Perlukah Perjanjian Nikah dibuat

Perencanaan di awal tahun kerap dilakukan sebagai target pencapaian atau kemajuan seseorang dalam menjalani hidup. Baik itu perencanaan terhadap pekerjaan,karir,pendidikan,bisnis hingga hal-hal yang sifatnya pribadi yang ingin anda capai di tahun ini. Menikah di tahun ini sepertinya merupakan salah satu perencanaan yang baik bagi anda yang masih sendiri dan telah memiliki kesiapan secara lahir maupun bathin. Jika itu merupakan bagian dari perencanaan anda di tahun ini, persiapkanlah hal tersebut secara matang yakinkan dan tanamkan dalam diri anda bahwa menikah merupakan sesuatu yang sakral dan hanya sekali dalam seumur hidup. Tidak ada salahnya jika anda memutuskan untuk membuat suatu perjanjian pranikah sebelum anda melangsungkan suatu pernikahan.
Di sebagian kalangan perjanjian pranikah biasanya persoalan yang sensitif, tidak etis,cenderung egois,terkesan materialistis dan  tidak lazim dilakukan. Tapi tahukah anda sebenarnya disinilah perlindungan hukum bagi anda jika sewaktu-waktu terjadi suatu permasalahan ketika anda telah berumah tangga.
Apa itu perjanjian Pranikah?
Terjadinya suatu perjanjian haruslah memenuhi 4 (empat) syarat sah,yaitu :
1.      Sepakat, yakni tiap-tiap pihak secara sadar dan tanpa ada paksaan sepakat untuk mengikatkan dirinya dalam suatu perikatan.
2.       Cakap, yakni tiap orang berwenang untuk membuat perikatan, kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu (Pasal 1329 KUHPerdata). Ditegaskan lagi bahwa yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah sebagai berikut :
a.       anak yang belum dewasa
b.      orang yang ditaruh di bawah pengampuan
c.       perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang, dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk membuat perjanjian tertentu.
3.      Suatu pokok persoalan tertentu, yakni adanya suatu persoalan tertentu yang akan diperjanjikan oleh tiap-tiap pihak.
4.      Suatu sebab yang tidak terlarang, yakni suatu sebab yang halal dalam hal ini tidak bertentangan dengan norma,agama,kesusilaan maupun peraturan perundang-undangan.
Dalam Pasal 29 UU No.1/1974 tentang Perkawinan mengatur bahwa :
1.      Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
2.      Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.
3.      Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.
4.      Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.
Diatas dapat dilihat bahwa suatu perjanjian pranikah dapat dibuat selama isi atau yang menjadi objek perjanjian tidak bertentangan dengan batas- batas hukum,agama,kesusilan,adat istiadat yang berlaku di masyarakat.
Apa isinya??
Mengingat harta yang diperoleh setelah perkawinan merupakan harta bersama, sering orang berfikir bahwa yang menjadi isi dari perjanjian pranikah pada umumnya hanya sebatas materi ataupun harta saja, apakah itu mengenai pemisahan harta kekayaan, pemisahan hutang ,pengelolaan bisnis dan sebagainya.
Namun tahukah anda bahwa perjanjian pranikah sebenarnya dapat juga dilakukan untuk hal-hal lain selama itu tidak bertentangan dengan batas- batas hukum,agama,kesusilan,adat istiadat dan dipandang perlu oleh anda dan pasangan, antara lain misalnya :
1.      Hal tentang bila terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
2.      Hal tentang pekerjaan yang mana isteri/suami tetap bekerja seperti biasa meskipun telah berumah tangga.
3.      Hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan anda jika anda ingin melanjutkan pendidikan ataupun pendidikan anak anda kelak,dsb.
Apa keuntungannya??
Yang menjadi keuntungan perjanjian pranikah antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Jika terjadi suatu permasalahan yang menyangkut hutang piutang maka harta yang dapat diambil hanyalah harta pihak tersebut (si peminjam).
2.      Isteri/Suami terhindar dari tindak kekerasan dalam rumah tangga.
3.      Terjadinya suatu keseimbangan dan kesetaraan dalam rumah tangga karena tiap-tiap pihak telah bersepakat.
4.      Terhindar dari perbuatan ataupun perlakuan kesewenangan ataupun semena-mena.
5.      Tahu batasan mana yang harus dilakukan ataupun tidak semestinya untuk dilakukan
6.      Memudahkan pembagian harta apabila terjadi suatu perceraian,dsb.
Apakah perjanjian Pranikah bisa dirubah/dicabut?
Anda dapat saja merubah perjanjian pranikah anda selama ada kesepakatan tiap-tiap  pihak dan tanpa ada paksaan.
Didalam Pasal 29 ayat 4 UU No.1/1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa “selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga”.
Sedangkan pengaturan lainnya juga ditemukan dalam Pasal 50 ayat 2 Kompilasi Hukum Islam; “Perjanjian perkawinan mengenai harta dapat dicabut atas persetujuan bersama suami isteri dan wajib mendaftarkannya di kantor Pegawai Pencatat Nikah tempat perkawinan tersebut dilangsungkan dan Pencabutan perjanjian perkawinan mengenai harta tidak boleh merugikan perjanjian yang telah diperbuat sebelumnya dengan pihak ketiga.”
Setelah di cermati sebenarnya perjanjian pranikah memberikan suatu perlindungan hukum serta memberikan kemudahan dan manfaat bagi pembuatnya. Sepertinya ini dapat di jadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi anda dan pasangan sebelum melangsungkan pernikahan.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment