Renungan hari ini

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Al-Haris bin Yazid Al-Bakri berkata, “Aku pergi untuk mengadukan Al-Ala’ bin Al-Hadrami kepada Rasulullah. Aku melewati Rabadzah. Aku melihat seorang wanita tua yang sedang sendiri dari Bani Tamim. Wanita tua ini berkata kepadaku, ‘Wahai hamba Allah, aku mempunyai hajat kepada Rasulullah. Apakah kamu bersedia memberiku tumpangan kepadanya?’ Haris berkata, ‘Lalu aku membawanya. Aku datang ke Madinah. Pada saat itu orang-orang sedang berkumpul di masjid, aku melihat panji berwarna hitam berkibar sementara Bilal bersiap-siap dengan pedangnya di depan Rasulullah. Aku bertanya, ‘Ada apa?’ Mereka menjawab, ‘Rasulullah hendak mengutus Amru bin Ash ke suatu arah.”
Haris berkata, “Aku duduk. Lalu Rasulullah masuk ke dalam rumahnya, atau kemahnya. Aku meminta izin dan diberi izin. Aku masuk sambil memberi salam. Rasulullah bertanya, ‘Apakah di antara kalian dengan Tamim terjadi sesuatu?’ Aku menjawab, ‘Ya. Dan kami mengungguli mereka. Aku melewati seorang wanita tua dari Tamim dalam keadaan sendiri, dia memintaku membawanya kepadamu. Dia berada di pintu.’ Rasulullah mengizinkan dan wanita itu masuk.”
Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, jika engkau berkenan menjadikan pembatas antara kami dengan bani Tamim, maka jadikanlah Ad-Dahna.’ Wanita tua itu emosi dan marah. Dia berkata, ‘Ya Rasulullah, lalu ke mana engkau memaksa Mudhormu?’ Aku berkata, ‘Aku ini seperti yang dikatakan oleh sebuah peribahasa, ‘Seekor domba membawa kematiannya’. Aku telah membawa wanita ini. Aku tidak tahu bila ternyata dia adalah seteruku. Aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya supaya aku tidak menjadi seperti utusan ‘Ad.’ Nabi bertanya, ‘Katakan siapa itu utusan ‘Ad?’ Padahal Nabi lebih tahu ceritanya daripada dia, akan tetapi beliau ingin menenangkannya.”
Aku berkata, “Sesungguhnya kaum ‘Ad tertimpa kekeringan, lalu mereka mengutus seorang utusan yang bernama Qail. Qail melewati Muawiyah bin Bakr, maka dia tinggal satu bulan di sisinya, minum khamr, dan menikmati nyanyian dua penyanyi wanita yang bernama Al-Jarodatan. Setelah satu bulan berlalu, Qail pergi ke gunung Tihamah dan memanggil, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak datang kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya, dan tidak kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah, berikan hujan kepada ‘Ad seperti apa yang Engkau berikan.’
Lalu datanglah awan-awan berwarna hitam. Dia dipanggil darinya, ‘Pulanglah.’ Lalu dia memilih sebuah awan hitam dari awan-awan tersebut dan diserukan darinya, ‘Ambillah dalam keadaan menjadi debu, dan lebih halus dari debu dan jangan sisakan seorang pun dari ‘Ad.’ Dia berkata, ‘Yang aku dengar bahwa angin tidak dikirim kepada mereka kecuali seperti apa yang mengalir di cincinku ini sampai mereka binasa.”
Abu Wail berkata, “Dia benar.” Dia berkata, “Setelah itu, jika orang-orang mengutus utusan, mereka berpesan kepadanya, “Jangan seperti utusan kaum ‘Ad.”
PENJELASAN HADIS Seorang sahabat bernama Al-Haris bin Yazid. Ada yang bilang Al-Haris bin Hassan. Kaum Rabi’ah mengutusnya sebagai delegasi kepada Rasulullah untuk membawa pengaduan terhadap Al-Ala’ bin Al-Hadrami. Di tengah jalan dia melewati Rabadzah, sebuah daerah dekat Madinah. Dia bertemu dengan wanita tua yang sedang tertahan sendiri. Wanita itu meminta kepada Haris agar membawanya kepadaRasulullah ketika dia mengetahui bahwa Haris hendak ke sana.
Ketika Haris tiba di Madinah, Madinah sedang sibuk. Para prajurit memenuhi masjid dan daerah sekelilingnya, sementara Bilal menghunus pedangnya di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Haris bertanya, ”Ada apa sebenarnya?” Maka dia mendapatkan jawaban bahwa Rasulullah hendak mengirim Amru bin Ash untuk memimpin pasukan ke arah tertentu. Dan dalam sebuah riwayat dalam Musnad Ahmad, bahwa Amru bin ‘Ash datang setelah menunaikan tugas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Bisa jadi Amru pulang sementara Nabi hendak memberangkatkan yang lain.
Haris menghadap Nabi setelah memberi salam. Nabi bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi antara kaumnya dengan Bani Tamim. Haris bercerita bahwa peperangan pernah terjadi pada masa Jahiliyah antara mereka dengan Bani Tamim dan kemenangan milik Rabi’ah. Haris juga menyampaikan kepada Nabi tentang seorang wanita yang dibawanya dari Rabadzah dan wanita itu berasal dari Bani Tamim. Wanita itu sedang menunggu di pintu menantikan izin masuk. Maka Rasulullah mengizinkannya masuk. Pada saat itu Haris
menyampaikan permintaannya yang merupakan titipan dari kaumnya. Haris meminta kepada Rasulullah agar dibuat pembatas antara Rabi’ah dengan Tamim, dengan memberikan wilayah Dahna’ kepada Rabi’ah karena ia adalah wilayah mereka pada masa Jahiliyah.

Begitu wanita tua dari Tamim ini mendengar ucapan Haris, dia langsung emosi dan marah. Dia berkata kepada Rasulullah untuk membela kaumnya, “Ke mana engkau memaksa mudhormu?” (Yakni, suku Mudhor mau engkau kemanakan, jika engkau memberikan Dahna’ kepada Rabi’ah?)
Pada saat itu Haris menyadari telah melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan kaumnya dengan membawa wanita ini kepada Rasulullah. Ternyata dia adalah seterunya. Maka Haris berperibahasa, “Domba membawa kematiannya.” Maksudnya adalah aku dengan wanita ini ibarat domba yang memikul beban di punggungnya di mana di situlah kematiannya. Kemudian Haris berkata, “Aku membawa wanita tua ini, aku tidak tahu jika dia adalah musuhku.” Kemudian Haris tidak ingin menghadap Rasulullah seperti utusan ‘Ad.
Ini adalah peribahasa lain yang diucapkan oleh Haris. Orang-orang Arab bilang, “Fulan seperti utusan kaum ‘Ad.” Ini adalah peribahasa yang diucapkan bagi utusan yang membawa sial. Dia diutus untuk mendatangkan kebaikan bagi kaumnya, tetapi justru dia pulang membawa bencana. ‘Ad adalah salah satu kabilah Arab kuno. Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud. Mereka mendustakannya, lalu mereka tertimpa kekeringan dan kelaparan. Mereka mengutus salah seorang pembesar mereka ke tanah suci Makkah agar orang ini meminta hujan bagi mereka di tanah suci dengan harapan permintaannya dikabulkan.
Orang-orang yang telah dikunci mata hatinya, seperti mereka, mengira bahwa berperilaku kepada Allah seperti berperilaku kepada raja-raja yang dzalim, harus ada utusan salah seorang pemimpin atau pemuka mereka walaupun utusan itu bertabiat kasar, berjiwa fajir, penuh dengan kibir dan kesombongan, seperti orang ini.Orang-orang yang mengenal Allah, ketika mereka berdoa dan memohon kepada Allah dalam kesulitan dan musibah (seperti dalam shalat istisqa’) mereka mendahulukan seorang laki-laki shalih yang tekun beribadah dan taat kepada Tuhannya, serta teguh di atas perintah-Nya, bukan laki-laki fajir yang bertabiat keras, tidak becus berdoa dan memohon kepada Allah.
Utusan ‘Ad ini pergi ke Tihamah untuk meminta hujan bagi kaumnya yang sedang dalam musibah berat. Dia melewati Muawiyah bin Bakar. Dia bermukim padanya selama satu bulan, minum khamr, dan menikmati nyanyian dua penyanyi wanita tersohor yang dikenal dengan Al-Jarodatan.
Lihatlah utusan ini. Dia bermain-main dan bernikmat ria dengan syahwat dan kesenangannya sendiri, melupakan tugas yang dibebankan kaumnya kepadanya. Dia sibuk dengan nafsu pribadi.
Setelah puas dan kenyang, dia pergi ke gunung Tahamah untuk memohon hujan dengan lafazh yang mengisyaratkan kondisi kejiwaan yang ada pada dirinya. Dia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pergi kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya, dan tidak kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah, berikanlah hujan kepada ‘Ad seperti apa yang telah engkau berikan.”
Beginikah doa? Di mana kepasrahan kepada Allah dan tawadhu’ di depan kebesaran-Nya? Di mana tahmid dan memuliakan-Nya serta pujian kepada-Nya? Sepertinya laki-laki ini tidak sedang berbicara kepada Tuhan Yang Agung, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kuat, Maha Membalas, dan Maha Berkuasa. Begitukah dia berkata kepada Allah? Dia sama sekali tidak menyampaikan hajat khusus dengannya. Yang diminta hanyalah memberi hujan sebagaimana biasa. Dia tidak meminta hujan rahmat, tidak pula hujan yang membawa berkah. “Berikanlah hujan kepada ‘Ad sebagaimana biasa.” Dia meminta bahwa yang penting hujan, tanpa peduli hujan rahmat atau hujan adzab.
Beberapa kelompok awan berjalan di atas kepalanya. Lalu dipanggil dari awan agar dia memilih satu dari kelompok awan yang dilihatnya. Maka dia memilih awan yang paling hitam. Sudah tak becus berdoa, tak becus pula memilih. Dia memilih awan adzab.
Maka dikatakan kepadanya, “Ambillah dalam bentuk abu dan lebih halus dari abu.” (Yakni, debu yang halus dibawa oleh angin kencang yang menghancurkan segala sesuatu yang didatanginya, termasuk kaum laki-laki itu). Dan angin ini keadaannya seperti yang Allah sampaikan di dalam kitab-Nya. Termasuk kesialan laki-laki ini adalah bahwa dia berdoa untuk orang yang memuliakan pengutusannya. Bisa jadi orang itu tertimpa seperti apa yang menimpa kaum ‘Ad.
PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Manusia kadang-kadang menyerahkan urusan mereka kepada orang yang pandir dan tidak bisa menunaikan kebaikan bagi mereka. Maka dia pulang dengan membawa malapetaka, seperti utusan ‘Ad yang mengemban tugas dengan buruk. Dia salah berdoa dan salah memilih. Akibatnya, kaum binasa dengan doanya dan pilihannya yang sama-sama buruk.
  2. Menyamakan diri dengan umat-umat dan kisah-kisah terdahulu sebagaimana yang dilakukan oleh Haris ketika dia mendapati dirinya melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Jiwa manusia menyukai mendengar kisah-kisah orang-orang terdahulu. Rasulullah dengan kapasitas ilmu dan pengetahuannya mendengar cerita utusan ‘Ad dari Haris, padahal beliau lebih tahu darinya.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment