Semangat Maulid Nabi dan Solidaritas Sosial

muhammad_sawBagi umat Islam Indonesia, momentum Maulid Nabi  Muhammad SAW menjadi renungan mendalam untuk meneladani kembali jejak-jejak Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam kepada alam semesta. Jejak-jejak Nabi Muhammad adalah jejak rahmatan lil’alamin, rahmat bagi alam semesta, sehingga kehadiran Cniscaya menjadi rahmat bagi semesta raya.
Meneladani Nabi Muhammad adalah dengan merealisasikan spirit rahmatan lil’alamin yang telah ditancapkan Nabi pada 14 abad yang lalu. Di mana pun kaum muslim berada, semangat itu harus semakin membara sebagai wujud kecintaan terhadap Nabi Muhammad. Cinta kepada Nabi Muhammad adalah manifestasi cinta kepada rasa kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan keberpihakan sosial.
Dalam karya terbarunya yang bernas, The Great Transformation (2006), Karen Amstrong melihat bahwa asal mula prinsip keberagamaan yang dibangun para guru bijak zaman aksial (900-200 SM) adalah komitmen berbela rasa. Agama adalah berbela rasa, mengedepankan cinta, keadilan, kemanusiaan, kesederajatan dan melampaui egoisme dan egosentrisme.
Prinsip dasar agama guru bijak zaman aksial ini kemudian dikembangkan oleh para nabi dan filsuf kemudian hari menjadi agama-agama formal: Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Sikh, Konghucu dan lainnya. Para guru bijak dulu tidak memandang apa keyakinan seseorang, tetapi bagaimana kontribusi seseorang dalam berbela rasa terhadap berbagai tindak kekerasan, peperangan, intoleransi beragama dan dehumanisasi kehidupan.
Dengan kata lain, agama hadir sebagai kerangka inspirasi kritik terhadap berbagai praktik kemungkaran sosial yang melanda umat manusia. Semangat ini dalam keberagamaan dewasa ini, menurut Said Aqil Siraj dalam bukunya Tasawuf sebagai Kritik Sosial (2006), membuka peluang ihwal kontribusi Islam, khususnya tasawuf, dalam membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia. Sejak awal, menurut Said, Islam lahir di tengah tradisi besar imperium dunia: Persia dan Romawi.
Kehadiran Islam tidak ingin mengubur kuasa dua adidaya dunia tersebut. Islam hadir menawarkan konsep peradaban yang rahmatan lil’alamin, memberi rahmat kepada seluruh semesta. Berarti, Islam mengedepankan keadilan, kesederajatan dan kemanusiaan. Siapa yang menghalangi prinsip tersebut, perlu diajak dialog secara damai, tidak diperangi.
Kalau diajak damai ternyata ingkar, bahkan menawarkan angkara murka, baru Islam mengizinkan umatnya untuk bertahan diri. Bukan berperang untuk saling membunuh. Konsep perdamaian (as-salam) inilah yang dijalankan Nabi Muhammad mendakwahkan Islam kepada seluruh semesta.
Di Mekah selama 13 tahun, Nabi Muhammad bersosialisasi kepada warga dengan menawarkan prinsip teologi la ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah. Di samping secara teologi menegaskan tiada Tuhan yang absolut kecuali Allah, pernyataan keimanan tersebut juga memberikan dampak sosial politik, yakni penolakan terhadap berbagai bentuk perbudakan, penjajahan dan intimidasi yang melanggar kebebasan dan hak asasi manusia.
Dalam pandangan Islam, manusia dibangun atas dasar kebersamaan, kebebasan dan persamaan derajat. Demikian juga ketika di Madinah yang masyarakatnya multikompleks. Ada suku Aus, Khazraj, Qoinuqo’, Quraidlah dan Bani Nadlir. Penduduknya pun bermacam agama; ada Islam, Yahudi dan sebagian kecil Kristen Najran. Islam sendiri ada yang migran (muhajirin) dan penduduk lokal (ansor).
Pola keberagamaan dan persaudaraan yang sejak awal dibangun Nabi Muhammad di tengah masyarakat yang heterogen adalah mengedepankan uswah hasanah, pola moralitas dan keteladanan yang baik. ”Aku diutus untuk untuk menyempurnakan moralitas kemanusiaan yang luhur,” kata Nabi Muhammad.
Pendekatan moralitas menuntut umatnya untuk selalu menjadi uswah atau teladan yang baik bagi lingkungannya. Sejak awal eksistensinya di Mekh, Islam selalu akomodatif, kreatif dan terkadang defensif atas nilai-nilai negatif dari luar. Metode uswah hasanah adalah gerakan beragama yang bersifat soft-power, yakni menjunjung tinggi keteladanan, moralitas, pembelaan atas kaum mustadh’afin dan penegakan hak asasi manusia.
Metode inilah kemudian yang melahirkan Piagam Madinah, sebuah dekralasi negara yang sangat demokratis, modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran geografis-sosiologis waktu itu. Dalam piagam ini Nabi Muhammad menjabarkan ihwal negara, demokrasi, politik, hukum, ekonomi, kebudayaan dan peradaban manusia.  Komitmen yang dilakukan Nabi Muhammad, sebagaimana zaman aksial, adalah membela rasa.
Islam hadir membela kaum marginal, kaum perempuan, kaum budak dan lainnya. Sebagaiman zaman aksial, Nabi Muhammad tidak membedakan antara Islam, Yahudi dan Kristen. ”Barang siapa membunuh nonmuslim, dia akan berhadapan dengan saya”, tegas Nabi Muhammad. Islam hadir sebagai rahmat bagi semua, bukan saja bagi umatnya yang secara formal beragama Islam.

Kritik Sosial
Spirit agama sebagai inspirasi kritik sosial sekarang tidak lagi tampak. Masing-masing agama mengklaim diri paling suci, paling benar. Yang terjadi kemudian saling benci, saling hujat, hingga saling teror dan saling bunuh. Sejarah telah mewartakan bahwa pembunuhan atas nama agama menjadi tren gerakan fundamentalisme secara global. Ajaran-ajaran agama dibaptis untuk membakar semangat berperang, mengobarkan api kekerasan dan kekejaman.
Gerakan-gerakan ini dalam penjelasan Amstrong di zaman aksial disebut telah membunuh agama sendiri. Mereka sesungguhnya mengakhiri masa kejeniusan dan kegemilangan nilai agama mereka. Agama mereka diruntuhkan sendiri. Agama gagal membela rasa, justru membela kuasa dan angkara murka.
Tasawuf berpotensi besar sebagai etika pembebasan di tengah krisis keberagamaan. Tasawuf memberikan pemahaman yang tertanam dalam hati dan terpancar dalam tindakan nyata akan membuka celah pemikiran yang menyentuh hati dan memberikan injeksi gerakan di masyarakat.
Dengan mengutip pendapat Ibnu ‘Arab, Said menandaskan bahwa manusia perlu mengembangkan potensi yang disebut ”al-khayal”, suatu potensi daya dan kekuatan substansial yang mengejawantahkan diri secara hakiki namun faktual. Potensi ini bergerak menuju pengungkapan diri dalam dunia inderawi yang bersifat abadi dan azali. Inilah pusat eksistensi dan pusat spiritual manusia.
Jika manusia keluar dari pusat eksistensinya maka, dalam bahasa Martin Heideggar, akan mengalami keruntuhan eksistensi diri. Semakin kuat pusat eksistensinya, potensi diri dalam menggali inspirasi dan menggagas kritik sosial akan semakin tajam. Keberagamaannya dalam membela rasa, membela kaum lemah, membela kaum terpinggirkan dan lainnya, akan semakin tinggi guna menggapai kemaslahatan bagi seluruh semesta.

Sumber :  http://www.solopos.com
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment