Perhitungan Zakat Profesi


Apakah dasar perhitungan zakat profesi menurut qur‘an, Assunnah, ijma‘ ulama? Apa nisab yang dipakai untuk profesi sebagai karyawan? (Nursalim, Danyung, Kwarasan, Solo Baru)
Jawaban: Memang ketentuan tentang zakat profesi ini secara paket belum banyak disusun dalam kitab-kitab fikih utama sebagai bab tersendiri dalam klasifikasi zakat. Namun pembahasan tentang itu secara terserak memang sudah banyak diangkat sejak dahulu oleh para ulama.
Dalam kitab Fiqhuz Zakah, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi banyak sekali mengutip pendapat dan pandangan para ulama terdahulu tentang zakat jenis ini. Sehingga pemikiran tentang zakat profesi sebenarnya bukan hal yang baru karena sudah sering diangkat. Namun penempatannya dalam bab zakat sebagai bab tersendiri memang belum banyak dilakukan oleh mereka di zaman dahulu.
Itulah barangkali ada diantara umat Islam hari ini yang seakan-akan kurang mengenal bab zakat profesi ini. Dan bila kita dalami lebih jauh, memang ada beberapa pola pendapat dari para pendukung jenis zakat profesi ini dalam teknis dan tatacara pelaksanaannya.
Zakat profesi nisabnya diqiyaskan dengan zakat tanaman. Zakat tanaman nisabnya adalah 5 wasaq, bila dikonversikan umumnya para ulama mengatakan senilai dengan 520 kg beras. Bila harga beras Rp. 2.500/kg, maka nisab zakat tanaman adalah Rp. 1.300.000,-.
Para ulama mengatakan bahwa untuk menentukan nisab zakat profesi, yang dihitung adalah jumlah penghasilan selama setahun. Bila jumlahnya menelebihi nisab (Rp. 1.300.000,-), maka wajib membayar zakat.
Namun ada dua pendapat yang berbeda dalam menentukan nisab ini, yaitu apakah dari jumlah penghasilan kotor selama setahun? Atau dari penghasilan bersih setelah dipotong dengan biaya kebutuhan pokok?
Dalam Fiqih Zakat, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan bahwa untuk mereka yang berpenghasilan tinggi dan terpenuhi kebutuhannya serta memang memiliki uang berlebih, lebih bijaksana bila membayar zakat dari penghasilan kotor sebelum dikurangi dengan kebutuhan pokok. Misalnya anda bergaji 200 juta setahun, sedangkan kebutuhan pokok anda perbulanya sekitar 2 juta atau setahun 24 juta. Maka ketika menghitung pengeluaran zakat, hendaknya dari penghasilan kotor itu dikalikan 2, 5%.
Namun masih menurut Al-Qaradhawi, bila anda termasuk orang yang bergaji pas-pasan bahkan kurang memenuhi standar kehidupan, kalaupun anda diwajibkan zakat, maka penghitungannya diambil dari penghasilan bersih setelah dikurangi hutang dan kebutuhan pokok lainnya. Bila sisa penghasilan anda itu jumlahnya mencapai nisab dalam setahun (Rp. 1.300.000,-), barulah anda wajib mengeluarkan zakat sebesr 2, 5% dari penghasilan bersih itu.
Nampaknya jalan tengah yang diambil Al-Qaradhawi ini lumayan bijaksana, karena tidak memberatkan semua pihak. Dan masing-masing akan merasakan keadilan dalam syariat Islam. Yang penghasilan pas-pasan, membayar zakatnya tidak terlalu besr. Dan yang penghasilannya besar, wajar bila membayar zakat lebih besar, toh semuanya akan kembali manfaatnya kepada yang membayar zakat dan uang itu tidak akan pernah hilang.Uang yang anda miliki dari penghasilan anda bila telah dizakati, maka tidak perlu dikeluarkan zakat lagi.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment