WAWANCARA TVRI DENGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Wawancara Dengan TVRI

TRANSKRIPSI
WAWANCARA TVRI DENGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ISTANA NEGARA, JAKARTA
11 AGUSTUS 2011


Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Selamat malam, Pemirsa TVRI di manapun Anda berada, saya Imam Priyono, malam hari ini saya sangat beruntung karena saya saat ini berada di Istana Negara, Jakarta. Pada malam hari ini saya akan mengajak Saudara-saudara yang ada di rumah untuk bergabung bersama kami menikmati hangatnya suasana Istana Negara dan selain itu mengetahui lebih jauh apa-apa saja yang dilakukan oleh orang nomor satu di negeri ini, Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sebuah acara yang bertajuk Ramadhan Bersama Presiden Republik Indonesia. Langsung saja, saya akan sapa beliau, selamat malam, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia:
Selamat malam.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Senang sekali saya bisa hadir di Istana Negara, bertemu dengan Bapak, bersilaturahim pada bulan suci Ramadhan ini. Pak Presiden, pertanyaan pertama, saya mewakili pemirsa yang ada di rumah, mungkin kita semua ingin tahu mengenai pandangan Bapak, kita ketahui bersama saat ini bulan suci Ramadhan, bulan yang berkah dan bulan yang menurut syariat diharapkan bisa membuat kita sebagai insan, menjadi insan yang kamil atau insan yang paripurna. Bapak Presiden sendiri melihatnya seperti apa?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, Bung Imam, saya punya pandangan yang kurang lebih sama. Pada bulan suci Ramadhan ini, kita, orang-seorang, itu diharapkan sebenarnya melakukan refleksi, mawas diri, introspeksi sehingga kalau seraya menjalankan ibadah pada bulan suci itu kita semua, orang-seorang, melakukan seperti itu, pastilah kita bisa mengambil hikmah dan bisa menyempurnakan kepribadian kita.

Di sisi yang lain, dalam ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini, kita semua dilatih, dididik, diingatkan kembali akan sikap dan perilaku yang utama bagi seorang umat beragama, bagi seorang Muslim. Misalnya, kita dididik kembali untuk senantiasa sabar, kemudian disiplin, lantas kita bisa menjaga sikap, tutur kata dan perilaku kita dan banyak sekali sebenarnya yang sesungguhnya tanpa harus menunggu bulan Ramadhan pun harus kita lakukan sebagai seorang manusia, sebagai seorang umat yang baik.

Tetapi di bulan inilah lazimnya kita diingatkan kembali, dididik kembali untuk melaksanakan itu semua. Dalam konteks ini semua, kalau saya lihat dari sudut pandang yang lebih luas, lantas apa yang bisa didapatkan oleh masyarakat, bahkan oleh bangsa dan negara.

Beberapa saat yang lalu, ketika saya mengundang handai taulan, para pejabat negara untuk berbuka puasa bersama di Istana Negara ini tanggal 3 Agustus yang lalu, 3 Ramadhan yang lalu, dalam sambutan singkat saya, saya mengingatkan bahwa yang kita tuju ini tiada lain adalah sebuah masyarakat yang baik. Kita membangun bangsa, membangun diri untuk menuju kepada masyarakat seperti itu, masyarakat yang baik atau the good society.

Saya sampaikan waktu itu, masyarakat yang baik itu karakter utamanya adalah masyarakat berkeadaban, masyarakat yang civilized. Kita tahu sendiri: perilakunya baik, akhlaknya baik, budi pekertinya baik. Karakter yang kedua, masyarakat yang baik itu adalah masyarakat yang berpengetahuan, yang dekat dengan ilmu, yang rasional, tidak mudah percaya pada takhayul, tidak mudah dikontrol oleh emosi semata tetapi betul-betul berpengetahuan. Karakter yang ketiga adalah, karena kita hidup bermasyarakat, tidak sendiri, adalah masyarakat yang rukun, yang toleran, dan hormat-menghormati.

Sedangkan yang keempat dan kelima ciri dari masyarakat yang baik ya tentu kita ingin masyarakat yang terbuka, bisa mengekspresikan pikiran-pikirannya, bisa mendapatkan perlindungan pada hak-haknya; inilah hakekat dari demokrasi yang bermartabat. Sedangkan yang terakhir, setelah masyarakat mendapatkan kebebasan dalam era demokrasi ini, masyarakat itu haruslah tertib, menghormati pranata, apakah pranata hukum ataupun pranata sosial.

Lima ciri masyarakat yang baik itulah sebenarnya; juga sama dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama, dalam hal ini dalam rangka Ramadhan adalah ajaran Islam, sehingga kalau saya letakkan dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka makna dari bulan suci Ramadhan, makna dari ibadah kita haruslah kita letakkan dalam konteks orang-seorang, dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan lebih luas lagi kehidupan berbangsa.

Begitu saya melihat dan memaknai ibadah kita pada bulan suci Ramadhan ini.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, kita ketahui bersama bahwa bulan suci Ramadhan adalah bulan yang juga untuk bergiat-giat, bekerja secara keras, secara optimal, membangun bangsa yang besar ini, yang penuh dengan anugerah dan tentu itu menyita tenaga, menyita waktu, dan yang lain-lain. Yang saya ketahui dan yang kami ketahui, aktivitas Bapak begitu padat. Ada sidang paripurna, sidang terbatas, kadang-kadang back-to-back, saling berdekatan, kemudian ada buka puasa bersama, dan bahkan kami ketahui setelah 17 Agustus akan ada safari Ramadhan. Bagaimana mengelola ini, Pak?

Presiden Republik Indonesia:
Benar. Memang, dengan harus melakukan sahur, kemudian di samping doa dan zikir, kegiatan keseharian, kegiatan mengurus negara, katakanlah begitu, menjalankan roda pemerintahan tentu tidak boleh berhenti. Jadi, bagi saya dan bagi teman-teman yang lain, jajaran pemerintahan, saya kira juga sama. Tidak ada perbedaan apapun sebetulnya kalau itu dilihat dari ibadah. Kerja juga ibadah. Kerja untuk bangsa, negara juga jihad. Begitu kata kaum ulama. Oleh karena itu, ya kami semua terus bekerja. Bung Imam juga tahu bahwa justru banyak hal yang sengaja kami intesifkan penyelesaiannya pada bulan suci Ramadhan ini.

Jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang, misalnya saya menyampaikan kepada para menteri, “Tolong diagendakan apa saja masalah-masalah penting, masalah-masalah aktual, agenda-agenda utama yang masih tercecer pada bulan-bulan sebelum Ramadhan ini. Mari kita agendakan sekaligus kita beribadah dan kita bisa secara maraton, secara intensif melaksanakan tugas-tugas itu.” Jadi, justru kami gunakan berkah Ramadhan ini insya Allah untuk kita bekerja lebih fokus dengan agenda-agenda yang telah kita tentukan agar semuanya bisa berlangsung dengan baik.

Dan benar memang, rasanya mengalir terus begitu dari pagi sampai paginya lagi tetapi justru di situlah barangkali hikmah Ramadhan yang kami petik dan barangkali di situ pulalah kita bisa memberikan bobot yang lebih utuh: ibadah di satu sisi tapi bekerja sungguh-sungguh di sisi yang lain.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Jadi, memang tidak ada pembatasan bahwa sementara bulan suci Ramadhan kita pilih hal tertentu dan hal yang lain yang dianggap lebih berat itu nanti sama sekali tidak beda karena di depan kita bahkan ada 17 Agustus, di situ kita akan menggelorakan lagi semangat kemerdekaan, jadi memang tidak ada?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, tidak ada pembatasan sebenarnya. Tentu masing-masing akan menyusun kembali jadwal waktunya. Sebagai contoh, Bung Imam, banyak hal yang saya lakukan setelah berbuka puasa bersama. Ada satu-dua jam yang saya gunakan, entah mendisposisi surat-surat ataupun me-review apa yang kita lakukan seminggu-dua minggu sebelumnya dan kemudian akan kita lakukan, bertemu dengan sahabat, berkomunikasi dengan para menteri, itu kami lakukan. Dengan demikian, barangkali itulah yang kita tata kembali. Tapi Alhamdulillah tidak ada masalah sama sekali. Dengan demikian, memang tidak ada pembatasan dan tidak boleh kita justru melakukan pembatasan karena kalau kita tata dengan baik, justru banyak sekali yang bisa kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, mungkin saya mewakili masyarakat yang ingin tahu, begitu banyak aktivitas, begitu banyak agenda, begitu banyak beban pikiran, dan begitu banyak ekspektasi publik terhadap Bapak dan pemerintahan, bagaimana menjaga kondisi tubuh karena terus terang saya merasa terapresiasi sekali, di saat kita hadir, Bapak begitu hangat, wajah begitu ceria padahal saya ketahui hari ini ada beberapa agenda dan terakhir juga ada buka puasa bersama dengan elemen masyarakat, bagaimana caranya?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, saya kira masing-masing punya rahasia sendiri-sendiri. Begini. Saya itu percaya pada konsep ibadah. Kalau kita bekerja ikhlas, apapun rasanya semua bisa kita atasi. Kalau dipikir-pikir, Bung Imam ya, persoalan itu datang dan pergi. Satu masalah kita atasi, muncul masalah yang lain. Kemudian satu keputusan satu pihak setuju, satu pihak sangat setuju, pihak yang satunya lagi tidak setuju. Demikianlah kompleksitas, demikianlah tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh orang seperti saya ataupun oleh siapapun yang sedang memimpin, entah memimpin daerah, entah memimpin organisasi politik, organisasi massa, dan terlebih negara dan pemerintahan.

Tetapi rasanya saya juga terus belajar. Saya tentu manusia yang juga punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi kalau saya tarik kembali, “Bismillah,” semuanya itu ibadah. Saya harus ikhlas, rasanya lebih ringan, lebih lapang. Saya kira hanya itu, tidak banyak resep yang tidak biasa, begitu. Tetapi saya juga mengatur memang antara bekerja, membaca untuk me-refresh pengetahuan saya, bertemu dengan keluarga, dan juga olah raga. Saya pikir itu resep yang generik, siapapun bisa melakukan, cuma kadang-kadang di tengah kepadatan tugas, mengalir dari jam ke jam, kalau kita lupa jaga keseimbangan, mungkin juga ada masalah. Oleh karena itu, insya Allah seberat apapun, saya akan jaga keseimbangan dan harapan saya juga yang lain.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Baik. Bapak Presiden, saya akan banyak lagi bertanya, khususnya saya ingin tahu mengenai perkembangan kita sebagai Ketua ASEAN, Bapak Presiden sebagai Ketua ASEAN, Indonesia saat ini bahkan punya hajat yang cukup besar ada di Manado, Sulawesi Utara namun setelah jeda, Bapak Presiden.

Dan, Saudara kami akan segera kembali setelah jeda berikut ini dalam tajuk Ramadhan Bersama Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono sesaat lagi

Saudara, terima kasih Anda masih bersama kami di Ramadhan Bersama Presiden Republik Indonesia dan saya masih di Istana Negara bersama Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Pak SBY, segmen kedua ini kita ingin lebih mengetahui. Indonesia saat ini punya banyak sekali peran. Di antara perannya adalah di dunia internasional. Kita terlibat aktif di G20, kita terlibat aktif di ASEAN, bahkan kita adalah Ketua ASEAN, Bapak adalah Ketua ASEAN, apa yang menjadi strategi, apa yang menjadi tujuan utama dari pembentukan Komunitas ASEAN atau ASEAN 2015 menurut pandangan Bapak?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, sebelum kita bicara apa yang hendak dicapai oleh ASEAN menuju tahun 2015, peluang dan misi untuk menjadi Ketua ASEAN harus kita manfaatkan dengan baik dalam arti, Bung Imam, dulu ketika kita mengalami krisis yang luar biasa, terus terang peran internasional kita relatif susut di bidang itu karena kita mengutamakan untuk mengatasi masalah di dalam negeri. Oleh karena itu, baik pada tingkat ASEAN, pada tingkat organisasi yang lebih luas, memang dunia melihat bahwa peran internasional Indonesia relatif susut.

Oleh karena itu, peluang kali ini kita menjadi Ketua ASEAN harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya, membuktikan bahwa Indonesia alhamdulillah setelah mengalami masalah yang berat 13 tahun yang lalu karena krisis yang luar biasa, kita telah pulih dari krisis, bahkan kita telah bisa membangun diri kembali dan kita telah mencapai sejumlah kemajuan dan progress, maka tepat kalau Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia yang kini menjadi anggota G20, satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20, kita tunjukkan kembali bahwa saatnya Indonesia lebih berperan, baik dalam kerangka ASEAN maupun dalam kerja sama internasional yang lain.

Dengan modal itulah, saya sungguh berharap ketika kita menjadi Ketua ASEAN tahun 2015 ini mesti banyak yang kita capai untuk memajukan ASEAN, untuk memastikan bahwa ASEAN memiliki peran yang lebih besar dalam hubungan internasional, dan utamanya kepentingan Indonesia sendiri harus diintegrasikan bersama-sama dengan kepentingan ASEAN. Sebagai contoh, kita ingin ASEAN itu betul-betul tumbuh menjadi sebuah komunitas, sebagaimana yang didambakan oleh para pendiri ASEAN, para founding fathers kita, dan Indonesia adalah salah satu dari pendiri ASEAN.

Kita ingat, dulu sebelum ada ASEAN, Asia Tenggara itu terpecah belah. Kita terlibat dalam konflik. Ekonominya pun sendiri-sendiri. Mudah sekali kita berada dalam posisi yang diametral. Kita ingin mengubah segalanya. Sejak ASEAN berdiri 1967, terus kita kembangkan hingga saat ini. Oleh karena itu, Indonesia bertekad ketika menjadi Ketua ASEAN ini, apa yang kita cita-citakan dulu dengan mendirikan ASEAN bisa kita wujudkan.

Dan lebih jauh dari itu, Indonesia ingin sebagai Ketua ASEAN, ASEAN harus bisa mencapai lebih banyak lagi sebagai komunitas bersama yang tentu kepentingan bersama itu akan membawa manfaat langsung bagi negara-negara anggota. Dan ASEAN tentu bukan hanya asosiasi antarpemerintahan tapi harus menjadi milik rakyat dari semua negara-negara ASEAN. Itulah tekad Indonesia dan itulah arti penting keketuaan kita di ASEAN pada tahun 2011 ini.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, salah satu hal yang menggelitik saya di saat saya meliput kegiatan Bapak di Davos, kemudian ini juga menjadi tema sentral di kegiatan ASEAN, adalah kalau boleh saya mengutip bahwa “Yang penting untuk Asia Tenggara atau Indonesia adalah tidak hanya tumbuh tetapi tumbuh secara merata.” Boleh dijelaskan, Pak, secara spesifik seperti apa tumbuh secara merata di antara negara-negara ASEAN karena memang salah satu tantangan adalah kesenjangan?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, ASEAN memang tidak sama persis dengan Uni Eropa. Uni Eropa itu sangat terstruktur, satu; parlemennya pun satu, kebijakan perekonomiannya satu, pengambilan keputusan pada masalah-masalah yang sangat strategis itu juga dilakukan secara bersama. Memang ASEAN belum seperti itu tetapi ASEAN dengan piagam yang baru ini sesungguhnya kita lebih kohesif, koordinasi di bidang kebijakan lebih baik, ekonomi kita lebih terintegrasi, pengambilan keputusan juga dikoordinasikan manakala menyangkut kepentingan bersama, kepentingan ASEAN. Dengan demikian, ini baik bagi sekali lagi upaya mewujudkan komunitas ASEAN.

Yang saya maksudkan dalam pidato di Davos dan pidato-pidato di tempat yang lain, ASEAN memang harus tumbuh lebih merata. Ini bisa kita capai apabila kita segera mewujudkan konektivitas ASEAN, baik konektivitas fisik dengan transportasi, dengan infrastuktur, dengan telekomunikasi maupun konektivitas budaya, konektivitas antarmanusia, hubungan yang disebut people-to-peole contact.

Dalam konteks itulah, maka kita harus betul-betul mensinergikan upaya kita dengan koordinasi yang baik. Kalau kita sudah serba terhubung, connected, satu sama lain, maka kerja sama ekonomi itu akan lebih dirasakan oleh semua. Itu dari aspek ekonomi, belum dari aspek sosial dan budaya dan juga aspek yang tidak kalah penting, politik dan keamanan.

Saya yakin, manakala piagam ASEAN yang baru ini kita jalankan dengan sungguh-sungguh, konektivitas kita bangun, kemudian kebijakan antarnegara menyangkut kepentingan ASEAN kita koordinasikan dengan baik, maka insya Allah kemajuan ASEAN akan bisa lebih merata dan bisa dinikmati oleh sepuluh negara ASEAN.

Indonesia akan berdiri di depan, akan memelopori terbentuknya kemajuan yang lebih inklusif, yang lebih balanced, yang lebih adil, dan bisa dinikmati oleh semua negara ASEAN.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak, di saat komunitas ASEAN insya Allah terbentuk di 2015, yang kami ketahui, leaders sudah berpikir apa selanjutnya yang akan dilakukan. Bagaimana sebenarnya pandangan Bapak mengenai kalau ini dielaborasi dengan kepentingan usaha mikro, kecil, dan menengah karena yang saya ketahui, yang kami ketahui bahwa saat ini, di saat menteri ekonomi ASEAN bertemu, salah satu yang diusung adalah bagaimana memastikan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah kita juga turut mendapatkan manfaat, turut tumbuh di tengah hadirnya komunitas ASEAN yang lebih mengedepankan people-to-peole contact?

Presiden Republik Indonesia:
Ya, saya senang kalau Bung Imam mengangkat pentingnya kita mengembangkan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah karena justru itulah perjuangan kita, perjuangan Indonesia, bukan hanya dalam kerja sama ASEAN. Setiap saya menghadiri pertemuan G20, saya selalu menyuarakan kepentingan negara berkembang. Ingat, G20 itu hampir semuanya negara maju, hanya sedikit negara berkembang atau boleh disebut emerging nations, emerging economies.

Kalau kita hanya berpikir perdagangan, investasi, bisnis-bisnis yang besar, bagi negara Indonesia sangatlah belum cukup karena tugas kita di samping ekonomi tumbuh, tumbuh secara adil, kita juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Dengan demikian, kita bisa mengurangi kemiskinan kita. Secara ekonomi, kita ingin seperti itu, tetapi menurut saya tidak cukup. Oleh karena itulah, bagaimanapun harus ada kebijakan nasional dan kebijakan regional agar pemerataan pertumbuhan ekonomi lebih baik.

Secara ekonomi, kita ingin seperti itu tetapi menurut saya tidak cukup. Oleh karena itulah, bagaimanapun harus ada kebijakan nasional dan kebijakan regional agar pemeratan pertumbuhan ekonomi lebih baik. Caranya tiada lain, menurut keyakinan saya dan ini menjadi kebijakan Indonesia, adalah dengan mengembangkan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Dalam istilah ekonomi, disebut financial inclusion.

Ketika kita memberikan bantuan modal, pinjaman kredit, jangan dilupakan usaha mikro dan usaha kecil. Itulah sebabnya Indonesia, kita menjadi pelopor sebenarnya di ASEAN dan juga banyak negara yang memberikan apresiasi kepada kita. Kebijakan untuk mengalirkan Kredit Usaha Rakyat, kredit untuk usaha mikro dan kecil, kita dianggap leading, memimpin. Jumlahnya tidak sedikit dan ini terus kita jalankan.

Contoh sekarang, satu tahun kami alokasikan 20 triliun untuk usaha mikro dan kecil utamanya dan itu mengalir dengan baik. Bahkan sekarang terpikir, barangkali kita bisa tambah sehingga lebih banyak lagi usaha-usaha kecil rakyat kita mendapatkan modal.

Kalau itu terjadi, itu sabuk pengaman. Itu sarana untuk lebih memeratakan kesejahteraan, bisa mengurangi pengangguran secara sistematis. Dalam konteks itulah, justru Indonesia berdiri di depan. Akan kami bawa menjadi policy bersama ASEAN, yang janganlah melupakan usaha kecil, mikro, dan menengah. Jadi tepat apa yang disampaikan Bung Imam dan itulah agenda kita insya Allah akan saya terus perjuangkan bukan hanya di forum ASEAN tapi juga di forum G20 maupun di forum APEC.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, kita akan melanjutkan dialog setelah jeda berikut ini. Dan Saudara, kami masih akan kembali untuk Anda dan tentu masih bersama Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Saudara, Pemirsa TVRI di manapun Anda berada, sekali lagi terima kasih Anda masih bersama kami di Ramadhan Bersama Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Dan langsung saja kita lanjutkan diskusi ini.

Bapak Presiden, kita ketahui bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang besar tentu bangsa yang tidak hanya memiliki potensi tetapi juga memiliki tantangan. Saat ini di bulan yang suci, yang sejuk ini juga sebenarnya kita punya tantangan. Beberapa waktu terjadi tindak kekerasan misalnya di Papua, kemudian ada tantangan penegakan hukum, kemudian berbagai tantangan yang lain. Mengatasi tantangan seperti ini, Pak, apa yang Bapak Presiden lakukan, strategi apa yang Bapak kedepankan untuk mengatasi masalah ini?

Presiden Republik Indonesia:
Betul, negara kita ini negara yang sedang melakukan transformasi besar, perubahan maha besar, bukan hanya reformasi, bukan hanya demokratisasi, bukan hanya membangun kembali perekonomian kita tapi sejatinya kita tengah melakukan perubahan besar. Sebuah bangsa yang melakukan perubahan besar hampir pasti menghadapi banyak tantangan, persoalan, dan juga ujian. Masalahnya sering sangat menjadi kompleks. Apalagi, Indonesia negara berkembang yang sangat majemuk. Persoalan itu sering sangat kompleks, kait-mengait satu sama lain, yang belum tentu satu solusi bisa mengatasi segalanya.

Kita harus siap mental. Saya sudah mempersiapkan segalanya bahwa inilah tantangan kita, inilah sekaligus misi kita. Dalam konteks itu semua, tadi, Bung Imam, saya katakan bahwa persoalan itu datang dan pergi. Satu masalah kita selesaikan, muncul masalah yang lain. Saya tahu akhir-akhir ini perhatian publik juga banyak yang mengarah kepada misalnya isu tentang pemberantasan korupsi, masih terjadinya kasus-kasus korupsi. Yang kedua, disebutkan tadi gangguan keamanan, Papua misalnya, atau yang juga menjadi perhatian dunia, termasuk perhatian kita, gejolak perekonomian yang belum lama ini atau yang hari-hari terakhir ini terjadi.

Dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, kalau menyangkut bagaimana kita menghadapi itu semua, negara kita ini memiliki sistem, memiliki konstitusi, dikelola dengan kaidah-kaidah manajemen yang baik dan terbagi habis. Ada lembaga-lembaga negara, ada lembaga-lembaga pemerintah pusat dan daerah, apakah di tingkat nasional yang saya pimpin, apa di tingkat provinsi dipimpin oleh gubernur, sampai kabupaten/kota, bahkan sampai kepala desa.

Jadi, menghadapi semua persoalan di negeri ini, semuanya harus bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan sistem dan aturan, ditambah dengan kepemimpinan yang langsung turun menyelesaikan masalah itu. Kalau itu dilaksanakan oleh semua, tidak harus menunggu Presiden turun tangan setiap masalah, maka negara ini akan terkelola dengan baik dan setiap masalah segera bisa dicarikan solusinya. Itu kalau ditinjau bagaimana kita mengatasi semuanya itu.

Kalau diambil contoh Papua tadi, kita sebetulnya sudah mengubah pendekatan untuk Papua. Yang tadinya pendekatan keamanan, sejak saya menjadi Presiden, saya ubah menjadi pendekatan kesejahteraan, mengutamakan percepatan pembangunan ekonomi, melakukan percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat, pendidikan di tingkat lokal, kesehatan, infrastruktur, jalan-jalan misalnya, dan semua yang sangat diinginkan oleh masyarakat Papua. Jelas itu menjadi kebijakan kita. Tetapi Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap tegak. Kedaulatan tidak boleh itu diganggu. Oleh karena itu, kalau gangguan di Papua itu menyangkut pelanggaran hukum, ya tegakkanlah hukum itu.

Kalau itu gerakan bersenjata, ya kita atasi dengan cara ya hentikan gerakan bersenjata itu. Sangat jelas. Hukum mesti ditegakkan, kedaulatan negara pun juga mesti dijaga tetapi jangan lupa bahwa kita ingin betul meningkatkan kesejahteraan rakyat, masyarakat Papua dalam hal ini, sehingga makin ke depan bisa kita atasi. Tetap masih ada elemen-elemen di Papua yang ingin melawan negaranya dan kita harus atasi dengan bijak, dengan tepat tetapi tegas kalau itu menyangkut kedaulatan negara.

Kalau korupsi, saya kira jelas. Pemberantasan korupsi adalah agenda kita tapi memberantas korupsi tidak semudah membalik telapak tangan. Negara lain pun memerlukan waktu 10, 15, 20 tahun untuk membikin sistemnya menjadi bersih. Kita lakukan segalanya. Pencegahan korupsi kita lakukan dengan sekuat tenaga. Menindak korupsi kita lakukan dan tidak boleh tebang pilih. Siapapun di negeri ini yang melakukan korupsi, hukum harus ditegakkan. Silakan penegak hukum menegakkan. Saya akan dukung sepenuhnya, dengan catatan objektif, adil, transparan, bisa diikuti oleh masyarakat, dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada perubahan apapun. Pemberantasan korupsi tetap prioritas.

Yang terakhir, tadi masalah gejolak ekonomi baru. Ya, inilah dunia kita; makin rentan dan makin sering terjadi krisis. Alhamdulillah, ketika krisis datang tiga tahun yang lalu, kita selamat. Ekonomi kita bertahan. Bahkan, Indonesia dinilai sebagai sedikit negara yang bisa meminimalkan dampak dari krisis itu. Mengapa kita bisa? Karena kita bersatu. Mengapa kita bisa? Waktu itu cepat kita mengantisipasi.

Saya ingin dan sudah saya sampaikan dua kali pertemuan penting minggu ini saja dan sekarang terus kita lakukan langkah-langkah untuk melakukan antisipasi. Insya Allah, karena ekonomi kita baik sebetulnya sekarang ini meskipun kita masih harus bekerja keras, kita bisa mengatasi dampak dari krisis global ini. Jadi, apa yang saya sampaikan ini menggambarkan negara tidak pernah berhenti bekerja. Pemerintah akan bekerja sekuat tenaga mengatasi masalah apapun.

Yang saya perlukan dukungan dari rakyat. Berikan kesempatan Pemerintah untuk mengatasi segalanya ini karena semuanya juga untuk rakyat, bukan untuk saya pribadi, bukan untuk orang-seorang. Inilah yang ingin saya sampaikan kalau tadi Bung Imam mengangkat isu-isu aktual sekarang ini

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, salah satu isu yang cukup menyita perhatian masyarakat dan ini sebenarnya isu bersama kalau menurut hemat kami, mengenai keadaan internal di Partai Demokrat. Bapak sebagai Ketua Dewan Pembina tentu mempunyai pandangan mengenai hal ini dan tentu kami sebagai masyarakat juga semakin cepat reda, tentu akan semakin baik sehingga energi kita bisa untuk fokus kepada hal-hal lain. Pandangan Bapak mengenai hal ini?

Presiden Republik Indonesia:
Sebetulnya, begini. Kalau kita berpikir jernih ya, Partai Demokrat ini usianya belum sepuluh tahun. Tentu partai yang tengah membangun dirinya, tentu ada masalah-masalah di sana-sini, masalah-masalah internal. Jangankan Partai Demokrat yang baru akan berusia sepuluh tahun, partai politik yang usianya sudah puluhan tahun pun tidak immune, tidak kebal dari kesalahan-kesalahan ataupun permasalahan internalnya.

Partai Demokrat dalam menghadapi ujian, katakanlah ada satu-dua-tiga-empat kader yang ternyata menyimpang dari etika, dari perilaku yang berlaku di partai kami, pertama-tama, kami introspeksi. Kami menyadari memang ada kesalahan satu-dua kader kita. Itulah kami bertekad berbenah diri. Dalam rakornas kemarin, tujuan utamanya berkonsolidasi, melakukan perbaikan, berbenah diri untuk meningkatkan kinerja dan pengabdian kami kepada masyarakat. Jadi, sebelum kami melihat ke sana-ke mari, kami introspeksi dulu.

Permasalahannya adalah ini namanya politik, politik itu keras, politik itu bahkan dianggap kejam, begitu. Ini masalah yang sesungguhnya tidak harus dipelihara tiap hari, dilebarkan ke sana-ke mari, nampaknya sekarang menghiasi wacana atau diskursus atau gelanggang politik di tanah air tapi tak apa-apalah, namanya negara demokrasi. Kami akan tetap fokus melakukan pembenahan internal.

Kemudian, kalau ada satu-dua kader kami terlibat pelanggaran hukum, tegakkanlah hukum itu dengan seadil-adilnya karena yang bisa mengadili adalah pengadilan yang oleh undang-undang diberikan amanah, bukan pengadilan-pengadilan yang lain, yang belum-belum sudah memvonis ini salah-itu salah. Saya mengajaklah, hormati supremasi hukum, hormati pranata hukum. Dengan demikian, segalanya menjadi jelas.

Saya tetap optimis Partai Demokrat akan bisa segera berkonsolidasi, mengambil pelajaran, memberikan sanksi anggotanya yang ternyata menyimpang dari etika; kalau hukum, serahkan pada negara yang harus menyelesaikan masalah-masalah hukum itu. Saya melihatnya begitu dan tentunya sebagaimana partai politik yang lain, Demokrat ingin terus melanjutkan pengabdiannya yang baiklah untuk bangsa dan negara ini .

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, saya minta sedikit saja pandangannya mengenai keterbukaan pers. Kita ketahui bersama bahwa di kepemimpinan Bapak pers begitu terbuka sekali, kemudian demokratisasi begitu terasa di sendi-sendinya. Namun, memang salah satu ekses, kita melihat atau kita semua berada pada suatu ruang yang mungkin tercipta perbedaan dan mungkin saja ketidaknyamanan. Bapak melihatnya seperti apa?

Presiden Republik Indonesia:
Dua hal. Kalau saya ditanya, kita punya kebebasan pers atau pers yang sedikit dikontrol, saya akan memilih kebebasan pers, sebagaimana saya memilih demokrasi. Saya memilih penghormatan pada hak-hak asasi manusia, bukan pada pilihan yang lain, sistem yang lain, model yang lain. Itu jelas sekali dan ini amanah reformasi. Ini yang ingin kita perjuangkan bertahun-tahun.

Yang sudah ada kita syukuri: kebebasan, hak politik, hak asasi manusia, kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya, kemerdekaan untuk berkumpul, dan sebagainya, termasuk mengkritisi, bahkan kadang-kadang menghujat pemimpinnya, utamanya saya sebagai Presiden. Itu realitas demokrasi. Tidak ada yang keliru di situ.

Yang kedua, pengalaman menunjukkan, belajar dari negara-negara yang lain, harus dijaga prinsip keseimbangan. Kalau namanya “terlalu”, itu tidak baik. Presiden yang terlalu kuat, yang memiliki kekuasaan tidak terbatas tidak baik. Demikian juga misalkan parlemen yang kekuatannya sangat absolut kekuasaannya juga tidak baik. Demikian juga pers kalau menggunakan power-nya itu berlebihan, kekuasaannya berlebihan, itu juga tidak baik.

Marilah kita belajar bersama-sama menggunakan secara seimbang. Ada etikanya, ada prinsip-prinsip yang harus dijaga, prinsip kepatutannya misalnya. Dengan demikian, pers menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi yang bermartabat, kehidupan demokrasi yang membawa manfaat, yang teduh, yang menciptakan keadaan dalam negeri yang baik sehingga kita bisa membangun, kita bisa memajukan ekonomi, kita bisa menjaga kerukunan dan sebagainya.

Saya pikir, di bulan Ramadhan ini baik siapapun yang memegang kekuasaan introspeksi, kita gunakan searif-arifnya, termasuk Presiden, termasuk pemerintah, termasuk gubernur, dan juga termasuk parlemen, termasuk DPR, termasuk pers, termasuk siapa pun yang oleh negara dalam era demokrasi ini, katakanlah, diberikan kekuasaan.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, terima kasih atas pandangannya. Saya akan terus menggali namun sebelumnya kita harus jeda terlebih dahulu; dan, Saudara, kami akan kembali setelah jeda berikut ini.

Saudara, Anda masih bersama kami di Ramadhan Bersama Presiden Republik Indonesia.

Bapak Presiden, kita ketahui bersama bahwa saat ini bulan suci Ramadhan, bulan yang begitu sejuk, bulan di mana kita bisa berkontemplasi, dan tentu yang saya ketahui aktivitas Bapak sangat banyak di tengah bulan Ramadhan ini. Salah satunya yang kami dengar Bapak akan melakukan kunjungan ke beberapa daerah, bisa disebut Safari Ramadhan. Bisa disampaikan, Pak, kepada masyarakat, daerah mana saja atau apa yang mungkin dilakukan selama perjalanan Safari Ramadhan tersebut.

Presiden Republik Indonesia:
Ya, setiap Ramadhan sebetulnya sejak tahun 2005, saya selalu berkunjung untuk menyapa rakyat, untuk sekaligus mengetahui masalah apa yang dihadapi dan kemudian untuk mencari solusi dalam bentuk kebijakan, program, dan juga anggaran. Untuk tahun ini, saya tidak memilih Safari Ramadhan ke luar Jawa misalnya atau berkunjung ke daerah yang terlalu jauh karena Bung Imam tahu ini bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan. Sampai tanggal 20 acara saya padat sekali, pagi, sore, siang, dan malam.

Insya Allah pada Ramadhan kali ini saya akan melakukan Safari Ramadhan di sekitar Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan saya ingin menyapa komunitas-komunitas yang jarang disapa oleh pemimpinnya, daerah-daerah terpencil, supaya saya lebih lengkap lagi melihat secara utuh gambaran negeri kita.

Seperti biasanya, saya ingin bertemu mereka, ingin mendengarkan harapan-harapan mereka, melihat kondisi lingkungannya untuk memastikan apa lagi yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan negara, sesuai dengan anggaran yang kita miliki. Kurang lebihnya seperti itu dan kira-kira yang di sekitar Jawa Baratlah nanti yang akan saya kunjungi. Kalau Pantai Utara itu sudah sangat sering. Barangkali yang wilayah Tengah ataupun Selatan, kita lihat nanti. Tapi kira-kira arahnya begitu.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, kita sudah hampir berada di penghujung acara tetapi saya ingin sekali mengelaborasi pertanyaan saya yang terakhir ini memberikan kesempatan Bapak untuk menyampaikan harapan tapi tentu saya tergelitik melihat lukisan yang begitu indah. Ini salah gambaran bahwa Indonesia begitu sejuk, nyaman, sejahtera, begitu; dan harapan Bapak kepada kita semua selaku pemangku kepentingan bangsa ini apa, Pak, di bulan suci Ramadhan ini sehingga kita bisa bergerak lebih baik dan ujungnya masyarakat kita lebih sejahtera?

Presiden Republik Indonesia:
Sebenarnya kalau menyangkut harapan saya seperti apa negeri yang kita cintai ini seharusnya kita tuju dan kita bangun ya seperti lukisan ini. Tanah air yang tenang, yang damai, semua bisa bekerja, bekerja segiat-giatnya untuk memajukan rakyatnya dengan ekonomi dan dengan pembangunan yang kita laksanakan di seluruh Indonesia.

Untuk menuju ke situ, diperlukan keyakinan kita semua bahwa kita bisa membangun negeri ini menuju masa depan yang lebih baik. Diperlukan persatuan dan kebersamaan, tidak boleh terus bertengkar, saling jatuh-menjatuhkan, saling serang-menyerang, dan kemudian kunci yang lain kita mau bekerja keras. Hanya bangsa yang bekerja keras yang akan berhasil. Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya, yang membangun masa depannya. Itulah harapan saya.

Dan khusus Ramadhan ini, marilah kita jalani ibadah kita dengan baik, kita lakukan sekali lagi introspeksi, kita perbaiki akhlak, perilaku dan kebersamaan kita dalam hidup bermasyarakat. Kemudian mari kita bangun masyarakat yang baik, masyarakat yang juga rukun, saling sayang-menyayangi satu sama lain. Inilah harapan tulus saya dan saya akan menjadi bagian dari rakyat Indonesia untuk mencapai tujuan ini dan menciptakan suasana seperti itu. Itu saja, Bung Imam, yang ingin saya sampaikan kepada rakyat Indonesia, saudara-saudara kami, baik yang menjalankan ibadah puasa ataupun semua saudara-saudara kami, rakyat Indonesia.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Bapak Presiden, terima kasih atas wawancara selama 60 menit ini. Tentu banyak hal yang bisa dikutip. Saya sama sekali tidak ingin menyimpulkan karena semuanya menurut saya hikmah, semuanya menurut saya inspirasi dan mudah-mudahan kita bisa berjalan sesuai dengan harapan yang Bapak sampaikan tadi. Sekali lagi terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia:
Terima kasih.

Imam Priyono, Pembawa Acara TVRI:
Saudara, demikian tadi Ramadhan bersama Presiden Republik Indonesia, Ramadhan bersama tokoh bangsa Republik Indonesia, Ramadhan bersama ayah dari bangsa Indonesia, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Sampai jumpa pada kesempatan yang lain.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.


*****


Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment