Antara Pengembangan Karier dan Produktivitas Karyawan

Karyawan tak semata dituntut bekerja keras, loyal, dan berkomitmen. Ternyata produktivitas tidak bisa dilepaskan dari perhatian terhadap pengembangan karir karyawan.
Karier memang merupakan kebutuhan yang harus terus ditumbuhkan dalam diri seseorang tenaga kerja, sehingga mampu mendorong kemauan kerjanya. Akhirnya prestasi dapat diraih.
Antara Pengembangan Karier dan Produktivitas Karyawan Ketika memulai langkah memasuki dunia kerja, mungkin kita akan membayangkan perjalanan karier yang mulus dan lancar. Namun faktanya das solen (harapan) dan das sein (kenyataan) tak selalu berjalan beriring. Tak sedikit perusahaan baik besar maupun kecil yang kurang peduli dan agak mengabaikan perjalanan karier karyawannya. Imbasnya, karyawan hanya diberi pilihan take it or leave it. Apakah karyawan ingin tetap bertahan atau pindah ke perusahaan lain yang lebih menjanjikan kariernya?
Dalam pendekatan tradisional, seseorang yang bergabung ke sebuah perusahaan hanya dituntut bekerja keras, berprestasi baik, loyal, dan berkomitmen. Hasilnya dia akan mendapatkan kompensasi yang memuaskan, rasa aman, sekaligus karier yang baik. Walaupun nyatanya tidak selalu demikian. Banyak faktor yang mempengaruhi jalan karier dan pengembangan karier seseorang.
Dalam persaingan bisnis yang teramat ketat, perusahaan memang dituntut untuk memperoleh tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Namun memperoleh tanpa bisa mempertahankan dan mengelolanya hanya akan membuat karyawan kabur. Karyawan akan mencari tempat yang bukan hanya menjanjikan gaji yang lebih baik tapi juga karier yang barangkali lebih jelas dan cemerlang.
Karier memang merupakan kebutuhan yang harus terus ditumbuhkan dalam diri seseorang tenaga kerja, sehingga mampu mendorong kemauan kerjanya. Akhirnya prestasi dapat diraih. Dan tentu saja banyak faktor yang mendorong karier seseorang seperti faktor kecerdasan intelektual, keterampilan kerja, dan kematangan emosi. Kematangan emosi turut mempengaruhi, karena menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira, Guru Besar IPB dan pengamat SDM, kemampuan mengendalikan emosi tertentu secara stabil sesuai dengan perkembangan usianya.
Kemampuan ini antara lain bagaimana seseorang merespon atau bereaksi terhadap fenomena tertentu. Misalnya, ketika menghadapi konflik internal dalam tim kerja. Di situ setiap individu karyawan bekerja dalam suatu sistem yang memiliki ciri-ciri interaksi sosial. Karena itu, setiap karyawan harus mampu mengendalikan emosinya untuk menciptakan, mengembangkan, dan memelihara tim kerja yang kompak.
Tiap individu karyawan sebenarnya berhak memiliki peluang untuk mengembangkan kariernya. Walau kenyataannya, ada saja karyawan yang kariernya terlambat, mandek, atau mentok. Penyebabnya, karena ada yang salah dalam sistem penilaian kinerja karyawan dan bisa juga adanya perlakuan diskriminasi dalam perusahaan, misalnya faktor subjektivitas dari atasannya. Tetapi pada perusahaan dengan sistem karier yang handal, penyebabnya barangkali adalah datangnya dari individu bersangkutan. Contohnya, individu yang tidak kompeten atau tidak mau berkembang.
Dalam sebuah perusahaan, usaha pengembangan karier biasanya datangnya dari manajemen perusahaan. Tujuannya adalah untuk melihat potensi di luar pekerjaannya saat ini dan untuk mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi pekerjaan di masa yang akan datang dalam organisasi tersebut. Ringkasnya, bagi sebuah organisasi atau perusahaan, pengembangan karier memang akan sangat berarti dan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.
Di beberapa perusahaan lain, pengem­bangan karier tidak selalu ditentukan oleh perusahaan. Tapi bisa juga oleh si karyawan. Perusahaan hanya menyediakan sejumlah dana yang diperuntukkan bagi pengembangan karir karyawan kemudian karyawan bebas memilih pengembangan karir apa yang diinginkannya. Misalnya apakah dia akan mengikuti kursus bahasa, training pengembangan pribadi, atau training kompetensi? Tentu sesuai dengan kebutuhan individu yang bersangkutan.
Bagi perusahaan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengembangkan karier karyawannya. Pertama, melakukan pemetaan, yaitu mengetahui secara persis apa yang dibutuhkan perusahaan saat ini dan di masa mendatang. Dengan pemetaan yang tepat, perusahaan dapat menentukan langkah yang harus dilakukan. Misalnya, kebutuhannya adalah teknologi informasi yang lebih handal. Maka bisa dilakukan up-grade teknologi informasi (IT) karyawan.
Kedua, kenali pula tentang bakat dan minat pegawai. Ini tentu agar pengembangan yang dilakukan kepada karyawan tidak mubazir. Bila pengembangan bidang IT yang akan dilakukan, bisa diprioritaskan terlebih dahulu karyawan atau pegawai yang memang berbakat di bidang IT atau di divisi IT.
Ketiga, sesuaikan dengan tren. Ini tentu lebih baik lagi. Bila saat ini trennya adalah karyawan atau pegawai yang harus mempunyai kemampuan bahasa asing yang bagus, sementara dalam perusahaan masih banyak karyawan dengan kemampuan bahasa asing yang buruk, maka pengembangan karir bisa diarahkan mengikuti tren.
Keempat, memberikan beberapa pilihan. Karyawan tetap bertanggung jawab sepenuhnya bagi perkembangan kariernya. Perusahaan bisa menawar­kan pilihan kepada karyawan untuk dipertimbangkan, bukan memerintahkannya untuk mengikuti pilihan tertentu. Hal ini penting, meski kadang sulit.
Lima, merancang sebuah tindakan bersama untuk perusahaan sekaligus untuk karyawan. Dengan cara, penyusunan bersama sebuah rencana aksi akan meningkatkan komitmen kedua belah pihak terhadap rencana tersebut. Manajemen dapat membantu karyawan mengenali hambatan untuk setiap jalur, dan diskusikan cara-cara mengatasi hambatan tersebut.
Memang selama ini satu-satunya arah perkembangan karier yang banyak dikenal orang adalah naik ke atas (promosi). Padahal sebenarnya masih ada lima cara lain yang bisa dipertimbangkan karyawan dalam meniti karier. Misalnya, apa yang dinamakan pindah secara lateral. Dalam keadaan ini, karyawan melakukan sebuah perubahan dalam pekerjaan, tetapi tidak harus selalu menuntut perubahan dalam level tanggung jawab.
Selain itu, melakukan eksplorasi pekerjaan dan pengayaan. Langkah ini perlu dilakukan karyawan agar lebih banyak kesempatan untuk belajar dan berkembang. Hal lain yang bisa dilakukan karyawan adalah melakukan penataan ulang atau menyesuaikan pekerjaan dengan prioritas lain, atau menyiapkan karyawan untuk bagian lain.
Bila semua hal tidak juga cocok, karyawan harus mengambil langkah yang paling ekstrem yaitu relokasi atau meninggalkan perusahaan karena mungkin pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan, minat, atau nilai yang dianut.
Pengembangan karir oleh perusahaan tidak akan berjalan sukses tanpa diikuti keinginan yang kuat dalam diri individu untuk terus berkembang. Karenanya karyawan harus melakukan beberapa hal seperti selalu melakukan evaluasi diri khususnya yang menyangkut faktor-faktor intrinsik personal yang memengaruhi kinerja. Tujuannya karyawan akan mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya khususnya tentang kematangan emosinya misalnya.
Selain itu, individu juga dituntut untuk sadar diri. Misalnya menambah pengetahuan tentang pekerjaannya ataupun yang berhubungan dengan pekerjaannya. Misalnya dengan banyak membaca dan belajar.
Kompetensi inti juga perlu terus dijaga keberadaannya. Kompetensi ini barangkali yang membedakan seseorang berbeda dengan karyawan lainnya. Ini sebaiknya harus jadi area untuk lebih bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Kompetensi inti juga perlu diperbaharui dengan perkembangan teknologi dan kompetisi agar tidak ketinggalan.
Lalu, perlukah road map pengem­bangan karier individu? Tentu perlu. Bagi karyawan, membuat rencana umum pengembangan karier individu untuk selama siklus kehidupan sebagai pekerja, banyak manfaatnya. Misalnya apa saja output karir yang diharapkan dalam kurun waktu tertentu dan apa langkah-langkah yang harus dilakukan.
Dalam teori manajemen SDM, karir tidak semata-mata diposisikan sebagai hak individu karyawan tetapi merupakan hak perusahaan juga. Artinya dengan jenjang karir yang baik dan karyawan yang berprestasi, diharapkan perusahaan juga akan mendapatkan manfaat lebih. Misalnya, profit yang lebih baik.
Karena adanya kepentingan bersama tersebut, kedua belah pihak harus bahu membahu untuk menciptakan sistem pengembangan karier yang tepat. Karyawan diuntungkan dengan karier yang jelas, dan perusahaan akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dengan produktivitas karyawan yang meningkat. Bila ini sudah mampu diwujudkan, karyawan yang loyal dan berdedikasi, tidak lagi sulit diperoleh perusahaan. Sudah siapkah Anda sebagai karyawan menyongsong pengembangan karir yang lebih baik?
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment