Ingkar Sunnah (2)


Dalil dari Sunnah Nabawiyyah yang mewajibkan kita berpegang dan mengamalkan sunnah beliau shollallohu alaihi wa sallam banyak sekali. Di antaranya:
1. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Adapun sesudahnya, maka sebaik-baik perkataan adalah kitab Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.” (HR. Muslim: 1435)
2. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya! Tidaklah salah satu di antara kamu beriman sehingga aku lebih disenanginya melebihi orangtua dan anaknya.” (HR. Bukhori: 13)
4. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Alloh, saya tidak menjumpai salah satu di antara kamu ada di ternpat tidurnya, lantas datang kepadanya perintahku atau laranganku, lalu dia berkata: ‘Saya tidak tahu, yang kami jumpai dari al-Qur’an itulah yang kami amalkan.’” (HR. Ibnu Majah: 13, dishohihkan oleh al-Albani 1/14, bersumber dari Rofi’
Abu Bakar rodhiyallohu anhu berkata: “Tidaklah yang diamalkan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melainkan aku mengamalkannya. Sungguh aku takut apabila meninggalkan sebagian perintahnya, aku menjadi orang yang berpaling dari sunnahnya.” (al-Ibanah 1/246)
faedah berpegang kepada as-sunnah
Ibnu Utsaimin rohimahulloh berkata: Di antara faedah berpegang kepada as-Sunnah dan atsar yang terpuji ialah sebagai berikut:
1. Orang yang bepegang kepada as-Sunnah menjadi imam dan panutan yang baik, jauh dari kesalahan. Berbeda halnya dengan orang yang taklid kepada salah seorang pemimpin, jelas banyak kesalahannya. Jika kamu ditanya: “Mana dalilmu?” Jawablah: “Ini adalah sunnah Rosululloh atau sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam.”
2. Berakhlak seperti akhlak Nabi shollallohu alaihi wa sallam, karena beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan beliau ditakdirkan berakhlak mulia.
3. Berpegang kepada as-Sunnah menjadikan seseorang bersifat tengah-tengah, umat pun menjadi baik, tidak berlebih-lebihan dalam menyenangi Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan tidak menghina atau meremehkan beliau, karena Dinulloh (agama Alloh) itu dinul wasath atau tengah-tengah….
4. Orang yang berpegang kepada as-Sunnah menyeru manusia dengan penuh rohmat, lembut, dan kasih sayang lagi ramah….
(Diringkas dari at-Tamassuk bi Sunnah an-Nabawiyyah wa Atsaruhu oleh Ibnu Utsaimin: 17-20)
Kami tambahkan, berpegang kepada as-Sunnah memperkecil perselisihan serta mempererat persaudaraan dan persatuan, karena ulama berbeda-beda di dalam keilmuan dan pemahaman, seperti yang dijelaskan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala:
…. Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada Dzat yang Maha Mengetahui. (QS. Yusuf [12]: 76)
Bagi orang awam, apabila tidak paham hendaknya merujuk dan menanyakan kepada ahlinya, yaitu Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan orang yang berpegang kepada sunnah beliau, sebagaimana dijelaskan di dalam QS. an-Nahl [16]: 43.
sikap ulama terhadap “ingkar sunnah”
1. Dilarang bergaul dan mengambil ilmu mereka
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu berkata: ”Kalian akan menjumpai suatu kaum, mereka mengaku mengajak kamu kepada kitab Alloh, padahal mereka membuang al-Qur’an ke balik punggung me­reka. Maka kalian wajib berpe­gang kepada ilmu, jauhkan dirimu dari perkara bid’ah, jauhkan dirimu dari mendalami perkara (berlebihan) , dan kamu wajib berpegang kepada Sunnah.” (Sunan ad-Darimi 1/66)
Umar bin Khoththob rodhiyallohu anhu ber­kata: “Janganlah kamu bergaul dengan orang yang mengandalkan pendapatnya. Sesungguhnya mereka musuh Sunnah. Mereka menolak hadits yang mereka hafal, (lantas) berpegang kepada pendapatnya. Mereka sesat dan menyesatkan (lihat al-Lalikai 1/123)
2. Wajib mendakwahi mereka agar kembali kepada Sunnah dan menjelaskan bahayanya sesuai dengan keterangan di atas
Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma berkata: “Hampir saja diturunkan kepa­da kalian hujan batu dari langit, (ketika) saya berkata ‘Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda’ sedangkan kamu (membantah) berkata ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian’.” (Syarh Kitab Tauhid 1/482)
3. Mereka penyesat umat
Abu Qilabah rohimahulloh berkata: “Jika kamu menyampaikan as-Sunnah kepada seseorang lalu dia berkata ‘Tinggalkan as-Sun­nah, mana dalil al-Qur’an?’ Ketahuilah, dia sesat”. (Thobaqot Ibnu Sa’ad 7/I84)
4. Mereka itu Abu Jahal pada zaman sekarang.
Imam adz-Dzahabi rohimahulloh ber­kata: “Apabila kamu melihat ahli kalam dan orang ahli bid’ah ber­kata ‘Tinggalkan al-Qur’an dan hadits ahad, bawakan akal’. Ketahuilah, dia Abu Jahal…” (Siyar A’lamin Nubala’ 4/472)
5. Mereka di ambang pintu kehancuran
Imam Ahmad rohimahulloh berkata: “Barangsiapa menolak hadits Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam maka dia di am­bang pintu kehancuran.” (Thobaqotul Hanabilah 2/15, al-Ibanah 1/260)
6. Mereka penyembah hawa nafsu
Imam al-Barbahari rohimahulloh ber­kata: “Jika kamu mendengar sese­orang mencela atsar atau menolak atsar atau ingin selain atsar, curigailah keislamannya. Tidak diragukan, dialah penyembah hawa nafsu, ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah: 51)
Abul Qosim al-Ashbahani rohimahulloh berkata: “Ahli Sunnah dari ulama salaf berkata: ‘Apabila ada orang yang mencela atsar maka harus dicurigai keislaman­nya” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/428)
6. Tidak diajak bicara, bila hal itu ada maslahatnya.
Ibnu Sirin rohimahulloh pernah menceritakan hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam ke­pada seseorang, lalu orang itu berkata: “Akan tetapi, fulan ber­kata demikian demikian.” Lalu Ibnu Sirin rohimahulloh menjawab: “Aku menceritakan hadits dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam lantas kamu berkata ‘Fulan bicara demikian’, tak perlu saya bicara denganmu selamanya.” (Sunan ad-Darimi: 442)
Umar bin Khoththob rodhiyallohu anhu tidak mengajak bicara anaknya yang bernama Bilal ketika melarang wanita masuk masjid padahal Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam membolehkannya (lihat Shohih Muslim: 672).
Jika menolak satu hadits saja disikapi demikian, bagaimanakah terhadap pengingkarnya.
8. Boleh dicurigai keislamannya
Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh berkata: “Barang­siapa membenci sebagian dari apa yang didatangkan oleh Ro­sululloh shollallohu alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkan, maka dia kafir.” Lalu beliau menukil QS. Muhammad [47]: 9 (lihat Nawaqidhul Islam).
bahaya ingkarus sunnah
Orang yang menolak Sunnah hendaknya waspada, boleh jadi adzab Alloh subhanahu wa ta’ala bukan hanya menimpa mereka pada hari kiamat, tetapi juga di dunia.
Al-Akwa” rodhiyallohu anhu pernah bercerita kepada anaknya yang bernama Salamah: ‘Ada seseorang makan dengan tangan kiri, lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: ‘Makanlah dengan tangan kanan!’ Dia berkata: ‘Saya tidak bisa’ Padahal dia mampu, tetapi (ucapan itu keluar) karena sombong. Lalu tangannya benar-benar lumpuh, tidak bisa mengangkat ke mulutnya.” (HR. Muslim: 3766)
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu datang ke rumah istrimu pada malam hari dengan tiba-tiba.” Lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam datang kembali, tiba-tiba ada dua orang laki-laki berjalan menemui istrinya pada malam hari, masing-masing menjumpai istrinya bersama orang laki-laki. (HR. ad-Darimi: 444, dishohihkan oleh al-Albani; lihat Jami’ush Shoghir 1/1332, Silsilah ash-Shohihah 8/92)
Sa’id bin Musayyib rohimahulloh berkata: “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah orang yang keluar dari masjid ketika mendengar adzan melainkan dia orang munafik, kecuali apabila keluar karena ada keperluan lalu kembali ke masjid lagi.” Lantas ada orang yang berkata: “Temanku di Harroh.” Lalu dia keluar setelah adzan dikumandangkan. Sa’id menegurnya: “Jangan keluar!” Akan tetapi, dia tetap keluar. Lalu Sa’id diberi tahu bahwa orang itu jatuh dari kendaraannya dan patah tulang pahanya. (HR. ad-Darimi: 447, al-Albani berkata: “Sanadnya hasan”, lihat ats-Tsimar al-Mustathob 1/145)
Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il at-Taimi rohimahulloh berka­ta: “Saya pernah membaca sebuah cerita, bahwa sebagian ahli bid’ah ketika mendengar hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam ‘Apabila salah satu di antara kamu bangun dari tidur maka janganlah mencelupkan tangannya ke bejana sehingga membasuhnya, karena dia tidak tahu tempat bermalam tangannya’, lalu ahli bid’ah itu berkata: ‘Saya tahu di mana tanganku bermalam’ Tiba-tiba pada pagi harinya tangannya masuk dalam duburnya sampai hasta.” At-Taimi berkata: “Waspadalah! Jangan meremehkan Sunnah, lihat bagaimana akibatnya.” (Lihat Bustanul Arifin oleh Imam Nawawi: 94)
bahaya menafsirkan al-qur’an tanpa as-sunnah
Orang yang mengamalkan al-Qur’an namun menolak as-Sunnah tentu akan mengartikan ayat secara ngawur mengikuti hawa nafsunya. Bukanlah dia pengamal al-Qur’an, namun justru perusak al-Qur’an. Bagaima­na tidak, al-Qur’an diturunkan bukan di lubuk hati tiap-tiap manusia, tetapi lewat Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh berkata: “Tak seorang pun boleh berpegang pada pendapatnya bila menjumpai sunnah Rosu­lulloh shollallohu alaihi wa sallam.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)
Imam Syafi’i rohimahulloh berkata: “Ulama Sunnah bersepakat, barangsiapa yang sudah jelas baginya sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam maka tidak halal meninggalkannya lantaran berpegang kepada pendapat seseorang.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)
Ali bin Sulthon al-Qori’ rohimahulloh berkata: “Barangsiapa menerangkan al-Qur‘an dengan pendapatnya, sungguh ia kufur; maka bagaimanakah membicarakan Dzatulloh dan sifat-Nya ber-dasarkan hawa nafsunya.” (ar-Roddu ‘ala Wihdatil Wujud 1/46)
Ibnu Abil Izzi rohimahulloh berka­ta: “As-Sunnah datang untuk menjelaskan dan menetapkan apa yang ada di dalam al-Qur’an. Tidaklah Alloh membutuhkan pendapat si fulan atau perasaan si fulan untuk urusan agama ini.” (Syarh ath-Thohawiyyah 1/89)
Bahaya lain, dia sesat dan menyesatkan umat serta menjadi penyembah hawa nafsu, sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Jatsiyah [45]: 23.
MUSTAHIL MENGAMALKAN AL-QUR’AN TANPA AS-SUNNAH
Mustahil Quraniyyun bisa mengamalkan al-Qur’an dengan benar dan jujur tanpa bantuan as-Sunnah shohihah, mengapa?
1. Alloh menurunkan al-Qur’an bukan kepada setiap manusia, tetapi kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dengan perantara Jibril alaihissalam. Lantas, bagaimana akal bisa memahami al-Qur’an tanpa as-Sunnah?
2. Jika akal saja cukup untuk memahami al-Qur’an, tentu sia-sialah Alloh mengutus utusan-Nya untuk menjelas­kan makna al-Qur’an. Yang demikian itu tidak bisa diterima oleh akal yang waras
3. Mereka harus mengingkari sebagian ayat yang mengharuskan berpegang kepada Sunnah, termasuk ayat yang jadi pembahasan di atas.
4. Akan meninggalkan sebagian amal ibadah yang di dalam al-Qur’an masih bersifat umum -belum jelas kaifiyyahnya- , atau beribadah dengan cara yang tidak benar.
5. Mereka akan merusak makna ayat yang sebenarnya, sebagaimana perilaku kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), ahli bid’ah, pemuja ilmu kalam, dan lainnya.
Adapun contoh sebagian ayat yang membutuhkan keterangan dari as-Sunnah:
1. Surat al-Ma’idah [5]: 38 yang menjelaskan bahwa pencuri harus dipotong tangannya. Akan tetapi dalam ayat tersebut tidak dijelaskan kadar barang yang dicuri, melainkan kita jumpai kadarnya lewat hadits yang shohih. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Tangan pencuri dipotong bila mencuri seperempat dinar ke atas. ” (HR. Bukhori: 6291 kitab al-Hudud, bersumber dari Aisyah rodhiyallohu anha)
2. Surat al-An’am [6]: 82 yang menjelaskan bahwa orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan zhulm (kezholiman) , mereka akan mendapat keamanan dan petunjuk. Para sahabat rodhiyallohu anhum merasa keberatan, lantaran adakah manusia yang tidak berbuat zholim kepada dirinya? Nabi shollallohu alaihi wa sallam menjawab: “Bukan seperti yang kamu maksudkan, belumkah kamu mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang sangat besar (QS. Luqman [31]: 13).” (HR. Bukhori: 3100)
3. Surat al-Ma‘idah [5]: 3 menjelaskan haromnya bangkai, tetapi di dalam hadits disebutkan ada bangkai yang halal. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Dihalalkan bagi kita dua bangkai, ikan dan belalang. ” (HR. Ibnu Majah: 3209, bersumber dari Ab-dulloh bin Umar rodhiyallohu anhu; dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah: 4132 dan ash-Shohihah: 1148)
4. Ada orang yang berpendapat bahwa sutera tidak harom bagi kaum pria karena keumuman QS. al-A’rof [7]: 32. Akan tetapi, bila merujuk kepada hadits yang shohih, kita menjumpai keharoman sutera bagi kaum pria. Ali bin Abu Tholib rodhiyallohu anhu berkata: Sesungguhnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengambil kain sutera dengan tangan kanannya dan mengambil emas dengan tangan kirinya, lalu berkata:
“Sesungguhnya dua benda ini harom untuk umatku yang laki-laki. ” (HR. Abu Dawud: 3535, dishohihkan oleh al-Albani; lihat ash-Shohihah 1/661, Shohih at-Targhib wa Tarhib 2/224)
ingkar sunnah = ingkar syahadat kerosulan nabi muhammad shollallohu alaihi wa sallam
Barangsiapa mengingkari as-Sunnah berarti mengingkari persaksiannya “Muhammad adalah utusan Alloh”. Mengapa? Karena makna syahadat yang kedua ini adalah bersaksi untuk menyanggupi beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan cara yang dicontohkan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Juga karena beliau adalah suri teladan yang baik dalam semua urusan. (Lihat QS. al-Ahzab [33]: 21)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Muhammad Alu Syaikh hafidhohulloh Mufti Kerajaan Saudi Arabia- berkata: Hakikat makna syahadat “Muhammad adalah utusan Alloh” ialah sebagai berikut:
1. Beriman bahwa beliau shollallohu alaihi wa sallam utusan Alloh subhanahu wa ta’ala, seperti yang dijelaskan dalam QS. al-Fath [48]: 29.
2. Beriman bahwa risalah beliau berlaku umum untuk semua manusia, bahkan termasuk jin; lihat QS. al-A’rof [7]: 185 dan al-Ahqof [46]: 29.
3. Beriman bahwa beliau hamba -tidak boleh disembah- dan utusan -tidak berdusta dan tidak boleh didustakan- (li­hat QS. Fushshilat [41]: 6).
4. Beriman bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rosul (lihat QS. al-Ahzab [33]: 40).
5. Menaati perintahnya, membenarkan beritanya, dan memenuhi panggilannya (lihat QS. an-Nisa’ [4]: 80).
6. Mencintai, membela, dan mengagungkannya semasa beliau hidup, serta membela sunnahnya sepeninggal be­liau; sebagaimana keterangan hadits shohih, lihat pula QS. at-Taubah [9]: 24.
7. Ridho dengan hukumnya dan berpegang kepada syari’atnya (lihat QS. an-Nur [24]: 51).
8. Meniru dan mengikuti sun­nahnya serta mengembalikan semua perselisihan kepada sunnahnya (lihat QS. al-Ahz­ab [33]: 21 dan al-Hasyr [59]: 7) (Diringkas dari kitab Haqiqotu Syahadah “Wa Anna Muhamadan Rosululloh”, hal. 60-75)
Semoga dengan keterangan ini kita dapat menerima al-Qur‘an dan as-Sunnah sebagai sumber asli untuk mengetahui hukum-hukum Islam yang sebenarnya. []
***
Sumber : Majalah Al-FurQon Edisi 06 Tahun IV // Muharom 1428 [Februari 2007]
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment