“Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?

Quraish Shihab penulis  Buku  : “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran.”
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007
Sebagaimana persamaan, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Sekecil apapun sebuah komunitas tempat kita bernaung, niscaya akan selalu ditemukan adanya perbedaan. Namun, sebagai manusia berakal, kita dituntut arif dalam menyikapinya. Sikap positif menghadapi perbedaan ini justru akan membawa hasil yang positif pula. Dan sikap positif yang demikian hanya dimiliki oleh seseorang yang luas wawasannya. Semakin luas wawasan seseorang, akan semakin tinggi pula toleransinya, dengan kata lain ia akan semakin arif dalam menyikapi segala perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pengetahuan menjadikan seseorang terjebak dalam fanatisme buta, sehingga kerap menggiring perbedaan menuju perselisihan. Inilah sesungguhnya yang terjadi pada orang-orang yang cepat sekali termakan hasutan –karena piciknya pandangan– ketika dihadapkan pada perbedaan madzhab dalam kehidupan keberagamaannya, termasuk di negeri kita sendiri.
Dalam konteks ikhtilaf Sunnah-Syi’ah –yang belakangan marak kita dengar terkait isu pertikaian antara keduanya akibat hembusan fitnah para musuh Islam–, tak diragukan, Prof. DR. M. Quraish Shihab adalah seorang penulis yang paham betul bagaimana mempertemukan titik-titik perbedaan antara keduanya. Dengan membawa semangat persatuan serta at-taqrib baina al-madzahib (pendekatan antar madzhab), penulis sepertinya mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua umat Islam mendambakan mengikuti Nabi Muhammad Saw. Namun, sulitnya memperoleh petunjuk yang pasti –menyangkut masalah yang diperselisihkan itu– acapkali menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah sumber hukum. Sebagaimana yang selalu ditanamkan guru-gurunya di Universitas al-Azhar Mesir (tempat penulis mengenyam pendidikan), penulis menyadari bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat itu, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat, padahal masih berada dalam koridor Islam.
Diantara Sunnah-Syiah –dalam hal ini Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai kelompok mayoritas–, sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Sementara kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah. Allah telah memilih para imam sebagaimana Dia memilih Nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Saw untuk menunjuk dengan tegas Ali bin Abi Thalib sebagai washi (yang diwasiati), dilanjutkan oleh keturunannya secara turun temurun hingga yang terakhir (imam ke-12), yaitu al-Mahdi, yang diyakini juga kemunculannya kelak oleh kaum Sunni.
Para imam penerus risalah ini merupakan manusia-manusia pilihan yang kekuasaannya bersumber dari Allah Swt, melalui apa yang disampaikan Nabi Saw. Selain memiliki kekuasaan politik, mereka juga berperan sebagai pembimbing spiritual. Hal ini yang menyebabkan tidak dikenalnya pemisahan antara politik dan keagamaan di dunia Syi’ah. Politik adalah agama, agama adalah politik. Maka ketika sebagian orang menyebut bahwa Syi’ah lahir akibat persoalan politik, kaum Syi’ah menampiknya.
Bagi kaum Syi’ah, para imam memiliki kedudukan yang mulia, mereka adalah para pribadi yang memiliki kesucian jiwa. Mereka bersifat maksum (terpelihara dari dosa), seperti terpeliharanya Nabi dari dosa. Bedanya, para imam ini bukanlah Nabi yang mendapatkan wahyu, melainkan penerus risalah yang diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Karena risalah harus disampaikan secara utuh dan sempurna, maka para penyampainya tidak boleh mempunyai kelemahan (seperti keliru atau lupa). Karena itulah mereka dijaga dari dosa.
Jika konsep ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa) untuk Nabi diterima oleh sebagian besar kaum Sunni, maka konsep ‘ishmah bagi para imam ini ditolak, karena dipandang terlalu berlebihan memberikan atribut demikian. Namun bagaimanapun, menurut Syi’ah, kehadiran para imam ini adalah lutfh (karunia) Allah kepada manusia yang tidak berkesempatan menerima risalah langsung dari Nabi Saw.
Sebagaimana Ahlussunnah yang meyakini konsep kepemimpinannya, kaum Syi’ah pun meyakini bahwa pandangannya tentang konsep kepemimpinan didasarkan pada argumen –baik nash maupun akal– yang kuat. Sehingga sulit sekali untuk menggandengkan kedua pandangan yang berseberangan ini. Atau jika ingin dibenturkan, satu sama lain akan sulit saling menggoyahkan. Terlebih, imamah ini termasuk masalah yang prinsipil bagi kaum Syi’ah. Alih-alih dicapai kesepakatan, malah perselisihan yang muncul. Untuk itu, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Meminjam istilah Cak Nun, jangan paksa kambing meringkik dan jangan paksa kuda mengembik, biarlah kambing menjadi kambing dan kuda menjadi kuda. Biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni.
Masalah lainnya yang disinggung dalam buku ini adalah, betapa banyak orang (non-Syi’ah) yang mensimplifikasi konsep-konsep ajaran Syi’ah, dengan mengangkat isu-isu yang sejak ratusan tahun lalu muncul. Misalnya, tentang Syi’ah yang mempunyai Qur’an yang berbeda, Syi’ah adalah agama yang dibentuk oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, Syi’ah menuhankan Ali, serta atribut sesat lainnya. Sebagaimana di tubuh Ahlussunnah, di Syi’ah pun dalam sejarah perkembangannya muncul kelompok-kelompok ghulat (ekstrim) yang keluar jalur, dimana para imam Syi’ah pun berlepas tangan bahkan mengutuk mereka. Kelompok Ahlussunnah dan Syi’ah masing-masing terbagi menjadi beberapa kelompok berikut cabang-cabangnya. Ketika ada beberapa kelompok di Ahlussunnah yang keluar jalur, tidak bisa dikatakan bahwa Ahlussunnah (seluruhnya) sesat. Begitu juga dengan Syi’ah.
Dalam buku ini, selebihnya dibahas perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (rincian ajaran), sebagaimana ditemukan juga di antara keempat madzhab besar Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Selain itu, diulas juga secara rinci beberapa poin yang selama ini menjadi sumber tuduhan terhadap Syi’ah, diantaranya: pelaknatan kaum Syi’ah terhadap sahabat Nabi Saw, raj’ah, bada’, taqiyah sampai persoalan seputar ibadah ritual.
Di dalam buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang paham tentang Syi’ah ini, dipaparkan secara umum bahwa persamaan antara Sunnah-Syi’ah lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dan tentu saja keduanya masih bisa digandengkan dalam koridor persatuan. Dan inilah nampaknya tujuan penulisan buku ini. Agar kita umat muslim tidak dengan mudah terprovokasi oleh upaya-upaya keji para musuh Islam yang tidak suka melihat Islam bersatu. Stigma yang selama ini melekat pada Syi’ah tak lain karena kurangnya informasi yang diperoleh. Atau kalaupun ada, hanya bersifat sepihak saja.
Dalam memaparkan sebuah persoalan, penulis selalu mengutip pendapat ulama dari kedua sumber, yang dinukil dari kitab-kitab terpercaya dari keduanya. Sesekali penulis mengutarakan pandangan pribadinya, dimana ketika ada yang tidak disepakati, penulis mengemukakannya dengan bahasa yang santun (seperti yang kita baca di buku-buku Quraish Shihab sebelumnya).
Walhasil, mungkinkah Sunnah-Syiah bergandengan tangan? Tentu saja mungkin, bahkan harus. Terlebih Al-Qur’an sendiri mewajibkan setiap orang yang beragama dan berakal untuk menghindari perselisihan, seperti firman-Nya dalam QS. 3:103. Tentunya kita berharap, apapun madzhab yang kita anut, agar terhimpun di bawah panji tauhid yang dikibarkan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.
Ada hal menarik di bagian penutup buku ini yang ingin saya kutip. Quraish Shihab menulis:
“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.”
Sama halnya dengan persatuan, perbedaan adalah suatu keniscayaan! Islam sangat menoleransi aneka perbedaan pendapat yang ada di kalangan pemeluknya. Penghargaan Islam terhadap perbedaan lahir dari keyakinan bahwa perbedaan bukanlah penghalang bagi terciptanya persatuan. Perbedaan tidak identik dengan perselisihan. Perbedaan baru menjadi persoalan serius jika disertai dengan fanatisme buta.
Fanatisme semacam inilah yang kerap memicu terjadinya perpecahan. Sunnah dan Syiah adalah dua aliran besar Islam yang lahir dari Islam yang satu. Sebagai dua saudara, masing-masing memiliki persamaan, juga perbedaan, dari mulai persoalan teologis sampai persoalan yang bersifat furuiyah (rincian ajaran). Perbedaan keduanya leibh sering kita dengar ketimbang persamaannya. Betulkah demikian, bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu lebih besar daripada persamaannya sehingga mustahil untuk mendamaikannya? Buku ini mengkaji secara kritis konsep ajaran dan pemikiran antara Sunnah dan Syiah. Di dalamnya dikupas persoalan-persoalan krusial seperti:
* Rukun Iman dan Islam kedua aliran, Sunnah dan Syiah
* Imamah
* Sikap terhadap para sahabat Nabi Saw
* Rajâ’ah,
*  Badaâ
*  Taqiyah
*  Perbedaan dalam Furu’  (rincian ajaran)
Tidak sampai disitu, penulis buku ini, M. Quraish Shihab, juga menguak kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditempuh untuk menggandengkan kedua saudara ini, Sunnah dan Syiah, ke dalam koridor persatuan, ISLAM. Mungkinkah? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca buku ini!
SERU juga menyaksikan adu argumentasi di bedah buku Sunnah – Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? karya Prof Dr Quraish Shihab yang digelar di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, tanggal 26/10/2008). bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.
Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam.
Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain.
Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya.
Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya.
Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip.
“Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“
Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.
Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.
Saya menikmati diskusi ini. Saya rasa akan sulit mendebat seorang profesor bidang hadis yang sudah menulis banyak buku tentang tafsir. Mendebat Quraish tentang hadis adalah mengajaknya berduel di sebuah arena yang amat dihapalnya. Ia menghabiskan hidupnya untuk menelaah kitab-kitab sehingga pengetahuannya membukit. Makanya, saya tak mau ikut-ikutan latah. Saya lebih memilih belajar kearifan darinya, belajar pada keikhlasannya untuk menyampaikan kebenaran, apapun resikonya.(*)
Buku ini disajikan dengan sistematis, uraian-uraiannya dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Didahului dengan pendahuluan yang memikat, tentang penekanan-penekanan yang diberikan penulis agar buku ini dapat dipahami dengan lebih baik.
Lalu dilanjutkan dengan pembahasan penulis tentang niscayanya perbedaan dan keharusan mewujudkan persatuan. Perbedaan, menurutnya, bahkan sudah terjadi di masa Rasulullah masih hidup. Namun, perbedaan ini tidak menjadi masalah yang meruncing karena selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Rasulullah. Setelah masa Rasulullah, tepatnya pada masa kekhalifahan Usman bin Affan perbedaan ini menjadi cikal bakal perpecahan Islam, sampai sekarang.
Untuk meletakkan dasar bagi upaya menjembatani Syiah dan Sunni, Quraish Shihab memberikan definisi yang baik tentang Sunni dan Syiah, lalu menguraikan golongan-golongan Syiah yang ada sekarang. Di buku ini, ajaran dan pemikiran Syiah di tahbiskan pada dua golongan Syiah terbesar saat ini, Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah. Setelah dasarnya kuat, dimulailah uraian-uraian mengenai perbandingan ajaran dan pemikiran Syiah dengan Sunni. Perbandingan ini dimulai dari tauhid, imamah, Al Quran, sampai pada soal-soal furu’ (cabang/rincian ajaran agama).
Lalu buku ini diakhiri dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh ulama dari kedua belah pihak untuk menggandengkan Syiah dan Sunni. Kemudian buku ini ditutup dengan kutipan dari Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi – seorang ulama Sunni terkemuka dari Suriah – dalam Mahrazan al-Imam Ali, tentang pujian dan pernyataan kecintaan serta kekagumannya terhadap Imam Ali.
Buku ini disajikan secara berimbang, pendapat ulama Sunni disandingkan dengan pendapat lainnya dari ulama Syiah. Sehingga pembaca dapat membandingkan dengan baik perbedaan pendapat kedua kubu dan menerima perbedaan ini.
Oleh karena itu setelah membaca buku Quraish Shihab saya sangat bersimpati kepada beliau, yang dengan tulus berusaha menunjukkan seobjektif mungkin dan tidak terpengaruh dengan Syiahpobhia Kelas Berat
Isi  Buku Prof. Dr. Quraish Shihab :
1. Abdullah  bin  Saba’  Tidak  Ada  Kaitannya  Dengan  Syiah
QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).
2. Kedudukan Abu Hurairah RA
QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).
3. Imam Bukhari  tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq
QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka.. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadis – hadisnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).
bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.
Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam
.
Yang menarik karena Quraish Shihab adalah seorang sunni. Namun ke-sunni-an itu tidak menghalangi pandangannya untuk meneropong isu Islam secara proporsional. Ia tidak mau mengkafirkan para penganut syi’ah. Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain
.
Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya. Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya
.
Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia tetap sunni yang mencintai keluarga Rasul dan juga bersikap kritis pada masa silam. Ia menolak disebut syi’ah, sebab ia adalah penganut sunni. Tetapi ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip. “Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“
.
Sayangnya, kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini.
“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya
.
Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.
Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Sumber :  http://syiahali.wordpress.com
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment