Siapa Pendusta Agama

Oleh : Prof.DR.H Nasarrudin Umar, MA
Marilah kita merenungkan diri sejenak di hari mubarokah dan di tempat yang suci ini, kembali membersihkan fikiran, hati, dan perasaan kita, seraya kita merenung apa-apa yang telah kita lakukan minggu-mingu lampau, dan memikirkan pemandangan yang ada disekitar kita. Begitu gampangnya jika Allah SWT akan menjemput hamba-Nya, mungkin kemarin kita menyaksikan masih sehat, segar bugar, dan muda pula. Tidak ada yang bisa menghalangi apabila Allah mencintai hamba-Nya ketimbang keluarganya. Kita tidak lupa berterima kasih dan memberikan shalawat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi yang sungguh-sungguh sangat berjasa untuk menghantar paerjalanan kita ini ke Shirotol Mustaqim. Semoga Allah SWT menjemput kita dalam suasana husnul khotimah.
Ayat yang saya bacakan tadi surat 107 Al Ma’un, di dalam kaiah tafsir apabila diawali dengan kalimat bertanya, (istifham), pasti ada sesuatu yang sangat urgen pada kehidupan umat manusia. Kebetulan surat Al Ma’un ini dibuka dengan kalimat bertanya “ Tahukah anda siapa yang mendustakan agama?”
Seolah-olah Allah SWT akan menjelaskan kepada kita semua, tahukah sesungguhnya siapa orang yang beragama, tahukah kamu siapa yang beragama secara kamuplase, formalisme, dan tahukah kalian apa yang menjadi unsure dan subtansi agama itu sendiri ?
Ayat berikutnya Allah menjawab “Maka itulah orang yang menghardik anak yatim”
Mereka yang tidak prihatin terhadap nasib anak yatim. Di dalam kamus bahasa Arab pengertian al yatim adalah adanya keterputusan kasih saying antara orang tua dan anak. Di dalam kamus itu juga disebutkan al yatim, ialah semua orang yang membutuhkan bantuan, bahkan menurut bahasa rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya disebut baitul yatim (rumah yatim).
Kenapa al yatim, yang secara hurufiyah kita artikan dengan anak yatim, karena potensi anak itu betul-betul kita harus perhatikan, apa urgensinya, sangat panjang dijelaskan dalam Al Qur’an beberapa surah diantaranya surah Luqman, apabila didalam kitab-kitab Hadist.
Rasulullah mencontohkan bagaimana beliau mencintai anak-anak itu sendiri, jadi seolah0olah anak itu jadi harapan masa depan, harapan bangsa, tidak pernah melewati seorang anak, melainkan Rasulullah mengusap-ngusap kepala anak itu. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist yang memerintahkan kepada orang tua untuk memperhatikan anaknya, jangan sampai merasa al yatim. Sering kita dengar yatim secara biologis, ditinggal wafat oleh bapaknya, demikian usul fiqih.
Saudara-saudara kita yang sedang menderita di tempat pengungsian merupakan tanggung jawab kita semua untuk mengukur apakah diri kita sudah disebut seorang yang beragama, jangan sampai hati kita tidak tergetar melihat tayangan televisi-televisi, dalam ruangan yang sangat sempit menghuni berjam-jam ditempat itu sambil menunggu rumahnya kering. Bagi kita yang tidak terkena banjir, bagi kita yang berkelebihan buktikan bahwa kita orang yang tidak mendustakan agama. Apa bentuk keprihatinan kita terhadap mereka, sedikit artinya buat kita mungkin besar artinya buat mereka. “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, Neraka bagi shalat tetapi”sahun”lalai, sering ompong shalatnya, dan ada juga didalam shalatnya jarang mengingat Allah SWT”
Kemudian adalah rang yang selalu menampilkan orang-orang yang suka mendemontrasikan kekayaannya di atas penderitaan orang lain. Sunguh tidak bijaksana saat saudara-saudara yang hidup di tempat pengungsian, tapi mendemontrasikan kemewahan. Sungguh tidak layak kalau kita menampilkan yang berlebihan di depan mata orang yang sedang kehausan dan kelaparan.
Akhirnya surat ini mengakhiri dengan “dan enggan memberikan bantuan”
Sesungguhnya mereka itu mampu memberikannya sekecil apapun. Sesederhana apapun pasti di dalam diri kita ada sesuatu kelebihan yang di dalam diri orang lain tidak memilikinya. Mungkin kita tidak punya harta tapi punya otot, apakah otot yang berlebihan ini sudah kita bisa membantu mereka yang membutuhkan tenaga itu. Mungkin hanya punya deposito, punya materi, wujudkanlah sebagai orang yang beragama yang baik dengan cara memberi perhatian bagi yang membutuhkan, manakala tidak maka kita tidak termasuk orang yang beragama sejati.
Semoga surat Al Ma’un ini dapat menggetarkan jiwa kita, dan sekaranglah saatnya, untuk beramal, untuk memperbaiki kwalitas keagamaan kita, sukses tidaknya keagamaan kita tidak bisa diukur dengan ibadah mahdoh kita. Ayat-ayat yang saya bacakan tadi bahwa kwalitas keagamaan kita tidak hanya tergantung hablum minallah, tapi juga adalah amblum minnannas, bahkan ayat yang saya bacakan tadi itu lebih banyak ukurannya yang berhablum minannas ketimbang hablum minallah. Kita harus sukses sebagai abid, membangun hubungan pertikal dengan Allah SWT, tapi itu tidak artinya kalau gagal membangun dan menjadikan diri kita sebagai khalifah, khalifah adalah kapasitas kita untuk menjalin kerjasama hubungan horizontal sebagai sesama makhluk bukan saja sesama manusia tetapi juga dengan alam raya sebagai ciptaan Allah SWT. Kasih sayang apa yang telah kita berikan sebagai hamba Allah SWT, kalau kita sebagai orang yang beragama yang baik tidak mungkin ada kerusakan lingkingan dan tidak mungkin ada kecemburuan sosial, ayat ini sangat penting buat kita semua.
BACA JUGA ARTIKEL MENARIK DIBAWAH INI
Tags:
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUKA DIBAWAH INI

0 comments

Post a Comment