Semoga Predikat Mabrur-Mabruroh

Haji Mabrur - Calon Penghuni Surga...

Selamat datang para calon penghuni Surga...
Secara berturut-turut jemaah haji Indonesia yang tergabung dengan beberapa ke lompok terbang (Kloter) tiba diTanah Air, termasuk jemaah haji dari Sumatera Selatan. Sama seperti waktu mengantar mereka ketika berangkat ke Tanah Suci, kedatangan mereka di Tanah Air juga disambut dengan gembira seta rasa haru oleh keluarga dan sanak famili.Maklum sudah 40 hari berpisah. Para jemaah yang telah menyandang predikat “haji” umumnya pulang dengan wajah berseri-seri, meski juga disertai linangan air mata, yakni air mata kegembiraan.Semua jemaah haji yang telah menjalani ritual ibadah haji di Tanah Suci tentu berharapdapat “haji mabrur”, yakni ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Harapan tersebut akan terwujud, apabila “sang haji” sekembali ke Tanah Air benar-benar mengapolikasikan nilai-nilai ibadah yang mereka lakukan di Tanah Suci.

Menyebut “haji Mabrur” memang mudah, tetapi untuk mencapainya sulit. Mungkin karena sulit meraihnya, balasan (pahala) bagi yang meraihnya juga sangat istimewa, yakni syurga. Sabda Rasulullah SAW; “Alhajjumabrur laisa lahu jazaa ilal jannah”. (Orang yang memperoleh haji Mabrur, tiada balasan baginya, kecuali syurga”). Lantas timbul pertanyaan,apakah ada jemaah haji yang tidak mendapat “haji mabrur”itu?. Jawabannya ada jemaah haji yang tidak mendapat “haji mabrur” itu? Jawabannya tentu mungkin saja. Sebab ciri orang yang mendapat “haji mabrur” menurut Rasulullah SAW, paling tidak ada empat.

Pertama, tutur katanya selalu baik, dan menyenangkan orang lain. Memiliki sifat terpuji seperti sabar,rendah hati (tawaddhu’) dan, pemaaf. Orang yang sudah menunaikan ibadah haji tidak akan mau bertutur kata yang tidak baik, atau menyakitkan hati orang. Ia selalu bersikap rendah hati, tidak sombong,
karena di Tanah Suci menurut pandangan Allah SWT semua manusia sama, meski mereka di Tanah Air seorang pejabat,penguasa atau orang kaya.

Kedua, seorang yang sudah sembahyang gelar haji akan lebih ta’at beribadah, dibanding sebelum berhaji. Di Tanah Suci ia telah dilatih untuk ta’at beribadah, termasuk shalat berjamaah.

Ketiga, seorang haji akan selalu menghindarkan diri dari berbohong dan selalu berlaku jujur dalam kesehariannya.

Keempat, sifat sosialnya meningkat, suka berinfak, dan suka menolong sesama. Apabila keempat sifat dan sikap itu sudah menyatu dalam kepribadian seorang “haji” maka berarti ia telah mendapat “Haji Mabrur”. Tetapi kalau jauh dari sifat dan sikap demikian besar kemungkinan ia tidak mendapat “Haji Mabrur”, tetapi mendapat “haji mardud”, yakni haji yang tidak diterima oleh Allah WTS. Jika kita mencermati para saudara-saudara kita yang telah menunaikan ibadah haji, secara jujur harus kita akui, bahwa mereka belum sepenuhnya mengaplikasikan nilai-nilai ibadah haji yang mereka lakukan di Tanah Suci. Masih ada “haji” yang suka menyakiti hati orang, masih ada haji yang sombong, yang bangga dengan predikat hajinya. Kita masih melihat “para haji” yang malas untuk pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Padahal selama di Mekkah dan Madinah mereka rajin ke Masjidil Haram, atau ke Masjid Nabawi. Kecuali itu, masih ada para “alumni Tanah Suci” yang tidak jujur dalam kesehariannya.....
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment