Betulkah Pancasila Sakti ?

Add caption

TANGGAL 1 Oktober diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Pancasila yang pada 30 September 1965 diuji oleh pemberontakan G30S/PKI, merupakan kompromi politik dan pengorbanan banyak pihak yang mau mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan bangsa dan negara. Pancasila juga cermin runtuhnya egoisme kedaerahan, lokal, sukuisme demi cita-cita besar NKRI. Karena itu, Pancasila justru menemukan kedahsyatannya ketika menghadapi ujian sejarah.

Oleh Paulus Mujiran

Pancasila lahir dari ideologi keagamaan, politik dan sosial. Para pendiri bangsa mampu melihat ke depan, ketika kemajemukan, perbedaan, pluralitas harus dilihat sebagai kekuatan perekat bukan unsur pemecah belah. Dalam kandungan Pancasila, perbedaan dan pluralitas adalah kekuatan yang menyatukan.
Di era reformasi ini, Pancasila menghadapi ujian bagaimana mewujudkan kembali nilai nasionalisme dan demokrasi yang hilang belakangan ini. Di satu sisi rakyat dihadapkan fenomena globalisasi, kapitalisme. Nila universal memasuki sendi-sendi kehidupan berbangsa. Tantangan global kian dirasakan menjadi musuh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Pada saat yang sama dihadapkan pada pembangunan bangsa yang sarat dengan KKN telah menghasilkan kemiskinan di mana-mana. Persoalannya, siapa yang menjadikan lunturnya rasa nasionalisme?
Pancasila sarat dengan nilai-nilai kejuangan. Pertama, secara kodrati bangsa Indonesia memiliki tingkat pluralitas tinggi. Kondisi ini dapat memberikan implikasi positif bagi tumbuh dan berkembangnya negara dan bangsa, kalau rakyat dengan segala perangkat mampu mengelolanya. Namun jika salah pengelolaan, apalagi diperparah oleh ketiadaan "zat perekat'' bangsa, kemajemukan itu justru berisiko tinggi. Bahkan bukan tidak mungkin kehancuran negara akan terjadi.
Karena itu, bangsa Indonesia harus berani melakukan reideologisasi terhadap Pancasila. Artinya, kalau rezim Orde Baru telah mendegradasi nilai-nilai fundamental Pancasila melalui idealisasi sekaligus memperlakukannya sebagai "agama politik'', kiranya saat ini Pancasila harus diposisikan kembali pada fungsinya sebagai ideologi perekat bangsa.
Kedua, jika era ini diabstraksikan sebagai era ilmu pengetahuan dan teknologi, ia akan mengalami proses transformasi budaya dari tradisional ke modern. Dari mitos ke logos, dari nasional ke transnasional, lalu ke global mondial.
Pada titik tertentu, manusia Indonesia dapat terombang-ambing, bahkan kehilangan jati diri, jika tidak memiliki pedoman hidup bernegara. Sehubungan dengan itu, dibutuhkan Pancasila sebagai ideologi yang telah mengaktualisasikan diri dengan cara mengintegrasikan norma-norma dasar, teori ilmiah, dan fakta objektif (Kuntowibisono, 1993), sehingga memungkinkan berlangsung proses interpretasi dan reinterpretasi secara kritis dan jujur. Tingkat akhir akan menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang dinamis, akomodatif, dan antisipatif terhadap kecenderungan zaman.
Ketiga, gelombang keoptimisan proses transformasi masyarakat tradisional ke masyarakat modern, masih menyisakan "bom-bom'' keresahan yang sewaktu-waktu meledak. Memang, fenomena modernitas menjanjikan kemudahan hidup, rasio terninabobokkan, lalu perburuan atas materi dan hedonisme diperbolehkan. Namun seiring dengan itu, beraneka ragam deviasi perilaku kelompok masyarakat yang merefleksikan keterasingan dan kekosongan jiwa makin menyeruak ke permukaan.
Yang mencolok adalah munculnya budaya kekerasan dan pendewaan kepada daging. Begitu banyak orang terisolasi dari kehidupan yang sebenarnya. Persoalan hidup kian berat. Solidaritas dan persaudaraan sesama manusia kian luntur. Nilai kebersamaan, kerjasama, gotong royong bahkan keadilan sosial dipandang sebagai nilai yang kadaluwarsa (Kuntjaraningrat, 2004).
Karena itulah, sebagai komunitas bangsa yang inklusif, rakyat membutuhkan Pancasila sebagai ideologi humanitas semesta, yang mampu menjadi filter atas berbagai pengaruh negatif fenomena mo-dernitas. Sekaligus menjadi pendamping bagi masyarakat yang mulai mengalami alienasi diri. Atau mengisi kembali ruang-ruang kosong kejiwaan manusia Indonesia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal seperti cinta kasih, ketulusan, kejujuran, pengabdian, dan pelayanan terhadap sesama, bekerja sama untuk membangun kembali kehidupan bersama yang damai, harmonis, dan sejahtera
Dalam hubungan dengan Pancasila, sejak awal negeri ini dibangun, kita memahami bahwa Pancasila adalah dasar negara yang mampu mengakomodasi kemajemukan. Karena itu, bagi kita, Pancasila adalah pilihan yang tepat untuk dijadikan dasar negara.
Diakui, baik dalam perjalanan sejarah bangsa yang pahit dan kelam, Pancasila telah dan akan terus memainkan peranan dalam kehidupan bangsa dan negara, sebagai alat pemersatu yang bisa mencakup dan menyalurkan ke pelbagai cita-cita dalam pembangunan bangsa sebagai pegangan untuk mempertahankan identitas bangsa dan menggugah semangat serta kesetiaan kepada Tanah Air.
Karenanya Pancasila harus terus - menerus direaktualisasi, direvitalisasi, sehingga ia mampu mempersatukan kebhinekaan bangsa, sekaligus dapat menjawab perubahan global. Keteladanan dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila harus dilaksanakan oleh semua warga negara di semua aras, sehingga Pancasila tidak terpasung menjadi slogan, jargon, label politik tapi benar-benar menjadi nafas hidup dan mengarahkan langgam kerja manusia Indonesia.
Kesamaan hak, kesetaraan, penghargaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, sikap inklusif dan nondiskriminatif yang menjadi benang merah dari Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.
Hanya dengan terus menggelorakan semangat Pancasila dalam hidup berbangsa dan bernegara kian membuktikan bahwa Pancasila memang benar-benar sakti dan mampu melampui ujian sejarah. (11)
-Paulus Mujiran, S.Sos, MSi Alumnus Program Magister Administrasi Publik Undip, Ketua PORSOS Jateng/DIY.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment