Ayo Berkebun Kurma

PELUANG BERKEBUN KURMA DI INDONESIA

Pada suatu hari di tahun 1980an, almarhum Kiai As'ad dari Asembagus, Situbondo, Jatim,  kedatangan beberapa orang tamu penting yang menginap di pesantrennya. Mereka ngobrol sampai larut malam. Paginya, untuk teman minum teh, Kiai As'ad menyuguhkan kurma segar yang masih bertangkai. Kurma itu demikian segarnya hingga terkesan baru saja dipetik dari pohon. Para tamu itu terheran-heran. Mereka menyangka bahwa tadi pagi ulama besar kita ini melesat terbang ke Mekah, salat Subuh di Mesjid al - Haram. Lalu untuk oleh-oleh bagi tamunya, dia menyempatkan diri memetik beberapa tangkai buah kurma. Padahal, kurma itu memang baru saja dipetik oleh seorang santri di kebun belakang pesantren tersebut. Kurma memang bisa tumbuh dan berbuah di Indonesia. Terutama di kawasan yang kering dan panas. Situbondo adalah salah satu kawasan yang kering dan panas di Indonesia.
Kurma (Phoenix dactylifera = date palm) adalah keluarga palma (palem) yang berasal dari jazirah Arab dan Afrika Utara. Dia merupakan tumbuhan gurun yang tahan panas, kelembapan rendah dan udara kering. Namun untuk bisa tumbuh baik, pohon kurma tetap memerlukan air. Itulah sebabnya kurma tumbuh di oasis atau kawasan yang memperoleh pengairan teknis. Tumbuhan ini sudah dibudi dayakan semenjak ribuan tahun sebelum Masehi. Saat ini kurma telah menyebar ke India, Cina, AS (California) dan Australia. Di AS dan Australia, kurma dibudi dayakan secara intensif dan hasilnya diekspor, antara lain ke Indonesia sebagai negara Islam dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Di Indonesia, kurma tumbuh secara alamiah dari biji-biji kurma yang daging buahnya telah dimakan. Kalau biji itu dibuang di pasir yang terkena panas matahari langsung, maka pada musim penghujan akan tumbuh. Di Jakarta, tanaman kurma yang tumbuh "liar" ini antara lain bisa dijumpai di kawasan Priok, Jakarta Utara. Namun di Jakarta, kurma sulit untuk berbuah, karena terlalu banyak hujan.
Kurma adalah palem tunggal yang tumbuh sebagai pohon dengan ketinggian bisa mencapai 30 m. Batangnya besar berdiameter 50 cm. kasar dan berbenjol-benjol bekas tangkai daun. Daun kurma berpelepah kekar, sepanjang 3 m. kaku dan lurus. Bagian pangkal pelepah daun berduri tajam seperti pelepah sagu. Kekekaran pelepah daun kurma, mirip dengan pelepah aren (enau). Namun daunnya beda dengan aren. Kalau daun aren lebar-lebar, panjang dan masih agak lentur, maka daun kurma lebih sempit, pendek, kekar serta tumbuh lurus dan kaku. Kalau warna daun kelapa, kelapa sawit dan aren hijau tua, maka daun kurma berwarna abu-abu seperti daun lontar (siwalan). Pelepah daun tumbuh rapat  dan rimbun pada pucuk pohon. Tandan bunga kurma tumbuh di ketiak pelepah daun, seperti pada kelapa dan lontar. Bunga jantan dan bunga betina tidak terdapat dalam satu pohon (berumah dua). Hingga kurma memerlukan penyerbukan secara alami dengan angin atau buatan secara manual. Caranya, malai bunga jantan di sapukan ke malau bunga betina yang berisi ratusan bakal buah. Bisa pula penyerbukan dilakukan dengan penghembusan tepung sari menggunakan "emposan".
Masyarakat awam selalu mengira bahwa buah kurma menjadi manis karena diberi gula (dibuat manisan). Padahal, buah kurma menjadi manis karena mengandung gula. Kurma yang segar dan utuh, kurang begitu manis karena daging buahnya masih lebih banyak mengandung karbohidrat yang belum terfermentasi menjadi gula. Beda dengan kurma yang sudah disimpan lebih dari satu tahun, seluruh karbohidrat dalam daging buahnya telah terfermentasi penuh menjadi gula. Agar bisa tahan disimpan lama, kurma perlu dipasteurisasi dan dikurangi kadar airnya.  Karena mengandung gula sampai sekitar 80 %, buah kurma mampu memberikan energi (kalori) cukup tinggi bagi yang menyantapnya. Masyarakat nomad di gurun pasir yang biasa berpindah-pindah dan bepergian, bisa tahan berjalan berhari-hari hanya dengan mengkonsumsi kurma dan minum air. Kebiasaan masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi kurma pada saat bulan puasa, ada benarnya. Sebab buah ini mampu memberikan energi instan (segera) untuk memulihkan tenaga. Karenanya, tiap bulan puasa, impor kurma kita selalu naik tajam dibanding bulan-bulan biasa. Volume impor kurma Indonesia, tercatat menduduki ranking keempat setelah apel, jeruk dan pear. Meskipun dalam hal nilai, menduduki ranking kelima setelah anggur.
Seperti halnya kelapa, aren dan lontar, kurma tradisional di Timur Tengah baru akan mulai berbuah pada tahun ke delapan sampai dengan ke sepuluh semenjak tanam. Tetapi kurma-kurma hibrida sudah mampu berbuah pada umur 2,5 tahun. Batang kurma itu masih belum tampak, yang kelihatan baru pangkal pelepah daum yang masih menempel di tanah. Malai bunga akan tampai menjuntai di sela-sela pelepah daun yang penuh duri tersebut. Sekitar 5 bulan sejak bunga pertama tampak menyembul keluar, maka tandan buah sudah siap dipetik. Tandan buah masak ini kadang-kadang menyelinap di antara duri-duri pelepah lalu menjuntai menyentuh tanah. Memetik kurma setinggi 30 m. di Irak atau Yaman Selatan, harus dengan memanjat. Tetapi memetik kurma hibrida umur 3 sd. 5 tahun, justru harus berjongkok.   
Berkebun kurma secara intensif dan massal, pada prinsipnya sama dengan penanaman kelapa sawit. Bedanya hanya pada faktor agroklimat. Sawit lebih cocok ditanam di lokasi dataran rendah basah di kawasan tropis. Misalnya di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sementara kurma menginginkan kawasan dengan agroklimat ekstrim kering yang dipengaruhi iklim munson. Di Jawa, agroklimat yang cocok untuk kurma adalah Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, seluruh pulau Madura; terus ke arah tenggara ke Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo. Kawasan luar Jawa yang cocok untuk kurma adalah Bali utara, Lombok tenggara, Flores, Sumba dan Timor Barat. Sebenarnya sebagian Sulawesi pun cocok untuk kurma. Asalkan ketinggian tempat di bawah 50 m. dpl. (kawasan dataran rendah pantai), curah hujan di bawah 1.500 m. setahun dan hanya terjadi selama 3 bulan dalam setahun. Suhu udara esktrim pada siang hari sampai 32 atau 35° C. sangat mendukung kesuksesan budi daya kurma.
Investasi perkebunan sawit skala besar (puluhan ribu hektar), akan menelan biaya sekitar Rp 20.000.000,- sd. Rp 25.000.000,- per hektar sampai dengan panen perdana. Biaya ini termasuk untuk membangun sarana/prasarana, di luar pabrik. Tetapi, karena kurma memerlukan investasi air (baik sumur dalam maupun tampungan air hujan) serta benihnya masih harus diimpor dan skalanya hanya bisa ratusan hektar per unit kebun, maka tiap hektar bisa menelan biaya sampai dengan Rp 100.000.000,- Skala minimal seluas 10 hektar atau Rp 1milyar per unit kebun. Investasi terbesar akan digunakan untuk sarana pengairan dan impor benih. Dengan populasi 400 tanaman per hektar, dengan panen optimum setelah tahun ke V 50 kg. per tanaman, maka hasilnya akan  mencapai 20 ton per hektar per tahun. Kalau di tingkat petani, harga kurma bisa mencapai Rp 5.000,-per kg, maka hasil kotor per hektar per tahun setelah tahun ke V, akan mencapai Rp 100.000.000,- Harga kurma kualitas rendah di tingkat konsumen, saat ini berkisar antara Rp 15.000,- sd. Rp 25.000,- per kg. (antara Rp 3.000,- sd. Rp 5.000,- per kemasan @ 0,2 sd. 0,5 kg).
Benih kurma hibrida, paling murah didatangkan dari Australia. Caranya dengan menghubungi Asosiasi Petani Kurma melalui E-Mail atai Fax. Alamat E-Mail asosiasi ini bisa dilacak melalui internet. Kontak telepon bisa dilacak melalui Kantor Penerangan atau Atase Pertanian pada Kedubes Australia di Jakarta. Harga benih kurma pranko kebun, sangat tergantung dari jumlah pesanan. Kalau kita hanya akan membuka kebun dengan skala minimal 10 hektar dengan populasi 4.000 tanaman (pesan 5.000 benih), maka nilai benih bisa mencapai lebih dari Rp 100.000,- per polybag (Rp 40.000.000,- per hektar atau Rp 400.000.000,- per 10 hektar). Rata-rata benih kurma yang dipasarkan di Australia sudah berumur lebih dari 1 tahun sejak disemaikan. Dengan benih hibrida demikian, apabila agroklimat medukung dan perawatan tanaman sesuai dengan standar, maka kurma akan mulai berbuah pada umur 2.5 tahun dan sebelum umur 3 tahun sudah akan dilakukan panen perdana. Calon investor yang pada saat ini tertarik untuk mengebunkan kurma, maka sekitar tahun 2007 sudah akan menjadi pekebun kurma pertama di Indonesia.
Selama ini memang sering muncul pertanyaan, mengapa komoditas yang disebut sebagai berpeluang untuk diusahakan, sampai sekarang masih juga belum ada yang mau mengebunkan?  Memang informasi mengenai suatu komoditas yang masih berpeluang untuk dikebunkan, tidak pernah sampai ke masyarakat secara utuh. Misalnya, menghubungi Asosiasi Petani Kurma Australia, sebenarnya merupakan pekerjaan mudah. Bahkan Department of Primary Inddustry of Australia (Deptannya Australia), sering memberikan bantuan pelatihan bagi petani Indonesia secara gratis termasuk akomodasi dan konsumsi selama pelatihan. Syaratnya petani bersangkutan bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan bersedia menanggung biaya transporr PP. Kawasan Gresik, Pasuruan, Probolinggi, Situbondo dan Madura secara keseluruhan adalah basis NU. Pondok-pondok pesantren di kawasan ini pasti masih punya lahan cukup dan mampu pula menggerakkan masyarakat untuk melakukan budi daya kurma. Mengapa mereka tidak juga bisa memulai? Pertama karena ketiadaan informasi yang cukup, dan kedua karena keterbatasan biaya.
Kalau impor kurma kita minimal mencapai 30.000 ton per tahun (total impor buah kita 600.000 ton), dengan nilai Rp 5.000,- per kg. pranko Indonesia, maka devisa yang kita keluarkan secara rutin untuk kurma paling sedikit Rp 150.000.000.000,- (150 milyar rupiah). Angka ini akan sangat menarik untuk dinikmati oleh masyarakat Madura, Sumba, Flores dan Timor Barat yang rata-rata masih miskin. Seandainya 1/3 dari nilai impor itu bisa kita hemat, maka angkanya akan mencapai Rp 50.000.000.000,- Dana sebesar itu akan cukup untuk membuka kebun seluas 500 hektar. Kalau tiap hektar kebun akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 4 orang, maka 500 hektar kebun kurma itu akan menyerap 2.000 tenaga kerja. Apabila secara bertahap kita mulai membuka kebun kurma dari 50 hektar pada tahun 2004, setelah 2,5 tahun dibuka lagi 100 hektar dan tahun berikutnya 100 hektar lagi, maka pada tahun 2010, kita sudah bisa menghemat 1/3 dari kebutuhan kurma nasional. Namun pada saat itu, jumlah penduduk Indonesia pasti akan bertambah. Kemampuan ekonomi masyarakat juga akan menjadi lebih baik. Hingga dalam praktek, produk kurma nasional tidak akan pernah bersaing secara langsung  dengan kurma impor.  (R) * * *            
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment