Budidaya Jagung Manis

TEKNIS BUDIDAYA JAGUNG MANIS
Benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 10-20 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam larutan anti semut dan hama. Benih yang digunakan ada dua macam yaitu benih tanaman jantan yang nantinya akan dimanfaatkan serbuksarinya, dan benih tanaman betina yang akan dimanfaatkan tongkol untuk benih. Kebutuhan benih jantan adalah 3 kg/ha, sedangkan benih betina sebanyak 9 kg/ha. Untuk mendapatkan benih yang bermutu saat ini sudah banyak dipasaran.

Pengolahan Tanah
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi diperoleh lewat pengolahan tanah yang baik dan benar, yaitu dengan cara dibajak dan digaru. Dengan pengolahan tanah akan diperoleh media yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan akar, mengurangi keberadaan gulma serta memperbaiki sirkulasi udara dalam tanah. Untuk tiap 4 meter perlu dibuatkan got yang berfungsi sebagai jalur irigasi dan drainase. Kegiatan ini dilakukan minimal 15 hari sebelum tanam.
Akan tetapi penanaman tanpa olah tanah (TOT) bisa juga dilakukan untuk mengejar waktu tanam. Dengan catatan pembersihan lahan harus tetap dijaga untuk mengurangi serangan hama atau penyakit sisa dari tanaman terdahulu.

Teknik Penanaman
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanaman adalah split tanam antara jantan dan betina, perbandingan populasi jantan :betina, jarak tanam, penugalan dan jumlah benih perlubang.
•Pemisahan waktu tanam dimana benih jantan ditanam lebih dahulu dan diberi tanda patok berbendera, baru 6 hari kemudian benih betina ditanam.
•Perbandingan populasi jantan dengan betina adalah 1 : 4.
•Jarak tanam antar betina adalah 75 x 25 cm, dan jarak baris betina dengan baris jantan adalah 50 cm.
•Lahan ditugal dengan kedalaman 5 cm, kemudian benih dimasukkan satu benih perlubang dan ditutup lagi dengan abu atau sekam.

Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan pada umur 7-10 hari. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 14 hari.

Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, pengairan, dangir dan bumbun, mencabut tanaman tipe simpang (roguing), serta pengendalian hama dan penyakit.Pemupukan
Pupuk yang digunakan adalah pupuk campuran antara ZA : SP-36 : KCl dengan perbandingan dosis perhektar adalah 280 : 210 : 35. pemupukan pupuk campuran ini dilakukan dalam tiga aplikasi berturut-turut adalah :

    Umur 0 hari dengan dosis ZA : SP-36 : KCl adalah 70 : 140 : 35 yang diaplikasi dengan tugal pada jarak 5 cm dari lubang dan ditutup lagi.
    Umur 15 hari dengan dosis ZA : SP-36 adalah 70 : 70 yang diaplikasikan dengan cara tugal 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi.
    Umur 45 hari dengan dosis ZA sebanyak 140 kg yang diaplikasikan dengan digejik pada jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi.

Pengairan
Tiga hari sebelum tanam lahan perlu diairi untuk menciptakan kondisi tanah yang lembab dan hangat, sehingga mempercepat terjadinya perkecambahan benih serta ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang penting dijaga agar tanaman tidak kekurangan atau kelebihan air. Pengairan diberikan setiap kali selesai pemupukan. Jadwal pengairan yang dianjurkan adalah pada umur 3, 15, 30, 45 hari.

Dangir dan Bumbun
Pendangiran adalah usaha untuk mengurangi keberadaan gulma di areal tanaman, yang berpotensi sebagai kompetitor bagi tanaman jagung. Dangir dilakukan sebelum perlakuan pemupukan yaitu pada umur 21 dan 28 hari. Sedangkan membumbun adalah usaha untuk memperbaiki sirkulasi udara serta membantu pertumbuhan perakaran tanaman.

Cabut Bunga (Detaseling)
Yang dimaksud adalah mencabut bunga jantan tanaman betina saat tanaman berumur antara 40-50 hari. Pekerjaan ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.00 wib sampai selesai dan diulangi lagi sebanyak 7-10 hari sampai benar-benar tidak ada lagi bunga jantan di tanaman betina. Syarat yang harus diperhatikan adalah jangan membiarkan kuncup bunga jantan sampai mekar dan pollen sudah pecah, karena akan mengakibatkan self pollinations. Standart kelulusan cabut bunga (detaseling) adalah 2.

Babat Jantan
Tanaman jantan harus dibabat untuk menjaga kerahasiaan perusahaan bila proses serbuk silang sudah selesai dan untuk menghindari tercampurnya buah jantan pada saat panen. Hal ini dapat dilihat dengan adanya ciri-ciri rambut pada tongkol jagung sudah kering dan berwarna kecoklatan. Pekerjaan ini dilakukan cukup sehari yaitu pada umur 65 hari.

Rouguing
Rouguing adalah kegiatan membuang tanaman yang bersifat menyimpang dari tanaman yang diharapkan. Ini dapat dilihat antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut : penampilan yang terlalu subur dengan daun yang lebar, warna pangkal batang yang merah, serta warna bunga yang merah. Perlakuan ini dilakukan baik pada tanaman jantan maupun betina, berfungsi untuk menjaga kemurnian induk sebagai penghasil benih, dan dilakukan dengan kontrol setiap minggu.

Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

Hama dan Penyakit
Hama dan Pengendaliannya
1. Lalat bibit (Atherigona exigua S.)

    Gejala serangan hama ini pada saat tanaman berumur 7-14 hari dengan gejala daun berubah menjadi kekuning-kuningan, disekitar gigitan atau bagian yang diserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.
    Ciri-ciri lalat bibit adalah warna lalat abu-abu dengan warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, panjang lalat 3 – 3,5 mm.
    Pengendalian hama ini adalah dengan penanaman serentak dan menerapkan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup, terutama setelah selesai panen jagung. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan lahan dari gulma, serta mengendalikan dengan semprot pestisida menggunakan Dursban 20 EC, Hostation 40 EC, Marshal 25 ST dengan dosis sesuai anjuran.

2. Ulat pemotong dan penggerek buah

    Contoh ulat pemotong adalah Agrotis sp., Spodoptera litura.
    Contoh ulat penggerek adalah Ostrinia furnacalis.
    Contoh ulat penggerek buah adalah Helicoverpa armigera.
    Gejala serangan ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batang, adanya tanaman muda yang roboh.
    Pengendalian hama-hama tersebut adalah dengan tanam secara seremmpak pada areal yang luas, mencari dan membunuh secara manual, serta melakukan semprot dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran.

Penyakit dan Pengendaliannya
1. Penyakit bulai (Downy mildew)
Disebabkan cendawa peronosporta maydis yang berkembang pesat pada suhu udara 27 derajat ke atas serta keadaan udara yang lembab. Gejala serangan adalah pada tanaman umur 2-3 minggu, daun runcing dan kaku, pertumbuhan terhambat, warna daun kuning dan terdapat spora berwarna putih pada sisi bawah daun.
2. Penyakit bercak daun
Disebabkan oleh jamur Helminthosporium sp, dengan gejala adanya bercak memanjang berwarna kuning dikelilingi wanra kecoklatan. Semula, bercak tampak basah kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningan, dan akhirnya menjadi coklat tua.
Pengendalian dengan cara pergiliran tanaman serta dengan menyemprot bahan kimia seperti Daconil dan Difolatan.
3. Penyakit gosong bengkak
Disebabkan jamur Ustilago sp. yang menyerang biji, sehingga menyebabkan pembengkakan yang mengakibatkan pembungkus menjadi rusak.
Pengendalian dengan jalan mengatur irigasi dan drainase, memotong bagian yang terserang dan dibakar, serta menggunakan benih yang sudah dicampur dengan fungisida misalnya Saromyl.
4. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebabnya adalah jamur Fusarium atau Giberella zeae. Penyakit ini baru dapat diketahui setelah klobot dibuka. Biji-biji yang terserang berwarna merah jambu atau merah kecoklatan yang akan berubah warna menjadi coklat sawo matang.
Pengendalian adalah dengan menggunakan benih varietas unggul, pergiliran tanaman, seed treatment, serta melakukan penyemprotan dengan bahan aktif Mancozep bila ada gejala serangan.

Panen
Panen jagung manis dilakukan sekitar umur 95-100 hari, dimana pada saat tersebut buah tanaman sudah dikatakan masak secara fisiologis dengan ciri-ciri daun dan kelobot sudah mengering (menguning), bila kelobot dibuka biji sudah tampak kisut 100%, serta ada black layer pada daerah titik tumbuh.
Teknis panen dapat dilakukan sebagai berikut :

    Kelobot pembungkus buah dikupas dengan cara disobek dengan tangan.
    Seleksi buah, dengan cara dipisahkan antara buah normal dengan yang masih muda serta busuk. Buah yang muda dipisahkan untuk kemudian dijemur dahulu. Sedangkan yang busuk dibuang dan tidak perlu dikirim ke pabrik.
    Buah-buah normal dimasukkan ke dalam zak-zak yang sudah disiapkan, untuk kemudian ditimbang dan dikirim ke pabrik.bersedih, karena tidak bisa menindungi teman yang dalam kesusahan. Itulah yang menyebabkan hatiku bersedih,apa yang harus kulakukan.?”

Ikan-ikan pikirannya kacau, hatinya sedih semua ketakutan akan kedatangan kematian.” Ratu Pendeta, tolonglah saya,dari maut. Tidak ada yang bisa membantu kami kecuali sang pendeta. Pendeta sebagai kehidupan hamba.” Sang Baka semakin gembira mendengar kata-kata ikan itu. Seraya berkata,”Kamu ikan semua,kalau kamu ingin selamat hidup, ada akalku. Waktu dulu ada sebuah telaga yang besar airnya bening,bernama Andawana. Telaga itu adalah telaga Hyang Rudra yangamat indah,tak ada yang menyamai.Tidak ada manusia yang menyentuh airnya. Semua ikan yang hidup disana tidak bia dimakan oleh siapaun.Kalau kamu ingin hidup saya akan membawa kamu kesana.Nanti kalau sudah sampai, disana tidak ada lagi bahaya yang datang. Saya berjanji dan bersumaph,kalau saya tidak setia pada perkataanku,aku sanggup menerima semua pahalanya.Ikan-ikan di kolam itu amat percaya dan tertarik hatinya mendengar kata sang Cangak. Ikan yang memang bodoh tidak tahu dirinya diolok-olok,segera mempecayainya. Semua mintak supaya cepat diajak ke kolam Andawana kepunyaan Hyang Rudra. Lalu burung Cangak segera membawa dengan menggigit,dan memegang dengan jari kakinya. Sang Baka terbang keudara menuju keatas gunung. Disana ada sebuah batu hitam yang datar dan luas. Disanalah tempatnya ia memakan ikan tiap hari.

Entah berapa lamanya Sang Baka membawa ikan-ikan kepuncak gunung dan memakannya. Hampir punahlah ikan dalam kolam Kumudasara,namun masih tampak seekor ketam diam diantara bebatuan ditepi kolam. Sang ketam sudah menduga sang Cangak adalah-&#&# burung yang mempunyai sifat loba,tamak dan rakus.Iapun segera menghampiri sang Cangak,memohon supaya turut diajak ketempat temannya. Pendeta Baka ( Cangak) menurutinya. Sang Ketam (yuyu) sudah berglayutan di leher sang Baka. Sang Baka segera terbang menuju gunung tempatnya memakan ikan-ikan tersebut. Setelah sampai di atas gunung ,sang Ketam menoleh ke bawah.Dilihatnya tulang belulang ikan berserakan di atas batu. Sang ketam semakin percaya akan kejahatan sang Baka.” Wah disini temanku kau makan.Kamu amat durhaka kepada teman.Suaramu manis tapi kenyataannya kamu jahat”Demikian bisikan hati sang Ketam seraya menjepit leher sang Baka. “Jangan kamu turunkan saya disini,bawa saya kembali kekolam Kumudasara. Kalau tidak nyawamu akan melayang.” Sang Baka amat malu karena akal bulusnya ketahuan. Sang Baka menangis tersedu,hatinya gelisah,rupanya pucat pasi menunduk.” Maafkan saya,karena perbuatanku salah. Sekarang saya akan menerbangkan tuan ke Kumudasra. Jangan tuanku marah,ampunilah nyawaku” Sang Baka lalu terbang membawa sang Yuyu ke tempat semula. Tidak lama di jalan sang Baka sudah sampai ditempatnya semul,lalu berkta,” Tuanku sang Yuyu lepaskanlah jepitan tuan dari leherku!” Sang Ketam malah menjepit lebih keras,sampai lehernya putus. Demikianlah hasil perbuatan tidak setia pada teman karib. Tidak lama bisa menikmati kebahagian,sebab hyang kala akan datang menjemput untuk dibawa kelembah kenerakaan di Yamaloka. Begitulah critanya sang Tuma .

Sang Titih amat senang mendengarkan. Berdua lalu beteman karib, kemana-mana selalu bersama. Pada suatu hari sang Prabu merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk. Sang titih senang hatinya mendapat kesempatan yang bagus. Iapun bergegas untuk mengisap darah sang prabu.Hatinya amat tertarik melihat paha sang prabu putih langsat. Baru ia akan menggigit paha sang prabu,sang Tuma segera memberi nasehat.” Hai teman Sang Titih,jangan tergesa-gesa menggigitnya. Nanti malam sesudah beliau tidur lelap,waktu itu baru kamu boleh menggigitnya.” Sang Titih tak bisa mengendalikan indryanya, sehingga ia tak mengikuti nasehat temannya. Ia segera menggigitnya, mengisap darah. Sang Prabu terkejut dan segra bangun, seraya memerintahkan abdinya untuk mencari apa yang menggigit beliau. Sang Titih lari menuju dinding dan sembunyi diantara lepitan dinding.Sang Tuma laki perempuan didapati di lepitan kasur,lalu segera dibunuh.Demikian juga sang Titih mati terpijit didinding.

“Nah demikianlah tidak ada gunanya belas ksih pada seseorang kalau yang dikasihi tidak bisa menerimanya.Demikian kata sang prabu Singa kepada hamba. Beliau juga amat menyesal karena telah terlanjur berteman pada tuanku sang Nandaka. Beliu merasakan dirinya seperti hancurnya manuk mangsa (burung pemakan daging) ,karena ulah burung Tuu-tuu. Baiklah tuan akan kuceritakan!” Demikian kata sang Sambada, lalu bercerita…….(bersambung:”Hancurnya Manuk Mangsa karena Burung Tuu-Tuu”)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment