Bagaimana Agar Doa Mustajab

Syarat-Syarat Do`a Dan Adab-Adabnya I
Diwajibkan bagi seorang Muslim untuk membiasakan ibadah (do`a) yang mulia ini dengan memenuhi syarat-syarat dan adab-adabnya. Semua syarat dan adab ini telah terkandung di dalam firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf (55-56):

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ {55} وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ {56}
“Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”,baik itu melalui petunjuk nash ataupun isyarat. Bada’i’ al-Fawaid, (3/2).
Di antaranya:
1. Hendaknya orang yang berdo`a bertauhid mengesakan Allah Ta’ala di dalam Rububiyah, Uluhiyah, Asma dan SifatNya, hatinya penuh dengan tauhid dan pohon keimanan. Maka, syarat dikabulkannya do`a oleh Allah Ta’ala, adalah adanya pemenuhan seorang hamba terhadap perintah Tuhannya, dengan menaatiNya dan tidak mendurhakaiNya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ {186}
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo`a apabila ia berdo`a kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186).
2. Do`a tersebut adalah do`a yang masyru’ (ada dasar syariatnya) dan untuk suatu keperluan yang masyru’ (diperbolehkan agama) pula.
3. Berkeyakinan bahwasanya yang mampu mengabulkan do`a dengan memberi manfaat dan menolak kemudaratan tersebut, hanyalah Allah Ta’ala semata.
4. Merealisasikan dua rukun ibadah: Ikhlas dan mengikuti sunah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (mutaba’ah).
5. Menghadap kepada Allah Ta’ala semata dengan penuh ketundukan dan kepasrahan.
6. Memakan makanan yang halal, berpakaian, berdiam/tinggal, dan bekerja yang halal, juga suka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
7. Tidak sewenang-wenang terhadap diri sendiri dengan merusak kehormatan dan melakukan kemaksiatan, seperti durhaka terhadap kedua orang tua dan memutus hubungan sanak kerabat.
8. Tidak melanggar batas di dalam berdo`a, seperti berdo`a untuk perbuatan dosa atau memutus silaturrahim.
9. Tidak menuntut agar do`anya segera dikabulkan, juga tidak minta ditunda, tidak gampang putus asa, karena dia sedang berdo`a kepada Tuhan Yang Maha Dermawan.
10. Memulai do`a dengan memuji Allah Ta’ala sesuai dengan kedudukan yang dimilikiNya, dan dengan memohon shalawat serta salam untuk Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
11. Meyakini akan terkabulnya do`a, sebagaimana akan dibahas nanti, insyaa Alloh.
12. Berdo`a dengan tingkatan yang paling sempurna, yaitu: Pertama, bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada pembukaan do`a, pertengahan dan penghabisannya. Sebab, kedudukan shalawat bagi do`a ibarat sayap, dia akan mengangkat do`a yang tulus naik ke langit; Kedua, bershalawat pada pembukaan dan penghabisannya; dan ketiga, bershalawat pada pembukaannya saja.
13. Memulai dengan mendo`akan diri sendiri bila dia berdo`a sendirian. Karena, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika berdo`a, beliau memulai dengan mendo`akan dirinya sendiri. Dan begitu pula bila dia berdo`a untuk orang lain. Yang demikian adalah cara para nabi 'alaihimu sallam dalam berdo`a, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat-ayat al-Qur’an al-Karim. Dan dalam beberapa kesempatan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdo`a untuk beberapa orang tertentu saja. Jika dia berdo`a bersama kaum (secara berjamaah), maka mereka mengamini do`anya, disamping do`a tersebut diucapkan dalam bentuk jamak agar bisa mencakup semua orang.
14. Mengimani kekuasaan Allah Ta’ala untuk memberikan manfaat, dan mencegah bahaya, serta menghilangkan keburukan.
15. Bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan keesaan-Nya, Asma dan SifatNya, serta melalui amal yang shalih. Setelah itu, anda meminta apa yang menjadi kebutuhan anda.

Berikut ini tingkatan yang paling sempurna dari ketiga macam jenis do`a, yaitu Jala al-Afham, karya Ibnul Qayyim, hal. 79-80. :
Pertama, Anda meminta kepada Allah Ta’ala bertawassul dengan Asma dan Sifat-Nya, sebagaimana yang terdapat dalam salah satu dari dua tafsir terhadap firman Allah Ta’ala:
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya....” (al-A’raf: 180).
Kedua, Anda meminta Allah Ta’ala bertawassul dengan hajat anda, kefakiran, kehinaan, dan amal-amal shalih anda. Misalnya, anda katakan: ‘Saya adalah hamba yang fakir, miskin, hina, membutuhkan pertolongan dan lain sebagainya”; Danketiga, anda meminta kebutuhan anda, dan anda tidak menyebutkan salah satu dari kedua bentuk tawassul tersebut. Yang pertama lebih sempurna daripada yang kedua, sedang yang kedua lebih sempurna daripada yang ketiga. Jika do`a tersebut mengandung ketiga hal ini, maka do`a tersebut dikatakan paling sempurna.
16. Membaca do`a-do`a yang singkat tapi padat.
17. Menutup do`a dengan menyebut salah satu nama dari Asma’ul husna yang sesuai dengan permohonannya, karena yang demikian adalah tradisi para nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do`a mereka, sebagaimana yang terdapat di dalam beberapa ayat al-Qur’an al-Karim dan di dalam do`a-do`a Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan hal ini di dalam as-Sunah banyak sekali. Jala al-Afham, hal. 188-189; ar-Ruh, hal. 38; dan at-Tibyan, hal. 59.
Dalam keadaan suci dari hadats dan kotoran najis.
18. Agar mulutnya bersih, dan dibersihkan dengan siwak. Dengan demikian, anda bisa mengetahui bahwa do`a dan dzikir dalam keadaan mulut bercampur kotoran (bau tidak sedap) sama dengan asap rokok, itu menyelisihi etika berdo`a. Bahkan, haram hukumnya membaca al-Qur’an al-Karim pada tempat-tempat duduk yang berbau asap rokok, mengingat akan adanya sikap peremehan yang muncul akibat tindakan tersebut.
19. Pada tempat yang suci, mengingat bersifat umumnya perintah untuk menjauhi najis, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ {4} وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir: 4-5).
19. Dalam penampilan yang bagus, dengan menghadap ke arah kiblat sambil berdo`a dengan suara yang rendah dan lembut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (al-A’raf: 55).
Sungguh, Allah Ta’ala telah memuji Nabi Zakariya 'Alaihi sallam (karena berdo`a dengan suara lembut) seraya berfirman,
إِذْنَادَى رَبَّهُ نِدَآءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdo'a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.” (Maryam: 3).
19. Dengan do`a yang tidak dilagukan, tidak berlebih-lebihan dalam mengucapkannya, dan tidak disajakkan (dipuisikan). Karena, hal itu bertentangan dengan sikap rendah diri dalam berdo`a.


20. Agar do`a tersebut di-i’rab (tepat tatabahasanya) tidak dikacaukan. Karena, i’rab merupakan sandaran perkataan (kalimat), yang dengannya makna menjadi benar, dan tanpanya makna menjadi salah. Dan bisa jadi makna terbalik menjadi salah hingga berubah menjadi berma`na kufur. Oleh karena itu, Abu Utsman al-Mazini rahimahullah pernah berkata kepada seorang muridnya: “Wajib bagimu mempelajari nahwu (tata bahasa), karena Bani Israel menjadi kafir hanya karena satu huruf berat yang mereka jadikan ringan. Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa 'Alaihi sallam : ‘Sesungguhnya Aku telah menjadikanmu terlahir’, lalu mereka (membunyikannya dengan) berkata, “Sesungguhnya Aku telah melahirkanmu”, maka mereka pun menjadi kafir.”
Diriwayatkan dari ar-Rayasyi, ia berkata, “Imam Asma’i pernah menjumpai seorang pemuda yang mengatakan di dalam do`anya: ‘Yâ Dzul Jalâli wal ikrâm,’ [seharusnya: Yâ Dzal jalâli] lalu beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Pemuda tersebut menjawab: ‘Laits.’ Maka, beliau pun melantunkan bait syair: “Laits memanggil Tuhannya dengan ucapan yang salah. Karenanya, jika dia berdo`a kepada-Nya, Dia tidak mengabulkannya. Sya’n ad-Du’a karya al-Khithabi, hal. 19-20; dan Mu’jam al-Udaba karya Yaqut, (1/54).
Dan yang demikian ini dalam i’râb yang tidak dipaksa-paksakan (takalluf). Karena, sikap takalluf padanya, juga pada pengaturan lidah dan makhraj (tempat keluarnya) huruf dan bentuk takalluf dan berfasih-fasih lainnya, itu justeru bisa melemahkan konsentrasi hati pemohon (orang yang berdo`a) dalam menghadap kepada Tuhannya.
Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah punya jawaban lengkap atas suatu pertanyaan. Redaksinya Al-Fatâwâ,(22/488-489).: “Beliau pernah ditanyakan tentang seseorang yang berdo`a dengan bacaan yang salah, lalu orang tersebut bertanya kepada beliau: ‘Apakah Allah Ta’ala tidak mengabulkan do`a yang tatabahasanya salah?’ Beliau menjawab: “Siapa saja yang mengatakan perkataan semacam ini, maka dia berdosa dan menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menyelisihi apa yang telah dilakukan oleh para ulama salaf. Adapun orang yang berdo`a kepada Allah Ta’ala, tulus di dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dengan membaca do`a yang diperbolehkan, maka Allah Ta’ala akan mendengarnya dan mengabulkan do`anya, baik do`a tersebut dengan bahasa yang benar i`rabnya ataupun masih salah. Sedangkan perkataan (penanya) tersebut tidak ada dasarnya, akan tetapi orang yang berdo`a seharusnya tidak memaksakan diri dengan i`rab jika itu memang bukan kebiasaannya. Seorang ulama salaf pernah berkata, “Jika ada i’râb, maka sirnalah kekhusyu’an.” Juga dimakruhkan pula untuk bersajak di dalam berdo`a. Namun, jika ternyata itu terjadi tanpa dibuat-buat, maka hukumnya sah-sah saja. Karena, dasar do`a itu dari hati, sementara lisan hanya sebatas mengikuti hati.”
Barangsiapa yang konsennya dalam berdo`a hanya sebatas memfasihkan bacaan do`a, maka ia telah melemahkan konsentrasi hatinya. Oleh karena itu, seseorang yang dalam kondisi malarat akan berdo`a dengan do`a yang bisa membukakan hatinya (saeakan-akan melihat Allah), tidak pernah ia rasakan sebelum itu. Yang demikian itu bisa ditemukan oleh setiap orang mu’min di dalam hatinya.
Do`a itu boleh dengan bahasa Arab dan bahasa lainnya, karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui maksud yang ingin dicapai oleh si pemohon, sekalipun lisannya tidak fasih, karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui berbagai bunyi suara dengan berbagai bahasa yang berbeda-beda dan berbagai variasi kebutuhan.
21. Hendaknya pemohon mengangkat kedua tangannya mengarah ke mukanya, dengan salah satu tangannya menyatu ke tangan yang lainnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika berdo`a, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, dan menjadikan yang tengah-tengahnya menghadap ke mukanya.” (HR. ath-Thabrani di dalam al-Kabir, dengan sanad dhaif (lemah). Lihat Syarh al-Ihya, (5/35).
Karena, mengangkat kedua tangan termasuk di antara sebab-sebab diterimanya do`a. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

إِنَّ رَبَّكَ حَيِيٌّ سَتِـيْرٌ، يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِنْ رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا.
Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Tersembunyi (Tertutup), Dia merasa malu dari hamba-Nya -jika hamba tersebut (sewaktu berdo`a) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya- untuk menolak kedua tangan itu dalam keadaan hampa.”
Dan pemohon tidak perlu mengangkat kedua tangannya pada saat melakukan do`a yang terikat oleh keadaan, waktu dan tempat, mengingat tidak ada riwayat yang menyatakan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengangkat kedua tangannya pada saat itu. Seperti halnya do`a di dalam khutbah Jum’at, karena di sini khatib dan jamaah yang hadir dimakruhkan mengangkat kedua tangan mereka, kecuali jika berdo`a memohon turunnya hujan (istisqa).
Dalam hal mengangkat kedua tangan pada waktu do`a ini, telah diriwayatkan secara mutawatir (maknawi) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dalam banyak hadîts. Dan mengangkat kedua tangan serta menengadahkannya kepada Allah Ta’ala merupakan bentuk ketundukan, penyembahan dan permohonan rizki. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dikarenakan mereka selalu menggenggam tangan mereka. Maksudnya adalah mereka sangat bakhil untuk mengeluarkan harta dan berjihad. Salah seorang ahli tafsir berkata, “Allah Ta’ala mencela para kaum yang tidak mau menengadahkan tangan-tangan mereka (berdo`a) kepada Allah.” Selanjutnya dia menafsirkan ayat:

وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ
“Dan mereka mengenggam tangan mereka…” (at-Taubah: 67)
dengan mengatakan, “Maksudnya, mereka tidak mau mengangkat tangan mereka kepada Kami ketika berdo`a.”
Boleh bagi orang yang berdo`a mengusap mukanya dengan kedua tangannya tersebut sehabis berdo`a pada waktu di luar shalat, bukan di dalamnya, mengingat tidak adanya dalil shahih -bahkan dha’if sekalipun- yang mengajarkan untuk mengusap muka setelah mengangkat kedua tangan pada qunut di dalam shalat. Lihat al-Fatâwâ, (22/519).
Dalam hal mengangkat kedua tangan dan menghadap ke arah kiblat ini sudah pernah dikerjakan dan diabaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam . Dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk….” (Ali ‘Imran: 191). Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga berdo`a pada hari Jum’at di dalam khutbahnya, beliau memohon turun hujan sementara beliau berada di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya, dan beliau tidak menghadap ke arah kiblat.
Do`a disyariatkan dalam keadaan bersuci, dan ini merupakan sifat kesempurnaan do`a, dan juga dalam keadaan tidak bersuci. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan keduanya. Dari ‘Aisyah shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan, dia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ فِيْ جَمِيْعِ أَحْيَانِهِ.
“Pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam seluruh waktunya.” (HR. Muslim).
22. Agar pemohon menampakkan kefakiran dan kemiskinannya di hadapan Tuhannya, dalam suasana yang sangat mulia, yaitu berupa kehadiran hati, penuh harapan, menghadap kepada-Nya dengan sepenuh hati, tunduk, pasrah, khusyu’, harap dan cemas, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, sukar dan mudah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ketika menggambarkan keadaan para nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَباًوَكَانُوا لَنَاخَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (al-Anbiya: 90). Kata ‘yad’uunana’ (berdo`a kepada Kami) di dalam ayat ini, berarti: mereka menyembah Kami.
Di dalam sebuah hadîts disebutkan:

اْلقُلُوْبُ أَوْعِيَةٌ وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ.
“Hati itu ibarat wadah, dan sebagian wadah tersebut lebih luas daripada sebagian wadah yang lain.” (HR. Ahmad)

23. Wajib bagi seorang hamba untuk memperbanyak do`a pada waktu lapang. Terdapat riwayat shahîh dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْـتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَاْلكُرَبِ فَلْـيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ.
“Barangsiapa yang ingin agar AllahTa’alamengabulkan do`anya pada waktu sempit dan susah, maka hendaknya dia memperbanyak do`a pada waktu lapang.” (HR. Tirmizi).
Dikatakan pula: “Barangsiapa yang terbiasa mengetuk pintu, maka dia memasukinya.”

24. Hendaknya orang yang berdoa, dalam kondisi bagaimana pun berazam dalam meminta, dan agar ketika berdo`a dia yakin do`anya dikabulkan, sambil berbesar harapan akan kemurahan dan karunia Allah Ta’ala merengek dalam berdo`a dengan mengulang-ulanginya hingga tiga kali, sebagaimana yang terdapat dalam hadîts yang bersumber dari riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, “bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat suka kalau berdo`a sampai tiga kali, dan beristighfâr sampai tiga kali.” (HR. Abu Daud dan an-Nasa’i). Juga, sebagaimana terdapat dalam hadîts ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, “bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada saat terkena sihir, beliau berdo`a, lalu berdo`a, lalu berdo`a lagi.” (HR. Muslim).

25. Hendaknya pemohon merengek-rengek dalam berdo`a dan terus seperti itu, tidak merasa jemu untuk berdo`a. Karena, seorang yang merengek dalam berdo`a akan memperoleh kecintaan Allah Ta’ala kepadanya. Dan tidak ada seseorang yang binasa karena do`a, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam sebuah hadîts.

26. Hendaknya tidak minta supaya pengkabulan do`anya ditunda, dan tidak merasa gelisah bila do`anya terlambat dikabulkan, juga tidak merasa frustasi lalu tidak mau berdo`a. Jika tidak bersikap demikian, maka dia akan mengeluh dan akibatnya adalah ia berdosa, karena frustasi terhadap rahmat Allah Ta’ala termasuk salah satu dosa besar. Dan barangsiapa yang mengealuh, berarti dia telah terputus dari rahmat Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ
Dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mengeluh.” (al-Anbiya: 19). Kata ‘la yastahsiruun’ dalam ayat ini, berarti: mereka tidak merasa letih (tidak mengeluh).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang dosa-dosa besar, lalu beliau menjawab:

الشِّرْكُ باِللهِ وَاْليَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ.
Menyekutukan Allah, merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari adzab Allah.

27. Hendaknya tidak berputus asa. Allah Ta’ala telah berfirman,

قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ
Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 56). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata,

أَكْبَرُ اْلكَبَائِر: الإشرَاكُ باِلله وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ، وَاْلقَنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ، وَاْليَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ.
Dosa besar yang paling besar, adalah menyekutukan Allah Ta’ala , merasa aman dari makar AllahTa’ala dan merasa putus asa dari rahmat Allah Ta’ala (HR. Abdurrazzaq).

Di dalam sebuah atsar yang bersumber dari Sufyan bin ‘Uyainah, bahwasanya beliau pernah berkata, “Jangan sekali-kali apa yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya (putus asa) mencegahnya untuk berdo`a. Karena, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengabulkan permintaan makhluk terjahat, yaitu Iblis -semoga Allah Ta’ala melaknatinya, ketika Iblis berkata,

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {36} قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ {37}
“Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh.” (al-Hijr: 36-37).

28. Hendaknya berprasangka baik terhadap Allah Ta’ala ketika berdo`a, sebagaimana dalam keadaan lainnya di dalam seluruh kehidupannya. Terdapat suatu riwayat di dalam sebuah hadîts qudsi, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ.
AllahTa’ala berfirman, ‘Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika dia berdzikir kepada-Ku’.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Tirmizi dan an-Nasa’i).

Barangsiapa yang mempunyai prasangka baik terhadap Allah Ta’ala, maka tentunya Allah Ta’ala akan melimpahkan kepadanya kebaikan-kebaikan-Nya, dan barangsiapa yang berprasangka tidak demikian, maka tentunya Allah Ta’ala juga tidak akan demikian terhadapnya.

Imam Qurthubi rahimahullah pernah berkata, “Disebutkan bahwa makna kalimat ‘zhanni abdî bî’ disini adalah: berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan do`anya, menerima taubatnya, mengampuni dosanya ketika dia beristighfâr, dan memberi pahala ketika dia melakukan ibadah lengkap dengan syarat-syaratnya sebagai pegangan kepada kejujuran janji Allah Ta’ala.”

Namun, jangan sekali-kali anda berprasangka akan mendapatkan ampunan bila anda terus-menerus melakukan dosa. Maka, yang demikian itu hanyalah suatu kebodohan dan kelengahan belaka. Diriwayatkan di dalam sebuah hadîts bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَـنِ الْفَحْـشَاءِ وَالمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا.
“Barangsiapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka dia hanya akan semakin bertambah jauh dari Allah.” Namun, sebenarnya penyandaran hadîts ini kepada ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu adalah lebih benar. Lihat al-Fatâwâ, (7/30-31), dan ini sangat penting.

29. Hendaknya keyakinan akan terkabulnya do`a tersebut lebih menonjol dalam hatinya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadîts Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , bahwasanya beliau bersabda,

اُدْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ.
“Berdo`alah kalian kepada Allah Ta’ala sedangkan kalian merasa yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwasanya AllahTa’ala tidak akan mengabulkan do`a yang bersumber dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi dan al-Hakim).

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment