Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah terna tahunan keluarga Zingiberaceae. Tanaman berimpang (batang di bawah tanah = umbi) ini masih satu keluarga dengan jahe (Zingiber officinale) dan kunyit (Curcuma domestica) yang lebih populer di masyarakat. Yang juga masih sekerabat dengan temulawak adalah bengle (Zingiber purpureum), lempuyang emprit (Zingiber americans), lempuyang gajah (Zingiber zerumbeth), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), temu giring (Curcuma heyneana), temu glenyeh (Curcuma soloensis), temu hitam (Curcuma aeruginosa), temu kunci (Gastrochilus panduratum), temu mangga (Curcuma mangga), temu putih (Curcuma zeodaria), temu putri (Curcuma petiolata) dan temu tis (Curcuma purpurascensis). Seluruh keluarga Zingiberaceae ini lazim disebut sebagai "temu-temuan" dan merupakan komoditas bahan farmasi, kosmetika, rempah dan jamu yang nilai ekonomisnya relatif baik.
Sampai dengan tahun 1960an, temulawak masih merupakan tanaman yang tumbuh liar di kebun rakyat serta hutan jati. Meskipun pada tahun-tahun sebelumnya, komoditas ini sudah dimanfaatkan untuk bahan jamu dan minuman, namun budidaya secara serius masih belum dilakukan. Hingga industri jamu hanya mengandalkan rimpang segar yang diambil dari tanaman liar atau setengah liar dari hutan jati maupun kebun rakyat. Dengan makin berkembangnya industri jamu dan minuman temulawak pada tahun 1970an, maka masyarakat mulai membudidayakan temulawak dengan lebih serius. Sejak terjadi krisis ekonomi selama 5 tahun terakhir ini, industri dengan bahan baku temulawak meningkat dengan cukup pesat. Terutama industri ekstrak temulawak, baik yang murni maupun yang sudah dicampur gula serta bahan lain. Ekstrak temulawak merupakan bahan minuman yang bisa langsung diseduh dengan air panas. Komoditas ini sekarang bisa dengan mudah dijumpai di pasar-pasar swalayan.
Ramainya industri berbahan baku rimpang temulawak, disebabkan oleh makin sadarnya masyarakat akan kesehatan. Menjaga kesehatan dengan secara rutin meminum ramuan tradisional, memang menjadi trend yang ramai akhir-akhir ini. Meskipun popularitas temulawak masih kalah dibanding pace atau mengkudu (Morinda citrifolia) serta makuto dewo (Phaleria papuana/macrocarpa), volume temulawak yang diserap pasar jauh lebih besar dari dua produk tersebut. Sebab pace baru populer selama krisis ekonomi akhir-akhir ini. Makutodewo malahan baru populer tahun lalu. Sementara temulawak sudah populer sebagai minuman kesehatan sejak tahun 1950an dengan sebutan "bir temulawak". Selain untuk bahan minuman kesehatan, rimpang temulawak juga diperlukan oleh industri jamu. Akhir-akhir ini, jamu dan obat berbahan baku temulawak, malahan sudah diproduksi dan dipasarkan dalam bentuk kapsul. Khasiat curcumin dalam temulawak antara lain untuk memperbaiki metabolisme pencernaan, menyembuhkan radang lever, memperlancar keluarnya cairan empedu dan menambah nafsu makan. Namun penggunaan temulawak dengan dosis berlebihan dalam jangka waktu lama, dapat mengganggu fungsi ginjal. Sari rimpang temulawak segar yang diminum terlalu pekat dalam jumlah banyak, juga akan berfungsi sebagai pencahar. Hingga cara mengkonsumsi temulawak yang benar adalah dengan merebus irisan daging rimpang yang telah dikeringkan.
Dengan menguatnya sub sektor hilir, maka budidaya temulawak pun berkembang secara otomatis. Tahun 1980an, sebenarnya perkembangan budidaya temulawak sudah cukup baik. Saat itu petani sudah berani menanam temulawak secara monokultur atau tumpangsari dengan jagung. Sebab harga temulawak tiba-tiba menjadi lebih tinggi dibanding singkong dan ubi jalar. Ketika itu harga singkong hanya belasan rupiah, ubi jalar sekitar Rp 20an,  sementara temulawak menjapai Rp 30an. Untuk meningkatkan volume panen, para petani memupuk tanaman temulawak mereka dengan urea. Dampaknya, panen temulawak yang biasanya hanya sekitar 10 ton per hektar, bisa meningkat di atas 20 ton per hektar. Rimpang temulawak yang dibudidayakan secara monokultur dengan dipupuk urea ini menjadi besar-besar dan mulus. Namun di luar dugaan para petani,  industri jamu menolak temulawak yang besar-besar dan mulus ini. Sebab kualitas daging umbinya tidak sebaik temulawak yang dibudidayakan tanpa dipupuk urea. Menurut kalangan industri jamu, pemupukan tanaman temulawak harus menggunakan pupuk lengkap NPK, bukan urea. Kalau tetap menggunakan urea, harus pula diimbangi dengan pupuk Phospat dan Kalium (SP dan KCL).
Sosok tanaman temulawak mirip dengan kunyit. Hanya batangnya (pelepah daun yang menyatu) lebih besar dan lebih tinggi dari kunyit. Demikian pula dengan daunnya. Kalau diameter batang kunyit hanya sekitar 2 cm. dengan ketinggian 1 m. maka batang temulawak berdiameter 3 cm. dengan ketinggian mencapai 1,5 m. Lebar daun kunyit sekitar 20 cm. dengan panjang 40 cm. Sementara lebar daun temulawak mencapai 30 cm. dengan panjang 60 cm. Kalau garis tengah penampang melintang rimpang kunyit samping (anakan) hanya sekitar 2 cm. dan rimpang induknya 3 cm. maka rimpang samping temulawak bisa mencapai 4 cm. dan induknya 6 sd. 7 cm. Kalau bobot rimpang kunyit dari satu rumpun hanya sekitar 200 gram, maka dari satu rumpun temulawak bisa diperoleh sampai 0,5 kg. rimpang segar. Kulit rimpang temulawak cokelat muda kekuningan. Daging rimpang berwarna oranye cerah, dengan bagian empelurnya (bagian tengahnya) berwarna agak keruh. Aroma temulawak harum dan sangat khas. Masyarakat selalu menduga bahwa rasa daging rimpang temulawak pahit. Padahal tidak. Seduhan daging rimpang temulawak, sama sekali tidak berasa pahit, sepet maupun masam.
Siklus hidup temulawak, mengikuti pola musim. Rimpang akan tumbuh pada awal musim penghujan. Selama musim penghujan tanaman akan tumbuh dan menghasilkan anakan maupun rimpang baru. Pada akhir musim penghujan, daun temulawak akan mulai menguning dan mengering, dimulai dari daun terbawah, sampai seluruh tanaman mati. Kalau musim penghujan dimulai pada bulan Oktober, maka rimpang temulawak akan tumbuh pada bulan tersebut, dan mulai mengering pada Juni tahun berikutnya. Namun idealnya, panen temulawak dilakukan pada bulan Agustus, hingga diperoleh kualitas rimpang yang benar-benar baik. Sebab kualitas umbi yang baik baru diperoleh dari tanaman dengan umur minimal 9 bulan. Tanda tingkat ketuaan umbi sudah cukup adalah seluruh tanaman (daun dan batang) telah mati dan mengering. Pada saat itulah biasanya para petani membongkar umbi temulawak. Kulit rimpang yang benar-benar tua berwarna cokelat muda kekuningan. Sementara kulit rimpang muda agak keputih-putihan. 
Meskipun temulawak masih layak untuk dibudidayakan secara monokultur, namun petani lebih memilih budidaya secara tumpangsari. Dengan biaya sekitar Rp 3.000.000,- per hektar, dengan hasil 20 ton dan dengan harga rimpang Rp 300,- per kg. di tingkat petani, sebenarnya keuntungan bersih mereka bisa mencapai Rp 3.000.000,- atau sebesar 100% dalam jangka waktu selama 1 tahun. Namun tanaman harus dipupuk dengan pupuk lengkap NPK, bukan dengan urea. Tumpangsari temulawak dan jagung juga dilakukan petani. Penanaman jagung dan temulawak dilakukan serentak pada awal musim penghujan. Kalau penanaman dilakukan pada bulan Oktober, maka jagung sudah akan dipanen pada bulan Januari atau Februari tahun berikutnya. Pada saat itulah dilakukan pemupukan dan pendangiran temulawak. Panen temulawaknya akan terjadi pada bulan Juli atau Agustus. Hasil penen temulawak secara tumpangsari dengan jagung, memang akan menurun dibanding dengan budidaya secara monokultur, yakni hanya sekitar 15 ton per hektar.
Selain budidaya secara tumpangsari dengan jagung, yang paling banyak dilakukan petani adalah penanaman temulawak secara tumpangsari dengan tanaman keras. Tanaman keras yang paling banyak dimanfaatkan untuk tumpangsari temulawak adalah jati.  Tumpangsari juga bisa dilakukan di bawah tegakan tanaman albisia, kapuk randu, kopi, kelapa, karet dll. asalkan tajuk tanaman pokok tidak terlalu rapat. Temulawak bisa tumbuh baik dari dataran rendah sampai tinggi, namun pertumbuhan optimal terjadi pada dataran menengah antara 200 sd. 600 m. dpl. Penanaman temulawak di bawah tegakan jati, banyak dilakukan oleh petani yang menerima order penanaman dari pabrik jamu, sementara lahannya merupakan milik Perum Perhutani. Pada tahap awal, penanaman dilakukan pada permulaan musim penghujan, dengan membuat lubang dangkal, memasukkan benih berupa rimpang samping ukuran kecil yang telah bertunas dan langsung menimbunnya dengan tanah galian tersebut. Selanjutnya pada dua atau tiga bulan berikutnya dilakukan pembersihan gulma di sekitar tanaman muda.   
Pemanenan dilakukan pada musim kemarau dengan membongkar seluruh rumpun. Rimpang induk dan samping yang berukuran besar diambil, sementara rimpang kecil-kecil dikembalikan ke dalam lubang galian dan kembali ditimbun tanah. Dengan cara pemanenan seperti ini, pada tahun berikutnya tidak perlu dilakukan penanaman. Hingga penanaman temulawak, praktis hanya dilakukan sekali. Sebab pemanenan, sekaligus merupakan penanaman dengan benih berupa rimpang yang berukuran kecil. Umbi temulawak yang telah dipanen harus segera dijual atau dikupas dan diiris serta dijemur. Penyimpanan rimpang temulawak sebaiknya dilakukan dalam bentuk irisan kering. Rimpang segar yang disimpan terlalu lama, akan segera bertunas yang menurun kualitas dagingnya. Dalam jangka waktu satu bulan, rimpang yang disimpan di tempat terbuka, terang dan lembap akan menumbuhkan tunas. Penyimpanan di tempat gelap total dan kering, hanya bisa mempertahankan rimpang temulawak paling lama tiga bulan. Hingga paling aman rimpang segar tersebut segera dijual atau dikupas, diiris dan dikeringkan dengan cara dijemur. (R) * * *   
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment