Bagiamana Kita Peduli Kepada Imam dan Khotib

kepedulian kita terhadap imam dan khatib cenderung terabaikan. Lihatlah betapa mesjid-mesjid di daerah perkampungan tidak memiliki imam yang berkualitas, dan mesjid di perkotaan tidak memiliki imam dan khatib tetap,..
 
Dipahami secara sederhana bahwa imam yang dimaksud dalam tulisan ini adalah seseorang yang diangkat untuk memimpin shalat berjamaah, sedangkan khatib adalah seseorang yang diangkat untuk menyampaikan khutbah dalam pelaksanaan shalat Jum’at atau shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Pemahaman yang sederhana ini telah mengalami penyempitan yang luar biasa di dalam terminologi Islam, karena imam yang dimaksud di dalam Alquran adalah seseorang yang mampu menjadi pemimpin (imam) bagi seluruh manusia. Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Alquran: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia...". (QS. Al-Baqarah: 124)
Pengertian Imam di dalam ayat ini disederhanakan dalam terminologi Ahli Sunnah wal Jamaah, yaitu seorang muslim yang taat dan memiliki ilmu pengetahuan yang dalam tentang agama. Ia bukanlah jabatan atau warisan dan bukan pula merupakan masalah prinsip dan rukun agama, berbeda dengan aliran Syi’ah, mereka memandang imam adalah seorang yang mempunyai sifat suci (maksum) dari dosa, dan bahagian dari rukun agama.
Imam dalam pengertian aliran Sunni tersebut dipergunakan di kalangan para ahli Fikih sebagai ahli hukum Islam, seperti Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Haramain, Imam Auzai dan lain-lain. Kesemuanya itu dipahami sebagai imam yang ahli dan mendalam pengetahuan mereka terhadap agama.
Dalam kajian Fikih Islam, dikenal istilah imam shalat, yang mana persyaratan untuk keimamahannya tidak sedalam ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh imam-imam Fikih itu sendiri. Sehingga untuk menjadi seorang imam dalam shalat tidak serumit imam-imam lainnya.
Hanya saja dituntut bagi seorang imam shalat untuk memiliki bacaan fasih, tidak sah menjadi imam jika bacaannya tidak fasih, apalagi sampai merobah bacaan dan merobah makna, seperti menghilangkan tasydid pada bacaan “iyyâ kana’budu wa iyyâ kanasta’în” (hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan.
Menjadi “iyâ kana’budu wa iyâ kanasta’în” (cahaya matahari yang kami sembah dan cahaya matahari kami mohon pertolongan). Seperti juga mengubah bacaan Al-Fatihah “as-sirâthal mustaqîm” (jalan yang lurus) menjadi “sirâqol mustaqîm” (pencurian yang benar).
Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw mansyaratkan untuk menjadi seorang imam memiliki bacaan yang fasih, Nabi Saw bersabda: Jika mereka bertiga maka hendaklah mereka mengangkat sebagai imam salah seorang diantara mereka dan yang lebih berhak diantara mereka ialah orang lebih fasih bacaannya. (HR. Muslim)
Di dalam riwayat lain dijelaskan, jika mereka yang hadir memiliki hal yang sama dalam hal bacaan, maka Rasul Saw menganjurkan orang yang dalam pengetahuannya tentang sunnah. Jika pengetahuan mereka tentang sunnah sama baiknya, maka diutamakan orang lebih dahulu berhijrah ke Madinah bersama Nabi Saw. Jika pada masa hijrah mereka juga sama yang lebih tua diantara mereka diutamakan untuk menjadi imam shalat. (HR. Ahmad dan Muslim)
Adapun seorang khatib, persyaratan yang mesti dipenuhi sama dengan persyaratan untuk menjadi seorang imam hanya saja yang dituntut kepada seorang khatib kemampuan untuk menguraikan ayat-ayat Alquran dan sunah Nabi Saw di hadapan para jamaahnya karena pada mulanya setiap yang mampu menjadi imam otomatis mampu menjadi khatib.
Nabi Saw bersabda: wal imamu yakhtub/ seorang imam selayaknya menjadi khatib.namun karena menurun nya kualitas pemahaman agama maka tidak semua imam mampu menjadi khatib bahkan sebaliknya tidak semua khatib fashih menjadi imam.
Sedemikian sederhananya persyaratan yang ditetapkan, Nabi Muhammad Saw untuk menjadi imam shalat, hikmahnya agar shalat fardhu yang diwajibkan kepada umat Islam senentiasa dilakukan secara berjamaah meskipun hanya dua orang (imam dan maksum) saja.
Akan tetapi, persyaratan yang sangat sederhana itu tidak dapat ditafsirkan bahwa Islam memandang enteng terhadap persoalan imam shalat, sehingga kepedulian kita terhadap imam dan khatib cenderung terabaikan. Lihatlah betapa mesjid-mesjid di daerah perkampungan tidak memiliki imam yang berkualitas, dan mesjid di perkotaan tidak memiliki imam dan khatib tetap, sehingga satu mesjid dapat diisi oleh 30 orang khatib atau lebih secara bergantian dalam satu tahun.
Diduga kuat, materi khutbah yang disampaikan berputar-putar dari itu ke itu saja. Mesjid-mesjid tidak mempunyai kurikulum khutbah atau silabus yang direncanakan dalam satu tahun. Pada gilirannya wawasan keagamaan jamaah jum’atnya hanya jalan di tempat, dikhawatirkan jika jamaah jum’at hanya datang melaksanakan shalat saja tidak mau mendengarkan khutbah karena tidak ada penyegaran.
Di sisi lain, kesejahteraan para imam dan khatib tidak termasuk dalam anggaran perbelanjaan mesjid apalagi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) – jauh panggang dari api – tidak pernah dibicarakan oleh pihak yang berkompeten – terutama Kementerian Agama atau Dewan Masjid – MUI, semua beban masjid ditangung oleh masyarakat sekitar masjid atau para dermawan yang peduli terhadap rumah Allah, termasuk rekenig air dan listrik.
Adalah suatu hal yang amat terhormat di mata Allah Swt dan dipandang manusia jika penguasa negeri ini – ikut menanggulangi perbelanjaan mesjid, sehingga tidak ada lagi seorang imam atau khatib meninggalkan tugasnya menjadi imam, dan para khatib akan lebih fokus meningkatkan kualitasnya dan umatnya, terlebih-lebih lagi pembangunan fisiknya seyogiayanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, tentu akan menambah kecintaan rakyat kepada pemimpinnya, dan dalam waktu yang sama tidak akan dijumpai lagi masjid-masjid yang meminta-minta di jalan raya untuk membangun/ merehab sebuah masjid.
Mungkin penulis terlalu berkhayal jika pembangunan dan pengelolaan masjid dikelola sepenuhnya oleh pemerintah, akan tetapi meningkatkan kepedulian terhadap masjid, imam-imam masjid, khatib-khatib dengan mengusulkannya untuk dianggarkan ke dana APBD, bukanlan suatu khayalan. Mudah-mudahan menjadi kenyataan. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** (H.M. Nasir, Lc., MA : Penulis: Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah )
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment