Esensi Fitrah dalam Membangun Komunikasi"

Pada hari yang mulia ini marilah terlebih dahulu kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah menjadikan kita sebagai hamba pilihanNya yang mampu mengumandangkan takbir pada Hari Raya Idul Fitri ini sebagai hari kemenangan setelah sebulan penuh kita menempa diri, mengendalikan hawa nafsu, untuk mencapai predikat terbaik, hamba yang muttaqin. Salawat dan salam marilah kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat. Begitu juga kepada para sahabat dan keluarga beliau yang telah turut berjuang demi tegaknya kalimah Allah yang suci di muka bumi ini. Puasa Ramadhan yang baru saja berhasil kita jalani sebulan penuh merupakan wujud dari ketulusan dan ketaatan dalam menjalankan perintah Allah sehingga kita mampu bersikap-perilaku mulia, sesuai dengan fitrah manusia di sebelas bulan berikutnya setelah bulan suci Ramadhan. Kita juga baru selesai membayar zakat fitrah sebagai bentuk pensucian diri kepada Allah SWT sehingga kita pada hari ini benar-benar kembali sebagai manusia yang fitri (suci) seperti anak yang baru terlahirkan. Balasan untuk orang yang fitri ini adalah syurga Jannatun Naim.

Bukan penghalang
Allah berfirman dalam Surat Al-Hujarat ayat 13 yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.Allah mengingatkan kita bahwa keberagaman bukanlah penghalang dalam menggalang komunikasi antar sesama. Justru karena keberagaman itulah kita membutuhkan fondasi dan seni komunikasi sehingga dapat menyampaikan, atau menerima pesan, secara kontekstual. Islam telah lebih dahulu menganjurkan ummatnya untuk membangun komunikasi (networks) secara holistik, yakni memelihara hubungan baik dengan Sang Pencipta, Allah SWT (vertikal), dan hubungan baik sesama manusia horizontal). Allah berfirman dalam surat Al-Imran, ayat 112 yang artinya adalah: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kufur kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Dalam ayat di atas, Allah ingin mempertegas hakikat dari fitrah manusia dalam membangun networks. Secara fitrah manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain. Mulai dalam kandungan manusia sudah membangun komunikasi vertikal dengan Allah SWT dan komunikasi non-verbal dengan orangtua. Ada sentakan atau gerakan tertentu sebagai komunikasi antara anak dan orangtuanya. Ketika lahir, tangisan adalah awal komunikasi verbal sebagai pertanda dimulainya kehidupan baru. Kemudian, komunikasi tidak pernah berhenti sampai ia mampu memahami dan meraih suatu kesuksesan dalam kehidupan ini, dan bahkan sampai ketika manusia meninggalkan dunia ini.

Fungsi Esensial
Fenomena dalam masyarakat sekarang menunjukkan bahwa betapa banyak orang yang mempunyai kapasitas diri tinggi namun gagal dalam membangun kehidupannya secara utuh karena kurang atau tidak mampu memaknai fitrah manusia sebagai modal komunikasi untuk mewujudkan aktualisasi dirinya. Padahal, fitrah manusia mempunyai esensi mendasar dalam membangun komunikasi (networks), dan bahkan semakin terbukti sebagai prasyarat utama bagi kesuksesan seseorang dalam setiap lini kehidupan. Literatur ilmu komunikasi telah banyak melaporkan bahwa seseorang akan mendapat dukungan atau penolakan secara signifikan ditentukan oleh metoda dan gaya komunikasinya. Komunikasi yang otentik memang harus sesuai konteks dan momentum, namun kini semakin terbukti bahwa diatas semua itu tergantung kepada manusia sebagai pelakunya. Ini berarti bahwa nilai dasariah yang membentuk dan menyentuh seseorang individu dalam suatu proses komunikasi memainkan peranan sentral. Kaitannya dengan nilai dan kultur manusia ini, sebagaimana pada masyarakat lain, juga dijumpai dalam masyarakat Aceh seperti terefleksi dari Hadith Maja; “meunye paih bak ta ayon, meukeuneng bak ta antok, lam bak jok jiteubiet saka, menyoe hana paih bak ta ayon, hana meukeneng bak antok, raseuki jineuk jok jiseut u lua”. (Maknanya kira-kira: Kalau kita mampu menghadapi rialitas yang ada, dan tepat bertindak sesuai tantangan yang kita hadapi, dari kondisi sulit pun akan kita peroleh keuntungan. Sebaliknya, kalau kita tidak mampu menghadapi realitas yang ada, danan yang esensinya begitu sentral. Ulasan diatas membahani kita bahwa menguasai teknologi (informasi dan komunikasi) untuk membangun networks sesama manusia adalah penting. Tapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun networks dimaksud secara seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas dengan segala komponen nilai dasariah manusia yang cukup kompleks. Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang kembali kepada fitrahnya, dan dapat mengendalikan diri untuk tidak dikotorilingkungannya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya; Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kecuali orang tuanya yang membuat dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi (riwayat Bukhari dan Muslim). Hadist ini mengisyaratkan bahwa kesuksesan manusia dalam membangun komunikasi amat dipengaruhi lingkungannya, terutama keluarganya sendiri. Karena itu, adalah penting mengendalikan lingkungan untuk tetap menjaga nilai kemanusiaan dalam membangun networks yang membuat seseorang berhasil menempuh kehidupan dunia dan akhirat. Allah berfirman dalam surat Al-Imran ayat 103 yang artinya: Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang- orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat- Nya kepadamu, agar kamu mendamendapat petunjuk. Dalam ayat ini Allah mempertegas bahwa keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas dapat mengantarkan manusia pada kemampuan membangun komunikasi yang holistik. Dengan itu kita mendapat petunjuk untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Jadi, untuk bisa masuk syurga pun kita harus mempunyai komunikasi tidak hanya dengan Allah, tapi juga sesama manusia. Keduanya memiliki keterkaitan erat. Realita ini membahani kita bahwaperkembangan teknologi yang canggih yang tidak dibarengi dengan kemampuan membangun “networks” dengan Allah dan sesama manusia secara seimbang ternyata mengantarkan manusia pada derajat yang lebih rendah karena telah hilang dimensi kemanusiaan yang lari hanya mengedepankan rasio ilmiah tanpa diiringi dengan nilai agama yang mampu mengembalikan fitrah. Inilah bahaya laten bagi kelangsungan kehidupan ummat manusia itu sendiri karena di tengah pengaruh globalisasi yang penuh dengan berbagai godaan material dan hawa nafsu, membuat manusia lupa akan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Manusia, bagaimanapun, tidak boleh menjadi budak dari teknologi (informasi dan komunikasi) yang diciptakannya. Bakal jadi korban Masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, di satu pihak terdapat bukti bahwa mereka masih kurang serius dan fokus dalam belajar (ketinggalan dalam penguasaan teknologi dan informasi) sehingga kurang mampu dalam membangun networks sesama manusia. Di pihak lain, mereka juga kurang peduli untuk menggali, dan malah mulai meninggalkan, nilai yang membangun networks vertikal secara baik. Akibatnya, mereka potensial atau bakal menjadi generasi korban globalisasi. Sesama manusia mereka gagal, dengan sang khaliknya tipis harapan. Inilah tugas yang paling berat pada masa mendatang, yaitu bagaimana memanusiakan manusia sehingga menjadi selamat di dunia dan akhirat. Dalam kaitan ini, pendidikan di Aceh harus berlandaskan pada konsepsi yang Islami, yang menekankan substansi dan pendekatan holistik bagi pencerahan kapasitas berkomunikasi yang diakari nilai, kultur, dan dasariah manusia untuk membangun kehidupan yang hakiki. Kita sejatinya harus lebih berhasil dalam mengembalikan diri kepada fitrah karena fondasinya begitu kokoh. Kita tidak harus goyang dengan terpaan gelombang teknologi baru yang seringkali tidak merepresentasikan nilai kemanusiaan kita. Kita harus mampu mengaca diri, untuk mengendalikannya dari berbagai percaturan dunia yang dapat merendahkan derajat kemanusiaan. Esensi fitrah manusia yang menjunjung integritas, kejujuran, komitmen, kreativitas, ketahanan mental, dan kearifan dalam berkomunikasi yang mulai memudar, karena itu, harus terus dipupuk-sirami. Esensi ini merupakan modal utama komunikasi meski dalam konteks kontemporer sekalipun. Seorang pemikir Islam terkemuka, Ali Syariati, mengingatkan bahwa bahaya terbesar yang dihadapi umat manusia sekarang, bukanlah ledakan bom atom, tapi justru ledakan fitrah dan nilai dasariah manusia yang merendahkan kemanusiaan itu sendiri. Akibatnya, yang dilahir-ciptakan kini adalah beragam ras non-manusia—mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka ada hati, tapi justru tidak bernurani dalam mengkomunikasikan keinginannya. Esensi fitrah dalam membangun komunikasi umat yang dapat meninggikan hakikat kemanusiaan agaknya sudah demikian terdegradasi. Adalah tantangan bagi kita semua untuk menghayati bahwa esensi fitrah manusia demikian sentral dalam membangun komunikasi ummat yang seimbang, baik dengan Sang Pencipta Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Karena itu, dalam membangun generasi baru, kita harus menempatkan komunikasi yang holistik, yaitu bagaimana memaknai, menghayati, mengimplementasikan hablum minallah dan hablum minannas dalam kehidupan keseharian. Inilah makna penting renungan Hari Idul Fitri yang dapat mengantarkan manusia kembali menjadi fitrah yang mampu meningkatkan kemanusiaannya pada derajat yang lebih tinggi, seperti pada awal penciptaannya. Semoga Allah SWT selalu memberi arah dan lindunganNya kepada kita sekalian dalam menjalani kekinian, menatapi keakanan yang sarat tantangan, dan akhirnya kemudian kembali kepadaNya dalam keadaan fitri.tidak mampu menghadapi tantangan yang ada, keuntungan yang sudah di depan mata pun akan hilang). Dalam masyarakat modern orang membangun networks melalui teknologi informasi dan komunikasi yang canggih seperti Internet. Dengan teknologi ini manusia dapat menjelajah ke seluruh pelosok dunia tanpa harus pergi ke mana-mana. Dalam waktu yang amat singkat kita dapat mengetahui berbagai peristiwa dunia lewat Internet, baik yang mempunyai nilai positif maupun negatif. Dengan menggunakan telepon genggam (HP, hand phone) atau surat elektronik (email), misalnya, kita dengan mudah dapat berkomunikasi meski ke belahan bumi manapun. Tapi, pada sisi lain, dengan kemajuan teknologi, meski dengan mudah dapat mengetahui berbagai peristiwa di belahan muka bumi ini, kita terkadang alpa dengan peristiwa di sekitar kita sehingga kita merasa kesepian dan keterasingan di antara peristiwa komunikasi dengan teknologi canggih tadi. Ini menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi yang canggih tanpa disadari telah mereduksi atau bahkan menghilangkan dimensi kemanusian dan nilai silaturrahim sebagai modal sosial dalam membangun komunikasi yang berkelanjutan. Karena itu, komunikasi yang hanya mengandalkan teknologi tidak mampu menjadi panasea (obat mujarab) dalam menyelesaikan aneka masalah dalam hubungan dengan manusia. Kini hampir setiap saat kita berkomunikasi dengan HP atau Email. Bahkan teknologi ini sudah masuk ke hampir seluruh pelosok pedesaan dan kehidupan kita. Namun, ketika komunikasi lewat teknologi ini terganjal, sering mengemuka ungkapan “sebaiknya kita bertemu saja untuk membicarakan masalah ini”. Ini menunjukkan bahwa komunikasi dengan teknologi informasi dan komunikasi ini tidak memadai dalam menyelesaikan masalah, jika tidak diwadahi dimensi kemanusiaan dengan substansi nilai silaturrahim di dalamnya. Teknologi memang tidak mampu mewakili, apalagi menjadikan dirinya sebagai, manusia. Berfungsi ganda Para ahli telah mengingatkan bahwa teknologi, termasuk teknologi informasi dan komunikasi, berfungsi ganda: sebagai “kawan” sekaligus “lawan” manusia. Pertumbuhan teknologi yang tidak terkontrol dapat menghancurkan sumber vital kemanusiaan, bahkan dapat membentuk budaya baru yang absen fondasi moral. Karena itu, menurut perspektif filsafat sebagai akar ilmu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bebas nilai (value free) tapi sarat nilai (value laden). Sejak awal hingga akhir abad ke-20, banyak pakar yang begitu percaya bahwa kecanggihan teknologi (informasi dan komunikasi) bakal mampu mengganti posisi manusia. Namun kini banyak fakta emperis yang menunjukkan bahwa teknologi tersebut, seperti komputer dengan aneka perangkat modern- nya, benar semakin canggih, namun tak dapat mengganti peranan manusia dengan segala keunikannya yang dapat merasa, memahami, menghayati, dan bertafakkur. Adakalanya ketika komunikasi yang dibangun antar sesama manusia tergergaji atau melahirkan intensitas masalah fisik-material yang kompleks, secara sadar atau tidak mendorong seseorang untuk menempuh jalan pintas seperti bunuh diri karena tak tahan dengan beban yang menimpanya. Namun, ini tidak seharusnya terjadi bagi umat yang memiliki esensi nilai ketuhanan (hablum minallah), di mana ketika komunikasi sesama manusia belum mampu memberikan solusi, masih ada komunikasi vertikal yang tertinggi dan diyakini bakal memberikannya. Karena itu, upaya menempuh jalan pintas amat langka terjadi pada ummat yang mampu membina hablum minallah dan hablum minannas secara utuh. Ketika berbagai peristiwa komunikasi (networks) yang dibangun sesama manusia tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, kaum muslimin dan muslimat masih mempunyai komunikasi atau “networks” dengan Sang Pencipta, Allah SWT, yang membangun keteguhan dan ketabahan dalam menghadapi pahitnya aneka persoalan kehidupan sehingga akhirnya mampu keluar dari kemelut yang membelenggu jiwanya. Inilah keunggulan “networks” dalam perspektif Islam.

Seimbang
Membangun komunikasi yang hanya mengandalkan hubungan material sesama manusia tidak akan sempurna, apabila mengabaikan dimensi spritual – hubungan baik dengan Sang Pencipta. Sebaliknya, memelihara hubungan dengan Allah, disarati ibadah ritualnya yang cukup baik, tapi tidak membangun hubungan sesama manusia, maka dia bakal gagal dalam merajut kehidupannya. Dalam hubungan dengan soliditas keumatan, Rasulullah SAW dalam hadistnya yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda yang artinya: Perumpamaan orang mukmin dalam saling mencintai dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, di mana apabila satu anggota sakit, maka seluruh anggota tubuhnya ikut merasakan. Pemaknaan satu tubuh di sini tidak parsial, atau bersifat verbal semata. Tapi, ia mencakup makna yang holistik dimana konsep komunikasi non-verbal, disamping yang verbal, harus integral dan inheren dalam memaknai keutuhan dasariah manusia. Para ahli komunikasi dan bahasa menyatakan bahwa komunikasi non-verbal justru lebih dominan dibandingkan dengan yang verbal dalam menyukseskan komunikasi antar manusia. Sejumlah istilah seperti silent language atau body language yang merefleksikan komunikasi non-verbal menguasai lebih 70 persen dari total kesuksesan komunikasi. Kesemua istilah yang disebut terakhir ternyata bermuara pada nilai yang mensarati manusia. Disini pulalah esensi fitrah manusia yang tidak sekedar memberikan kontribusi, tapi justru lebih dalam menentukan kesuksesan komunikasi manusia. Begitu pentingnya komunikasi non-verbal ini, Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad, bersabda “Tidak halal seorang muslim mengisyaratkan kepada sesama saudaranya (sesama muslim) dengan pandangan yang dapat menyakiti hatinya”. Ternyata Islam telah memberikan konsepsi yang menyeluruh (holistik) dalam membangun komunikasi. Dibandingkan konsepsi komunikasi yang sekedar menonjolkan aspek material dan kepentingan terbatas, komunikasi dalam Islam terbukti lebih komunikatif dan komprehensif karena tidak mengabaikan fitrah kemanusia-an yang esensinya begitu sentral. Ulasan diatas membahani kita bahwa menguasai teknologi (informasi dan komunikasi) untuk membangun networks sesama manusia adalah penting. Tapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun networks dimaksud secara seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas dengan segala komponen nilai dasariah manusia yang cukup kompleks. Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang kembali kepada fitrahnya, dan dapat mengendalikan diri untuk tidak dikotorilingkungannya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya; Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kecuali orang tuanya yang membuat dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi (riwayat Bukhari dan Muslim). Hadist ini mengisyaratkan bahwa kesuksesan manusia dalam membangun komunikasi amat dipengaruhi lingkungannya, terutama keluarganya sendiri. Karena itu, adalah penting mengendalikan lingkungan untuk tetap menjaga nilai kemanusiaan dalam membangun networks yang membuat seseorang berhasil menempuh kehidupan dunia dan akhirat. Allah berfirman dalam surat Al-Imran ayat 103 yang artinya: Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) ermusuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang- orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayatayat- Nya kepadamu, agar kamu mendamendapat petunjuk. Dalam ayat ini Allah mempertegas bahwa keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas dapat mengantarkan manusia pada kemampuan membangun komunikasi yang holistik. Dengan itu kita mendapat petunjuk untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Jadi, untuk bisa masuk syurga pun kita harus mempunyai komunikasi tidak hanya dengan Allah, tapi juga sesama manusia. Keduanya memiliki keterkaitan erat. Realita ini membahani kita bahwa perkembangan teknologi yang canggih yang tidak dibarengi dengan kemampuan membangun “networks” dengan Allah dan sesama manusia secara seimbang ternyata mengantarkan manusia pada derajat yang lebih rendah karena telah hilang dimensi kemanusiaan yang lari hanya mengedepankan rasio ilmiah tanpa diiringi dengan nilai agama yang mampu mengembalikan fitrah. Inilah bahaya laten bagi kelangsungan kehidupan ummat manusia itu sendiri karena di tengah pengaruh globalisasi yang penuh dengan berbagai godaan material dan hawa nafsu, membuat manusia lupa akan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Manusia, bagaimanapun, tidak boleh menjadi budak dari teknologi (informasi dan komunikasi) yang diciptakannya.

Bakal Jadi Korban Masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, di satu pihak terdapat bukti bahwa mereka masih kurang serius dan fokus dalam belajar (ketinggalan dalam penguasaan teknologi dan informasi) sehingga kurang mampu dalam membangun networks sesama manusia. Di pihak lain, mereka jugakurang peduli untuk menggali, dan malah mulai meninggalkan, nilai yang membangun networks vertikal secara baik. Akibatnya, mereka potensial atau bakal menjadi generasi korban globalisasi. Sesama manusia mereka gagal, dengan sang khaliknya tipis harapan. Inilah tugas yang paling berat pada masa mendatang, yaitu bagaimana memanusiakan manusia sehingga menjadi selamat di dunia dan akhirat. Dalam kaitan ini, pendidikan di Aceh harus berlandaskan pada konsepsi yang Islami, yang menekankan substansi dan pendekatan holistik bagi pencerahan kapasitas berkomunikasi yang diakari nilai, kultur, dan dasariah manusia untuk membangun kehidupan yang hakiki. Kita sejatinya harus lebih berhasil dalam mengembalikan diri kepada fitrah karena fondasinya begitu kokoh. Kita tidak harus goyang dengan terpaan gelombang teknologi baru yang seringkali tidak merepresentasikan nilai kemanusiaan kita. Kita harus mampu mengaca diri, untuk mengendalikannya dari berbagai percaturan dunia yang dapat merendahkan derajat kemanusiaan. Esensi fitrah manusia yang menjunjung integritas, kejujuran, komitmen, kreativitas, ketahanan mental, dan kearifan dalam berkomunikasi yang mulai memudar, karena itu, harus terus dipupuk-sirami. Esensi ini merupakan modal utama komunikasi meski dalam konteks kontemporer sekalipun. Seorang pemikir Islam terkemuka, Ali Syariati, mengingatkan bahwa bahaya terbesar yang dihadapi umat manusia sekarang, bukanlah ledakan bom atom, tapi justru ledakan fitrah dan nilai dasariah manusia yang merendahkan kemanusiaan itu sendiri. Akibatnya, yang dilahir-ciptakan kini adalah beragam ras non-manusia—mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka ada hati, tapi justru tidak bernurani dalam mengkomunikasikan keinginannya. Esensi fitrah dalam membangun komunikasi umat yang dapat meninggikan hakikat kemanusiaan agaknya sudah demikian terdegradasi. Adalah tantangan bagi kita semua untuk menghayati bahwa esensi fitrah manusia demikian sentral dalam membangun komunikasi ummat yang seimbang, baik dengan Sang Pencipta Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Karena itu, dalam membangun generasi baru, kita harus menempatkan komunikasi yang holistik, yaitu bagaimana memaknai, menghayati, mengimplementasikan hablum minallah dan hablum minannas dalam kehidupan keseharian. Inilah makna penting renungan Hari Idul Fitri yang dapat mengantarkan manusia kembali menjadi fitrah yang mampu meningkatkan kemanusiaannya pada derajat yang lebih tinggi, seperti pada awal penciptaannya. Semoga Allah SWT selalu memberi arah dan lindunganNya kepada kita sekalian dalam menjalani kekinian, menatapi keakanan yang sarat tantangan, dan akhirnya kemudian kembali kepadaNya dalam keadaan fitri.+++ [bd]

http://www.usk.ac.id/
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment