Juaibib Seorang Suhada yang dicintai Allah dan Rosulnya

Suatu kali, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memimpin sebuah peperangan melawan kaum kafir. Peperangan itu sendiri dimenangkan pasukan Muslimin. Selesai perang, beliau bertanya,"Apakah kita kehilangan seseorang?" Para sahabat saling lirik satu sama lain. Lalu salah seorang berkata,"Tidak, wahai Rasulullah!" Rasul berkata kembali,"Tetapi aku tidak melihat Julaibib, coba cari dia!"
Para sahabat pun mencari Julaibib. Akhirnya mereka menemukannya tergeletak bersama tujuh orang kafir. Ia berhasil membunuh tujuh orang, namun akhirnya ia pun terbunuh oleh mereka. Apa yang para sahabat lihat, segera mereka sampaikan kepada Rasulullah. Beliau pun bergegas mendatangi sahabat yang telah syahid tersebut. "Ia telah berhasil membunuh tujuh orang kafir dan akhirnya ia pun terbunuh. Ketahuilah, ia adalah bagian dariku dan aku pun bagian darinya." Persaksian tersebut Nabi ucapkan tiga kali. Apa artinya? Kalau Nabi mengulang sesuatu itu teramat penting dan sangat besar dalam pandangan Beliau.
Setelah berucap seperti itu, jenazah Julaibib beliau angkat dengan tangannya sendiri, lalu digalikannya liang kubur. Sungguh alangkah mulia dan beruntungnya Julaibib, yang mengangkat tubuhnya adalah kedua tangan manusia yang paling mulia. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian meletakkan sahabatnya itu di liang kubur, tanpa dimandikan terlebih dahulu (HR Ahmad).
Siapakah Julaibib?
Sebelum syahid, Julaibib bukanlah siapa-siapa. Tidak ada hal yang istimewa dari lelaki Anshar ini, selain kegemarannya mengganggu dan mencandai wanita. Boleh dikatakan Julaibib lebih dikenal (maaf) seorang playboy daripada seorang pembela agama (mujahid).  Tidak ada wanita muda yang dijumpainya, kecuali ia ganggu dan candai.
Pada masa Rasulullah, khususnya di kalangan para sahabat, mencandai wanita yang bukan mahram termasuk perbuatan yang sangat tercela. Kala itu hijab antara laki-laki dan perempuan diberlakukan dengan ketat. Sehingga pintu-pintu untuk terjadinya ikhtilat (campur baur antara lawan jenis yang bukan mahram) serta hal-hal yang bisa mendekatkan pada zina ditutup rapat-rapat. Mengganggu wanita lain apa lagi! Namun, semua itu kurang berlaku bagi Julaibib.
Tersebutlah seorang bapak bernama Abu Barzah, ia memiliki anak gadis yang belum menikah. Abu Barzah ini sangat kesal dengan tingkah Julaibib yang kerap mengganggu anaknya. "Jangan engkau perbolehkan Julaibib datang ke rumah ini. Kalau ia datang lagi, pasti aku akan berbuat sesuatu kepadanya agar ia jera," demikian pesan Abu Barzah kepada istrinya.
Ada satu kebiasaan di kalangan Anshar, orangtua yang memiliki anak gadis tidak segera menikahkannya sampai mengetahui bahwa Nabi tidak ingin menikahinya.  Begitu pun Abu Barzah dan istrinya, mereka sangat menginginkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menikahi anaknya.
Suatu ketika Rasulullah bertemu Abu Barzah dan berkata kepadanya, "Nikahkanlah aku dengan anak gadismu!" Betapa bahagianya bapak ini mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam hendak melamar anak gadisnya. "Tentu wahai Rasulullah, demi karamahmu dan kebahagiaan kami." Rasulullah pun kemudian menjelaskan,"Bukan aku yang akan menikah." Abu Barzah jadi heran, "Lalu siapa yang akan menikah?" Sambil tersenyum Rasul menjawab, "Dengan Julaibib!" Abu Barzah kaget. Ia pun menjawab dengan diplomatis, "Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk bermusyawarah terlebih dahulu dengan istri."
Sesampainya di rumah, Abu Barzah segera mendatangi istrinya. "IStriku, tadi rasulullah melamar anak kita." Setengah tak percaya ia berkata,"Benarkah? Alangkah beruntungnya kita." Namun sang suami segera menambahkan, "Anakmu tidak akan menikah dengan beliau, tapi dengan Julaibib." Istrinya langsung menjawab,"Apa! Dengan Julaibib. Tidak, demi Allah aku tidak akan mengizinkan anakku menikah dengan Julaibib!"
Ketika hasil musyawarah hendak disampaikan kepada Rasulullah, tiba-tiba saja anaknya muncul dari dalam kamar dan bertanya,"Apakah kalian menolak perintah Rasulullah? Terimalah lamaran beliau, sudah pasti Beliau tidak akan menyia-nyiakanku."
Abu Barzah pun segera pergi menghadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk menjelaskan apa yang terjadi di rumahnya. Di akhir pembicaraan ia berkata, "Kami terima lamaranmu, wahai Rasulullah." Tak lama setelah itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun menikahkan Julaibib dengan putri dari Abu Barzah.
Untuk membayar kepercayaan dan segenap perhatian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Julaibib pun berubah. Setelah menikah ia tidak lagi suka mengganggu dan mencandai wanita yang ditemuinya. Akhirnya, sejarah pun mencatat namanya dengan tinta emas. Ia meninggal sebagai syuhada kebanggaan Allah dan Rasul-Nya.
Semua terjadi karena izin dan hidayah dari Allah semata. Namun jalannya berawal dari besarnya perhatian serta tanggung jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terhadap umatnya. Beliau tidak rela bila seorang saja dari sahabatnya terjerumus. Apapun akan Beliau lakukan untuk menyelamatkan atau membimbingnya menjadi lebih baik. Itulah gambaran seorang pemimpin sejati.
Sumber: Tabloid Republika
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment