Mengapa Keluarga sebagai Benteng Pra Nikah

Sesungguhnya bukan hal baru, apabila belakangan muncul informasi tentang seks pranikah di kalangan remaja. Pada era 80-an, bahkan jauh sebelum itu, sebenarnya telah dikenal pergaulan bebas di kalangan remaja yang berujung pada hubungan intim layaknya suami-istri. Hanya saja, ketika itu “gaya hidup” bebas tersebut masih terbatas pada kalangan menengah ke atas, khususnya di kota-kota besar dan jarang terdengar di ruang publik.

Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi-informasi, dan penetrasi masif budaya barat, perilaku seks bebas mulai dianggap wajar di kalangan remaja. Pemahaman seperti itu tak hanya dimiliki remaja-remaja di kota besar, tetapi telah menyusup  kota kecil, bahkan sampai ke kota kecamatan. Sejalan dengan itu, belakangan pun banyak beredar rekaman video atau foto hubungan mesum para remaja lewat telepon genggam dan internet. Tak ada lagi rasa risih pada sebagian remaja untuk mempertontonkan perilaku tak senonoh itu.

Tak heran bila Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2010 menunjukkan sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah. Tak hanya Jakarta, BKKBN pun memiliki data tentang seks pranikah yang dilakukan remaja di Surabaya yang tercatat mencapai 54 persen, Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. Sedangkan di Yogyakarta yang dikenal sebagai “Kota Pelajar”, sekitar 37 persen dari 1.160 mahasiswa mengaku mengalami kehamilan sebelum nikah.


Setidaknya ada tiga hal negatif, terutama yang akan diderita remaja putri pascamelakukan hubungan seks pranikah. Pertama, apabila dari hubungan tersebut terjadi kehamilan dan diputuskan untuk digugurkan, nyawa menjadi taruhannya.

Dalam berbagai kasus aborsi, tak hanya bayi yang dikorbankan, sang ibu pun tak jarang meregang nyawa. Bila hal ini terjadi, kenikmatan sesaat yang diperoleh harus dibayar dengan sangat mahal. Data BKKBN juga menunjukkan setiap tahun sedikitnya terjadi 2,4 juta kasus aborsi, termasuk 800.000 kasus yang dilakukan kalangan remaja.


Kedua, apabila pasangan yang telah melakukan seks pranikah dipaksa untuk menikah, keluarga yang dibangun pasti tak memiliki fondasi yang kuat. Usia yang belum matang untuk mengurus anak, emosi yang labil, dan kebergantungan pada orangtua, membuat suasana dalam rumah tangga bak di neraka, sehingga keluarga yang dibangun tak berlangsung langgeng.

Ketiga, hubungan seks pranikah bisa menjadi awal bagi remaja jatuh ke lembah prostitusi dan narkoba. Seks, prostitusi, dan narkoba, saling kait-mengait dan terbukti telah menjerumuskan sebagian remaja dalam kehidupan kelam. Tak hanya itu, risiko tertular HIV pun semakin besar di kalangan remaja yang telah akrab dengan prostitusi dan narkoba.

Dari sekitar 3,2 juta jiwa pecandu narkoba yang terdata, sekitar 78 persen adalah remaja. Data Kementerian Kesehatan pun menunjukkan pada akhir Juni 2010, terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif, di mana 48,1 persen pengidap berusia 20-29 tahun.

Untuk mencegah perilaku seks pranikah, setidaknya ada tiga komponen penting yang berperan, yakni sekolah atau kampus, lingkungan pergaulan, dan keluarga. Pendidikan seks seharusnya sudah diajarkan pada jenjang sekolah menengah pertama bersamaan dengan proses peralihan masa anak-anak menjadi remaja.

Saat itu, para remaja mulai diajari tentang organ-organ tubuh manusia, termasuk organ seks. Pendidikan seks di sekolah harus mengajarkan kepada para siswa untuk bertanggung jawab atas tubuh dan perbuatannya, sekaligus efek negatif dari seks pranikah. Mereka harus diajari tentang pentingnya memuliakan tubuh, bukan sebaliknya penistaan tubuh. Karya cipta Tuhan, khususnya organ seks, harus senantiasa dijaga hingga seorang laki-laki dan perempuan mengucapkan ikrar dan janji suci perkawinan.


Lingkungan pergaulan kerap menjadi faktor pendorong seks pranikah. Di sinilah pentingnya mencari teman yang jauh dari pergaulan bebas. Terkait hal ini, pengendalian diri para remaja menjadi kunci apakah mereka akan terjerumus atau tidak. Umumnya, para remaja mudah tergoda melakukan seks pranikah karena bujuk-rayu teman. Keberhasilan mengendalikan diri pada saat remaja niscaya menjadi modal kesuksesan di masa depan.

Dan hal paling penting untuk mencegah seks pranikah adalah peran keluarga. Sesibuk apa pun, orangtua harus selalu berupaya melakukan komunikasi dengan anak, khususnya yang beranjak remaja. Semua kegiatan anak sebaiknya dipantau, sehingga apabila ada indikasi menyimpang, bisa segera diluruskan.

Anak dan remaja juga harus didorong untuk melakukan berbagai kegiatan positif, seperti olahraga, seni dan musik, serta aktivitas keagamaan, antara lain sekolah minggu, kelompok tumbuh bersama, atau pengajian. Keluarga yang utuh dan harmonis pasti mampu menjadi benteng perilaku seks pranikah di kalangan remaja, sekaligus menjadi pilar negara. 
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment