Kenapa Budaya Malu terkikis

Allah Swt berfirman: Kemudian datanglah setelah mereka “generasi” yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwat (keinginan)nya maka kelak mereka akan tersesat. (QS. Maryam:39).
Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa akan lahir generasi yang mengabaikan shalat lima waktu disebabkan karena memperturutkan keinginan untuk memenuhi segala tuntutan duniawi dengan menghalalkan segala cara dan pada akhirnya akan terkikislah ras malu.
Memperturutkan syahwat (keinginan) pada dasarnya sangat pribadi dan tidak terorganisir dalam bentuk gerakan atau organisasi tertentu, akan tetapi jika kita amati secara cermat “patuh syahwat” pada era informasi ini sudah merupakan organisasi tanpa bentuk yang tersusun rapi dan senantiasa siap untuk mengikis budaya malu anak bangsa ini. Nabi Muhammad Saw bersabda: Apabila anda sudah tidak punya lagi rasa malu, maka perbuatlah apa saja yang kamu mau. (HR. Bukhari).
Isyarat akan lahirnya gerakan syahwat tersebut telah diprediksi oleh Alquran sebagaimana disebut pada ayat di atas dengan menggunakan kata “khalfun” yang diartikan sebagai “generasi pengganti” generasi sebelumnya.
Tafsir Buya Hamka “Al-Azhar” jilid 6 hal.4342 menjelaskan, mereka adalah keturunan anak cucu yang hanya berbangga dengan keharuman nama neneknya, tetapi tidak tahu lagi intisari yang diperjuangkan nenek moyangnya itu.
Organisasi syahwat tanpa bentuk tersebut semakin menampakkan jatinya di negeri ini dengan mengatasnamakan “seni”, “budaya”, “kebebasan berekspresi”, dan lain-lain dengan menggunakan terminologi yang samar-samar pada hakikatnya adalah organisasi syahwat, atau dengan meminjam istilah Taufik Ismail “gerakan syahwat merdeka”.
Gerakan ini merambah generasi muda kita dengan begitu cepat sampai ke desa-desa, pelosok-pelosok secara perlahan tapi pasti membentuk kepribadian mereka, mulai dari tutur kata, tingkah laku dan gaya, pakaian dan cara berfikir sampai kepada ideologi bagaikan gelombang tsunami meluluh lantakkan budaya malu, ramah tamah, yang dahulunya merupakan jati diri anak negeri ini. Sungguh merupakan “musibah sosial” yang menuntut kita untuk melindungi umat ini dari kehancuran moral sangat mengkhawatirkan.
Dan lebih mengkhawatirkan kita, organisasi syahwat tanpa bentuk dan mengatasnamakan kebebasan berekspresi ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi bekerja sama bahu-mebahu melalui jaringan yang sudah mendunia dengan fasilitas-fasilitas berteknologi tinggi, bermodal besar yang didanai oleh pengusaha raksasa dan diperkuat oleh ideologi liberal yang melandasinya.
Sementara pertahanan moral kita sangat rapuh bahkan nyaris tanpa pertahanan sama sekali. Ibaratkan arus gelombang badai atau tsunami besar yang menghantam rumah-rumah penduduk, kita hanya berusaha menepisnya dengan dua telapak tangan, atau dengan sapu lidi yang seogiyanya hanya dapat menguak buih-buih tsunami saja.
Lihatlah chanel-chanel televisi swasta yang menjamur di negeri ini, secara terang-terangan telah mengeksploitasi wanita-wanita untuk memasarkan kulit mereka demi keuntungan sepihak pemilik modal dan pengusaha besar tanpa mempertimbangkan aspek moral anak bangsa ini, ceramah Mamah Dedeh dan “Ustadz Jamaah” yang berdurasi ± setengah jam, tidak sebanding dengan misi “gerakan syahwat” yang menggebu-gebu menyerang benteng pertahanan moral kita yang sudah usang, sekali lagi, sama seperti menepis tsunami dengan sapu lidi atau kedua telapak tangan.
Sudah sewajarnya bahkan sudah sampai ke tingkat wajib ‘ain (fardu ‘ain) bagi kepala keluarga, tokoh masyarakat, dan wakil-wakil rakyat untuk memproteksi (melindungi) anak-anak kita dari kehancuran moral yang menjadi target dari gerakan “syahwat bebas” di negeri ini.
Benteng pertahanan yang paling efektif untuk menangkis gelombang yang datang bertubi-tubi dari waktu ke waktu, dari kota hingga ke pedalaman adalah membudayakan rasa malu di tengah kehidupan sehari-hari, karena malu adalah merupakan perhiasan iman. Nabi Saw bersabda: Iman itu telanjang, sedangkan pakaiannya adalah taqwa, perhiasanny adalah malu, dan buahnya adalah ilmu pengetahuan. (alhadis)
Memberdayakan rasa malu dalam kehidupan, dapat dimulai sejak dini, dengan memberikan contoh prilaku yang baik kepada keluarga. Sebagai contoh, jika seorang ibu merasa malu melihat anaknya mempertontonkan auratnya di hadapan orang banyak, sewajarnya dimulai pada dirinya sendiri untuk mencontohkan pakaian yang tidak mempertontonkan auratnya kepada orang lain, sehingga sebelum dia bertindak untuk mencegah orang lain, tidak menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Pepatah Arab ada mengatakan: La tanha an khuluqin wataktia mislahu ‘arin alaika iza fa’alta azhimum (Jangan anda melarang orang berbuat suatu kejahatan sedangkan anda pelakunya adalah suatu aib besar, dosa besar jika anda lakukan itu.
Sebaliknya, jika anda mempermalukan orang lain dengan cara mengeksploitasi aurat wanita, baik di majalah-majalah, situs-situs porno, cerpen-cerpen, novel-novel rangsangan syahwat, televisi, dan di media cetak serta elektronik lainnya, tayangkankanlah aurat ibu kandung anda sendiri, nenek kandung, anak kandung, di majalah-majalah porno atau di situs-situs porno tersebut, dan tontonlah beramai-ramai. Jika anda tidak mau melakukan itu, berarti anda masih mempunyai rasa malu dalam diri anda sendiri dan berikutnya iman anda masih dihiasi oleh rasa malu.
Cara memasyarakatkan rasa malu seperti ini telah dicontohkan oleh Rasul Saw, ketika seorang laki-laki datang kepada Rasul Saw untuk diberikan izin melakukan perzinahan, lalu Rasul Saw bertanya kepada laki-laki tersebut: Apakah anda mempunyai seorang ibu? Apakah anda punya anak perempuan? Apakah anda punya saudari perempuan? Laki-laki itu menjawab: benar, saya punya semua itu.
Bagaimana jika orang lain menzinahi ibumu, saudarimu, anakmu? Laki-laki itu menjawab: tentu saya murka. Nabi Saw menjawab lagi: demikian pula seseorang yang kamu zinahi, itu tidak lebih dari anak dan ibu atau saudari dari manusia seperti kamu juga.
Dengan menginternalisasikan rasa malu ke dalam diri dan keluarga kita seperti dikemukakan diatas maka timbullah keinginan untuk memproteksi anak cucu kita dari keruntuhan moral yang semakin mengkhawatirkan, pada gilirannya desakan-desakan untuk membuat undang-undang perlindungan anak, undang-undang perlindungan moral, undang-undang anti pornografi dan porna aksi, akan disahuti oleh orang-orang masih ada rasa malunya dan belum terkikis oleh “gerakan syahwat” yang diteriakkan pendukungnya. Hanya orang yang masih punya rasa malu mau melindungi anak-anak bangsa ini dari kehancuran moral. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** ( H.M. Nasir, Lc., MA : Penulis:Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah )
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment