Rindu Ulama Karismatik

(Sebuah Catatan terhadap Acara Peluncuran Buku Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis : Pemikiran dan Karya Monumental di UNIVA pada tanggal 25 Januari 2012)
..Kalau ada yang tidak cocok, beliau menegurnya dengan bahasa yang singkat tetapi penuh makna.
Penulis tidak pernah belajar kepada Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis, tidak pernah mendengar ceramahnya, dan tidak pernah melihat wajahnya. Penulis mengetahui beliau melalui buku-buku yang dikarangnya, melalui murid-muridnya, dan cerita-cerita orang yang mengenalnya. Sedang wajahnya, penulis hanya dapat menatapnya melalui foto-fotonya.
Penulis sudah beberapa kali menulis tentang Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis, baik secara khusus tentang biografinya, seperti dalam Ensiklopedi Islam yang terdiri atas tujuh jilid dan buku Syekh. H. M Arsyad Thalib Lubis : Pemikiran dan Karya Monumentalnya yang diluncurkan di UNIVA pada tanggal 25 Januari 2012, maupun secara umum dalam buku penulis yang berjdudul, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia dan makalah-makalah dalam seminar-seminar.
Namun pada tanggal 23 Januari 2012, penulis mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan puteri Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis, Hj. Nur Aziah yang sengaja datang dari Jakarta untuk menghadiri acara peluncuran buku tersebut di atas.
Perbincangan secara fokus tentang kehidupan Almarhum Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis sehingga banyak hal terungkap yang mungkin tidak diketahui banyak orang, kecuali hanya putra-puterinya saja.
Bagaimana perasaan tidak tersentuh, seorang ulama besar yang pernah menjadi Kepala Kantor Wilayah Kemenag SU dan pernah menjadi anggota Konstituante, tapi kehidupannya sederhana.
Diberi rumah dinas, tapi tidak diterima. Beliau lebih mengutamakan rumah pribadi walaupun sederhana. Diberi mobil dinas, tapi hanya digunakan untuk kepentigan dinas. Anak-anaknya tidak boleh menaikinya kecuali waktu ziarah ke kuburan orangtuanya di Stabat.
Pernah satu kali, puterinya bernama Khairat menahan mobil dinasnya yang sedang lewat di Jl. Ismailiyah karena kebetulan puterinya ini sekolah di sana. Mobilnya meluncur lewat saja tidak berhenti mengambil puteri yang kepingin naik mobil dinas Buyahnya ini.
Waktu dirumah, puterinya bertanya mengapa mobilnya tidak berhenti tadi. Almarhum Buyahnya menjawab, “Mana ada hakmu naik mobil dinas ini”. Perasaan siapa yang tidak tersentuh dengan perlakuan seperti ini dari seorang pejabat kepada anaknya karena menjaga amanah dan kejujuran. Sungguh membuat kita rindu kepada pejabat-pejabat seperti itu di zaman sekarang.
Sebagai seorang ulama besar, ketika hendak diberikan penghargaan gelar professor oleh UISU kepadanya, Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis menolaknya. H. M Arsyad Thalib Lubis menjadi anggota Konstituante dari fraksi Masyumi. Karena Masyumi membuat konsep penerapan hukum syariat di Indonesia, Soekarno membubarkannya. Beliau pun mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS, kembali mengajar , menulis buku dan mempersiapkan kader bersama kawan-kawannya.
Pernah satu waktu beliau diberi hadiah sebuah mobil oleh seorang dermawan untuk memperlancar kegiatan dakwah. Ketika menjelang wafat beliu berwasiat bila beliau meninggal agar mobil dikembalika kepada pemberinya karena mobil itu diberi untuk kepentingan dakwah.
Ketika beliau meninggal, mobil dikembalikan kepada pemberinya karena dakwah sudah tidak lagi dilaksanakan. Begitu Almarhum meninggal, anak-anaknya melaksanakan amanah. Namun, orang yang memberi mobil tidak menerima dengan alasan bahwa haknya sudah tidak ada lagi pada mobil itu.
Sementara ucapan untuk dakwah katanya sekedar alasan agar Almarhum menerimanya. Tanpa alasan seperti itu, Almarhum tidak akan menerimanya. Namun, anak-anak tetap menjaga pesan orangtua. Lalu mereka sepakat untuk menyerahkan mobil ke UNIVA. Almarhum juga berwasiat agar mengembalikan mesin ketik yang dipinjamnya dari Kantor Kemenag.
Almarhum selalu berkata-kata baik kepada anak-anaknya. Kalau ada yang tidak cocok, beliau menegurnya dengan bahasa yang singkat tetapi penuh makna. Suatu kali, beliau tidak meninggalkan belanja. Anak-anak sepakat untuk menghidangkan nasi saja. Anak-anak sudah ketakutan. Buyah membuka makanan, ternyata nasi saja. Buyah berkomentar, “Bagus-bagus, kan kalian tidak susah-susah masak”.
Suatu kali, tamu puterinya yang bernama Khairat datang berkunjung ke rumah. Yang datang itu ada laki-laki dan perempuan. Sesudah mereka pulang, Buyah memanggil semua anak-anaknya dan berkomentar, “Laki-laki berkawan dengan laki-laki dan perempuan berkawan dengan perempuan”. Keterangannya singkat, tapi maknanya mendalam bagi anak-anak.
Pada suatu kesempatan, Almarhum diundang oleh PT. Moeis untuk menyampaikan ceramah. Waktu pulangnya diberikan uang oleh yang mengundang. Kemudian beberapa waktu kemudian, Almarhum diundang lagi. Beliau menolaknya dengan alasan, “Apa yang sudah saya ajarkan sudah cukup untuk mereka amalkan.” Ini mungkin bermakna bahwa pemberian honor yang terlalu besar kurang disenangi oleh Almarhum.
Almarhum berwasiat agar waktu mengantarnya ke pekuburan, kerandanya jangan di depan pengantar dan jangan di belakang, tapi di tengah-tengah pengantar. Maksudnya beliau ingin tetap berada di tengah-tengah umatnya sampai waktu pemakamannya. Ternyata pesannya tidak bisa dipenuhi karena pelayat terlalu banyak dan semua ingin mengangkat jenazahnya. Karena banyaknya manusia pelayat, kerandanya tidak bisa diusung lagi, melainkan berjalan di atas kepala pengunjung, seperti perahu yang bergerak di atas lautan manusia.
Almarhum juga berpesan agar karya-karya tulisnya dibiarkan seperti apa adanya. Jangan diubah-ubah, kitab-kitabnya jangan dipisah-pisah agar dapat digunakan anak cucunya yang mampu membacanya.
Karena itu, anak-anaknya tidak berani memberikan atau mewakafkannya kepada siapa pun. Namun karena khawatir buku-bukunya rusak sebab tidak dipelihara, maka putera-puterinya berpikir untuk menempatkannya di sebuah tempat yang dapat dibaca oleh banyak orang.
Misalnya, ditempatkan di suatu tempat atau ruang khusus di Fakultas Agama, UNIVA dengan status tetap milik ahli waris dan dibaca serta digunakan orang yang memerlukannya di ruang tersebut, sepanjang belum ada dari ahli waris yang bisa menggunakannya.
Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis bukan hanya menguasai ilmu yang luas, tapi juga memiliki visi yang jauh ke depan. Ketika penandatanganan pemisahan daerah dari Pemerintahan Pusat, yang dikenal dengan Dewan Gajah, Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis tidak bersedia menandatanganinya sehingga banyak orang mengritiknya sebagai penakut.
Sesudah itu, beliau mengarang buku yang berjudul Pemberontakan dalam Islam. Dalam buku ini, beliau menjelaskan syarat-syarat boleh melakukan pemberontakan, kriteria penguasa yang diprotes, dan cara-cara pemberontakan. Ternyata buku ini dilarang beredar dan beliau ditahan sebagai tahanan kota, tidak boleh keluar dari Jakarta untuk selama beberapa waktu.
Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis sangat hormat kepada tamu. Beliau berusaha menyuguhkan apa yang layak disuguhkan secara maksimal. Kemudian, kalau tamu yang datang perempuan, beliau meminta puteri-puterinya keluar ke ruang tamu untuk menghindari fitnah.
Karena sifatnya yang demikian agung, putera-puterinya sangat sayang, cinta, hormat dan kagum kepada orangtua mereka. Karena itu pula, mereka sangat hati-hati memberikan persetujuan kepada permintaan izin untuk sesuatu yang berkaitan dengan orangtua mereka, sehingga kadang-kadang terkesan sombong dan “jual mahal”.
Sebenarnya tidak demikian. Suatu kali mereka diminta persetujuan untuk menggunakan nama orangtua mereka, Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis sebagai nama bagi UMN.
Mereka tidak menyetujuinya. Pada kesempatan lain, permohonan izin juga disampaikan kepada mereka untuk menggunakan nama tersebut menjadi nama asrama di UNIVA. Mereka juga tidak dapat menyetujuinya. Sebenarnya mereka mengerti bahwa permohonan-permohonan izin menggunakan nama orangtua mererka itu bertujuan sebagai penghargaan dan penghormatan kepadanya. Akan tetapi, karena sangat hati-hati, mereka khawatir kalau persetujuan yang mereka berikan bisa berakibat tidak sejalan dengan prinsip orangtua mereka. Karena ini pula, mereka memohon pengertian kepada semua pihak agar jangan salah paham terhadap mereka.
Bagaimana pun menurut hemat penulis, semua orang hormat dan kagum kepadanya, termasuk orang-orang yang disebut-sebut sebagai ulama di tengah-tengah masyarakat sekarang ini.
Bila mengingat dan membaca sejarah keilmuan dan keperibadian Syekh H. M Arsyad Thalib Lubis wajar merasa malu karena terlalu jauh perbedaannya. Karena itu, buku-bukunya masih dibutuhkan dan dibaca orang sehingga ahli waris setiap tahun tetap menerima royaltinya. Sikap dan prinsipnya tetap dikenang dan dirindukan orang. ( Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA )
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment