kita memperhatikan petikan ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm sebagai berikut:          ••      134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.               126. dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[846]. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Balasan terhadap kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah. Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada (dengan berjabat tangan). Sesungguhnya allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (dengan memaafkan kesalahan orang ke padanya) Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada (dengan berjabat tangan). Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? Kesan yang diperoleh dari ketiga ayat di atas bahwa adalah anjuran untuk memberi maaf terhadap seseorang, bukan menunggu permintaan maafnya seseorang. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah. Kalau puasa yang telah kita lakukan berujung pada terciptanya pribadi muttaqîn (orang-orang yang bertaqwa), maka salah satu di antara tanda orang yang bertaqwa ialah orang yang selalu bersedia memberi maaf terhadap sesama manusia; artinya tidak sempurna ketaqwaan hasil puasa kita apabila kita belum berlapang dada membuka pintu maaf kita terhadap sesama manusia. Dalam proses maaf-memaafkan marilah kita, menyadari siapa diri di mana posisi kita; kalau kita sebagai orang yang telah melakukan kesalahan terhadap seseorang, marilah kita meminta maaf langsung kepada yang bersangkutan; kalau kita sebagai seorang anak, marilah kita duduk bersimpuh mengakui dosa dan salah kita di depan ayah bunda kita; kalau kita seorang anak kecil, orang muda, atau bawahan, marilah kita meminta maaf kepada orang yang lebih dewasa dari kita. Sebaliknya sebagai orang yang lebih dewasa agar memafkan anak-anak, cucu-cuku, adik-adik atau sau


Jama’ah ‘Id rahimakumullah, pada pagi hari ini, umat Islam di seluruh belahan dunia merayakan kemenangan, merasa gembira dan damai.. Mereka keluar dari rumah masing-masing menuju tempat pelaksanaan salat ‘Id dengan perasaan suka cita, riang dan gembira setelah selama satu bulan melatih dan menempa diri mengendalikan hawa nafsunya dengan melaksanakan ibadah puasa sebagai latihan jasmani dan rohani dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.. Umat Islam menyambut dan merayakan kemenangan hari Raya Idul Fitri dengan meneriakkan kalimah-¯ayyibah, takbir, tahmid dan tahlil.
Setelah sebulan penuh hidup dalam suasana Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan magfirah, umat Islam akhirnya pada hari ini kembali kepada fitrahnya, bersih dan suci dari segala noda dan dosa, laksana seorang bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Nabi bersabda:
ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù yÍky­ ãNä3YÏB tök¤9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Marilah kita membuka mata, telinga dan hati kita, menyaksikan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sekaligus satu perumpamaan yang sangat besar. Marilah kita melihat bagaimana umat Islam yang telah kembali kepada fitrahnya menuju ke tempat dilaksanakannya Salat ‘Id seraya mengingat akan suatu hari di mana semua manusia sejak Nabi Adam as. hingga manusia yang terakhir diciptakan Allah akan dikumpulkan pada suatu hari yang oleh Allah di dalam al-Qur’ân disebut.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Jama’ah ‘Id rahimakumullah, Ibadah puasa yang telah kita laksanakan merupakan suatu upaya pendidikan dan pelatihan jiwa untuk senantiasa bersifat jujur dan sabar. kedua sifat ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun dalam hidup bermasyarakat. Mata dan telinga kita setiap saat melihat adanya penyimpangan dalam kehidupan yang semuanya dilakukan oleh pribadi-pribadi yang tidak jujur, aparat yang tidak jujur, bahkan oleh pejabat negara yang tidak jujur; selama kita hidup dalam ketidakjujuran, maka kita jangan berharap akan terciptanya suatu kehidupan masyarakat yang adil. Kejujuran adalah musuh kita, musuh manusia, musuh kemanusiaan; tidak ada seorang pun yang menyukai ketidakjujuran, bahkan oleh seorang yang tidak jujur sekalipun. Nabi berpesan:
Peliharalah sifat jujur itu, sebab kejujuran akan mengantarkan pelakunya ke surga.
Dalam hadis lain disebutkan :
Bukan umatku orang yang sering melakukan ketidakjujuran
Lebih jauh, puasa merupakan sarana untuk mengendalikan hawa nafsu, bukan melawan hawa nafsu atau menghilangkan sama sekali hawa nafsu itu dari dalam diri kita, sebab selama hayat masih di kandung badan, selama itu hawa nafsu berada dalam diri kita. Pengendalian hawa nafsu merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab apabila kita yang dikendalikan hawa nafsu maka pada saat itu kita berada pada posisi yang inferior, lebih rendah derajat kita daripada binatang. Hanya orang-orang mampu mengendalikan hawa nafsunya yang akan memperoleh kenikmatan surgawi yang telah dijanjikan oleh Tuhan.
Pengendalian hawa nafsu bisa juga diartikan sebagai upaya menaikkan derajat nafsu yang menguasai diri kita, dari tingkatan nafsu yang paling rendah kepada tingkat nafsu yang paling tinggi. Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Qur’ân, maka dikemukakan bahwa setidaknya pada setiap diri manusia terdapat empat tingkatan nafsu. Baik-jahatnya seseorang, saleh-salahnya seseorang, atau sesat dan suksesnya seseorang tergantung pada kecenderungannya pada tingkatan nafsu mana yang ia mampu kendalikan. Khutbah Idul Fitri
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd..
Jama’ah ‘Id rahimakumullah, nafsu yang pertama disebutkan oleh al-Qur’ân yang terdapat pada setiap diri manusia al-nafs al-zakîyah, nafsu yang suci bersih). Nafsu jenis ini terdapat pada diri setiap manusia yang baru lahir. Setiap manusia yang baru lahir memiliki kecenderungan jiwa yang bersih, memiliki kecenderungan pada hal-hal yang bersifat baik.
Dalam al-Qur’ân di sebutkan :
Pemilik jiwa yang bersih inilah yang akan memperoleh keberuntungan, sebaliknya org yang memiliki jiwa yang kotor akan memperoleh kesengsaraan.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd..
Nafsu yang kedua ialah al-nafs al-ammârah bi al-sûi, nafsu yang cenderung pada perbuatan dosa dan penyimpangan, yang identik dengan nafsu binatang. Nafsu ini selalu menganjurkan untuk berbuat kejahatan. Dalam al-Qur’ân disebutkan : (Yusuf: 53)
* !$tBur äÌht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ žwÎ) $tB zOÏmu þÎn1u 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÎÌÈ  
53. dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.


Nafsu ammârah akan menggiring manusia kepada kehinaan, mendorong manusia melakukan maksiat, dan selalu merasa mudah untuk berbuat dosa. Ketika seseorang melakukan suatu kemaksiatan, maka al-nafsu al-ammârah akan kembali mendorongnya untuk terus melakukannya. Selanjutnya al-nafsu al-ammârah akan menjadikan perbuatan maksiat tersebut sebagai suatu yang dicintai oleh pelakunya, sehingga pelakunya memandangnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Pada saat itulah perbuatan maksiat akan menjadi wataknya.
Nafsu ammârah apabila mengendalikan seorang manusia, maka manusia tersebut tidak akan pernah merasa puas; seorang laki-laki yang dikuasai oleh nafsu seksualnya tidak akan pernah merasa puas hanya dengan seorang wanita; seorang pengusaha yang dikuasai oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan merasa puas meskipun semua isi dunia telah menjadi miliknya; seorang penguasa atau pejabat yang dikuasai oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan puas meskipun ia telah menguasai seluruh permukaan bumi.
Kecenderungan manusia terhadap al-nafsu al-ammârah tersebut adalah suatu hal yang manusiawi. Sebab hal ini sudah merupakan potensi dasar manusia yang disebutkan Allah swt. dalam QS. ²li ‘Imrân (3):14 :
z`Îiƒã Ĩ$¨Z=Ï9 =ãm ÏNºuqyg¤±9$# šÆÏB Ïä!$|¡ÏiY9$# tûüÏZt6ø9$#ur ÎŽÏÜ»oYs)ø9$#ur ÍotsÜZs)ßJø9$# šÆÏB É=yd©%!$# ÏpžÒÏÿø9$#ur È@øyø9$#ur ÏptB§q|¡ßJø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur Ï^öysø9$#ur 3 šÏ9ºsŒ ßì»tFtB Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ª!$#ur ¼çnyYÏã ÚÆó¡ãm É>$t«yJø9$# ÇÊÍÈ  
14. dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).


Hanya saja potensi manusia yang cenderung pada lawan jenis, dan kemewahan duniawi tersebut harus dikendalikan dan diarahkan sesuai hukum dan ketentuan Allah. Sebab al-nafsu ammârah dalam diri seseorang tidak akan berhenti pada satu batas. Seorang yang dikuasai jiwanya oleh al-nafsu al-ammârah tidak akan berhenti pada batas-batas yang halal, tetapi kecenderungannya pada cara-cara yang tidak halal, bukan pada yang halal. Manakala al-nafsu al-ammârah telah menguasai diri seseorang, ia tidak akan melepaskannya kecuali orang tersebut masuk ke dalam neraka jahannam, ke dasar neraka yang paling bawa. Na’u§ubillah min §âlik. Khutbah idul fitri
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd..
Jama’ah ‘Id rahimakumullah, tingkatan nafsu ketiga yang disebutkan dalam al-Qur’ân ialah al-Nafs al-Lawwâmah, yaitu nafsu yang memiliki kecenderungan menyalahkan dirinya, selalu merasa menyesal, mengeluh, dan kecewa. Orang yang memiliki tingkat nafsu ini akan menyesali dirinya atas hilangnya peluang beramal saleh. Dalam al-Qur’ân disebutkan :
Jama’ah ‘Id rahimakumullah, tingkatan nafsu keempat yang disebut dalam al-Qur’ân ialah al-nafs al-mu¯mainnah, yaitu jiwa yang tenang. Dalam al-Qur’ân disebutkan :
al-Nafs al-Mutmainnah ditandai dengan adanya ketenangan karena sealu ingat kepada Allah, firman Allah QS. Al-Ra’ad: 28)
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ  
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Ketenangan jiwa dapat diperoleh dengan zikir (ingat) kepada Allah; Zikir memiliki dua aspek:
- Zikir dalam arti menyebut
- Zikir dalam arti mengingat (self control) . . .
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd..
Dewasa ini, masyarakat kita sedang digelisahkan oleh timbulnya berbagai macam masalah-masalah sosial yang tidak lain adalah pelanggaran terhadap larangan-larangan agama Allah.berbagai jenis kemaksiatan berupa semakin merajelalanya minuman keras dengan berbagai merek, maraknya judi dengan berbagai bentuk. Kekerasan bahkan pembunuhan sudah menjadi hal yang biasa bagi orang tertentu. Bukan tidak mungkin sebagian di antara kemaksiatan tersebut telah melanda masyarakat kita, atau bahkan mungkin telah masuk ke dalam rumah kita. Kemaksiatan yang dilarang agama bukanlah untuk membatasi ruang gerak manusia, akan tetapi lebih ditekankan untuk menjaga kepentingan manusia itu sendiri.
1/ Khamar dengan berbagai bentuknya, termasuk jenis-jeis narkotika dan zat aditif lainnya diharamkan untuk melindungi akal manusia. Sebab Allah sejak awal mengetahui bahwa khamar dan narkotika merusak akal manusia, sedangkan salah satu tujuan agama ialah hifz al-‘aql, melindungi akal manusia. Tentang khamar ini, disebutkan dalam hadis :
2/ Kekerasan dan pembunuhan dilarang oleh Islam, sebab kita sebagaimana manusia memiliki hak yang sama untuk hidup aman dan tenteram, bebas dari gangguan kekerasan dan pembunuhan. Kekerasan yang berakibat pada terjadinya pembunuhan ini antara lain disebutkan dalam hadis Nabi :
 ‘Barang siapa yang membunuh sesamanya manusia, maka ia kan dikutuk  oleh Allah, malaikat-Nya dan semua manusia’.
 ‘Orang yang membunuh dan yang dibunuh tempatnya di neraka’.
 ‘Demi Tuhan yang hidupku berada di tangan-Nya, akan tiba suatu masa di mana umat manusia akan saling membunuh; yang dibunuh tidak tahu kenapa saya harus membunuh, dan dibunuhpun apa sebab hingga ia harus dibunuh’.
Siapa yang membunuh seseorang dengan sengaja, maka ia tidak akan mencium bau surga, sedangkan bau surga itu sendiri sudah tercium dari jarak 40 tahun perjalanan’.
Islam mengharamkan berbagai jenis makanan, baik karena hukum asalnya yang haram maupun makanan yang pada dasarnya haram namun cara memperolehnya yang tidak sesuai dengan ketentuan agama, misalnya hasil curian, penipuan dan sejenisnya, yang menyebabkan makanan tersebut haram. Sehubungan dengan perolehan makanan yang haram karena cara memperoelhnya yang tidak baik disebutkan dalam hadis:
“Tidak akan masuk surga tubuh yang ada serat dagingnya tumbuh dari sumber makanan yang haram”
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd..
Jama’ah ‘Id rahimakumullah, Akhirnya, di hari fitrah ini, marilah kita kembali menyadari kehadiran diri kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah. Marilah kita kembali kepada kesucian diri kita lahir dan batin. Membersihkan diri kita dari segala noda dan dosa yang telah kita lakukan, baik dosa kita kepada Allah maupun dosa terhadap sesama manusia.
Apabila ibadah-ibadah yang kita lakukan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan didasari oleh niat keikhlasan semata-mata untuk dan atas nama Allah, maka selama itu pula ada jaminan bahwa dosa antara kita dengan Allah bersih sama sekali.
Namun, ikhwân al-muslimîn rahimakumullah, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memberi jaminan bahwa dosa antara kita dengan sesama manusia akan diampuni. Persoalan dosa dengan sesama manusia adalah persoalan antara masing-masing pribadi untuk saling memaafkan. Apabila kita merasa telah melakukan kesalahan dan dosa terhadap sesama kita, marilah kita memohon maaf atas kesalahan dan dosa kita. Sebaliknya apabila saudara kita meminta maaf atas dosa dan kesalahannya terhadap diri kita sudilah kiranya kita membuka pintu maaf kita, memaafkan saudara kita yang sudah mengakui kesalahannya. Allah swt. Maha Pengampun atas segala dosa dan Maha Pemberi maaf atas semua kesalahan hambanya. Sebagai hamba, seharusnya kita menerapkan sifat kemahapemaafan Allah dalam diri kita.
Persoalan memberi maaf adalah persoalan yang sangat besart. Semua orang mampu untuk meminta maaf sesaat setelah melakukan kesalahan, namun hanya orang tertentu saja yang yang bisa memberi maaf. Makanya Al-Qur’ân al-Karîm sebagai wahyu ilahi, yang menyebutkan persoalan maaf sebanyak 34 kali, tidak pernah sekalipun memerintahkan umat manusia untuk meminta maaf, karena persoalan meminta maaf adalah persoalan yang kecil dan mudah, memberi maaflah yang berat. Marilah kita memperhatikan petikan ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm sebagai berikut:
tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムÎû Ïä!#§Žœ£9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏJÏà»x6ø9$#ur xáøtóø9$# tûüÏù$yèø9$#ur Ç`tã Ĩ$¨Y9$# 3 ª!$#ur =Ïtä šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÌÍÈ  
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
÷bÎ)ur óOçGö6s%%tæ (#qç7Ï%$yèsù È@÷VÏJÎ/ $tB OçFö6Ï%qãã ¾ÏmÎ/ ( ûÈõs9ur ÷Län÷Žy9|¹ uqßgs9 ׎öyz šúïÎŽÉ9»¢Á=Ïj9 ÇÊËÏÈ  
126. dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[846]. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
Balasan terhadap kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah.
Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada (dengan berjabat tangan). Sesungguhnya allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (dengan memaafkan kesalahan orang ke padanya)
Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada (dengan berjabat tangan). Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah?
Kesan yang diperoleh dari ketiga ayat di atas bahwa adalah anjuran untuk memberi maaf terhadap seseorang, bukan menunggu permintaan maafnya seseorang. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah. Kalau puasa yang telah kita lakukan berujung pada terciptanya pribadi muttaqîn (orang-orang yang bertaqwa), maka salah satu di antara tanda orang yang bertaqwa ialah orang yang selalu bersedia memberi maaf terhadap sesama manusia; artinya tidak sempurna ketaqwaan hasil puasa kita apabila kita belum berlapang dada membuka pintu maaf kita terhadap sesama manusia.
Dalam proses maaf-memaafkan marilah kita, menyadari siapa diri di mana posisi kita; kalau kita sebagai orang yang telah melakukan kesalahan terhadap seseorang, marilah kita meminta maaf langsung kepada yang bersangkutan; kalau kita sebagai seorang anak, marilah kita duduk bersimpuh mengakui dosa dan salah kita di depan ayah bunda kita; kalau kita seorang anak kecil, orang muda, atau bawahan, marilah kita meminta maaf kepada orang yang lebih dewasa dari kita. Sebaliknya sebagai orang yang lebih dewasa agar memafkan anak-anak, cucu-cuku, adik-adik atau saudara-saudara dan anggota keluarga kita yang lebih muda.
Terakhir, marilah kita menghayati pesan Rasulullah saw.
 ‘’Dua orang Islam yang bertemu satu sama lain kemudian saling berjabat tangan,, maka kedua orang itu akan diampuni sebelum melepaskan tangan dan berpisah satu sama lain. 

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment