Rumahku Surgaku dalam bingkai Islami


Imam Hasan Al- Banna telah memberikan batas-batas kewajiban yang harus dilakukan setiap kader dakwah. Beliau meminta kepada kita agar menyempurnakan kewajiban kita sebagai pribadi terlebih dahulu hingga akhirnya layak untuk masuk dalam barisan aktivis dakwah yang jujur dan menjadi penopang bagi dakwah yang agung ini. Seorang muslim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga dan masyarakatnya. Ia bagaikan satu tubuh. Jika tubuh sehat, maka badan akan menjadi kuat dan dinamis. Islam telah memberikan solusi dan motivasi agar setiap pribadi proaktif dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyepelekan kebaikan sedikitpun walaupun hanya sekedar memberikan senyuman kepada saudaranya.” (HR. Muslim)

Setelah seseorang sholih secara pribadi, maka tahapan selanjutnya adalah menyebarkan kesholihannya kepada keluarga dan rumah tangganya. Rumah tangga merupakan benih bagi terbentuknya masyarakat dan Negara Islami. Apabila benihnya baik dan bagus, masyarakat dan Negara akan menjadi kuat, kokoh, dan solid. Imam Hasan Al-Banna telah menyebutkan sejumlah unsur yang menentukan jalan bagi para kader dakwah untuk membentuk rumah tangga Islami, diantaranya yaitu:
1.         Mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrohnya, hal ini dapat dilakukan dengan cara: pertama, mendidik dan meningkatkan taraf pengetahuan istri atau suami agar memahami makna dakwah. Kedua, memperlakukan istri atau suami sebagai mitra dalam semua urusan kehidupan; sejak dari mendidik anak hingga kepada membangun masyarakat. Interaksi yang dijalin menggunakan pola-pola musyawarah dan saling memahami, bukan interaksi yang penuh kebencian, main perintah, dan cacian. Ketiga, apabila suami atau istri memiliki kapabilitas dan kemampuan, diharapkan para suami atau istri dapat memberdayakan dalam berdakwah bersamanya. Keempat, para suami harus menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Kelima, bukan merupakan suatu hal yang mustahil jika ada orang tua yang berakhlak baik namun anaknya tidak berakhlak. Oleh karena itu, seorang suami atau istri harus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membentuk karakter dan meninggalkan akhlaknya. Sebab karakter diperoleh dari kebiasaan, sedangkan akhlak diperoleh dari mencontoh orang lain.
2.         Menjaga akhlak dan adab Islam. Akhlak dan adab sangat berkaitan erat dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, akhlak dan adab harus diterapkan dalam keluarga, mulai dari yang kecil hingga dewasa. Jika Islam telah mewarnai kehidupan rumah tangga, keluarga tersebut layak menjadi unsure dalam pembentukan masyarakat Islami.


Tahapan pertama untuk mewujudkan rumah tangga yang Islami adalah dengan memilih pasangan yang baik. Memilih pasangan sangat penting karena ia akan mendidik anak-anaknya dan melayani keluarganya. Kedudukan suami dan istri menjadi sangat penting untuk membina rumah tangganya dengan akhlak, ilmu, dan kesabaran.
Sebagian besar akhlak yang turun kepada anak merupakan warisan yang berasal dari ibunya. Jika memilih calon ibu, pilihlah yang sholihah dan beriman karena kebaikan yang ada padanya akan turun kepada anaknya. Namun jika anda memilih calon ibu dari tempat yang tidak baik, sifat-sifatnyapun akan menurun kepada anaknya. Syarat ini juga berlaku bagi pemilihan calon suami. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menikahi wanita karena hartanya, Allah akan membuatnya menjadi fakir. Barangsiapa yang menikahi wnaita karena kedudukannya, Allah akan membuatnya menjadi terhina. Barangsiapa yang menikahi wanita karena ingin menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya atau mendapatkan kasih sayangnya, Allah akan memberikan keberkahan kepadanya karena wanita tersebut dan memberkahi wanita tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)
Menikah tidak seperti transaksi dagang yang memperhitungkan untung atau rugi. Menikah juga bukan merupakan sekedar kesenangan seksual semata. Menikah merupakan perpaduan dari seluruh unsure dengan menekankan pada aspek akhlak dan agaman. Rasulullah saw bersabda: “Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Dahulukanlah oleh kalian agamanya, maka kalian akan selamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Islam telah mengarahkan laki-laki dan wanita untuk memilih pasangan yang baik dengan teliti dan cermat karena keduanya tidak akan dapat kembali seperti semula jika salah dalam memilih. Kebanyakan yang sering membuat pasangan suami istri berkelahi dan membuat hancur rumah tangganya sendiri adalah kesalahan dalam memilih calon istri karena melebihkan satu sisi saja ketimbang sisi yang lain.

Adapun karakteristik wanita sholihah adalah sebagai berikut:
  1. Mentaati suaminya. “Para wanita memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menutut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 228) Di dalam ayat lain Allah menyebutkan: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa: 34) Dan bagi para wanita hendaknya mengingat janji Allah yakni: “Apabila seorang wanita telah melaksanakan shalat liam waktu, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, Allah akan mempersilahkan kepadanya memasuki surag dari pintu manapun yang ia mau.” (HR. Ahmad)
  2. Melahirkan rasa senang apabila dipandang. Senang dengan kemualiaan etikanya, akhlaknya, baik perangainya, berbakti kepada suami, menjaga suasana hati, perasaan, harta, dan kehormatan suaminya. Senang dengan komitmennya dalma menjalankan kewajiban agamanya, seperti shalat, puasa, sedekah, dan berbuat baik.
  3. Apabila bersumpah, istri mempercayainya. Hal ini merupakan penguatan terhadap arti “apabila diperintah ia menaatinya.” Rasulullah bersabda: “Tiga orang yang tidak akan disentuh api neraka, yakni wanita yang taat kepada suaminya, anak yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan hamba yang melaksanakan hak Allah dan majikannya.” Dalam sabdanya yang lain: “Jihadnya seorang wanita adalah dengan husnul taba’ul  yaitu menaati suaminya.”
  4. Apabila suami tidak ada, ia menjaga dirinya dan harta suaminya. “Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa: 34).
  5. Memberikan hak dan kewajibannya. Hak suami atau istri merupakan komitmen bersama yang telah dibuat antara keduanya dan dijamin oleh hokum Islam. Pemerintah dpat ikut campur tangan apabila salah satu dari keduanya melalaikan hal tersebut dalam kehidupan berumah tangga. “Para wanita mempunyai hal yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS Al-Baqarah: 228). Sedangkan hal-hak suami atas istrinya adalah menaatinya dalam kebaikan, menghargai keinginannya, dan memenuhi keinginan suaminya jika diajak untuk berhubungan. 
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment