Belajar dari Pengorbanan Nabi Ibrahim As


Idul AdhaHajjah Harnawati dari Pekanbaru mengisahkan, “Saya bersyukur Bang sempat sholat sunnah di dekat Maqam Ibrahi,seolah-olah jalan senantiasa dilapangkan kalau mau melangkah. Saya juga sempat menyentuh Ka'bah." Ia juga memberitahukan akan mengikuti i'tikaf di surau Pekanbaru pada Januari ini. Hj. Harnawati adalah salah satu jemaah haji yang keberangkatan dan kedatangannya ikut rombongan Surau Baitul Amin Sawangan bersama 30 jamaah lainnya.
Hari Raya Haji atau Idul Adha selalu dirayakan dengan kegiatan simultan oleh jemaah surau. Yang berkelapangan menunaikan ibadah haji, sebelum berangkat mendapatkan pembekalan (manasik) dari pengurus surau. Kemudian bagi jamaah yang lain ada kesempatan mengikuti i’tikaf di surau, dan penutupan i’tikaf jatuh pada hari Raya Idul Adha.
Setelah Shalat Idul Adha, dilangsungkan pemotongan hewan kurban, daging kurban juga dibagikan kepada Yayasan Anak Yatim yang memang menjadi santunan Surau Baitul Amin. Selain itu potongan kepala hewan kurban juga dibagikan kepada instansi pemerintahan dan tokoh masyarakat sekitar, mulai dari RT, RW, Kelurahan Curug, Kecamatan Sawangan hingga Walikota Depok. Tak ketinggalan Kepolisian, Kantor Pos, KUA Sawangan, Ketua DPRD bahkan juga ke berbagai relasi surau lainnya seperti pemasok kantin dan pasar-pasar.
Kegiatan berikutnya adalah menyambut kedatangan jamaah haji dan hajjah yang dilakukan pada Kamis (25/12) lalu. Dalam kesempatan terpisah, tepatnya saat santai setelah penutupan i’tikaf Idul Adha di SBA, Tim Mozaik mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Drs. Hana Djumhana Bastaman, M.Psi, salah seorang peserta i’tikaf yang juga seorang psikolog senior di Universitas Indonesia, tentang makna ‘pengorbanan’ Nabi Ibrahim AS bagi kehidupan muslim zaman sekarang.
Mengutip buku ‘Ibrahim Sang Sahabat Tuhan’ yang ditulis oleh Dr. Jerald F. Dirk, Nabi Ibrahim AS diperkirakan lahir sekitar tahun 2166 SM. “Tentu merupakan orang yang sangat luar biasa yang meninggalkan pekerjaan (tradisi) yang hingga ribuan tahun kemudian terus dilestarikan oleh orang-orang setelahnya,” ungkap Bang Hana.
Selanjutnya Bang Hana mengajak melihat kehebatan Nabi Ibrahim AS sejak kanak-kanak, ketika ia melakukan perenungan terhadap alam semesta dan atas bimbingan Tuhannya, hingga akhirnya ia menganut monoteisme (Agama Tauhid).
Saat itu ia berusia sekitar 14 tahun. Selanjutnya beliau berdakwah, dan dihadapinya masyarakat serta penguasa pada zaman itu, hingga dihancurkannya berhala-berhala sesembahan mereka. Dan, ketika dilempar ke dalam kobaran api usia Nabi Ibrahim AS sekitar 16 tahun.
Cobaan bagi ’Sang Sahabat Tuhan’ tak kunjung berhenti. Sampai usia kakek-kakek, Nabi Ibrahim AS belum dikaruniai anak dari istrinya, Siti Sarah. Setelah mendapatkan istri Siti Hajar ia memperoleh anak bernama Ismail. Untuk mengurangi konflik antara Siti Hajar dan Siti Sarah, serta atas perintah Allah, Nabi Ibrahim mengantar Siti Hajar dari Palestina ke Mekah, Ismail saat itu berumur 2 tahun dan usia Ibrahim sekitar 86 atau 88 tahun.
Peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail terjadi di Mekah itu. “Sebagai manusia pasti ada konflik batin,” ungkap Bang Hana. “Nabi Ibrahim mengalami konflik internal, yakni kondisi psikologi seseorang ketika harus memilih yang sama bobotnya.
Dan, yang paling berat adalah saat mempertimbangkannya. Mengabaikan perintah Tuhan, artinya ia tidak jadi menyembelih Ismail, ia yang sejak kanak-kanak sudah beriman, maka ia akan menyesal. Memilih menyembelih Ismail, dan Ismail akan mati, maka ia pun akan menyesal. Inilah pilihan yang sama-sama berat. Tetapi ia mengedepankan iman kepada Tuhan. Dan itulah keputusan yang paling tepat,” tutur Bang Hana.
Mari kita ikuti penuturan Al Quran tentang Nabi Ibrahim AS sebagai berikut. Nabi Ibrahim berkata “Sesungguhnya, aku akan pergi kepada Tuhanku, dan Dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, berilah kepadaku anak yang saleh”. Kami memberi kesenangan kepada Ibrahim dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak mencapai usia baligh, Nabi Ibrahim bertanya kepadanya, “Hai anakku, kulihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu, pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” Anaknya menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang ayah diperintahkan. Insya Allah ayah akan menemukanku aku sabar menerima.” Ketika keduanya telah berserah diri (kepada Allah) untuk melaksanakan dan Ibrahim telah membaringkan anaknya pada pelipisnya. Kami berseru kepadanya, “Hai Ibrahim, kau telah melakukan yang kau lihat dalam mimpimu.”
Demikianlah, Kami beri balasan kepada orang yang berbuat baik. Ini sungguh suatu yang sangat berat. Kami tebus anak itu dengan binatang kurban yang besar. Dan, Kami abadikan nama Ibrahim sebagai contoh bagi orang yang datang kemudian. Selamatlah untuk Ibrahim. Demikianlah, Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan.
Ibrahim sungguh termasuk hamba Kami yang beriman. Kami memberi Ibrahim kesenangan dengan lahirnya Ishak sebagai seorang nabi, dan termasuk orang yang saleh. Kami berkahi Ibrahim dan juga Ishak, dan dari keturunan mereka ada yang berbuat baik, dan ada pula yang sengaja menganiaya diri sendiri. (Ash-Shaaffaat ayat 99 – 113. Dikutip dari Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya, UII Press, 1999)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment