Cita-2 Bung Hatta

RAY Soesilo
“Ekonomi kerakyatan bukan hanya UKM, tetapi yang lebih utama adalah Koperasi. Soko Guru ekonomi bangsa Indonesia” (Motivator Koperasi)
“Tahun 1998, ekonomi Indonesia lumpuh karena krisis ekonomi, semua bank lemas, apalagi usaha-usaha liberal. Namun ekonomi kerakyatan bangkit setelah sebulan. Ia menjadi penyelamat ekonomi Indonesia” (Motivator Ekonom Kerakyatan)
Fakta dilapangan
Saat hari koperasi ke 64 sebulan yang lalu, terlalu sepi penulisan tentang koperasi di media Indonesia. Ini wajar saja, sebab tidak semua rakyat merasa jadi anggota koperasi. Kenal saja ridak apalagi menjadi anggota. Ironisnya di UUD 1945 pasal 33, jelas-jelas dicantumkan bahwa ekonomi di RI ini berdasarkan kerakyatan, yaitu gotong royong alis koperasi.
Apa salah rakyat tidak tahu koperasi ? Rakyat Indonesia sama sakali tidak salah, yang salah adalah para pemimpin bangsa  mulai dari Presiden sampai Menteri dan seterusnya masih kurang memposisikan koperasi kepada rakyat Indonesia.
Maaf saja, mungkin saja para pemimpin itupun kurang mengerti arti koperasi dalam ekonomi. Mereka hanya tahu mencapai uang untuk keluarga dengan segala daya dan upaya.
Mengapa sampai demikian ? Apakah UUD 1945 yang salah, sehingga tak mengerti koperasi hanya samar-samar, tidak secara mendalam dihayati dikehidupan sehari-hari. Pada para cerdik pandai dalam bidang ekonomi, mereka tak mau mendalami ilmu koperasi secara mendalam. Mereka kurang sadar, bahwa dipundak dan dibenak mereka seharusnya ilmu koperasi dihayati secara mendalam lalu bisa ditularkan kepada para rakyat Indonesia. Mereka lebih terpikat pada rakyat Indonesia. Mereka lebih terpikat pada ekonomi liberal dari pada ilmu koperasi. Padahal UUD 1945 pasal 33, seharusnya dikembangkan secara mendalam.
Memperbaiki
Bagaimana cara memperbaiki keadaan yang sudah demikian hancur di Indonesia tentang ilmu koperasi ? Pada UU dasar 1945 dicantumkan, tetapi ternyata tidak dijalankan secara konsekwen. Apakah ini tidak menyelewengkan UU Dasar 45 pada pasal 33 ?
Memperbaiki keadaan yang sudah rusak dan parah memang memerlukan energy yang cukup banyak. Namun memperbaiki akan lebih gagah dari pada berkhianat terhadap pasal 33.
Setelah kita pelajari secara matang, ternyata perbaikan-perbaikan koperasi yang nyata ada beberapa hal fundamental, yaitu :
  1. Mental Swadaya, self help (Bung Hatta, 1945) adalah perlu dipupuk dalam kelompok koperasi-koperasi. Koperasi tanpa swadaya modal, bukan koperasi, ia sebuah CV, PT UD atau arisan yang bisa mencari uang cara liberalisme, yang sangat jauh artinya dari mental swadaya koperasi
  2. Mental berpendidikan koperasi (Bung Hatta 1948), yaitu para anggota Koperasi harus terdidik ilmu koperasi. Para anggota koperasi harus digembleng mentalnya dengan azas dan dengan mental-mental koperasi yang produktif (= bukan konsumtif), mental kewirausahaan yang ulet (= bukan pemboros), mental teratur menabung (= bukan jago meng-utang), (= bukan jago penghitung), mental jago pengatur ekonomi masa depan dalam keluarga dengan ERT pasti akan termotivasi menjadi anggota koperasi yang terdidik hebat.
  3. Mental gotong royong /solidaritas (Bung Karno (1449). Para koperasiwan harus memiliki jiwa patriot gotong royong ekonomi yang kuat. Ia akan solidaritas terhadap anggota koperasi yang lain yang belum berhasil. Ia akan peduli kalau koperasi lain terjerembab gara-gara salah urus oleh para Pengurus yang tak mau memikirkan para anggotanya. Mental-mental ini perlu dilestarikan oleh para koperasiawan Indonesia.
Halangan dan hambatan
Banyak sekali hambatan dan halangan untuk memperbaiki kesalahan urus koperasi di Indonesia. Sudah 66 tahun, koperasi di Bumi Pertiwi tak mampu swadaya, berdiri diatas kaki sendiri.
Halangan dan hambatan adalah :
  1. Tak mampu swadaya modal, semua koperasi maunya dibantu pemerintah. Menyedihkan !
  2. Tak pernah menjalankan pendidikan koperasi bagi anggota. Pengurus tak pernah ada/mengenal pendidikan koperasi. Mana bisa maju ? Selama 26 tahun, menjadi pengurus koperasi tetapi buta ilmu koperasi. Massya allah !!!!
  3. Tak ada pendidikan koperasi. Dari sinilah mulai timbul kesulitan-kesulitan koperasi yang melayani masyarakat. Kalau koperasi PNS – BANK – KANTOR dll masih lumayan, sebab mereka potong gaji. Lain kalau yang melayani masyarakat, disinilah pentingnya pendidikan mental anggota koperasi sebelum menjadi anggota
  4. Tak ada tabungan masuk pada koperasi. Rasa memiliki koperasi harus dipresentasikan / diwujudkan dengan mau membayar teratur sebuah Tabungan yang menjadi wujud nyata kepemilikan koperasi. Tabungan ini bisa 10 macam, mulai Tabungan Harian, Deposito, Kesejahteraan, tab Hari Tua, dan sebagainya. Justru kepemilikan koperasi oleh anggota dengan cara menabung sedikit demi sedikit ini menjadi ekonomi kerakyatan semakin kokoh dan kuat. Kunci koperasi inilah yang tidak dimiliki oleh usaha-usaha lain
  5. Tak mampu menggalang persatuan ekonomi kerakyatan. Karena sudah terbiasa enak dengan ekonomi liberal, maka ketahanan ekonomi kerakyatan yang gotong royong menjadi rapuh. Dikoperasi selalu ada simpanan wajib, yaitu menabung bulanan 10.000 – 50.000 per bulan untuk memperkuat modal Lembaga koperasi. Inilah persatuan penggalangan dana perkuatan ekonomi kerakyatan tersebut.
Memetik hasil kelak kemudian
Sungguh suatu perjalanan panjang, bahwa suatu gerakan koperasi, melakukan permenungan. Dahulu Bung Hatta sewaktu belajar di Negara Belanda (1922 – 1931) beliau belajar koperasi apa saja. Salah satu yang menonjol adalah koperasi kredit (Credit Union), yang dirintis oleh Raiffeisen (Jerman) tahun 1818 – 1888, dan dipermodern oleh Desjardin (Canada) tahun 1900. Credit Union masuk tahun 1970 dan menyebar keseluruh tanah Indonesia dari Aceh sampai Irian jaya. Dimana mereka menganut Trilogi yang tak pernah mereka lepaskan sejak tahun 1900 sampai sekarang (1900 – 2011). Trilogi tersebut adalah Swadaya Modal, Pendidikan Koperasi dan Solidaritas (gotong royong). Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), setelah 41 tahun di Indonesia (1970 – 2011) telah beranggota 1,5 juta orang dan memiliki asset/kekayaan swadaya senilai Rp 10 trilyun, atau setiap anggota memiliki rata-rata tabungan Rp 6 juta lebih. Gerakan ini benar-benar hebat, sebab swadaya dan berpendidikan koperasi seratus prosen.
Nah, menjadi jelas dan gamblang, bahwa ternyata rakyat Indonesia mampu menabung dan mampu swadaya di koperasi seperti cita-cita Bung Hatta (1945). Rakyat 1,5 juta di koperasi kredit menjadi bukti nyata bahwa mereka mampu menghimpun dana guna digulirkan untuk memetik hasil setelah 41 tahun bekerja giat, bukan pekerjaan sembarangan. Ini membutuhkan keuletan yang luar biasa.
Penutup
Menjadi jelas, sebenarnya ekonomi kerakyatan di Indonesia sangat jauh dari lemah. Ia kuat sekali, melebihi kekuatan ekonomi liberal atau neo liberal. Jangan sekali kali meremehkan ekonomi kerakyatan. Tahun 1998 menjadi pembuktian nyata, bahwa ekonomi liberal ambruk terpuruk, tetapi ekonomi kerakyatan pelan-pelan bangkit merangkul semua rakyat untuk bersama sama membangun Negara. Jangan lupakan sejarah, ia saksi hidup
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment