Perlindungan Anak Akibat Perceraian

Anak  merupakan amanah dan karunia Allah SWT., sebagai generasi penerus dalam keluarga bahkan bangsa dan negara. Oleh sebab itu maka anak harus mendapatkan perhatian yang lebih serius dari seluruh aspek kehidupan. Dalam kehidupan manusia, anak merupakan individu yang belum matang baik secara fisik, mental maupun sosial (dalam Konvensi Hak Anak (KHA) dinyatakan bahwa yang disebut anak adalah manusia atau seseorang yang berusia di bawah 18 tahun). Akibat dari belum matangnya individu anak, maka sangat dibutuhkan perlindungan penuh dari orang dewasa.
Sumber Islam al Qur’an dan Hadits keduanya banyak menegaskan betapa pentingnya perlindungan terhadap anak. 15 abad yang lampau dalam firmanNya, Tuhan telah mengingatkan kepada kita umat Muhammad saw. sebagaimana termaktub di dalam surat al Ma’un 107:1-7, yang artinya:
”Tahukah kamu siapa sebenarnya orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan sesuatu yang berguna”
Dengan tegas ayat di atas memberi gambaran bahwa adanya sebuah kewajiban yang harus dilakukan secara berkesinambungan agar memberi perlindungan dan pengayoman kepada anak; memberi sesuatu yang terbaik demi kesejahteraan mereka. Islam yang dibawa Muhammad saw. dan apa yang dipraktekkannya menjadi teladan bagi ummatnya.
Dalam upaya melindungi anak, dunia internasional bersepakat untuk membuat sebuah aturan yang mengatur tentang perlindungan anak. Pada tanggal 28 November 1989 Majelis Umum PBB telah mensahkan Konvensi Hak Anak (KHA) atau CRC (Convention on the Right of the Child). Setahun setelah itu Konvensi Hak Anak disahkan maka pada tanggal 25 Agustus 1990 dan pemerintah Indonesia meratifiikasi Konvensi tersebut melalui keputusan presiden No. 36 tahun 1990 dan mulai berlaku sejak 5 Okober 1990. Dengan ikutnya Indonesia dalam mensahkan konvensi tersebut maka Indonesia terikat dengan Konvensi Hak Anak dengan segala konsukuensinya. Artinya setiap yang menyangkut tentang kehidupan anak harus mengacu kepada Konvensi Hak Anak dan tak ada pilihan lain kecuali melaksanakan dan menghormati Konvensi Hak Anak. Dan apabila Indonesia tidak melaksanakan dan menghormatinya maka akan memiliki pengaruh negatif dalam hubungan internasional.
Dalam mewujudkan pelaksanaan dari Konvensi Hak Anak tersebut maka pemerintah Indonesia telah juga membuat aturan dalam upaya melindungi anak. Aturan hukum tersebut tertuang dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang disahkan pada tanggal 22 Oktober 2002.
Umat Islam telah diperingatkan Tuhan betapa pentingnya perlindungan anak demi menghadapi generasi mendatang. Hal ini tersurat di dalam surat an Nisa 4:9, yang artinya: ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklahmereka mengucapkan perkataan yang benar”
EMPAT PRINSIP DASAR
Ada 4 prinsip dasar dalam CRC yaitu: non discrimination, the best interest of child, right of survival dan develop and participation
1. Non Discrimination.
Prinsip dasar yang pertama ini dimaksudkan bahwa penyelenggaraan dan kesejahteraan serta perlindungan terhadap anak adalah tidak adanya diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang suku, ras, adat budaya, status, jenis kelamin, agama dan golongan. Dalam UU KPA No. 23 Tahun 2002 pasal 13 dan 17, bahwa perlindungan anak dari diskriminasi adalah hak yang dilindungi hukum dan bagi yang melanggar hak tersebut akan dipidana, khususnya dalam bidang pengasuhan anak.
Dalam surat Yusuf 12:8, secara implisit dapat dipahami bahwa hendaknya memperlakukan anak-anak tidak diskriminatif baik terhadap anak sendiri maupun terhadap anak-anak secara umum terlebih terhadap anak-anak yatim.
Non diskriminasi Rasulullah saw dalam berbagai perjamuan yang dihadiri para sahabat tidak saja dalam bentuk materi, namun juga dalam bentuk psikis..Sabda Rasul saw. Kul mimma yalik. misalnya. Rasulullah saw juga mengingatkan kita, jika orang tua ingin dihormati dan dihargai, maka anak harus dididik dengan baik dan diperlakukan adil tidak diskriminatif, tidak memihak, dengan sabdanya, yang artinya “Bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil kepada anak-anak kalian (Muslim).
Rasulullah saw. juga telah merekonsrtuksi perlakuan bangsa Arab yang tidak adil gender. Praktek Kesetaraan dan Keadilan Gender telah diimplementasikan, sabdanya man lam yarham la yarhamhullah (siapa yang tidak berbelas kasih (sayang) maka tidak akan mendapatkan kasih Allah) (Bukhari Muslim). Di saat kebiasaan budaya yang sangat diskriminatif terhadap bayi2 lahir perempuan, secara tegas harus dihapus karena melanggar hak asasi manusia (surat an Nahl 16:58-59).
2. The Best of Interest of Child
Prinsip dasar yang kedua dimaksudkan bahwa asas kepentingan terbaik bagi anak adalah harus dijadikan pertimbangan utama. Hal ini termaktub dalam pasal 3 ayat 1 KHA. Konsekwensinya adalah apapun bentuk tindakan, perbuatan yang menyangkut anak harus dilakukan oleh kita sebagai warga Negara Indonesia termasuk badan eksekutif, yudikatif maupun legislative.
Anak sebagai kebanggaan orang tua, tentu dan semestiya orang tua berupaya dan mendambakan untuk bisa mengedepankan apa yang terbaik bagi anak karena anak adalah amanah, yang nanti akan dipertanggungjawabkan di hadiratNya. Berbagai contoh kasus misalnya ketika seorang perempuan (suku al Ghamidiyah) hamil akibat perbuatan zina, menghadap Nabi saw. beberapa kali agar diberi hukuman. Oleh Nabi diperintahkan agar pulang sampai melahirkan, agar disusui sampai disapih (Muslim). Ini menunjukkan Nabi saw sangat peduli akan kepentingan yang terbaik bagi si anak.
3. Survival and Development of Child
Prinsip dasar ketiga adalah hak asasi untuk hidup,kelangsungan hidup dan hak untuk berkembang bagi anak. Dalam CRC atau dalam KHA ditegaskan adanya jaminan bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak. Setiap anak memiliki hak kehidupan yang melekat (inherent right of life) yang secara maksimal akan dijamin. Hak asasi mendasar inilah hak untuk hidup dan kelangsungan hidup; yaitu hak akan identitas dan kewarganegaraan (KHA pasal 7). Pemberian hak identitas di negeri kita dikenal dengan akte kelahiran. Akte kelahiran menjadi bukti otentik yang memiliki kekuatan hukum atas jati diri seseorang.
Dalam Islam, sejak anak berada dalam kandungan, sudah mulai diperhatikan kehidupan dan perkembangannya, agar bayi lahir dengan sehat selamat. Diberi nama yang indah (Rasulullah saw mengganti nama yang jelek- Bukhari Muslim, dan Turmudzi) dengan harapan agar menjadi sugesti bagi anak dalam mengarungi kehidupannya. Demikian juga anak sejak dini telah dibiasakan mendengar, melihat lingkungan sekitarnya dengan tindak dan bahasa yang santun dan ramah, sebagaimana disabdakan oleh Rasul saw. akrimu auladakum wa ahsinu adabahum (Muliakanlah anak-anakmu dengan memberi pendidikan yang baik dan ajari sopan santun – Ibnu Majah).
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment