Orang yang ingkar Sunnah


Penulis: al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron –hafidzohulloh-
Tafsir Ayat:
…. Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu (Nabi) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. an-Nahl [16]: 44)
Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua wahyu yang tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa berpegang pada salah satunya saja dengan meninggalkan yang lain, sungguh dia telah tersesat. Ironisnya, ada sebagian kalangan yang merasa cukup dengan al-Qur’an, tidak mau mengambil as-Sunnah. Merekalah kaum Qur’aniyyun alias Inkarus Sunah.
Syaikh Abdul Wahhab bin Abdul Jabbar ad-Dahlawi rohimahulloh berkata: “Musibah yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ialah tersebarnya kelompok yang berpegang hanya kepada al-Quran dan menolak hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang mutawatir. Musibah ini melanda negeri-negeri Islam, khususnya India. Mereka mempunyai organisasi yang menamakan dirinya “Ahlu al-Qur’an”. Mereka sebarkan pemahaman ini lewat tulisan, brosur, dan majalah India. Akan tetapi, mereka telah dibantah oleh para ulama India, seperti Syaikh as-Sayid Sulaiman an-Nadawi rohimahullohTahqiq . (lihat Tahqiq Ma’na as-Sunnah oleh an-Nadawi: 24).
Betapa banyak ayat al-Qur’an yang butuh penjelasan dari as-Sunnah, seperti ayat sholat, zakat, dan lainnya. Ayat di atas (QS. an-Nahl [16]: 44) menjadi rujukan kami untuk menjelaskan betapa pentingnya kita berpegang kepada as-Sunnah. Mustahil kita bisa mengamalkan al-Qur’an tanpa keterangan dari sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.
tafsir ayat
Syaikh al-Albani rohimahulloh berkata: “Yang dapat saya pahami dari ayat ini ada dua keterangan:
1. Penjelasan lafazh dan tata letaknya, yaitu beliau shollallohu alaihi wa sallam tidak menyembunyikannya, tetapi menyampaikan kepada umatnya (lihat surat al-Ma’idah [5]:67).
Aisyah rodhiyallohu anha berkata: ‘Barangsiapa menuduh bahwa Mu­hammad shollallohu alaihi wa sallam menyimpan sedikit saja dari ayat Alloh, sungguh orang (penuduh) ini paling besarnya dustanya di sisi Alloh’ (HR. Muslim 1/159)
2. Beliau shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan makna lafazh dan makna secara umum atau menerangkan makna ayat yang menjadi kebutuhan umatnya. Terutama apabila ayat itu bersifat glo­bal, umum, atau mutlak, maka as-Sunnah menerang­kan yang masih global, mengkhususkan yang umum, dan mentaqyid yang mutlak, baik lewat perkataan, perbuatan, atau ketetapan beliau tatkala melihat sahabatnya berbuat.” (Manzilatus Sunnah fil Islam oleh al-Albani: 4)
Syaikh Sulaiman an-Nadawi rohimahulloh berkata: “Berdasarkan ayat ini, apabila para sahabat tidak memahami suatu ayat, mereka segera merujuk maknanya ke­pada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Apabila ada suatu peristiwa, mereka me­nyampaikan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallamshollallohu alaihi wa sallam menjelaskan puasanya tetap sah, karena orang lupa dan keliru tidak dihukum sebagaimana disebutkan di dalam surat al-Ahzab [33]: 5.” (Tahqiq Ma’na as-Sunnah wa Bayanul Hajati Ilaiha oleh Sulaiman an-Nadawi: 29-30 ta’liq wa tahrij al-Albani dkk.) untuk mendapatkan penjelasan dan pelajaran yang belum didapatkan sebelumnya. Misalnya puasa, al-Qur’an tidak menjelaskan hukum orang berpuasa apabila dia lupa makan dan minum, tetapi Nabi
faedah ayat
Ayat ini mendapat perhatian serius dari para ulama Sunnah. Dari keterangan mereka dapat kita ambil beberapa faedah:
1. Para sahabat rodhiyallohu anhum mengerti al-Qur’an karena menerima keterangan dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mengajarkan makna al-Qur‘an kepada para sahabat dan lafazhnya. Abu Abdirrohman as-Sulami rohimahulloh berkata: ‘Orang yang membaca al-Qur’an seperti Utsman bin Affan dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhuma bercerita kepada kami, apa­bila mereka belajar dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam sepuluh ayat, tidaklah melanjutkannya sehingga mereka betul-betul paham, mengerti, dan mengamalkannya” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 13/331)
2. Imam Syafi’i berkata: “Ayat ini menjadi dalil, sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam merupakan penjelas al-Qur’an.” (al-Mahsul 3/513)
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berkata: “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan al-Qur’an ke­pada mereka dengan keterangan yang lengkap. Jika tidak menger­ti, para sahabat segera bertanya kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam lalu beliau segera menjelaskannya.” (I’lamul Muwaqqi’in 4/153)
3. Ayat ini membantah Qur’aniyyun.
Imam Ibnu Hazm rohimahulloh berka­ta: “Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang mujmal (global) seperti sholat, zakat, haji, dan lainnya, yang tidak kita ketahui apa yang harus kita kerjakan. Akan teta­pi, dengan keterangan Nabi shollallohu alaihi wa sallam kita menjadi tahu. Oleh karena itu, apabila keterangan beliau ini dapat dipercaya penukilannya maka batallah orang yang beralasan dengan dalil al-Qur’an saja….” (al-Ihkam 1/78)
3. Wajib menerima hadits ahad yang shohih.
Al-Amidi rohimahulloh berkata: “Risalah yang sampai kepada kita adakalanya mutawatir dan (ada-kalanya) ahad, sedangkan yang mutawatir hanya sedikit; maka jika hadits ahad ditolak, tentulah tidak akan terwujud fungsi beliau shollallohu alaihi wa sallam sebagai penyampai risalah untuk semua lapisan manusia, dan ini mustahil karena Alloh subhanahu wa ta’ala menyuruh Nabi shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan ayat kepada mereka (lihat QS. an-Nahl [16]: 44).” (al-Ihkam 2/68, oleh al-Amidi)
5. Ingkar as-Sunnah sesat dan jahil.
Imam Ibnu Abdil Bar rohimahulloh berkata: “Tidak mungkin me­mahami maksud ayat al-Qur’an melainkan lewat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Belumkah kamu membaca firman-Nya dalam surat an-Nahl [16]: 44? Belumkah kamu ketahui bahwa sholat, zakat, haji, puasa, dan semua hukum di dalam al-Qur’an umumnya masih global? Lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan hu-kumnya. Barangsiapa menolak hadits yang shohih, dia sesat dan jahil.” (at-Tamhid 23/324)
6. Keterangan Nabi shollallohu alaihi wa sallam tentang ayat al-Qur’an berdasarkan wahyu.
Aisyah rodhiyallohu anha berkata: “Tidak­lah Nabi shollallohu alaihi wa sallam(ats-Tsiqqot Ibnu Hibban 7/395) menafsirkan ayat al-Qur’an sedikitpun melainkan karena Jibril alaihissalam mengajarkan kepada beliau.”
7. As-Sunnah untuk mengetahui halal dan harom.
Mujahid rohimahulloh berkata: “Mak­na ayat tersebut, agar Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan yang halal dan yang harom kepada manusia.” (ad-Durrul Mantsur 5/133)
8. As-Sunnah pelengkap keterangan al-Qur’an.
Ibnu Rojab rohimahulloh berkata: “Tidaklah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam meninggal dunia melainkan setelah sempurna menjelaskan al-Qur’an ke­pada umatnya, sebagaimana ke­terangan surat an-Nahl [16]: 44.”
makna as-sunnah
Sering kita dengar terucap perkataan: “Fulan di atas Sunnah”, “Mari kita berpegang ke­pada as-Sunnah”, dan perkataan lain yang serupa. Agar kita tidak salah menafsirkan makna as-Sun­nah dan siapakah ahlinya, mari kita ikuti pembahasannya.
As-Sunnah ada dua macam: (1) sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sunnah para sahabatnya shollallohu alaihi wa sallam. Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: (2)
“Maka wajib atasmu berpegang dengan sunnahku (petunjukku) dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapat petunjuk dan menunjukkan jalan yang haq. ” (HR. Abu Dawud: 3991, bersumber dari al-’Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu anhu; dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud, lihat pula Shohihul Jami’: 2549)
Pengambilan kalimat “as-Sunnah”
Sulaiman an-Nadwi rohimahulloh ber­kata: “Sebagian orang jahil berkata bahwa kalimat as-Sunnah diambil dari kata masnat bahasa Ibrani, artinya orang Yahudi meninggalkan Taurot karena berpe­gang kepada riwayat Isra’iliyyah, sedangkan orang Islam meninggalkan al-Qur‘an karena berpe­gang kepada hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam lalu menamakannya as-Sunnah. Hal ini tidak benar, karena as-Sun­nah diambil dari ayat al-Qur’an, bukan dari bahasa Ibrani.
…. Dan tidaklah akan kamu dapati perubahan bagi sunnah (ketetapan) Kami itu. (QS. al-Isro’ [17]: 77).” (Tahqiq Ma’na as-Sunnah wa Bayanul Hajati Ilaiha oleh Sulaiman an-Nadawi: 70)
Kami tambahkan, diambil pula dari sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam sebagai­mana keterangan hadits di atas.
“As-Sunnah” menurut bahasa
Abul Qosim al-Ashbahani rohimahulloh berkata: “Ahli bahasa ber­kata as-sunnah ialah jalan yang ditempuh.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/384)
“Sunnah” menurut bahasa ini bersifat umum, ada sunnah hasanah dan ada yang sayyi’ah, sebagaimana keterangan hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya.
Makna “as-Sunnah” yang sempurna
Imam Ibnu Rojab rohimahulloh berka­ta: “As-Sunnah meliputi berpe­gang kepada sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin dari sisi i’tiqod, amalan, dan perkataan. Inilah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, ulama salaf dahulu tidaklah menamai as-Sunnah melainkan bila mencakup ini semua.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 28)
Ibnu Taimiyyah rohimahulloh ber­kata: “As-Sunnah ialah amalan yang berdasarkan dalil syar’i, menaati Alloh dan Rosul-Nya; (pada) perkara yang diamalkan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam atau diamal­kan ]pada zamannya, yang beliau tinggalkan atau tidak diamalkan pada zamannya karena tidak ada keharusan pada waktu itu atau adanya hambatan, jika ada dalil bahwa beliau memerintahkan atau menganjurkan maka itulah sunnah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/317-318)
Jadi harus dibedakan dengan makna “sunnah” menurut ahli fiqih yang meninjau dari sisi hukum, bahwa sunnah adalah ama­lan yang bukan wajib; seperti sholat sunnah, puasa sunnah, dan contoh lainnya.
Beda “al-Hadits”dan “as-Sunnah”
Sulaiman an-Nadwi rohimahulloh ber­kata: “Al-Hadits ialah riwayat yang menerangkan perkataan, perbuatan, dan tingkah laku Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Sedang­kan as-Sunnah ialah pengamalan hadits dan al-Qur’an yang sampai kepada kita dengan riwayat yang mutawatir, baik mutawatir lafzhi atau amali, yang dilanjutkan oleh para sahabat, tabi’in, dan generasi sesudahnya; se­perti perintah sholat di dalam al-Qur’an lalu diperjelas oleh Nabi shollallohu alaihi wa sallam dengan sabda beliau: ‘Sholatlah kalian seperti kamu melihatku sholat’ dan amalan sholat ini dilanjutkan oleh para sahabat, tabi’in, dan semua kaum muslimin. Demikian pula puasa, zakat, haji, dan semua perintah lainnya.” (Tahqiq Ma’na as-Sun­nah wa Bayanul Hajati Ilaiha oleh Sulaiman an-Nadwi: 52, 56)
Makna “as-Sunnah an-Nabawiyyah”
Syaikh Ibnu Utsaimin ber­kata: “As-Sunnah an-Nabawiyyah ialah yang dinukil dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan beliau. Mengamalkan as-Sunnah wajib, sebagaimana mengamalkan al-Qur’an.” (at-Tamassuk bi Sunnah an-Nabawiyyah wa Atsaruhu: 6, Ibnu Utsaimin)
Siapakah “Ahli as-Sunnah”?
Abul Qosim al-Ashbahani rohimahulloh berkata: “Fulan dikatakan ahli Sunnah apabila mengamal­kan al-Qur’an, as-Sunnah, dan atsar dalam segi i’tiqod, perbuatan, maupun perkataan. Ahli Sunnah bukanlah orang yang menyelisihi Alloh subhanahu wa ta’ala dan Nabi shollallohu alaihi wa sallam” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/384)
Ulama salaf berkata: “Ahli Sunnah mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta beramal seperti salafush-sholih dan mengikuti atsar para sahabat rodhiyallohu anhum.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/428)
Hadits yang shohih itulah “as-Sunnah”
Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Maka wajib dibedakan antara hadits shohih dan hadits palsu. Sesungguhnya as-Sunnah adalah hadits yang shohih, bukan hadits yang lemah.” (Majmu’ Fatawa 3/380)
Bila “as-Sunnah” menjadi landasan hukum ?
Syaikh al-Albani rohimahulloh berka­ta: ‘As-Sunnah menjadi landasan hukum apabila datang berdasarkan ilmu dan sanad shohih yang dikenal oleh ulama hadits dan perowinya.” (Manzilatus Sunnah fil Islam: 5)
Dari keterangan di atas, kita dapat membedakan makna “sunnah” menurut bahasa dan istilah, kapan boleh dijadikan hujjah dan diamalkan, dan kapan seseorang berhak disebut “ahli Sunnah”.
penyebab ingkar sunnah
Orang mengingkari as-Sun­nah tentunya memiliki sebab dan tujuan. Inilah di antaranya:
1. Membenci Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rosul. Ini berawal dari kelompok Yahudi yang tidak senang kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
2. Agar manusia bebas berpikir dan berbuat menuruti hawa nafsunya, tidak terikat dengan ketentuan as-Sunnah.
3. Karena kebodohannya, tidak mau menuntut ilmu kepada ahlinya.
4. Memusuhi Islam dengan cara yang halus lewat mulut mereka. Mustahil mereka membela Islam kalau membenci as-Sunnah.
5. Memecah belah persatuan dan kekuatan kaum muslimin. Apabila al-Qur’an ditafsirkan dengan as-Sunnah dan pemahaman sahabat rodhiyallohu anhum kaum muslimin menjadi kuat dan bersatu.
6. Memberi peluang musuh Is­lam agar bisa bersikap keras kepada kaum muslimin. Sebaliknya, mereka menjadikan umat Islam bersikap .lembut terhadap pemeluk agama lain, bersabar, dan suka memaaf-kan bila Yahudi atau Nasrani bersalah kepada kaum mus­limin.
Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa menolak hadits Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam maka dia di ambang pintu kehancuran.”
as-sunnah adalah wahyu alloh
Setelah kita memahami mak­na as-Sunnah an-Nabawiyyah, ketahuilah bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua wahyu yang tidak boleh dipisahkan. Dalil yang menerangkan bahwa as-Sunnah an-Nabawiyyah termasuk wahyu:
Dan (juga karena) Alloh telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui… (QS. an-Nisa‘ [4]: 113)
Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir berkata: “Al-Hikmah ialah Sun­nah.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/555, Tafsir ath-Thobari 3/274)
Dan tiadalah yang diucapkannya (Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm [53]: 3-4)
al-qur‘an mengagungkan as-sunnah
Perlu kami sampaikan dalil dari ayat al-Qur‘an tentang wajibnya mengagungkan dan mengamalkan as-Sunnah. Orang yang berpegang kepada al-Qur’an harus berpegang kepada ayat yang menjelaskan keharusan berpegang kepada as-Sunnah pula. Jika tidak demikian, tidaklah benar pengakuan me­reka berpegang kepada ayat al-Qur’an. Inilah dalilnya:
1. Alloh subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya menaati Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Dan taatilah Alloh dan Rosul, supaya kamu diberi rohmat. (QS. Ali lmron[3]:132)
2. Alloh subhanahu wa ta’ala. menyifati seseorang sebagai mu’min bila taat ke­pada Nabi shollallohu alaihi wa sallam. (Lihat QS. al-Anfal [8]: 1, an-Nisa’ [4]: 63)
3. Alloh subhanahu wa ta’ala. menjelaskan bahwa di antara batalnya amal ialah karena tidak taat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam. (Lihat QS. Muhammad [47]: 33)
4. Orang yang tersesat ialah orang yang durhaka kepada Rosul-Nya. (Lihat QS. al-Ah-zab [33]: 36)
5. Orang yang tidak taat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam masuk neraka. (Li­hat QS. al-Jin [72]: 32)
6. Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan Nabi shollallohu alaihi wa sallamuswatun hasanah. (Lihat QS. al-Ahzab [33]: 21) sebagai
7. Al-Qur”an menerangkan wajibnya kita berpegang kepada sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.
…. Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…. (QS. al-Hasyr[59] :7)
8. Al-Qur’an mewajibkan berhukum dengan as-Sunnah. (Lihat QS. an-Nur [24]: 48, 51)
Qur’aniyyun hendaknya menerima ketetapan ayat di atas, dan harus berpegang kepada as-Sunnah. Jika tidak, jawablah pertanyaan Alloh subhanahu wa ta’ala di bawah ini:
Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an ini mereka akan beriman? (QS. al-Mursalat [77]: 50)
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment