Wawancara Presiden RI dengan TVRI oleh Soegeng Sarjadi

Wawancara Presiden RI dengan TVRI oleh Soegeng Sarjadi

TRANSKRIP
WAWANCARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
OLEH SOEGENG SARJADI
DI ISTANA NEGARA, JAKARTA
TANGGAL 21 FEBRUARI 2012


Soegeng Sarjadi:
Para pemirsa dan teman-teman sebangsa dan setanah air, kembali bertemu dengan saya, Soegeng Sarjadi, dalam acara Forum Soegeng Sarjadi, yang merupakan kerja sama Soegeng Sarjadi Syndicate dengan TVRI.

Para pemirsa, untuk episode ini, ini betul-betul episode yang kalau di dalam baseball itu adalah major league, tapi ini di atas major league karena hari ini saya sangat berbahagia, lebih dari berbahagia, karena saya bisa bertemu dengan Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Saya tegur dulu. Selamat pagi, Pak.

Presiden Republik Indonesia:
Selamat pagi.

Soegeng Sarjadi:
Ibu Negara sudah baik?

Presiden Republik Indonesia:
Alhamdulillah sudah, Mas. Dulu, kelelahan. Lantas datang typhoid kata dokter. Sekarang sudah aktif kembali.

Soegeng Sarjadi:
Itu begini karena episode ini saya akan berdialog, saya beri judul Bernegara: Potret Seorang Presiden. Ini karena saya angkat tema ini, sehingga saya bisa mengetahui lebih banyak. Dan hari ini, enlighting saya akan saya sampaikan kepada Bapak dulu, supaya kenapa saya menanyakan kesehatan Ibu Negara, karena seorang Ibu itu teman, itu yang mendorong, yang menjaga, yang merawat. Dia lebih tahu dari hampir seluruh 240 juta. Kadang-kadang, itu tidak dimengerti betapa menjadi seorang presiden itu, seperti yang Bapak kasihkan kepada saya, you are holding the loneliest office in the world. Itu, itu saya bisa mengerti, kenapa saya bukan menyebut you need a true friend.

Presiden Republik Indonesia:
Ya.

Soegeng Sarjadi:
Saya ingin enlighting saya ini, dialog dengan Bapak ini, barangkali pemirsa harus saya kasih tahu, ini pinnacle dari pada saya punya dialog selama bulan puasa dengan Bapak. Kalau boleh saya mulai dialog ini, saya akan menyitir renungan Ramadhan Bapak sehingga nanti dalam masuk kepada tanya jawab, dialog saya dengan bapak, mengingat kembali. Jadi, bunyinya begini. Ini harus saya buka karena saya mau it becomes public.

Presiden Republik Indonesia:
Silakan.

Soegeng Sarjadi:
“Menjadi presiden rasanya seperti dilahirkan kembali. Dalam arti, harus banyak belajar. Juga, bagai diterjunkan di medan peperangan yang hukum, etika, dan aturannya sering tidak jelas. Kendati saya sudah mempersiapkan diri baik-baik ketika saya mencalonkan diri sebagai presiden dan kemudian berkompetisi secara terbuka dalam pemilihan presiden yang demokratis, tetap saja banyak hal yang tidak saya bayangkan sebelumnya.” It is a beautiful line. Publik tidak tahu pikiran Bapak, tidak, sehingga saya mencoba mewakili publik. Buat saya, ini harus saya sampaikan.

Yang berikutnya, Bapak diberitahu oleh seseorang, kalau dalam kepemimpinan Bapak mencapai 40% sampai 50% saja sudah baik.

Bapak Presiden, pertanyaan saya yang pertama. Indonesia masuk, your seventh year in office, investment grade nation yang masuk sebentar ini, dalam tahun depan ini, 2011 ini, PDB kita mencapai 822 miliar dolar. Dua tahun ini, saya hampir yakin kalau tidak ada turbulence apa-apa, saya kira will become 1 triliun PDB, negara modern seperti Indonesia.

Itu satu achievement yang saya tidak tahu, have you dreamed about it ketika Anda mencalonkan diri? Karena ini mesin ekonomi yang mau tidak mau ukurannya harus seperti itu. Cadangan devisa sekarang yang dicapai 122 miliar dolar. Itu statistik semua. Yes, we have some problems. Di mana ada problems? Your assessment.

Presiden Republik Indonesia:
Terima kasih, Pak Soegeng. Terus terang, dulu ketika saya mulai memimpin negeri ini, tujuh tahun yang lalu, negeri kita kita kan baru saja dilanda krisis yang luar biasa. Saya tahu masalahnya kompleks, tantangannya besar, dan isu-isu yang kita hadapi juga amat fundamental. Saya bertekad dan saya punya keyakinan, dan keyakinan saya wujudkan dalam kerja kerja keras maupun penetapan kebijakan yang tepat. Tentu, bisa kita bikin baik negeri kita. That’s my belief, keyakinan saya yang kuat.

Tetapi, pertolongan Tuhan datang, dan bangsa kita dengan secara sadar juga ingin negerinya lebih baik, paling tidak mayoritas dari saudara-saudara kita di negeri ini. Maka, ternyata capaian kita jauh dari apa yang kita harapkan. Dan ketika dunia mengalami krisis, negara lain berguguran, kita survived dan bahkan bisa bertahan.

Tentu saja, seperti disampaikan Mas Soegeng tadi, banyak masih pekerjaan rumah kita, termasuk hal-hal yang harus kita perbaiki. Tetapi, PDB seperti itu harus kita baca ya bisa terus memperbaiki negeri ini, menurunkan kemiskinan, mengurangi pengangguran, membangun infrastruktur, dan seterusnya.

Saya tentu yakin negara kita akan makin baik di masa depan, tetapi sekali lagi apa yang kita capai ini betul-betul satu yang mesti kita syukuri, dan ya kita ditolong Tuhan disamping kerja keras kita.

Soegeng Sarjadi:
Bapak Presiden, saya ingin yang Bapak sering sebut kegaduhan politik, itu saya sering menyebut noisy but no substance. Jadi, di kehidupan bernegara kita, saya mencoba merenung ketika saya menerima tulisan Bapak itu, apa sesungguhnya itu, berpolitik itu? Saya menggarisbawahi, berpolitik itu seharusnya tentang bernegara. Bernegara itu tentang berkonstitusi. Lalu, saya sampai pada kesimpulan: berkonstitusi itu adalah menerjemahkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Saya mau kasih tahu Bapak ya: yang memiliki luxury 1 triliun itu baru 17 negara, Pak.

Presiden Republik Indonesia:
Di dunia ini.

Soegeng Sarjadi:
Di dunia ini. Dan, we will be there in short moment.

Presiden Republik Indonesia:
Ya.

Soegeng Sarjadi:
Kedua, dan ini tidak digaduhkan oleh para politisi kita. Yang digaduhkan sesuatu hal yang dicari. Kalau membaca neraca, itu sisi pasivanya, sisi aktivanya tidak. Jadi, yang rugi saja, yang jelek saja. It is about time, Bapak Presiden, kita memulai ada inisiatif dari kita semua, dengan kepemimpinan Bapak itu, membicarakan hal-hal, sisa tiga tahun ini, sesuatu yang substansil. Bapak mengalami banyak hal, tapi yang seperti ini tugas saya, tugas Bapak, tugas teman-teman saya, kita mulai dengan discourse semacam itu. Your assessment.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, itu juga hal yang penting dan barangkali juga dirasakan oleh banyak pihak. Tapi, Mas Soegeng benar. Ada dua hal yang paling tidak kita lihat bersama-sama. Sering apa yang diungkap oleh media massa kita, di ruang-ruang publik juga, itu yang serba negatif, yang masih jelek, yang masih belum berhasil. Kemudian, sepertinya good news is no news. Untuk mewartakan yang baik-baik sepertinya tidak elok. Itulah yang membikin rakyat kita sendiri tidak menerima informasi dan gambaran yang utuh.

Padahal, rakyat harus tahu bahwa ketika banyak capaian, yang dicapai oleh negaranya, mereka bersyukur, mereka yakin perjalanan bangsa ini benar, percaya pada pemerintahnya. Namun, sekaligus kalau dia juga tahu ada yang belum bisa dicapai, masih ada rapor yang nilainya merah, mereka akan ikut membantu kita. Paling tidak, menyemangati pemerintah untuk berbuat lebih banyak lagi. Itu yang kita harapkan, dan sekarang memang masih belum terwujud seperti itu.

Nomor dua, demokrasi memang penuh dengan noise, kegaduhan, debat, sebagaimana demokrasi di negara manapun. Dan ingat, kita dulu memang kurang demokratis. Setelah demokrasi dan kebebasan mekar, hak asasi manusia sekarang muncul di mana-mana, maka kecenderungannya adalah siapapun bisa bersuara, bisa mengkritik, bisa menyalahkan, bahkan bisa menghujat. Bagi saya, inilah perjalanan yang harus kita tempuh sampai demokrasi kita betul-betul matang dan lebih bermartabat.

Tapi, satu hal, boleh saja dalam demokrasi itu serbagaduh, tapi yang digaduhkan, misalkan antara DPR dengan pemerintah, masyarakat politik dengan negara, sesuatu yang substantif, yang memang layak dan benar kita perbincangkan pada tingkat nasional, karena memang negara kita ini 240 juta, luasnya seperti ini, kompleks, pasti banyak isu-isu lokal, di kabupaten, di kota, isu sehari-hari, yang itu kalau mau diceritakan tidak habis-habis.

Di sini ada bupati, ada walikota, ada semua penyelenggara negara. Kalau masing-masing bekerja, maka tidak ada masalah yang tidak bisa ditangani dengan baik. Tinggallah masalah yang strategis, masalah yang fundamental, masalah yang menyangkut hidup orang banyak, itu tentu orang seperti saya, pemerintah pusat harus menangani dengan sangat serius. Dengan demikian, ya masalah-masalah yang fundamental bisa kita atasi, negara ini kita bikin lebih baik lagi. Itu bacaan saya dari cerita bahwa demokrasi ini memang kecenderungannya menimbulkan kegaduhan politik.

Soegeng Sarjadi:
Good point, Pak. Ini kan begini ya, Pak, yang saya sebut soal bersyukur tadi. Kalau kita sudah masuk ke nomor 18, after Turki, sebentar lagi kita akan naik.

Presiden Republik Indonesia:
Insya Allah.

Soegeng Sarjadi:
Kita menjadi nomor 16 G20 yang Bapak hadiri beberapa waktu yang lalu. Saya dengan teman saya sering menyebut kita ini sudah masuk The Lords of The 20 di dunia, Pak. Tidak ngomong ini masih level Pacitan atau Pekalongan, bukan, ini level dunia. Jadi, ketika yang menarik itu, saya agak pindah sedikit, Bapak memutuskan sebagai Ketua ASEAN waktu itu, untuk mengusulkan ketua yang berikutnya adalah Myanmar. Bapak mendapat tentangan dari Amerika waktu itu yang sama sekali tidak mau. You showed your leadership, dan akhirnya tiba-tiba Hillary Clinton minggunya. How do you do that?

Presiden Republik Indonesia:
Betul, Mas. Ini kadang-kadang ada perbedaan cara pandang, perbedaan budaya, boleh saya sebut begitu, antara Barat dan Timur tentang mindset. Saya yakin dan saya jalankan sejak Myanmar masih dipimpin oleh Than Shwe dan yang dulu diisolasi oleh dunia. Bagaimanapun, kita tidak boleh hanya memberikan sanksi dan embargo pada Myanmar. Kita harus paham apa yang dihadapi oleh Myanmar.

Setelah itu, kalau kita sepakat, Myanmar harus menjalankan demokratisasinya, menghormati hak asasi manusia, menjalankan rule of law, ya kita bantu sambil kita kritik, sambil kita katakan itu tidak benar, sambil kita bantu supaya bisa mencapai tujuannya. Saya menggunakan smart power. Bukan hanya hard power, tapi soft and hard power kita gunakan bersama-sama.

Semua menentang. Saya bertemu dengan banyak pemimpin dunia, Eropa, Amerika, nggak yakin cara yang saya anjurkan itu bisa berhasil. Tapi saya katakan, saya percaya, dan itulah yang saya lakukan. Saya terus berkomunikasi dengan Myanmar, baik sebagai salah satu pemimpin ASEAN maupun secara pribadi Presiden Indonesia.

Apa yang terjadi, saya kira, sudah menjadi bagian dari sejarah. Hillary Clinton, Obama, pemimpin Eropa juga mengatakan bahwa pendekatan yang Indonesia pilih tidak keliru.

Artinya, yang penting tujuannya apa? Goal-nya apa? Mengajak Myanmar bersama-sama dengan ASEAN yang lainnya menghormati demokrasi, hak asasi manusia, dan rule of law. Caranya yang paling baik, yang tidak melukai, yang tidak menyakiti bagi bangsa Myanmar, dan di situlah yang kita mainkan, dan alhamdulillah itu juga berhasil, sehingga banyak cara, banyak jalan menuju ke Roma.

Tapi, saya suka dengan pendekatan yang tidak melukai, yang tidak memalukan, yang tidak mendikte, tapi melaksanakan persuasi dengan baik.

Soegeng Sarjadi:
Very good. Saya ini pengamat. Jadi, hal-hal yang kecil demikian itu yang mempunyai arti, tapi kadang-kadang overlooked oleh umum.

Yang berikutnya, saya mau nanya Bapak, ini pertanyaan betul-betul nih. Bapak seorang prajurit. How do you? Coba jelaskan pada umum. Waktu Anda memutuskan soal Somalia itu, waktu Anda memutuskan “Kirim fregat,” saya bilang berani benar. Your assessment.

Presiden Republik Indonesia:
Mas Soegeng, banyak yang mengatakan itu keputusan konyol, dan katanya risikonya terlalu berat dan bisa gagal. Saya menyadari, memang pengambilan keputusan itu hanya dalam hitungan jam, dan persiapannya hanya satu, dua, tiga hari. Untuk mengerahkan pasukan dari Indonesia ke Somalia, itu lebih jauh dari Inggris ke Malvinas, lebih jauh, pulang pergi, dan risikonya tinggi. Kita tidak tahu situasi.

Tapi, begini, Mas. Saya mengatakan ini kapal Indonesia dibajak, 20 warga negara kita disandera. Kalau kita hanya business as usual, hanya negosiasi saja, dan tidak jelas nasibnya, maka harga diri, Merah Putih, bangsa.

Di situ memang rekomendasi dari pimpinan militer, pimpinan politik, semua waktu itu untuk kita harus hati-hati dan betul-betul harus thoughtful, saya setuju, tetapi bagaimanapun tidak bisa Merah Putih dicemarkan. Dan I have made my decision, saya putuskan berangkat.

Pertama kali, hanya pasukan khusus, tetapi saya tahu ternyata situasi berubah, dan saya bersiap. Kalau harus merebut salah satu pantai Somalia, rebut demi menyelamatkan kapal kita, menyelamatkan warga negara kita, dan untuk Merah Putih.

Dan kemudian, lainnya menjadi sejarah. Anak-anak kita luar biasa.

Soegeng Sarjadi:
Luar biasa.

Presiden Republik Indonesia:
Mengejar, kemudian Tuhan juga menolong kita, dan akhirnya semua itu menjadi contoh bahwa memang risikonya sangat berat, kita bisa gagal, tetapi itu pilihan, pilihan untuk harga diri kita, Mas, untuk Merah Putih kita, dan harus kita ambil. Dan, saya bangga pada prajurit-prajurit, saya senang pada pemimpin lapangan yang dengan semangat melaksanakan tugas mulia itu.

Soegeng Sarjadi:
Ini satu-satunya yang saya amati, Bapak Presiden. You were the commander-in-chief ketika memerintahkan Somalia itu. That was really good. I feel proud of that.

Presiden Republik Indonesia:
Terima kasih.

Soegeng Sarjadi:
Ini masalah yang kadang-kadang public tidak, overlooked. Hal-hal kecil noisenya. Itu tidak pernah menjadi bahan headline, tidak pernah. Tapi, saya simpan itu. One day, kalau saya bisa dialog dengan Bapak Presiden, pasti itu akan saya tanyakan.

Presiden Republik Indonesia:
Terima kasih.

Soegeng Sarjadi:
Jadi, itu saya membayangkan Presiden Amerika di West Wing lagi ada 5-6 dengan dia sebagai commander-in-chief, ada jenderal-jenderalnya, untuk melakukan keputusan. It is not as big as those. Tetapi, knowing kondisi militer kita yang seperti itu, keputusan itu sesuatu yang harus kita hargai.

Presiden Republik Indonesia:
Saya ingin menambahkan di situ karena, ini betul membandingkan, sama, Mas Soegeng. Jadi, decision-making process, proses-proses pengambilan keputusan itu ya sama dengan Obama mengambil keputusan untuk melaksanakan aksi militer tertentu. Jadi, waktu itu memang Menteri Luar Negeri tentu, Kepala Badan Intelijen, Panglima TNI, kemudian menteri-menteri terkait, Menhan, saya undang untuk mempelajari jam demi jam untuk hari pertama itu. Dan kemudian, saya keluarkan keputusan: rebut, bebaskan dengan segala cara. Kalau tanpa serangan, bagus. Kalau tidak, harus kita laksanakan operasi militer. Tapi, yang unik adalah intelligence kan masih hanya 40%, dan saya akan memutuskan “Go operasi militer!” paling tidak 60%-70%.

Apa yang terjadi? Saya minta bekerja: Menlu bertemu dengan Menlu Somalia, Menhan mendapatkan jaringan dari intelligence internasional, saya ingin ditingkatkan, to be built up. Setelah 60%-70%, saya bilang “Jalan!” Bahkan, ketika Panglima TNI menelepon saya, setelah tiga hari persiapan, mohon keputusan, “Berangkat hari ini juga!” Jadi, tentu sekali lagi resikonya tinggi, tetapi harus kita ambil.

Dan, pengambilan keputusan saya sistem, tetapi cepat sistem itu. Oleh karena itu, ya sekali lagi ditolong Tuhan, di samping itu semua anak-anak kita.

Terima kasih kalau Mas Soegeng juga melihat isu itu. Ini pembelajaran yang baik bagi siapapun yang memimpin negeri ini, manakala menghadapi persoalan yang sama.

Soegeng Sarjadi:
Very good Pak. Berikutnya, dengan contoh, example, mengenai decisiveness Bapak mengenai Myanmar dan showing the being a commander-in-chief waktu Somalia, geopolitically kita memiliki potensi untuk menyelesaikan Middle East.

Presiden Republik Indonesia:
Ya.

Soegeng Sarjadi:
Menurut saya juga masalah-masalah di kawasan-kawasan lain. Middle East, saya kira peranan Indonesia sangat diharapkan, Bapak Presiden. What do you think?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, Mas Soegeng, begini. Memang Timur Tengah ini khas atau unique. Saya harus terus terang bahwa di sana ada Liga Arab, ada persekutuan negara-negara Teluk, ada Uni Afrika yang seolah-olah mereka bertekad untuk menyelesaikan urusan Middle East oleh Middle East sendiri, seperti itu, sehingga saya, meskipun aktif berdiplomasi, tentu harus juga melihat aspek itu.

Tapi, ada pengalaman yang menarik, dan ini patut diangkat dalam dialog ini. Dulu ketika perang Lebanon berkecamuk, Dewan Keamanan PBB menurut saya tidak cepat, dunia sepertinya tidak melaksanakan langkah yang decisive, korban berjatuhan, serangan Israel masih terjadi, dan kemudian ya katakanlah tragedi kemanusian luar biasa.

Saya punya inisiatif. Di ruangan ini dulu, saya menyarankan Pak Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia, “Kita kan punya OKI.” Organisasi Kerja Sama Islam sekarang namanya. “Bapak bisa undang, bisa di Kuala Lumpur. Ayolah kita bicara. Mosok kita melihat dari televisi 24 jam sehari, berjatuhan dan tidak ada action dari dunia.” Singkat kata, kami bertemu.

Setelah bertemu itulah, saya menyarankan, “Mari kita bekerja sama melaksanakan, mengusahakan gencatan senjata, minta Sekjen PBB, dan Indonesia siap mengirimkan pasukan perdamaian kapanpun.” Mereka banyak yang belum setuju. Indonesia siap. Dan, terjadilah gencatan senjata, tentu usaha PBB juga. Tapi kami yang mendorong, dan akhirnya kami kirimkan pasukan perdamaian, dan alhamdulliah sampai sekarang relatif stabil.

Poin saya adalah, menurut saya, juga diterima dong partisipasi, kontribusi negara-negara lain, karena kita menyayangi juga, ini saudara-saudara kita di Timur Tengah. Oleh karena itu, kemarin saya bertemu dengan Sekjen OKI sedang berkunjung ke Jakarta, beliau juga ingin peran Indonesia lebih besar. Saya beberapa kali bertemu, berkomunikasi dengan Sekjen PBB, diinginkan Indonesia juga berperan lebih besar.

Indonesia sangat siap, Indonesia sangat ingin, dan saya punya usulan jangan hanya menuntut negara-negara tertentu untuk menyelesaikan masalah itu. Barat masuk, misalkan. Mengapa negara-negara yang misalkan sama-sama di OKI tidak mendapat ruang untuk ikut mengatasi masalah itu?

Bagi saya, Mas Soegeng, yang penting bagaimana kehendak bangsa-bangsa di Timur Tengah itu, bukan kehendak bangsa lain.

Yang kedua, selesaikan secara damai. Hentikan kekerasan dan tragedi kemanusiaan. Bikin dialog antara pemimpin atau penguasa dengan rakyatnya. Itulah platform yang paling baik untuk mengatasi.

Dan sekali lagi, Indonesia sangat siap, Indonesia juga sangat bersedia untuk, tidak akan mendikte, tidak akan mengintervensi, tapi bersama-sama memikirkan solusi untuk Timur Tengah itu.

Soegeng Sarjadi:
Very good, Pak. Saya kira sudah waktunya, tiga tahun, your last three years ini, saya kira penting untuk melanjutkan kepemimpinan Bapak Presiden di masalah-masalah dunia. Myanmar dulu, saya pikir, “Enggak berani ini. Amerika tidak setuju.” Begitu Bapak berani, mereka followed. Kenapa tidak masalah Iran sekarang? Kenapa tidak masalah-masalah lain? We’ll see about that.

Presiden Republik Indonesia:
Ya.

Soegeng Sarjadi:
Tapi, saya mau kembali ke tanah air, Pak.

Presiden Republik Indonesia:
Baik.

Soegeng Sarjadi:
Ke tanah air dulu ya. Apa kita perlu break dulu atau tidak nih? Saya pikir enggak usah ya, Pak? Terus saja ya, Pak?

Presiden Republik Indonesia:
Silakan. Tapi, saya minta minum kopi sebentar. Kopinya enak ini, Mas.

Soegeng Sarjadi:
Silakan minum kopi. Kembali ke tanah air, Pak. Ini kalau saya memperhatikan, tadi saya tidak melihat berbicara dengan Bapak hal-hal, yang saya penuh pertanyaan atau penuh kehati-hatian. Tiga: Somalia, Myanmar, kemudian tadi jawaban Bapak tentang Middle East and so forth. Saya melihat Bapak ini, you are a commander-in-chief dan bisa execute itu. Tapi, saya mau ke dalam negeri supaya nanti wajahnya menjadi imbang. Ini agak bahasa Jawa Pak, saya mesti mencoba mewakili publik.

Saya kalau melihat Bapak itu, seperti saya anak kampung, Bapak di Pacitan, saya di Pekalongan. Kita diberi weling oleh orang tua kita. “Le, jer basuki mowo beyo. Le, nek gelut, meskipun kowe menang, nek menang tanpo ngasorake. Alon-alon waton klakon. Ojo dumeh, ojo adigang-adigung”. Saya melihat postur Bapak itu semacam itu, dalam ini yang kadang-kadang tidak dimengerti oleh teman-teman sehingga menang tanpo ngasorake. Saya boleh analisa kemimpinan Bapak ya. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.

Ketika Bapak 27% dapat kursi di DPR, 60%, hampir 70% suara, di catatan Bapak, susah memimpin demokrasi kabinet presidensil dengan multipartai. Bapak mengatakan begitu. Di sini kemudian muncul policy Bapak, kepemimpinan Bapak dalam bidang politik. Bapak bentuk yang disebut Setgab itu, yang sekarang Setgab ini justru partainya pemerintah tapi nyerang pemerintah terus.

Tapi, yang saya mau kupas tidak begini. Bacaan saya salah enggak? Ini perlu saya katakan pada publik, pada kalau itu “lawan politik” Bapak, Bapak tidak pernah menyebut lawan politik, itu mitra berpolitik. Ketika membuat Setgab itu, ini falsafah menang tanpo ngasorake itu, Bapak kasihkan ketua hariannya kepada Ketua Golkar. Ternyata, Ketua Golkar sendiri tidak bisa berbuat apa-apa di Setgab itu. Saya melihat itu cara Bapak memenangkan satu pertempuran politik tapi tidak ngasorake orang.

I don’t know whether this wrong or this is right. Saya terus terang ingin mendapatkan assessment Bapak. Tidak usah ragu-ragu karena ini memang politik, Pak, ya. Kelihatannya saya menganalisa semacam itu.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, Mas Soegeng, begini, menarik ini, menarik sekali. Tapi, kalau dibacakan tadi falsafah, falsafah itu kan sebetulnya universal, tapi tentu falsafah Jawa unik, khas, ya memang itulah nilai-nilai yang hidup di kalangan komunitas Jawa. Setiap orang tentu punya falsafah hidup, punya prinsip, saya juga punya. Saya manusia biasa, tentu punya kekurangan, punya kelemahan, punya kesalahan, tetapi saya punya prinsip bagaimana mencapai tujuan, punya falsafah bagaimana memimpin negeri ini sebaik-baiknya.

Dalam konteks itu, sebetulnya saya ingin mengajak semuanya untuk menyelesaikan masalah. Jadi, sebenarnya dengan membentuk Sekretariat Gabungan dari teman-teman yang mendukung pemerintah, yang berada dalam barisan koalisi, untuk memahami inilah kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Ada yang mudah dengan cepat kita selesaikan. Ada yang memerlukan waktu. Ada yang harus kita lihat Undang-Undang Dasarnya, undang-undangnya, harus kita bicarakan dengan DPR RI, misalnya.

Dalam konteks itu, saya akan berbuat sesuai dengan keadaan itu untuk mencapai tujuan. Tapi karena kita bersama-sama dalam koalisi, mari kita ber-partner, bekerjasama, baik di pemerintahan maupun di parlemen, untuk mengatasi masalah itu.

Apa yang kita lihat sebetulnya not by design. Saya tidak ingin, misalkan, “Betul kan? Tidak semudah itu kan?” Tidak, tidak. Tapi, pengalaman menunjukkan bahwa sering dilihat dari luar itu serba gampang, seperti falsafah penonton sepak bola itu. Tapi, ketika main bola sendiri, juga tidak semudah itu. Saya hanya mengajak, memang kompleks, memang tidak selalu mudah, tetapi harus ada solusi, harus ada penyelesaian. Saya mengajak di situ. Oleh karena itu, saya memang menggunakan fasilitas itu, forum itu, untuk membahas masalah-masalah tertentu sambil mereka juga mengenali masalah. Dengan demikian, rekomendasinya menjadi lebih tepat.

Bahwa politik di luar tetap gaduh; kritik, dan hujatan masih ada meskipun sudah ada Sekretariat Gabungan, meskipun mereka juga tahu tidak semudah itu masalah diputuskan, tetapi bagi saya, saya sudah mengajak semuanya untuk memahami persoalan di negeri ini. Kalau masih gaduh, rakyat ini kan hakim yang utama. Rakyat akan tahu mana-mana yang benar, mana-mana yang logis, dan mana-mana yang tidak.

Jadi, itu, Mas Soegeng. Saya tidak bermaksud untuk ngelehke, bukan. Tetapi tanpa bermaksud itupun, semua tahu bahwa memang masalah di negeri ini kompleks.

Soegeng Sarjadi:
Sangat kompleks. Good point, Pak. Jawaban yang menarik, Pak. Jadi, Bapak Presiden, ini yang, this my right to judge within that point. Tapi, yang menang tanpo ngasorake, alon-alon waton kelakon kadang-kadang diartikan oleh orang, Presiden Susilo Bambang Yudhonono itu lembut, hati-hati sehingga terkesan lamban. Tetapi, tidak mengurangi effectiveness itu. Kalau tidak efektif, saya malahan menyebut di tempat saya itu, Bapak itu lebih cenderung pada harmonisasi politik. Jadi, tidak grubugan.

Saya suka bercandaan, Pak. Ketika saya, “Coba kalau SBY itu grubugan, bayangkan. Yang dipimpin itu ular, biawak, kemudian singa. Bayangkan kayak apa nanti tawurannya, gitu.” Jadi, ini yang saya ingin sampaikan kepada publik Bapak. Is not that easy, dan Bapak sudah not by design memberikan kepada mitra Bapak itu, “Coba kau pimpin.” Ternyata, juga susah, kan begitu ya, Pak.

Berikutnya, Pak, ini saya ingin ini euforia reformasi, demokrasi ini, menurut saya kalau kita tidak demokrasi, saya barangkali tidak dapat duduk dengan Bapak, berdialog soal-soal yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Bagaimana Bapak bisa tahan? Bapak ini kan, bosan Bapak saya baca ini yang di alam demokrasi mencaci, dicaci seorang pemimpin, termasuk Presiden. Tolong jelaskan sama publik, saya mewakili publik.

Bapak kelihatannya masih, saya dengar dari teman-teman, masih main volley, iya kan? Masih rileks, pingpong, dan segalanya. How do you find your time meng-absorb semua itu? Sehingga Bapak tetap lebih positioning, tetap dalam posisi yang elegan, yang mengetahui what you are doing, karena saya ingin tahu, ini rakyat ingin tahu surprisingly, Pak, acara saya, forum saya ini.

Saya dapat SMS yang di luar dugaan. Bisa sekali nanti episode ini, mungkin saya 2.000 dapat SMS. Mungkin 2.000 dapat. Coba jelaskan sama publik yang ingin mengetahui, how do you cope dengan benturan, dengan makian, segala macam itu. How do you hold it? Kemudian Anda tetap graceful dalam sikap hari-hari, Pak SBY.

Presiden Republik Indonesia:
Baik. Ini juga menarik, Mas Sugeng. Begini, manusia itu kan punya dua hal. Satu, perasaan atau emotion. Yang kedua, pikiran atau logika. Saya hanya menyeimbangkan antara perasaan dengan logika saya.

Kalau saya tidak bisa meletakkan my emotion di bawah logika, mungkin saya tidak kuat dengan cacian, kritik, hujatan seperti itu. Tetapi, manakala saya bisa menyeimbangkan dan saya bisa mengontrol emotion saya, perasaan saya, dengan logika, akal pikiran.

Maksud saya begini. Di era euforia demokrasi, kebebasan ada di mana-mana, seolah-olah yang tadinya dikekang bangsa ini, sekarang bicara apapun boleh, berbuat apapun boleh, maka imbasnya bagaimana mereka melihat pemimpinnya katakanlah untuk sumber tumpuan ketidaksukaan, tumpuan kemarahan, dan seterusnya. Jadi, saya pahami, pastilah siapa yang jadi presiden akan mengalami nasib seperti itu. Itu yang pertama.

Yang kedua, juga dengan belum pahamnya semua rakyat kita tentang jalannya pemerintahan, sistem bernegara, siapa bertanggung jawab apa, maka dengan mudah, “Ah, pasti yang salah SBY.” Kejadian apapun di kabupaten manapun, di provinsi manapun, yang mestinya bisa diselesaikan oleh pemimpin lokal, itu karena mungkin tidak cukup pengetahuannya, “Yang salah SBY, yang gagal SBY.” Saya harus pahami seperti itu.

Kemudian, pers sendiri selalu berjarak dengan kekuasaan. Ada yang baik tentu jarang dimuat. Bad news masuk dalam keseharian mereka. Rakyat membaca. Rakyat menonton televisi. Bertambahlah, “Yang salah SBY. Semua ini yang bertanggung jawab SBY.” Itu juga saya pahami.

Namun begini, Mas Soegeng ya. Demokrasi kita ini masih dalam proses untuk menuju kematangannya. Memang sebagai pencinta demokrasi, kita harus sabar, harus tegar, tapi juga harus bersama-sama mendidik kita semua dengan pendidikan yang benar bahwa dalam demokrasi itu memang ada kebebasan, tetapi juga ada aturan, ada etika, termasuk rule of law.

Itulah yang harus kita lakukan sekarang, membikin keseimbangan. Dengan keseimbangan ini, semuanya akan makin baik. Dan, ini my preference, pilihan saya. Kalau saya reaktif, kalau saya langsung menanggapi semua itu, dan saya bisa, saya punya data, saya punya logika, saya punya perbandingan, tetapi saya timbang-timbang tidak akan lebih baik.

Soegeng Sarjadi:
Good point.

Presiden Republik Indonesia
Pertama, lebih gaduh lagi, dan saya tidak bisa bekerja penuh untuk membikin baiknya negara ini. Kalau saya reaktif, saya larut, kebawa debat-mendebat, tidak mungkin ekonomi kita berhasil seperti ini, tidak mungkin negara kita relatif stabil tujuh tahun ini, tidak mungkin dunia mengapresiasi kita dalam letaknya yang luar biasa, tidak mungkin kebijakan pemerintah bisa dijalankan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Pengorbanan saya, menahan diri saya, sabar, tapi tetap fokus kepada pekerjaan. Itulah yang saya pilih meskipun tadi tidak semua bisa, saya kira, menerima kritik, cacian, hujatan seperti itu.

Someday, suatu saat ketika demokrasi ini lebih matang, semua tahu sistem, siapa bertanggung jawab tentang apa, mungkin nasibnya tidak seperti saya, tapi biarkan saya tanggung dulu sampai negara ini makin ke depan makin baik.

Soegeng Sarjadi:
Very good, Pak. Very good, Pak. Saya harus menyampaikan ini kepada Bapak Presiden. Saya bertanya sama Jimly Asshiddiqie, seorang ahli hukum tata negara. Ini kan kadang-kadang sering diungkapkan di tengah-tengah kegaduhan itu soal impeachment. “Pak Jimly, yang bisa di-impeach itu apa sih sesungguhnya?” Pak Jimly menjawab, “Semua yang directly elected: walikota, gubernur, bupati. Kalau selama dia direcly elected, itu shall be subject to impeachment.”

Ini hanya untuk mengetahui konotasi yang Bapak bilang tadi. Jadi kalau ada masalah di Sampangan, masalah garam, ya bupatinya, masa demonya di depan Istana, kan kurang lebih.

Ini harus mendidik kepada umum. Ada bupati, ada walikota, ada gubernur. Masing-masing membawahi. Dan ada juga gubernur, bupati yang bagus, banyak, Pak, sekarang ini.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, ya.

Soegeng Sarjadi:
It takes time.

Presiden Republik Indonesia:
Mas, Mas Sugeng, kalau impeachment begini. Ini juga karena sering dibicarakan di mana-mana begitu ya. Impeachment itu diatur dalam Undang-Undang Dasar. Ada pasal-pasal tentang impeachment: impeachment article, ada. Seorang presiden atau wakil presiden diberhentikan karena A, B, C, D.

Tetapi, kegaduhan politik yang di luar, apapun, seolah-olah presiden bisa diturunkan di jalan.

Soegeng Sarjadi:
Good point.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, itu yang terjadi. Saya kira di negara manapun, seorang presiden bisa diturunkan, di-impeach, manakala melanggar.

Soegeng Sarjadi:
1, 2, 3 yang diatur.

Presiden Republik Indonesia:
Dalam Undang Undang Dasar. Sebagai contoh, ada sekarang gerakan, “SBY harus mundur sekarang, turun sekarang karena gagal.” Setelah dicek oleh teman-teman, “Gagalnya di mana?” “Ya pokoknya gagal, pokoknya tidak berhasil.” Kalau itu menjadi budaya dan tradisi politik kita, siapapun jadi presiden, barangkali tiga bulan turun, diganti lagi, “Gagal, pokoknya gagal,” tiga tahun turun.

Itu salah satu kematangan berdemokrasi dan kematangan berpolitik kita. Ada aturannya. Ada aturan main untuk menentukan seorang presiden, menteri, gubernur, bupati, dan walikota itu gagal dalam embanan tugasnya ada aturannya.

Dan kalau sudah menyangkut impeachment, sekali lagi, harus berkaitan dengan artikel impeachment itu, misalnya berkhianat kepada negara. Yang kedua, melaksanakan kejahatan yang luar biasa, misalnya korupsi, melakukan tindakan tercela, sakit atau lumpuh sehingga tidak bisa menjalankan tugasnya. Jadi, itu jelas itu.

Tapi, kadang-kadang, “Kan ada impeachment. Kita impeach saja dengan alasan yang ‘pokoknya’.” Saya pikir sudah saatnya bangsa ini memahami. Dengan demikian, menjadi baik kehidupan bernegara. Kan topiknya sekarang bernegara.

Soegeng Sarjadi:
Yes, bernegara. Saya tadi itu mewakili publik. Jadi now, sekarang, clear. Sebaiknya kalau kita bicara adalah bernegara.

Saya sekarang menuju ke bernegara, Pak, ya. Bapak Presiden, kita nomor satu produsen sawit. Kita, kalau enggak salah, nomor satu lada. Geothermal kita is going to be the biggest, one of the biggest in the world. Kemudian gas kita, minyak kita saya kira masih potential itu hampir 86 miliar barrel potentially, tapi yang udah proven baru 4,7.

Pertanyaan saya, Pak, do you believe we can be negara adidaya di 2045 perhitungan saya?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, kita punya mimpi, punya cita-cita. Saya kira teman-teman saya, rakyat Indonesia, juga punya mimpi yang baik tentang negeri kita.

Mas Soegeng, saya ingin berpikir secara realistik, melihat potensi kita, trend kita akhir-akhir ini, tahun-tahun terakhir ini, peluang yang tersedia pada tingkat dunia, maka saya punya tesis bahwa abad 21 ini Indonesia bisa menjadi negara maju. Bisa terpulang bagi kita. Kalau kita bekerja keras, sampai.

Soegeng Sarjadi:
Good point.

Presiden Republik Indonesia:
Tetapi, tahun 2045. Jadi, dari sekarang berarti sekitar berapa tahun lagi itu?

Soegeng Sarjadi:
30-an.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, kita akan berada pada posisi yang ekonomi kita kuat, strong economy, kuat dan adil. Yang kedua, politik dan demokrasi kita akan stable, stabil.

Soegeng Sarjadi:
Mature.

Presiden Republik Indonesia
Matang, mature. Dan yang ketiga, sebuah bangsa itu akan terus berkembang manakala peradabannya tinggi, civilizations: ya pengetahuannya maju, politiknya baik, good society, tradisinya juga baik, dan seterusnya.

Kita harus bekerja sangat keras dengan cara lebih bersatu, dengan visi, dengan kepemimpinan, bersama-sama untuk menuju ke keadaan seperti itu.

Yang digambarkan oleh Mas Soegeng tadi itulah potensi kita, sekaligus peluang atau opportunity. Kita punya potensi sumber daya energi dan juga pertanian yang luar biasa, disebutkan tadi. Tinggal bagaimana kita menjadikan semua itu menjadi industri, bukan hanya komoditas dagang semata, tapi industri, hulu, hilir, dengan teknologi, dengan sumber daya manusia, dengan policy yang tepat, maka kita memiliki keunggulan kompetitif, bukan hanya komparatif. Kalau itu bisa kita bangun tahun ini, tahun-tahun depan, lima tahun, sepuluh tahun, maka semua itu akan menjadi kontributor utama untuk menuju strong and just economy, ekonomi yang kuat tapi juga adil.

Saya percaya penuh, dan arah kita ke sana. Oleh karena itu, kalau ini diimbangi dengan politik dan demokrasi yang lebih matang, lebih bersatu bangsa ini, kemudian memajukan ilmu pengetahuan atau elemen utama dari peradaban kita, civilizations, maka meskipun saya tidak menyebut abad 21 kita menjadi super power, adidaya, tapi kita akan menjadi negara besar.

Kita pun sekarang sudah G20. Masih banyak masalah, masih ada korupsi, birokrasi kita banyak yang belum beres, infrastruktur kurang, hukum kadang-kadang tidak tegak benar, kita masuk G20. Pertumbuhan kita tertinggi di ASEAN dan di G20 juga tinggi. Saya yakin, kalau semua kita beresi, kita bikin benar dengan semangat, dengan keyakinan tadi, sampai.

Soegeng Sarjadi:
2045.

Presiden Republik Indonesia:
Menjadi negara besar, big power, major power yang tentu menjadi harapan dan cita-cita kita semua.

Soegeng Sarjadi:
Pak Presiden, yang kadang-kadang di-overlook oleh masyarakat itu, Bapak ini sudah melanjutkan mesin ekonomi yang diawali oleh para pendahulu Bapak, yang saya sebut ini mesin ekonomi. You have established an economic engine that runs. Makanya kemarin kan agak sedikit cynical itu yang co-pilot atau tanpa pilot, autopilot. You cannot say that. Ini ada pilot. Tidak mungkin mesin dibawa atau menjadi that’s run itu tanpa pilot, ndak mungkin.

Jadi, pertanyaan saya, Pak, di dalam kemajuan itu, keyakinan yang Bapak tadi itu, kalau seseorang dalam bidang bisnis ini, memiliki—ini saya mau bicara dalam rangka pemerataan—60 ribu hektar kebon itu sebetulnya sama dengan seluas Singapur, Pak. Jadi, kalau 300 ribu hektar, itu berarti 5 kali Singapur. Dan, sekarang ini kita nomor satu di mana-mana: sawit, karet, lada, and so forth. Saya concerned, how do you cope? Ketika ini yang besar because, if you want to deal with growth, then you will have to deal with the big guys. Saya anggap ini pemain-pemain besar.

Kemarin, saya prihatin dan Bapak juga prihatin mengenai Bima, mengenai Mesuji. Saya mencoba mewakili publik. Stop that from happening karena, kalau Anda memiliki 60 ribu itu, you are just like memiliki Singapur. Kalau 1 juta, it’s a country within a country. Punya hatilah kepada si Mesuji, jangan ditembaki, di-embarrass dia. Apa susahnya sih mengasih, misalnya 10 ribu out of 300 ribu misalnya, atau 2 ribu hektar out of 60 ribu. Your assessment, Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, justru itulah masalah yang fundamental, masalah yang penting. Dan, salah satu ideologi serta paham saya dalam ekonomi, saya katakan tadi, ekonomi yang kita tuju ini adalah ekonomi yang kuat dan adil. Perkara adil ini ya kita punya Pancasila. Dalam Pancasila, ada keadilan sosial.

Saya bukan penganut paham kapitalisme, apalagi yang fundamental, tapi juga bukan sosialisme, komunisme. Saya mengambil jalan tengah, dan patokan saya ya keadilan sosial yang ada dalam Pancasila. Manakala semua berpikir seperti itu, maka akan menjadi tenteram.

Disebutkan tadi, ada perusahaan-perusahaan besar, ada perkebunan juga yang besar. Kalau kemajuan, pertumbuhan, benefit atau profit itu juga dirasakan oleh semua, maka semua akan menjadi bagian dari pertumbuhan, pergerakan, dan kemajuan itu.

Oleh karena itu, secara strategis, saya kira publik juga tahu karena saya tidak ingin business as usual, biasa-biasa saja, memang maju tapi majunya lambat, maka untuk pertumbuhan ekonomi, untuk investasi, kita lakukan percepatan dan perluasan di bawah MP3EI. Saya kira Menko Perekonomian dan menteri yang lain sudah pernah menjelaskan.

Intinya 15 tahun mendatang akan kita tingkatkan investasi dan pertumbuhan agar ekonomi nasional, ekonomi negara bergerak untuk rakyat. Tetapi, itu belum cukup. 15 tahun ke depan juga harus kita percepat dan kita perluas upaya pengurangan kemiskinan.

Soegeng Sarjadi:
Good point.

Presiden Republik Indonesia:
Ada MP3EI, MP3KI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia). Harus pararel. Pemerintah harus begitu, dunia usaha harus begitu, daerah harus begitu. Dengan demikian, dipastikan bahwa rakyat, local communities, ketika bekerja, berada dalam pertumbuhan ekonomi yang makin baik ke depan, dia juga ikut terangkat. Dia petani, dia nelayan, dia buruh, atau pekerja.

Oleh karena itu, saya mengembangkan kebijakan, saya minta dunia usaha untuk tidak meninggalkan masyarakat lokal, diajak, jadikan itu pendorong untuk pertumbuhan perusahaannya itu, sehingga nanti kalau ada hasil, ada laba, ada keuntungan juga dirasakan oleh semua. Saya menyeru kepada seluruh pemimpin daerah: gubernur, bupati, walikota yang tiap hari yang menangani itu, yang mengeluarkan izin, yang mengambil keputusan, jangan lupa untuk membawa serta masyarakat lokal dalam pertumbuhan itu.

Secara nasional jelas. Mas Soegeng pirso bahwa, seperti strategi yang saya pilih sejak tahun 2005, itu adalah propertumbuhan. Kalau ekonomi tidak tumbuh, ndak mungkin kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Yang kedua, pro-lapangan pekerjaan, dan alhamdulillah kemiskinan, pengangguran terus turun meskipun harus bekerja lebih keras lagi.

Yang ketiga, pro-pengurangan kemiskinan. Saya mengembangkan ini.

Dan terakhir, ditambah pro-lingkungan.

Begini, sahabat saya dulu, Thaksin, itu mengembangkan namanya dual-track strategy untuk ekonomi Thailand. Saya berdiskusi dengan yang bersangkutan, “Apa yang dimaksud dengan dual track?” “Kami pertumbuhan dan lapangan pekerjaan.”

Ketika saya kembali ke tanah air, saya memikirkan negeri kita. Ndak cukup kalau hanya dual track, harus triple track waktu itu: untuk pertumbuhan, untuk lapangan pekerjaan, dan sekaligus pengurangan kemiskinan secara terus-menerus.

Dengan climate change sekarang ini, mulai tahun 2009, saya tambah satu lagi pro-environment, pro-lingkungan. Jadi, kalau secara nasional strategi kita seperti itu, daerah, demikian juga dunia usaha, semua harus juga bisa mengimplementasikan pada wilayahnya masing-masing.

Soegeng Sarjadi:
Very good.

Presiden Republik Indonesia:
Sawit tadi, dan usaha pertambangan, apapun. Ajak masyarakat lokal. Dia menikmati hasil dan profit itu.

Soegeng Sarjadi:
Very good. Good point, Pak. Bapak Presiden, ini menit-menit terakhir, tidak terasa satu jam. Ternyata ndak perlu break tadi, ternyata kita hampir satu jam.

Saya akan menggarisbawahi lingkungan, Pak. Kenapa ini penting? Pemerataan itu tidak harus setiap penduduk sekaya orang-orang kota. Bisa enggak pada suatu saat walikota, bupati, gubernur membuat lingkungannya itu beradab? Masa susah amat membersihkan Sungai Ciliwung sih, Pak. Berapa sih biayanya? Tapi bukan pembicaraan kita.

Bapak Presiden, tujuh tahun Bapak sudah riding the wave Presidency Bapak. Dan tidak bisa dipungkiri lagi, catatan saya, when you go, kita, mesin ekonomi kita, menurut saya akan membawa Indonesia berpenghasilan GDP di atas 1 triliun US Dollars. Cadangan devisa barangkali bisa mencapai sekitar 200-an billion US Dollars. GDP per kapita mungkin bisa 4.000. Di sana-sini masih ada saudara-saudara kita yang harus diangkat, yang miskin, yang tidak ada lapangan kerja, tapi itu semua pekerjaan kita.

Tapi, saya hampir memastikan, Bapak Presiden, bahwa Bapak membawa kapal induk Indonesia. Kalau saya nyebut Singapur, maaf kata ini, itu adalah tongkang. Malaysia itu tongkang, terlalu kecil. Ini kapal induk. Mampu membawa kapal induk ini untuk menatap masa depan menjadi negara yang maju, kuat, dan modern itu.

Boleh saya nanya satu?

Presiden Republik Indonesia:
Silakan.

Soegeng Sarjadi:
What do you expect pengganti Bapak?

Presiden Republik Indonesia:
Well, Mas Soegeng, saya percaya pada demokrasi. Saya percaya pada keniscayaan sejarah bahwa 2014 akan muncul pemimpin baru. Dan dari sekarang menuju ke sana, akan banyak calon, banyak kandidat.

Tapi, satu hal, tentu saya boleh berharap sebagai Presiden yang bekerja insya Allah 10 tahun nanti dengan segala tantangan dan permasalahan, dengan segala capaian dan hal-hal yang belum bisa saya capai, maka Presiden 2014 mendatang, harapan saya, disamping yang dipilih oleh rakyat, tapi juga punya keinginan kuat dan bekerja sungguh ikhlas dan keras untuk lebih membikin baiknya negeri ini, melanjutkan lagi, meneruskan lagi.

Yang belum baik dari saya, perbaiki, koreksi. Tapi yang sudah dicapai oleh bangsa ini 10 tahun terakhir terus dilanjutkan. Dengan demikian, harapan rakyat Indonesia bisa dicapai.

Saya berharap ruang demokrasi dibuka tiga tahun, 2,5 tahun mendatang ini. Para pemimpin itu silakan mulai berkomunikasi dengan rakyatnya: visinya, pikirannya mengatasi masalah negara yang begini kompleks, apa yang mau dilakukan. Rakyat bisa mengikuti. Rakyat juga mengetahui rekam jejaknya, pengalamannya, kapasitasnya. Dengan demikian, harapan saya, pengganti saya nanti adalah yang benar-benar dipilih oleh rakyat, dan rakyat sadar dan mengerti mengapa memilih pemimpin itu. Dan setelah itu, kita dukung pemimpin itu supaya lebih berhasil dari saya, supaya pemerintahannya bisa berbuat lebih banyak dibandingkan yang saya lakukan.

That’s my hope, itulah harapan saya, Mas Soegeng. Dan, saya yakin Tuhan akan menurunkan pemimpin baru nanti untuk melanjutkan kepemimpinan yang saya lakukan ini.

Soegeng Sarjadi:
Terima kasih, Bapak Presiden.

Saya yakin di akhir kepresidenan Bapak ini, Bapak sebagai pemimpin selama ini, 2014, masih akan memiliki pengaruh yang begitu kuat. Pengaruh ini nanti apa bentuknya, we’ll see. Ini patut diketahui juga oleh siapapun yang ingin nanti menjadi Presiden. Masak saya enggak boleh ketemu yang sudah jadi Presiden? Itu saya harus sampaikan ini kepada publik, karena ini kadang-kadang berpolitik yang santun, yang tidak saling membenci, ini saya takut sekarang ini hampir menuju kepada benci. “Ini yang tidak boleh terjadi.”

Presiden Republik Indonesia:
Kalau saya, Mas, dibenci oleh sekelompok orang tidak mengapa karena saya sadari pemimpin itu dipuji dan dicaci, begitu. Yang penting rakyat tahu, pemimpinnya bekerja untuk mereka. Jadi, saya sudah siap untuk menghadapi itu.

Dan percayalah, niat baik Mas Soegeng untuk berdialog dengan saya, dengan genuine. Mas Soegeng juga sekali-kali mengkritik saya, saya terima. Itulah kawan.

Meskipun kadang-kadang berbeda pendapat, silaturahim kita tidak putus. Dan terus terang, ada juga teman-teman yang kerasnya luar biasa, tapi kadang-kadang di belakang juga menginginkan sesuatu. That’s politic. Itu sesuatu. Biarkan itu jadi bagian dari sejarah saja.

Soegeng Sarjadi:
Alright, good point now, very blunt, very good.

Presiden Republik Indonesia:
Terima kasih.

Soegeng Sarjadi:
Para Pemirsa, demikian tanpa saya sadari satu jam dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia. Saya bangga sekali sudah bisa mewakili publik untuk bisa berdialog dengan Bapak, sehingga the unspoken, yang tidak diketahui, moga-moga hari ini bisa diketahui oleh umum. Moga-moga ini bukan yang terakhir.

Presiden Republik Indonesia:
Insya Allah.

Soegeng Sarjadi:
Sampai 2014, saya masih akan meminta wisdom dari Bapak Presiden untuk pada suatu saat, di mana diperlukan, saya akan datang dan minta berdialog lagi dengan Bapak untuk for the love, our love of the country. Itu saja, di atas itu segala-galanya.

Insya Allah, besok kita masih akan menyaksikan matahari terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment