Laskar dan Tentara KH Muslich

Dari Lasykar ke Tentara Reguler
Sebagai pejuang pergerakan, Muslich mengawali karier militernya dengan masuk lasykar Hizbullah di Purwokerto tahun 1944. Kemudian ia diangkat menjadi komandan pasukan lasykar Islam untuk Divisi Hizbullah Banyumas dengan anggota tidak kurang dari seribu orang. Setelah kemerdekaan ia juga ikut mebentuk Barisan Keamanan Rakyat (BKR) daerah Banyumas dan Cilacap, di bawah pimpinan bekas Daidanco Soedirman dengan pangkat Kapten.
Pada tahun 1947, Kapten Muslich diperbantukan di Markas Besar Pertempuran (MBP), Jawa Timur yang dipimpin oleh Mayjen Dr. Moestopo. sebagai perwira penghubung untuk daerah Madiun dan Blitar, saat itu Muslich sudah menyandang pangkat Mayor. Ketika MBP Jawa Timur dilikwidasi dan dilebur ke dalam Divisi Brawidjaja dibawah pimpinan Kolonel Sungkono, dia ditempatkan di Kediri. Tugas Muslich menjadi penghubung tentara dengan alim ulama dan umat Islam Jawa Timur. Atas jasa-jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel dan kemudian ditempatkan di Divisi Diponegoro di Semarang. Pada tahun 1951 Jenderal Soedirman wafat, dan Letnan Kolonel Muslich mengajukan permohonan berhenti dari dinas ketentaraan.
Pada suatu kesempatan, Kiai Muslich pernah menyatakan bahwa ia berkawan sangat baik dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.Karena itu ia termasuk salah seorang penggagas dibangunnya monumen Jenderal Sudirman di Banyumas beberapa tahun silam. Monumen tersebut dimaksudkan s ebagai tanda untuk mengenang jasa tokoh tersebut dalam perjuangan kemerdekaan.
Berdagang

Sejak muda, sebagai orang pergerakan Muslich tidak mengabaikan kepentingan ekonomi rumah tangganya. Dan sebagai Lasykar dia tidak pernah mengandalkan bayaran. Karena itu ia menerjuni dunia bisnis dengan aneka ragam bidang. Dimulai dengan hanya berjualan kayu bakar, berjualan pakaian, mensuplai kitab-kitab ke pesantren dan lain sebagainya.Usaha tersebut cukup maju, tapi kemudian dia berpindah jenis dagangan dengan berdagang bahan bangunan yang juga maju pesat, karena Cilacap memiliki banyak proyek besar, salah satunya pembangunan pelabuhan besar, sehingga usaha materialnya banyak memproleh order untuk menjadi supplier bahan bangunan.


Muslich memulai karirnya dengan menjadi leveransir bahan bangunan hingga kemudian menjadi kontraktor dan subkontraktor ketika pengerjaan jembatan Kali Serayu. Pernah juga menjadi pedagang kambing, untuk dikirim ke Jakarta dan Bandung, dan pernah pula menjadi agen pedagang besi tua dari perusahaan Jepang yang berpusat di Surabaya. Keagenan besi tua itu berhenti karena situasi yang tegang menjelang kemerdekaan, di mana Muslich masuk Hizbullah dan mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusah Karawang Bekasi.

Kiai Muslich yang ketika pindah ke Jakarta bertempat tinggal di Gang Mayat Paseban, kemudian pindah ke daerah Utan Kayu Jakarta Timur. Di situ kiai yang tidak mau berhenti berkhidmat itu, membuka toko penyalur “Sandang Pangan” Usaha Banyumas” yang sangat maju. Muslich kemudian turut mendirikan dan memiliki saham PT.Bank Aman Makmur, Bank Nusantara serta memiliki juga saham pada PT Pelayaran Samudera Raya Lloyd.
Bisnis tanah
KH Muslich yang sudah sangat kaya menginvestasikan sebagian uangnya untuk bisnis tanah di daerah Rawamangun. Pada tahun 1960 an Rawamangun baru saja menjadi daerah terbuka , setelah terbangunnya jalan by pass yang dibangun atas pinjaman dari Amerika Serikat Beribu-ribu meter ia miliki tanah kebun/ladang dan kaveling. Dari hasil bisnis tanah itu ia membangun Yayasan Perguruan Diponegoro di Jakarta, sebagai cabang perguruan yang sama yang ada di Purwokerto.Ternyata yang dibangun di Jakarta berkembang lebih maju.
Sebagian tanah yang dimilikinya antara lain yang dibangun asrama mahasiswa dan pelajar Islam Sunan Giri Rawamangun. Ada sekitar 4000 meter tanahnya yang dihibahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada masa Ali Sadikin, dengan kompensasi Yayasan Diponegoro dibangunkan gedung sekolah berlantai tiga. Tanah yang dihibahkan itu digunakan untuk pembangunan Pasar Ciremai Rawamangun.
Perguruan Yayasan Diponegoro asuhan KH Muslich berada di Rawamangun dan Cakung Jakarta Timur. Perguruan yang menampung hampir 4000 para siswa/siswi yang belajar dari TK sampai Aliyah (SMP-SMU/Kejuruan) ini, menempati bangunan berlantai tiga , dengan 250 orang guru dan peralatan, dan laboratorium yang lengkap. Sebelum wafatnya Kiai Muslich pernah bertutur, bahwa hidup itu berjuang dan berkhidmat untuk negara dan masyarakat. Karena itu selama masih hayat dikandung badan, berjuang harus terus dikerjakan.
Sampai usia 70 tahun dan sejak muda KH Muslich yang berperawakan kecil namun lincah dan trampil itu, tidak pernah mengenakan bantuan kacamata untuk membaca Qur’an dan Koran.Ketika ditanya apa resepnya? Kiai Muslich mengutip pesan kakeknya, bahwa setiap hari jangan tinggal membaca al-Qur’an, dan jangan bertempat tinggal di rumah yang lebih bagus dari masjid yang ada. Kiai Muslich ternyata konsekuen, meski ia punya banyak tanah, banyak uang, tapi tetap bertempat tinggal di rumah kecil sederhana di dalam komplek Yayasan Diponegoro Rawamangun Jakarta Timur.
Itulah tokoh kita KH Muslich almarhum. Tokoh ulama yang berpuluh tahun malang melintang dalam berbagai dimensi perjuangan dan kehidupan. Amal jariahnya yang amat berguna adalah tiga tempat pendidikan yang dibangunnya di Purwokerto dan Jakarta. Sudah terlalu banyak para lulusan dari sekolah ini yang kini sudah bergumul dalam kehidupan bermasyarakat, dan berbangsa dengan berbagai peran yang dimainkan.Perguruan Diponengoro yang ditinggalkannya, kini pengelolaannya diserahkan pada putera puterinya yang cukup banyak. Mereka antara lain H.Bambang Legowo, H Imam Parikesit, H Munib Tabahati.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama kepada KH Muslich. Dengan mendapatkan bintang itu, KH Muslich sesungguhnya dapat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun hal itu tidak dilakukan. Jasad almarhum tetap dimakamkan di pemakaman umum Purwokerto, atas permintaan atau wasiat almarhum. Itulah sosok kiai pejuang yang gigih berjuaang melawan penjajah, juga gigih berjuang melawan ketergantungan pada orang lain, karena itu ia gigih berjuang untuk mandiri dengan cara berdagang, sehingga hasil kekayannya bisa digunakan tidak hanya untuk menghidupi keluarga tetapi juga ditasarufkan untuk mengembangkan agama dan membangun generasi bangsa yang turut ia dirikan.
Sumber : http://www.gusmus.net
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment