Cerita Fiksi Untuk Burung Bangau


Siasada (Tuma)lalu berceritra sebagai berikut. Ada sebuah kolam yang indah,airnya jernih. Ikannya berwarna-warni,berkeliran dalam air. Ada yang yang berteduh di bawah daun tunjung (padma) biru yang bunganya sedang mekar. Pinggirnya amat mempesona,yang ditumbuhi bermacam bunga .Baunya semerbak mewangi. Kumbangnya beterbangan mengisap adu. Ada juga tumbuhan yang sedang berbuah dengan lebatnya.Bangsa burung banyak yang betengger didahannya, bersuara kegirangan. Seperti orang berkumpul untuk belajar mencari ilmu. Diantara burung-burung itu ada burung Cangak yang amat durhaka dan loba. Ia telah mengetahui bagaimana kehidupan ikan-ikan di kolam itu. Ia telah banyak memangsa ikan disana,oleh karenanya para ikan tidak berani mendekat padanya. Untuk itu burung Cangak lalu mencari daya upaya. Ia merubah sikapnya seperti orang yang bijaksana, memakai anting-anting, ganitri,maketu,berslimut putihsebagai seorang pendeta.

Setiap hari selalu melaksanakan tapa brata dan semadi.berjalanpun ia pelan dan hati-hati, Ia lalu berdiri dipinggir kolam bertengger diatas pohon Sindura, ditempuh ombak air telaga.pandangan matanya seperti orang yang sedang melakukan pemujaan. Sepertinya ia sedang melakukan ajaran tatwa utama,suaranya tak karuan.Menghaturkan weda sruti pada hyang Surya. Ikan-ikan yang berenang didepannya tak dihiraukannya. Sudah beberapa hari burung Cangak itu berbuat demikian lalu, ikan -ikan dalam kolm itu semakin berani berenang menghampiri burung Cangak, namun sang Cangak tetap tak menyakiti ikan itu .Ikan -ikan itu lalu bertanya pada burung Cangak itu.” Mengapa sekarang tuan sangat berubah,tida lagi garang memakan ikan. Tingkah laku tuan seperti orang sadu” Sang Cangak berkata manis,” Saya sekarang tidak lagi,melakukan pembunuhan .Saya sudah melakukan yang disebut “Trikaya” berpikir,berkata dan berbuat yang baik.Sekarang aku telah mensucikan diri (madiksa) sebagai sorang pendeta.Ingin menghilangkan perbuatan jahat,dan menghilangkan dosa yang telah ku lakukan dahulu. Aku ingin berbuat yang benar yang telah digariskan dalam ajaran kitab suci.”

Ikan-ikan dalam kolam itu semua senang mendengarknnya,seraya berkata,”Kami amat berbahagia,semoga ratu pendeta rela memberi ajaran pada kami sekalian,sehingga kami bisa jadi mahluk yang baik. Kami siap untuk berguru pada sang pendeta,yang akan saya mintai petunjuk untuk menuju jalan yang benar. Pranda Baka (cangak) tersenyum lalu berkata,” Kamu tak usah sedih, saya akan memberitahu kamu perbuatan yang benar.Tujuannya untuk mencapai kebahagian sekala dan niskala. Kamu harus benar-benar ingat akan baik buruk, selalu setia pada guru,selalu memegang dharma, Itu yang akan dipakai untuk mengurangi pengaruh buruk panca wisaya (panca indra). Kalau demikian jelas kamu akan bisa mendapatkan yang disebut “rua bineda”,untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Itulah yang patut kamu lakukan sehari-hari.Satukan pikiran, jangan ragu.”Para ikan semua senang dan bersedia mengikuti perinatah sang Pendeta Baka.

Entah berapa lamanya Sang Baka berteman akrab dengan ikan-ikan itu. Semua ikan tidak mempunyai perasaancuriga,karena percaya pada Sang Cangak benar -benar dharma. Ikan-ikan dalam kolam selalu menikmati kebahagian tak merasakan ada bahaya yang akan menimpa dirinya. Lama kelamaan ikan itu semakin banyak. Selalu gembira berenang menikmati keindahan kolam. Sang Baka amat senang karena akal mulusnya telah berhasil. Pada suatu ketika ia berdiam diatas tumbuhan Sindura,seraya menangis tersedu-sedu. Ia kelihatannya bersedih menundukkan wajahnya.Seua ikan yang melihatnya terkejut,mendengar isak tangisnya Sang Baka. Semua tertunduk menghormat menghadap.Sang Baka tetap menangis tersedu, air matanya meleleh membasahi pipinya,seraya berkata terputus-putus,” Aku amat bersedih melihat kamu sekalian.Belum berapa lama kamu mersakan kegembiraan,menikmati makanan di kolam ini, bersama sanak keluargamu.Amat senang saya melihat keadaanmu bergembira bersama keluargamu. Tadi saya mendengar kabar, penangkap ikan sudah sepakat, akan datang kemari untuk mencari ikan.Ada yang membawa ,jarring.pancing, malah ada yang sudah siap racun. Ia akan datang kemari tiga hari lagi,dengan lengkap bekal nasi,tuak. Itulah yang menjadi pemikiran saya.apalagi melihat kamu menggelepar waktu dibakar. Sanak keluargamu semua akan mati kena racun. Kasihan kamu akan habis semua,yang mengakibatkan persabatan kita tidak bisa berlanjut.Saya sangat bersedih, karena tidak bisa menindungi teman yang dalam kesusahan. Itulah yang menyebabkan hatiku bersedih,apa yang harus kulakukan.?”

Ikan-ikan pikirannya kacau, hatinya sedih semua ketakutan akan kedatangan kematian.” Ratu Pendeta, tolonglah saya,dari maut. Tidak ada yang bisa membantu kami kecuali sang pendeta. Pendeta sebagai kehidupan hamba.” Sang Baka semakin gembira mendengar kata-kata ikan itu. Seraya berkata,”Kamu ikan semua,kalau kamu ingin selamat hidup, ada akalku. Waktu dulu ada sebuah telaga yang besar airnya bening,bernama Andawana. Telaga itu adalah telaga Hyang Rudra yangamat indah,tak ada yang menyamai.Tidak ada manusia yang menyentuh airnya. Semua ikan yang hidup disana tidak bia dimakan oleh siapaun.Kalau kamu ingin hidup saya akan membawa kamu kesana.Nanti kalau sudah sampai, disana tidak ada lagi bahaya yang datang. Saya berjanji dan bersumaph,kalau saya tidak setia pada perkataanku,aku sanggup menerima semua pahalanya.Ikan-ikan di kolam itu amat percaya dan tertarik hatinya mendengar kata sang Cangak. Ikan yang memang bodoh tidak tahu dirinya diolok-olok,segera mempecayainya. Semua mintak supaya cepat diajak ke kolam Andawana kepunyaan Hyang Rudra. Lalu burung Cangak segera membawa dengan menggigit,dan memegang dengan jari kakinya. Sang Baka terbang keudara menuju keatas gunung. Disana ada sebuah batu hitam yang datar dan luas. Disanalah tempatnya ia memakan ikan tiap hari.

Entah berapa lamanya Sang Baka membawa ikan-ikan kepuncak gunung dan memakannya. Hampir punahlah ikan dalam kolam Kumudasara,namun masih tampak seekor ketam diam diantara bebatuan ditepi kolam. Sang ketam sudah menduga sang Cangak adalah-&#&# burung yang mempunyai sifat loba,tamak dan rakus.Iapun segera menghampiri sang Cangak,memohon supaya turut diajak ketempat temannya. Pendeta Baka ( Cangak) menurutinya. Sang Ketam (yuyu) sudah berglayutan di leher sang Baka. Sang Baka segera terbang menuju gunung tempatnya memakan ikan-ikan tersebut. Setelah sampai di atas gunung ,sang Ketam menoleh ke bawah.Dilihatnya tulang belulang ikan berserakan di atas batu. Sang ketam semakin percaya akan kejahatan sang Baka.” Wah disini temanku kau makan.Kamu amat durhaka kepada teman.Suaramu manis tapi kenyataannya kamu jahat”Demikian bisikan hati sang Ketam seraya menjepit leher sang Baka. “Jangan kamu turunkan saya disini,bawa saya kembali kekolam Kumudasara. Kalau tidak nyawamu akan melayang.” Sang Baka amat malu karena akal bulusnya ketahuan. Sang Baka menangis tersedu,hatinya gelisah,rupanya pucat pasi menunduk.” Maafkan saya,karena perbuatanku salah. Sekarang saya akan menerbangkan tuan ke Kumudasra. Jangan tuanku marah,ampunilah nyawaku” Sang Baka lalu terbang membawa sang Yuyu ke tempat semula. Tidak lama di jalan sang Baka sudah sampai ditempatnya semul,lalu berkta,” Tuanku sang Yuyu lepaskanlah jepitan tuan dari leherku!” Sang Ketam malah menjepit lebih keras,sampai lehernya putus. Demikianlah hasil perbuatan tidak setia pada teman karib. Tidak lama bisa menikmati kebahagian,sebab hyang kala akan datang menjemput untuk dibawa kelembah kenerakaan di Yamaloka. Begitulah critanya sang Tuma .

Sang Titih amat senang mendengarkan. Berdua lalu beteman karib, kemana-mana selalu bersama. Pada suatu hari sang Prabu merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk. Sang titih senang hatinya mendapat kesempatan yang bagus. Iapun bergegas untuk mengisap darah sang prabu.Hatinya amat tertarik melihat paha sang prabu putih langsat. Baru ia akan menggigit paha sang prabu,sang Tuma segera memberi nasehat.” Hai teman Sang Titih,jangan tergesa-gesa menggigitnya. Nanti malam sesudah beliau tidur lelap,waktu itu baru kamu boleh menggigitnya.” Sang Titih tak bisa mengendalikan indryanya, sehingga ia tak mengikuti nasehat temannya. Ia segera menggigitnya, mengisap darah. Sang Prabu terkejut dan segra bangun, seraya memerintahkan abdinya untuk mencari apa yang menggigit beliau. Sang Titih lari menuju dinding dan sembunyi diantara lepitan dinding.Sang Tuma laki perempuan didapati di lepitan kasur,lalu segera dibunuh.Demikian juga sang Titih mati terpijit didinding.

“Nah demikianlah tidak ada gunanya belas ksih pada seseorang kalau yang dikasihi tidak bisa menerimanya.Demikian kata sang prabu Singa kepada hamba. Beliau juga amat menyesal karena telah terlanjur berteman pada tuanku sang Nandaka. Beliu merasakan dirinya seperti hancurnya manuk mangsa (burung pemakan daging) ,karena ulah burung Tuu-tuu. Baiklah tuan akan kuceritakan!” Demikian kata sang Sambada, lalu bercerita…

 
Sumber: http://singaraja.wordpress.com
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment